Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Collective Capability in Urban Community Empowerment: Analysis of Kelompok Usaha Bersama in Yogyakarta City Pratiyudha, Pinurba Parama; Kafaa, Kafa Abdallah; Farransahat, Matahari; Suyatna, Hempri
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 6 No. 2 (2022): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2022.062-02

Abstract

Community empowerment in the urban context has become a public discourse in the urban development perspective. Participation, inclusiveness, and collaboration encourage community empowerment in achieving equal urban welfare. This paper focuses on Kelompok Usaha Bersama or Joint Business Group (KUBE) community empowerment program, an initiative of the central government in collaboration with local stakeholders. The implementation of the KUBE program, which was specifically assigned, was examined in the Yogyakarta city area. By using the collective capability approach as a research lens, two findings were raised. First, the implementation of KUBE in Yogyakarta is an illustration of community empowerment policies in translating collective capabilities. Second, in realizing collective capability, an agency is required in the form of collective awareness and strong leadership.
Dinamika Aktor Dalam Collaborative Governance : Program Gandeng Gendong di Yogyakarta Ayu, Sri Rahayu; Hempri, Hempri Suyatna; Nabila, Nabila Arifani Arizka
Journal of Indonesian Rural and Regional Government Vol 8 No 2 (2024): Rural and Regional Government
Publisher : Magister Ilmu Pemerintahan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa "APMD" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47431/jirreg.v8i2.463

Abstract

Tulisan ini mengeksplorasi pengentasan kemiskinan di Yogyakarta melalui Program "Gandeng-Gendong", sebuah pendekatan tata kelola kolaboratif yang inovatif yang melibatkan: pemerintah daerah, korporasi, akademisi, komunitas, dan lingkungan. Dengan menggunakan metode tinjauan pustaka, penelitian ini menyoroti peran masing-masing pemangku kepentingan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Program ini beroperasi dalam kerangka norma, nilai, dan standar sosial, yang diformalkan melalui Peraturan Wali Kota Yogyakarta No. 23 Tahun 2018. Mengadopsi model tata kelola kolaboratif Ansell dan Gash, Gandeng-Gendong telah menunjukkan keberhasilan yang signifikan dalam memberdayakan masyarakat, meningkatkan ekonomi lokal, dan mengelola lingkungan. Namun, beberapa tantangan diidentifikasi, termasuk kesenjangan komunikasi antar pemangku kepentingan, masalah alokasi sumber daya, dan perlunya keterlibatan pemangku kepentingan yang berkelanjutan. Untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil ini, beberapa rekomendasi diusulkan: pemerintah daerah harus melanjutkan dukungan kebijakan, evaluasi yang transparan, dan keterlibatan masyarakat yang lebih luas; perusahaan harus memperluas peluang pasar untuk produk lokal; Akademisi harus melibatkan siswa dalam pengabdian dan inovasi masyarakat; masyarakat harus memperkuat aksi kolektif dan jejaring sosial; dan lingkungan harus secara teratur memperbarui rencana program untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sinergi di antara semua pemangku kepentingan sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang program. Program Gandeng-Gendong menawarkan model berkelanjutan untuk pengentasan kemiskinan, dengan potensi untuk menginformasikan kebijakan di wilayah lain, mendorong pembangunan dan kolaborasi inklusif.
Between Poverty and Ngalap Berkah (Seeking for Blessings) Myth: Contradiction of Welfare Perception Among Tobbacco Farmers in di Temanggung Abdila; Lestariningsih, Wahyu; Savana, Devina; Tunnisa, Ana Fitro; Suyatna, Hempri
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 8 No. 2 (2024): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2024.082-05

Abstract

Tobacco farmers in Temanggung Regency, the largest and best tobacco producing region in Central Java, still have low incomes. However, local farmers still cultivating tobacco and believed that tobacco is a "tanaman wali" that brings blessings to farmers, so ritual practices similar to ngalap berkah are carried out to gain good luck when harvesting tobacco. This research aims to dissect the cultural factors that influence the economic behavior of Temanggung tobacco farmers and their perceptions regarding welfare. This research method is ethnography with the help of a historical perspective. Data was obtained from field observations and in-depth interviews, welfare data archives at social services, BPS data archives, and scientific literature. Data analysis was carried out using a process of verification, reduction, interpretation and triangulation. The research results show that historical factors in the form of farmers' debt bondage with Chinese middlemen, which are mystified in tobacco myths, are the reason why farmers find it difficult to switch to other commodities. Belief in these myths also creates a perception of prosperity that is inverted from the reality of the tobacco economy, but fosters other sources of welfare that are subjective with three dimensions including harmony, social relations and the environment. Keywords. tobacco farmers, subjective-well being, contradiction, ngalap berkah, Temanggung.
Pemetaan Kerentanan Pekerja Anak Sebagai Perajin Batik Dalam Mewujudkan Potensi Diri Secara Penuh Di Trembono Tegalrejo Gedangsari Gunungkidul Dyah Harumming Kinanthi; Hempri Suyatna
Jurnal Masyarakat dan Desa Vol 4 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Pembangunan Masyarakat Desa (D3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47431/jmd.v4i2.487

Abstract

Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 melaporkan  sebanyak 2,2 juta anak di Indonesia terlibat dalam pekerjaan. Keberadaan pekerja anak membutuhkan perhatian yang lebih untuk penanganan resiko yang dihadapi seperti kekerasan verbal dan non verbal. Padukuhan Trembono Kalurahan Tegalrejo Kapanewon Gedangsari merupakan wilayah sentra kerajinan batik di Gunung Kidul  yang sebagian warganya termasuk anak anak terlibat dalam usaha tersebut. Perlindungan dan jaminan serta komitmen bersama dibutuhkan untuk mendukung terlaksananya pemenuhan hak dan kebutuhan dasar bagi pekerja anak. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kerentanan pada pekerja anak. Pendekatan studi kasus dengan pendalaman data kualitatif digunakan dalam mengumpulkan data primer untuk dianalisis. Hasil penelitian ditemukan adanya kerentanan yang berlanjut pada pekerja anak sebagai perajin batik.  Pemetaan kerentanan pekerja anak yang berlanjut  diantaranya pada kepercayaan diri, kapasitas literasi , dan kesehatan fisik . Temuan penelitian ini diharapkan berguna dalam mendorong akses kesetaraan pada pekerja anak agar pekerja anak dapat mewujudkan potensi dirinya secara penuh
Menuju Kemandirian Petani Suyatna, Hempri
Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi) Vol 3, No 1 (2013)
Publisher : Sociology Department Of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari era pra kolonial hingga era sekarang ini, nasib petani tidak pernah berubah. Mereka masih sekedar menjadi obyek kebijakan dari pemerintah.Mengingat peran strategis pertanian maka revitalisasi kebijakan pertanian perlu dilakukan. Kebijakan pertanian tersebut tidak sekedar berorientasi pada kebijakan kultural akan tetapi juga harus menyentuh aspek struktural. Berbagai kebijakan perlu direvisi agar lebih memberikan iklim yang kondusif bagi berkembangnya sektor pertanian. Melalui revitalisasi kebijakan pertanian tersebut diharapkan petani akan dapat lebih berdaya dan mandiri.Kata Kunci : Obyek kebijakan politik revitalisasi kebijakan kemandirian petani
Pengaruh Nilai Keagamaan, Sosial, dan Budaya dalam Pengembangan Usaha Batik: Studi pada Pengusaha Batik Keturunan Hadramaut Arinal Karima; Hempri Suyatna
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11604

Abstract

Sebagai masyarakat pendatang dari Hadramaut, Yaman Selatan, banyak hal menarik yang dapat dilihat dan ditelusuri pada pengusaha batik keturunan Hadramaut. Beberapa dari mereka sudah mempunyai nama besar di kota Pekalongan, bahkan sudah mampu membuka cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Salah seorang pengusaha batik juga mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam mempekerjakan orang-orang disabilitas. Selain itu, produk batik mereka mampu menembus pasar internasional di berbagai negara. Fakta-fakta tersebut tidak lepas dari nilai-nilai yang mereka anut dalam hidupnya sebagai prinsip dalam berbisnis. Kajian ini berupaya melihat implikasi dari nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya pada pengembangan usaha batik keturunan Hadramaut. Terkait dengan hal ini terdapat tujuh informan yang diwawancarai dan ditemukan bahwa ada implikasi nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya dalam pengembangan usaha batik, terutama dalam hal permodalan, produksi, akses pasar, kemitraan serta kreativitas. Nilai keagamaan terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, kemitraan, dan kreativitas. Nilai sosial ditemukan pada bagian produksi dan kemitraan. Terakhir, nilai budaya terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, produksi, akses pasar, dan kemitraan.
Challenging Social Capital to Develop Community-based Digital Economy Platform in the Traditional Market Suyatna, Hempri; Farransahat, Matahari; Firdaus, Rindu; Indroyono, Puthut; Wibowo, Istianto Ari
Journal of Social Development Studies Vol 5 No 1 (2024)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11378

Abstract

A private and large corporation typically owns and manages the digital platform, positioning merchants in traditional markets solely as providers of goods. This practice distances merchants from additional advantages offered by the platform and excludes them from the decision-making process. This paper explores the strength of social capital in enhancing opportunities for small economic actors, such as merchants in traditional markets, to benefit from the digital economy through a community-based online market platform, thus overcoming this challenge. Employing a qualitative descriptive research method with a case study approach, data were obtained through interviews, documentation, and focus group discussions. This paper demonstrates that social capital mitigates the challenge of financial capital in leveraging digital economy innovations, enriching the discourse on the interconnectedness between social relations and economic development in community-based settings like traditional markets.
Connecting beyond ‘Community’: Recasting the Power of Social Capital on Collective Action in Indonesian MSMEs Suyatna, Hempri; Yuda, Tauchid Komara
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2021.051-01

Abstract

The purpose of this article is to look into the functions of community in running capitalism at the micro-level through Micro Small and Medium Enterprises (MSMEs), as well as the effects on the collective well-being of the members. The concept of community-welfare capitalism is used and re-examined in this article. The term “community-welfare capitalism” refers to a form of capitalism that stems from grassroots communities in Indonesia and other Asian countries. Based on our empirical findings on three MSMEs in Yogyakarta, Indonesia, it is argued that, while the majority of works of literature emphasizes the importance of the community in providing informal social protection, our findings confirm that the community's role extends beyond social care to include economic security through collaborative business development. Because Indonesia is currently struggling to achieve inclusive welfare, our conclusion of community-welfare capitalism emphasizes the importance of informal support for social redistribution. As a result, it has been demonstrated that the community-welfare capitalism system, which includes MSMEs, can assist formal welfare institutions in integrating unabsorbed social risk during these difficult times.
Pengaruh Nilai Keagamaan, Sosial, dan Budaya dalam Pengembangan Usaha Batik: Studi pada Pengusaha Batik Keturunan Hadramaut Arinal Karima; Hempri Suyatna
Journal of Social Development Studies Vol 6 No 1 (2025)
Publisher : Department of Social Development and Welfare, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jsds.11604

Abstract

Sebagai masyarakat pendatang dari Hadramaut, Yaman Selatan, banyak hal menarik yang dapat dilihat dan ditelusuri pada pengusaha batik keturunan Hadramaut. Beberapa dari mereka sudah mempunyai nama besar di kota Pekalongan, bahkan sudah mampu membuka cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Salah seorang pengusaha batik juga mendapatkan penghargaan atas kontribusinya dalam mempekerjakan orang-orang disabilitas. Selain itu, produk batik mereka mampu menembus pasar internasional di berbagai negara. Fakta-fakta tersebut tidak lepas dari nilai-nilai yang mereka anut dalam hidupnya sebagai prinsip dalam berbisnis. Kajian ini berupaya melihat implikasi dari nilai-nilai yang terkadung dalam nilai-nilai keagamaan, sosial, dan budaya pada pengembangan usaha batik keturunan Hadramaut. Terkait dengan hal ini terdapat tujuh informan yang diwawancarai dan ditemukan bahwa ada implikasi nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya dalam pengembangan usaha batik, terutama dalam hal permodalan, produksi, akses pasar, kemitraan serta kreativitas. Nilai keagamaan terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, kemitraan, dan kreativitas. Nilai sosial ditemukan pada bagian produksi dan kemitraan. Terakhir, nilai budaya terlihat paling menonjol pada bagian permodalan, produksi, akses pasar, dan kemitraan.
Reframing the Role of Spirituality in Social Entrepreneurship: A Conceptualization of the Social Enterprise Spirituality Perspective (SESP) Ronny Ersya Novianto Putra; Hempri Suyatna; Dian Utami Ikhwaningrum; Desy Ayu Nining Dwi Rahmawati
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (JISIP) Vol 15, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tungga Dewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jisip.v15i2.4082

Abstract

Although social enterprises are estimated to exceed 10 million organizations worldwide, generating approximately USD 2 trillion in annual economic value (Schwab Foundation World Economic Forum, 2024), research on their sustainability remains predominantly grounded in economic and institutional perspectives. Previous studies have largely conceptualized spirituality as an individual attribute or a normative organizational value, providing limited explanation of how spirituality functions as an institutional mechanism that shapes social enterprise sustainability. Addressing this gap, this study develops the Social Enterprise Spirituality Perspective (SESP) framework to conceptualize spirituality as an embedded institutional logic that mediates the tensions between market and social logics. The research employs a qualitative multi-site case study involving four community-based social enterprises in Indonesia, complemented by a systematic literature review of Scopus- and Web of Science-indexed publications from 2014–2024. Data were analyzed using thematic synthesis. The findings reveal that spiritual embeddedness operates through three core mechanisms: normative binding force, meaning-making system, and behavioral regulator. The novelty of this study lies in the development of spiritual embeddedness as an observable and empirically operationalizable organizational mechanism. Theoretically, SESP extends the institutional logics perspective by integrating the spiritual dimension into social entrepreneurship scholarship and provides a conceptual foundation for future studies on social enterprise sustainability, particularly in developing-country contexts.Meskipun social enterprise global diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta organisasi dengan kontribusi ekonomi sekitar USD 2 triliun per tahun (Schwab Foundation World Economic Forum, 2024), kajian mengenai keberlanjutannya masih didominasi perspektif ekonomi dan kelembagaan. Penelitian terdahulu cenderung memosisikan spiritualitas sebagai atribut individual atau nilai normatif organisasi, sehingga belum menjelaskan bagaimana spiritualitas bekerja sebagai mekanisme kelembagaan yang memengaruhi keberlanjutan social enterprise. Berangkat dari kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan kerangka Social Enterprise Spirituality Perspective (SESP) untuk menjelaskan spiritualitas sebagai embedded institutional logic yang menjembatani ketegangan antara logika pasar dan logika sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus multi-situs pada empat social enterprise berbasis komunitas di Indonesia, yang dipadukan dengan systematic literature review terhadap artikel terindeks Scopus dan Web of Science periode 2014–2024. Data dianalisis menggunakan thematic synthesis. Temuan menunjukkan bahwa spiritual embeddedness beroperasi melalui tiga mekanisme utama, yaitu normative binding force, meaning-making system, dan behavioral regulator. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan konsep spiritual embeddedness sebagai mekanisme organisasi yang dapat diamati dan dioperasionalkan secara empiris. Secara teoretis, SESP memperluas perspektif institutional logics dengan mengintegrasikan dimensi spiritual ke dalam studi kewirausahaan sosial serta menyediakan landasan konseptual bagi penelitian keberlanjutan social enterprise di negara berkembang.