Triyono Lukmantoro
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 48 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Proses Gatekeeping Majalah Tempo terhadap Citra Jokowi Nabilla, Ayu; Lukmantoro, Triyono; Santosa, Hedi Pudjo; Gono, Joyo NS
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.618 KB)

Abstract

Penelitian ini diawali dari ketertarikan penulis pada pemberitaan Tempo yang mengkritik berbagai kebijakan Joko Widodo, atau biasa disebut Jokowi, setelah ia terpilih sebagai presiden di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Padahal, saat Pilpres 2014 berlangsung, dengan jelas Tempo mendukung Jokowi. Citra Jokowi yang semula positif, khususnya saat kampanye Pilpres 2014 berlangsung, berubah setelah Jokowi berstatus sebagai presiden dalam pemberitaan Tempo.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kenapa dan bagaimana kebijakan redaksi Tempo dalam menghasilkan perubahan citra Jokowi di kedua periode tersebut. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori gatekeeping khususnya level organisasi, nilai berita, dan mediatization untuk menjelaskan proses produksi dan kebijakan redaksi. Untuk mengetahui proses itu, penulis melakukan wawancara dengan 2 (dua) narasumber dari Tempo, wartawan dan redaktur yang menulis berita Jokowi, dan 2 (dua) narasumber mantan wartawan Tempo.Hasil dari penelitian ini menunjukkan kebijakan redaksi Majalah Tempo yang menghasilkan perubahan citra Jokowi saat Pilpres dan saat menjadi presiden didasari rasa kewajiban untuk melindungi jalannya demokrasi di Indonesia. Tempo memilih pro Jokowi ketika Pilpres 2014 karena lawannya, Prabowo Subianto, diduga terlibat kasus pelanggaran HAM dan tidak sesuai dengan karakter pemimpin yang Tempo miliki. Tempo meyakini yang terbaik bagi demokrasi Indonesia adalah dengan memilih Jokowi, yang lebih masuk akal dipilih sebagai pemimpin, dibanding Prabowo. Setelah Jokowi terpilih menjadi presiden, Tempo berperan kembali sebagai pers yang mengoreksi pemerintah jika salah langkah, sebagai realisasi bentuk fungsi kontrol sosial.Proses gatekeeping level organisasi Tempo cenderung dipengaruhi oleh tujuan Tempo yang menjunjung tinggi fungsi dan kontribusi pers di masyarakat. Proses itu tidak dipengaruhi dikte pemilik media, diasumsikan karena saham Tempo dimiliki oleh banyak pihak. Nilai berita merupakan faktor penting dalam kebijakan redaksi Tempo dalam pemberitaan Jokowi, tapi verifikasi, konfirmasi, dan klarifikasi lebih diutamakan. Kebijakan redaksi Tempo tersebut tidak didasari kepentingan ekonomi seperti pasar dan iklan, juga bukan karena marketing politik.
KARYA BIDANG PEMBUATAN DAN PENGELOLAAN WEBSITE “WAWASAN.CO” (REPORTER 2, ADMIN 2, DAN VIDEOGRAPHER) Hikmandika, Trian Kurnia; Widyatmoko, Agus Toto; Lukmantoro, Triyono; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.235 KB)

Abstract

Saat ini, industri media di Indonesia saling terintegrasi antara media cetak dengan media online. Portal berita online digunakan untuk mempublikasikan berita yang dihasilkan oleh media cetak. Karya bidang jurnalistik ini berawal dari keresahan karena tidak dikelolanya portal berita online milik Harian Wawasan. Kami bekerjasama dengan Harian Wawasan untuk membuat dan mengelola portal berita online www.wawasan.co. Tujuannya yaitu menyediakan dan membagikan informasi seputar Jawa Tengah. Segmentasi dari www.wawasan.co yaitu anak muda yang hidup di Jawa Tengah khususnya Semarang.Dalam proses pengelolaanya, penulis berperan sebagai reporter 2, admin 2, serta videographer. Sebagai reporter 2, penulis melakukan penulisan artikel dan pengambilan foto/gambar pada rubrik Komunitas, Pesona, Musik & Film, Galeria, dan Kuliner. Sebagai admin 2, penulis bertanggung jawab mengunggah berita pada rubrik Semarang dan membagikannya melalui akun sosial media Twitter, Facebook, dan Fanpage Facebook. Sebagai videographer, penulis mengambil gambar dan melakukan proses editing.Selama proses pengelolaan website, Wawasan.co berhasil memenuhi target sebanyak 6.856 visitors, dengan rincian 258 visitors per hari, dan 1.500 visitors per bulannya dengan target awal 50 visitors per hari. Tim Wawasan.co juga berhasil mengunggah 69 artikel dan 7 video dari target 60 artikel selama project berlangsung.Dari hasil evaluasi diketahui bahwa sebesar 93% khalayak tahu keberadaanWawasan.co dan 95 % berminat untuk mengunjungi Wawasan.co.
Pengelolaan Aplikasi Berbasis Lokasi “Dalam Kota” (Dalkot) Sebagai Reporter Saraswati, Putri; Lukmantoro, Triyono; Setiabudi, Djoko; Sateria, Candra
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.833 KB)

Abstract

“Dalam Kota” atau Dalkot merupakan aplikasi berbasis lokasi asal Semarang dengan segmentasi pengunduh berada di umur 15-25 tahun. Aplikasi ini menyuguhkan informasi panduan wisata yang dapat digunakan sebagai referensi mencari tempat-tempat kuliner, tempat wisata, lifestyle, event, hotel dan transportasi yang ada di Semarang.Aplikasi Dalkot sudah menginjak usia lima bulan sejak didirikan, namun tidak cukup dikenal di masyarakat Semarang, terlihat dari jumlah pengunduhnya yang hanya berjumlah 500 orang. Selain karena kurangnya promosi, konten artikel pun tidak cukup memberikan infromasi kepada para pengguna, serta terdapat teguran dari pihak lain yang merasa karya fotonya diambil tanpa izin untuk ditampilkan di aplikasi. Inilah alasan konten dan tampilanAplikasi Dalkot perlu dikembangkan lagi.Tugas penulis adalah sebagai reporter yang bertugas memverifikasi data di lapangan agar informasi sesuai dengan fakta. Kemudian, sebagai foto editor untuk menyunting foto agar dapat dengan baik ditampilkan di aplikasi. Terakhir, sebagai administrator yang bertugas memasukkan konten ke dalam aplikasi agar dapt dinikmati para pengguna. Selama menjalankan tugas, penulis mengalami beberapa kendala namun semua bisa diatasi sehingga acara tetap berjalan dengan lancar.Selama 5 minggu, penulis berhasil mengembangkan konten aplikasi menjadi lebih baik. Karenanya, pengunduh menjadi bertambah dan Aplikasi Dalkot cukup dikenal. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa Aplikasi Dalkot dapat menjadi panduan wisata yang baik di Semarang. Diharapkan Aplikasi Dalkot dapat terus menambah konten yang baik dan kekinian serta mengembangkan fitur-fitur aplikasinya.
Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati pada Majalah Sekar Wahyu Pertiwi, Astuti Dwi; Nugroho, AdI; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.45 KB)

Abstract

Nama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126Judul : Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati padaMajalah SekarABSTRAKPerempuan senantiasa dijadikan objek yang tepat dalam setiap bidikan panahmedia massa, khususnya di Indonesia. Berbagai masalah pribadi perempuan yangterungkap di media massa menjadikan posisi perempuan semakin termarjinalkan.Salah satu media massa yang melanggengkan praktik publikasi masalah pribadiyang dilakukan para perempuan adalah Majalah Sekar dengan nama rubriknyaGoresan Hati. Mulai dari kasus perselingkuhan, perceraian, sampai kekerasandalam rumah tangga, coba diangkat oleh pihak Goresan Hati sebagai motifbantuan bagi para perempuan yang mengalami kisah pahit dalam hidupnya,dengan bercerita secara gamblang pada rubrik tersebut.Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif denganmenggunakan pendekatan resepsi yang berpijak pada deskripsi kata-kata yangmencakup pencarian data dan fakta mengenai suatu fenomena dengan tujuanmenjelaskan suatu keadaan atau fenomena. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan khalayak itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku khalayak dalam kaitannya dengan konsumsi media (Kothari, 2004).Hasil penelitian berdasarkan pemaknaan pembaca pada rubrik Goresan Hati,menunjukkan khalayak menganggap bahwa cerita dalam rubrik Goresan Hatimerupakan sebuah cerita yang dapat dijadikan pembelajaran dalam kehidupanseseorang. Selain itu, sikap waspada dan hati-hati dalam bertindak dapat munculsetelah membaca rubrik ini. Selain itu masalah pribadi perempuan yang ada padamajalah wanita, diyakini karena masih diterapkannya sistem patriarki yang masihmengakar kuat dalam kehidupan antara laki-laki dan perempuan. Terdapatkeberagaman pendapat mengenai keorisinilan kisah dalam rubrik Goresan Hatisebagian informan menganggap bahwa cerita Goresan Hati merupakan kisahnyata yang ditulis langsung oleh si ‘korban’ sedangkan dua informan lainberpendapat bahwa kisah tersebut adalah murni hasil rekayasa media demimendapatkan perhatian publik dengan latar belakang untuk memperolehkeuntungan semata.Kata kunci : perempuan dan media, pengungkapan masalah pribadi.Nama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126Judul : Audience Interpretation for Rubric of Goresan Hati on SekarMagazineABSTRACTWomen continue to be appropriate objects in every shot arrows of mass media,especially in Indonesia. Women's personal problems were revealed in the mediamakes women more marginalized position. One of the mass media who perpetuatethe practice of publishing personal problems that the women are Sekar Magazineto name columns Goresan Hati. Ranging from cases of infidelity, divorce,domestic violence up, trying to be appointed by the liver as a motive Scratches aidfor women who experienced the bitter story of his life, with vivid storytelling onthe rubric.This research uses descriptive qualitative research method using an approachbased on the description of the reception of words that includes collecting dataand facts about a phenomenon in order to explain a situation or phenomenon.Qualitative research requires a deeper engagement with the audience itself. Theseinclude techniques such as interviews in order to arrive at conclusions aboutaudience behavior in relation to media consumption (Kothari, 2004).The results based on the interpretation of the reader Goresan Hati rubric, show theaudience think that the story in the rubric Goresan Hati is a story that can be usedas learning in one's life. In addition, being alert and cautious in acting may ariseafter reading this column. Besides women's personal problems that exist inwomen's magazines, is still believed to be due to the implementation of thepatriarchal system that still entrenched in the lives of men and women. There is adiversity of opinion regarding the originality of the story within the rubric of someinformants Goresan Hati Stroke Heart assume that the story is a true story writtendirectly by the 'victim' while two other informants argued that the story is purelyengineered media to get the public's attention to the background to obtain profit.Keywords: women and the media, the disclosure of personal problems.Interpretasi Khalayak dalam Rubrik Goresan Hati padaMajalah SekarSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Astuti Dwi Wahyu PertiwiNIM : D2C009126JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANMedia massa pada hakikatnya merupakan perantara komunikasiyang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber berita kekhalayak banyak. Salah satu media massa tersebut adalah majalah.Majalah adalah sebuah media publikasi atau terbitan secara berkala yangmemuat artikel-artikel dari berbagai penulis (Assegaff, 1983 : 127).Selain memuat artikel, majalah juga merupakan publikasi yangberisi cerita pendek, gambar, review dan ilustrasi yang dapat mewarnai isidari majalah. Majalah juga tak jarang dijadikan rujukan oleh parapembacanya dalam mencari sesuatu hal yang diinginkannya. Kemunculanmajalah memberikan kemudahan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatakan informasi beragam yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat saatini. Maka tak perlu heran berbagai ragam majalah beredar saat ini, yangmana disesuaikan dengan segmentasinya.Majalah dapat dibedakan menurut pembaca pada umumnya ataukelompok pembaca yang menjadi target pasarnya, yakni majalah dapatdiklasifikasikan menurut segmen demografis (usia atau jenis kelamin),atau pun pembedaan secara psikografis, dan geografis atau dapat dilihatdari segi kebijakan editorialnya (Kasali, 1992:111).Salah satu jenis majalah yang saat ini sedang mengalamiperkembangan yang sangat pesat yakni majalah wanita. Majalah wanitaadalah majalah yang berisikan karangan-karangan khusus mengenai duniawanita, dari masalah-masalah mode, resep masakan, kekeluargaan danjuga yang dihiasi dengan foto-foto (Assegaff, 1983 : 126-128).Kehadiran majalah wanita ini menjadi ruang tersendiri bagi kaumhawa untuk mengekspresikan diri. Salah satu isi dari majalah wanitaadalah rubrik-rubrik yang berisi curahan hati yang dilengkapi dengankonsultasi dari ahli psikolog.Selama ini sudah banyak majalah yang memberikan kesempatanbagi para perempuan untuk menuliskan segala opini atau bahkanmenuliskan masalah-masalah (nyata) yang dialaminya dalam rubrik-rubrikcurahan hati yang sudah disediakan. Kisah nyata yang dikirim langsungoleh ‘si korban’ ini, ternyata diminati banyak pembaca perempuan untukmenceritakan kisah seputar kehidupan dan masalah mereka untuk dimuatdalam majalah.Majalah Sekar hadir untuk mencoba memenuhi segala informasiyang dibutuhkan oleh para wanita Indonesia. Sekar memposisikan brandnyasebagai sahabat dan tempat bertanya yang tepat dan akurat.Menghadirkan informasi seputar dirinya, keluarga, hingga kehidupansebagai seorang wanita. Dengan komposisi yang berimbang Sekarmenyajikan informasi yang dibutuhkan oleh wanita pada umumnya yaknigaya hidup, kecantikan, kesehatan, dan resep-resep masakan.(http://www.majalahsekar.com/sekar-info/feature, 17 Maret : 20.45 ).Banyak ditemuinya majalah wanita yang memberikan ruangcurahan hati bagi kaumnya untuk menceritakan masalah-masalah yangsedang dialami membuat media tak lagi hanya menjadi saluran informasimelainkan juga sebagai tempat untuk pengungkapan sebuah hal yangbersifat pribadi. Media tampaknya dapat menjadi pengaruh yang cukupbesar bagi pembacanya dengan menyajikan isi pesan yang ditulis cukupsederhana sehingga mudah untuk dimengerti.Berdasarkan hal tersebut, peneliti mencoba mengidentifikasibagaimana khalayak secara aktif dapat memaknai isi pesan dari rubrikGoresan Hati pada Majalah Sekar.ISIKetika sorotan media massa pada persoalan perempuan, terkesanmaknanya sebagai pelengkap pemberitaan. Persoalan menjadi serius ketikapemberitaan media massa menyangkut sisi-sisi “pribadi perempuan”,makna pemberitaannya justru menjadi konsumsi laki-laki, maka di situterkesan bahwa perempuan sedang dieksploitasi sebagai sikapketidakadilan terhadap perempuan dan bahkan kekerasan terhadap mereka.Hal yang dilakukan media ini, tidak berlaku ketika kaum laki-lakimengalami hal yang sama dengan wanita, ketika kaum Adam mengalamihal yang mencoreng sisi seksualitas mereka, jarang sekali mediamenghadirkannya ke publik. Ketika hadir pun, media menganggapnyasebagai hinaan terbesar bagi kaum yang terkuat di bumi ini.Media juga tak jarang memperlihatkan berita mengenaipemerkosaan atau tindak kekerasan terhadap perempuan. Seolah-olahtindakan tersebut dapat terjadi karena tindakan atau cara berperilakuperempuan. Helen Benedict mengungkapkan tentang laporan kejahatanseksual ditemukan bahwa perempuan memang sering disalahkan atastindakan “provokatif” mereka, namun tidak semua korban kejahatanseksual direpresentasikan dengan cara yang persis sama (dalam Byerly,2006 : 43).Memang media turut membuat sejarah panjang “penjajahan”terhadap perempuan, namun media melalui beritanya sampai hari ini masihbelum mau beranjak dari lingkaran stereotipe gender yang diperlihatkandalam setiap pemberitaan yang diterbitkan.Ketertarikan seseorang dalam membeli majalah juga dapatdipengaruhi pula oleh cover atau sampul majalah tersebut. Sampul dalamsebuah majalah dapat mengungkapkan janji-janji seperti personality ataukepribadian dari majalah itu sendiri. Selain itu, lewat sampul majalah akanjelas terlihat siapa target pembacanya (Kitch, 2001 : 4).Penelitian tentang resepsi khalayak perempuan pernah dilakukanoleh Janice Radway. Karyanya, Reading The Romance : Women,Patriarchy, and Popular Literature (1984) merupakan salah satu studipertama yang meneliti ketertarikan teks dari sudut pandang pembacasehingga merupakan sebuah teks kunci dalam sejarah penelitian khalayak.Radway mewawancarai para pembaca novel-novel Harlequin Romance.Radway mempelajari bagaimana para perempuan menafsirkan novel-novelromantis dan mencermati teks sebagai bagian dari sebuah prosesinterpretatif.Dalam penelitian khalayak dalam majalah Sekar ini teori yangtepat digunakan adalah teori khalayak Ien Ang, dimana analisis resepsimenyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidakdapat dipisahkan sebagai suatu daerah kajian yang berkesinambungan danmemiliki aspek sosial komunikasi. Teks media hanya memunculkanmakna pada saat diresepsi, yaitu ketika teks tersebut dibaca, dilihat, ataudidengar. Khalayak sebagai penerima dipandang sebagai producer ofmeaning, bukan hanya konsumen media saja. Mereka men-decode ataumenginterpretasikan teks media sesuai dengan pengalaman sosial danhistoris mereka. Dengan demikian dihasilkan cara yang berbeda darikelompok-kelompok sosial yang berbeda pula dalam menginterpretasikanteks media yang sama. Atas dasar kesamaan minat dan pemahaman yangsama mengenai teks media maka terbentuklah kelompok-kelompokdimana tiap anggota di dalamnya memiliki ketertarikan yang sam untukbertukar pikiran mengenai teks di media (dalam Downing, Mohammad,dan Sreberny Mohammad, 1990 : 165).Khalayak yang mejad informan daam penelitian ini merupakankhalayak yag masih aktif membaca rubrik Goresan Hati. Keempatinforman memiliki tingkat pendidikan dan lingkungan sosial yang berbedaDalam wawancara informan menyampaikan interpretasi mereka masingmasingterkait dengan tulisan rubrik Goresan Hati. Khalyak yang dalamhal ini merupakan penghasil makna memaknai isi rubrik Goresan Hatisecara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaanyang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkansebagai berikut :1. Khalayak menganggap bahwa cerita dalam rubrik Goresan Hatimerupakan sebuah cerita yang dapat dijadikan pembelajaran dalamkehidupan seseorang.2. Penelitian ini menunjukkan kesamaan pendapat antara keempatinforman mengenai gambaran perempuan dalam rubrik Goresan Hatiyakni perempuan sebagai sosok yang tertindas, bodoh, hina, tergantungpada pihak laki-laki.3. Penelitian ini menunjukkan keberagaman pendapat mengenaikeorisinilan kisah dari setiap cerita dalam rubrik Goresan Hati.Sebagian informan mengaku bahwa proses dramatisasi kuat terjadi didalam rubrik tersebut. Sedangkan salah seorang informan mengakubahwa cerita dalam rubrik Goresan Hati adalah cerita yang memangbenar-benar terjadi yang dialami oleh seseorang. Dimungkinkan bahwaseseorang yang menuliskan masalahnya dalam rubrik tersebut karenatidak memiliki tempat untuk bercerita sehingga memilih media massasebagai wadah dalam mengungkapkan perasaan hati.PENUTUPBerbagai penelitian tentang perempuan dalam media massa nyarissemuanya menunjukkan wajah perempuan yang kurang menggembirakan.Perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang penuh derita, noda danterdiskriminasi. Padahal perempuan pun sama dengan laki-laki sebagaimanusia utuh yang terdiri atas badan dan jiwa serta bebas menentukansikap dan menjadi dirinya sendiri. Sejumlah kalangan menilai,pemberitaan tentang wanita pun masih sedikit, sehingga terjadiketimpangan informasi.Isu seputar perempuan seperti kesetaraannya dengan laki-laki,terutama dalam sektor publik, memang sudah menjadi kebijakanpemerintah. Tak kurang dari regulasi tentang perempuan dan pembentukanMenteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang mengurusi masalahmasalahkaum perempuan. Tapi, kondisi aktual masyarakat saat ini kurangmendukung upaya penyetaraan itu. Masyarakat kita masih menganutideologi dan nilai-nilai patriarki, yang menganggap posisi laki-laki lebihdominan ketimbang perempuan. Bahkan, perempuan masih dianggapsebagian besar orang sebagai subordinat dari sebuah sistem.DAFTAR PUSTAKAAssegaf, Djaffar. 1983. Jurnalistik Masa Kini. Ghalia Indonesia. Jakarta.Byerly, Carolyn M., and Karen Ross. 2006. Women and Media, A CriticalIntroduction. Australia: Blackwell Publishing.Chambers, Deborah, Steiner, and Carole, F. (2004). Women And Journalism.London And New York.Croteau, David, and Hoynes, William. (2003). Media Society : Industries, imagesand audiences (3rd Edition). Thousand Oaks : Pine Forge Press.Downing, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationFakih, Mansoer. 1996. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta :Pustaka Pelajar.Holmes, Diana. 2006. Romance and Readership In Twentieth-Century France.Oxfort University Press.Radway, Janice. 1991. Reading Romance : Women, Patriarchy and PopularLiterature. University of California Press.Jensen, Klaus Bruhn. 2002. “Media Audience Reception Analysis: MassCommunication as The Social Production of Meaning”. Klaus BruhnJensen and Nicholas W.Jankowski. A Handbook of QualitativeMethodologies for Mass Communication Research. USA: RoutledgeKasali, Rhenald. (1992). Manajemen Periklanan Konsep dan aplikasinya DiIndonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.Kitch, Carolyn L. 2001. The Girl on the Magazines Cover : The Origins of VisualStereotypes in American Mass Media. University of North CarolinePress.Kothari, C.R. 2004. Research Methodology : Methods and Techniques. NewDelhi : New Age International (P) Ltd.McKay, Jenny. 2000. The Magazines Handbook.New York.McQuail, Dennis. 1991. Teori Komunikasi Massa. Erlangga. Jakarta.Michelle, Zimbalist, Rosaldo, and Lamphere Louise. 1974. Women, Culture andSociety. Stanford cal.: Stanford University Press.Moleong, Lexy. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung :PT. Remaja.Neuman, Lawrence. 2007. Social Research Methods: Qualitative andQuantitative Approaches – 6th Edition. Boston: Pearson Education.Tong, P. Rosemarie. 1998. Feminist Thought, Pengantar Paling Kompehensifkepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Jala Sutra, Yogyakarta.Sunarto. 2009. Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Kompas. Jakarta.Thornham, Sue. 2010. Teori Feminis dan Cultural Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Thornham, Sue. 2007. Women, Feminism and Media. Edinburgh : EdinburghUniversity.Jurnal :Siregar, Yuanita, Aprilandini, dan Anggoro, Yudho Mahendro. PencitraanPerempuan di Majalah: Konstruksi Identitas Perempuan KelasMenengah di Perkotaan. Komunitas Vol.5 No.1. Edisi : Juli 2011.Skripsi :Yanti, Fitri. 2010. Analisis Semiotik Isi Cover Majalah Sekar Edisi Februari-Maret 2010 : Representasi Perempuan Indonesia dalam Cover Majalah.(http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1hi/206612122/halamandepan.pdf)Efendi, M. Yusuf. 2011. Interpretasi Khalayak terhadap Berita-BeritaDemonstrasi Mahasiswa di Surat Kabar Kompas. UniversitasDiponegoro.Marline, Riris. 2010. Interpretasi Khalayak terhadap Program Acara TelevisiTermehek-mehek. Universitas Diponegoro.Majalah :Kartini. 2011. Oh Mama,Oh Papa : Wanita yang Dicintai Suamiku.Minggu Pagi. 2012. Oh Tuhan : Kekuatan Tuhan yang Kuandalkan.Sekar. 2013. Goresan Hati : Kecil Ditelantarkan Orang Tua Saat DewasaDitelantarkan Suami. Edisi 104.Sekar. 2013. Goresan Hati : Karena Terpaksa, Kutukar Anakku dengan Uang.Edisi 108.Situs Internet :Dwiagustriani. 2009. Beda Chic Beda Sekar.http://terasimaji.blogspot.com/2009/06/beda-chic-beda-sekar.html, diakses9 Juli 2013 : 11.00 wib).Hidayat, Ari. 2012. Sosok Perempuan dalam Media Massa.(http://arihidayat-arihidayat.blogspot.com/2012/04/sosok-perempuandalam-media-massa.html, diakses pada 15 Juli 2013, 13 : 30 wib)Kania, Dessy. 2013. Komisi Penyiaran Indonesia dan Pencitraan Perempuan diMedia. (http://mediadanperempuan.org/tag/citra-perempuan/, diakses pada16 Juli 2013, 14 : 14 wib).Majalah Sekar. Dunia Usaha Profil. (http://www.majalahsekar.com/duniausaha/profil , 9 Juli 2013, 11.00 wib).Prasojo, Haryo. 2013. Kapitalisme dan Citra Tubuh Perempuan : Sebuah Gugatanterhadap Libido Pornografi.(http://haryo-prasodjo.blogspot.com/2013/05/kapitalisme-dan-citra-tubuhperempuan.html, diakses pada 16 Juli 2013, 14 : 34 wib).Santi, Sarah. 2006. Perempuan dalam Iklan Otonomi atas Tubuh atau Komoditi.(http://www.esaunggul.ac.id/article/perempuan-dalam-iklan-otonomi-atastubuh-atau-komoditi/, diakses pada 15 Juli 2013, 15 : 11 wib).
PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGU EFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika) Khumaedi, Fariza; Lukmantoro, Triyono; Nugroho, Adi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.506 KB)

Abstract

ABSTRAKSI PERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGU-LAGUEFEK RUMAH KACA (Analisis Semiotika)Nama : Fariza KhumaediNim: D2C606016Efek Rumah Kaca which consists of Cholil Mahmud as a vocalist and guitarist, AkbarBagus Sudibyo as a drummer, and a bassist Adrian Yunan Faisal as a band called by some mediaas the savior band music of Indonesia. At the moment all the bands in the mainstream talk aboutinfidelity and heartbreak, Efek Rumah Kaca provide refreshment and get closer the audiencewith themes of social reality which contains elements of resistance, where we are invited toappreciate the environment, balance, thinking about the social phenomenon, and open your heartto see oppression of the rulers.This research aimed to analyze the symbols and ideologies that reflect the resistance ofthe dominant culture in the lyrics of Efek Rumah Kaca’s songs. By using this approach belongsSaussure semiology, text analysis consisted of analysis of syntagmatic and paradigmatic analysisare used to reading the symbols of the seven songs from Efek Rumah Kaca chosen by theresearchers, such as: Di udara, Jalang, Mosi Tidak Percaya, Hilang, Kenakalan remaja di erainformatika, Desember, Balerina.The results of this study, based on syntagmatic analysis shows that the Efek RumahKaca’s lyrics are politically themed, rich with voice of resistance against the ruling classoppressed. Efek Rumah Kaca role as an oppressed minority party representation, it is known bylooking at the function's role in the song lyrics. Narrative patterns in the songs can be understoodas representing a story that has a message of resistance against the repression, which in thiscontext is the repression of acts of domination ruling arbitrarily. Second, the songs on the socialthemedused by Efek Rumah Kaca as an afterthought to make amends, learning about life inorder to be better in the future. While the results of paradigmatic analysis showed an associationbetween the tracks of the Greenhouse Effect with political issues and social phenomenon thatoccurred in Indonesia, such as: Di Udara, which tells the story of the death of human rightsactivist, Munir; Jalang, that criticized the Anti-Pornography and Porno action draft law; danHilang, that brought the spirit refuse to forget the kidnapping of activists in Orde Baru era;Kenakalan remaja di era informatika, which tells about the phenomenon of teens naked in frontof the camera; Desember which tells the story of the rainy season often lead to disaster; andBalerina, who shared the experience of dynamics and balance in life.Keyword: Efek Rumah Kaca, Lyric, semiologyPERLAWANAN TERHADAP BUDAYA DOMINAN DALAM LIRIK LAGULAGUEFEK RUMAH KACA(Analisis Semiotika)Musik memainkan peranan penting dalam sejarah kehidupan manusia diberbagai pelosok dunia. Salah satunya adalah sejarah perlawanan atau revolusi.Musik diterapkan sebagai alat untuk menyampaikan opini tentang sudut pandangyang diambil dalam menangkap keadaan sosial yang terjadi di masanya. Musikperlawanan cenderung mendapatkan tempat tersendiri di benak penikmatnya. Hal initerjadi karena lirik yang terdapat di dalamnya mengisahkan pengalaman sejarah yangmemiliki kedekatan secara emosional maupun pengalaman dengan parapendengarnya.Pada masa lalu, kesulitan hidup di rumah, di pabrik, di lokasi pertambangan,di perkebunan dan di ladang pertanian merupakan tema-tema utama bagi lagu-lagubernada protes (http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/lagu-protes-danperjuangan).Namun, kecenderungan di ranah musik mulai berubah seiring perubahandi tiap elemen kehidupan. Melalui budaya populer musik berkembang menjadi salahsatu bagian dari industri, perkembangan inilah yang menjadikan tantangan dankonsekuensi bagi tiap musisi untuk bertahan di ranah musik, apakah mereka masihdapat mempertahankan idealisme bermusik mereka atau hanyut terbawa aruspermainan industri. Untuk sebagian dari musisi yang terjebak permainan industrimusik, tema-tema lagu yang keluar menjadi stereotip, menyesuaikan selera pasar danmayoritas menceritakan tentang kisah romantisme belaka.Musisi yang membawakan pesan resistensi dan pemberontak dapat diamatiberdasarkan genre musik. Dalam ranah rock, band rap-rock Rage Against TheMachine (RATM) merupakan salah satu contoh yang representatif, band yang dikenaldengan warna musiknya yang kental dengan politik dan perlawanan. Albumpertamanya, Rage Against The Machine, dirilis pada tahun 1992 dengan sampulalbum yang sarat dengan kontroversi, yaitu seorang Biksu yang membakar diri(http://www.berdikarionline.com/suluh/20120203/tom-morello-dari-musikperlawanan-hingga-politik.html). RATM menyuarakan kritik sosial yang serupadengan aksi pelaku bakar diri namun menggunakan media yang berbeda dalammengungkapkannya. Mereka sama-sama resah, dan sama-sama ingin „berbagi‟keresahan kepada publik. Keresahan mereka tidak berhenti pada musik dan liriknyayang mengedepankan kritik politik, namun juga karena para personel band ini sangataktif dalam gerakan-gerakan politik perlawanan sayap kiri.Ada beberapa pemusik yang telah menjadi bagian dan menjadi inspiratorrevolusi, seperti John Lennon yang banyak memberi pengaruh terhadap kelas pekerjadan kaum muda, Green day dengan kesedihan mereka terhadap orang-orang Amerikadalam lagu “American Idiot”, hingga PJ Harvey dengan album Let England Shakeyang oleh majalah musik Inggris New Musikal Express (NME), Uncut dan Mojo,dinobatkan sebagai album terbaik tahun 2011(http://www.jakartabeat.net/editorial/pengantar-redaksi/83-editorial/699-bagaimana2011-menghakimi-let-england-shake.html). Beberapa musisi di atas menunjukkanbahwa, musik yang bermuatan perjuangan, pemberontakan atau kritik politik punmemiliki pasar dan penikmatnya sendiri. Musik tentang perlawanan memilikikarismanya sendiri yang membuatnya berbeda dengan tema musik industrial,mungkin karena muatan pesan yang dimiliki merekam peliknya kehidupan.Keberhasilan mereka layak disyukuri karena romantisme bukanlah harga mati danmemberi warna sendiri dalam industri musik.Pada jalur musik protes, masyarakat Indonesia tentu tidak asing dengan namaIwan Fals. Konsistensinya terhadap lagu-lagu dengan lirik perlawanan terhadapketidakadilan membuatnya dikenal sebagai pahlawan kaum pinggiran. Diamengungkapkan realitas sosial dalam untaian lirik lagu berirama balada.Setiap kali mendengar lagu-lagu Iwan Fals, banyak orang yang sejenaktersadar akan kondisi sosial tanah air. Orang menyukainya karena lagu-lagunyamudah dicerna dan mengandung pesan-pesan humanis yang mendalam. Kelebihanlirik lagu-lagu Iwan Fals yang paling mencolok adalah kenyataan bahwa dia tidaklahir dari ruang hampa, lirik-liriknya lahir dari hasil jepretan atas kondisi sosialpolitik Indonesia sendiri dengan penggunaan kata-kata sederhana, telanjang, dankadang-kadang jenaka.Efek Rumah Kaca merupakan buah bibir untuk genre musik indie diIndonesia di tahun 2007 berangkat dari sebuah single “Di Udara” yang didedikasikankepada pejuang HAM, mendiang Munir. Mereka mulai meramaikan industri musikIndonesia dengan membawakan tema-tema musik yang beragam. Efek Rumah Kacamerupakan grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud(vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass) dan, Akbar Bagus Sudibyo(drum, vokal latar). Melalui jalur musik, Efek Rumah Kaca membingkai peristiwa didunia nyata dan kemudian dituturkan dalam bait-bait lirik. Efek Rumah Kacamerupakan grup band Indonesia saat ini yang secara konsisten memiliki semangatmemperjuangkan idealisme dalam berkarya. Sampai sekarang, band ini sudahmengeluarkan dua buah album studio, yaitu Efek Rumah Kaca pada tahun 2007 danKamar Gelap pada tahun 2008.Efek Rumah Kaca merilis album penuh pertamanya, Self Titled, di bawahlabel indie Paviliun. Tidak diduga, album itu mendapat sambutan baik, terjual 4.000hingga 5.000 keping. Ini adalah jumlah penjualan yang bagus untuk band indie,sekaligus membuktikan bahwa jalur indie pun memiliki kekuatan untuk bersaingdengan jalur mainstream. Di luar penjualan album, Efek Rumah Kaca sering dimintatampil dalam pergelaran musik. Sekarang rata-rata Efek Rumah Kaca memilikijadwal konser enam kali sebulan dengan tarif sekali manggung Rp 0 alias gratishingga Rp 13 juta(http://entertainment.kompas.com/read/2008/09/07/01403215/ERK.Band.dengan.Pernyataan.Politik).Efek Rumah Kaca pada awalnya dibentuk pada tahun 2001. Setelahmengalami beberapa kali perubahan personel, akhirnya mereka memantapkan diridengan formasi band tiga orang. Sebelumnya, band ini bernama Hush. Nama inikemudian diganti menjadi Superego, lalu berubah lagi pada tahun 2005 menjadi EfekRumah Kaca - diambil dari salah satu judul lagu pada album perdana mereka.Sejak awal kemunculan mereka, banyak pihak yang menyebutkan bahwawarna musik Efek Rumah Kaca tergolong dalam post-rock, bahkan ada yangmenyebutkan shoegaze sebagai warna musik mereka. Tetapi, Efek Rumah Kacadengan lugas menyebutkan bahwa warna musik mereka adalah pop, karena merekamerasa tidak menggunakan banyak distorsi dan efek-efek gitar dalam lagu-lagumereka seperti selayaknya musik rock.Efek Rumah Kaca adalah penyegaran bagi musik Indonesia, menjadi sebuahrenungan bagi kita untuk lebih menghargai hidup. Ketika kontroversi pornografi danpornoaksi mencuat, ERK menulis lagu ”Jalang”. Lagu tersebut mengkritik pasalpasalkaret RUU Pornografi dan Pornoaksi. Dalam liriknya tertulis:siapa berani bernyanyi nanti dikebiri/siapa yang berani menari nanti kan dieksekusi//.Penggalan lirik di atas menggambarkan bagaimana Efek Rumah Kaca mencoba untukmenyampaikan pesan bahwa tubuh bukanlah sekadar obyek seksualitas, tapijuga obyek estetik. Pendekatan RUU Pornografi dianggap semata-mata memandangtubuh sebagai isu moral dan tidak sensitif terhadap keberagaman masyarakatIndonesia yang multikultur dalam memandang tubuh dan ketelanjangan.Ketika kasus Munir mencuat, Efek Rumah Kaca meluncurkan lagu “DiUdara”. Lagu tersebut menegaskan, teror dan ancaman pembunuhan tidak akanmenciutkan nyali pejuang HAM seperti Munir. Lagu ini memposisikan diri sebagaiinformasi agar pendengarnya sadar kondisi Munir yang membela orang lalu dibunuh.Dengan mengedepankan spirit perjuangan bagi para pendengarnya, sepertinya EfekRumah Kaca memiliki harapan yang cukup tinggi akan munculnya "Munir-Munir"baru.Lirik Efek Rumah Kaca tidak hanya bicara soal politik. Mereka juga bicarasoal penyakit diabetes yang diderita oleh bassis mereka, Adrian Yunan Faisal, dalamlagu “Sebelah Mata” dan nafsu belanja dalam lagu “Belanja sampai Mati”. Bahkan,mereka menyorot musisi Indonesia yang atas nama selera pasar berbondong-bondongmenulis lagu-lagu cinta.Sudut pandang yang diambil oleh Efek Rumah Kaca dalam memandangmusik bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media yang bisa digunakan untukmemotret fenomena sosial, menyatakan opini, bahkan beroposisi, ini merupakanperwujudan dari semangat idealisme, protes dan sikap kritis tentang keadaan sosialyang terjadi pada saat itu. Sikap bermusik seperti ini sebelumnya telah ditunjukkanmusisi Indonesia yang lebih senior, macam Iwan Fals, Harry Roesly, FrankySahilatua, dan Slank. Mereka bertahan dan memiliki massa yang mengidolakanmereka.Jika Rage Against The Machine (RATM) menggunakan lirik sebagai senjataperlawanan terhadap kapitalisme dan politisi, Efek Rumah Kaca menekankan soalmetode bagaimana musik bisa membangkitkan dan menggerakkan massa rakyat,menggunakan lirik untuk membentuk sebuah kesadaran baru bahwa ada sesuatu yangsalah, belum sampai pada perlawanan, maka untuk sampai kepada musik perlawananpun memerlukan tahapan; menggelitik, ingin tahu, menyadari, dan mulai berpikirbagaimana mengubah keadaan.Saat ini musik populer yang digemari oleh masyarakat kurang lebih memilikiciri yang sama, baik dalam aransemen maupun penampilan para musisipengusungnya. Ini tidak terlepas dari campur tangan pelaku industri yang masihmenggunakan musik sebagai komoditas hiburan atau barang jualan semata danmasyarakat yang pasrah menikmati arus musik yang seragam. Efek Rumah Kacamencoba menawarkan gagasan melalui konsep “pasar bisa diciptakan”, konsep inimerupakan bentuk perlawanan jalur independen (subculture) terhadap budayadominan yang diwakili oleh jalur mainstream.Di balik perlawanan jalur independen yang diusung oleh Efek Rumah Kacamelalui keberagaman tema musik yang kemudian mereka wujudkan pada konsep“pasar bisa diciptakan” kita harus menyadari bahwa Efek Rumah Kaca berada dalamsistem yang memungkinkan pihak tertentu yang berusaha menguasai pihak lainnyadengan mendominasi ideologi pada media melalui ekspresi dan sudut pandang yangdianut sebagai budaya mapan, baik secara sadar maupun tidak. Dalam konteks iniEfek Rumah Kaca sebagai komoditas yang dipasarkan oleh label atau korporasi yangmenaungi Efek Rumah Kaca.Dari penjabaran di atas yang menarik untuk dikaji adalah perlawanan tehadapbudaya dominan yang disuarakan oleh Efek Rumah Kaca melalui lirik lagu yangmereka ciptakan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :1. Simbol-simbol pada lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca yang merefeleksikanusaha perlawanan terhadap budaya dominan dalam sebuah media lagu.2. Ideologi yang berperan dominan dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalamkonteks usaha perlawanan terhadap budaya dominan.Penelitian ini menguraikan bagaimana struktur lirik yang dibangun oleh EfekRumah Kaca. Seperti yang kita ketahui bersama, Efek Rumah Kaca merupakan salahsatu band yang memiliki tema bervariasi dalam lagu-lagunya. Dari beberapa albummaupun single yang sudah dirilis, peneliti menemukan sedikitnya empat buah laguyang bertema politik. Lagu-lagu tersebut adalah Di Udara, Jalang, Mosi TidakPercaya, dan lagu terbaru mereka berjudul Hilang. Selain itu dalam penelitian inidijabarkan juga struktur dari tiga lagu Efek Rumah Kaca yang dipilih penelitiberdasarkan pesan yang bersifat lebih personal. Lagu-lagu tersebut adalah Kenakalanremaja di era informatika, Desember, dan Balerina. Selanjutnya lagu-lagu tersebutdianalisis satu persatu menggunakan analisis sintagmatik dan paradigmatik untukmengkaji lebih jauh pesan denotasi dan konotasi yang terkandung di dalamnya.Pendekatan semiologi milik Saussure digunakan untuk membedah kumpulanteks yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Analisis teks tersebutterdiri dari analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik yang digunakan untukpembacaan simbol-simbol terhadap tujuh lagu dari Efek Rumah Kaca yang telahdisebutkan di atas.Dengan menggunakan Jargon “Pasar dapat diciptakan”, Efek Rumah Kacamencoba menekankan soal metode bagaimana musik bisa membangkitkan danmenggerakkan massa rakyat. Sejumlah media, zine, dan blog sempatmemberitakannya sebagai sindiran Efek Rumah Kaca terhadap industri musik diIndonesia yang semakin seragam. Bermodalkan dua album Efek Rumah Kaca yangsarat dengan muatan kritik-kritik sosial yang tajam berhasil memberikan warna yangberbeda di kancah dunia musik Indonesia.Berdasarkan penilitian yang telah dilakukan, ditemukan beberapa fakta terkaitdengan lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca dalam konteks usaha perlawanan terhadapbudaya dominan yang dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:Pertama, hasil analisis dari struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan bahwa lirik lagu dari Efek Rumah Kacakaya dengan suara perlawanan kelas tertindas terhadap penguasa. Efek Rumah Kacaberperan sebagai representasi pihak minoritas yang tertindas, hal tersebut diketahuidengan melihat fungsi peran dalam lirik lagu. Pola narasi dalam lagu-lagu tersebutdapat dipahami sebagai penggambaran sebuah cerita yang memiliki pesanperlawanan terhadap aksi penindasan, yang dalam konteks ini aksi penindasan adalahdominasi penguasa yang bertindak semena-mena.Kedua, hasil analisis dari struktur paradigmatik dalam lagu-lagu Efek RumahKaca yang bertema politik menunjukkan adanya keterkaitan antara lagu dari EfekRumah Kaca dengan isu politik yang terjadi di Indonesia dan bagaimana sudutpandang Efek Rumah Kaca dalam menyikapi hal tersebut, seperti: Di Udara, yangbercerita tentang kematian pejuang HAM, Munir; Jalang, yang mengkritikRancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi; dan Hilang, yangmembawa semangat menolak lupa akan peristiwa penculikan sejumlah aktivis padaera Orde Baru. Dari hasil analisis ini juga menjabarkan bagaimana keberpihakanEfek Rumah Kaca dalam memandang isu politik yang ada. Beberapa lagu di atasseperti memperlihatkan respon fisik ketidakpuasan Efek Rumah Kaca terhadappemerintah Indonesia, seperti kasus Munir yang hingga kini belum menemui titikterang siapa dalang dibaliknya atau kasus hilangnya sejumlah aktivis pada masa OrdeBaru hingga kini para keluarga korban belum juga mendapat penjelasan daripemerintah.Ketiga, struktur sintagmatik dalam lagu-lagu Efek Rumah Kaca yangbermuatan isu sosial mendeskripsikan bahwa Efek Rumah Kaca memposisikan dirisebagai individu yang mendapatkan pengalaman secara langsung terhadap fenomenasosial. Lagu-lagu yang bertema sosial ini digunakan oleh Efek Rumah Kaca sebagairenungan untuk mengoreksi diri, media pembelajaran tentang hidup agar dapatmenjadi lebih baik di kemudian hari.Keempat, Berdasarkan analisis paradigmatik yang dilakukan pada beberapalagu Efek Rumah Kaca bermuatan isu sosial, dapat dipahami sebagai pernyataanopini mereka terhadap fenomena sosial yang terjadi. Lagu-lagu Efek Rumah Kacaseperti Kenakalan remaja di era informatika, yang bercerita tentang fenomena pararemaja yang bugil di depan kamera; Desember yang bercerita tentang musimpenghujan yang sering menimbulkan bencana; dan Balerina, yang berbagipengalaman tentang dinamika serta keseimbangan dalam hidup. Di sini terlihatbahwa Efek Rumah Kaca memiliki kepekaan dalam menangkap kondisi sosial yangada di masyarakat dan memberikan opini tentang apa yang mereka rasakan. Haltersebut menempatkan Efek Rumah Kaca pada level berkesenian yang lebih tinggidari pada band-band baru bermunculan yang hanya mementingkan aspek ekonomisemata.
Impression Management pada Akun Twitter @sudjiwotedjo Irara, Wahyu; Widagdo, Muhammad Bayu; Santosa, Hedi Pudjo; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.229 KB)

Abstract

Sejak kemunculannya pada Maret 2006, popularitas Twitter mananjak tajam. Fungsinya pun sudah mengalami perkembangan dari micro blogging menjadi media yang digunakan untuk citizen journalism, online marketing, pencitraan, dan lain sebagainya. Twitter juga menjadi wadah pengelolaan kesan para penggunanya, seperti halnya yang dilakukan oleh Sujiwo Tejo melalui akun Twitternya @sudjiwotedjo. Penelitian ini bertujuan untuk melihat impression management pada akun @sudjiwotedjo. Analisis yang dilakukan adalah analisis isi teks yang terkandung dalam tweet yang diunggah dengan tema seksual dengan menggunakan analisis linguistik. Penulis meneliti tweet yang diunggah oleh @sudjiwotedjo selama dua bulan, yaitu pada bulan Desember 2013 sampai Pebruari 2014. Penelitian ini merupakan kualitatif yang menggunakan perspektif impression management dari Erving Goffman. Dari penelitian yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa Sujiwo Tejo adalah idividu yang nyeleneh, slengekan, sarkasme, witty, dan cabul. Sujiwo Tejo memilih untuk melawan pakem dan norma sosial yang sudah ada, dengan mengunggah tweet yang banyak mengandung kata-kata vulgar, kasar, dan berasosi dengan makna negatif tetapi dikemas dengan gaya humoris. Sujiwo Tejo mengaburkan batasan yang didefinisikan oleh Erving Goffman antara front stage dan backstage. Key Words : Twitter, impression management, linguistik
KAJIAN SERTIFIKASI PADA PROFESI JURNALIS B.K., Dheayu Jihan; Lestari, Sri Budi; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.098 KB)

Abstract

ABSTRAKSIPelanggaran yang dilakukan oleh insan jurnalis Indonesia masih saja banyak dilakukan, hal ini dapat dilihat dari tingginya angka pelaporan kasus yang berkaitan dengan pers dari tahun ke tahun di Dewan Pers. Angka ini meski cenderung menurun sedikit demi sedikit, namun tetap mengkhawatirkan. Sikap tunduk terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang kurang, dianggap menjadi salah satu faktor pers Indonesia yang masih belum sehat. Bermimpi mengembangkan pers di Indonesia, Dewan Pers mengupayakan sertifikasi bagi jurnalis melalui Uji Kompetensi Wartawan untuk menguji kecakapan jurnalistik, pengetahuan umum, hingga etika profesi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman jurnalis terhadap etika dan Kode Etik Jurnalistik. Selain itu juga untuk mengetahui urgensi sertifikasi di mata para jurnalis. Teori-teori yang digunakan yakni teori-teori etika dan Kode Etik Jurnalistik. Subyek penelitian ialah jurnalis lintas media baik dari media elektronik Kompas TV Jateng dan Sindo Trijaya Fm, media cetak Suara Merdeka, hingga media siber detik.com. Selain itu juga perwakilan dari organisasi kewartawanan AJI Semarang dan PWI Jawa Tengah, serta dari Dewan Pers.Hasilnya sebagian jurnalis memahami etika dalam Kode Etik Jurnalistik tidak secara utuh, mereka hanya mengambil benang merahnya seperti independen dan menghargai narasumber. Sementara pemahaman soal urgensi sertifikasi sendiri bagi para jurnalis dianggap kurang bermanfaat karena tidak menghasilkan dampak yang positif seperti kesejahteraan atau jaminan ketaatan pada etika. Bahkan di beberapa situasi justru dianggap membahayakan bila status tersertifikasi disalahgunakan oleh jurnalis-jurnalis yang tidak bertanggungjawab.
Memahami Identitas Hibrida pada Komik Indonesia Kontemporer (Analisis Semiotika Komik Garudayana) Ridho, Luthfi Fazar; Santosa, Hedi Pudjo; Suprihatini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.964 KB)

Abstract

Terbitnya Garudayana sebagai bagian dari komik Indonesia kontemporer yang mengadopsi dua identitas budaya berbeda bangsa, yaitu wayang (lokal) dan manga (Jepang), menjadikan komik ini memiliki identitas hibrida dalam gaya penyajiannya, di mana unsur wayang terdapat pada keterlibatan tokoh-tokoh populer wayang. Sedangkan unsur manga menonjol pada gaya gambar dan elemen visual.Penelitian ini bertujuan untuk mencari keterpengaruhan komik Garudayana dari manga Jepang dan mendeksripsikan komik Garudayana sebagai media alternatif. Peneliti menggunakan paradigma konstruktivis dan tradisi semiotika dan sub-tradisi pictorial semiotics untuk mengkaji konten komik Garudayana dan mendeskripsikan setiap tanda intrinsik yang mengandung identitas hibrida pada Komik Garudayana yang memiliki kemiripan/ keserupaan dengan tanda-tanda yang ada pada manga. Teori yang digunakandalam penelitian ini adalah Teori Komik Scott McCloud (2006: 49), Teori Identitas Hibrida dari Keri Lyall Smith (2008: 4-6), dan Teori Pictorial Semiotics dari Goran Sonesson (1998: 1)Hasil penelitian menunjukkan bahwa Garudayana memiliki elemen identitas hibrida berupa: tema cerita wayang lakon carangan Mahabharata; tokoh-tokoh Pandawa, Ponokawan dan Kurawa; konsep dan penggambaran visual latar tempat yang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia; konsep tokoh antagonis berupa monster humanoid (yang menyerupai manusia) dari binatang-binatang khas Nusantara; dan panel komik dekoratif khas Nusantara yang memperkuat kesan lokalitas Indonesia. Elemen tersebut bercampur dengan mangasebagai gaya gambar dan identitas kultural Jepang yang memiliki elemen identitas hibrida berupa kode visual dan kode linguistik. Percampuran dua elemen identitas kultural tersebut disebut hibriditas.Dalam rangkaian proses hibriditas, terdapat elemen intertekstualitas dan penokohan berdasarkan jenis kelamin yang dipengaruhi oleh Mahabharata sebagai pakem secara tidak langsung satu sama lain. Keseluruhan proses tersebut menghasilkan Garudayana sebagai komik yang memiliki identitas hibrida dan dianggap sebagai media alternatif karena memiliki Mode of Address dan sifat-sifat Media alternatif.Keywords : Komik, Wayang, Identitas Hibrida, Garudayana
CLICKTIVISM SEBAGAI DRAMATURGI DI MEDIA SOSIAL Zakiyyah, Kuni; Santosa, Hedi Pudjo; Yulianto, Much; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.169 KB)

Abstract

Media sosial adalah salah satu medium online yang paling banyak digunakan saat ini dengan angka pengguna yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Media sosial dipercaya telah membawa bentuk baru dalam dunia komunikasi, termasuk sosiologi komunikasi. Di Indonesia dan beberapa negara lainnya, penggunaan media sosial dalam sebuah aktivisme telah menjadi hal yang lumrah. Aktivisme suatu gerakan sosial menggunakan fitur-fitur yang terdapat dalam media sosial untuk mencari anggota/relawan dan mendukung penyebaran awareness dari gerakan agar menyebar luas (viral). Dengan tujuan tersebut, aktivisme dalam suatu gerakan sosial rentan berubah menjadi clicktivism, yaitu kemauan untuk menunjukkan kepedulian dari suatu gerakan sosial melalui aktivitas di dunia maya (click), tetapi tidak diimbangi dengan pengorbanan yang berarti (action) dalam membuat suatu perubahan sosial di dunia nyata. Banyaknya clicktivism yang terjadi di media sosial seakan memberi peluang bagi pelaku (clicktivist) untuk memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai upaya unjuk diri, seperti yang dijelaskan dalam konsep dramaturgi oleh Erving Goffman (1959). Penelitian bertujuan untuk mengetahui makna dan gagasan-gagasan clicktivist yang menjadikan clicktivism sebagai dramaturgi di media sosial. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode analisis semiotika oleh Roland Barthes (1957). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan beberapa post di media sosial tentang gerakan Ice Bucket Challenge pada Agustus 2014. Data kemudian diinterpretasi menggunakan konsep analisis mitos dalam studi semiotika Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa clicktivist menggunakan aksi dalam gerakan Ice Bucket Challenge sebagai upaya untuk menampilkan diri, seperti yang dijelaskan Goffman dalam konsep dramaturgi. Clicktivist menggunakan front stage untuk mempercantik tampilan dirinya melalui aksi yang dilakukan, atau pakaian dan atribut yang dikenakan. Clicktivist juga menggunakan impression management agar dipersepsikan secara positif oleh penonton sesuai dengan gambaran/image ideal dirinya. Impression management ditunjukkan melalui pakaian/atribut yang dikenakan, juga dari dialog dan gesture yang ditampilkan clicktivist. Sedangkan back stage merupakan fakta-fakta yang terdapat dalam aksi Ice Bucket Challenge yang dilakukan clicktivist. Fakta ini seringkali tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan clicktivist pada front stage-nya Kata kunci: media sosial, clicktivism, Ice Bucket Challenge, dramaturgi
Pengelolaan Aplikasi Berbasis Lokasi “Dalam Kota” (Dalkot) Sebagai Editor Foto Dachman, Dina Tasyalia; Lukmantoro, Triyono; Setiabudi, Djoko; Sateria, Candra
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.713 KB)

Abstract

“Dalam Kota” atau Dalkot merupakan aplikasi berbasis lokasi asal Semarang dengan segmentasi pengunduh berada di umur 15-25 tahun. Aplikasi ini menyuguhkan informasi panduan wisata yang dapat digunakan sebagai referensi mencari tempat-tempat kuliner, tempat wisata, lifestyle, event, hotel dan transportasi yang ada di Semarang.Aplikasi Dalkot sudah menginjak usia lima bulan sejak didirikan, namun tidak cukup dikenal di masyarakat Semarang, terlihat dari jumlah pengunduhnya yang hanya berjumlah 500 orang. Selain karena kurangnya promosi, konten artikel pun tidak cukup memberikan infromasi kepada para pengguna, serta terdapat teguran dari pihak lain yang merasa karya fotonya diambil tanpa izin untuk ditampilkan di aplikasi. Inilah alasan konten dan tampilanAplikasi Dalkot perlu dikembangkan lagi.Tugas penulis adalah sebagai reporter yang bertugas memverifikasi data di lapangan agar informasi sesuai dengan fakta. Kemudian, sebagai foto editor untuk menyunting foto agar dapat dengan baik ditampilkan di aplikasi. Terakhir, sebagai administrator yang bertugas memasukkan konten ke dalam aplikasi agar dapt dinikmati para pengguna. Selama menjalankan tugas, penulis mengalami beberapa kendala namun semua bisa diatasi sehingga acara tetap berjalan dengan lancar.Selama 5 minggu, penulis berhasil mengembangkan konten aplikasi menjadi lebih baik. Karenanya, pengunduh menjadi bertambah dan Aplikasi Dalkot cukup dikenal. Beberapa pengguna menyebutkan bahwa Aplikasi Dalkot dapat menjadi panduan wisata yang baik di Semarang. Diharapkan Aplikasi Dalkot dapat terus menambah konten yang baik dan kekinian serta mengembangkan fitur-fitur aplikasinya.