Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Redesain Injektor Udara Pembakaran Pada Perajin Gamelan Bali di Desa Tihingan IGN. Priambadi
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 6 No 2 (2013): Oktober 2013
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.063 KB)

Abstract

AbstrakAktivitas umat Hindu khususnya di Bali dalam kegiatan budaya maupun keagamaan tidak bisadilepaskan dari perangkat instrumen akustik yang dinamakan gamelan. Ini merupakan suatunilai eksistensi dari peradaban masyarakat Hindu Bali yang secara turun temurun telahdipelihara. Komponen yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan gamelan adalahmulai dari komposisi perunggu, tungku peleburan (prapen), proses pengecoran, prosespenempaan/ pemadatan (forging) serta proses akhir (finishing) yang merupakan prosespenyelarasan suara pada gamelan Bali. Kecepatan dalam proses peleburan sangat ditentukanoleh tekanan, kapasitas serta distribusi aliran udara dalam pembakaran bahan bakar sertakadar polutan. Jika proses peleburan lama maka biaya produksi meningkat karena hal initerkait dengan penggunaan bahan bakar. Dalam penelitian dilakukan redesain terhadap modelinjektor yang sudah biasa digunakan oleh para perajin yaitu mempunyai bentuk saluran lurusdengan diameter yang sama. Redesain model injektor udara pembakaran mempunyai bentukkonvergen –divergen, dimana desain ini didasarkan atas pendekatan teori thermodinamika.Redesain yang dilakukan diharapkan mampu memberikan proses pembakaran yang lebihsempurna sehingga proses peleburan menjadi lebih cepat dan komposisi polusi udara sekitar(ambient) lebih aman bagi perajin. Hasil dalam penelitian yang dilakukan setidaknya dapatmemberikan kontribusi bagi perajin gamelan Bali terutama untuk menekan biaya produksi sertagairah untuk melestarikan eksistensi budaya. Penelitian yang dilakukan melalui redesaininjektor menunjukkan terjadinya penurunan penggunaan arang sebesar 10,47 % serta produksihasil peleburan meningkat 12,94 %. Untuk kadar polutan dimana hasil pengujian terhadapsampel kualitas udara seperti NO2, CO2, TSP (debu) mengalami penurunan secara signifikan.Data tersebut diukur pada rentang waktu 4 jam kerja serta dilakukan pengulangan sebanyak 3kali. Disimpulkan bahwa penerapan model injektor penghembus udara pembakaran dapatmeningkatkan produksi serta mengurangi kadar polutan dalam proses peleburan perunggu.Kata kunci: Redesain injektor, peleburan, udara sekitarAbstractActivity Hindus in Bali, especially in cultural or religious activities can not be separated from theacoustic instruments called gamelan. It is an existence value of Balinese Hindu civilization forgenerations has been maintained. Components that must be considered in the process ofmaking gamelan is ranging from bronze composition, melting furnace (prapen), the process ofcasting, forging process / solidification (penempaan) and the end which is the process ofaligning sound the Balinese gamelan. The speed in the process of smelting very determined bypressure, capacity as well as distribution airflow inside combustion fuel as well as the levels ofpollutants. If the long smelting process, then the cost of production increased because it isassociated with fuel usage. In a study conducted redesigning the injector models that arecommonly used by the craftsmen that have the form of a straight line with the same diameter.Model ergo thermal injector of air combustion has a convergent-divergent shape, where thedesign is based on the thermodynamic theory approach. Redesign done are expected toprovide a more complete combustion process so that the process becomes more rapid meltingand composition of ambient air pollution safer for crafters. The results of the researchconducted at least be able to contribute to the Balinese gamelan craftsmen especially for lowerproduction costs as well as a passion for preserving the cultural existence. Researchconducted through the application of injector models show a decline in the use of charcoal10.47% and 12.94% production increase smelting. The test result of the pollutants Levelswhere of air quality samples such as NO2, CO2, TSP (dust) decreased significantly. Datameasured on timescales of 4 hours and repeated 3 times. It was concluded that the applicationof ergo thermal injector models air combustion can increase production and reduce the levelsof pollutants in the process of smelting bronze.Keywords: Redesign injector, smelting, ambient air
Perancangan rasio gigi dan jumlah tingkat kecepatan gigi transmisi untuk mendapatkan kinerja traksi kendaraan yang optimum IGN Priambadi; I Ketut Adi Atmika; IGK Sukadana
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 1, No.2 Desember 2006
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.669 KB)

Abstract

Performa otomotif adalah salah satu aspek penting dalam menentukan daya saing suatu produk otomotif. Salah satu performa yang penting adalah kemampuan kendaraan untuk melakukan percepatan, melawan hambatan angin, melawan hambatan rolling, melawan gaya tanjakan dan kemungkinan untuk menarik suatu beban. Gaya yang timbul pada roda penggerak untuk melawan hambatan tersebut disebut dengan gaya dorong atau gaya traksi. Besar kecilnya traksi untuk setiap tingkat gigi serta kecepatan kendaraan yang mampu dicapai dapat dikendalikan dengan mengatur ratio dan tingkat transmisi. Ratio transmisi berpengaruh terhadap besarnya torsi yang dapat ditransmisikan, sedangkan jumlah tingkat kecepatannya berpengaruh terhadap kehalusan (smoothness) proses transmisi dan transformasi daya pada sistem transmisi tersebut. Untuk mencari perbandingan gigi antara tingkat transmisi terendah dan tertinggi adalah dengan cara progresi geometri. Dasar dari penggunaan metode ini adalah untuk mendapatkan ratio dan jumlah tingkat kecepatan gigi transmisi pada daerah kecepatan operasi mesin yang sama sehingga fuel economy pada setiap gigi akan sama. Modifikasi ratio gigi menghasilkan kurva traksi dimana jarak kurva gigi yang berdekatan semakin dekat. Hal ini menunjukkan kehilangan daya waktu pemindahan gigi transmisi semakin kecil, atau dengan kata lain kinerja traksinya semakin baik. Perancangan ratio dengan pemasangan 6 tingkat kecepatan,menghasilkan kurva traksi dengan jarak antara kurva traksi sengat dekat, berarti kinerja traksinya paling baik.
Redesain Tempat Kerja Untuk Meningkatkan Kenyamanan Dalam Proses Peleburan Paduan Perunggu Perajin Gamelan Bali Di Desa Tihingan IGN. Priambadi; IKG. Sugita
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 7 No 2 (2014): Oktober 2014
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.482 KB)

Abstract

Gamelan Bali merupakan suatu alat akustik yang keberadaannya dimanfaatkan sebagai salahsatu sarana pendukung dalam melakukan upacara ritual bagi umat Hindu di Bali. Desa Tihinganadalah merupakan ikon dari gamelan Bali, karena desa ini terkenal dengan produksi gamelannyadan terkenal sampai ke Mancanegara. Proses pembuatan gamelan dimulai dari peleburanpaduan perunggu, forging, serta pelarasan yang bertujuan untuk mendapatkan nada dasar daribilah gamelan. Proses peleburan adalah merupakan peleburan paduan perunggu yang terdiridari unsur 80 % Cu dan 20 % Sn, dimana komposisi tersebut secara konvensional dipakai olehperajin untuk menjaga kualitas gamelan yang dihasilkan. Pada proses peleburan paduanperunggu temperatur yang diperlukan ± 1083 o C, pencapaian temperatur ini tentunyamenyebabkan temperatur lingkungan tempat kerja menjadi tinggi. Berdasarkan studi yangdilakukan temperatur tempat kerja perajin diukur dengan metode MRT rata-rata mencapai 42,69± 0,73 o C, temperatur ini menunjukkan kondisi tempat kerja kurang nyaman. Berdasarkankondisi tersebut, maka dilakukan studi terhadap tempat kerja perajin agar paparan panas yangterjadi dapat dikurangi sehingga tempat kerja perajin dapat ditingkatkan kenyamanannya. Studiyang dilakukan adalah mendesain ulang tempat kerja dengan memperhatikan konseppenugasan, lingkungan dan organisasi kerja. Penerapan ketiga konsep ini dalam prosespendesainan ulang (redesain) pada tempat kerja perajin dimulai dari paparan panas yang terjadi,selanjutnya dilakukan perhitungan dimensi dari tempat kerja yang didasarkan atas konseptermodinamika. Studi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa redesain yang dilakukanmemberikan dampak yang positif terhadap kondisi lingkungan tempat kerja. Kondisi lingkungantempat kerja perajin secara thermodinamika menunjukkan bahwa faktor kenyamanan mengalamipeningkatan. Adapun perubahan dimensi bangunan sebelum redesain (S1) dan sesudahredesai (S2 ) tersebut mulai dari ketinggian total bangunan meningkat 35,33 %, perubahanterhadap volume ruang tempat kerja meningkat 26,19 %, luas ventilasi bertambah sebesar 6,08%. .Kata kunci : Redesain, kenyamanan, peleburan, paduan perungguThe Balinese gamelan is an acoustic instrument which existence was used as one means ofsupport in performing ritual for Hindus in Bali. The village is famous for the production of gamelanand well-known internationally. Gamelan-making process starts from a bronze alloy casting,forging, and tunings which aims to get the basic tone of the blades gamelan. Casting processis an amalgamation of bronze alloy consisting of elements of 80% Cu and 20% Sn, wherein thecomposition is conventionally used to maintain the quality of the resulting gamelan. In thebronze alloy casting process required temperature ± 1083 ° C is certainly causing temperaturesworkplace environment becomes high. Based on studies conducted, workplace temperaturemeasured by the method MRT average reached 42.69 ± 0.73 ° C, the temperature shows lesscomfortable working conditions. Under these conditions, then study was made of workplaceartisans so that heat exposure occurs can be reduced so that the workplace can be improved.Studies conducted is redesigning the workplace by taking into account the concept of theassignment, environmental and labor organizations. The third application of this concept in theprocess of redesign the craftsmen work starts from heat exposure occurs, then performed thecalculation of the dimensions of the workplace that is based on the concept of thermodynamics. itcan be concluded that the redesign made a positive impact on condition of the workplaceenvironment. Environmental conditions in the workplace indicates that the comfort factor hasincreased. The change in the dimensions of the building before the redesign (S1) and afterredesai (S2) of the total height of the building ranging from increased 35.33%, changes to thevolume of work space increased 26.19%, ventilation increases by 6.08%.Keywords: Redesigning, comfort, casting, bronze alloy
Pengaruh temperatur penuangan terhadap fluiditas dan struktur mikro logam Kuningan pada metode evaporative casting I.G.N Priambadi; I Ketut Gede Sugita; Ida Bagus Giri Asmara; A.A.I.A.S. Komala Dewi
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 10 No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (860.682 KB)

Abstract

Abstrak Banyak penggunaan logam kuningan di industri pengerajin sebagai bahan pembuatan perhiasan dan interior ruangan yang berbentuk besar dan rumit, maka seringnya terjadi cacat coran ( fluiditas ) pada hasil pengecoran sehingga tidak sesuai dengan bentuk yang diinginkan, maka dicari alternatif metode pengecoran lain. Salah satu alternatif adalah pengecoran evaporative (lost foam). Evaporative casting adalah metode pengecoran yang menggunakan pola cetakan dari polystyrene foam yang memiliki ketelitian karena pola cetak yang mudah dibentuk sesuai benda yang diinginkan. Pengujian fluiditas digunakan cetakan bentuk spiral dengan variasi temperatur penuangan 900,950 dan 1000°C. Pengujian struktur mikro untuk mengetahui sifat mekanik material kuningan 60% Cu-40% Zn . Temperatur penuangan sangat berpengaruh terhadap fluiditas, dimana semakin tinggi suhu penungan maka semakin panjang laju alir fluiditasnya. Skema struktur mikro logam kuningan (60% Cu- 40% Zn) terlihat fase a ( terlihat terang ) dan fase ß ( terlihat gelap ) lebih mendomonasi. Jenis kuningan ini sering disebut dengan nama alpha plus beta brass yang memiliki sifat keras dan getas. Kata Kunci : Kuningan, Evaporative casting, Fluiditas, Struktur mikro Abstract Much use of metal brass craftsmen in the industry for the manufacture of jewellery and interior room in the shape of a large and complicated, then often occur defect castings (fluidity) in casting so that the results do not correspond to the desired shape, then look for an alternative method of casting the other. One alternative is the evaporative casting (lost foam). Evaporative casting is a casting method using polystyrene foam mold of the pattern that has a precision due to the easy print pattern is formed according to the desired object. Testing the fluidity is used spiral mold temperature variation with pouring 900.950 and 1000 ° c. Microstructure of testing to know the mechanical properties of the material brass 60% Cu-40% Zn. Pouring temperature very influential towards the fluidity, in which the higher the temperature of the penungan the long fluiditasnya flow rate. The scheme of the microstructure of metals brass (60% Cu-40% Zn) visible phase ? (visible light) and ? phase (visible dark) more mendomonasi. Types of brass is often called by the name of alpha plus beta brass that has the nature of hard and brittle. Keywords: brass casting, Evaporative, Fluidity, microstructure
The effect of work piece velocity and depth of cut on the performance of grinding process using alumina-En9 DNK Putra Negara; IGN Priambadi; I Ketut Suarsana
Jurnal Energi Dan Manufaktur Vol 1, No 1 Juni 2006
Publisher : Department of Mechanical Engineering, University of Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.356 KB)

Abstract

Grinding is a very complex machining process due to many parameters to be considered. In this research, the effect of workpiece velocity and depth of cut toward performent of grinding such as actual depth of cut, force, power and specific energy to be investigated. Grinding process to be applyed is straight surface grinding with alumina and En9 as grinding wheel and workpiece respectivelly. Two independent variables to be condisioned, there are workpiece velocities ( 0,1, 0,2, and 0,3 m/s) and setting depth of cut (10, 20, 30, 40 and 50?m. The data obtained is evaluated by plooting into grapht. The results of experiment show that the higher depth of cut, the higher actual depth of cut obtained, however, the higher worcpice velocity, the lower depth of cut obtained; depth of cut and workpiece velocity are proportional to force, power and volume rate of metal removal; and specific energy is proportional to depth of cut but it is opposite to vorkpiece velocity.
Tradisi Jamasan Pusaka Di Desa Baosan Kidul Kabupaten Ponorogo (Kajian Nilai Budaya Dan Sumber Pembelajaran Sejarah) Kabul Priambadi; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.281 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i2.2678

Abstract

Tradisi dapat ditunjukkan dari hasil budaya yang masih ditemui, baik yang sederhana maupun modern. Hal ini merupakan kemajuan pola pikir nenek moyang kita dalam berkarya baik secara fisik maupun non fisik. Sebagai hasil teknologi, kebudayaan fisik cepat mengalami perkembangan. Kebudayaan sendiri merupakan kumpulan pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari generasi berikutnya yang memiliki kelemahan dan keunggulan, oleh karena itu, tidak ada kebudayaan yang sempurna. Jamasan pusaka merupakan salah satu cara merawat benda-benda pusaka seperti keris yang di angggap memiliki tuah. Dalam tradisi masyarakat jawa, jamasan pusaka menjadi sesuatu kegiatan spiritual yang cukup sakral dan dilakukan hanya dalam waktu tertentu saja yaitu di bulan suro seperti yang dilakukan di Desa Baosan Kidul Kabupaten Ponorogo. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mendekatkan generasi muda dengan tradisi yang masih ada di dalam lingkungannya, supaya generasi muda dapat mencintai budaya lokal sendiri dan juga tradisi ini sebagai ajang silahturahmi masyarakat Desa Baosan Kidul. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yaitu wawancara langsung ke narasumber atau tokoh masyarakat dan hasil wawancara berupa catatan lapangan yang kemudian diambil kesimpulanya yaitu Jamasan memandikan pusaka atau keris menggunakan perasan air jeruk nipis dan biasanya dilakukan disetiap masing-masing rumah pada bulan suro.
ANALISIS PERENCANAAN PENEMPATAN PRESSURE REDUCING VALVE PADA JARINGAN PERPIPAAN TRANSMISI AIR BAKU I Gusti Putu Jaya Nuartha; Ainul Ghurri; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air, pemerintah telah melakukan perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan air yang terpadu. Dalam proses pengaliran masih terjadi kendala – kendala yang menghambat aliran air sampai di tujuan, seperti terjadinya tekanan berlebih yang melampaui tekanan maksimal yang mampu diterima pipa itu sendiri. Untuk itu perlu pemasangan peralatan yang mampu menurunkan dan mengontrol tekanan. Penelitian ini dilakukan dalam 5 tahapan; tahap pertama merupakan survey lokasi, Tahap kedua merupakan proses analisa, Tahap ketiga merupakan survey lokasi tahap kedua,Tahap keempat merupakan proses pembangunan dan pemasangan PRV. Tahap kelima merupakan tahapan terakhir uji alir, setting tekanan masuk dan keluar dari masing-masing PRV, sekaligus pengambilan data tekanan untuk diperoleh hasil perbandingan. Dari hasil analisa hidrolika tersebut dapat ditentukan 8 titik lokasi penempatan PRV. Perbandingan tekanan yang terjadi menunjukkanbahwa data ukurawal (tanpa PRV) menunjukkan peningkatan tekanan yang semakin besar yang disebabkan oleh perbedaan elevasi yang semakin tinggi, hasil analisa (estimasi dengan PRV) menunjukkan tekanan yang terjadi sudah stabil dan hasil pengujian langsung (dengan PRV) menunjukkan tekanan yang terjadi di dalam pipa sudah stabil dan dapat dijaga mendekati perencanaan awal. Sehingga dapat disimpulkan PRV mampu menstabilkan tekanan di dalam pipa sehingga jaringan perpipaan transmisi air baku ini dapat berfungsi dengan baik.Keeping balance between supply and demand of water, the government has made planning and implementation of integrated of water management. There were some problems when supplying the water until the destination, such as there was higher pressure that passed the maximum pressure pipe itself. That’s why controlling and reducing tool installation needed. This research was conducted in five stages; The first stage is a survey locations. The second stage is the process of analyzing data. The third stage is a survey of the location of the second stage. The fourth stage is the process of construction and installation PRV. The fifth stage is the last stage of testing of flow, pressure setting in and out of each PRV, while taking pressure data for the obtained results of the comparison. From the analysis of hydraulics can be determined 8 placement location PRV, Comparison of pressure that occurs indicates that the data measuring the initial (without PRV) showed improvement greater pressures caused by the difference in elevation is higher, the analysis results (estimated by PRV) indicates the pressure is stable and the results of direct testing (with PRV) show the pressure inside the pipe is stable and can be kept closer to the initial planning. It can be concluded PRV able to stabilize the pressure in the pipe so that the raw water transmission pipeline network is able to function properly.
Analisa Perawatanpada Komponen Kritis Mesin Pembersih Botol 5 Gallon PT. X dengan Menggunakan MetodeReliability Centered Maintenance(RCM) Ida Bagus Gde Ardhikayana; I Nyoman Suprapta Winaya; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 1 No 2 (2015)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dewasa ini semakin berkembang. Meningkatnya permintaan dari konsumen berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah produsen serta pelaku  industri AMDK. Salah satu pelaku industry AMDK ini adalah PT.X, yang mana memiliki beberapa produk AMDK, salah satunya berupa produk AMDK ukuran 5 gallon, atau 19 liter. Sistem produksi returnable dilakukan pada proses pengemasan AMDK gallon ini. Dalam proses tersebut digunakan system mesin pencucian yang mana digunakan secara kontinyu sehingga tidak dapat dielakkan, terdapat penurunan performa signifikan. Hal ini dialami pula oleh PT.X sehingga mengakibatkan cost downtime atau kerugian signifikan pada perusahaan. Untuk menjaga agar mesin produksi tetap berjalan sebagaimana mestinya maka digunakanlah sistem manajemen pemeliharaan (maintenance) mesin produksi.Perawatan peralatan mesin yang mempunyai tingkat kekritisan yang tinggi memerlukan perhatian khusus karena peralatan mesin tentunya sangat berpengaruh terhadap kelancaran produksi. Dalam mencapai tingkat keberhasilan maksimal dalam proses maintenance tersebut, dibutuhkan metode yang tepat dalam pelaksanaannya. Menggunakan metode RCM merupakan cara yang efektif untuk menemukan komponen kritis penyebab kegagalan mesin, serta meminimumkan waktu dengan TMD yang diperoleh pada minggu ke 9, mendekati waktu standar cycle mesin menjadi dasar dilakukannya perawatan secara berkala pada minggu tersebut. Pentingnya melakukan perawatan pencegahan dan penggantian  untuk mengurangi kegagalan yang terjadi secara dini, dapat dilihat dari peningkatan efisiensi produktivitas sebesar 0,13%.     Kata kunci: AMDK, performa, Maintenance, Downtime, RCM
Analisa dan Desain Compact Condensor di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Tanjung Priok I Wayan Sutina; I Gusti Bagus Wijaya Kusuma; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/METTEK.2020.v06.i01.p05

Abstract

Kondensor merupakan salah satu komponen penukar panas yang berfungsi untuk membuang panas dari fluida uap air (steam) pada sebuah sistem pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU). Namun komponen kondensor ini memiliki dimensi yang cukup besar sehingga memerlukan lahan yang luas. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan dimensi kondensor yang lebih ringkas (compact) yang memerlukan lahan yang sedikit dalam penerapannya dilapangan. Desain Compact kondensor diawali dengan pengambilan data dilapangan, menghitung efisiensi kondensor awal (0,44), dan proses simulasi pada aplikasi CFD desain kondensor exisiting untuk mengetahui gambara dari proses perpindahan panas yang terjadi. Proses perhitungan untuk desain compact kondensor dilakukan untuk mendapatkan ukuran dimensi dan kinerja compact kondensor. Dari hasil perhitungan desain yang dilakukan didapatkan dimensi compact kondensor dengan panjang : 2 ft = 0,6096 m, lebar : 1 ft = 0,3048 m, dan tinggi 8 ft = 2,4384 m, dengan Volume Compact kondensor = 16 ft3 = 4,8768 m3, Efisiensi Sirip : 0.924027, Efisiensi Sirip Overall: 0.936563, Efisiensi kondensor : 0.60, Pressure Drop Sisi uap : 0,5184 Bar, Pressure Drop Sisi air : 1,4734 Bar, Daya Sisi uap : 70.43555 Watt, Daya Sisi air : 25.03529 Watt. Nilai efisiensi yang dihasilkan dari desain compact kondensor lebih tinggi dibandingkan dengan kondensor awal dengan dimensi yang lebih kecil. The condenser is one of the heat exchanger components that functions to remove heat from the water vapor fluid (steam) in a gas and steam power plant (PLTGU) system. However, this condenser component has dimensions large enough to require a large area. This research was conducted to obtain a condenser dimension that is more compact (compact) which requires less land in its application in the field. Compact condenser design begins with data collection in the field, calculating the efficiency of the initial condenser (0.44), and the simulation process in the application of the exisiting condenser CFD design to find out the details of the heat transfer process that occurs. The calculation process for compact condenser design is carried out to get the dimensions and compact condenser size. From the results of design calculations performed, the dimensions of the compact condenser with length: 2 ft = 0.6096 m, width: 1 ft = 0.3048 m, and height 8 ft = 2.4384 m, with condenser Compact Volume = 16 ft3 = 4 , 8768 m3, Fin Efficiency: 0.924027, Overall Fin Efficiency: 0.936563, Condenser efficiency: 0.60, Pressure Drop Vapor side: 0.5184 Bar, Pressure Drop Water side: 1.4734 Bar, Steam Side Power: 70.43555 Watt, Water Side Power : 25,03529 Watt. The efficiency value resulting from the compact condenser design is higher than the initial condenser with smaller dimensions.
EVALUASI JARINGAN PERPIPAAN TRANSMISI AIR BAKU DI KABUPATEN KARANGASEM Agus Adi Putra; Ainul Ghurri; I Gusti Ngurah Priambadi
Jurnal Mettek: Jurnal Ilmiah Nasional dalam Bidang Ilmu Teknik Mesin Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Magister Teknik Mesin Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan manusia terhadap air pada saat ini sangatlah besar baik untuk dikonsumsi maupun untuk menunjang kehidupan manusia. Pemerintah telah melakukan perencanaan dan melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana jaringan transmisi pipa air baku di tahun anggaran 2006 sampai tahun anggaran 2014. Sejak selesainya kontruksi, muncul beberapa masalah seperti, tingkat kebocoran - kebocoran air yang dialami pipa, oleh karena itu jaringan pipa yang ada di Kabupaten Karangasem yang berfungsi mentransmisikan air bersih yang memenuhi kebutuhan masyarakat perlu untuk di evaluasi kembali terhadap jaringan pipa sehingga dapat ditemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian ini dilakukan beberapa tahapan yaitu pengukuran secara langsung dan tidak langsung dilapangan. Persiapan tidak langsung dilakukan dengan melihat data awal dari asbuilt drawing, pengukuran langsung dilakukan dengan cara survey lokasi yaitu dengan pencatatan fitting persegmen yang ada di jaringan transmisi pipa dan pengukuran elevasi pada masing – masing diameter pipa dan jarak stasioner. Tahap berikutnya adalah menganalisa tekanan hanya berdasarkan beda tinggi dan menganalisa tekanan dengan adanya fitting. Pengukuran langsung dilapangan dan analisa dalam menentukan tekanan pada jaringan transmisi pipa air baku telah dilakukan dengan cara pengukuran  elevasi akhir pipa dari segmen A (pipa GIP Ø 700 mm) di elevasi 914,428 dengan panjang pipa 5.869 m ; akhir pipa segmen B (pipa HDPE Ø 710 mm) pada elevasi 924,907 m dengan panjang pipa 3.810 m; akhir pipa segmen C (pipa HDPE Ø 630 mm) pada elevasi 819,61 m dengan panjang pipa 2.376 m dan akhir pipa segmen D (pipa HDPE Ø 560 mm) pada elevasi 929 m dengan panjang pipa 3.314 m. Jaringan transmisi pipa air baku di Kabupaten Karangasem menunjukkan bahwa secara analisis perhitungan penyetingan pada gate valve, tekanan pada perpipaan yang sudah terpasang masih dalam keadaan aman dari tekanan berlebih yang melebihi tekanan nominal pipa dan jika masih diperlukan untuk menurunkan tekanan di jaringan transmisi air baku maka secara operasional bisa dilakukan yaitu dengan membuka setengah gate valve, yang akan mampu menurunkan tekanan air dalam pipa,  sehingga sistem penyediaan air baku dapat berfungsi dengan baik.The human need for water at this point is great both for consumption and to support human life. The government has been planning and implementing infrastructure development for the raw water pipeline transmission network in fiscal year 2006 to 2014. Since the completion of the construction, there were some problems such as, water leakage rate experienced pipe, therefore pipelines that exist in Karangasem regency which serves to transmit clean water that meets the needs of people in need for re-evaluation of the pipeline so you can find the right solution to solve the problem. This research was conducted several stages of measurement directly and indirectly in the field. Preparation indirect done by looking at the preliminary data from drawing asbuilt. Direct measurement is done by survey with recording location is fitting persegmen existing transmission pipeline network and elevation measurements on each - each stationary pipe diameter and distance. The next step is to analyze the pressure only on the height difference and analyze pressure with their fittings. Measurement directly in the field and analysis in determining the pressure on the raw water pipeline transmission network has been done by the end of the pipe elevation measurement of segment A (GIP pipe Ø 700 mm) in elevation 914,428 with a length of 5.869 m of pipe; the end of the pipe segment B (HDPE pipe Ø 710 mm) at an elevation of 924,907 m to 3,810 m long pipe; the end of the pipe segment C (HDPE pipe Ø 630 mm) at an elevation of 819,61 m with a 2.376 m long pipe and pipe end segment D (HDPE pipe Ø 560 mm) at an elevation of 929 m to 3.314 m long pipe. Transmission network pipe raw water in Karangasem shows that the analysis of the calculation of the setup on the gate valve, the pressure in the piping already installed is in a safe state of excess pressure that exceeds the nominal pressure pipe and if it is still needed to reduce the pressure on the transmission network raw water then the operations can be done is to open half a gate valve, which will be able to lower the water pressure in the pipe, so that the raw water supply system to function properly.