Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PEMANFAATAN SABUT KELAPA SEBAGAI BIOADSORBEN UNTUK PENURUNAN KONSENTRASI BESI (FE) DAN KROMIUM (CR) AIR LINDI DENGAN VARIASI WAKTU KONTAK DAN KECEPATAN PENGADUKAN MENGGUNAKAN SISTEM BATCH Lilantisa Angelina Simbolon; Budi Nining Widarti; Edhi Sarwono
Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL Vol 6, No 1 (2022): Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL
Publisher : Mulawarman University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtlunmul.v6i1.7107

Abstract

Pengolahan air lindi dapat dilakukan melalui proses adsorpsi dengan memanfaatkan sabut kelapa sebagai bioadsorben. Sabut kelapa mengandung lignin 33,5%, selulosa 37,9% dan hemiselulosa 15,5% yang mampu meyerap kandungan logam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi adsorben dari sabut kelapa menurunkan kandunan logam Fe dan Cr melalui sistem batch, mengetahui pengaruh variasi waktu kontak dan kecepatan pengadukan dalam menurunkan kandungan logam berat Fe dan Cr pada air lindi serta hasil analisis kapasitas adsorpsi menggunakan metode isoterm Freundlich dan isoterm Langmuir.  Penelitian ini berskala laboratorium ketika pengolahan air lindi TPA Bukit Pinang dilakukan dan menggunakan metode batch dengan arang aktif limbah sabut kelapa sebagai adsorben. Proses penelitian dimulai dari preparasi sabut kelapa, kemudian dilakukan karbonisasi dengan suhu 400ºC selama 2 jam dan aktivasi fisik dengan suhu 500ºC selama 30 menit dan kimia menggunakan larutan H2SO4 1 M selama 24 jam sebagai aktivator. Pada penelitian ini digunakan variasi kecepatan pengadukan yaitu 50, 100 dan 200 rpm dan variasi waktu kontak yaitu 15, 30, 60 dan 90 menit. Massa yang digunakan sebanyak 2 gram dimana sebelumnya telah dihaluskan dengan ukuran 100 mesh. Setelah itu, diuji karakteristik arang aktif sabut kelapa dan dilakukan proses adsorpsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorpsi pada air lindi menggunakan arang aktif sabut kelapa dapat menurunkan logam Fe sebesar 30,84% pada waktu kontak 60 menit dengan kecepatan pengadukan 50 rpm dan untuk logam Cr sebesar 95,55% pada waktu kontak 90 menit dengan kecepatan pengadukan 200 rpm. Berdasarkan hasil analisis isoterm logam Fe dan Cr, nilai regresi (R2) yang diperoleh paling besar yaitu 0,9981 pada isoterm Freundlich. Maka, model isoterm yang cocok untuk adsorpsi menggunakan bioadsorben sabut kelapa yaitu isoterm Freundlich. 
PEMODELAN DISPERSI EMISI UDARA SO2 DAN NO2 DENGAN MENGGUNAKAN PERSAMAAN GAUSSIAN PADA CEROBONG PLTU MUARA JAWA, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Edhi Sarwono; Fahrizal Adnan; Muhammad Muadz Rafi
Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL
Publisher : Mulawarman University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtlunmul.v5i2.7085

Abstract

Setiap hari, pencemaran udara terjadi secara terus-menerus dilepaskan ke udara dari aktifitas manusia, industri dan kendaraan bermotor, salah satunya ialah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Salah satu jenis PLTU adalah PLTU berbahan bakar batu bara. Hasil dari pembakaran tersebut dapat menghasilkan emisi seperti Sulfur Dioksida (SO2) dan Nitrogen Dioksida (NO2). Tujuan penelitian ini adalah melakukan pemodelan dispersi emisi udara dari cerobong PLTU Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara. Persamaan pemodelan dispersi yang digunakan adalah persamaan Gaussian dan pemetaan penyebarannya menggunakan software Aermod dengan membandingkan plume rise berdasarkan persamaan Briggs dan persamaan Holland. Kemudian dilakukan perhitungan plume rise berdasarkan persamaan Briggs dan Holland serta wind rose. Hasil yang didapatkan ialah berdasarkan persamaan Briggs, nilai konsentrasi tertinggi terjadi pada jarak reseptor ke 1000 m dengan nilai 7,782 µg/m3 pada parameter SO2 dan 70,537 µg/m3 pada parameter NO2, serta berdasarkan persamaan Holland nilai konsentrasi tertinggi terjadi pada jarak reseptor ke 1000 m dengan nilai 33,195 µg/m3pada parameter SO2 dan 184,92 µg/m3 pada parameter NO2. Arah angin dari bulan Januari sampai April dan bulan Desember 2019 dominan ke arah barat, barat daya dan tenggara sehingga emisi SO2 dan NO2 dominan ke daerah hutan dan pertambangan, jalan tol Balikpapan – Samarinda dan Kelurahan Muara Jawa Ulu. Sedangkan arah angin dari Mei sampai November 2019 dominan ke arah utara dan timur laut sehingga emisi SO2 dan NO2 dominan ke daerah hutan dan pertambangan.
KEMAMPUAN TANAMAN SIRIH GADING (Epipremnum aureum) DALAM MEYERAP KADAR LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DARI EMISI GAS KENDARAAN BERMOTOR Edhi Sarwono; Fahrizal Adnan; Rizma Elvaryani
Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL
Publisher : Mulawarman University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtlunmul.v5i2.7087

Abstract

Saat ini, salah satu sumber penyebab terjadinya pencemaran udara ialah asap knalpot dari kendaraan bermotor yang mengandung timbal (Pb), yang merupakan logam berat bersifat karsinogenik karena dapat menyebabkan mutasi sel dalam jangka waktu lama. Salah satu upaya mengurangi dampak pencemaran Pb di udara adalah dengan melakukan penanaman tanaman yang bisa menyerap polutan, salah satunya ialah sirih gading (Epipremnum aureum). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kemampuan tanaman sirih gading dalam menyerap gas kadar Pb yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, dan mengetahui hubungan waktu kontak pemaparan terhadap pertumbuhan tanaman. Sampel diambil dari bagian daun tanaman. Pemaparan asap knalpot kendaraan terhadap tanaman sirih gading dilakukan dalam waktu 60 menit selama 7 hari berturut-turut. Sampel daun diuji akumulasi kadar Pb dengan metode spektrofotometer serapan atom. Berdasarkan hasil penelitian, kemampuan tanaman sirih sebagai penyerap Pb di udara dipengaruhi oleh lamanya waktu pemaparan. Tanaman sirih gading mampu menyerap emisi gas Pb dan mendapatkan hasil yaitu pada uji H0 sebesar 1.282 mg/L, H1 sebesar 1.922 mg/L, H2 sebesar 3.524 mg/L, H3 sebesar 1.962 mg/L, H4 sebesar 2.562 mg/L, H5 sebesar 4.164 mg/L, H6 4.806 mg/L, dan H7 sebesar 1.922 mg/L. Untuk tanaman kontrol H0 sebesar 4.806 mg/L, dan H7 sebesar 4.164 mg/L. Perbandingan fisik tanaman setiap harinya dipengaruhi dengan variasi daun kuning, variasi daun hijau kuning, dan variasi daun hijau. Karena jika semakin banyak variasi daun kuning yang di uji maka akan semakin tinggi hasil pengujian akumulasi kadar gas timbal pada daun Sirih Gading, begitu pula sebaliknya.
THE EFFECT OF COAL MINING ACTIVITIES ON HYDROLOGICAL PARAMETER CHANGE Hasan, Harjuni; Sarwono, Edhi
Jurnal Chemurgy Vol 8, No 1 (2024): Jurnal Chemurgy-Juni 2024
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/cmg.v8i1.14797

Abstract

Mining is a conventional activity that alters the natural landscape and causes hydrological parameter changes and environmental disruptions, such as hampered vegetation growth due to water table subsidence, damaged productive land that affects the river flow, water pollution, deforestation, and erosion. Land clearing for coal mining activity potentially damages the soil layer structure, due to the loss of ground cover vegetation, so hydrological parameter changes, including an 11.79% (50.55 mm) decreased base flow, 40.35% (273.73 mm) increased direct runoff, 21.92% (250.30 mm) increased surface runoff, an 15.73% (76.21 mm) decreased infiltration, 11.03 % (122.52 mm) increased potential evapotranspiration, causing fluctuating river debit. Every 10 Ha of land clearing for mining activities related to 51.46% (291.36 mm) increased runoff. Meanwhile, the postmining activities, including reclamation and vegetation, could only decrease the baseflow by 6.95% (5.95 mm) while increasing the direct runoff, surface runoff, infiltration, and potential evapotranspiration by 9.36% (89.11 mm), 11.19% (148.20 mm), 3.81% (15.56 mm), and 1.73% (21.34 mm), respectively. Furthermore, every 10 Ha of reclamation area is related to an 47.22% (264.62 mm) decrease in runoff.
The potential of coal mine voids for clean water sources in Nusantara Capital City Hasan, Harjuni; Sarwono, Edhi
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 12 No. 1 (2024)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2024.121.6771

Abstract

PT. Singlurus Pratama operates four mining blocks: Sungai Merdeka, Argosari, Margomulyo, and Mutiara. he Sungai Merdeka block has three voids with significant potential as a source of clean water for Nusantara Capital City (IKN), given its location within the city's development area. Surface water flows from the southern ridge to the north, accumulating in the voids of the Sungai Merdeka block, with a total inflow of 449,218,750 m³ per day. This volume can meet the needs of 1,796,875 to 4,492,187 people. One of the geological formations of the Sungai Merdeka block is the Balikpapan Formation, composed of alternating sandstone and clay with intercalations of shale and limestone, which is likely an aquifer. The water quality in voids 1 and 2 falls into the fairly good category (WQI = 70.07 and 70.77), while void 3 has moderate quality (WQI = 64.76). Thus, the water from the Sungai Merdeka voids can be used for personal and household hygiene, as well as raw water for drinking. Additionally, it can be utilized for recreational water facilities, freshwater aquaculture, livestock, and irrigation. However, the void water in the Sungai Merdeka block is indicated to have formed acid mine drainage, as the exposed void walls are contaminated with oxygen and leached by water. This leads to increased acidity, as indicated by the low pH values of the water. The increased acidity also results in higher concentrations of dissolved metals within the voids, necessitating careful management and treatment to ensure the water’s safety and usability for various applications.
Analisis Kualitas Kasgot dari Larva Black Soldier Fy (BSF) dengan Menggunakan Sampah Organik Sayur dan Buah di TPS 3R Pasar Segiri, Kota Samarinda Setiawan, Yunianto; Sarwono, Edhi; Asghaf, Achmad Taufan Fatahillah
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.3612

Abstract

Organic waste can be used as feed for cultivating Black Soldier Fly (BSF) larvae, one of which is frass. In this research, maggot breeding was carried out at Solid Waste Processing Station System Reduce, Reuse, and Recycle (TPS 3R) Segiri Market. The waste used to feed maggots was mango and apple waste, as well as Chinese cabbage and carrot vegetable waste with three variations of waste used for maggots, namely (1) a combination of 50% vegetable and 50% fruit, (2) a combination of 75% vegetable and 25% fruit, and (3) a combination of 25% vegetable and 75% fruit. This research was carried out for 18 days with 100 grams of feed per day. The results of this research are frass, which was tested on the parameters of water content, pH, C-organic, macro nutrients, C/N ratio, Fe, and Cd compared to the Republic of Indonesia Minister of Agriculture Decree Number 261 of 2019 concerning Minimum Requirements for Organic Fertilizers, Biological Fertilizers, and Improvers Soil, Solid Organic Fertilizer section. In this research, it was concluded that feed variations affect parameters due to the ingredients used. The best quality frass was the variation of 50% vegetables and 50% fruit, and met the quality standards based on the Republic of Indonesia Minister of Agriculture Decree Number 261 of 2019. The yield of frass produced by BSF larvae originating from organic waste at TPS 3R Pasar Segiri Samarinda for 18 days was equal to 44%.   Abstrak Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) salah satunya berupa kasgot. Pada penelitian ini dilakukan pengembangbiakan maggot di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS 3R) Pasar Segiri. Sampah yang digunakan untuk pakan maggot adalah sampah buah mangga dan apel, serta sampah sayur sawi putih dan wortel dengan variasi yang digunakan adalah (1) kombinasi 50% sayur dan 50% buah, (2) kombinasi 75% sayur dan 25% buah, dan (3) kombinasi 25% sayur dan 75% buah. Penelitian ini dilakukan selama 18 hari dengan pemberian pakan sebanyak 100 gram per hari. Hasil dari penelitian ini berupa kasgot yang diuji pada parameter kadar air, pH, C-organik, hara makro, rasio C/N, Fe, dan Cd dibandingkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 2019 tentang Persyaratan Minimal Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah, bagian Pupuk Organik Padat. Pada penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa variasi pakan mempengaruhi parameter karena bahan yang digunakan. Kualitas kasgot yang terbaik adalah pada variasi 50% sayur dan 50% buah, dan telah memenuhi standar baku mutu berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 261 Tahun 2019. Yield kasgot yang dihasilkan oleh larva BSF yang berasal dari sampah organik di TPS 3R Pasar Segiri Samarinda selama 18 hari adalah sebesar 44%.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM REDUKSI SAMPAH ORGANIK MELALUI BUDIDAYA MAGOT DI KECAMATAN SAMARINDA ULU KOTA SAMARINDA Ibrahim, Ibrahim; Setiawan, Yunianto; Ermawati Rahayu, Dwi; Sarwono, Edhi; Mellita Yessika, Al
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 5 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i5.1923-1931

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas reduksi sampah organik melalui pembenahan sarana budidaya maggot serta pelatihan untuk mendorong partisipasi masyarakat di Kelurahan Samarinda Ulu. Sebagai data awal, sarana budidaya yang tersedia di salah satu TPS3R terdiri dari biopon sebanyak 12 unit berukuran 50 x 200 cm dan 20 unit berukuran 33 x 60 cm dengan kapasitas total reduksi 2,015 ton/bulan  yang menggunakan desain rak bersusun non-permanen. Melalui kegiatan pembenahan ini, kapasitas reduksi berhasil ditingkatkan menjadi 4,725 ton/bulan melalui penggunaan 15 unit biopon berukuran 1 x 1 meter dan desain bak permanen yang lebih efisien. Pada aspek pemberdayaan masyarakat, pelatihan budidaya maggot diikuti oleh 29 peserta yang mendapatkan pemahaman teknis tentang budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik secara mandiri. Pelatihan ini berhasil meningkatkan animo masyarakat, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen partisipasi kolektif dari dua komunitas, yaitu Bank Sampah SIHAT RT.02 Kelurahan Jawa dan Bank Sampah BERSINAR RT.22 Kelurahan Jawa. Kedua komunitas tersebut menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan tim fasilitator kegiatan PKM untuk kolaborasi jangka panjang dalam reduksi sampah organik menggunakan budidaya maggot. Hasil kegiatan ini menunjukkan peningkatan kapasitas reduksi sampah di TPS3R kecamatan Samarinda Ulu serta antusiasme masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah organik. Dengan adanya pendampingan dari fasilitator, diharapkan kegiatan ini dapat menjadi model keberlanjutan bagi pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.
PENGARUH VARIASI WAKTU TINGGAL TERHADAP KADAR BOD, COD, DAN TSS PADA PENGOLAHAN LINDI TPA BUKIT PINANG SAMARINDA MENGGUNAKAN SISTEM AERASI BERTINGKAT DAN SEDIMENTASI Sarwono, Edhi; Azis, Wahyu Arindra; Widarti, Budi Nining
Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL
Publisher : Mulawarman University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtlunmul.v1i2.1564

Abstract

AbstractLeachate contains organic and anorganic materials that are harmful to surface water so that need a treatment to reduce water pollute in environment. Leachate can be treated with aerobic processes using aeration and sedimentation processes to reduce levels of BOD, COD and TSS. The Purposes of this research was to determine the effect of detention time variation on the concentration of BOD, COD, and TSS using multilevel system of aeration and sedimentation. The method used in this research was a batch reactor system using a multilevel system of aeration and sedimentation. The research was conducted during one month using a variation of detention time 4 hours, 6 hours and 8 hours. In the treatment process using some reactor wastewater treatment plants obtained optimum residence time in the aeration reactor unit is 8 hours. From the results of the optimum results obtained by the BOD levels reduced as much as 91.3% from the initial 731.92 mg / L to 63.65 mg / L, COD fell as much as 39.4% from the initial 1871.42 mg / L to 1133.44 mg / L and TSS levels fell as much as 95.1% of the initial state 395, 8 mg / L to 50.4 mg / L.
STUDY OF LAND COVER AND BIODIVERSITY IN RELATION TO ROAD DEVELOPMENT IN MUARA KAMAN SEDULANG NATURE RESERVE Apansyah, Apansyah; Kristiningrum, Rochadi Kristiningrum; Aipassa, Marlon Ivanhoe; Pardosi, Jawatir; Sarwono, Edhi; Duakaju, Nella Naomi
Gorontalo Journal of Forestry Research VOLUME 7 NOMOR 2 TAHUN 2024 GORONTALO JOURNAL OF FORESTRY RESEARCH
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjfr.v7i2.3743

Abstract

This study evaluates the environmental impact of road construction in the Muara Kaman Sedulang Nature Reserve (CAMKS), with a particular focus on land cover changes and biodiversity loss. The 8.189 km road construction aims to connect the isolated areas between Kupang Baru Village and Liang Buaya Village. Satellite imagery was used to analyze land cover changes due to road construction, while field surveys were conducted to assess the biodiversity of flora and fauna affected by the development. Findings research indicate that  majority of land covers consist of shrub/swamp thicket. Additionally, no protected plant species were found in either village, but naturally growing tree species were identified, and approximately 26% of protected wildlife were located within the CAMKS area. This means the impacts include habitat loss, disruption of natural behaviors, and increased risk of vehicle-related fatalities, and that the area holds high conservation value.
ANALISIS STATUS MUTU AIR HULU SUNGAI LAWA MENGGUNAKAN METODE INDEKS PENCEMARAN DAN STORET DI KABUPATEN KUTAI BARAT Sariyadi, Sariyadi; Hamdhani, Hamdhani; Setiawan, Yunianto; Mustakim, Mohammad; Tarigan, Daniel; Hasan, Harjuni; Sarwono, Edhi
Jurnal Chemurgy Vol 10, No 1 (2026): Jurnal Chemurgy-Juni 2026
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/cmg.v10i1.26661

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kualitas air di hulu Sungai Lawa, Kabupaten Kutai Barat, dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran (IP) dan STORET. Sungai Lawa memiliki peran ekologis, sosial, dan ekonomi penting bagi masyarakat, namun dalam dua dekade terakhir menghadapi tekanan antropogenik akibat pertambangan batubara, perkebunan, dan pemukiman. Penelitian dilakukan melalui pengukuran parameter fisika, kimia, dan biologi pada tujuh titik selama dua periode.Hasil menunjukkan bahwa metode IP menempatkan mutu air pada kategori cemar ringan dengan skor rata-rata 2,298–2,499. Sebaliknya, metode STORET menghasilkan kategori tercemar sedang dengan skor rata-rata -25, bahkan pada Titik 3 dan Titik 5 masuk kategori tercemar berat. Parameter yang paling berkontribusi terhadap penurunan kualitas air adalah TSS, DO rendah, BOD dan COD tinggi, pH asam, fosfat, serta kontaminasi mikrobiologi berupa Fecal Coliform.Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa kualitas air Hulu Sungai Lawa telah mengalami degradasi nyata. IP lebih konsisten untuk analisis tren jangka panjang, sedangkan STORET lebih sensitif terhadap variasi spasial. Penggunaan keduanya secara komplementer memberikan gambaran utuh kondisi mutu air. Strategi pengelolaan DAS berbasis data, restorasi ekosistem, pengendalian limbah, serta integrasi kearifan lokal diperlukan untuk meningkatkan kualitas air menuju kategori baik Kata Kunci: Sungai Lawa, kualitas air, Indeks Pencemaran, STORET, DAS