Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN TANAMAN MANGROVE TERHADAP PERUBAHAN GARIS PANTAI DI KABUPATEN PATI TAHUN 2017-2020 DENGAN METODE PENGINDRAAN JAUH DAN APLIKASI DIGITAL SHORELINE ANALYSIS SYSTEM (DSAS) Thia Prahesti; Yasser Wahyudin; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKabupaten Pati memiliki garis pantai sepanjang 60 km dengan karakteristik pantai yang berlumpur. Masyarakat pesisir di Kabupaten Pati sangat bergantung pada hasil pantai dan laut, sehingga wilayah pesisisr perlu dijaga kelestariannya. Penurunan kualitas lingkungan pesisir dapat diindikasi dengan melihat kualitas tanaman mangrove. Pemerintah Kabupaten Pati melakukan penanaman mangrove secara berkala untuk memperbaiki kualitas hidup di lingkungan pesisir pantai, namun belum ada pengawasan. Penelitian ini difokuskan untuk mengetahui hubungan antara perubahan kerapatan tanaman mangrove dengan perubahan garis pantai di Kabupaten Pati tahun 2017-2020. Penelitian ini menggunakan metode pengindraan jauh dan SIG dengan menggunakan metode transformasi indeks air NDWI dalam penentuan garis pantai pada Citra Sentinel-2 tahun 2017-2020, reduksi garis menggunakan DEMNAS dan MSL, kemudian diolah dengan SIG menggunakan DSAS untuk mendapatkan hasil perubahan garis pantai (NSM) serta klasifikasi terbimbing untuk tutupan lahan dan indeks vegetasi NDVI dan GNDVI yang digunakan untuk memetakan kerapatan vegetasi mangrove di pesisir Kabupaten Pati. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata perubahan garis pantai di Kabupaten Pati mengalami penambahan sebesar 22,260 m. Perubahan luasan mangrove di pesisir Kabupaten Pati mengalami kenaikan sebesar 86,634 Ha. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan perubahan kerapatan mangrove dengan perubahan garis pantai di pesisir Kabupaten Pati menggunakan regresi linear sederhana dengan hasil koefisien determinasi (R2) sebesar 0,089 dan koefisien korelasinya (R) sebesar 0,299. Hasil ini menunjukkan korelasi cukup. Perhitungan uji F untuk mengetahui perubahan kerapatan mangrove dengan perubahan garis pantai memiliki pengaruh signifikan, sehingga jika nilai kerapatan mangrove semakin tinggi maka perubahan garis pantai akan cenderung bertambah (akresi). Kata Kunci: DSAS, garis pantai, mangrove, pengindraan jauh  ABSTRACTPati Regency has a coastline of 60 km with a characteristic muddy beach. The coastal community in Pati Regency is very dependent on coastal and marine products, so it needs to be preserved. A decrease in coastal environment quality can be indicated by looking at the mangrove of quality plants. The Government of Pati Regency carries out regular mangrove planting to improve the quality of life in the coastal environment, but there is no supervision. This study uses remote sensing technology and GIS to determine the relationship between changes in mangrove plant density and changes in coastlines in Pati Regency from 2017 to 2020. This study uses remote sensing methods using the NDWI water index transformation method to determine the shoreline from Sentinel-2-year image. 2017-2020, MSL reduction using DEMNAS and MSL, then processed with a Geographical Information System using DSAS to obtain the results of shoreline changes (NSM) as well as guided classifications for land cover and vegetation indexes NDVI and GNDVI which are used to map mangrove vegetation density on the coast of the Pati Regency. The results showed that the average change in the coastline in Pati Regency has increased by 22,260 m. Changes in the area of mangroves on the coast of Pati Regency have increased by 86.634 hectares. The results also showed that the relationship between changes in mangrove density and shoreline changes on the coast of Pati Regency used simple linear regression with the coefficient of determination (R2) of 0,089 and the correlation coefficient (R) of 0,299. These results indicate a correlation enough. The calculation of the F test to determine changes in mangrove density with changes in shoreline has a significant effect, so that if the value of mangrove density is higher, changes in shoreline will tend to increase (accretion).
ANALISIS DEFORMASI MENGGUNAKAN METODE FOTOGRAMETRI RENTANG DEKAT BERBASIS UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) (Studi Kasus : Candi Gedong Songo) Gantra S.D Hutahaean; Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.036 KB)

Abstract

ABSTRAKCandi Gedong Songo merupakan sebuah komplek bangunan Candi Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Semarang, Jawa tengah. Candi Gedong Songo dilindungi oleh UU RI No.11 Tahun 2010 tentang cagar budaya yang disebutkan bahwa pelestarian cagar budaya harus didukung oleh kegiatan pendokumentasian sebelum dilakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan keasliannya. Seiring berjalannya waktu, Candi Gedong Songo dapat mengalami pengikisan oleh alam (air hujan, angin, matahari dan lain-lain) yang berpotensi menyebabkan deformasi pada candi, baik pada bentuk, tekstur maupun posisi. Maka dari itu, dibutuhkan upaya pelestarian Candi Gedong Songo agar tidak hilang keberadaanya sehingga bisa mempertahankan nilai sejarahnya. Penelitian ini menggunakan metode fotogrametri rentang dekat/close range photogrammetry berbasis UAV (Unmanned Aerial Vehicle). Akuisisi foto dilakukan secara temporal untuk mengetahui deformasi model. Hasil akhir dari penelitian ini adalah model 3D digital Candi Gedong songo serta analisis deformasi model 3D. Nilai selisih jarak tertinggi pada uji model pertama adalah 0,015 mm dan 0,019 mm pada model kedua. Analisis deformasi pada kedua model dilakukan dengan analisis geometrik dengan hasil nilai tertinggi adalah 7 mm dan terendah adalah 1 mm dengan rata-rata 3,91 mm. Akurasi yang dimiliki model yaitu 8,4 mm oleh karena itu, model mengalami pergeseran namun tidak termasuk dalam deformasi karena hasil analisis geometrik masih dalam rentangan akurasi model. Model pertama dan model kedua dengan rentang waktu 3 bulan dapat disimpulkan tidak terdeteksi deformasi.Kata Kunci: Candi Gedong Songo, Deformasi, Fotogrametri Rentang Dekat, UAV.   ABSTRACTGedong Songo Temple is a Hindu temple complex located in Candi Village, Bandungan District, Semarang, Central Java. Gedong Songo Temple is protected by Republic of Indonesian Law No.11 of 2010 concerning cultural heritage which states that preservation of cultural heritage must be supported by documentation before activities that can cause changes to its authenticity. Over time, Gedong Songo Temple can experience erosion by nature (rain water, wind, sun, etc.) which has the potential to cause deformation in the temple, both in shape, texture and position. Therefore, efforts are needed to preserve Gedong Songo Temple so that its existence is not lost so that it can maintain its historical value. This research uses close range photogrammetry method based on UAV (Unmanned Aerial Vehicle). The photo acquisition is done temporally to determine the model deformation. The final result of this research is the digital 3D model of Gedong Songo Temple and 3D model deformation analysis. The highest distance value difference in the first model test was 0.015 mm and 0.019 mm in the second model. Deformation analysis on the two models was carried out with geometric analysis with the highest value being 7 mm and the lowest being 1 mm with an average of 3.91 mm. The accuracy of the model is 8.4 mm. Therefore, the model has shifted but is not included in the deformation because the results of the geometric analysis are still in the range of the accuracy of the model. The first model and the second model with a span of 3 months can be concluded no deformation was detected.Keywords: Close Range Photogrammetry, Deformation, Gedong Songo Temple, UAV.
STUDI PERBANDINGAN METODE ARVI, EVI 2 DAN NDVI UNTUK PENENTUAN KERAPATAN TAJUK DALAM IDENTIFIKASI LAHAN KRITIS DI KABUPATEN BOYOLALI (Studi Kasus: Kecamatan Ampel, Kecamatan Cepogo, Kecamatan Selo dan Kecamatan Musuk Kabupaten Boyolali) Alfi Dian Ranu Wijaya; Hani’ah Hani’ah; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.67 KB)

Abstract

Pemanfaatan lahan yang tidak memperhatikan lingkungan disekitarnya dan peruntukan penggunaan lahan menjadikan lahan yang ada menjadi lahan kritis. Beberapa lahan kritis di Kabupaten Boyolali terletak di kawasan lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang wilayahnya cukup luas dan memiliki topografi yang beragam. Lahan kritis ditentukan dengan Peraturan Direktur Jendral Bina Pengelolaan Daerah Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor : P.4/V-SET/2013 tentang petunjuk teknis penyusunan data spasial lahan kritis. Pada peraturan tersebut terdapat 5 parameter yang menjadi acuan dalam penentuan lahan kritis dan penutupan lahan menjadi indikator terpenting dalam penentuan lahan kritis. Pemetaan penutupan lahan dapat menggunakan metode ARVI, EVI 2 dan NDVI. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan indeks vegetasi terbaik antara metode ARVI, EVI 2 dan NDVI. Indeks vegetasi terbaik diperoleh dari perbandingan hasil pengolahan citra Sentinel-2A dengan hasil validasi lapangan menggunakan 72 titik yang tersebar diseluruh wilayah penelitian. Indeks vegetasi terbaik digunakan lebih lanjut dalam penentuan lahan kritis dengan metode scoring dan pembobotan sesuai dengan Peraturan Direktur Jendral Bina Pengelolaan Daerah Sungai dan Perhutanan Sosial Nomor : P.4/V-SET/2013. ARVI hanya menyajikan 4 kelas kerapatan tajuk yaitu tanpa kelas sangat rapat dengan didominasi kelas kerapatan buruk (77,27%). NDVI didominasi kelas kerapatan sangat rapat (59,92%). EVI 2 didominasi kelas kerapatan sedang (48,37%). NDVI menjadi metode terbaik dengan tingkat kesesuaian mencapai 59,92%, diikuti oleh EVI 2 sebesar 27,77% dan ARVI 13,8%. Hasil lahan kritis per fungsi kawasan didapatkan hasil bahwa kawasan hutan lindung didominasi oleh kelas potensial kritis dengan luas total 2447,19 ha. Lahan kritis di kawaasan budidaya pertanian didominasi kelas agak kritis dengan 9.367,80 ha. Lahan kritis di kawasan lindung diluar kawasan hutan didominasi kelas agak kritis dengan luas 13,9 ha.
EVALUASI RUANG TERBUKA HIJAU TERHADAP TINGKAT KENYAMANAN TERMAL (Studi Kasus: Kota Semarang, Jawa Tengah) Titis Ismayanti; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (884.841 KB)

Abstract

ABSTRAKWilayah Pusat Kota Semarang merupakan daerah paling berkembang di Kota Semarang. Wilayah Pusat Kota Semarang merupakan kawasan Golden Triangle Bussiness District. Keberadaan Central Bussiness District (CBD) ini mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Penggunaan lahan mengalami perubahan dari lahan terbuka menjadi lahan terbangun. Perkembangan pembangunan memiliki dampak negatif yaitu berkurangnya luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH), sehingga mengakibatkan peningkatan suhu. Suhu semakin meningkat akan mempengaruhi tingkat kenyamanan termal pada wilayah tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui persebaran RTH dan THI di Pusat Kota Semarang. Hasil pengolahan distribusi THI digunakan untuk merencanakan pengembangan RTH di Kecamatan yang paling tidak nyaman. Penelitian ini menghasilkan peta rekomendasi RTH berdasarkan distribusi THI, ketersediaan RTH dan penggunaan lahan. Metode yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pengindraan jauh untuk pengolahan tingkat kenyaman termal dan SIG untuk pengolahan RTH. Tingkat kenyaman termal diperoleh dengan menggunakan algoritma Single – Channel dan THI. Pengolahan RTH menggunakan metode digitasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecamatan yang paling nyaman adalah Kecamatan Gajah Mungkur. THI rata-rata Kecamatan Gajah Mungkur sebesar 25,95 oC. Luas RTH Kecamatan Gajah Mungkur telah memenuhi target Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010. Daerah yang paling tidak nyaman adalah Kecamatan Semarang Selatan. Kecamatan ini membutuhkan RTH seluas 67,47 Ha. Rata-rata THI Kecamatan Semarang Selatan adalah 26,78 oC. Berdasarkan distribusi THI, ketersediaan RTH dan penggunaan lahan, rekomendasi penambahan RTH untuk Kecamatan Semarang Selatan adalah vertical garden/penanaman vegetasi di sekitar bangunan seluas 53,72 Ha, penghijauan lahan parkir seluas 1,80 Ha, green roof seluas 4,41 Ha, taman dan lapangan seluas 0,23 Ha, RTH kawasan sempadan sungai seluas 3,90 Ha dan RTH jalur jalan seluas 4,04 Ha. Kata Kunci : Algoritma Single - Channel, Ruang Terbuka Hijau, Tingkat Kenyamanan Termal ABSTRACTSemarang City Center is the most developed area in Semarang City. The Semarang City Center has the Golden Triangle Business District. The existence of the Central Business District (CBD) affects changes in land use. Land use is dominated by built up area. Development has a negative impact which reduces the area of green open space. Decreasing of green open space affects increase the temperature. Increasing temperature will affect Themal Humidity Index (THI) in this region.This study aims to determine the distribution of green open space and THI in Semarang City Center. Results Processing the distribution of THI is used for planning the development of green open space in the most uncomfortable subdistricts. This research generates references based on THI distribution, green open space distribution and land use. The method used in this study uses remote sensing for high-level thermal processing and GIS for green space processing. The level of thermal humidity index is obtained by using the Single-Channel and THI algorithm. Green open space processing uses the digitization method. The results of this study indicate that the most comfortable district is Gajah Mungkur District. THI average Gajah Mungkur District is 25.95 oC. The area of green open space Gajah Mungkur District has met the target of Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010. The most uncomfortable area is the South Semarang District. This subdistrict needs green open space of 67.47 Ha. The average THI Subdistrict of South Semarang is 26.78oC. Based on THI distribution, green open space distribution and land use, green space evaluation for South Semarang District is a vertical garden / vegetation planting around a building area of 53.72 Ha, greening a parking area of 1.80 Ha, green roof  area of 4.41 Ha, park and field area of 0.23 Ha, RTH of river border area of 3.90 Ha and RTH of road area of 4.04 Ha.
ANALISIIS PEMETAAN DAERAH POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN (FISHING GROUND) DENGAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT TERRA MODIS DAN PARAMETER OSEANOGRAFI Nurrabia Fitriani; nurhadi Bashit; firman Hadi
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 10, Nomor 1, Tahun 2021
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPerairan Semarang  memiliki ketersediaan sumberdaya perikanan yang melimpah akan tetapi terkuak fakta bahwa masih banyak nelayan Tambak Lorok yang berada pada taraf ekonomi yang belum sejahtera karena tidak memperoleh banyak tangkapan ikan.. Nelayan Tambak Lorok juga menghadapi permasalahan pada biaya bahan bakar dan cuaca buruk. Cuaca buruk dapat mengakibatkan beberapa nelayan Tambak Lorok beralih profesi karena tidak lagi dapat melaut. Variabel cuaca yang mempengaruhi produktifitas nelayan antara lain seperti curah hujan, suhu udara, serta gelombang. Kenaikan suhu udara akan meningkatkan naiknya suhu air. Curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi tingkat keasaman air menurun. Nelayan Tambak Lorok masih menggunakan cara tradisional dalam penangkapan ikan. Oleh karena itu, nelayan perlu mengetaui area potensi tangkapan ikan dengan memanfaatkan teknologi sehingga meningkatkan hasil tangkapan ikan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menentukan zona perkiraan penangkapan ikan dengan memanfaatkan data satelit TERRA MODIS yang dapat mendeteksi suhu permukaan laut dan klorofil-a. Algoritma Single image edge detection (SIED) adalah algoritma yang digunakan dalam menentukan area potensial penangkapan ikan. Algoritma ini dirancang untuk mendeteksi front pada citra temperatur permukaan laut. Data citra yang diamati dimulai dari tahun 2017 sampai dengan 2019 pada bulan Oktober hingga Desember.. Pada bulan Oktober 2017 dihasilkan 5 titik daerah potensial penangkapan ikan yang ditandai dengan nilai klorofil-a kurang dari 0,2 mg/m³ dan suhu permukaan laut berkisar antara 29,87 °C – 30,54 °C. Bulan November 2017 dihasilkan 6 titik daerah potensial penangkapan ikan yang ditandai dengan nilai klorofil-a lebih dari 0,2 mg/m³ dan suhu permukaan laut berkisar 31,00 °C – 31, 33°C. Validasi dilakukan dengan menganalisis hasil pengolahan citra dengan data hasil tangkapan ikan yang diperoleh dari Dinas Perikanan Kota Semarang. Kata Kunci: : Algoritma, Fishing Ground, Hasil Tangkapan Ikan, Klorofil-a, Suhu Permukaan Laut ABSTRACTSemarang's waters have abundant fishery resources but it is revealed that there are still many fishermen of  Tambak Lorok  who are at an economic level who are not prosperous because they do not get many fish catches. Tambak Lorok fishermen also face problems with fuel costs and bad weather. Bad weather can result in some Tambak Lorok  fishermen switching professions because they can not longer sea. Weather variables that affect fishermen's productivity include rainfall, air temperature, and waves. Rising air temperature will increase the rising water temperature. High rainfall also affects water acidity levels. Tambak Lorok fishermen still use the traditional way of fishing. Therefore, fishermen need to monitor the area of potential fishing by utilizing technology to improve the catch. Based on this, the study determined the estimated fishing zone by utilizing TERRA MODIS satellite data that can detect sea surface temperatures and chlorophyll-a. The Single image edge detection (SIED) algorithm is an algorithm used in determining potential areas of fishing. The algorithm is designed to detect fronts in sea surface temperature imagery. Imagery data observed from 2017 to 2019 from October to December. In October 2017 5 points of potential fishing were produced marked with a chlorophyll-a value of less than 0.2 mg/m³ and sea surface temperatures ranging from 29.87 °C – 30.54 °C.  In November 2017, 6 potential fishing points were produced marked with chlorophyll-a values of more than 0.2 mg/m³ and sea surface temperatures ranging from 31.00 °C – 31,33°C.  . Validation is done by analyzing the results of image processing with data of fish catches obtained from the Fisheries Office of Semarang City.
KAJIAN KESESUAIAN AKSESIBILITAS INFRASTRUKTUR SEBAGAI DAYA DUKUNG DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI (STUDI KASUS : KAWASAN INDUSTRI KENDAL, JAWA TENGAH) Dicky Nur Krisnha; Yudo Prasetyo; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 8, Nomor 4, Tahun 2019
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.676 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan industri merupakan salah satu hal kawasan yang mengalami perkembangan sangat pesat dari tahun ke tahun. Perkembangan kawasan industri di Indonesia berdampak pada kemajuan sektor perekonomian di Indonesia. Salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang mengalami perubahan besar-besaran adalah lahan sawah dan tambak menjadi kawasan industri yaitu Kabupaten Kendal.Kawasan Industri Kendal (KIK) memerlukan dukungan dari segi aksesibilitas seperti kelengkapan sarana dan prasana, jaringan jalan yang memadai, moda transportasi yang cepat dan mudah dijangkau serta daya dukung lahan untuk keberlangsungan dari KIK dalam rencana jangka panjang. Masalah lainnya yaitu kepentingan pemanfaatan lahan lebih dominan dibandingkan pertimbangan terhadap daya dukungnya, sehingga dapat terjadi penggunaan lahan yang melampaui kemampuannya. Dampak yang terjadi bisa berupa penurunan kualitas fisik lahan sebagai akibat adanya penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukkannya. Oleh karena itu, peneliti akan melakukan analisis kesesuaian aksesibilitas dan daya dukung lahan di Kawasan Industri Kendal menggunakan metode kombinasi pengindraan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk pengolahan dan analisis spasial.Peneliti melakukan analisis kesesuaian aksesibilitas dan daya dukung kawasan industri dan memperoleh hasil yaitu pertumbuhan jalan Kecamatan Kaliwungu, Kaliwungu Selatan dan Brangsong dari tahun 2010 sampai 2019 sebesar 48,616 km dengan arah pertumbuhan mengarah ke timur yaitu letak Kota Semarang. Kualitas nilai sarana dan prasarana KIK diperoleh sebesar 73,96%. Hal ini sangat mendukung sisi aksesibilitas Kawasan Industri Kendal (KIK). Berdasarkan hasil analisis aspek daya dukung lahan dan aspek geografis, didapat bahwa KIK memiliki tingkat kesesuaian 70%. Kata Kunci : Analisis Spasial, Kawasan Industri Kendal dan Kesesuaian Aksesibilitas ABSTRACTIndustrial park is one of the areas that is experiencing rapid development from year to year. The development of industrial parks in Indonesia has an impact on the progress of the economic sector in Indonesia. One area in Central Java Province that is undergoing massive changes is paddy fields and ponds being an industrial area, namely Kendal Regency.Kendal Industrial Park (KIP) requires support in terms of accessibility such as the completeness of facilities and infrastructure, adequate road networks, modes of transportation that are fast and easy to reach and the carrying capacity of land for the sustainability of KIP in the long-term plan. Another problem is that the interests of land use are more dominant than the consideration of the carrying capacity, so that land use can occur that is beyond its capacity. The impact that can occur in the form of a decrease in the physical quality of land as a result of land use that is not in accordance with its designation. Therefore, researchers will conduct an analysis of the suitability of the accessibility and carrying capacity of land in the Kendal Industrial Park use a combination of remote sensing and Geographic Information Systems (GIS) methods for spatial processing and analysis..Researchers analyzed the suitability of the accessibility and carrying capacity of the industrial area and obtained results, namely the growth of the roads in the Districts of Kaliwungu, Kaliwungu Selatan and Brangsong from 2010 to 2019 amounted to 48.616 km with the direction of growth heading eastward, namely the location of Semarang City. The quality of the value of KIP facilities and infrastructure obtained by 73.959%. This strongly supports the accessibility of KIP. Based on the analysis of land carrying capacity and geographical aspects, it was found that KIP has a quality value of 70%. Keywords: Kendal Industrial Park, Spatial Analysis and Suitability of Accessibility
PEMANFAATAN LIDAR UNTUK EVALUASI KETINGGIAN BANGUNAN DI KAWASAN JALAN PANDANARAN, SEMARANG Aisah Hajar; Arwan Putra Wijaya; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.39 KB)

Abstract

ABSTRAK    Kota Semarang merupakan ibukota Provinsi Jawa Tengah sekaligus kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Medan dan Bandung. Kota Semarang terus mengalami perkembangan dan pembangunan kota. Perkembangan dan pembangunan kota yang terjadi menyebabkan berdirinya bangunan gedung secara pesat. Oleh karena itu, pembangunan di Kota Semarang membutuhkan pengontrolan terhadap kesesuaian penataan ruang yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah. Penataan ruang merupakan suatu sistem perencanaan dan pemanfaatan ruang yang perlu dikendalikan dalam proses pengembangan suatu kawasan.                Penelitian ini berfokus pada tinggi bangunan gedung di kawasan Jalan Pandanaran Kota Semarang, dengan melakukan evaluasi terhadap Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 35 Tahun 2008. Penelitian ini menggunakan pendekatan data DEM LiDAR untuk memperoleh tinggi bangunan secara aktual.                Tinggi bangunan yang melebihi ketentuan dari Peraturan Daerah (Perda) Kota Semarang Nomor 14 Tahun 2011 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 35 Tahun 2008 dianggap sebagai bangunan melanggar. Pelanggaran tersebut terjadi pada 3 bangunan gedung, yaitu Bank Panin, Louis Keinne Hotel, dan Menara Suara Merdeka. Nilai pelanggaran yang terjadi untuk ketinggian bangunan di Kawasan Jalan Pandanaran sebesar 2,65 %. Maka nilai kesesuaian hasil evaluasi tinggi bangunan tersebut mencapai dari 97,35 %.
STUDI PERBANDINGAN KONSENTRASI KLOROFIL-a PADA TAMBAK BANDENG TRADISIONAL DAN TAMBAK BANDENG INTENSIF MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 8 BASKORO AGUM GUMELAR; Abdi Sukmono; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 7, Nomor 4, Tahun 2018
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.52 KB)

Abstract

Berdasarkan hasil survei sosial ekonomi Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan konsumsi ikan masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, pemerintah bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan guna meningkatkan konsumsi ikan masyarakat.Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah tahun 2010, budidaya tambak merupakan budidaya yang paling potensial. Pemilihan metode budidaya tambak yang paling efektif antara metode tradisional dan metode intensif perlu dilakukan untuk mengoptimalkan produksi ikan.Salah satu indikator efektifitas antara kedua metode tersebut dapat dilihat dari kandungan fitoplankton. Fitoplankton mengandung klorofil-a di dalam tubuhnya danmerupakan pakan alami dari ikan.Teknologi pengindraan jauh dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a dengan menggunakan algoritma Wouthuyzen, Wibowo, Pentury, Much Jisin Arief dan Lestari Laksmi.Hasil penelitian menunjukkan algoritma Pentury relatif lebih baik digunakan untuk menentukan konsentrasi klorofil-a pada perairan dangkal (tambak). Konsentrasi klorofil-a terendah pada tambak tradisional yaitu 0,47068 mg/m3, konsentrasi tertinggi 1,95017 mg/m3 dan konsentrasi rata-rata 1,12893 mg/m3, sedangkan pada tambak intensif konsentrasi terendah 0,36713 mg/m3, konsentrasi tertinggi 3,17063 mg/m3  dan konsentrasi rata-rata 1,53556 mg/m3.
ANALISIS SPATIO-TEMPORAL MODEL ESTIMASI POPULASI BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN UAV DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS: KELURAHAN TEMBALANG, SEMARANG) Syarifah Mayda Az Zahrotun Nisa; Arief Laila Nugraha; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Volume 9, Nomor 1, Tahun 2020
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.519 KB)

Abstract

ABSTRAK Kepadatan penduduk Kelurahan Tembalang pada tahun 2016 berjumlah 2.252 jiwa/km2 dan pada tahun 2019 mencapai 2.917 jiwa/km2. Hal ini menunjukan, kepadatan penduduk yang terjadi dalam 3 tahun mengalami kenaikan sebesar 29%. Pada saat ini, data kepadatan penduduk dilakukan perhitungan berdasarkan data wilayah administratif. Akan tetapi, persebaran penduduk di suatu wilayah sangatlah dinamis. Data kepadatan penduduk berdasarkan wilayah administratif terlihat kurang relevan jika diterapkan pada wilayah perkotaan dengan tingkat mobilisasi yang tinggi. Oleh karena itu, metode penentuan detail kepadatan penduduk sangat diperlukan untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai populasi penduduk wilayah perkotaan. Detail informasi populasi dapat digunakan dalam mengurangi faktor risiko bencana, pendataan kemiskinan dan wilayah tertinggal. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk representasi yang lebih realistis dari kegiatan manusia di daerah yang sangat perkotaan dan fakta yang menyebabkan perubahan seiring waktu dari kegiatan ini. Data UAV dapat digunakan untuk mengidentifikasi bangunan yang ada pada wilayah administrasi Kelurahan Tembalang. Hasil identifikasi bangunan diklasifikasikan berdasarkan kategori penggunaannya sehingga dapat diasumsikan bahwa, aktivitas manusia tidak lagi tersebar dalam area administratif melainkan ada di dalam bangunan. Data bangunan dilengkapi dengan data populasi serta ditunjang dengan data wawancara dimulainya aktivitas di dalam bangunan. Keseluruhan data yang terkumpul dilakukan pengolahan menggunakan SIG dengan metode volumetrik, sehingga dapat diketahui estimasi populasi yang ada pada bangunan secara spatio-temporal. Berdasarkan hasil perhitungan populasi bangunan, dapat diidentifikasi bahwa rata-rata persentase kenaikan populasi pada semua kategori bangunan pada pukul 01.00 WIB sebesar 28,61%, pukul 07.00 WIB sebesar 190,30%, pukul 13.00 WIB sebesar 155,65% dan pada pukul 19.00 WIB sebesar 55,25%. Kategori bangunan pendidikan adalah kategori bangunan yang paling mempengaruhi kenaikan populasi yang ada di Kelurahan Tembalang. Kata Kunci : Estimasi Populasi Bangunan, Sistem Informasi Geografis, Spatio-Temporal, UAV ABSTRACTThe population density of Tembalang Subdistrict in 2016 amounted to 2,252 people / km2 and in 2019 it reached 2,917 people / km2. This shows, the population density that occurred in 3 years increased by 29%. At this time, population density data is calculated based on administrative area data. However, the population distribution in an area is very dynamic. Data on population density based on administrative regions appear to be less relevant if applied to urban areas with high levels of mobilization. Therefore, the method of determining the detailed population density is needed to get accurate information about the population of urban areas. Detailed population information can be used to reduce disaster risk factors, poverty data collection and disadvantaged areas. This study aims to utilize the technology of Unmanned Aerial Vehicle (UAV) and Geographic Information Systems (GIS) for a more realistic representation of human activity in highly urban areas and facts that cause changes over time of this activity. UAV data can be used to identify buildings in the administrative area of Tembalang Subdistrict. The results of building identification are classified based on the category of their use so that it can be assumed that human activities are no longer scattered within the administrative area but rather within the building. Building data is supplemented with population data and is supported by interview data for the commencement of activities inside the building. The entire data collected is processed using GIS with volumetric methods, so it can be known spatio-temporal population estimates of buildings in the building. Based on the calculation of the building population, it can be identified that the average percentage of population increase in all building categories at 01.00 WIB at 28.61%, 07.00 WIB at 190.30%, 13.00 WIB at 155.65% and at 19.00 WIB at 55.25%. The education building category is the building category that most influences the population increase in Tembalang Subdistrict.   Keywords : Building Population Estimation, Geographic Information Systems, Spatio-Temporal, UAV
KAJIAN PENGARUH PENAJAMAN CITRA UNTUK PENGHITUNGAN JUMLAH POHON KELAPA SAWIT SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN FOTO UDARA (Studi Kasus : KHG Bentayan Sumatra Selatan) Devi Irsanti; Bandi Sasmito; Nurhadi Bashit
Jurnal Geodesi UNDIP Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Departement Teknik Geodesi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.322 KB)

Abstract

      Teknologi foto udara dapat digunakan pada proses pemetaan dalam bidang perkebunan dan pertanian termasuk komoditas kelapa sawit. Komoditas kelapa sawit, baik berupa bahan mentah maupun hasil olahannya, menduduki peringkat ketiga penyumbang devisa nonmigas terbesar bagi negara. Kelapa sawit mengalami perkembangan yang cukup pesat hampir setiap tahunnya sehingga  diperlukan strategi monitoring lahan yang efektif dan efisien. Salah satu data yang dapat digunakan untuk monitoring adalah foto udara. Monitoring kelapa sawit dapat dilakukan dengan menerapkan metode template matching dalam proses penghitungan pohon kelapa sawit secara otomatis. Metode ini dapat menghasilkan output berupa jumlah pohon kelapa sawit yang akurat dengan waktu yang cepat. Penelitian ini digunakan data foto udara yang memiliki kualitas spasial tinggi serta dilakukan teknik penajaman citra untuk memperbaiki visual dari data orthophoto sehingga deteksi objek dapat lebih mudah dilakukan. Penelitian ini menerapkan algoritma template matching pada luasan area 100m x 100m, 200m x 200m, dan 250m x 250m sebagai proses pengujian awal, kemudian luasan 1 blok kebun kelapa sawit untuk penelitian keseluruhan. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto dengan teknik HSV diperoleh presentase sebesar 82,4% untuk luasan 1 blok, 88% untuk luasan 250m x 250m, 91,4% untuk luasan 200m x 200m dan 89,8% untuk luasan 100m x 100m. Hasil penghitungan otomatis jumlah pohon kelapa sawit pada data foto original diperoleh presentase sebesar 79,1% untuk luasan 1 blok, 83,2% untuk luasan 250m x 250m, 94,2% untuk luasan 200m x 200m dan 84,4% untuk luasan 100m x 100m.