Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

KUASA KETUA ADAT PADA PROSESI UPACARA ADAT SEREN TAUN (di kasepuhan Cipta Mulya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat) Shagita Maulady Anjany; Dade Mahzuni; R.M. Mulyadi
Metahumaniora Vol 11, No 3 (2021): METAHUMANIORA, DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v11i3.35541

Abstract

The title of this article is "The Power of Abah as Customary Leader at the Seren Taun Traditional Ceremony in Kasepuhan Cipta Mulya, Sukabumi Regency, West Java." The purpose of this research is to expose the relevance of Abah's function and power as a traditional leader at the traditional seren taun ceremony, as well as the stages of the traditional seren taun ritual procedure. This study's method is a qualitative research technique that is explained descriptively. Meanwhile, to evaluate this research, the researcher used Foucault and Weber's theory of power, as well as Pierre Bourdieu's theory of habitus, arena, and capital. According to the findings of this study, Abah, as the traditional leader in the execution of the traditional ceremony of seren taun, always uses capital, habitus, and arena in controlling and establishing the smooth functioning of traditional rituals. Abah's power, shown via these three characteristics, enables the phases of the ancient seren taun ritual to be carried out properly and to be passed down from generation to generation to this day. KEYWORDS                                  Seren taun, sukabumi, power, habitus, arena.
MUSLIM PADA MASA AWAL KESULTANAN ISLAM CIREBON DALAM BERITA CHINA KLENTENG TALANG VERSI KOLONIAL Widyo Nugrahanto; Kunto Sofianto; Ade Kosasih; Dade Mahzuni
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.41029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan para pemeluk Agama Islam atau muslim yang pertama berada di Cirebon Jawa Barat. Dalam hal ini, penelitian ini menjawab pertanyaan siapakah para muslim pertama yang berada di Cirebon Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah Metode Sejarah yang terdiri dari Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Selain itu juga menganalisis teks dalam Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial dengan metode interteks pada teks-teks Berita China Klenteng Talang Versi Kolonial ini. Hasil penelitian ini adalah bahwa muslim yang pertama kali berada di Cirebon atau Jawa Barat adalah orang-orang Tionghoa Muslim. Mereka ini berada di Cirebon setelah pelayaran Cheng Ho ke Nusantara. Setelah pelayaran Cheng Ho berdiri tiga kampung pemukiman orang Tionghoa yaitu Talang, Sarindil dan Sembung. Tionghoa Muslim itu pula yang ikut membantu Sunan Gunung Jati mendirikan Kesultanan Islam Cirebon dan menyebarkan Agama Islam ke daerah Galuh di pedalaman Jawa Barat. Tokoh-tokoh utama Tionghoa Muslim yang hidup ketika itu adalah Tan Eng Hoat, Koeng Woe Ping, Tan Sam Tjai dan Koeng Sem Pak.
RUANG DAN KOMUNITAS: IDENTITAS PENGGIAT PAPAN SELUNCUR KOTA BEKASI (Studi Kasus Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi) Muhammad Adib Al-Fikri; Dade Mahzuni; Tisna Prabasmoro
Metahumaniora Vol 13, No 2 (2023): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i2.47458

Abstract

Bermain papan seluncur di zaman modern saat ini dianggap menjadi aktivitas karena hubungannya terhadap pengelolaan ruang yang dapat dipergunakan secara individu maupun kolektif oleh komunitas tertentu. Dalam proses perkembangan papan seluncur, komunitas spesifik akan memfungsikan ruang sebagai penanda diri yang berhubungan dengan identitas mereka. Artikel ini menjelaskan cara-cara Komunitas Patriot Skate Club 95 Kota Bekasi menghubungkan kelompok mereka dengan ruang di sekitar tempat mereka berada untuk memaknai identitas secara individu ataupun kolektif. Dengan metode kualitatif dan pendekatan etnografi, penelitian ini dilakukan melalui proses wawancara tidak terstruktur dan pendekatan literatur sehingga menghasilkan pemahaman berbeda mengenai ruang, komunitas dan identitas. Hasil temuan kami adalah, bahwa penggiat papan seluncur memahami tersedianya ruang publik sebagai sarana yang dapat dinikmati secara individu atau kolektif. Argumen kami adalah mempertanyakan kembali mengenai konstruksi identitas anak muda akan keberadaan mereka dalam ruang publik di Kota Bekasi. Dengan komunitas Patriot Skate Club 95 sebagai objeknya, mereka terhubung dengan ruang-ruang di sekitarnya, memanfaatkan ruang publik untuk membangun identitas individu maupun kokektif mereka, dan menumbuhkan rasa memiliki dari para anggotanya.