Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

STUDI PENDAHULUAN PENGGUNAAN MINIMUM QUANTITY LUBRICANT PADA PROSES PEMESINAN Desmas Arifianto Patriawan; Hery Irawan; Eriek Wahyu Restu Widodo
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Inovasi Teknologi Infrastruktur Berwawasan Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paper ini membahas tentang potensi dari minimum quantity lubricant (MQL) pada proses pemesinan. MQL adalah proses metal cutting dengan menggunakan coolant atau lubricant yang dicampur dengan udara yang terkompresi. Campuran udara dengan kecepatan 30 m/s dan cairan antara 5-30 ml/h. Campuran ini tidak banyak menggunakan bahan cair sehingga bisa lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Hasil dari proses pemesinan didapatkan bahwa gaya yang digunakan lebih rendah daripada dry cutting namun hampir sama dengan metode konvensional. Residual stress dan flank wear lebih baik jika dibandingkan dry cutting. Namun pada saat hard cutting MQL tidak lebih baik dari pada dry cutting dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan cutting fluid secara konvensional.
STUDI PENDAHULUAN PENGGUNAAN MINIMUM QUANTITY LUBRICANT PADA PROSES PEMESINAN Desmas Arifianto Patriawan; Hery Irawan; Eriek Wahyu Restu Widodo
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Inovasi Teknologi Infrastruktur Berwawasan Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paper ini membahas tentang potensi dari minimum quantity lubricant (MQL) pada proses pemesinan. MQL adalah proses metal cutting dengan menggunakan coolant atau lubricant yang dicampur dengan udara yang terkompresi. Campuran udara dengan kecepatan 30 m/s dan cairan antara 5-30 ml/h. Campuran ini tidak banyak menggunakan bahan cair sehingga bisa lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Hasil dari proses pemesinan didapatkan bahwa gaya yang digunakan lebih rendah daripada dry cutting namun hampir sama dengan metode konvensional. Residual stress dan flank wear lebih baik jika dibandingkan dry cutting. Namun pada saat hard cutting MQL tidak lebih baik dari pada dry cutting dan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan cutting fluid secara konvensional.
VARIASI JENIS KAMPUH LAS DAN KUAT ARUS PADA PENGELASAN LOGAM TIDAK SEJENIS MATERIAL STAINLESS STEEL 304L DAN BAJA AISI 1040 DENGAN GAS TUNGSTEN ARC WELDING Eriek Wahyu Restu Widodo; Vuri Ayu Setyowati; Suheni Suheni; Ilham Qiromi
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Pendekatan Multidisiplin Menuju Teknologi dan Industri yang Berkelanjutan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sambungan logam atau pengelasan yang tidak sejenis atau dissimilar welding merupakan salah satu kebutuhan yang penting bagi industri. Sambungan hasil pengelasan ini digunakan pada beberapa aplikasi yang memerlukan sifat sambungan khusus yang baik untuk menghemat biaya material. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan sambungan yang mempunyai kekuatan yang baik dengan variasi jenis kampuh las dan kuat arus yang digunakan. Pengelasan logam yang tak sejenis, Stainless Steel 304L dengan Baja Karbon AISI 1040, dilakukan dengan Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) dengan posisi datar 1G dan elektroda ER 308L, sambungan diuji dengan pengujian tarik dan diamati dengan foto strukturmakro. Pengujian tarik sambungan logam tak sejenis diperoleh kekuatan tarik paling tinggi 468 MPa pada sambungan dengan kampuh V sudut 30o dan kuat arus 120 A, sedangkan paling rendah adalah sambungan dengan kampuh V sudut 45o dengan kuat arus 120 A dengan kekuatan tarik 385.84 MPa. Berdasarkan pengujian tarik tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin sempit sudut kampuh yang digunakan dan semakin tinggi kuat arus yang diberikan akan semakin meningkatkan kekuatan tariknya karena distribusi panas yang merata dan kecepatan pendinginan yang seragam. Kata kunci: baja karbon, pengelasan tidak sejenis, stainless steel
ANALISA PENGARUH JENIS ELEKTRODA PENGELASAN SMAW TERHADAP KEKUATAN STAINLESS STEEL 304 Vuri Ayu Setyowati; Eriek Wahyu Restu Widodo; Suheni Suheni
Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan Inovasi Teknologi Infrastruktur Berwawasan Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang pengaruh jenis elektroda las dan sudut sambungan pada pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) terhadap sifat mekanik material stainless steel 304 SS. Elektroda NSN-312 dengan sudut sambungan lasan 45o diperoleh kekuatan maksimal (?u) yaitu 39.97 kg/mm2 dan kekutan luluh (?y) yang lebih besar yaitu 36.3 kg/mm2. Besarnya kekuatan tarik dan kekuatan luluh tersebut dipengaruhi oleh kandungan Mn dalam elektroda NSN-312 yang membentuk karbida. Selain itu, penggunaan elektroda NSN-312 untuk proses pengelasan SMAW pada stainless stell 304 SS ini menyebabkan kampuh las terisi penuh. Hal ini mengakibatkan daerah Heat Affected Zone (HAZ) pada spesimen tersebut dapat terlihat dengan pengamatan makro.
The Effect of TIG Welding for 304 and 304L Stainless Steel to Mechanical Properties, XRD and EDX Characterization as Pressure Vessel Materials Vuri Ayu Setyowati; Eriek Wahyu Restu Widodo
Jurnal Teknik Mesin Vol 7 No 2 (2017): Jurnal Teknik Mesin Vol.7 No.2 October 2017
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) - ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21063/jtm.2017.v7.i2.74-80

Abstract

The aim of this paper is to analyze the effect of TIG welding for Austenitic Stainless Steel type 304 and 304L as pressure vessel materials. These materials have different carbon content. 304 SS and 304L SS of 6mm metal sheet were used as observed materials. The groove angel for welded specimens is 60o and TIG welding current is 100A. Current and voltage for welding process are set constant. For analyzing mechanical properties, tensile test was used to calculate the yield strength, tensile strength, and elongation. X-Ray Diffraction (XRD) and X-Ray Spectroscopy (EDX) test were used to analyze the phase and element compositions, respectively. The tensile strength of welded 304 SS was decrease to 425,64 MPa compared to 304 SS which is 466,67 MP to 422,22 MPa. The highest elongation of 22% among to welded 304L SS and it has good ductility. Based on, XRD measurements, all specimens have austenite peaks but 304L SS and welded 304L SS have δ-ferrite peaks. EDX measurement was also used to explain the element composition supporting mechanical properties.
Analysis of Current, Filler Metal, and Groove on Tensile Strength and Hardness of Dissimilar Welding Using Gas Tungsten Arc Welding (GTAW) Eriek Wahyu Restu Widodo; Vuri Ayu Setyowati; Suheni Suheni
Jurnal Teknik Mesin Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Teknik Mesin Vol.8 No.2 October 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) - ITP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21063/jtm.2018.v8.i2.56-60

Abstract

Dissimilar welding commonly used on many industries, for example power plan field. This paper presents the investigations carried out to study the influence of current, filler metal, and groove on 304 Stainless Steel to AISI 1040 Carbon Steel dissimilar joints. Gas Tungsten Arch Welding (GTAW) was conducted to join the both of base metals. 100 and 120 Ampere of current were conducted on this research, V and double-V groove with 70o of the angle as well. The maximum hardness was obtained 623.2 HVN of ER 70S-6 filler metal with 120 A of current and V groove. While the maximum tensile strength was obtained from the joint using ER 308L with 100 A of current and V-groove of 673.74 MPa. The HAZ region was obtained from the joint using double-V groove was wider than HAZ region of joint using V-groove according the macrostructure image of the joints.
Pengelasan pada Stainless Steel dengan Tipe yang Berbeda Menggunakan Resistance Spot Welding untuk Aplikasi Gerbong Kereta Al Amin, Mochammad Karim; Firiambodo, Suthoni Yoga; Purwanti, Endang Pudji; Widodo, Eriek Wahyu Restu; Anggara, Dika
Jurnal Rekayasa Mesin Vol 16, No 3 (2021): Volume 16, Nomor 3, Desember 2021
Publisher : Mechanical Engineering Department - Semarang State Polytechnic

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32497/jrm.v16i3.2855

Abstract

Salah satu jenis proses pengelasan yang banyak digunakan di dunia industri Kereta Api adalah proses resistance spot welding. Proses pengelasan ini mempunyai banyak keunggulan pada pengelasan pelat tipis dengan menggunakan sambungan tumpang yang diaplikasikan pada side wall kereta api. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh variasi parameter pengelasan yang meliputi current, weld time, dan pulsation terhadap shear strength, struktur mikro dan diameter nugget. Material yang digunakan adalah material SA-240 tipe 304 dan SA-240 tipe 201 dengan ketebalan 2 mm untuk material SA-240 tipe 304 dan tebal 3 mm untuk material SA-240 tipe 201. Pengujian shear strength diperoleh parameter resistance spot welding semakin tinggi, maka nilai shear strength juga semakin tinggi. Strukturmakro didapatkan semakin tinggi current, weld time, dan pulsation, maka nugget semakin lebar. Sedangkan pada hasil uji mikro pada daerah base metal struktur yang tebentuk adalah austenite, sedangkan pada daerah HAZ dan weld metal adalah struktur ferrit dan austenite. Ukuran butir pada daerah HAZ yang semakin mendekat ke daerah weld metal ukuran butirnya menjadi semakin besar. Struktur mikro yang terbentuk pada weld metal bentuknya memanjang (columnar grains) ke daerah yang mengalami pembekuan paling akhir.
Analysis of the Effect of PWHT on the Corrosion Test of API 5L X65 Material in Submerged Arc Welding Kusminah, Imah Luluk; Anggara, Dika; Wardani, Dianita; Widodo, Eriek Wahyu Restu; Nafi, Maula; Handoko, Lukman; Djati, Anggoro Ludiro; Trianto, Ryo Andika
Journal of Mechanical Engineering, Science, and Innovation Vol 4, No 2 (2024): (October)
Publisher : Mechanical Engineering Department - Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jmesi.2024.v4i2.6556

Abstract

This research discusses the method of making distribution pipes using the Submerged Arc Welding (SAW) welding process, especially for pipes with spiral connections. The material used is API 5L X65. SAW pipes with spiral joints are more commonly used for low-pressure piping systems. However, in certain cases, the production of SAW pipes for Sour Service distribution requires special treatment. Sour Service pipes have a high level of corrosion and residual stress, so Post Weld Heat Treatment (PWHT) is required to prevent Hydrogen Induced Cracking (HIC). HIC occurs due to the absorption and accumulation of hydrogen gas in the metal, causing the formation and growth of cracks, which is also influenced by residual stress. PWHT is applied to reduce residual stress to reduce the risk of corrosion. PWHT is a process to change the structure of the weld metal by heating the metal at a certain temperature and time. This research shows that variations in PWHT temperature produce an average residual stress that is not much different with less difference than 2%, In corrosion testing with the HIC method shows crack evidence but is still satisfactory NACE MR0175 criteria for pipe PWHT temperature variation conditions
Analysis of the Effect of Shielding Gas Composition and FCAW Parameters on Shipbuilding Steel Plate for Ship Hull Production Al Amin, Mochammad Karim; Soelistijono, Rafi Febian; Nisazarifa, Adristi; Ma'ruf, Buana; Nugroho, Priyambodo Nur Ardi; Mustaghfirin, Muhammad Anis; Putera, Erwien Yuliansyah; Irawan, Bambang; Anggara, Dika; Widodo, Eriek Wahyu Restu; Bachtiar, Bachtiar; Ibad, Ilham Khoirul; Pratama Putra, Mochammad Yudha Aditya
Kapal: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan Vol 22, No 1 (2025): February
Publisher : Department of Naval Architecture - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/kapal.v22i1.67434

Abstract

Shielding gas is an important thing to protect the weld metal from impurities during the welding process. Ar, CO2, and mixing gas of Ar-CO2 are often used as a shielding gas in the marine industry. Differences in shielding gases and the current of welding could affect the microstructure and hardness of welding. This research analyzed the microstructure and hardness from the FCAW process of Shipbuilding Steel Plate using mixing gas and shielding gas of 100% CO2 with variations of current 180 and 195 A. The filler metal which has been used was A 5.20 E-71T1. The microstructure for the weld metal with 100% CO2 shielding gas was pearlite, widmanstatten ferrite, grain ferrite, and polygonal ferrite; otherwise for mixing shielding gas of 80% Ar + 20% CO2 and 75%Ar + 25% CO2 was found, the structure of pearlite, grain ferrite, and acicular ferrite. The effect of variations in the shielding gas composition and welding current that produced the highest hardness value was achieved with a shielding gas composition of 80% Ar + 20% CO2 and a current of 195 A, resulting in a hardness of 159.2 HV in the weld area.
Peningkatan Kesadaran Masyarakat Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Bidang Pengelasan: Studi Kasus pada Proyek Pariwisata Desa Bachtiar; Widodo, Eriek Wahyu Restu; Prastyawan, Rikat Eka; Mukhlis; Wahyudi, M. Thoriq; Ari, Muhamad; Munir, Moh. Miftachul; Kusminah, Imah Luluk; Andiana, Rocky; Augustino, Immanuel Freddy; Andika, Yudi; Sa'diyah, Rahmatus; Habibi, Tsaaqif Haani
Qardhul Hasan: Media Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 2 (2025): Qardhul Hasan: Media Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/qh.v11i2.20927

Abstract

Meningkatkan pemahaman tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sangat krusial, terutama bagi pekerja yang terlibat dalam lingkungan kerja berisiko tinggi seperti proses pengelasan. Risiko kecelakaan di sektor ini tidak hanya berpotensi merusak material, tetapi juga dapat menyebabkan cedera serius hingga mengancam nyawa. Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh mitra dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah rendahnya tingkat kesadaran dan pengetahuan terkait keselamatan kerja, khususnya dalam bidang pengelasan. Untuk itu, pelatihan mengenai pengenalan dan penerapan K3 perlu dilakukan secara terstruktur guna membentuk tenaga kerja yang sehat, aman, dan profesional. Program pelatihan ini menyasar warga Desa Balun dan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Materi yang disampaikan mencakup prinsip dasar K3 dalam pekerjaan pengelasan dan praktik penggunaan alat pelindung diri. Seluruh proses dipersiapkan dengan matang agar pelatihan berjalan efektif. Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan kerja, mengurangi potensi kecelakaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif di sektor pengelasan.