Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Dentin

GAMBARAN TINGGI WAJAH ANTERIOR BAWAH PADA MAHASISWA SUKU BANJAR FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Reni Amirah Salsabila Fitri; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Rahmad Arifin; Sherli Diana
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14232

Abstract

Background: LAFH (Lower Anterior Facial Height) is the vertical distance between the ANS and Menton. Measurement of LAFH is one of the vertical evaluations of the person's aesthetics and orthodontic treatment. One of the factors that differentiates the dentocraniofacial growth development of an individual is in the type of race, race then divided into ethnic. Purpose: Describe the LAFH in the Banjar ethnic students and describe the LAFH  based on Gender and Age. Methods: The study is using a descriptive method with a cross-sectional approach to describe the LAFH in students of the Banjar ethnic, Faculty of Dentistry, University of Lambung Mangkurat. Using total sampling with a total of 33 samples. Data obtained after 3 measurements then processed with a data processing application. Results: The average value of the LAFH in all samples is 68.49 mm. LAFH value of the female sample is 67.21 mm. Male sample value is 71.42 mm. The LAFH based on age shows, the 19-year-old group has an average value of LAFH 67.78 mm. 20 years old group has an average LAFH of 68.29 mm. 21 year old group has an average LAFH of 68.35 mm. The 22 year old sample has an average LAFH of 69.66 mm. Conclusion:  Based on race, the mean of the LAFH students of the Banjar ethnic Students is 68.49 mm. Based on gender, LAFH on male was higher than female. Based on age, the 22-year-old group had the largest LAFH , while the smallest LAFH was in the 19-year-old group.Keyword : Age, Gender, Growth Hormone, Growth Spurts, Lower Anterior Facial Height, ABSTRAK Latar Belakang: Ketinggian wajah anterior bawah atau  LAFH (Lower Anterior Facial Height) adalah jarak vertikal antara titik ANS dan menton. Pengukuran tinggi wajah anterior bawah merupakan salah satu evaluasi vertikal yang memiliki hubungan erat dengan estetika dan perawatan ortodontik. Tinggi wajah pada orang dewasa menjadi hal yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan keharmonisan wajah. Salah satu faktor yang membedakan pertumbuhan dan perkembangan dentokraniofasial adalah pada jenis rasnya, ras kemudian terbagi menjadi Suku. Tujuan: Mengetahui gambaran tinggi wajah bawah anterior pada mahasiswa Suku Banjar, mengetahui tinggi wajah anterior bawah berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional untuk mengetahui gambaran tinggi wajah anterior bawah pada mahasiswa Suku Banjar FKG Universitas Lambung Mangkurat. Menggunakan total sampling dengan jumlah 33 sampel. Data yang didapat setelah 3 kali pengukuran diolah dengan aplikasi pengolah data.  Hasil: Nilai rata-rata tinggi wajah anterior bawah adalah 68,49 mm. Nilai pada sampel Perempuan sebesar 67,21 mm. Nilai pada sampel laki-laki 71,42 mm. Gambaran tinggi wajah anterior bawah berdasarkan usia menunjukan, nilai rata-rata kelompok usia 19 tahun sebesar 67,78 mm.nilai rata-rata kelompok usia 20 tahun 68,29 mm. Nilai rata-rata kelompok usia 21 tahun 68,35 mm. Nilai rata-rata kelompok usia 22 tahun 69,66 mm. Kesimpulan: Berdasarkan ras, nilai tinggi wajah bawah anterior pada mahasiswa Suku Banjar FKG ULM rata-rata sebesar 68,49 mm. Berdasarkan jenis kelamin, nilai pada sampel laki-laki lebih tinggi daripada  perempuan.  Berdasarkan usia, nilai tinggi wajah bawah anterior terbesar adalah kelompok usia 22 tahun sedangkan nilai terkecil ada pada kelompok usia 19 tahun.Kata kunci : Hormon, Jenis kelamin, Pacu tumbuh, Tinggi wajah anterior bawah, Usia
PERBANDINGAN RUGAE PALATINA BERDASARKAN JENIS KELAMIN SEBAGAI IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR Eugenia Clairine; Bayu Indra Sukmana; Melissa Budipramana; Renie Kumala Dewi; Rahmad Arifin
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14234

Abstract

Background: Forensic odontology focuses on the management, investigation, evaluation and presentation of dental cases to support criminal cases. The science of forensic dentistry develops based on the fact the anatomical shape of the entire mouth and the morphological appearance of the face can be used as references in the individual identification process. Forensic odontology plays an important role in determining the sex of the victim using the craniofacial area. Gender identification can use soft tissue in the oral cavity, one of which is palatine rugae. Identification of palatal rugae, known as rugoscopy, is useful for helping detect a person's identity, one of which is gender.  Objective: Compare of palatine rugae pattern based on gender in the Banjar ethnic community as a forensic identification tool Methods: This research is an analytical observational study with a cross-sectional approach, consisting of 2 groups, namely 18 pairs of men and women, students at the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Data collection was carried out by molding the jaw using irreversible hydrocolloid followed by plaster casting. The palatine rugae pattern will be drawn using a pencil. Palatine rugae patterns were analyzed using the Thomas and Kotze classification. Results: The Fisher exact test results showed there was no significant difference (>0.05) between the 2 groups. The dominant palatine rugae pattern in both groups is wavy. Conclusion: There was no significant difference between the palatine rugae patterns of women and men.Keywords : Banjar Ethnic, Gender, Rugae Palatine ABSTRAKLatar belakang: Odontologi forensik berfokus pada manajemen, penyelidikan, evaluasi dan presentasi kasus dental untuk menunjang investigasi kasus kriminal. Ilmu forensik kedokteran gigi berkembang berdasarkan pada kenyataannya bahwa bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi wajah merupakan karakteristik yang dapat dipakai sebagai acuan dalam proses identifikasi investigasi kasus. Odontologi forensik memainkan peranan yang penting untuk menentukan jenis kelamin korban menggunakan area kraniofasial.Identifikasi jenis kelamin dapat menggunakan bagian jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut salah satunya rugae palatina. Identifikasi rugae palatina disebut rugoscopy. Rugoscopy bertujuan membantu mengidentifikasi identitas seseorang salah satunya jenis kelamin. Tujuan: Mengetahui perbandingan rugae palatina berdasarkan jenis kelamin pada masyarakat etnis Banjar sebagai alat identifikasi forensic Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dimana terdiri dari 2 kelompok yaitu 18 pasang laki-laki dan perempuan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pencetakan rahang menggunakan irreversible hydrocolloid dilanjutkan dengan pengecoran gips. Pola rugae palatina akan digambar menggunakan pensil. Pola rugae palatina dianalisis menggunakan klasifikasi Thomas dan Kotze. Hasil: Hasil uji Fisher exact menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (>0,05) antara 2 kelompok jenis kelamin. Pola rugae palatina yang dominan di kedua kelompok adalah wavy.  Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pola rugae palatina perempuan dan pola rugae palatina laki-laki.Kata kunci :        Jenis Kelamin, Rugae palatina, Suku Banjar
EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL BADAMPRAK TERHADAP PENGETAHUAN DAN SKOR OHI-S (Tinjauan Pada Siswa Umur 10-14 Tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin) Yudha Fatahillah Syahari; Aulia Azizah; Sherli Diana; Rosihan Adhani; Rahmad Arifin
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16564

Abstract

Background: Based on the Indonesian Health Survey (SKI 2023) South Kalimantan Province has a proportion of oral and dental problems (57.7%), the largest (59.56%) of which is in children aged 10-14 years, this indicates a lack of dental health education (DHE) in this age group. According to Bloom, behavior influenced by knowledge is an important factor in oral health status. One method to improve this knowledge is through the traditional game Badamprak. Objective: The effectiveness of DHE using Badamprak games in increasing knowledge and reducing OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Purpose: Proving that DHE using traditional badamprak games increases knowledge and reduces OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Methods: This study used quasi experimental with pre and posttest group design with non probability sampling on 58 students. Results: Wilcoxon test showed that there was a difference in tooth brushing knowledge before and after DHE using Badamprak traditional games in 58 samples (p = 0.001). Conclusion: DHE using the traditional game Badamprak is effective in increasing knowledge and reducing OHIS scores.Keywords: Badamprak, Dental Health Education, Knowledge, Oral Hygiene Index Simplified, Tooth Brushing ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) Provinsi Kalimantan Selatan memiliki proporsi masalah gigi dan mulut (57,7%), yang terbesar (59,56%) yaitu pada anak usia 10-14 tahun, Hal ini menunjukkan kurangnya edukasi kesehatan gigi dan mulut (Dental Health Education/DHE) pada kelompok usia tersebut. Menurut Bloom, perilaku yang dipengaruhi oleh pengetahuan merupakan faktor penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan ini adalah melalui permainan tradisional Badamprak. Tujuan: Efektivitas DHE menggunakan permainan Badamprak dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa usia 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Tujuan: Membuktikan bahwa DHE menggunakan permainan tradisional badamprak meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa umur 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuasi eksperimen melalui rancangan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi (pretest-posttest group design). Pemilihan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan jumlah responden sebanyak 58 siswa. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan menyikat gigi sebelum dan setelah DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak pada 58 sampel (p=<0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS. Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified, Pengetahuan > <0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS.Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified,Pengetahuan