Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hubungan Intensitas Penggunaan Tiktok dengan Etika Belajar Mahasiswa Rumpun Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP ULM Nur Rahimah; Rabiatul Adawiah
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): August 2026
Publisher : Yayasan Pondok Pesantren Sunan Bonang Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61231/ggs54353

Abstract

This study aims to measure the relationship between TikTok usage intensity (based on frequency, duration, purpose, and user engagement) and student learning ethics in the Social Science Education Department (PIPS) FKIP ULM.. The population encompassed all active students in the Social Science Education Department (PIPS), with a sample size of 165 respondents selected via random sampling techniqueThe statistical hypothesis testing results showed a significance value of 0.001 with a correlation coefficient of 0.613. This primary finding proves a positive and significant relationship in the strong category between TikTok usage intensity and student learning ethics. This outcome indicates that higher platform engagement aligns linearly with respondents' strengthened understanding of learning integrity values continuously within their daily campus life. Based on the comprehensive findings of this research, students are advised to maintain learning consistency and implement wise time management in social media platforms.  
Guru Danau's Religious Study, A Study of Scholarly Identity and Religious Citizenship Practices in Pandamaan Village Amanda Febria Tilah; Rabiatul Adawiah
Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): August 2026
Publisher : Yayasan Pondok Pesantren Sunan Bonang Tuban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61231/7cnbt660

Abstract

This study aims to describe the scientific identity of Guru Danau as a religious figure recognized by the Pandamaan Village community. A qualitative approach is used to closely understand Guru Danau’s exemplary role and his religious studies as a means of developing the religious character of adolescents in Pandamaan Village. Data collection began with direct observation of adolescent religious citizenship practices, continued with interviews with several community members to enrich perspectives, and documented the research atmosphere. Research subjects were selected purposively, namely those directly involved in the research events. The researcher sorted important data before further analysis, then presented the data systematically, and then drew conclusions based on the data that answered the problem formulation. It was found that Guru Danau’s identity was constructed by his religious approach with the community, which gave his teachings moral and social legitimacy for the community.  The Guru Danau study group is considered a potential vehicle for fostering religious citizenship among adolescents, with its practice manifesting not only in attending the group but also in transforming adolescents into individuals with social awareness and responsibility within the community.
Pengembangan  dan Validasi Instrumen Asesmen Berpikir Tingkat Tinggi dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMA Negeri Kota Banjarmasin Dian Agus Ruchliyadi; Rabiatul Adawiah; Sarbaini; Wardiani Halidi
Integralistik Vol. 37 No. 2 (2026): Juli :2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/integralistik.v37i2.40550

Abstract

Dalam melaksanakan asesmen, instrumen harus secara valid dan reliabel mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang selaras dengan tujuan pembelajaran. Namun, pada kenyataannya, banyak guru belum mengembangkan instrumen asesmen yang memenuhi persyaratan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen asesmen untuk Pendidikan Pancasila guna mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan (R&D) dan dilakukan di SMA Negeri 5, 6, 7, dan 10 Banjarmasin, dengan melibatkan 350 siswa sebagai sampel. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang didistribusikan melalui Google Forms. Data dianalisis menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 26. Hasil uji validitas, yang dianalisis menggunakan korelasi Product Moment, menunjukkan bahwa 17 item valid dan reliabel. Oleh karena itu, instrumen yang dikembangkan telah terbukti memiliki kualitas pengukuran yang baik dan sesuai untuk menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dalam Pendidikan Pancasila di SMA Negeri Banjarmasin. 
Efektivitas Model Tanggap Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PPKN Di Sekolah Dasar Rabiatul Adawiah; Wahdah Refia Rafianti
Jurnal Pendidikan, Sains Dan Teknologi Vol. 4 No. 3 (2025): Juli-September
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47233/jpst.v4i3.3349

Abstract

In elementary schools, civic education (PPKn) is still predominantly centered on traditional teacher-centered approaches. These approaches do not actively engage students and do not help them develop critical thinking skills.  This study tested the TANGGAP learning model, which integrates three approaches: Problem Based Learning (PBL), Numbered Head Together (NHT), and Talking Stick, to improve student activity, critical thinking skills, and learning outcomes. The study was conducted in two cycles on 17 students in fourth grade at SDN Kebun Bunga 3 Banjarmasin. Rubric evaluasi critical thinking, observation sheets for student and teacher activities, and learning outcome tests. Using descriptive quantitative analysis, the data were analyzed to determine the percentage increase for each indicator. The results showed that the TANGGAP model is effective in raising the quality of civics learning in elementary schools by encouraging students to actively participate, work together, and mastery their material. The increase in student activity was 41% to 94%, critical thinking skills was 35% to 88%, and learning mastery was 47% to 94%.
Strategi Guru Pancasila Dalam Meningkatkan Etika Penggunaan Teknologi Digital Pada Siswa Smk Negeri 1 Banjarmasin Neha Sapitri; Rabiatul Adawiah
CENDEKIA PENDIDIKAN Vol 5 No 3 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/cendekiapendidikan.v5i3.8587

Abstract

Fenomena yang terjadi pada siswa SMK Negeri 1 Banjarmasin mereka sering bermain hp medsos kurang memahami cara bermedsos yang baik sehingga muncul caci maki, penghinaan, atau membully dan merendahkan orang lain sehingga menyakitkan orang lain saat berkomentar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi guru Pancasila dan kendala yang dihadapi guru Pancasila dalam meningkatkan etika penggunaan teknologi digital pada siswa SMK Negeri 1 Banjarmasin. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Responden penelitian ini adalah guru dan siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan Pendekatan induktif adalah metode paling umum dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian pertama bahwa strategi guru Pendidikan Pancasila dalam meningkatkan etika penggunaan teknologi digital pada siswa SMK Negeri 1 Banjarmasin dengan cara menerapkan model P5 adalah kependekan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Hal ini digunakan untuk menguatkan karakter dalam beretika bergital dalam menggunakan medsos yang kritis, kreatif, dan mampu menghasilkan karya atau aksi nyata. Kedua kendala yang dihadapi guru Pendidikan Pancasila dalam meningkatkan etika penggunaan teknologi digital kurang interaksi antara sekolah dan orangtua siswa dalam berkoodinasi mengawasi anak agar mereka tidak terjerumus dalam hal hal yang negatif. Guru kurang mengetahuai tentang aplikasi digital sulit menjaga batasan etis saat berinteraksi dengan siswa di media sosial, yang berpotensi memicu bias personal maupun pelanggaran norma. Berdasarkan hasil penelitian bahwa maka disarankan dapat disosialikasikan kepada siswa melalui pengarahan cara bermedsos yang baik dalam semua aplikasi oleh sekolah agar dapat menyadari pentingnya beretika digital.