Claim Missing Document
Check
Articles

Discharge Planning Dalam Interdisciplinary Bedside Rounds (Sibr) Pada Perawatan Pasien Dengan Diabetes Melitus Setiawan, Herry; Herry Setiawan
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era moderenisasi yang diikuti perubahan pola makan dan gaya hidup meningkatan kejadian penyakit degenaratif di masyarakat. Salah satu penyakit degeratif yang mengalami peningkatan baik angka mortalitas dan morbiditasnya adalah Diabetes Melitus (DM). Data di Amerika Serikat, jumlah klien DM meningkat tajam dimana terdapat 8 juta orang mengalami NIDDM, dan 1 juta orang mengalami IDDM serta lebih dari 4 juta orang yang belum terdiagnosa. Menurut data dunia, jumlah keseluruhan klien dengan DM adalah 114 juta. Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peran penting dalam pelayanan di rumah sakit, khususnya merencanakan Discharge Planning. Tujuan: Mendesain suatu program discharge planning dalam interdisciplinary bedside rounds (SIBR) pada perawatan pasien dengan diabetes mellitus. Gagasan inovasi: Bentuk nyata dari komunikasi dan koordinasi antar disiplin ilmu kesehatan adalah penggunaan “Kartu Menuju Sehat Gula” dalam program discharge planning. Metode ini dapat memfasilitasi pelaksanaan pelayanan kesehatan yang terintegrasi antar disiplin ilmu kesehatan di rumah sakit. Diskusi: Seorang discharge planners bertugas membuat rencana, mengkoordinasikan, memonitor, memberikan tindakan dan proses kelanjutan perawatan. Pelaksanaan Discharge Planning dilaksanakan dengan memperhatikan Interdisciplinary Bedside Rounds untuk membangun komunikasi dan koordinasi yang efektif demi kualitas pelayanan kesehatan. Adanya kesempatan berkoordinasi disiplin ilmu kesehatan berimplikasi terhadap kemampuan dalam melakukan perawatan pada pasien secara holistik dan komprehensif dengan melibatkan keluarga. Keterbukaan terkait keadaan pasien akan membuat keluarga terlibat dalam perawatan post hospitalisasi, sehingga perawatan di rumah akan sejalan dengan perawatan yang dijalani di rumah sakit. Kesimpulan: Discharge planning dapat mengurangi hari perawatan, mencegah kekambuhan, meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan dan menurunkan beban perawatan, meningkatkan kemajuan, menurunkan komplikasi penyakit, pencegahan kekambuhan, menurunkan angka mortalitas dan morbiditas serta membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum sebelum dipulangkan.
H HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPROFESIONAL DENGAN KOLABORASI PERAWAT-DOKTER DI IRNA RSUD H. DAMANHURI BARABAI Noor Anna Murdiany
Journal of Nursing Invention Vol. 2 No. 1 (2021): Journal of Nursing Invention
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jni.v2i1.117

Abstract

Background: Interprofessional communication is an important skill that can improve the functioning of a high-quality team, in patient care by involving several disciplines such as doctors, nurses and other health teams. Collaboration is a form of collaboration between teams of health workers from different educational backgrounds to provide the best quality of service to patients and their families. Objective: To determine the relationship between interprofessional communication and nurse-doctor collaboration at IRNA RSUD H. Damanhuri Barabai. Method: The research design used cross sectional with total sampling technique. The research instrument used an interprofessional communication questionnaire and nurse-doctor collaboration that had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using Chi Square test. Conclusion: There is a relationship between interprofessional communication with nurse-doctor collaboration at IRNA Hospital H. Damanhuri Barabai. Nurses and doctors are expected to improve their ability to communicate and collaborate in order to improve the quality of health services. It's a good thing to do.  
PROGRAM POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR DI PUSKESMAS MARTAPURA 2 Herry Setiawan; Supriyatna, Eka; Pertiwiwati, Endang; Setiawan, Herry
Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia Vol 7, No 1 (2020): Jurnal Publikasi Kesehatan Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpkmi.v7i1.8786

Abstract

ABSTRAK Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular (Posbindu PTM) merupakan usaha pemerintah dalam menanggulangi penyakit tidak menular. Masih rendahnya angka pemanfaatan Posbindu oleh masyarakat dalam memanfaatkan pelayanan posbindu menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian. Tujuan dari penelitian adalah menjelaskan hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan Posbindu PTM oleh masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Martapura 2. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling pada 85 orang masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Bulan Maret - April tahun 2019. Pada penelitian ini menggunakan uji chi square hasil menunjukkan  yaitu pendidikan (p-value = 0,029), pekerjaan (p-value = 0,022) OR = 4,30 (1,32 - 14,04), dukungan keluarga (p-value= 0,001) OR = 7,71 (2,70 - 22,06) , dukungan petugas kesehatan (p-value= 0,001) OR= 8,27 (2,80 - 24,49), dukungan kader kesehatan (p-value= 0,001) OR= 7,07 (2,23 - 22,45), dan dukungan teman sebaya (p-value= 0,001) PR= 5,84 (2,11 - 16,15). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan, pekerjaan, dukungan keluarga, dukungan petugas kesehatan, dukungan kader kesehatan dan dukungan teman sebaya memiliki hubungan pada pemanfaatan Posbindu PTM. Kata-kata kunci: Determinan, pemanfaatan, Posbindu, Puskesmas, Martapura  ABSTRACT Integrated Post Training of Non-Communicable Diseases (Posbindu PTM) is a government effort in tackling non-communicable diseases. The low utilization rate of Posbindu by the community in utilizing posbindu services can be seen from the PTM Posbindu visit data for the last three months of 2018 for long visits namely in October 365 visits, then in November it decreased to 348 visits and in December it decreased by 297 visits. Theoretically, a person is said to utilize a health service if attending the health service regularly in the last three months without causing disruption to daily activities. The purpose of this research is to explain the relationship between the factors that influence the utilization of Posbindu PTM by the community in the Work Area of Martapura Public Health Center 2.1,315-14,036), family support (p-value= 0.001) PR= 7,714 (95% CI2,698-22,057), support of health workers (p-value  0.001) PR= 8.273 (95% CI 2,795-24,488), support for health cadres (p-value= 0.001) PR= 7.071 (95% CI 2,227-22,454), and peer support (p-value= 0.001) PR= 5.844 (95% CI2,114-16,151. This shows that education, employment, family support, health worker support, health cadre support and peer support have a relationship to the use of Posbindu PTM.Keywords : Determinant, utilization, Posbindu, Primary Health Care, Martapura
PERBANDINGAN WAKTU TUNGGU DAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA Herry Setiawan; Jannah, Miftakhul; Rizany, Ichsan; Setiawan, Herry
Jurnal Perawat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.474 KB) | DOI: 10.32584/jpi.v4i2.577

Abstract

Waktu tunggu yang lama adalah salah satu komponen yang menyebabkan ketidakpuasan pasien. Metode penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental dengan desain post test only control group. Jumlah sampel adalah 70, instrumen kuesioner kepuasan dan lembar observasi waktu tunggu. Uji analisis menggunakan uji-T dan uji Mann Whitney. Lokasi penelitian di RSUD Ratu Zalecha Martapura. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu kepuasan rata-rata pasien online adalah 107,31 dan pasien offline adalah 105,89. Ada perbedaan dalam kepuasan pasien online dan pasien offline (p = 0,001). Waktu tunggu rata-rata untuk pasien online adalah 50,3 menit dan pasien offline adalah 165,46 menit. Ada perbedaan waktu tunggu untuk pasien online dan pasien offline di rawat jalan di Rumah Sakit Ratu Zalecha Martapura (p-value 0,003). Ada perbedaan kepuasan pasien rawat jalan sebesar 16,08. Kepuasan pasien online dan waktu tunggu telah mencapai kepuasan SPM (90%) dan waktu tunggu <60 menit sementara kepuasan offline belum mencapai SPM.
PERAN SUPERVISOR KEPERAWATAN PADA ERA AKREDITASI SESUAI SNARS DI RUMAH SAKIT KOTA BANJARBARU Herry Setiawan; Herry Setiawan; Ichsan Rizany; Rabiatul Adawiah
CNJ: Caring Nursing Journal Vol 4 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kuliatas pelayanan keperawatan merupakan suatu keniscayaan yang harus ditingkatkan dan dijaga di era akreditasi rumah sakit. Supervisor merupakan seseorang yang terlibat dalam tatanan klinik keperawatan dengan tugas memberikan supervisi keperawatan berupa kegiatan pengajaran, pengawasan, pembinaan yang mencakup segala masalah keperawatan, ketenagaan perawatan, dan peralatan untuk menunjang pelayanan keperawatan lebih berkualitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana peran supervisor di Rumah Sakit Kota Banjarbaru. Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan teknik pengambilan data purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan sebelumnya. Penelitian melibatkan 11 PPJA dan 82 perawat pelaksana. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan deskriptif distribusi frekuensi. Hasil Persepsi PPJA terhadap peran supervisor baik 54,5%, dan perawat pelaksana baik 58,5%. Pentingnya peningkatan peran kepala ruang di era akreditasi rumah sakit yang bertindak sebagai supervisor guna mengembangkan kinerja perawat dan berperan aktif dalam melakukan pengajaran, pengawasan, pembinaan kepada perawat untuk pelayanan keperawatan. Kata kunci: Akreditasi rumah sakit, Peran supervisor, Perawat ABSTRACT Quality of nursing services is a necessity that must be improved and maintained in the era of hospital accreditation. A supervisor is someone who is involved in a nursing clinic arrangement with the task of providing nursing supervision in the form of teaching, supervision, coaching which includes all nursing problems, maintenance workforce, and equipment to support higher quality nursing services. The purpose of this research is to find out how the supervisor's role in the Kota Banjarbaru Hospital. Quantitative research with a descriptive design using purposive sampling data collection techniques with inclusion and exclusion criteria previously set. The study involved 11 PPJA and 82 nurses. The research instrument uses a questionnaire sheet that has been tested for validity and reliability. The data analysis used was univariate analysis using descriptive frequency distribution. The results of PPJA's perception of the role of supervisors are 54.5% good, and good nurses who are 58.5%. The importance of increasing the role of the head of the room on the era of hospital accreditation who acts as a supervisor in order to develop the performance of nurses and play an active role in teaching, supervising, coaching nurses for nursing services. Keywords: Hospital accreditation, Nurse, Supervisor roles
TIMBANG TERIMA PADA ERA AKREDITASI SESUAI SNARS DI RUMAH SAKIT KOTA BANJARBARU HANDOVER ON THE ERA OF ACCREDITATION ACCORDING TO SNARS IN KOTA BANJARBARU HOSPITAL Herry Setiawan; Herry Setiawan; Ichsan Rizany; Shanisa Mairestika
CNJ: Caring Nursing Journal Vol 4 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Komunikasi efektif menjadi suatu keniscayaan di era akreditasi rumah sakit guna mendukung keselamatan pasien. Kegagalan komunikasi pada pelaksanaan timbang terima menimbulkan dampak serius diantaranya kehilangan informasi penting pasien, kesalahan dalam proses asuhan keperawatan bahkan terjadinya kejadian yang tidak diharapkan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan timbang terima di Rumah Sakit Kota Banjarbaru. Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan teknik pengambilan data total sampling yang dilakukan pada 35 responden Perawat Penanggung Jawab Asuhan (PPJA) dan perawat penanggung jawab shift. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan keterlaksanaan timbang terima baik (40,0%), kurang baik (60,0%), hasil observasi waktu menunjukkan bahwa waktu pelaksanaan timbang terima terlama yakni 22 menit 22 detik, dan waktu post timbang terima terlama 4 menit 1 detik. Alur pelaksaaan timbang terima pada shift pagi sesuai (85,7%) tidak sesuai (14,3%), pada shift sore sesuai (100%), pada shift malam tidak sesuai (100%). Perlu adanya peningkatan pemahaman terkait pelaksanaan timbang terima guna mewujudkan komunikasi efektif sesuai tuntutan akreditasi rumah sakit. Kata-kata kunci : Akreditasi rumah sakit, Komunikasi efektif, Timbang terima ABSTRACT Effective communication is a necessity in the era of hospital accreditation to support patient safety. Failure to communicate in the implementation of the handover has a serious impact, including the loss of important patient information, errors in the nursing care process, and even unexpected events. The purpose of this study was to determine how the implementation of the handover at the Kota Banjarbaru Hospital. Quantitative research with descriptive design using purposive sampling data collection technique carried out on 35 respondents in charge of care nurses (PPJA) and nurses in charge of shifts. The research instrument used an observation sheet. The results showed that the implementation of the hand over was good (40.0%), not good (60.0%), the results of time observations showed that the longest time for receiving the weigh-in was 22 minutes 22 seconds, and the longest post-handover time was 4 minutes 1 second. The flow of the implementation of the handover in the morning shift is appropriate (85.7%) is not suitable (14.3%), the afternoon shift is suitable (100%), the night shift is not suitable (100%). There needs to be an increase in understanding regarding the implementation of consideration and acceptance in order to realize effective communication according to the demands of hospital accreditation. Keywords : Effective communication, Handover, Hospital accreditation
Discharge Planning Dalam Interdisciplinary Bedside Rounds (Sibr) Pada Perawatan Pasien Dengan Diabetes Melitus Herry Setiawan; Herry Setiawan
Jurnal Manajemen Keperawatan Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Manajemen Keperawatan
Publisher : Jurnal Manajemen Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.828 KB)

Abstract

Era moderenisasi yang diikuti perubahan pola makan dan gaya hidup meningkatan kejadian penyakit degenaratif di masyarakat. Salah satu penyakit degeratif yang mengalami peningkatan baik angka mortalitas dan morbiditasnya adalah Diabetes Melitus (DM). Data di Amerika Serikat, jumlah klien DM meningkat tajam dimana terdapat 8 juta orang mengalami NIDDM, dan 1 juta orang mengalami IDDM serta lebih dari 4 juta orang yang belum terdiagnosa. Menurut data dunia, jumlah keseluruhan klien dengan DM adalah 114 juta. Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peran penting dalam pelayanan di rumah sakit, khususnya merencanakan Discharge Planning. Tujuan: Mendesain suatu program discharge planning dalam interdisciplinary bedside rounds (SIBR) pada perawatan pasien dengan diabetes mellitus. Gagasan inovasi: Bentuk nyata dari komunikasi dan koordinasi antar disiplin ilmu kesehatan adalah penggunaan “Kartu Menuju Sehat Gula” dalam program discharge planning. Metode ini dapat memfasilitasi pelaksanaan pelayanan kesehatan yang terintegrasi antar disiplin ilmu kesehatan di rumah sakit. Diskusi: Seorang discharge planners bertugas membuat rencana, mengkoordinasikan, memonitor, memberikan tindakan dan proses kelanjutan perawatan. Pelaksanaan Discharge Planning dilaksanakan dengan memperhatikan Interdisciplinary Bedside Rounds untuk membangun komunikasi dan koordinasi yang efektif demi kualitas pelayanan kesehatan. Adanya kesempatan berkoordinasi disiplin ilmu kesehatan berimplikasi terhadap kemampuan dalam melakukan perawatan pada pasien secara holistik dan komprehensif dengan melibatkan keluarga. Keterbukaan terkait keadaan pasien akan membuat keluarga terlibat dalam perawatan post hospitalisasi, sehingga perawatan di rumah akan sejalan dengan perawatan yang dijalani di rumah sakit. Kesimpulan: Discharge planning dapat mengurangi hari perawatan, mencegah kekambuhan, meningkatkan perkembangan kondisi kesehatan dan menurunkan beban perawatan, meningkatkan kemajuan, menurunkan komplikasi penyakit, pencegahan kekambuhan, menurunkan angka mortalitas dan morbiditas serta membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup optimum sebelum dipulangkan.
PERBEDAAN RESPONSE TIME ANTARA PASIEN STROKE YANG MENGGUNAKAN JAMINAN KESEHATAN DENGAN PASIEN UMUM DI RSUD ULIN BANJARMASIN Herry Setiawan; Verawati Verawati; Abdurahman Wahid; Herry Setiawan
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol 3 No 1 (2018): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v3i1.84

Abstract

Latar Belakang: Data kegiatan di RSUD Ulin Banjarmasin stroke penyakit urutan ke-6, rata-rata 89 pasien setiap bulannya terhitung dari bulan januari sampai mei 2017. Salah satu faktor yang mempengaruhi penanganan pasien stroke dalam mencegah kecacatan dan kematian adalah kecepatan dalam memberikan pertolongan (response time). Tujuan: Mengetahui perbedaan response time antara pasien stroke yang mengunakan jaminan kesehatan dengan pasien umum di RSUD Ulin Banjarmasin. Metode: Desain penelitian studi observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengampilan sampel jenis accidental sampling. Jumlah sampel 40 pasien stroke dari bulan November sampai Desember 2017. Instrumen penelitian yaitu lembar observasi. Analisis bivariat menggunakan uji mann whitney dengan nilai Sig α=0,05. Hasil: Tidak ada perbedaan response time antara pasien stroke yang menggunakan jaminan kesehatan dengan pasien umum di RSUD Ulin Banjarmasin dengan nilai p value=0,785 (>0,05).Pembahasan: Pasien yang datang ke RSUD Ulin Banjarmasin langsung ditangani dengan cepat dan tepat.
Identifikasi Diagnosis Keperawatan dan Etiologi Pasca Banjir Pada Masyarakat Kalimantan Selatan Herry Setiawan; Agianto; Herry Setiawan; Novi Mustahdiati Nasri
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 10 No 1 (2022): Dunia keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine, Lambung Mangkurat University.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.841 KB) | DOI: 10.20527/jdk.v10i1.104

Abstract

Latar Belakang: dalam 1 dekade terakhir, banjir pada awal tahun 2021 merupakan banjir terbesar di Kalimantan Selatan. Banjir ini mengakibatkan banyaknya masyarakat yang harus mengungsi, rumah yang terendam banjir, dan bahkan korban jiwa. Kabupaten yang paling banyak terdampak adalah Kabupaten Banjar dan Hulu Sungai Tengah. Bencana banjir ini berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat, baik secara fisik maupun kejiwaan. Tujuan: menscreening diagnosis keperawatan dan etiologi yang muncul pada masyarakat pasca banjir di Kalimantan Selatan. Metode: penelitian ini adalah deskriptif analitik design dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan subyek penelitian dengan teknik consecutive sampling dilakukan untuk mendapatkan 423 sample. Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa kuesioner dalam bentuk google form yang diadaptasi dari buku NANDA-I (North American Nursing Diagnosis Association – International) edisi tahun 2018-2020 yang meliputi 85 item penilaian. Hasil: didapatkan 14 diagnosis keperawatan meliputi hambatan religiositas, ketakutan, hambatan rasa nyaman, risiko jatuh, ketidakefektifan manajemen kesehatan keluarga, kontaminasi, risiko infeksi, ansietas, ketidakefekifan koping, kerusakan integritas kulit, diare, penurunan koping keluarga, hipotermia, dan distress spiritual. Etiologi untuk masing-masing diagnosis keperawatan telah diidentifikasi berdasarkan buku NANDA-I.  
Hubungan Pengetahuan Perawat dengan Pelaksanaan Patient Safety di RSD Idaman Kota Banjarbaru Herry Setiawan; Ajrina Nurwidya Sari; Herry Setiawan; Ichsan Rizany
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v5i1.1371

Abstract

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan insiden keselamatan pasien yaitu dengan pelaksanaan patient safety. Salah satu faktor yang memengaruhi pelaksanaan patient safety yaitu pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang diperoleh berdasarkan proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan patient safety di Instalasi Rawat Inap RSD Idaman Kota Banjarbaru. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kolerasi menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 79 perawat pelaksana yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner. Analisis data menggunakan uji Spearman’s rho dengan nilai (p-value=0,00, r=0,655**). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara pengetahuan perawat dengan pelaksanaan patient safety. Pihak rumah sakit diharapkan dapat mengevaluasi secara langsung pemahaman perawat mengenai patient safety untuk meningkatkan pelaksanaan patient safety sesuai kebijakan rumah sakit.
Co-Authors Abdul Bari Setiawan Abdurahman Wahid Agianto Ahnaf Ma'ruf Mahendra Ajrina Nurwidya Sari Aminullah, Muhammad Fasya Amtarohim, Dewi Syifah Aswadi Syukur Aulia Ulfah Aulia Ayu Wardalina Bernadetta Germia Aridamayanti Bunga Indryan Noor Rindu Lestari Devi Rahmayanti Dhian Ririn Lestari, Dhian Ririn Dina Anggrainy Doni Wibowo, Doni Dyci Marantika Efriliana Efriliana Eka Santi Ellysia Yulanda Ellysia Yulanda Endang Ernawati Endang Pertiwiwati Endang Pertiwiwati Endang Pertiwiwati, Endang Grace Epyfania Simarmata, Grace Epyfania Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan Herry Setiawan1 Hery Wibowo Ichsan Rizany Ilham Bimantoro Intriani, Nadia Meilanda Irawan, Angga Jumbri, Muhammad Karunia, Muhammad Kurnia Rachmawati Kurnia Rachmawati, Kurnia Kusuma Persada Laila Rahmaniah Laila Rahmaniah Lestari, Nuarita Dewi lestari, winda Lola Illona E.K M. Hadarani Marantika, Dyci Mazaya, Adinda Chofifah MIFTAKHUL JANNAH Muhamad Bagus Umaro Muhamad Rofi’i Muhammad Fasya Aminullah Muhammad Jumbri Muhammad Khairul Fikri Muhammad Rijali Rahman Muryani Musafaah Musafaah Nadila Nadila Nasri, Novi Mustahdiati Noo, Rezka Aulyan Noor Diani Nor Azizah Dwi Subekti Novi Mustahdiati Nasri Novita Elyana Nur Fatimah Peggy Passya Pratiwi, Aqil Andika Purwanti Ningsih Rabiatul Adawiah Rabiatul Adawiah Rabiatul Adawiah Rahman, Muhammad Rijali Rahmaniah, Laila Reni Sulung Ridha Nor Aulia Rini Aprianti Rini Aprianti Rismia Agustina Rizany, Ichsan Robiatul Adawiyah Rofi'i, Muhammad Rosina Apriani Setiawan, Abdul Bari Setyowati, Anggi Shanisa Mairestika Shanisa Mairestika Silarat, Maliwan Siska Rahmawati Dewi Siska Siti Munawarah Siti Reny Asnani Siti Sofiah Siti Sofiah Solly Aryza Supriyatna, Eka SUSANTI Tazkia Rahman Tina Handayani Nasution TRI HARTITI Tusaddiah, Putri Sari Ulfa Halimah Utami, Haniva Sekar Verawati Verawati Wakhdi, Nanang Miftakhul Yulia Yunara YULIANI Yuliani Yuliani Yulianti, Dwi Wanda Yusrida Elisabeth Sihombing Zaki, Muhammad Amin Bin Ahmad