Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

The accuracy of the cheating detection methods in large-scale tests: mathematics national examination Nulangi, Thomas Mbenu; Mardapi, Djemari
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 22 No. 2 (2018)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.195 KB) | DOI: 10.21831/pep.v22i2.14930

Abstract

This study aimed to describe (1) the characteristics of items based on the Item Response Theory, (2) the cheating level in the implementation of the national examinartion based on Angoffs B-Index method, Pair 1 method, Pair 2 method, Modified Error Similarity Analysis (MESA) method, and G2 method, (3) the most accurate method to detect the cheating in the mathematics national examination at the senior secondary school level in the academic year of 2015/2016 in East Nusa Tenggara Province. The result of the item response theory analysis showed that 17 (42.5%) items of the mathematics national examination fit with the 3-PL model, with the maximum information function of 58.0128 at 1.6, and the measurement error of 0.1313. The number of pairs detected to be cheating by Angoff's B-Index method was 63 pairs, that by the Pair 1 method was 52 pairs, that by the Pair 2 method was 141 pairs, that by MESA method was 67 pairs, and that by the G2 method was 183 pairs. The methods which could detect most pairs doing cheating were the G2 method, the Pair 2 method, the MESA method, Angoff's B-Index method, and the Pair 1 method successively. The methods which could accurately detect cheating based on the computation of the standard error were Angoff's B-Index method, the G2 method, the MESA method, the Pair 1 method, and the Pair 2 method successively.
MODEL ASESMEN KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN KEPALA SEKOLAH PENDIDIKAN DASAR Fanani, Zaenal; Mardapi, Djemari; Wuradji, Wuradji
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 18 No. 1 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v18i1.2129

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan model asesmen kepemimpinan pembel-ajaran kepala sekolah, dan (2) mengetahui keefektifan kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah. Model asesmen kepemimpinan pembelajaran ini menggunakan pendekatan 360-degree assesessment, yakni asesmen dari guru, kepala sekolah dan pengawas. Jumlah responden sebanyak 560 yang terdiri dari 466 guru, 47 kepala sekolah, dan 47 pengawas pada jenjang SD dan SMP. Dua daerah dipilih untuk mewakili Provinsi Kalimantan Selatan, yakni masing-masing satu dari Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru. Ukuran sampel sekolah sebanyak 47 diambil dari wilayah berbeda, yakni wilayah kota, pinggiran, dan desa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert (1-4) yang terdiri atas 36 item. Responden dari setiap sekolah terdiri atas 10 guru, satu kepala sekolah, dan satu pengawas dari sekolah yang sama untuk mengisi instrumen. Teknik analisis data untuk uji kecocokan model dengan data dan invariansi parameter model antar group rater menggunakan Confirmatory Factor Analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model asesmen kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dengan 4 dimensi dan 36 items menunjukkan kecocokan dengan data empiris (χ2, p=0,347>0,050; RMSEA=0,006<0,080) dan semua item memiliki standardized loading factor yang signifikan (t>1,96; λ>0,50), dan (2) persentase kepala sekolah yang memiliki keefektifan kepemimpinan pembelajaran pada kategori tinggi dan sedang berturut-turut adalah sebesar 19% dan 79%, dan dengan skala 100, rerata skor dimensi visi, supervisi, penilaian  kinerja guru, dan pengembangan keprofesian guru berturut-turut adalah sebesar 74,  65,  65 dan 63.Kata kunci: model asesmen, kepemimpinan pembelajaran______________________________________________________________A MODEL FOR ASSESSMENT OF PRINCIPAL INSTRUCTIONAL LEADERSHIP OF BASIC EDUCATIONAbstract This study aims to: (1) develop a model for assessment of principal instructional leadership, and (2) describe the effectiveness of the principal instructional leadership. This assessment model was developed by using 360 degree assessment approach, i.e. the assessment from teachers, principals, and supervisors. The  respondents were 560 people that consisted of 466 teachers, 47 principals, and 47 supervisors from elementary and secondary school. Banjar and Banjarbaru districts were selected to represent the South Kalimantan Province. A sample of 47 schools was established from the different areas: urban, suburban, and rural areas. The data were collected using a Likert scale questionaire (1-4) with 36 items. The respondents who were selected from each school consisted of 10 teachers, one principal, and one supervisor to complete the questionaire. The Confirmatory Factor Analysis was used to test the fitness between model and data and invariance of measurement across group raters. The findings of this study show that: (1) the model for assessment of instructional  leadership with four dimensions and 36 items shows a good fitness to data (χ2, p=0.347>0.050; RMSEA= 0.006<0.080) and all items have the significant standardized loading factors (t>1.96; λ>0.50), and (2) the percentage of principals having instructional leadership effectiveness at high and moderate cotegory repectively is 19% and 79%, and by 100 scale, the mean score of vision for learning, supervision, assessmnet of teacher performance, teacher professional development, respectively is 74,  65, 65, and 63.Keywords: assessment model, instructional leadership
PENGEMBANGAN TES KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI FISIKA (PysTHOTS) PESERTA DIDIK SMA Istiyono, Edi; Mardapi, Djemari; Suparno, Suparno
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 18 No. 1 (2014)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v18i1.2120

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengembangkan instrumen kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika (PhysTHOTS) peserta didik SMA dan mendapatkan karakteristik PhysTHOTS. Kisi-kisi instrumen disusun berdasarkan aspek dan subaspek kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang selanjutnya digunakan untuk menyusun item-item. Instrumen terdiri atas dua perangkat tes yang masing-masing memiliki 26 item termasuk delapan anchor item dan telah divalidasi oleh ahli pengukuran, ahli pendidikan fisika, ahli fisika, dan praktisi. Instrumen yang telah divalidasi diujicobakan pada 1.001 siswa dari sepuluh SMAN di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data politomus dianalisis menggunakan Partial Credit Model (PCM). Hasil uji coba menunjukkan bahwa semua item sebanyak 44 dan instrumen PhysTHOTS terbukti fit dengan PCM, reliabilitas instrumen sebesar 0,95, indeks kesukaran item mulai -0,86 sampai 1,06 yang berarti semua itemdalam kategori baik. Dengan demikian, PhysTHOTS memenuhi syarat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi fisika peserta didik SMA.Kata kunci: pengembangan instrumen, tes kemampuan berpikir tingkat tinggi, fisika, politomus, dan PCM______________________________________________________________DEVELOPING HIGHER ORDER THINKING SKILL TEST OF PHYSICS (PhysTHOTS) FOR SENIOR HIGH SCHOOL STUDENTSAbstrak The objectives of this research were to develop an instrument for measuring senior high school students' physics higher order thinking skills (PhysTHOTS) and to obtain the characteristics of the PhysHOTS. The instrument blue print was developed based on the aspects and sub-aspects of high order thinking skills, then it was used to develop the items. Two sets of instrument consisting of 26 items and each, including eight anchor items were then validated by promotors, measurement experts, physics specialists, physics education experts, and practitioners. The validated instruments were then tried out on 1,001 students of ten senior high schools throughout Special Province of Yogyakarta. The polytomous data were analyzed according to the Partial Credit Model (PCM). The results show that the 44 items and PhysTHOTS were fit to the PCM,  the reliability of the test  was 0.95, the items' difficulty indexes were between -0.86 and 1.06. Therefore, the PhysTHOTS are qualified to measure senior high school students' physics higher order thinking skills.Keywords: instrument development, physics test of higher order thinking skills,  polytomous, and PCM
PENSKALAAN TEORI KLASIK INSTRUMEN MULTIPLE INTELLIGENCES TIPE THURSTONE DAN LIKERT Setiawati, Farida Agus; Mardapi, Djemari; Azwar, Saifuddin
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 17 No. 2 (2013)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v17i2.1699

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui hasil penskalaan instrumen multiple intelligences (MI) pada tipe Thurstone dan Likert dengan pendekatan klasik, 2) mengetahui karakteristik instrument MI pada tipe Thurstone dan Likert pada data asli dan data yang diskalakan, 3) membandingkan karakteristik psikometrik pada kedua tipe data yang sudah diskalakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif  yang pelaksanaannya terdiri dari empat bagian yang saling terkait, yaitu penelitian pengembangan instrumen, penskalaan pada data hasil ujicoba, analisis karakteristik psikometrik instrumen, dan perbandingan karakteristik psikometrik instrumen. Instrumen dikembangkan menggunakan tipe Thurstone dan Likert pada konstruk yang sama. Perbandingan karakteristik psikometrik  kedua instrumen dilakukan secara diskriptif. Hasil penskalaan dengan metode paired comparison didapatkan urutan skor stimulus dari yang terendah yaitu: logika matematika, musik, linguistik, kinestetik, naturalis, visual, interpersonal, eksistensial dan  intrapersonal. Penskalaan dengan metode summated ratingdihasilkan skor terstandar dari yang rendah hingga tinggi pada tiap respons. Terdapat perubahan skor, varian, reliabilitas dan kesalahan baku pengukuran (SEM) dari data asli dengan data yang diskalakan. Koefisien reliabilitas dan SEM instrumen tipe Thurstone lebih rendah dibanding  tipe Likert.Kata kunci: penskalaan, multiple intelligences, tipe Thurstone, tipe Likert ______________________________________________________________SCALING CLASSICAL THEORY OF MULTIPLE INTELLIGENCES CLASSICAL INSTRUMENT TYPE THURSTONE AND LIKERTAbstract The study aimed to: 1) result the scaling data of multiple intelligence (MI) instruments of Thurstone and Likert types using the classical approach, 2) reveal  the psychometric characteristics of Thurstone and Likert types in the original data and the scaled data, 3) compare the psychometric characteristics of the two types of data. The study used the quantitative research approach. The activity consisted of: developing  instruments, processing the data scaling, analyzing the psychometric characteristics of the instruments, and  comparing the psychometric characteristics of them. The instrument was developed using Thurstone and Likert types in the same constructs. The comparison of psychometric characteristics of two types of data was analyzed by descriptive statistic. The result of scaling using paired comparison method are the sequential scores from a low to high on mathematical-logical, musical, linguistic, kinesthetic, natural, visual, interpersonal, existential and intrapersonal inteligence. The scaling using summated rating produce scores that vary in each response. There are changes of variants and standard error of measurement (SEM) after transformed data. The reliability and SEM of the Thurstone type are lower than  that of Likert type.Keywords: scaling, multiple intelligence instrument, Thurstone type, Likert type
MENENTUKAN KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL BERBASIS PESERTA DIDIK Mardapi, Djemari; Hadi, Samsul; Retnawati, Heri
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 19 No. 1 (2015)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v19i1.4553

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang sering disebut pula dengan standard setting atau cut of score, berbasis peserta peserta didik untuk mata pelajaran matematika SMP di Provinsi DI Yogyakarta antarwaktu. Penelitian ini merupakan studi longitudinal selama 3 tahun yaitu tahun 2010, 2011, dan 2012. Metode pengumpulan data yakni dokumentasi untuk memperoleh data statistik ujian akhir yang akan ditentukan KKM-nya dan Focus Group Discussion(FGD) untuk menentukan kelompok master dan kelompoknonmaster. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dengan metode grup kontras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KKM mata pelajaran matematika di Provinsi DI Yogyakarta tahun 2010 sebesar 6,75, tahun 2011 mengalami penurunan sebesar 0,05 menjadi 6,70 dan tahun 2012 naik lagi menjadi 6,90 (untuk skala 0-10).Kata kunci: KKM (standard setting atau cut of score), mata pelajaran matematika SMP______________________________________________________________DETERMINING THE CUT OF SCORE BASED ON THE TEST PARTICIPANTSAbstract This study aims to determine the minimum completeness criteria which  is often called the standard setting or the cut of a score, based on test participants for mathematics lesson in Yogyakarta province. This study is a longitudinal study using data for 3 years ie 2010, 2011, and 2012. The data were collected through documentation to get the statiatics data of national final examination that would be determined its minimum completness creteria and Focus Group Discussion (FGD) to determine master and non master groups. The data were analyzed quantitatively by the method of contrasting group. The results showed that cut of score in mathematics lesson in Yogyakarta province in 2010 was at 6.75, but decreased by 0.05 to 6.7 in 2011 and rose again in 2012 to 6.9 (for a 0-10 scale).Keywords: standard setting or the cut of the score, junior school mathematics lesson
PENGEMBANGAN BANK SOAL DI SLTP DAN SMU PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Mardapi, Djemari; Subali, Bambang; Arikunto, Suharsimi; Suyata, Pujiati
INOTEKS: Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Seni Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5070.904 KB) | DOI: 10.21831/ino.v1i2.5112

Abstract

Tujuan utama program  penerapan  IPTEKS  ini adalah untuk melatih  para guru agar memiliki  kemampuan   menyusun  butir­butir soal yang memenuhi  persyaratan   untuk  dimasukkan  ke dalam bank  soal,Khalayak  sasaran  adalah  para guru SLTP dan SMU di Propinsi  Daerah  Istimewa  Yogyakarta  yang  diizinkan  oleh Kanwil Depdikbud   setempat  untuk  mengikuti   kegiatan  ini. Metode  yang  digunakan   meliputi  kegiatan   ceramah,   pelatihan   praktek terbimbing/tutorial,   dan kerja mandiri.Soal yang disusun  dalam  pelatihan  pengembangan   bank soal ini adalah  untuk  seluruh  mata pelajaran  yang  diebtanaskan yang diajarkan di kelas III cawu-L  Hasil pelatihan menunjukkan  bahwa para guru benar-benar  dapat ditingkatkan   kemampuannya dalam menyusun  kisi-kisi,  menyusun  dan menyunting  butir soal, merakit  soal, menganalisis   butir soal menggunakan   program ASCAL dan dimasukkan  ke dalam bank soal, menganalisis  butir soal menggunakan  program  lTEMAN  dan menginterpretasikan hasilnya  untuk mengetahui  kekuatan  distraktor  rnasing-masing  butir soa1. Setelah soal dari setiap mata pelajaran  diujikan  pada500 testi, hasilnya  menunjukkan   bahwa  presentasi  butir  soal yang  tidak  memenuhi  persyaratan   untuk  dimasukkan   ke dalam bank  soal berkisar   12% sampai  45%.  Hasil  pemantauan   di sekolah  menunjukkan   bahwa  pengalaman   yang  diperoleh   para petatar   benar-benar    ditularkan   kepada   guru  lain  di  sekolahnya   masing-masing    di  antaranya   ada  yang  melalui   kegiatan Musyawarah   Guru Mata Pelajaran  (MGMP).Kata kunci: Bank Soal-  Menulis  Butir
Modified Robust Z method for equating and detecting item parameter drift Rahmawati, Rahmawati; Mardapi, Djemari
REID (Research and Evaluation in Education) Vol. 1 No. 1 (2015): June
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Yogyakarta & Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/reid.v1i1.4901

Abstract

This study is aimed at: (1) revising the criterion used in Robust Z Method for detecting Item Parameter Drift (IPD), (2) identifying the strengths and weaknesses of the modified Robust Z Method, and (3) investigating the effect of IPD on examinees' classification consistency using empirical data. This study used two types of data. The simulated data were in the form of responses of 20,000 students on 40 dichotomous items generated by simulating six variables including: (1) ability distribution, (2) differences of groups' ability between groups, (3) type of drifting, (4) magnitude of drifting, (5) anchor test length, and (6) number of drifting items. The empirical data was 4,187,444 students' response of UN SD/MI 2011 who administered 41 test forms of Indonesian language, mathematics, and science. Modified Robust Z method was used to detect IPD and the IRT true score equating method was used to analyze the classification consistency. The results of this study show that: (1) the criterion of 0.5 point raw score TCC difference leads to 100% consistency on passing classification, (2) the modified Robust Z is accurate to detect the b and ab- drifting when the minimal length of anchor test is 25%, (3) IPD occurring on empirical data affected the passing status of more than 2,000 students.
EVALUASI PENERAPAN UJIAN AKHIR SEKOLAH DASAR BERBASIS STANDAR NASIONAL Mardapi, Djemari
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 13 No. 2 (2009)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v13i2.1411

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengevaluasi penerapan ujian akhir sekolah berbasis standar nasional (UASBN) untuk sekolah dasar. Sampel adalah lima dari 33 propinsi yang dipilih secara purposive, kemudian 20 sekolah dipilih dari kelima propinsi tersebut. Responden adalah Kepala Dinas Pendidikan Nasional Propinsi terpilih, 20 kepala sekolah dasar, 60 orang guru, 800 orang siswa, dan 800 orang tua siswa. Data kuantitative dikumpulkan mengunakan angket dan dianalisis secara deskriptive statistik. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara dan dianalisis dengan kategori. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Semua kantor dinas pendidikan propinsi dan kabupaten/kota dan sekolah telah mempersiapkan secara baik pelaksanaan UASBN, (2) penulisan butir soal, pencetakan soal, dan distribusi soal dilakukan sesuai dengan prosedur operasinal standar, (3) supervisi pelaksanaan UASBN dilakukan oleh guru dari sekolah lain, (4) kriteria skor kelulusan pada tiga propinsi ditetapkan oleh sekolah, sedangkan di Propinsi Bengkulu dan Nusa tenggara Timus (NTT) ditetapkan oleh kantor dinas pendidikan kabupaten/kota, (5) semua guru dan hampir semua siswa dan orang tua siswa mengharapkan bahwa UASBN dilakukan secara menerus, dan (6) problem yang dihadapi sekolah adalah kurangnya kemampuan guru pelajaran Matematik dan IPA.Kata kunci: evaluasi, UASBN, ujian akhir
PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN AKHLAK PESERTA DIDIK MADRASAH ALIYAH Prihatini, Septimar; Mardapi, Djemari; Sutrisno, Sutrisno
Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 17 No. 2 (2013)
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta in cooperation with Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/pep.v17i2.1705

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan model penilaian akhlak peserta didik Madrasah Aliyah. Konstruk akhlak dikembangkan dengan pendekatan akhlak sebagai aspek afektif dan konsep religiousity dari Glock and Stark (1966). Penelitian pengembangan ini menggunakan metode lapor diri dan observasi tak langsung, melibatkan 291 siswa dan 26 guru dengan teknik purposive sampling. Pengujian kualitas instrumen meliputi: validasi tampang, isi, dan konstruk; reliabilitas (konsistensi internal dan reliabilitas interrater); dan uji stabilitas instrumen. Hasil pe-nelitian ini adalah: (1) Model penilaian akhlak terdiri dari  model pengukuran dan sistem peni-laian. Instrumen tersusun melalui proses expert judgment, Focus Group Disscussiondan pengujian konstruk. (2) Hasil analisis faktor konfirmatori (CFA) berdasarkan data empirik menunjukkan bahwa konstruk akhlak peserta didik mencakup dimensi akhlak kepada Allah, akhlak kepada Nabi Muhammad SAW., akhlak kepada orangtua, akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada guru, akhlak kepada teman/tetangga/masyarakat, dan akhlak kepada lingkungan. (3) Instrumen mempunyai kehandalan internal antara 0,865 – 0,921 (tinggi) dan reliabilitas interater 0,866 (tinggi) dan  koefisien  Cohens' Kappa  0,770 (sangat baik), serta stabilitas antara 0,715 sampai 0,858 (baik sampai sangat baik). (4) Sistem penilaian setelah disimulasikan dan dikonfirmasi menunjukkan 90 % kesesuaian dengan performansi akhlak siswa.Kata kunci: model penilaian, akhlak peserta didik, konstruk akhlak, instrumen______________________________________________________________DEVELOPING A MODEL OF AN ASSESSMENT OF MADRASAH ALIYAH STUDENTS' AKHLAKAbstract This study aims to develop a model of an assessment of Madrasah Aliyah students' akhlak. The constructs of students' akhlak are developed on the basis of the akhlak as affective domain and as a religiousity concept, adopting the ritualistic concept and consequences from Glock and Stark (1966). This research and development used self-report and indirect observations,  involving 291 students and 26 teachers by using purposive sampling technique. The quality instrument testing consists of: validation process (face, content and construct), reliability (internal consistency and inter-rater reliability); and stability. The results of the study are as follows. (1) The model of an assessment of students' akhlak includes a measurement model and an assessment system for students' akhlak. The instrument is composed through the process of expert judgment, Focus Group Disscussion and testing constructs (2) The result of Confirmatory Factor Analysis (CFA) shows that constructs of students' akhlak cover the dimensions of akhlak to Allah, Prophet Muhammad, parents, self, teachers, society, and environment. (3) The internal reliability of instrument ranges from 0.865 to 0.921 (high); the inter-rater reliability is 0.851 (high) by Product Moment Correlation and  Cohens' Kappa coefficient  0.770 (very good). Instruments stability levels ranging from being good to being very good (0.715 to 0.858). (4) the assessment system model after the simulation is confirmationyields an agreement of 90% with the respondents' performances.Keywords: assessment model, students' akhlak, akhlaks' constructs, instrument
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYUSUN DAN MENGANALISIS SOAL TES BAGI GURU SMP SE D.I. YOGYAKARTA Kartowagiran, Badrun; Mardapi, Djemari; Subali, Bambang; Suyata, Pujiati
INOTEKS: Jurnal Inovasi Ilmu Pengetahuan,Teknologi, dan Seni Vol 1, No 1 (1999)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5809.456 KB) | DOI: 10.21831/ino.v1i1.5107

Abstract

Menurut  survei  yang dilakukan  Pusbangsijian   Lemlit  Universitas   Negeri  Yogyakarta  tahun  1995 kemampuan   guru SMP dalam menyusun  dan menganalisis   soal tes sang at rendah,   Oleh karena  itu Pusbangsijian   merasa  terpanggil  untuk melakukan pelatihan  dan pembinaan   penyusunan   dan analisis  soal tes bagi guru  SMP se D.1. Yogyakarta.Sesuai  dengan  permasalahannya,    tujuan  pelatihan  ini adalah  untuk meningkatkan   kemampuan   guru  SMP dan menyusun dan  menganalisis   soal  tes,  baik  soal  tes bentuk  uraian  maupun  bentuk  objektif     Metode  yang  digunakan   untuk  mencapai tujuan  ini adalah  pelatihan   dan pembinaan.    Selain  metode  ceramah  dan diskusi,  metode  latihan  dan  pemberian   tugas juga digunakan  dalam pelatihan  ini.  Pada waktu-waktu  tertentu. Tim pelatih mengunjungi  seko1ah tempat peserta  pelatihan mengajar. Dengan  kunjungan  ini Tim pelatih  dapat memantau  kegiaan  peserta  dan memberikan  bantuan  atau bimbingan  bila peserta  dan memberikan   bantuan  atau  bimbingan   bila  peserta  mengalami   kesulitan  dalam  mempraktikkan    menyusun   dan menganalisis soal tes.  Oleh   karen a pelatihan   ini juga  pembinaan   maka  waktu  pelatihan  berlangsung   selama  tiga  bulan.Hasil  yang  diperoleh   dari  kegiatan  ini adalah  kemampuan   guru  dalam  menyusun  dan menganalisis   soal tes meningkat. Hal  ini  terbukti   dari  soal  tes  meningkat.     Hal  ini  terbukti   dari  soal  tes  yang  mereka  buat.  Soal  yang  dibuat  guru  sudah mempunyai  validitas  isi yang cukup baik, artinya  sampel  soal sudah cukup mewakili  materi yang telah diajarkan.   Selanjutnya, hasil analisis  soal tes secara  teoritik  (analisis  konstruk)  dari  10 soal yang diambil  secara  acak hanya ada  18 dari 250 butir soal at au sekitar  7% butir  soal yang pokok  soalnya  masih memerlukan   perbaikan.   Apabila  dilihat  dari alternatif  jawaban,  jumlah butir yang memiliki jawaban   kurang  memenuhi  syarat ada  18 atau sekitar  7%.  Setelah dicermati,  ternyata  tidak ada butir yang memiliki  kesalahan  ganda  maka  dapat  dikatakan  bahwa jumlah  butir  yang masih memerlukan   pembenahan   ada 36 butir  atau sekitar  14% dari keseluruhan   butir.   lni berarti  bahwa jumlah  butir yang  memenuhi  syarat  ada 86% .  Jumlah  butir  yang baik akan menurun  manakala  dilihat  dari analisis  secara  empirik.   Dari 250 butir seal, hanya ada  109 at au sekitar  43,6% yang baik. Kesalahan   yang  sangat  mencolok   adalah  tingkat  kesulitan   soal, yakni  soal terlalu  sulit bagi  siswa.   Selanjutnya   dilihat  dari kemampuan   menganalisis    soal  tes,  kemampuan   peserta  juga  meningkat.     Hal  ini  dapat  diketahui   dari  hasil  analisis  yang mereka  buat.  Sewaktu  mengerjakan   tugas menganalisis  soal tes, peserta  dibagi menjadi  tujuh kelompok.   Dari tujuh kelompok, hanya  satu kelompok  yang belum  selesai.   Setelah  disampel  tiga untuk  ditampilkan,   ternyata  semuanya  benar.   Dari hasil  ini dapat  disimpulkan   bahwa  cara  pelatihan   dan  pembina an seperti  ini ternyata  dapat  meningkatkan    kemampuan   guru  dalam menyusun   dan  menganalisis   soal tes.   Oleh  karenanya   disarankan   agar  pelatihan   dan pembinaan   seperti  ini diteruskan   dan disebarluaskan    agar lebih  banyak  guru yang  mampu  menyusun  dan menganalisis   soallebih   baik,