Ketut Ariawati
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Sanglah Denpasar, Bali

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Farmasi Udayana

GANGGUAN HEMATOLOGI AKIBAT KEMOTERAPI PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH Pertiwi, N.M.I.; Niruri, R.; Ariawati, K.
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 2, No. 3, Tahun 2013
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.408 KB)

Abstract

Leukemia Limfositik Akut (LLA) adalah keganasan sel yang terjadi akibat proliferasi sel limfoid yang diblokir pada tahap awal deferensiasinya. Terapi pada LLA dapat dilakukan dengan kemoterapi dan transplantasi sumsum tulang. Pengobatan dengan kemoterapi merupakan terapi kuratif utama pada leukemia. Kemoterapi bekerja dengan merusak sel kanker dan juga dapat menghambat sel normal yang berdampak pada kinerja dari sel tersebut. Salah satu yang dapat dihambat adalah perkembangan sel induk darah yang dapat menyebabkan gangguan hematologi selama terapi LLA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya gangguan hematologi akibat kemoterapi pada anak dengan leukemia limfositik akut. Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian cross-sectional pada pasien anak dengan LLA yang menjalani kemoterapi fase induksi dan konsolidasi berdasarkan Indonesian Protokol 2006. Pasien yang telah selesai menjalani kemoterapi berdasarkan protokol tersebut dieksklusi dari penelitian. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar. Data Pasien diambil dari periode bulan Mei 2011-April 2013. Gangguan hematologi dinilai berdasarkan hasil laboratoriun yaitu hemoglobin dan platelet berdasarkan CTCAE versi 4,0. Hasil: Didapatkan 17 pasien yang memenuhi kriteria. Dari 17 pasien yang telah menjalani kemoterapi fase induksi dan konsolidasi, diperoleh 8 pasien (47,1%) yang mengalami anemia, 6 pasien (35,3%) mengalami anemia dan trombositopenia, tidak ada pasien (0%) mengalami trombositopenia saja, serta 3 pasien (17,6%) tidak mengalami gangguan tersebut.  Kesimpulan: Ada gangguan hematologi pada pasien anak dengan LLA yang menjalani kemoterapi di RSUP Sanglah berdasarkan Indonesian Protocol 2006 fase induksi dan konsolidasi. Gangguan  hematologi yang terjadi yang diamati yaitu anemia dan trombositopenia.
POLA KUMAN DAN SENSITIVITAS ANTIBIOTIKA PADA ANAK DENGAN LEUKEMIA LIMFOBLASTIK AKUT YANG MENGALAMI DEMAM NEUTROPENIA Utami, A.A.I.A.Y.T; Niruri, R; Ariawati, K.
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 2, No. 3, Tahun 2013
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.29 KB)

Abstract

Demam neutropenia pada anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dapat terjadi berkaitan dengan efek samping pengobatan kemoterapi ataupun perjalanan penyakitnya. Penyebab utama yang teridentifikasi sebagai penyebab munculnya demam neutropenia adalah infeksi oleh bakteri. Terjadinya perubahan pola kuman dari waktu ke waktu menyebabkan perlunya dilakukan pemantauan terhadap pola kuman terbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman penyebab munculnya demam neutropenia pada pasien LLA serta sensitivitasnya terhadap antibiotika yang digunakan dalam terapi. Metode: penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif observasional dengan jenis penelitian cross sectional retrospektif. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, dengan data pasien yang diambil selama periode Maret 2012-April 2013. Hasil: didapat 20 kejadian demam neutropenia yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 20 kejadian demam neutropenia tersebut, terdapat 5 kejadian menunjukkan hasil yang positif adanya infeksi bakteri pada pemeriksaan kultur yang dilakukan dan 15 kejadian menunjukkan hasil yang negatif. Dari pemeriksaan kultur tersebut, bakteri yang terisolasi adalah: Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Enterobacter gergoviae. Hasil uji sensitivitas antibiotika menunjukkan bahwa Enterobacter gergoviae sensitif terhadap cefotaxime, ceftazidime, dan amikasin; Pseudomonas aeruginosa sensitif terhadap ceftazidime dan amikasin; dan Escherichia coli hanya sensitif terhadap amikasin. Kesimpulan: bakteri gram negatif merupakan bakteri yang menyebabkan munculnya demam neutropenia pada pasien LLA dengan sensitivitas tertinggi adalah terhadap amikasin dan ceftazidime.
Evaluasi Peningkatan Kadar Bilirubin Akibat Kemoterapi Metotreksat Dosis Tinggi dan 6-Merkaptopurin Pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Komalasari, K. T.; Ariawati, K.; Niruri, R.
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 3, No. 2, Tahun 2014
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.328 KB)

Abstract

Obat kemoterapi pasien LLA pada fase konsolidasi berdasarkan Indonesian Protocol LLA 2006 di RSUP Sanglah yaitu Metotreksat (MTX) dosis tinggi dan 6-Merkaptopurin. Pemberian MTX dosis tinggi jarang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin sedangkan 6-MP dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar bilirubin 2 sampai 3 minggu setelah kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kadar bilirubin setelah pemberian kombinasi kemoterapi MTX dosis tinggi dan 6-MP pada anak dengan LLA pada fase konsolidasi. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada anak berusia 0-12 tahun dengan LLA yang menjalani kemoterapi pada fase konsolidasi di RSUP Sanglah periode Januari 2012-Mei 2014. Pada penelitian ini, diperoleh 10 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi. Dari 10 pasien, terdapat 3 pasien yang mengalami peningkatan kadar bilirubin setelah kemoterapi MTX dosis tinggi dan 6-MP setelah kemoterapi minggu ke-8 dan 10 fase konsolidasi. Dari 3 pasien tersebut, 2 pasien mengalami peningkatan kadar bilirubin tingkat 2 setelah minggu ke-8 dan 10, dan 1 pasien mengalami peningkatan kadar bilirubin tingkat 1 setelah minggu ke-10 fase konsolidasi. Berdasarkan data diatas disimpulkan bahwa dari 10 pasien yang memasuki fase konsolidasi, 3 pasien mengalami peningkatan kadar bilirubin dan 1 dari 3 pasien tersebut adalah positif mengalami hepatotoksik setelah kemoterapi MTX dosis tinggi dan 6-MP.
Efektivitas Ondansetron dalam Menangani Mual dan Muntah Pasca Kemoterapi Metotreksat Dosis Tinggi Pada Pasien Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Dewi, N.L.P.R.; Ariawati, K.; Niruri, R.
Jurnal Farmasi Udayana Vol. 3, No. 2, Tahun 2014
Publisher : Departement of Pharmacy, Faculty of Mathematics and Natural Science, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.306 KB)

Abstract

Metotreksat dosis tinggi merupakan salah satu obat yang digunakan untuk kemoterapi leukemia pada fase konsolidasi. Metotreksat dosis tinggi termasuk emetogenik kategori moderat yang dapat menyebabkan mual dan muntah akut. Ondansetron adalah salah satu obat golongan antagonis reseptor serotonin (5-HT3) danmerupakan obat premedikasi untuk mencegah kejadian mual dan muntah pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi. Namun di RSUP Sanglah ondansetron tidak digunakan sebagai obat premedikasi, melainkan digunakan sebagai pengobatan kepada pasien LLA anak yang mengalami mual dan muntah setelah menjalani kemoterapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efek samping ondansetron dalam menangani mual dan muntah pada pasien LLA anak yang mendapatkan kemoterapi metotreksat dosis tinggi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional cross-sectional. Pasien anak (0-12 tahun) dengan LLA mengalami mual dan muntah pasca kemoterapi dengan metotreksat dosis tinggi di RSUP Sanglah periode Januari 2012 – Mei 2014 dijadikan sampel dalam penelitian ini. Dari 25 pasien yang menjalani kemoterapi pada fase konsolidasi, diperoleh 6 pasien yang mengalami mual dan muntah setelah mendapatkan kemoterapi metotreksat dosis tinggi serta mendapatkan ondansetron. Keenam pasien tersebut mengalami complete control, 5 pasien mengalami complete control setelah pemberian ondansetron pertama dan 1 pasien mengalami complete control setelah pemberian ondansetron kedua. Selain itu tidak ada efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan ondansetron tersebut. Disimpulkan bahwa penggunaan ondansetron efektif dalam menangani mual dan muntah yang dialami oleh pasien LLA anak setelah mendapatkan kemoterapi metotreksat dosis tinggi.