Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Stabilitas Ekstrak Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Terenkapsulasi Maltodekstrin dan Gelatin dan Potensi Prebiotiknya Sari, Devina Puspita; Aditiyarini, Dwi; Ariestanti, Catarina Aprilia
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 9, No 3 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v9i3.7550

Abstract

Bunga telang merupakan salah satu bunga yang dapat dimakan dan digunakan sebagai pewarna alami makanan. Bunga ini juga berpotensi sebagai antioksidan dan prebiotik akibat kandungan antosianinnya. Namun ekstrak bunga telang mudah terdegradasi. Stabilitas zat warna bunga telang dapat dipertahankan dengan teknik enkapsulasi menggunakan maltodekstrin dan gelatin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rasio maltodekstrin dan gelatin yang menghasilkan stabilitas enkapsulat bunga telang terbaik selama 15 hari penyimpanan dan potensi prebiotiknya. Ekstrak bunga telang diperoleh melalui metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Rasio maltodekstrin dan gelatin yang digunakan adalah 1:1, 3:1 dan 5:1, dengan kadar ekstrak bunga telang 1%. Stabilitas enkapsulat dianalisis dari kandungan antosianin dan antioksidan dengan waktu uji setiap 5 hari selama 15 hari. Kadar antosianin diukur dengan metode pH differential. Aktivitas antioksidan diukur dengan metode DPPH. Potensi prebiotik diuji menggunakan Lactobacillus bulgaricus. Hasil menunjukkan bahwa enkapsulat ekstrak bunga telang dengan rasio maltodekstrin dan gelatin sebesar 3:1 memiliki stabilitas enkapsulat terbaik dengan kadar air 6,863%, kadar antosianin 0,217 mg/g, dan daya redam radikal bebas sebesar 54,858%. Enkapsulat ini juga terbukti berpotensi menjadi prebiotik yang ditandai dengan pertumbuhan L.bulgaricus sebesar 2,85 x 109 CFU/mL.
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Batang Belimbing Wuluh Terhadap Escherichia coli Penyebab Diare Septhimoranie, Jade; Aditiyarini, Dwi; Prakasita, Vinsa Cantya
Bioeksperimen: Jurnal Penelitian Biologi Vol 8, No 2: September 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/bioeksperimen.v8i2.15749

Abstract

Diare merupakan salah satu gejala infeksi pada saluran cerna, yang dapat disebabkan oleh adanya organisme (bakteri, virus, dan/atau parasit), sehingga menyebabkan feses menjadi lebih cair dan frekuensinya lebih sering dari biasanya. Escherichia coli memiliki presentase yang tinggi dibandingkan bakteri lain pada feses penderita diare. Pengobatan yang dilakukan biasanya dengan menggunakan antibiotik, namun sekarang ini banyak ditemukan antibiotik yang telah resisten. Tanaman obat-obatan dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengatasi diare. Salah satunya ialah kulit batang Belimbing Wuluh. Adanya kandungan senyawa yang bersifat antibakteri pada kulit batang Belimbing Wuluh dimungkinkan dapat menghambat pertumbuhan E. coli penyebab diare. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kulit batang Belimbing Wuluh terhadap E. coli penyebab diare. Pada penelitian ini menggunakan metode ekstraksi dekoktasi. Uji fitokimia dilakukan terhadap flavonoid, alkaloid, dan saponin. Uji total fenol dilakukan dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Uji antibakteri dilakukan dengan menggunakan disk diffusion method Kirby-Bauer, dilanjutkan uji MIC dengan metode mikrodilusi serta uji MBC. Analisis data dengan One-Way ANOVA dan post-hoc Duncan. Kulit batang Belimbing Wuluh mengandung senyawa saponin, alkaloid, flavonoid, dan fenol. Hasil rata-rata dari nilai total fenol adalah 25,12 ± 7,73(mg GAE)⁄g. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang Belimbing Wuluh dengan konsentrasi 2,5% masih dapat menghambat E. coli secara signifikan (P≤0,05).
STUDI KOMPARASI KANDUNGAN TIMBAL PADA KANGKUNG (Ipomea aquatica Forsk.) DARI PASAR TRADISIONAL DAN SUPERMARKET DI YOGYAKARTA: Comparative Study of Lead Content in Kangkung (Ipomea aquatica Forsk.) from Traditional Markets and Supermarkets in Yogyakarta Tangnga Layuk, Rhamatya; Prihatmo, Guruh; Aditiyarini, Dwi
Biospecies Vol. 15 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/biospecies.v15i2.13787

Abstract

Kangkung (Ipomea aquatica Forsk.) merupakan salah satu jenis sayuran yang memiliki tingkat konsumsi tertinggi di Indonesia. Perkembangan zaman dan peningkatan jumlah penduduk menyebabkan aktivitas industri dan kegiatan transportasi juga meningkat. Hal ini memunculkan permasalahan dalam masyarakat seperti menurunnya kualitas bahan pangan salah satunya kangkung, akibat adanya cemaran logam berat seperti timbal (Pb). Oleh sebab itu, studi komparasi pada kangkung yang dijual di supermarket maupun pasar tradisional penting dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai konsentrasi timbal berdasarkan baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian dilaksanakan bulan Februari – Juni 2021 di Pasar Demangan, Pasar Kranggan, Superindo Jl. Solo, Mirota Kampus Simanjuntak dan Carefour Ambarrukmo Plaza. Total 55 sampel diekstraksi menggunakan HCl 37% dan HNO3 65%. Konsentrasi timbal pada ekstrak sampel sebanyak 10 mL dianalisis menggunakan AAS (Atomic Absoprtion Spectrofotometer). Hasil analisis AAS menunjukkan adanya kandungan timbal pada seluruh sampel sebesar 0,32340 – 0,47060 mg/kg. Kandungan timbal yang terdapat pada seluruh sampel masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Indonesia (0,5 mg/kg), akan tetapi masih melewati baku mutu yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (0,2 mg/kg).
COMPARATIVE pH ANALYSIS: HOMEMADE COLD CLAY VERSUS COMMERCIAL CLAY FOR CHILD SAFETY Harjani, Centaury; Aditiyarini, Dwi; Prakasita, Vinsa Cantya
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2025.13507

Abstract

Cold clay, as a non-baking children's play medium, needs to be assessed for its chemical and physical safety, particularly its pH parameters, to ensure safety for children's skin and environmental sustainability. This study aims to characterize the pH of cold clay by comparing homemade and manufactured products. A total of six samples were tested: one homemade (based on polyvinyl acetate, cornstarch, and additives) and five manufactured, colorful ones. The pH measurements were performed using a digital pH meter with three replications, then statistically analyzed using an independent t-test. The results showed a highly significant difference (p < 0.001) between the two groups. Homemade samples had an average pH of 4.75 ± 0.06 (acidic), while manufactured samples ranged from 7.16–7.53 (neutral to slightly alkaline). From a dermatological perspective, homemade pH, which is closer to the natural pH of children's skin (~5.5), is considered safer for long-term contact because it does not disrupt the acid mantle. In contrast, the neutral pH of manufactured products showed better chemical stability but potentially poses challenges in waste management. These findings emphasize the importance of pH characterization in selecting safe materials for the intended application. The study recommends consideration of pH parameters for parents, educators, and industry, as well as the need for further studies on toxicity and environmental impacts to ensure overall safety.
COMPARATIVE pH ANALYSIS: HOMEMADE COLD CLAY VERSUS COMMERCIAL CLAY FOR CHILD SAFETY Harjani, Centaury; Aditiyarini, Dwi; Prakasita, Vinsa Cantya
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jbbi.2025.13507

Abstract

Cold clay, as a non-baking children's play medium, needs to be assessed for its chemical and physical safety, particularly its pH parameters, to ensure safety for children's skin and environmental sustainability. This study aims to characterize the pH of cold clay by comparing homemade and manufactured products. A total of six samples were tested: one homemade (based on polyvinyl acetate, cornstarch, and additives) and five manufactured, colorful ones. The pH measurements were performed using a digital pH meter with three replications, then statistically analyzed using an independent t-test. The results showed a highly significant difference (p < 0.001) between the two groups. Homemade samples had an average pH of 4.75 ± 0.06 (acidic), while manufactured samples ranged from 7.16–7.53 (neutral to slightly alkaline). From a dermatological perspective, homemade pH, which is closer to the natural pH of children's skin (~5.5), is considered safer for long-term contact because it does not disrupt the acid mantle. In contrast, the neutral pH of manufactured products showed better chemical stability but potentially poses challenges in waste management. These findings emphasize the importance of pH characterization in selecting safe materials for the intended application. The study recommends consideration of pH parameters for parents, educators, and industry, as well as the need for further studies on toxicity and environmental impacts to ensure overall safety.
Protective Effect of Ethanolic Mistletoe Leaves (Scurula atropurpurea (Bl.) Dans) Extract Against Protein Denaturation In Vitro Aditiyarini, Dwi; Nadapdap, Christini Bernaindah; Restiani, Ratih
Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Sunan Kalijaga State Islamic University & Society for Indonesian Biodiversity

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/biomedich.2026.151.391-399

Abstract

Inflammation is a complex biological response that eliminates harmful stimuli, clears damaged tissues, and initiates healing. Protein denaturation is known to trigger inflammatory reactions and is associated with chronic disorders such as rheumatoid arthritis, lupus erythematosus, and serum sickness. Although steroidal and non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are widely used, their long-term use may cause adverse effects. Herbal plants represent potential alternative therapies with fewer side effects. This study examined the anti-inflammatory potential of Scurrula atropurpurea, a hemiparasitic plant traditionally used for various medicinal purposes. The ethanolic leaf extract was evaluated for its phytochemical composition, antioxidant properties, and ability to inhibit egg albumin denaturation in vitro. Fresh leaves were collected from tea plants in Sapuran, Wonosobo, and extracted using Soxhlet with 96% ethanol. Phytochemical screening indicated the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, phenolics, saponins, steroids, and terpenoids. Quantitative analysis showed a high total phenolic content (126.10 ± 1.5 mg GAE/g extract), moderate tannins, and relatively low flavonoids. The extract demonstrated weak antioxidant activity (IC50 = 140.4 ± 4.9 µg/mL) and minimal protein denaturation inhibition (maximum 1.51% at 100 ppm), significantly lower than sodium diclofenac as a positive control. Overall, the ethanolic extract of S. atropurpurea leaves exhibited low in vitro anti-inflammatory activity, suggesting the need for further investigation using alternative extraction methods, plant parts, or host species.