Robby Irsan
Department Of Environmental Engineering, Faculty Of Engineering, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia. Kode Pos : 78124

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pemanfaatan Daun Pohon Ketapang (Terminalia catappa L.) Dan Limbah Plastik Polypropylene (PP) Sebagai Perekat Dengan Penambahan Asam Sitrat Dan Sukrosa Dalam Pembuatan Papan Partikel Endah Yuningsih; Robby Irsan; Dian Rahayu Jati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 11, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v11i1.64269

Abstract

Sampah daun pohon ketapang merupakan sampah organik, karakter pohon ketapang adalah meranggas atau menggugurkan daunnya secara massal dua kali dalam setahun bertujuan untuk mengurangi penguapan, sehingga dimungkinkan terjadinya penumpukkan sampah daun dalam jumlah yang banyak. Limbah plastik polypropylene (PP) merupakan sampah yang tidak mudah untuk terurai (non-biodegradable) dalam waktu singkat sehingga dapat mencemari lingkungan. Penelitian ini dilakukan sebagai alternatif pengganti penggunaan kayu untuk meminimalisir penebangan hutan dengan pemanfaatan sampah daun pohon ketapang dan limbah plastik polypropylene (PP), serta menggunakan bahan alami asam sitrat dan sukrosa sebagai bahan pengikatnya sehingga menghasilkan produk yang ramah lingkungan. Komposisi perbandingan sampah daun pohon ketapang dengan plastik polypropylene (PP) yang digunakan adalah 10%:70%, 30%:50%, 40%:40%, 70%:10%, 50%:30% dengan ukuran partikel daun 20 mesh. Komposisi asam sitrat dan sukrosa yang digunakan adalah 10%:10%, dicetak dalam ukuran 30 cm 30 cm  1 cm. Selanjutnya dikempa pada tekanan 25 kg/cm2 dan suhu 180oC selama 20 menit. Setelah itu didiamkan selama 7 hari untuk pengondisian perekatan pada papan partikel. Diperoleh hasil uji sifat fisik dan mekanik pada komposisi 30%:50%:10%:10% memiliki nilai pengujian yang baik dengan nilai kerapatan 0,65 gr/cm3, kadar air 1,65%, pengembangan tebal 1,40%, MOE 5369,9 kg/cm2, MOR 124,5 kg/cm2, keteguhan rekat 15,43 kg/cm2, dan keteguhan cabut sekrup 52,05 kg/cm2 sesuai SNI-03-2105-2006.
Analisis Peran Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata Air Terjun Riapm Sabada` di Desa Sebatih Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak Agapitus Agapitus; robby irsan; Jumiati Jumiati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 11, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v11i1.65141

Abstract

Riapm Sabada’ terletak di Desa Sebatih Kampung Keranji Birah Kecamatan Sengah Temila yang merupakan destinasi ekowisata yang sering dikunjungi di Kabupaten Landak. Selain menyuguhkan pemandangan yang indah dapat dijumapi kebun durian di sepanjang jalan menuju objek wisata sehingga para pengunjung dapat menikmati durian langsung dari kebun. Namun ada beberapa fasilitas di Riapm Sabada’ yang belum dijumpai seperti toilet umum, tempat penginapan, tempat pembuangan sampah dan, ruang ganti. Riapm Sabada’ sampai saat ini masih dikelola oleh Masyarakat Desa. Berdasarkan dari segi popularitas dan pembangunan berbasis masyarakat peneliti tertarik untuk meneliti mengenai peran masyarakat dalam pengembangan dan mengenalkan destinasi ekowisata air terjun Sabada’ sehingga mampu mengangkat perekonomian masyarakat Desa Sebatih, melalui usaha pembukaan warung dan hasil penjualan tikrt serta uang parkir. Selain itu diharapkan fasilitas pendukung kebersihan seperti toilet umum, tempat penginapan, tempat pembuangan sampah dan ruang ganti serta peran masyarakat desa dalam pengembangan ekowisata agar menjadi destinasi yang sangat layak dari fasilitas dan kerbersihan. Peneliti akan menawarkan strategi pengelolaan Riapm Sabada’ kepada pengelola dengan melihat beberapa aspek kelebihan, kekurangan, peluang dan kelemahan yang akan dianalisis menggunakan metode SWOT.
Studi Kandungan Asam Pada Air Hujan di Kota Pontianak Millen Fadillah; Robby Irsan; Dian Rahayu Jati
Jurnal Ecolab Vol 17, No 1 (2023): ECOLAB
Publisher : Pusat Standardisasi Instrumen Kualitas Lingkungan Hidup Laboratorium Lingkungan (P3KLL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59495/jklh.2023.17.1.25-32

Abstract

Hujan secara alami bersifat agak asam, semakin bertambahnya konsentrasi polutan di udara dapat meningkatkan nilai keasaman. Kegiatan transportasi berperan besar terhadap penurunan kualitas udara. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2021), luas wilayah kota Pontianak sebesar 118,31 km2 dengan jumlah penduduk 658.685 jiwa. Laju petumbuhan penduduk pada tahun 2020 sebesar 1,81%. Jumlah kendaraan yang berada di kota Pontianak pada tahun 2020 mencapai 31.853 unit. Banyaknya penduduk di kota Pontianak menyebabkan kebutuhan sarana transportasi meningkat sehingga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar yang dapat menimbulkan pencemaran udara. Emisi gas SO2  dan NO2 yang berasal dari kegiatan industri dan transportasi, merupakan penyebab terjadinya peristiwa hujan asam apabila emisi gas tersebut bereaksi dengan air hujan. Secara alami derajat keasaman (pH) air hujan normal yaitu 5,6. Air hujan merupakan salah satu sumber air bersih di Pontianak sehingga kualitasnya perlu diperhatikan dengan seksama. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengukuran pH, nitrat (NO3-), dan sulfat (SO42-) pada air hujan di kota Pontianak dengan 24 sampel pada bulan April dan Mei 2022. Hubungan tingkat keasaman pH terhadap nitrat dan sulfat dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda. Hasil pengukuran menunjukan bahwa rata–rata parameter pH bernilai 6 dengan 15 sampel tidak memenuhi standar baku mutu dan 9 sampel memenuhi standar baku mutu, sedangkan hasil dari semua sampel nitrat dan sulfat memenuhi baku mutu PerMenKes RI No.492/Menkes/Kes/Per/2010 dengan nilai rata-rata nitrat 3,78 mg/l dan sulfat 18,24 mg/l. Perhitungan menggunakan model regresi linear berganda menunjukkan bahwa penurunan pH air hujan lebih dipengaruhi oleh nitrat dari pada sulfat.
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Terhadap Urban Heat Island di Kota Pontianak Muhammad Naufal Fatturusi; robby irsan; Dian Rahayu Jati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 11, No 1 (2023): Januari 2023
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v11i1.64565

Abstract

Ketersediaan lahan di Kota Pontianak terbesar yaitu pada area ruang terbangun. Peningkatan pembangunan harus diimbangi dengan adanya ruang terbuka hijau sebagai pengendali kualitas lingkungan. Pembangunan yang mengambil alih fungsi ruang terbuka hijau dapat menimbulkan beberapa permasalahan seperti fenomena Urban Heat Island. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan ketersediaan ruang terbuka hijau, Land Surface Temperature (LST), Urban Heat Island (UHI) pada tahun 2001, 2013 dan 2020. Data yang dibutuhkan berupa data landsat 5 TM dan Landsat 8 OLI/TIRS yang diolah menjadi data perubahan ruang terbuka hijau dan persebaran suhu. Perubahan ketersediaan RTH yang terbesar di tutupan lahan klasifikasi pertanian dengan total penurunan 10% (1089 hektar). Perubahan LST yang memiliki peningkatan luas wilayah terbesar adalah rentang suhu 24-27 ˚C yang meningkat 31% (3376 hektar) dan penurunan luas wilayah terbesar adalah rentang suhu 21-24 ˚C yang menurun 34% (3674 hektar). Perubahahan intensitas UHI yang memiliki peningkatan luas wilayah terbesar adalah intensitas UHI  1 yang meningkat 12% (1335 hektar). 
Analisis Angin Permukaan Di Pelabuhan Dwikora Pontianak Menggunakan Wind Rose Robby Irsan; Qolby Istiqomah
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 7, No 1 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v7i1.1-9

Abstract

ABSTRAKIndonesia negara yang memiliki banyak pulau sehingga untuk memenuhi kebutuhan dan kegiatan ekonomi perlu adanya pengiriman antar pulau. Analisis arah dan kecepatan angin permukaan Pelabuhan Dwikora Pontianak bertujuan untuk mengetahui kondisi serta dapat memprediksi arah dan kecepatan angin yang akan terjadi. Metode yang digunakan untuk menganalisis kondisi arah dkecepatan angin menggunakan metode windrose serta metode lain yang dipakai pada penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis. Kondisi angin pada bulan Januari didominasi pola angin monsunal, bulan februari dari arah timur laut dikarenakan pusat tekanan rendah yang ada di bumi bagian utara mengakibatkan bertiup dari bumi bagian selatan, bulan Maret angin dipengaruhi gerak semu matahari, bulan April dan bulan Mei didominasi angin monsun timur, bulan Juni dan Juli terjadinya musim peralihan, bulan Agustus terjadinya panas karena angin bergerak kea rah timur laut, bulan September dan Oktober terjadinya musim peralihan, serta bulan November dan Desember terjadinya musim hujan.Kata kunci: Angin, Arah Angin, Wind rose, Pelabuhan DwikoraABSTRACTIndonesia is a country that has many islands so that to meet the needs and economic activities it is necessary to have inter-island shipping. The analysis of the direction and surface wind speed of Pontianak Dwikora Port aims to determine the conditions and can predict the direction and speed of the wind that will occur. The method used to analyze the conditions of wind direction and speed using the windrose method and other methods used in this study, namely descriptive analysis method. Wind conditions in January are dominated by monsoon winds, February is from the northeast due to the low pressure center in the northern hemisphere causing it to blow from the southern hemisphere, in March the wind is influenced by the apparent motion of the sun, April and May are dominated by east monsoon winds. , June and July are the transition season, August is hot because the wind moves to the northeast, September and October are the transition season, and November and December are the rainy season.Keywords: Wind, Wind Direction, Wind rose, Dwikora Harbor
Identifikasi Permukiman Pada Kawasan Hutan dan Analisis Pola Sebaran Permukiman di Kecamatan Paloh Irsan, Robby; Fitrianingsih, Yulisa; Izdihaar, Januar Reyhan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 12, No 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v12i4.81134

Abstract

Kecamatan Paloh terletak di Kabupaten Sambas pada Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki fungsi kawasan hutan yang besar berdasarkan SK 733 Tahun 2014 yang mencapai 8,3 juta hektar. Masalah yang dapat ditimbulkan dari lebih besarnya luas fungsi kawasan hutan dibandingkan kawasan non hutan di suatu wilayah adalah dapat terjadinya tumpang-tindih lahan antara lahan permukiman dengan kawasan hutan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui luas permukiman yang masuk ke dalam fungsi kawasan hutan dan menganalisis pola sebaran permukiman. Hasil overlay peta menunjukkan terdapat permukiman yang berada di dalam kawasan hutan yaitu pada kawasan hutan produksi dan taman wisata alam dengan luas sebesar 16,8 ha atau 4,38 % dari luas keseluruhan permukiman. Bentuk sebaran permukiman di kecamatan paloh adalah linear atau memanjang yang terbangun mengikuti arah jalan. sebagian besar jalan lokal ini sudah berada pada kawasan APL dengan panjang 110,35 km (79%) yang membuat permukiman yang terbangun di dalam kawasan hutan memiliki luas yang rendah karena perkembangan permukiman di Kecamatan Paloh terjadi di sepanjang jalan. Berdasarkan analisis tetangga terdekat semua desa yang ada di Kecamatan Paloh menunjukkan pola sebaran yg mengelompok dengan nilai T semua desa yg berada di bawah 0,71.
Dampak Perubahan Luas Tutupan Lahan Terhadap Stok Karbon di Kecamatan Paloh Irsan, Robby; Izdihaar, Januar Reyhan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 12, No 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v12i4.81135

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk mendorong aktivitas masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dengan mengubah fungsi dari suatu lahan. Kecamatan Paloh merupakan wilayah yang memiliki wilayah hutan yang dominan berada di Desa Sebubus dengan luas 7.090 ha dan berdasarkan penelitian sebelumnya telah terjadi penurunan luas tutupan lahan hutan di kecamatan ini. Perubahan luas tutupan lahan khususnya tutupan lahan hutan akan berdampak pada besaran stok karbon yang tersimpan pada suatu wilayah karena tutupan lahan hutan memiliki fungsi penting dalam menyimpan cadangan karbon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak perubahan luas tutupan lahan kepada besaran stok karbon di Kecamatan Paloh. Luas setiap kelas tutupan lahan diperoleh menggunakan metode klasifikasi citra dan perhitungan perubahan stok karbon dilakukan menggunakan metode stock difference method. Berdasarkan hasil penelitian, telah terjadi penurunan stok karbon sebesar 91.708 ton atau 2,03 % selama periode waktu 5 tahun dari Tahun 2018-2023 yang diakibatkan oleh penurunan luas hutan sekunder dan hutan mangrove sekunder. Terjadi peningkatan luas untuk kelas tutupan lahan perkebunan sebesar 24,45 %, yang membuat cadangan karbon meningkat sebesar 142.987 ton.  
Studi Penentuan Indeks Kualitas Air (IKA) Menggunakan Metode Indeks Pencemaran (IP) di Sungai Tempayan, Kabupaten Kubu Raya Aulia, Nabila Shafa; Irsan, Robby; Saziati, Ochih
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 12, No 4 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v12i4.83068

Abstract

Kualitas air sungai merupakan suatu kondisi air yang dilihat dari karakteristik fisik, kimiawi, dan biologis. Sungai Tempayan adalan sungai yang digunakan masyarakat sekitar untuk aktivitas yang bersifat non konsumsi. Pemantauan kualitas air sungai perlu dilakukan untuk mengevaluasi terjadinya perubahan lingkungan yang berpengaruh bagi kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pengaruh dari aktivitas masyarakat dan menganalisa Indeks Kualitas Air di Sungai Tempayan Kabupaten Kubu Raya. Penelitian ini menggunakan metode IP (Indeks Pencemaran). Baku mutu mengacu pada Peraturan Pemerintah No 22 Tahun 2021 kelas II. Hasil dari inventarisasi menunjukkan sumber pencemaran di Sungai Tempayan berasal dari limbah domestik, perkebunan sawit, dan permukiman. Berdasarkan hasil perhitungan IP, status mutu air di semua titik menunjukkan kondisi tercemar sedang. Sedangkan IKA Sungai Tempayan memasuki kategori tercemar sedang.  
THE CARRYING CAPACITY ON ECOSYSTEM SERVICES OF LAND USE CHANGE AT BORDER ENTIKONG Robby Irsan; Luthfi Muta'ali; S Sudrajat
Geosfera Indonesia Vol. 3 No. 2 (2018): GEOSFERA INDONESIA
Publisher : Department of Geography Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/geosi.v3i2.7896

Abstract

Entikong Region is located in Sanggau Regency, West Kalimantan Province, Indonesia, which is directly adjacent to Malaysia. Land use in the Border Area, which is massive and irregular, results in environmental degradation, deculturization, and lack of living standards of the community. High population growth in the border areas leads to excessive use of natural resources, and used land is not appropriately allocated. The land has limited function, and if the demand for the land is greater than the carrying capacity, there will be an imbalance that results in land degradation and its environment. The purpose of this study is to identify the type and extent of land function switch, analyze provider services as part of the Land Support Capacity Ecosystem services, and identify the Accuracy of Image Interpretation. The results showed that the increasing area of massive land use comes from a mixed plantation in 2017 increased by 60.6% of the total area of Entikong District. Degradation occurs in primary forest land use component which is only 18.6% of Entikong's total area in 2017. This indicates that the use of mixed plantation land acquires the protected forest, with many palm, rubber, and pepper. Similarly, the percentage of accuracy test from the interpretation result reaches 83.33% from 42 sample points in accordance with the real conditions. The Value of Clean Water Ecosystem Service Providers in 2011 was 0.36 and was 0.33 in 2017. Then within the period of almost 7 years, it is decreased by 0.03. Thus, the Ecosystem Service Index of clean water providers has a value less than 1, it means the function of the area as a provider of clean water is very small. Similarly, the Provider Ecosystem Services Index for Foodstuffs, the Value of Food Ecosystem Services Index in 2011 was 0.32 and was 0.31 in 2017, then within the nearly 7-year period, it is decreased by 0.01. The ecosystem services index as a food supply provider for the Entikong border area is very low (less than 1) which means the carrying capacity of the environment is not good enough for supplying food needs in Entikong. This indicates that there is a reduction in the availability of environmental services, and if it continues, then Environmental Assets declines sharply and services derived from nature will be lost or will be expensive in the near future. Thus, optimization and revitalization of land use are necessary by applying various policies related to development in the border area in Entikong District. Keywords: Borders, Land Use, Ecosystem Provider Services. References Admadhani, D. N., Hajil, A. H. S., & Susanawati, L. D. (2013). Analysis of Water Supply and Water Demand for Carrying Capacity Assessment ( Case Study of Malang ). Journal of Natural Resources and Environment. Asdak, C., & Salim, H. (2006). Water Resource Capacity As a Spatial Planning Consideration. Journal of Environmental Engineering P3TL-BPPT. Ernan Rustiadi, Sunsus Saefulhakim, D. R. P. (2011). Planning and Regional Development. Restpent Press. Ghozali. (2013). Referral of Land Use Utilization Through Ecological Footprint in Gresik Regency. Territory and Environment, 1 No.1, 67–78. Hamidy, Z. (2003). Land Cover Change, Composition, and Life Type in Suakaidupan Cikepuh. Faculty of Forestry, IPB. Muta’ali, L. (2015). Regional Analysis Techniques For Regional Planning, Spatial Planning, and Environment (Februari). Yogyakarta: Faculty of Geography UGM. National Standardization Department. (2010). Classification of Land Cover. Purwadhi. (2008). Introduction Remote Sensing Imagery Interpretation. Semarang: LAPAN. Riqqi, A. (2014). Design Concept Techniques Determination of Supporting Capacity and Capacity of the National Environment and Islands / Islands And Provinces. Bali: KLH. Saripin, I. (2003). Identify Land Use Using Landsat TM Imagery. Agricultural Engineering Bulletin. Varika. (2015). Monitoring of Ecosystem Service-Based Ecotourism (Recreation and Ecotourism) Capacity in 2000 and 2015 Using Landsat Image in Badung Regency, Bali. Viska. (2012). Land Use Direction in Batu City Based on Ecological Ecosystem Approach. Pomits Technique, 1 No.1, 1–6. Copyright (c) 2018 Geosfera Indonesia Journal and Department of Geography Education, University of Jember Copyright Notice This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Share A like 4.0 International License
THE LAND USE PRIORITY RANKING WITH THE APPROACH OF ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) ON THE BOUNDARY OF ENTIKONG Robby Irsan; Luthfi Muta'ali; S Sudrajat
Geosfera Indonesia Vol. 3 No. 2 (2018): GEOSFERA INDONESIA
Publisher : Department of Geography Education, University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/geosi.v3i2.8047

Abstract

Entikong is a sub-districts located in the borderline, northern end of Sanggau Regency directly adjacent to Sarawak, Malaysia. The growth of Entikong as a center of growth does not provide a downward trickle effect, but it creates an excessive resources exploitation effect to the surrounding area (backwash effect). The land use within an area should be adjusted to its function. For that reason, this research will determine the priority and rank of land use by using the Analytic Hierarchy Process (AHP). The ranking is based on four aspects of criteria; social, economic, institutional, and environmental. The hierarchy model is sorted into alternatives, criteria, and sub-criteria. The criteria and subcriteria are compared, as well as the value of consistency. After data processing and analyzing with Expert Choice software version 11, the researcher found that the main priority of land use in Entikong is for plantation, which is 29,7%. Keywords: AHP, Land Use, Expert Choice References Adimihardja, A. (2006). Strategi mempertahankan multifungsi pertanian di indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. Bourgeois, R., Penunia, E., Bisht, S., & Boruk, D. (2017). Foresight for all: Co-elaborative scenario building and empowerment. Technological Forecasting and Social Change. https://doi.org/10.1016/j.techfore.2017.04.018 Ernan Rustiadi, Sunsus Saefulhakim, D. R. P. (2011). Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Restpent Press. Fandelli, C. (2014). Bisnis Konservasi Pendekatan Baru Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup (2nd ed.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Retrieved from http://ugmpress.ugm.ac.id/id/product/sains-teknologi/bisnis-konservasi-pendekatan-baru-dalam-pengelolaan-sumberdaya-alam-dan-lingkungan-hidup Giyarsih, S. R. (2010). POLA SPASIAL TRANSFORMASI WILAYAH DI KORIDOR YOGYAKARTA-SURAKARTA Spatial Pattern of Regional Transformation In Yogyakarta-Surakarta Corridor. Forum Geografi. Hidayat, W., Rustiadi, E., & Kartodihardjo, H. (2015). Dampak Pertambangan Terhadap Perubahan Penggunaan Lahan dan Kesesuaian Peruntukan Ruang (Studi Kasus Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan). Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota. https://doi.org/10.5614/jpwk.2015.26.2.5 IPCC. (2000). Land Use, Land-Use Change, and Forestry. Forestry. https://doi.org/DOI: 10.2277/0521800838 Ishartono & Raharjo, S. T. (2015). Sustainable Development Goals (SDGs) Dan Pengentasan Kemiskinan. Social Work Jurnal. https://doi.org/ttps://doi.org/10.24198/share.v6i2.13198 Prawira, N. G. A., & Ariastita, P. G. (2014). Rumusan Insentif dan Disinsentif Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Gianyar. Jurnal Teknik Pomits. Saaty, T. L. (2008). Decision making with the analytic hierarchy process. International Journal of Services Sciences. https://doi.org/10.1504/IJSSCI.2008.017590 Copyright (c) 2018 Geosfera Indonesia Journal and Department of Geography Education, University of Jember Copyright Notice This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Share A like 4.0 International License