Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

PKM “Senja Berganti” Sebagai Upaya Pencegahan Stunting Sejak Remaja Dani Prastiwi; Dewi Nugraheni Restu Mastuti; Remilda Armika Vianti; M. Adnan Firdaus; Indi Laudya Margarettha; Dicky Aditia Saputra
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/xtjjx508

Abstract

Stunting didefinisikan sebagai kondisi status gizi balita yang memiliki panjang atau tinggi badan yang tergolong kurang jika dibandingkan dengan umur dimana pengukuran dilakukan menggunakan standar petumbuhan anak dari WHO, yaitu dengan interpretasi stunting jika lebih dari minus dua standar deviasi median (Widanti, 2016). Stunting patut mendapat perhatian lebih karena dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, terutama risiko gangguan perkembangan fisik dan kognitif apabila tidak segera ditangani dengan baik (Angraini et al., 2021). Prevalensi kejadian stunting di Kota Pekalongan tahun 2024 sebesar 17,68%. Pemerintah Kota Pekalongan menargetkan penurunan lebih lanjut hingga mencapai 12%. Intervensi untuk mencegah terjadinya peningkatan prevalensi stunting dapat dilakukan pada siklus daur hidup di tahap remaja. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi sejak dini, agar remaja memiliki persiapan sebagai calon ibu. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan di MAN 1 Kota Pekalongan dengan melibatkan 48 remaja putri. Peningkatan pengetahuan remaja akan dilakukan dengan pendekatan studi kasus, diskusi kelompok, ceramah dan simulasi. Hasil: Terjadi peningkatan skor pengetahuan 40,89 antara sebelum dan sesudah pemberian edukasi. Simpulan: Edukasi sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang stunting.
Analisis Potensi Bahaya dengan Menggunakan Metode (JSA) pada Pekerja di Ruang Produksi Departemen Spining I PT Kabana Textile Industries Kab Pekalongan : Analysis of Potential Hazards Using the Method (JSA) for Workers in the Production Room of the Spining I Departmen PT Kabana Textile Industries, Pekalongan Jaya Maulana Jaya Maulana; Ristiawati Ristiawati; Dewi Nugraheni Restu Mastuti Dewi Nugraheni Restu Mastuti; Bondan Tetuka wijatnaka; Hairil Akbar
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 4 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i4.3269

Abstract

Latar belakang: PT. Kabana Textile Industri terletak di Jalan Raya Spait km 10 Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah, merupakan perusahaan pemintalan yang berada di pekalongan yang dalam prosesnya mengedepankan manajemen mutu yang sesuai dengan standar ISO 9001. Produksi yang dihasilkan PT. Kabana Textile Industri adalah benang. Mulai dari polyster, rayon dan benang campuran tetiron. Kapasitas produksi benang per bulan PT. Kabana Textile Industries sebanyak 4.000 bale. Di unit spining 1 menggunakan alat-alat canggih yang dalam penggunaannya bisa menimbulkan potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja seperti tangan tergores, tangan terjepit, tertimpa benda yang berat, tubuh tertubruk benda berat, terjatuh dari ketinggian, serta terpeleset yang dapat mengakibatkan risiko luka gores, luka memar, luka serius, patah tulang atau bahkan dapat menyebabkan kematian. Karena itu, diperlukan adanya analisis potensi bahaya dan risiko untuk meminimalisir kecelakaan kerja yaitu dengan metode Job Safety Analysis (JSA). Dalam metode ini, potensi bahaya dan risiko di nilai tingkat risikonya. Penilaian risiko terdiri dari low risk, medium risk, high risk, hingga extreme risk. Berdasarkan hasil pengolahan data menggunakan metode ini, terdapat beberapa langkah pekerjaan yang menimbulkan risiko yang extreme seperti lua serius yang dapat menyebabkan kematian serta patah tulang. Sehingga diperlukan tindakan pengendalian seperti memberikan pelatihan kepada pekerja sebelum pekerja emlakukan pekerjaannya agar pekerjaannya dapat berjalan dengan baik dan benar serta menggunakan alat pelindung diri (APD) secara lengkap.
Determinants of the Utilization of Integrated Primary Care Services (ILP) Posyandu Among Older Adults in East Pekalongan District in 2026 Sabrina Amna Fazaira; Ardiana Priharwanti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
Jurnal Kesmas Prima Indonesia Vol. 10 No. 2 (2026): July Edition
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jkpi.v10i2.8664

Abstract

Integrated Primary Care Services (ILP) Posyandu is a community-based health program designed to improve the health status of older adults through integrated, comprehensive, and continuous healthcare services. However, the utilization of ILP Posyandu among older adults in East Pekalongan District remains suboptimal due to various predisposing, enabling, and reinforcing factors. This study aimed to analyze the determinants of ILP Posyandu utilization among older adults in East Pekalongan District in 2026. A quantitative analytical study with a cross-sectional design was conducted involving 99 older adults selected through purposive sampling with proportional distribution across urban villages. Data were collected using a validated and reliable structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test and binary logistic regression. The results showed that the availability of healthcare facilities (p = 0.000), access to healthcare service locations (p = 0.003), family support (p = 0.001), and community health volunteer (cadre) support (p = 0.000) were significantly associated with ILP Posyandu utilization. In contrast, healthcare resources (p = 0.466) were not significantly associated with utilization. Multivariate analysis identified the availability of healthcare facilities (p = 0.024; Exp(B) = 0.272) and community health volunteer (cadre) support (p = 0.012; Exp(B) = 0.225) as the most influential determinants. Strengthening healthcare facilities and community health volunteer support is recommended to improve ILP Posyandu utilization.
Implementasi Program Intervensi Gizi Spesifik dalam Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kusuma Bangsa, Kota Pekalongan pada Tahun 2025 Erinda Keysha Mardiarini; Ardiana Priharwanti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11694

Abstract

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan secara komprehensif karena berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang Kota Pekalongan, khususnya wilayah kerja Puskesmas Kusuma Bangsa, upaya percepatan penurunan stunting dilakukan melalui berbagai program intervensi gizi spesifik yang melibatkan tenaga kesehatan, kader Posyandu, serta masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi program intervensi gizi spesifik dalam upaya percepatan penurunan stunting menggunakan model evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi dengan informan yang terdiri atas petugas gizi, kader Posyandu, ibu hamil, ibu yang memiliki balita, serta remaja putri. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek konteks, program telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam upaya penurunan stunting. Dari aspek input, tersedia sumber daya manusia, sarana prasarana, serta dukungan anggaran yang relatif memadai, meskipun masih terdapat beberapa keterbatasan. Dari aspek proses, pelaksanaan program meliputi pemberian makanan tambahan, edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan balita, imunisasi, pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta pendampingan keluarga berisiko stunting yang telah berjalan sesuai pedoman. Dari aspek produk, program memberikan dampak positif berupa meningkatnya pengetahuan masyarakat, kepatuhan terhadap pelayanan kesehatan, serta perbaikan status gizi balita, meskipun masih ditemukan beberapa kasus stunting. Disimpulkan bahwa implementasi program intervensi gizi spesifik di Puskesmas Kusuma Bangsa telah berjalan cukup baik, namun diperlukan peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan sumber daya, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan untuk mengoptimalkan percepatan penurunan stunting.
Evaluasi Program RVS (Rapid Village Survey) dalam Pengendalian Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Kusuma Bangsa Kota Pekalongan Tahun 2025 Evia Fardiana; Ardiana Priharwanti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11719

Abstract

Kusta (Morbus Hansen) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius karena dapat menyebabkan kecacatan permanen dan stigma sosial apabila tidak ditemukan serta ditangani sejak dini. Kota Pekalongan merupakan salah satu wilayah endemis kusta di Jawa Tengah, dengan kasus aktif meningkat dari 43 kasus pada tahun 2024 menjadi 74 kasus pada tahun 2025, sementara hanya sekitar 50% masyarakat mampu mengenali gejala awal kusta. Kondisi ini mendorong Puskesmas Kusuma Bangsa melaksanakan Program Rapid Village Survey (RVS) sebagai strategi penemuan kasus aktif dalam mendukung deteksi dini. Penelitian bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Program RVS dalam pengendalian kusta di wilayah kerja Puskesmas Kusuma Bangsa menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive sampling, terdiri dari kepala puskesmas, petugas program kusta, dan masyarakat sebagai informan triangulasi. Aspek context mencakup kondisi kasus kusta, kebutuhan program, kebijakan, dan dukungan masyarakat; input meliputi sumber daya manusia, anggaran, sarana prasarana, metode, dan dukungan sosial; process menilai pelaksanaan kegiatan RVS di lapangan; dan product melihat hasil serta dampak program terhadap deteksi dini kusta. Hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran menyeluruh mengenai pelaksanaan program beserta faktor pendukung dan penghambatnya, sebagai masukan bagi Puskesmas Kusuma Bangsa dalam meningkatkan efektivitas pengendalian kusta melalui penguatan sumber daya, peningkatan partisipasi masyarakat, serta optimalisasi deteksi dini.
Analisis Pola Keparahan Underweight pada Balita Berdasarkan Variabel Host-Environment di Kota Pekalongan Tahun 2026 Sabrina Nisa Anfalla; Ardiana Priharwanti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11732

Abstract

Masalah gizi kurang, khususnya underweight, masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius di Kota Pekalongan, terutama pada wilayah pesisir yang memiliki berbagai tantangan lingkungan dan sosial ekonomi. Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan dan perkembangan balita apabila tidak ditangani secara tepat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pola keparahan underweight pada balita di Kota Pekalongan Tahun 2026 berdasarkan pendekatan host-environment. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita underweight yang terdaftar dalam Program GENTING Kota Pekalongan sebanyak 935 balita, dengan sampel 87 balita yang dipilih menggunakan teknik proportionate random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur, observasi lapangan, wawancara singkat, serta pengukuran antropometri. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 balita (59,8%) mengalami underweight sedang dan 35 balita (40,2%) mengalami underweight berat. Faktor host yang berhubungan signifikan dengan tingkat keparahan meliputi BBLR (p<0,001; OR=5,40), diare (p=0,003; OR=6,14), cacingan (p<0,001; OR=19,57), pola pemberian makan (p=0,002; OR=4,62), tingkat pengetahuan ibu tentang gizi anak (p=0,036; OR 2.675), dan pendapatan keluarga (p<0,001; OR=6,37). Sementara itu, faktor environment yang berhubungan signifikan meliputi sanitasi rumah (p=0,001; OR=4,97), sumber air bersih (p=0,001; OR=4,72), dan kepemilikan aset (p=0,034; OR=3,93). Imunisasi (p=0,289), ISPA (p=0,278), dan bantuan sosial (p=0,088) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disimpulkan bahwa keparahan underweight pada balita dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, sosial ekonomi, dan lingkungan, sehingga diperlukan intervensi terpadu lintas sektor yang berfokus pada perbaikan status gizi, pencegahan penyakit infeksi, serta peningkatan kualitas lingkungan dan kesejahteraan keluarga.
Studi Komparatif Implementasi Gerakan CANTIK di Puskesmas Stunting Tinggi dan Rendah Kabupaten Pekalongan Any Ayu Arrohmah; Yuniarti Yuniarti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti; Wahyuningsih Wahyuningsih
SEHATI: Jurnal Kesehatan Vol 6, No 2 (2026)
Publisher : Pelantar Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52364/sehati.v6i2.257

Abstract

The implementation of the CANTIK movement in Pekalongan Regency leaves disparities between Community Health Centers (Puskesmas). Bojong 1 Community Health Center (low stunting) is able to transform the seven theoretical variables into adaptive local practices, while Siwalan Community Health Center (high stunting) still faces systemic weaknesses. This study aims to examine the seven theoretical variables. The method used is a qualitative, descriptive comparative case study approach, comparing Siwalan Community Health Center and Bojong 1 Community Health Center descriptively to enrich the findings. Data collection through observation, in-depth interviews with 12 key informants, and documentation. The results show that the implementation of CANTIK is effective in Bojong 1 Community Health Center because the standards and goals/targets are clearly understood, communication is structured and adaptive, cadres are trained, budget is available, task division is clear, there is no double job, commitment and strong internal support, structured administrative procedures, flexible and adaptive bureaucracy, as well as responsive political support and low myth resistance. On the other hand, the Siwalan Community Health Center faces serious obstacles such as cadres not understanding the movement, inconsistent targets, SOPs not anticipating referral rejections, communication constraints, lack of sustainability of sector collaboration, Villages not allocating Village Funds (ADD), uneven availability/quality of resources (anthropometric tools, educational media), demotivation due to rewards not commensurate with work, late reporting, low participation and strong traditions/myths. In conclusion, the success of the program is determined by the ability to transform central policies into adaptive local practices. Therefore, it is necessary to map the capacity of cadres in Siwalan, Village advocacy regarding Village Fund allocation for interventions, cadre incentives, and equipment maintenance, provide simple daily record templates, cultural approaches/key figures, while in Bojong 1 document best practices
The Role of Posyandu Cadres in the Integrated Implementation of Specific and Sensitive Nutrition Interventions for Stunting Reduction at the South Pekalongan Health Center Chelsy Rachel; Yuniarti Yuniarti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
Jurnal Kesmas Prima Indonesia Vol. 10 No. 2 (2026): July Edition
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Prima Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/jkpi.v10i2.8665

Abstract

Stunting masih menjadi tantangan gizi utama di Indonesia. Puskesmas Pekalongan Selatan mencatat prevalensi stunting sebesar 7,70% pada awal tahun 2025, yang menyoroti perlunya intervensi gizi terpadu yang spesifik dan sensitif yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kader posyandu . Studi ini bertujuan untuk menganalisis peran kader posyandu dalam mengimplementasikan intervensi gizi terpadu untuk mengurangi stunting. Pendekatan deskriptif kualitatif digunakan dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan Model Keyakinan Kesehatan (Health Belief Model/HBM), yang berfokus pada efikasi diri dan hambatan yang dirasakan, bersamaan dengan teori implementasi kebijakan Edward III yang menekankan komunikasi dan sumber daya. Temuan menunjukkan bahwa peran kader posyandu secara umum efektif tetapi masih suboptimal. Beberapa kader melaporkan kepercayaan diri yang terbatas dalam menjalankan tanggung jawab tertentu, sementara beban kerja yang tinggi dan partisipasi masyarakat yang rendah menghambat implementasi program. Tantangan komunikasi, termasuk miskomunikasi sesekali di antara pemangku kepentingan, juga memengaruhi penyampaian layanan. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia karena meningkatnya tuntutan program dan langkah-langkah efisiensi anggaran membatasi optimalisasi program. Penguatan kapasitas kader, peningkatan komunikasi, peningkatan partisipasi masyarakat, dan memastikan alokasi sumber daya yang memadai sangat penting untuk meningkatkan efektivitas intervensi gizi terpadu dan mempercepat upaya pengurangan stunting.
Evaluasi Pelaksanaan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Berbasis Model CIPP di Kota Pekalongan Galuh Dian Pratiwi; Yuniarti; Dewi Nugraheni Restu Mastuti
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 6 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i6.1564

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Pekalongan, termasuk di Kelurahan Jenggot dan Kelurahan Panjang Wetan, sehingga pelaksanaan Program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan Program DASHAT menggunakan model Context, Input, Process, dan Product (CIPP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Populasi penelitian adalah seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program DASHAT, dengan 15 informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025–Maret 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuan dan sasaran program telah sesuai dengan kebutuhan keluarga berisiko stunting, namun pelaksanaannya belum optimal akibat keterbatasan sarana prasarana dan jumlah kader, partisipasi keluarga sasaran, serta faktor lingkungan. Program memberikan manfaat berupa peningkatan pengetahuan gizi keluarga dan pemanfaatan pangan lokal, meskipun perbaikan status gizi belum merata. Evaluasi menggunakan model CIPP menunjukkan bahwa Program DASHAT telah mendukung upaya percepatan penurunan stunting, namun efektivitas pelaksanaannya masih perlu ditingkatkan melalui penguatan sarana prasarana, kapasitas kader, serta pendampingan keluarga secara berkelanjutan.