Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Durasi dan Prilaku Penggunaan Computer dan Smartphone terhadap Keluhan Computer Vision Syndrom (CVS) pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Riau Riovano Syah Anaris; Sofiana Nurchayati; Ade Dilaruri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.943

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan teknologi digital meningkatkan penggunaan Computer dan smartphone pada mahasiswa. Penggunaan dalam durasi lama dan tidak ergonomis dapat menyebabkan Computer vision syndrome (CVS) seperti mata lelah, mata kering, penglihatan kabur, sakit kepala, dan nyeri leher. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan durasi dan perilaku penggunaan Computer dan smartphone dengan keluhan CVS pada mahasiswa Keperawatan Universitas Riau. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional pada 62 responden yang dipilih secara simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dan CVS-Q, dengan analisis Chi-Square (α = 0,05). Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami keluhan CVS sebanyak 39 responden (62,9%). Mayoritas responden menggunakan smartphone dengan durasi tinggi dan Computer dengan durasi sedang, serta sebagian besar menggunakan Computer dan smartphone pada jarak tidak ideal. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan Computer dengan CVS (p-value = 0,009), durasi penggunaan smartphone dengan CVS (p-value = 0,049), jarak pandang penggunaan Computer dengan CVS (p-value = 0,027), dan jarak pandang penggunaan smartphone dengan CVS (p-value = 0,011). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara durasi dan perilaku penggunaan Computer dan smartphone dengan keluhan CVS pada mahasiswa Keperawatan Universitas Riau. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama durasi penggunaan perangkat digital dan semakin tidak ideal jarak pandang yang digunakan, maka semakin tinggi risiko terjadinya CVS.
Hubungan Tingkat Resilience dengan Tingkat Depresi Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi Putri Rahmadani; Sofiana Nurchayati; Novita Kusumarini
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.689

Abstract

Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi sering mengalami dampak psikologis, salah satunya tingkat depresi. Resilience merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali dalam menghadapi tekanan akibat penyakit dan proses pengobatan. Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi sering mengalami masalah emosional, fisik, hingga psikososial dikarenakan efek samping yang dirasakan dari kemoterapi, tekanan atau stres yang berkepanjangan dapat memicu munculnya depresi, mengingat tingkat depresi adalah masalah psikologis yang sering terjadi pada pasien kemoterapi dan akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien serta kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia dewasa akhir (52,1%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (91,8%), memiliki tingkat pendidikan menengah (82,2%), dan memiliki riwayat keluarga mengalami kanker (65,8%). Sebagian besar responden berada pada kategori resilience tinggi (84,9%), sedangkan resilience sedang (15,1%). Gambaran tingkat depresi menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori depresi minimal (45,2%), diikuti depresi ringan (35,6%) dan depresi sedang (19,2%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi (p =0,000), disimpulkan ada hubungan tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Pasien dan keluarga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya resilience dalam menghadapi proses pengobatan kemoterapi.
Hubungan Tingkat Resilience dengan Tingkat Depresi Pada Pasien Kanker Payudara yang Menjalani Kemoterapi Putri Rahmadani; Sofiana Nurchayati; Novita Kusumarini
Indo Green Journal Vol. 4 No. 3 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i3.689

Abstract

Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi sering mengalami dampak psikologis, salah satunya tingkat depresi. Resilience merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi, bertahan, dan bangkit kembali dalam menghadapi tekanan akibat penyakit dan proses pengobatan. Pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi sering mengalami masalah emosional, fisik, hingga psikososial dikarenakan efek samping yang dirasakan dari kemoterapi, tekanan atau stres yang berkepanjangan dapat memicu munculnya depresi, mengingat tingkat depresi adalah masalah psikologis yang sering terjadi pada pasien kemoterapi dan akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien serta kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 73 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) yang telah dilakukan uji validitas dan reabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia dewasa akhir (52,1%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (91,8%), memiliki tingkat pendidikan menengah (82,2%), dan memiliki riwayat keluarga mengalami kanker (65,8%). Sebagian besar responden berada pada kategori resilience tinggi (84,9%), sedangkan resilience sedang (15,1%). Gambaran tingkat depresi menunjukkan sebagian besar responden berada pada kategori depresi minimal (45,2%), diikuti depresi ringan (35,6%) dan depresi sedang (19,2%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi (p =0,000), disimpulkan ada hubungan tingkat resilience dengan tingkat depresi pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi. Pasien dan keluarga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya resilience dalam menghadapi proses pengobatan kemoterapi.