Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Multi-Stakeholder Engagement in Urban Sustainability Fritz Akhmad Nuzir; Okta - Ainita; Kustiani - -; Aulia - Rahmawati; Aditya Mahatidanar Hidayat; Muhammad - Ardiansyah
Jurnal Arsitektur Vol 16, No 2 (2026): Juli
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/ja.v16i2.4717

Abstract

Multi-stakeholder engagement is an important approach in realizing urban sustainability, especially in the implementation of the United Nations Reports in the 2030 Agenda (Beisheim & Simon, 2015). Collaborative governance must support cross-sector participation in addressing the complexity of urban challenges together (Ansell & Gash, 2008)(Emerson et al., 2012). This study aims to analyze the practice of multistakeholder collaboration in sustainable urban development in Lampung Province and evaluate the shift of multi-stakeholder forums from dialogue to impactful action initiatives. This study also highlights good practices from local institutions that have consistently applied GEDSI principles in program planning and implementation. The research method used is a descriptive qualitative approach (case study). Lampung Province was chosen as the research location because it demonstrates quite active multistakeholder forum activity and has implemented sustainable development programs such as Communal Sanitation, Green and Independent Housing (H2M), and community initiatives in waste management (disperkim, 2024)(biroadpim.lampungprov.go.id, 2025)(Haluan, 2022).  The findings of this study include the transformation of collaborative action outputs between the Multi-stakeholder Forum, the role of government and local policy dynamics in the forum and data, collaboration between communities and the private sector, the application of GEDSI principles in development governance, and strengthening documentation and the role of the media. Suggestions for enhancing the multistakeholder forum encompass formal legalization, collective accountability, incorporations of GEDSI principles, and proactive engagement of the media, communities, and academics. The local government also contributes by offering continuous support to collaborator to guarantee contextual and inclusive solutions.
Pendampingan Penyusunan Perencanaan Strategis Wilayah Berbasis Partisipasi Berdasarkan Potensi dan Kerentanan Wilayah Pesisir Kelurahan Pesawahan Kota Bandar Lampung Aulia Rahmawati; Fritz Akhmad Nuzir; Kustiani Kustiani; Aditya Mahatidanar; Okta Ainita; M Denu Poyo
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 4 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i4.963

Abstract

Introduction: Urban coastal areas possess significant development potential but also face various development challenges. Pesawahan Village, Bandar Lampung City, is one of the coastal areas that has considerable local economic potential, strong social capital, and opportunities for community-based tourism development. However, environmental, social, and economic problems remain major obstacles to achieving sustainable regional development. Community involvement in the development planning process is essential to ensure that development programs are formulated in accordance with local needs and regional characteristics Objective: This community service program aimed to enhance community capacity in preparing participatory strategic regional planning by integrating the potentials and vulnerabilities of coastal areas as the basis for determining development priorities in Pesawahan Village, Bandar Lampung City. Method: The community service activities were carried out using a participatory approach through field observations, Focus Group Discussions (FGDs), participatory mapping, training sessions, and community mentoring. Result: The assistance program successfully identified the existing conditions of the study area, including environmental infrastructure issues, tidal flood vulnerability, local economic potential, tourism potential, and the capacity of community institutions. Through Focus Group Discussions (FGDs) and participatory mapping, community members successfully developed maps of regional potentials and vulnerabilities, which served as the basis for preparing the strategic regional planning document. In addition, the community formulated several development priorities, including drainage improvement, environmental enhancement, the development of UMKM, and community-based tourism development. These outputs were compiled into a participatory regional action plan document containing analyses of local potentials, regional vulnerabilities, and development priorities, which serves as a reference for sustainable development in the coastal area. Conclusion: Assistance in the preparation of participatory strategic regional planning was effective in enhancing community capacity and participation in local development planning processes. The integration of regional potential identification, coastal vulnerability analysis, and participatory action plan formulation contributed to the development of planning directions that better reflect community needs. Furthermore, the program strengthened community commitment to supporting inclusive, adaptive, and sustainable development in coastal areas.
DAMPAK IMPLEMENTASI PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH) TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MISKIN DI KECAMATAN KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG Eka Ubaya Taruna Rauf; Malik Malik; Aulia Rahmawati; Wisnaningsih Wisnaningsih
JURIST: Jurnal Ilmu Hukum dan Ilmu Politik Vol. 1 No. 1 (2024): JURIST: Jurnal Ilmu Hukum dan Ilmu Politik
Publisher : PT. Inovasi Sains Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67980/km9mca87

Abstract

Desain penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif kualitatif. Desain penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara kualitatif Implementasi Kebijakan Program Keluarga Harapan dalam Meringankan Beban Masyarakat Miskin di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan Program Keluarga Harapan dalam meringankan beban masyarakat miskin di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung telah terlaksana melalui dimensi yaitu, (a) Faktor komunikasi, (2) Faktor sumber daya manusia, pelaksana/pendamping, (3) Disposisi/sikap pelaksana, (4) Struktur birokrasi secara umum sudah berjalan dengan baik meskipun belum optimal karena masih ada aspek yang belum berjalan optimal. Aspek yang menghambat implementasi kebijakan Program Keluarga Harapan dalam meringankan beban masyarakat miskin di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung yaitu (a) Aspek komunikasi, program belum tersosialisasi dengan baik (b) Kurangnya sumber daya manusia yang berkualitas dalam implementasi kebijakan (c) Belum adanya pengawasan terhadap implementasi program dengan baik.
Transformasi Pelayanan Public Melalui E-Government Pada Pelayanan Perizinan Di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandar Lampung Alvido Iman Saputra; Aulia Rahmawati
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 3 No. 6 (2026): NJMS - Januari 2026
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan publik yang masih dilakukan secara manual kerap menghadapi berbagai kendala seperti proses yang lambat, antrean panjang, serta ketergantungan tinggi pada keberadaan pegawai. Kondisi ini juga dialami oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bandar Lampung sebelum diterapkannya layanan digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pelayanan publik melalui penerapan sistem E-Government berbasis OSS-RBA dan aplikasi Sai Betik sebagai upaya mewujudkan pelayanan perizinan yang lebih efektif, efisien, dan transparan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem digital telah menyederhanakan alur pelayanan, mempercepat proses penerbitan izin, serta meningkatkan koordinasi antarbidang melalui integrasi vertikal dan horizontal. Meskipun demikian, masih ditemukan kendala pada aspek literasi digital masyarakat dan kesiapan sumber daya aparatur. Secara keseluruhan, implementasi E-Government di DPMPTSP Kota Bandar Lampung telah membawa perubahan signifikan menuju pelayanan publik yang modern, efisien, dan akuntabel
Gender Mainstreaming dalam Penguatan Ekonomi Sirkular melalui Pengelolaan Sampah di Bank Sampah Emak.id Ananda A. Putri; Aulia Rahmawati
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 3 No. 6 (2026): NJMS - Januari 2026
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular semakin penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, salah satunya melalui bank sampah berbasis komunitas. Perempuan sering menjadi aktor utama dalam pengelolaan bank sampah, namun tingginya partisipasi belum tentu mencerminkan pemberdayaan yang substantif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi gender mainstreaming dalam pengelolaan Bank Sampah Emak.id di Provinsi Lampung. Analisis dilakukan menggunakan kerangka pemberdayaan yang mencakup dimensi akses, agensi, dan capaian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki partisipasi tinggi pada level operasional, namun akses terhadap sumber daya strategis dan jaringan pasar masih terbatas. Selain itu, agensi perempuan dalam pengambilan keputusan organisasi belum optimal. Kondisi tersebut berdampak pada capaian ekonomi sirkular yang belum menghasilkan nilai tambah yang signifikan dan berkelanjutan. Penelitian ini menegaskan bahwa partisipasi numerik tidak otomatis berarti pemberdayaan.
Implementasi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai Penunjang Pencegahan Stunting di Puskesmas Palapa, Kota Bandar Lampung Ade Irma Ardinur; Aulia Rahmawati
Nusantara Journal of Multidisciplinary Science Vol. 3 No. 6 (2026): NJMS - Januari 2026
Publisher : PT. Inovasi Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia, termasuk di wilayah Puskesmas Palapa, Kota Bandar Lampung, yang menunjukkan adanya balita underweight dan stunting meskipun akses layanan kesehatan relatif baik. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai intervensi gizi spesifik untuk pencegahan stunting di Puskesmas Palapa dengan menggunakan teori implementasi kebijakan George C. Edwards III (komunikasi, sumber daya, disposisi, struktur birokrasi). Pendekatan kualitatif deskriptif dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan informan utama (kepala puskesmas, ahli gizi, kader posyandu, dan orang tua penerima PMT). Temuan menunjukkan bahwa implementasi PMT belum optimal dan cenderung kurang efektif karena: (1) komunikasi ke sasaran belum efektif sehingga tujuan pencegahan stunting kurang dipahami, (2) keterbatasan sumber daya manusia (tenaga gizi dan kader) menyebabkan pendampingan serta pemantauan konsumsi terbatas, (3) disposisi pelaksana kuat namun tidak diimbangi partisipasi aktif sasaran, dan (4) struktur birokrasi prosedural serta minim pemantauan harian terhadap kepatuhan konsumsi. Faktor pendukung utama adalah komitmen tinggi tenaga kesehatan dan kader, sementara penghambat dominan berasal dari komunikasi, SDM, dan lemahnya pengawasan substantif. Ketiadaan pemantauan harian menjadi penyebab utama sehingga program belum mampu menjamin perubahan perilaku gizi secara nyata. Penelitian ini menekankan perlunya penguatan komunikasi partisipatif, penambahan kapasitas SDM, serta sistem pemantauan konsumsi berkelanjutan agar PMT dapat berkontribusi efektif terhadap penurunan stunting
KOMUNIKASI DAN ADVOKASI DALAM MEMBANGUN KOMITMEN PEMBANGUNAN PERKOTAAN BERKELANJUTAN MELALUI MULTI-STAKEHOLDER PARTNERSHIP DI PROVINSI LAMPUNG Aulia Rahmawati; Fritz Akhmad Nuzir; Kustiani; Aditya Mahatidanar Hidayat; Okta Ainita
Jurnal Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Vol. 5 No. 3 (2025): Desember 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35472/jppk.v5i3.2231

Abstract

Sustainable urban development can support the achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 11, and can be optimized through multi-stakeholder collaboration. This paper aims to (1) Raise awareness among various parties about the importance of collaboration for sustainable cities and communities; (2) Advocate for active support from pentahelix stakeholders (government, private sector, academia, community, and media) through the principles of Multi-Stakeholder Partnerships (MSP); and (3) Strengthen institutional commitment to collaborative governance in achieving SDG 11 in Lampung Province. The research employs a descriptive qualitative method to examine the dynamics of communication and advocacy in cross-sectoral collaborative processes. Data collection was conducted through a series of audience meetings with various stakeholders, including government institutions, academia, civil society organizations, local communities, and the media. The findings conclude that the success of building sustainable cities and communities largely depends on strategic communication and systematic, participatory advocacy processes. The multi-stakeholder partnership (MSP) approach involving the pentahelix elements—government, academia, community, media, and the private sector—has proven to provide an inclusive and practical framework for collaboration. However, realizing sustainable urban development in Lampung Province still faces significant challenges, particularly rgarding slum settlement issues that require special attention.