Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Tired But Can’t Stop: Exploring the Association of Fear of Missing Out (FoMo) and Social Media Fatigue among Emerging Adults Ardelia, Vania; Jaro'ah, Siti; Maghfiroh, Fitrania; Laksmiwati, Hermien
International Journal of Current Educational Research Vol. 3 No. 1 (2024): June
Publisher : Indonesia Emerging Literacy Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53621/ijocer.v3i1.304

Abstract

Objective: Indonesia ranks third as the country with the most social media users, with emerging adults making up the largest group. On average, Indonesians spend almost 6 hours a day playing social media. This condition can cause both physical and psychological problems. One of the impacts of excessive social media use is Social Media Fatigue (SMF). The level of SMF is influenced by several factors, one of which is Fear of Missing Out (FoMo), which is a fear of missing out on experiences that others are enjoying. SMF and FoMo can significantly impact an individual's mental health. The link between the two conditions is clear, but there is little in-depth research linking the two. This study aimed to explore the association of Fear of Missing out (FoMo) with Social Media Fatigue (SMF) among emerging adults. Method: A cross-sectional study design was conducted among 157 men and women emerging adults. Participants completed a self-administered questionnaire that consisted of demographic characteristics, Fear of Missing Out scale, and Social Media Fatigue scale. Data were analyzed using descriptive analysis and Pearson Correlation statistic technique. Results: Descriptive analysis results showed that men showed a higher tendency of both fear of missing out and social media fatigue compared to women. Further, a significant yet moderate correlation was found between FoMo and SMF among emerging adults. Novelty: This study contributed to explore further on the relationship between fear of missing out (FoMo) and social media fatigue specifically among emerging adults.
Pendampingan Menumbuhkan Komunikasi Positif Guru-Murid melalui Mindful Parenting: Sebuah Psikoedukasi di Warraphat School Thailand Jaro'ah, Siti; Ardelia, Vania; Harita, Adiwignya Nugraha Widhi; Simatupang, Ribka Murtiara; Adani, Erizza Farizan; Sinaga, Renchia; Nirmalasari, Intan; Sholecha, Eka Wiwik S.L.
Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2025): Rahmah : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Jaanur ElBarik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65065/5v9n5c90

Abstract

In the educational context, communication problems between teachers and students can have negative impacts. One approach that can be taken to address communication problems is mindful parenting. This community service activity aims to provide mindful parenting psychoeducation to teachers at Warraphat School in Thailand to improve positive communication skills with students. The PKM program was implemented online for teaching staff through counseling and case studies. The psychoeducation results increased teachers' knowledge and understanding of the importance of positive communication and the use of mindful parenting as an alternative method to improve positive communication. The implication of this program is that the implementation of mindful parenting and positive, non-judgmental communication from teachers to students can improve academic achievement
Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Psychological Well-being pada Mahasiswa Bekerja Paruh Waktu Ramadhani, Nanda Puspita; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1144-1158

Abstract

Mahasiswa yang bekerja paruh dihadapkan pada tuntutan ganda antara kewajiban akademik dan tanggung jawab pekerjaan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tekanan psikologis yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam menjaga psychological well-being adalah dukungan sosial yang diperoleh dari lingkungan sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 305 mahasiswa yang bekerja paruh waktu dan berdomisili Surabaya, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) serta skala psychological well-being yang disusun berdasarkan model Ryff. Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal, sehingga data analisis dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan psychological well-being pada mahasiswa bekerja paruh waktu (rs = 0,215; p < 0,001). Dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial memiliki peran dalam meningkatkan psychological well-being mahasiswa yang bekerja paruh waktu, meskipun kekuatan hubungannya tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa psychological well-being mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar dukungan sosial. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan bagi institusi pendidikan dan pihak terkait dalam merancang upaya pendukung untuk menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa yang menjalani peran ganda. Abstract Part-time working students face dual demands between academic obligations and work responsibilities. This situation may lead to psychological stress that affects their psychological well-being. One factor believed to play a role in maintaining psychological well-being is social support obtained from the surrounding environment. This study aims to examine the relationship between social support and psychological well-being among part-time working students. Employing a quantitative correlational approach, the research involved 305 part-time working students residing in Surabaya, selected via purposive sampling. Data were collected using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) and a psychological well-being scale developed based on Ryff's model. Normality tests revealed non-normal data distribution, so Spearman's correlation test was applied. Results indicated a positive and significant relationship between social support and psychological well-being (rs = 0.215; p < 0.001). In conclusion, social support contributes to enhancing psychological well-being among part-time working students, though the strength of the relationship is low. This suggests that psychological well-being is influenced by various other factors beyond social support. These findings are expected to inform educational institutions and stakeholders in designing support initiatives for students balancing dual roles.
Hubungan antara Perbandingan Sosial dengan Kecemasan pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial Ramadhani, Nouvalya Putri; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1159-1169

Abstract

Tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa sebagai emerging adults meningkatkan kerentanan terhadap perbandingan sosial yang dipicu oleh potret kehidupan ideal di ruang digital. Fenomena ini berpotensi memicu tekanan psikologis berupa kecemasan akibat ketidakmampuan individu dalam memenuhi standar pencapaian atau gaya hidup yang ditampilkan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perbandingan sosial dengan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dan pengumpulan data menggunakan kuesioner berupa Google Form. Instrumen yang digunakan meliputi Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur perbandingan sosial dan Beck Anxiety Inventory (BAI). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif perguruan tinggi di Surabaya yang berusia 18-25 tahun dan menggunakan media sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Spearman rho menggunakan perangkat lunak SPSS 25 for Windows. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,387 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,000. Temuan  ini mengindikasikan  adanya  hubungan  positif  yang  signifikan  dengan  tingkat  kekuatan  sedang  antara perbandingan sosial dan kecemasan pada mahasiswa pengguna media sosial. Abstract The high intensity of social media use among college students as emerging adults increases their vulnerability to social comparison triggered by idealized portrayals of life in the digital space. This phenomenon has the potential to trigger psychological pressure in the form of anxiety due to individuals' inability to meet the standards of achievement or lifestyle displayed online. This study aims to determine the relationship between social comparison and anxiety among students who use social media. This study uses a correlational quantitative approach and data collection using a questionnaire in the form of a Google Form. The instruments used include the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison and the Beck Anxiety Inventory (BAI). The population in this study consisted of active college students in Surabaya aged 18-25 years who use social media. The data analysis technique used was the Spearman rho test using SPSS 25 for Windows software. The analysis results showed that the correlation coefficient (r) value was 0.387 with a significance value (p) of 0.000. These findings indicate a significant positive relationship with a moderate level of strength between social comparison and anxiety among students who use social media.
Hubungan antara Self-Acceptance dengan Resiliensi pada Narapidana Nabilla, Jasmine Najla; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1170-1180

Abstract

Kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan menempatkan narapidana pada berbagai tekanan psikologis, seperti hilangnya kebebasan dan keterbatasan sosial, yang dapat memengaruhi kondisi mental mereka secara signifikan. Dalam situasi tersebut, self-acceptance dan resiliensi menjadi kapasitas psikologis yang penting dalam proses adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-acceptance dengan resiliensi pada narapidana. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional terhadap 105 narapidana laki-laki di Lapas Kelas I Surabaya (Lapas Porong, Jawa Timur) yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah Berger’s Self-Acceptance Scale dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson’s Product Moment. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-acceptance dan resiliensi pada narapidana (r = 0,226; p = 0,020), namun dengan kekuatan korelasi yang tergolong lemah. Hal ini mengindikasikan bahwa self-acceptance berperan mendukung resiliensi narapidana, namun kontribusinya terbatas mengingat adanya faktor lain yang lebih dominan. Temuan deskriptif juga menunjukkan bahwa mayoritas narapidana berada pada kategori sedang untuk kedua variabel. Abstract Life within correctional institutions exposes prisoners to various psychological pressures, such as loss of liberty and social limitations, which can significantly affect their mental condition. In such situations, self-acceptance and resilience become crucial psychological capacities for adaptation. This study aimed to examine the relationship between self-acceptance and resilience among prisoners. A quantitative research method with a correlational design was employed involving 105 male prisoners at the Class I Correctional Institution of Surabaya (Porong Prison, East Java), selected through purposive sampling. The data collection instruments used were Berger’s Self-Acceptance Scale and the Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Data analysis was conducted using the Pearson’s Product Moment correlation test. The results indicated a positive and significant relationship between self-acceptance and resilience among prisoners (r = 0.226; p = 0.020), although the correlation strength was classified as weak. This implies that while self-acceptance plays a role in supporting prisoner resilience, its contribution is limited, suggesting the presence of other more dominant factors. Descriptive findings also showed that the majority of prisoners fell into the moderate category for both variables.
Pengaruh Doomscrolling terhadap Kecemasan pada Emerging Adult Firmansyah, Fahmi Adiya; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p1-11

Abstract

Kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan di media sosial atau yang dikenal sebagai doomscrolling semakin sering dikaitkan dengan meningkatnya gangguan kesehatan mental. Salah satu dampak psikologis yang paling umum dari perilaku ini adalah munculnya kecemasan khususnya pada kelompok emerging adult. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kuantitatif pengaruh dari perilaku doomscrolling terhadap tingkat kecemasan pada populasi emerging adult. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 330 partisipan emerging adult yang mayoritas adalah perempuan (81.52%) dengan dominasi usia 21 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan Social Media Doomscrolling scale dan Generalized Anxiety Disorder-7. Analisis data dilakukan dengan regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan bahwa doomcsrolling memiliki pengaruh signifikan yang positif terhadap kecemasan (F = 74.12, p = <.001). Perilaku ini mampu menjelaskan 18.4% varians kecemasan (R² = 0.184) dengan koefisien regresi B = 0.264. Secara deskriptif, mayoritas partisipan berada pada kategori doomscrolling rendah hingga sedang Temuan ini menegaskan bahwa perilaku doomscrolling berkontribusi terhadap peningkatan kecemasan pada emerging adult. Dengan demikian, penting baik bagi indiividu maupun praktisi kesehatan mental untuk memerhatikan pola penggunaan media sosial sebagai salah satu faktor risiko psikologis yang perlu diantisipasi.  Abstarct The habit of excessively consuming negative news on social media commonly referred to as doomscrolling, it has increasingly been associated with rising mental health problems. One of the most common psychological impacts of this behavior is anxiety particularly among the emerging adult population.. A quantitative approach was employed, involving 330 emerging adult participants, the majority of whom were female (81.52%) with a dominant age of 21 years, selected through purposive sampling. The research instruments used were the Social Media Doomscrolling Scale and the Generalized Anxiety Disorder-7. Data analysis was conducted using simple linear regression. The findings indicate that doomscrolling has a significant effect on anxiety (F = 74.12, p < .001). This behavior accounted for 18.4% of the variance in anxiety (R² = 0.184) with a regression coefficient of B = 0.264. Descriptive results also showed that most participants fell into the low to moderate doomscrolling category. These findings highlight that doomscrolling contributes to increased anxiety among emerging adults. Therefore, it is important for both individuals and mental health practitioners to pay attention to social media usage patterns as a psychological risk factor that requires anticipation.
The Hubungan Online Disinhibition Effect dengan Self-Disclosure Generasi Z di Media Sosial X Putriyani, Yuvita Mulya Dwi; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p28-40

Abstract

Online Disinhibition Effect (ODE) merupakan perilaku seseorang yang berbeda di dunia nyata dengan di dunia maya. Hal ini dipengaruhi oleh anonimitas, lack of eye contact, minimnya otoritas, serta faktor lain dalam interaksi daring. Kondisi ini berpotensi meningkatkan keterbukaan diri (self-disclosure), khususnya pada generasi Z sebagai pengguna aktif media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara online disinhibition effect dan self-disclosure pada partisipan generasi Z pengguna media sosial X. Metode dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelational dengan melibatkan 210 partisipan generasi Z yang berusia 13-28 tahun serta pengguna media sosial X. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner menggunakan Online Disinhibition Scale (ODS) dan Self-Disclosure Scale. Analisis data menggunakan pearson’s correlation yang menyatakan terdapat hubungan yang signifikan positif antara ODE dengan Self-disclosure pada partisipan generasi Z pengguna sosial media X (r = 0.385 dan p < .001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ODE, semakin tinggi pula tingkat self-disclosure yang ditampilkan oleh partisipan di media sosial X. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan literasi digital serta perancangan intervensi preventif untuk mendorong perilaku komunikasi daring yang lebih aman dan bertanggung jawab pada pengguna media sosial. Abstract Online Disinhibition Effect (ODE) refers to differences in individuals’ behavior between offline and online contexts. These differences are influenced by anonymity, lack of eye contact, minimal authority, and other factors inherent in online interactions. Such conditions may increase self-disclosure, particularly among Generation Z as active users of social media. This study aims to examine the relationship between online disinhibition effect and self-disclosure among Generation Z participants who use social media X. This research employed a quantitative correlational design involving 210 Generation Z participants aged 13–28 years who were active users of social media X. Data were collected through questionnaires using the Online Disinhibition Scale (ODS) and the Self-Disclosure Scale. Data analysis using Pearson’s correlation revealed a significant positive relationship between online disinhibition effect and self-disclosure among Generation Z participants who use social media X (r = 0.385, p < .001). These findings indicate that higher levels of online disinhibition effect are associated with higher levels of self-disclosure displayed by participants on social media X. The results of this study provide a basis for the development of digital literacy initiatives and preventive interventions aimed at promoting safer and more responsible online communication behavior among social media users.
The Dynamics of Meaning in Life Among Older Adults Living Alone and Those Living with Family Rohmah, Salsabilla Rofiatur; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p100-119

Abstract

Differences in older adults’ living arrangements shape how physical, emotional, and social needs aremet, and they can influence quality of life and life satisfaction. Older adults who live alone may facegreater risks of loneliness, limited access to day-to-day assistance, and declining well-being. Incontrast, older adults who live with family often receive instrumental care, yet they do not alwaysexperience adequate emotional support and appreciation. This qualitative phenomenological studyaimed to understand the dynamics of meaning in life among older adults living alone and those livingwith family. Six participants were recruited (three living alone and three living with family). Datawere collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and wereanalyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The findings indicate that olderadults’ meaning in life is constructed through self-acceptance, independence and productivity,gratitude and sources of happiness, spirituality, social relationships, contributions to others, and goalsand future hopes. Dynamics of meaning in life are influenced not only by living arrangement but alsoby the primary anchor of meaning where older adults living alone tend to emphasize independenceand local social networks, whereas those living with family tend to emphasize attachment and supportwithin family relationships. Abstrak Perbedaan status hunian lansia memberikan dampak yang berbeda pada pemenuhan kebutuhan fisik,emosional, dan sosial, serta pada kualitas dan kepuasan hidup mereka. Lansia yang tinggal sendiriberisiko mengalami kesepian, keterbatasan akses bantuan, dan penurunan kualitas hidup, sementaralansia yang tinggal bersama keluarga mendapatkan perawatan namun tidak selalu merasakandukungan emosional dan penghargaan yang memadai sehingga dari kondisi-kondisi ini menarikuntuk melihat bagaimana lansia memaknai hidupnya. Tujuan penelitian adalah memahami dinamikamakna hidup pada lansia yang tinggal sendiri dan lansia yang tinggal bersama keluarga. Penelitianmenggunakan metode kualitatif fenomenologi dan enam partisipan dipilih terdiri dari tiga lansiayang tinggal sendiri dan tiga lansia yang tinggal bersama keluarga. Data dikumpulkan melaluiwawancara semi-terstruktur, observasi dan dokumentasi kemudian dianalisis dengan teknikInterpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna hiduplansia terbentuk melalui penerimaan diri, kemandirian dan produktivitas, rasa syukur dan sumberkebahagiaan, spiritualitas, hubungan sosial, kontribusi pada orang lain, tujuan serta harapan masa mendatang. Dinamika makna hidup lansia tidak hanya dipengaruhi oleh status hunian, tetapi padatitik tumpu makna dimana lansia yang tinggal sendiri lebih menekankan pada kemandirian danjejaring sosial sekitar, sementara lansia yang tinggal bersama keluarga lebih menekankan kelekatandan dukungan dalam hubungan dengan keluarga.
Fear of Missing Out (FoMO) dan Cyberloafing dalam Konteks Adaptasi Mahasiswa Tahun Pertama Fitriani, Berlian; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p68-80

Abstract

Perkembangan media sosial di era digital membuat individu semakin terhubung dengan lingkungan sosialnya. Namun, penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat memicu perilaku cyberloafing. Fenomena ini banyak dialami mahasiswa tahun pertama yang berada pada fase emerging adulthood, di mana kebutuhan relatedness yang tidak terpenuhi dapat memicu munculnya fear of missing out (FoMO). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara fear of missing out (FoMO) dan cyberloafing pada mahasiswa tahun pertama Universitas Negeri Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 231 mahasiswa tahun pertama yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala Online Fear of Missing Out (ON-FoMO) dan skala Cyberloafing. Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson melalui program JASP versi 0.95.4. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara fear of missing out  (FoMO) dan cyberloafing dengan koefisien korelasi r = 0,503 (p < .001) yang berada pada kategori sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat fear of missing out (FoMO) yang dimiliki mahasiswa tahun pertama, semakin tinggi pula kecenderungan mereka melakukan cyberloafing. Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi pengembangan strategi pendampingan mahasiswa tahun pertama dalam mengelola penggunaan media sosial secara lebih adaptif. Abstract  The development of social media in the digital era makes individuals increasingly connected to their social environment. However, unwise use of social media can trigger cyberloafing behavior. This phenomenon is often experienced by first-year students who are in the emerging adulthood phase, where unmet relatedness needs can trigger the emergence of fear of missing out (FoMO). This study aims to examine the relationship between fear of missing out (FoMO) and cyberloafing in first-year students at Surabaya State University. This study used a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 231 first-year students selected using a purposive sampling technique. The instruments used were the Online Fear of Missing Out (ON-FoMO) scale and the Cyberloafing scale. Data analysis was performed using Pearson Product Moment correlation through the JASP program version 0.95.4. The results of the analysis showed a significant positive relationship between fear of missing out (FoMO) and cyberloafing with acorrelation coefficient of r = 0.503 (p < .001) which is in the moderate category. These findings indicate that the higher the level of fear of missing out (FoMO) experienced by first-year students, the higher their tendency to engage in cyberloafing. These findings have important implications for developing strategies to assist first-year students in managing their social media use more adaptively.
Hubungan antara Intensitas Bermain Roblox terhadap Kesepian pada Mahasiswa Grimonia, Haani Keyza; Ardelia, Vania
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p90-99

Abstract

Intensitas bermain game online semakin meningkat di kalangan mahasiswa, salah satunya melalui platform Roblox yang menyediakan ruang interaksi sosial virtual. Meskipun demikian, keterlibatan yang tinggi dalam game online diduga berkaitan dengan pengalaman kesepian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas bermain Roblox dengan tingkat kesepian pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 170 mahasiswa berusia 18–25 tahun yang bermain Roblox dan berasal dari beberapa universitas di Surabaya. Data dikumpulkan secara daring menggunakan skala intensitas bermain Roblox dan skala kesepian. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson dengan bantuan perangkat lunak JASP. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang rendah antara intensitas bermain Roblox dan kesepian (r = 0,278; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa intensitas bermain Roblox berkaitan dengan tingkat kesepian mahasiswa, meskipun kekuatan hubungannya tergolong lemah. Penelitian ini memberikan implikasi bahwa interaksi sosial virtual dalam game online belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan afiliasi mahasiswa. Abstract The intensity of online game playing has increased among university students, particularly through platforms such as Roblox that offer virtual social interaction. However, high engagement in online games has been associated with experiences of loneliness. This study aimed to examine the relationship between the intensity of playing Roblox and loneliness among university students. This study employed a quantitative correlational design. A total of 170 students aged 18–25 years from several universities in Surabaya who actively played Roblox participated in the study. Data were collected online using the Roblox playing intensity scale and a loneliness scale. Pearson correlation analysis was conducted using JASP software. The results indicated a low positive relationship between the intensity of playing Roblox and loneliness (r = 0.278; p < 0.05). These findings suggest that the intensity of playing Roblox is associated with students’ loneliness, although the strength of the relationship is weak. This study implies that virtual social interactions in online games may not fully satisfy students’ affiliation needs