Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

A Content Analysis Of Writing Tasks In Indonesian EFL Textbooks: Do They Promote Higher-Order Thinking Skills? Sindy Widya Anggraeni; Siti Musarokah; Nur Hidayat
Journal of English Language and Education Vol 11, No 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v11i4.2675

Abstract

This study analyzes 326 writing tasks in two Grade VII Indonesian EFL textbooks Bright an English (Chapters 1–8) and English for Nusantara (Chapters 1–5) to evaluate their promotion of Higher-Order Thinking Skills (HOTS) using Bloom’s Revised Taxonomy. Using descriptive content analysis, tasks were coded independently by two raters with an inter-rater check, then tallied and categorized into six cognitive levels. Results show all six levels are present: LOTS (remembering, understanding, applying) 65.38% dominated by grammar exercises, vocabulary tasks, and controlled activities and HOTS (analyzing, evaluating, creating) 34.62%, appearing in authentic project tasks such as sequencing dialogues, judging restaurant names, designing tourist leaflets, family-tree descriptions, and food-video scripts. Both textbooks exceed the 30% HOTS threshold for Phase D and display a structured progression from LOTS to HOTS. Integration of Profil Pelajar Pancasila values and local elements supports holistic objectives. Recommendations: developers should balance cognitive distribution and include Bloom labels, teachers should add HOTS activities and metacognitive guidance, and policymakers should set HOTS percentage requirements and provide professional development.
Rekonsiliasi Psikoedukasi dan Literasi Fisik untuk Membangun Kesehatan Mental Siswa Berbasis Gender Festi Himatu Karima; Fajar Ari Widiyatmoko; Indri Kustantinah; Nur Hidayat
Jurnal Pengabdian Olahraga Masyarakat (JPOM) Vol. 7 No. 2 (2026): Juli (2026)
Publisher : PJKR Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/jpom.v7i2.869

Abstract

Remaja merupakan aset penting bagi pembangunan Indonesia, namun saat ini menghadapi berbagai tantangan kesehatan fisik dan mental, seperti pola hidup tidak sehat, penggunaan gadget berlebihan, depresi, hingga risiko bunuh diri. Untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas remaja dalam menjaga kesehatan secara holistik, tim pengabdi Universitas PGRI Semarang menyelenggarakan program pendampingan kesehatan fisik dan mental bagi 22 siswa SMA IT Harapan Bunda Kota Semarang. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan psikoedukasi dan literasi fisik berbasis gender guna membentuk karakter sehat serta menyiapkan siswa sebagai agen perubahan dalam lingkungan sekolah. Metode yang digunakan meliputi wawancara, ceramah, diskusi, tanya jawab, dan evaluasi menggunakan kuesioner. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai keterkaitan kesehatan fisik dan mental serta pentingnya peran gender dalam proses psikoedukasi. Analisis korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara pemahaman kesehatan fisik-mental dengan gaya hidup dan penggunaan gadget (r = 0,687; p < 0,05). Sementara itu, hubungan gaya hidup dengan deteksi gangguan mental (r = -0,047) serta pemahaman kesehatan dengan risiko gangguan mental (r = -0,160) bersifat negatif lemah dan tidak signifikan. Selain itu, gender memiliki hubungan positif sedang dan signifikan dengan pemahaman kesehatan (r = 0,459; p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan psikoedukasi dan literasi fisik berbasis gender berpotensi meningkatkan kesadaran remaja dalam menjaga kesehatan fisik dan mental secara berkelanjutan.
BETWEEN REASON AND RESISTANCE: FREUDIAN PSYCHOANALYSIS AND FEMINIST IDENTITY OF HERMIONE GRANGER IN HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS – PART 2 Muhammad Arief Budiman; Hetty Catur Ellyawati; Nur Hidayat; Vina Nurul Hidayati; Wijayanti Hidayatolah; Zahra Faizatun Nahla; Zidan Try Kusuma
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.15274

Abstract

The representation of women in popular fantasy cinema has frequently been relegated to subordinate positions, serving merely as secondary figures within male-dominated heroic narratives. The character of Hermione Granger in Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011) disrupts these conventional tropes through her psychological resilience and intellectual authority. This study aims to analyze Hermione Granger's personality structure (id, ego, and superego) and defense mechanisms, while examining how these psychological dynamics construct her feminist agency in a predominantly male-centered narrative. Employing a qualitative descriptive method, data were collected through audiovisual observation and textual documentation of selected scenes, dialogues, and character actions from the film. The findings reveal that Hermione’s ego plays a dominant mediating role between instinctual drives (id) and moral imperatives (superego), enabling rational and strategic decision-making under extreme conflict. Her psychological resilience is reinforced by adaptive defense mechanisms, including rationalization, suppression, intellectualization, and displacement. From a feminist perspective, this psychological maturity fosters autonomy, intellectual authority, and ethical leadership that challenge traditional stereotypes of female emotional vulnerability. This study concludes that Hermione Granger embodies a model of feminist heroism grounded in psychological balance, ethical responsibility, and rational agency. ABSTRAK Representasi perempuan dalam sinema fantasi populer kerap ditempatkan dalam posisi subordinat dan sekadar pelengkap narasi kepahlawanan maskulin. Karakter Hermione Granger dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011) mendobrak stereotip tersebut melalui perpaduan ketahanan psikologis dan otoritas intelektual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur kepribadian (id, ego, dan superego) serta mekanisme pertahanan diri Hermione Granger, sekaligus mengkaji bagaimana dinamika psikologis tersebut mengonstruksi agensi feminisnya dalam narasi yang didominasi laki-laki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan observasi audiovisual terhadap adegan, dialog, dan tindakan karakter yang relevan dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ego Hermione berperan dominan dalam memediasi dorongan instingtual (id) dan tuntutan moral (superego), memungkinkannya mengambil keputusan rasional dan strategis di bawah tekanan ekstrem. Ketahanan psikologisnya diperkuat oleh penggunaan mekanisme pertahanan diri adaptif, meliputi rasionalisasi, supresi, intelektualisasi, dan pemindahan (displacement). Dari perspektif feminis, kematangan psikologis tersebut membentuk agensi, kemandirian berpikir, dan kepemimpinan moral yang menantang stereotip kelemahan emosional perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Hermione Granger merepresentasikan bentuk kepahlawanan feminis yang berakar pada kematangan psikologis, pertimbangan etis, dan agensi rasional.