Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

KELIMPAHAN POPULASI WERENG BATANG COKLAT Nilaparvata lugens Stal. (Homoptera: Delphacidae) DAN LABA-LABA PADA BUDIDAYA TANAMAN PADI DENGAN PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU DAN KONVENSIONAL Claudya Siktiani Eva Gunawan; Gatot Mudjiono; Ludji Pantja Astuti
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian kelimpahan populasi wereng batang coklat (WBC) Nilaparvata lugensStal. (Homoptera: Delphacidae) dan laba-laba pada budidaya tanaman padi dengan penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) dan konvensional dilakukan di lahan padi Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi dengan metode eksplorasi atau observasi langsung pada lahan padi, untuk mengetahui populasi WBC dan laba-laba pada lahan PHT dan konvensional.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan PHT dan konvensional berpengaruh nyata terhadap populasi WBC dan laba-laba sebagai musuh alami WBC. Rata-rata populasi WBC pada lahan PHT dan konvensional adalah 0,30 ekor dan 0,57 ekor. Sedangkan rata-rata populasi laba-laba pada lahan PHT dan konvensional adalah 0,234 ekor dan 0,137 ekor. Laba-laba yang ditemukan adalahPardosa sp. dan Argiope sp. Produksi padi pada lahan PHT lebih rendah (4,56 ton) dibandingkan dengan lahan konvensional (5,12 ton). Kata kunci: Populasi, Nilaparvata lugens, laba-laba, PHT, Konvensional
PERKEMBANGAN POPULASI LARVA PENGGEREK BATANG DAN MUSUH ALAMINYAPADA TANAMAN PADI (Oryza sativa L.) PHT Erlinda Damayanti; Gatot Mudjiono; Sri Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penggerek batang padi adalah hama yang dapat menimbulkan kehilangan hasil dalam produksi padi. Pada sistem konvensional petani menggunakan insektisida untuk mengendalikan serangan penggerek batang padi. Oleh karena itu, terdapat dampak negatif dari penggunaan insektisida. Maka dilakukan penelitian tentang perkembangan populasi larva penggerek batang dan musuh alaminya pada tanaman padi (Oryza sativa L.) PHT qdi Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Penelitian ini mengamati populasi larva penggerek batang padi, intensitas serangan penggerek batang padi, predator dan parasitoid di pertanaman padi dengan sistem PHT dan konvensional yang dilakukan sejak bulan Maret sampai Juni 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan populasi larva dan intensitas serangan penggerek batang padi mengalami perubahan setiap minggunya. Populasi larva penggerek batang padi paling tinggi pada lahan konvensional sebesar 1,45 ekor per rumpun pada 7 MST, sedangkan pada lahan PHT populasi larva tertinggi pada 11 MST sebesar 1,64 ekor per rumpun. Intensitas serangan penggerek batang padi paling tinggi pada kedua lahan terjadi pada 6 MST, pada lahan konvensional intensitas serangannya sebesar 6,73% per rumpun dan pada lahan PHT 9,04% per rumpun. Parasitoid yang ditemukan pada kedua lahan yaitu Telenomus rowani, T. podisi, Scelionid dan Eulophid. Sedangkan predator yang ditemukan Paederus fuscipes, P. tamulus, Menochilus sexmaculatus, Clubiona japonicola, Pardosa sp., Berosus sp., Calosoma semilaeve dan Carabid. Kata kunci : Penggerek batang padi, parasitoid, predator
PENGARUH TUMPANGSARI TANAMAN SELASIH DAN CABAI MERAH ORGANIK TERHADAP POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN LALAT BUAH (DIPTERA: TEPHRITIDAE) Hosainul Basri; Gatot Mudjiono; Retno Dyah Puspitarini
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Pada budidaya cabai merah secara organik terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah adanya serangan hama. Di Kota Wisata Batu, Jawa Timur, serangan lalat buah menyebabkan kerusakan pada tanaman cabai merah. Salah satu upaya untuk mengendalikan dan mengusir lalat buah adalah dengan sistem tanam tumpangsari. Penelitian ini dilaksanakan pada lahan budidaya cabai merah dengan dua cara budidaya, yaitu tumpangsari dan monokultur. Cara budidaya pada kedua lahan secara umum sama, perbedaannya terletak pada penggunaan tanaman selasih sebagai tanaman pendamping cabai merah pada lahan tumpangsari, sedangkan pada lahan monokultur hanya ditanam tanaman cabai merah. Pengamatan populasi lalat buah menggunakan perangkap metil eugenol (ME) dan perangkap kuning. Perangkap ME dibuat dari botol mineral yang dipotong 15 cm dari mulut botol dan dipasang terbalik menghadap ke dalam mirip corong yang di dalamnya diberi senyawa ME. Sedangkan, perangkap kuning terbuat dari botol mineral yang dilapisi mika kuning yang diolesi dengan lem perekat. Jumlah perangkap pada kedua lahan masing-masing adalah 1 buah. Variabel pengamatan  adalah jenis, populasi, dan intensitas serangan lalat buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis lalat buah dari perangkap ME dan perangkap kuning adalah Bactrocera carambolae. Dari perangkap ME, rata-rata populasi lalat buah pada lahan tumpangsari lebih tinggi (54,923) secara nyata dibandingkan lahan monokultur (29,615). Demikian juga rata-rata populasi lalat buah dari perangkap kuning, pada lahan tumpangsari lebih tinggi (35,153)secara nyata dibandingkan lahan monokultur (19,307). Perlakuan tumpangsaridan monokulturtidak berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan lalat buah, berturut-turut 2,705 dan 0,577%. Tingkat populasi lalat buah pada lahan tumpangsari lebih tinggi secara nyata dibandingkan lahan monokultur. Kata Kunci: Bactrocera carambolae, tumpangsari, pertanian organik  
PENGARUH SISTEM TANAM TUMPANGSARI PADA BROKOLI ORGANIK TERHADAP HAMA Crocidolomia pavonana F. (LEPIDOPTERA: PYRALIDAE) Mega Apriliyanti; Gatot Mudjiono; Retno Dyah Puspitarini
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Crocidolomia pavonana merupakan salah satu hama yang menyerang tanaman brokoli. Dampak negatif pestisida sintetik untuk mengendalikan populasi hama C. pavonana menjadikan sistem tanam tumpangsari dalam budidaya organik sebagai salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh tumpangsari seledri dan bawang daun dengan brokoli organik terhadap populasi dan intensitas serangan hama C. pavonana dibandingkan dengan sistem tanam monokultur. Penelitian dilaksanakan di lahan organik milik PT. Herbal Estate, Batu, Jawa Timur pada bulan Januari sampai April 2015. Metode percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan empat ulangan yaitu: monokultur, tumpangsari brokoli dengan seledri, tumpangsari brokoli dengan bawang daun, tumpangsari dengan seledri dan bawang daun. Penelitian diakukan di lahan berukuran 155 m2. Pada lahan tersebut dibuat bedengan berukuran 400x150x30 cm. Jumlah bedengan pada lahan penelitian adalah 16 bedeng. Parameter pengamatan dalam penelitian ini yaitu tingkat populasi dan intensitas kerusakan C. pavonana. Pengamatan dilakukan dengan metode visual pada setiap tanaman contoh. Pada tiap bedengan ditetapkan dua tanaman contoh, sehingga jumlah tanaman contoh seluruhnya adalah 32 tanaman. Pengamatan dilakukan sebanyak 10 kali dimulai saat tanaman berumur 7 hari setelah tanam sampai menjelang panen dengan interval satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem tanam tumpang sari dengan menanam tanaman seledri dan bawang daun sebagai tanaman penolak hama pada budidaya brokoli organik pengaruhnya tidak berbeda nyata terhadap tingkat populasi maupun intensitas kerusakan C. pavonana. Tingkat populasi C. pavonana pada semua perlakuan rendah di awal pengamatan dan mulai meningkat pada saat pengamatan ke-8 dengan rata-rata populasi 0,54 ekor/tanaman. Persentase intensitas kerusakan pada semua perlakuan tergolong rendah di awal pengamatan dan mulai meningkat pada pengamatan ke-5 sampai pengamatan ke-10 dengan rata-rata intensitas kerusakan yaitu 1,02%. Kata kunci: Bawang daun, intensitas kerusakan, monokultur, populasi, seledri.
Uji Patogenisitas Jamur Entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin pada Jangkrik (Gryllus sp.) (Orthoptera: Gryllidae) Alorisa Tirta Ardiyati; Gatot Mudjiono; Toto Himawan
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Jangkrik (Gryllus sp.) merupakan serangga omnivora, serangannya dapat mencapai 83% pada lahan cabai dalam semalam. Pengendalian jangkrik masih relatif sulit. Pada umumnya pengendalian jangkrik dilakukan dengan menyemprotkan insektisida sintetis. Penggunaan insektisida sintetis ini dapat berdampak negatif pada lingkungan maupun organisme lain. Maka perlu adanya alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, salah satunya dengan jamur yang bersifat pathogen terhadap serangga yaitu B. bassiana. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Tumbuhan sub Laboratorium Pengembangan Agens Hayati Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada metode umpan pakan jamur B. bassiana patogenik terhadap Gryllus sp. Konsentrasi efektif (LC50) jamur B. bassiana yang dapat menyebabkan mortalitas 50% Gryllus sp. adalah 7,1 x 106 konidia/ml dengan waktu mematikan (LT50) Gryllus sp. mencapai 50%  pada 3,1 hari. Pada metode kontak langsung jamur B. bassiana patogenik terhadap Gryllus sp. Konsentrasi efektif (LC50) jamur B. bassiana yang dapat menyebabkan mortalitas 50% Gryllus sp. adalah 6,2 x 108 konidia/ml dengan waktu mematikan (LT50) Gryllus sp. mencapai 50%  pada 4,3 hari.   Kata Kunci: Patogenisitas, Beauveria bassiana, Gryllus sp.
PENGARUH Zea mays L. DAN Tagetes erecta L. SEBAGAI TANAMAN PERANGKAP TERHADAP POPULASI Helicoverpa armigera Hubn. (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) PADA TOMAT ORGANIK Fita Fitriatul Wahidah; Gatot Mudjiono; Sri Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Salah satu kendala dalam meningkatkan hasil produksi tomat adalah adanya serangan Helicoverpa armigera Hubn. Dalam pertanian organik, salah satu cara pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan menanam tanaman perangkap hama. Salah satu mekanisme yang terjadi adalah hama akan lebih menyukai tanaman perangkap daripada tanaman utama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Zea mays L. dan Tagetes erecta L. sebagai tanaman perangkap terhadap populasi H. armigera pada tomat organik. Penelitian terdiri dari dua perlakuan. Perlakuan pertama merupakan plot pertanaman tomat organik dengan dua jenis tanaman perangkap (T. erecta dan Z. mays) dan perlakuan kedua merupakan plot pertanaman tomat organik monokultur sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara perlakuan tomat dengan tanaman perangkap jagung dan Tagetes dan tomat monokultur pengaruhnya tidak nyata terhadap rata-rata jumlah telur dan larva H. armigera.Intensitas serangan H. armigera pada pertanaman tomat dengan tanaman perangkap jagung dan Tagetes berbeda nyata dengan pertanaman tomat monokultur. Serangan H. armigera pada buah di plot pertanaman tomat dengan tanaman perangkap jagung dan Tagetes lebih rendah daripada serangan H. armigera pada tomat monokultur.   Kata kunci: Tanaman perangkap; Zea mays L.; Tagetes erecta L.; Helicoverpa armigera Hubn.
PENERAPAN TANAMAN PINGGIR PADA BUDIDAYA PADI (Oryza sativa L.) SECARA PHT TERHADAP KELIMPAHAN POPULASI Nilaparvata lugens Stal. (HOMOPTERA:DELPHACHIDAE) DAN LABA-LABA Mochamad Taufiqur Rochman; Gatot Mudjiono; Silvi Ikawati
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan populasi wereng batang coklat (WBC) dan laba-laba pada lahan padi dengan tanaman refugia palawija dan pada lahan padi dengan tanaman refugia berbunga. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman padi yang berlokasi di Desa Brangsi, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksplorasi/observasi langsung pada lahan padi, untuk mengetahui populasi wereng coklat dan musuh alami berupa laba-laba. Pengamatan dilakukan pada 2 plot pertanaman padi yang menggunakan sistem PHT dengan 2 ulangan. Pada plot pertama ditanam refugia  jagung, wijen, dan kacang hijau. Sedangkan pada plot 2 ditanam refugia berupa bunga kenikir, bunga pacar air, dan bunga matahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengaruh jenis tanaman refugia terhadap populasi WBC dan populasi laba-laba. Rata-rata populasi WBC pada lahan padi dengan refugia palawija dan berbunga adalah masing-masing 3,48 dan 2,38. Sedangkan rata-rata populasi laba-laba pada lahan padi dengan refugia palawija dan berbunga adalah masing-masing 1,29 dan 1,39. Laba-laba yang ditemukan pada lahan padi dengan refugia palawija dan berbunga adalah Pardosa sp dan Oxyopes javanus.
PENGARUH TANAMAN PENDAMPING AROMATIK UNTUK MENEKAN POPULASI Plutella xylostella L. (LEPIDOPTERA: PLUTELLIDAE) PADA PERTANAMAN KUBIS BUNGA Brikaryana Brikaryana; Gatot Mudjiono; Sri Karindah
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 5 No. 3 (2017)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanaman tanaman pendamping adalah strategi dalam peningkatan biodiversitas agroekosistem. Tanaman pendamping secara biokimia mampu menekan/menolak hama datang pada tanaman utama, salah satu jenisnya adalah tanaman aromatik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh tumpang sari dengan tanaman aromatik terhadap perkembangan P. xylostella yang dilaksanakan di Pandanrejo, Bumiaji, Batu. Perlakuan yang digunakan adalah tanaman pendamping selasih, tanaman pendamping kemangi dan tanpa tanaman pendamping. Penerapan tanaman pendamping aromatik tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat populasi telur dan imago P. xylostella. Perlakuan kubis bunga dengan tanaman pendamping aromatik kemangi mampu menurunkan populasi larva pada pengamatan 45 HST dengan intensitas kerusakan terendah. Tingkat serangan P. xylostella paling tinggi pada 38 HST diikuti dengan peningkatan populasi larva dikarenakan tanaman kubis bunga sudah tumbuh maksimal.
PENGARUH SISTEM TUMPANG SARI PADA PERTANAMAN BAWANG MERAH Allium ascolanium L. DENGAN MINT DAN SELEDRI TERHADAP POPULASI Spodoptera exigua H. (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Kamella Endras Purnamaratih; Sri Karindah; Gatot Mudjiono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spodoptera exigua merupakan salah satu hama yang sering menyebabkan gagal panen pada tanaman bawang merah di dataran rendah Pulau Jawa. Salah satu cara pengendalian yang lebih ramah lingkungan dapat dilakukan dengan penanaman tanaman yang mempunyai sifat repellent (penolak) secara tumpangsari. Oleh karena itu penelitian mengenai pengaruh tumpang sari bawang merah dengan mint dan seledri terhadap S. exigua telah dilakukan di lahan pertanian Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Penelitian ini mengamati dan menghitung populasi S. exigua dan intensitas serangan di pertanaman bawang merah. Perlakuan tumpang sari bawang merah dan mint, perlakuan tumpangsari bawang merah dan seledri, perlakuan tumpang sari bawang, mint dan seledri, dan perlakuan monokultur tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap populasi telur, larva dan imago S. exigua. Rerata populasi telur yaitu sebanyak 6,08 butir/tanaman pada pertanaman monokultur; 4,29 butir/tanaman pada tumpang sari bawang merah dan mint; 3,92 butir/tanaman pada tumpangsari bawang merah dan seledri dan 3,67 butir/tanaman pada tumpangsari bawang merah, mint dan seledri. Serangan dengan intensitas paling tinggi terjadi pada pertanaman  monokultur. Tingkat serangan S. exigua pada 28 HST adalah yang tertinggi, karena pada saat tersebut rerata populasi larva mencapai puncaknya.
PENGARUH REFUGIA TERHADAP DIVERSITAS ARTHROPODA PADA SAWAH PADI DI DESA SUMBERBANJAR, BLULUK, LAMONGAN Lifatin Nur Ida Lailiyah; Sri Karindah; Gatot Mudjiono
Jurnal HPT (Hama Penyakit Tumbuhan) Vol. 7 No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan musuh alami dipengaruhi oleh keanekaragaman tanaman pada lahan budidaya, misalnya keberadaan tumbuhan liar. Oleh karena itu penelitian tentang pengaruh tanaman refugia terhadap diversitas arthropoda dilakukan pada sawah padi desa Sumberbanjar, Bluluk, Lamongan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari tiga perlakuan. Penelitian ini mengamati diversitas arthropoda pada tumbuhan liar (P. oleracea, C. iria, C. rotundus dan E. indica), wijen dan kacang hijau serta padi. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda (H’) pada ketiga pertanaman padi yaitu pertanaman padi dengan pematang ditanami wijen dan kacang hijau, pertanaman padi dengan pematang tumbuhan liar dan pertanaman padi dengan pematang dibersihkan mempunyai nilai indeks keanekaragaman yang berfluktuasi. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda tertinggi pada semua perlakuan adalah pada 50 HST, yaitu pada pertanaman padi dengan pematang wijen dan kacang hijau, pertanaman padi dengan pematang tumbuhan liar dan pertanaman padi dengan pematang dibersihkan (kontrol) adalah 2,20, 2,02 dan 1,56 yang tergolong keanekaragaman sedang. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda pada semua perlakuan mengalami penurunan pada fase generatif. Nilai indeks keanekaragaman arthropoda terus menurun pada semua perlakuan, pada 71 HST nilai indeks keanekaragaman adalah 0 sampai dengan sebelum panen. Sedangkan nilai keseragaman artropoda (E) dari ketiga pertanaman padi tersebut rendah, sehingga tidak ada spesies yang mendominasi pada ketiga pertanaman padi tersebut.