Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Perancangan Museum Angkut Sebagai Pusat Rekreasi Pariwisata dengan Pendekatan Arsitektur Futuristik di Kota Makassar Intan Batari Saputri; Ashari Abdullah; Siti Fuadillah; Rasmawarni Rasmawarni; Andi Annisa Amalia; Andi Syahriyunita Syahruddin
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i1.7308

Abstract

Museum adalah sebuah lembaga yang berfungsi untuk mengumpulkan, merawat, melestarikan dan memamerkan untuk tujuan, pendidikan dan hiburan yang terbuka untuk umum. Di Indonesia alat transportasi mengalami transformasi, khususnya transportasi darat, baik dari segi bentuk, fungsi, hingga efisiensi waktu. Pada saat ini banyak alat transportasi lokal yang tersingkirkan akibat perkembangan teknologi. Museum transportasi menjadi pilihan yang tepat untuk mewadahi warisan sejarah bangsa, khususnya bidang transportasi. Rancangan museum ini dimaksudkan sebagai wadah untuk mengumpulkan, memelihara, meneliti, memamerkan bukti sejarah dan perkembangan transportasi, serta peranannya dalam perkembangan zaman. Hasil perancangan ini mencakup beberapa hal, diantaranya analisis tapak, konsep bentuk bangunan, kebutuhan ruang, aktivitas pengguna, konsep futuristic dan dilanjutkan dengan perancangan master plan, site plan, denah, tampak, potongan, rencana struktur, rencana arsitektur, detal-detail 3 dimensi dan animasi. Pada perancangan ini akan menggunakan konsep pendekatan arsitektur futuristik yang merupakan suatu paham yang mengarah ke masa depan dengan kebebasan mengungkapkan atau mengekspresikan ide gagasan kedalam suatu bentuk tampilan yang tidak biasa, kreatif dan inovatif. Futuristik sejalan dengan perkembangan teknologi, dengan semakin maju teknologi yang diciptakan manusia, maka keberadaan futuristik akan semakin berkembang.Dengan adanya museum angkut dengan konsep arsitektur futuristik ini, museum ini akan menciptakan sebuah desain elegan dan berkelas untuk merawat kendaraan-kendaraan klasik serta dapat pula menarik minat para wisatawan untuk kembali mengujungi museum
Perancangan Sea World di Makassar dengan Pendekatan Arsitektur Biomorfik murnawati murnawati; mursyid mustafa; ashari abdullah; irnawati idrus; andi Syahriyunita; siti fuadillah
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i3.8650

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan kepulauan terbesar didunia. Dengan luas lautan sebesar 63% dari luas keseluruhan tidak heran jika Indonesia memiliki banyak titik dengan potensi bahari yang tersebar di sepanjang pesisir pulau. Sayangnya, potensi ini tertutupi oleh isu over exploitation dan sampah yang merusak ekosistem laut Indonesia. Dari latar belakang tersebut, masyarakat Indonesia harus mempunyai edukasi untuk mengapresiasi keanekaragaman ini dengan benar, khususnya keanekaragaman laut. Seaworld memiliki beragam fasilitas edukasi, rekreasi, dan konservasi yang mempunyai peran penting dalam hal mengedukasi masyarakat Indonesia. Tetapi sangat disayangkan Seaworld belum dipereradakan di Kota Makassar. Hasil pengumpulan data yang dicapai melalui observasi, survey lapangan, dan kuisioner membuktikan bahwa diperlukan sebuah Seaworld di Kota Makassar. Untuk lebih memperkuat tujuan perancangan digunakan lah sebuah konsep tema Arsitektur Biomorfik yang dimana konsep ini sangat memperhatikan pertumbuhan alam sekitar yang kemudian di tuangkan dalam bentuk bangunan, fasad bangunan dan struktur bangunan. Lokasi projek yang di pilih yaitu Jalan Metro Tanjung Bunga, dimana lokasi sangat berpotensi untuk pembangunan pusat rekreasi berbasis edukasi. Dengan luasan sebesar 51.537,74 M2 yang kemudian akan diolah dengan presentase 30% terbangunan dan 70% Tidak terbangun. Bentuk dasar bangunan ini di angkat dari bentuk Ubur- ubur ( jelly fish) dengan peletakkan massa bangunan yang mengambil analogi ddari cara hidup merekan yaitu dengan berkelompok. Dasar bentuk kemudian diolah menjadi setengan lingkaran kemudian di tambahkan ornament struktur sekaligus menjadi astetika pada fasad bangunan.
Peracangan Galeri Seni Mural di Kota Makassar Dengan Pendekatan Arsitektur Organik Wahyudi Rahmat Gazali; Siti Fuadillah A. Amin; Nurhikmah Paddiyatu; Aris Sakkar Dollah; Ashari Abdullah; Khilda Wildana Nur
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i2.8665

Abstract

Di Kota Makassar kata mural masih terdengar asing bagi sebagian besar penduduk local dan mendapatkan izin untuk melukis mural di dinding itu sulit, harus mendapat izin dari pemilik tanah atau tembok pengelola. Tidak jarang seniman mural ini biasa disebut vandalisme oleh masyarakat. Para pencipta mural membutuhkan ruang yang dapat menampung berbagai karya seni agar dapat di apresiasi oleh public. Pendekatan   konseptual yang digunakan adalah pendekatan arsitektur organik yang dapat di gambarkan sebagai hasil dari emosi yang hidup, seperti integritas, kebebasan, persaudaraan, harmoni, keindahan kegembiraan dan hubungan antara lingkungan manusia dan alam. Objek rancangan yang ditawarkan yaitu Galeri Seni Mural sebagai wadah perkembanagan kreatifitas seniman mural yang dapat memfasilitasi berbagai macam prasarana penunjang seperti pameran seni, workshop, pertunjukan maupun pelatihan serta dapat memperkenalkan seni mural kepada masyarakat. 
Perancangan Sport Center dengan Pendekatan Arsitektur Kontemporer di Kabupaten Jeneponto Nur Indah Rokhana; KhildaWildanaNur khilda wildana; Irnawaty Idrus; Ashari Abdullah; Syahriyunita Syahruddin; Andi Annisa Amalia
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i1.7300

Abstract

ABSTRAK: Merancang suatu gedung Sport Center di Kota Jeneponto yang menghubungkantaman dengan bangunan bertujuan untuk menyusun suatu konsep perancangan denganmenyediakan fasilitas olahraga, yang dapat mewadahi, dan dapat menampung aktivitas olahragasecara keseluruhan bagi para atlet, pelajar, pemuda dan masyarakat dengan menghasilkan suaturancangan bangunan Sport Center yang dapat mengembangkan fasilitas kota jeneponto, Metodeperancangan ini merumuskan tentang langkah metode yang digunakan adalah metodepengumpulan data primer dan sekunder, analisa dan sintesa serta skema perancangan. MenjadikanSport Center sebagai sarana untuk menampung minat warga terhadap olahraga yang akan menjadisarana untuk berlatih dan bertanding para atlet asal Jeneponto. agar para atlet ini lebih berprestasilagi dan dapat mengharumkan nama Jeneponto. fungsi penunjang kegiatan pada masyararakatdengan pengolahan tapak yang sesuai dengan kebutuhan untuk memaksimalkan ruang terbukahijau, menerapkan konsep dan desain yang mempertimbangkan kebutuhan pengguna terhadapruang dan orientasi, memanfaatkan kondisi iklim dan sumber energi bagi bangunan tersebut agarmemaksimalkan pencahayaan dan penghawaan atau dengan mengoptimalkan sun shading.
Perancangan Gelanggang Pacuan Kuda Di Kabupaten Polewali Mandar Dengan Pendekatan Arsitektur Hijau Muhammad Ilham; Sahabuddin Latif; Irnawaty Idrus; Ashari Abdullah; A. Syahriyunita Syahruddin; Rohana Rohana
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i3.8776

Abstract

Gelanggan pacuan kuda adalah wadah untuk lomba dimana seorang penjoki mengendarai atau menunggangi kuda untuk mencapai garis finish secepatnya dengan lintasan yang telah ditentukan. Awalnya pacuan kuda menggunakan kereta digunakan pada zaman kaisar romawi. Pacuan kuda di polewali mandar menjadi suatu tradisi setiap tahunnya, oleh karena itu perlu dilakukan perancangan gelanggang pacuan kuda di polewali mandar. Maka dilakukan survey lokasi dan studi kasus bangunan sejenis di beberapa tempat. Hasil desain telah dilaksanakan dengan menghasilkan gambar desain dengan luas kurang lebih 11 ha, menerapkan konsep dengan pendekatan arsitektur hijau. Dengan adanya bangunan ini, maka kebutuhan sarana gelanggan pacuan kuda di polewali mandar terpenuhi.
Redesain PD. Terminal Makassar Metro Dengan Pendekatan Arsitektur Modern di Kota Makassar M muhajerin; Siti Fuadillah A. Amin; Citra Amalia Amal; Ashari Abdullah; Rohana Rohana; Andi Annisa Amalia
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 2, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v2i1.10353

Abstract

ABSTRAK: PD. Terminal Makassar Metro merupakan salah satu terminal induk di Kota Makassar yang melayani 34 trayek (rute). Keberadaan  PD. Terminal Makassar Metro sangat diperlukan dalam mendukung mobilitas penduduk di dalam dan di luar Kota Makassar dan menciptakan ketertiban lalu lintas. Kondisi PD. Terminal Makassar Metro saat ini banyak memiliki permasalahan seperti fasilitas pelayanan terminal tidak memenui standar terminal tipe A, kondisi fasilitas kurang terawat, dan sirkulasi penumpan didalam terminal yang tidak terorganisir dengan baik. Tujuan redesain PD. Terminal Makassar Metro adalah mewujudkan PD. Terminal Makassar Metro sebagai terminal induk yang sesuai dengan standar terminal tipe A dengan menerapkan konsep arsitektur modern sebagai pendekatan atau upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi permasalahan yang ada pada PD. Terminal Makassar Metro. Hasil redesain konsep tapak ini dengan luas 12 ha, tersedia fasilitas di dalam terminal penumpang yang dilengkapi ruang tunggu di lantai 1 dan 2, hall, loket tiket, restauran, ruang P3K, tempat bermain anak, mini market, foodcont, dan kantor pengelolah, untuk fasilitas pada site terdapat bagunan terminal, parkiran umum dan parkiran bus, musholla, area check-in kendaraan, tempat istirahat sopir, bengkel, taman, tempat cuci bus, dan peron. Hasil penelitian ini menyimpulkan PD. Terminal Makassar Metro menjadi salah satu terminal induk yang berstandar tipe A dengan konsep arsitektur modern.KATA KUNCI : Arsitektur Modern, PD. Terminal Makassar Metro, Redesain
Perancangan terminal bus tipe A di Kota Makassar dengan pendekatan arsitektur kontemporer wirga sandy ahyar; Mursyid Mustafa; Ashari Abdullah; Andi Yusri; Khilda Wildana Nur; Nurhikmah Paddiyatu
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i3.8705

Abstract

Terminal Bus tipe A adalah prasarana transportasi jalan yang digunakan untuk keperluan memuat dan menurunkan penumpang serta mengatur keberangkatan dan kedatangan, yang melayani angkutan antar kota antar provinsi, antar kota lintas batas negara, antar kota dalam provinsi dan angkutan desa. banyaknya masalah-masalah yang terjadi diterminal regional daya seperti kekurangan dari sarana maupun prasarana. Berdasarkan permasalahan yang ada maka perlu dirancang terminal bus tipe A dengan pendekatan arsitektur kontemporer. Metode yang di gunakan adalah pendekatan arsitektur kontemporer yang  menampilkan sesuatu yang berbeda yang menampilkan kualitas tertentu terutama dari segi penggunaan teknologi dan juga kebebasan dalam menampilkan suatu gaya arsitektur.Tujuan dari perancangan terminal bus tipe A ini adalah untuk mengatasi masalah-masalah yang telah dijelaskan diatas dan meningkatkan pelayanan terhadap pengguna jasa yang meliputi angkutan  antar kota dalam propinsi (AKDP), angkutan antar kota antar provinsi (AKAP), angkutan kota (AK), serta meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan  daerah. Hasil perancangan ini meliputi konsep tapak dengan luas 5,5 Ha yang terdiri dari ruang pengelola 420 m2 , ruang terminal 6.485 m2 dan ruang parkir 9.348 m2. Yang akan disajikan dalam bentuk gambar 2 dimensi yaitu analisis tapak, konsep bentuk, serta 3 dimensi dan animasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terminal bus tipe A dengan pendekatan arsitektur kontemporer ini di desain dengan memperhatikan kenyamanan dan keamanan pengguna.
Perancangan Convention Center Di Kota Makassar Dengan Pendekatan Arsitektur Modern Imam Rusydi Yulyadiputra; Aris Sakkar Dollah; Sahabuddin Latif; Ashari Abdullah; Nurhikmah Paddiyatu; Salmiah Zainuddin
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i2.8744

Abstract

Penyebaran dan pertukaran informasi di masa sekarang tidak hanya terjadi melalui media massa, penyebaran dan pertukaran informasi juga sering terjadi melalui kegiatan pertemuan atau konvensi baik bersifat regional, nasional, maupun internasional. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, kebutuhan akan fungsi baru untuk mewadahi kegiatan-kegiatan yang bersifat pertemuan, pameran dan hiburan baik di tingkat nasional maupun internasional juga akan terus meningkat. Pemerintah Indonesia saat ini sedang meningkatkan 16 kota tujuan MICE antara lain Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Lombok, Bali, dan Manado. Sebagai salah satu dari 16 kota tujuan MICE di Indonesia, Makassar harus siap untuk menyelenggarakan kegiatan MICE lokal, nasional, dan internasional yang akan terus meningkat di masa mendatang. Fasilitas yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan MICE bermacam - macam, termasuk di dalamnya gedung konvensi.
Arsitektur Kolaboratif Biophilic untuk Generasi Z di Kota Tropis: Studi Kasus Kota Makassar Cinta Dwi Andayu; Citra Amalia Amal; Ashari Abdullah; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.202

Abstract

ABSTRAKGenerasi Z menghadapi tantangan psikologis dan sosial yang signifikan di lingkungan perkotaan, khususnya yang berkaitan dengan tekanan kesehatan mental yang diperparah oleh saturasi digital dan keterbatasan interaksi sosial yang otentik. Sebagai respons terhadap kondisi ini, studi ini mengusulkan desain Gen-Z Collaboration Center di Kota Makassar, Indonesia, dengan menggunakan prinsip-prinsip arsitektur biophilic. Melalui metode deskriptif kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan analisis tapak, kajian pustaka, dan studi kasus komparatif untuk merumuskan desain yang menyatukan fungsionalitas spasial dengan elemen alam. Desain yang dihasilkan terdiri dari tiga zona inti—kesehatan mental, kreativitas, dan kewirausahaan—yang disusun dalam tata ruang radial dan terinspirasi secara simbolik dari tanda baca semicolon. Fitur utama meliputi pencahayaan alami, taman vertikal, fitur air, material organik, serta ruang fleksibel dan adaptif yang mendorong ketahanan emosional, koneksi sosial, dan kehidupan kota yang berkelanjutan. Dengan menerapkan pola desain biophilic dari Terrapin Bright Green, pusat ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang kolaboratif, tetapi juga sebagai ekosistem penyembuhan dalam konteks urban. Penelitian ini berkontribusi terhadap praktik desain perkotaan dengan menawarkan model arsitektur publik yang berpusat pada generasi muda, berkelanjutan, dan responsif secara psikologis di kota-kota tropis. ABSTRACTGeneration Z faces significant psychological and social challenges in urban environments, particularly related to mental health stressors exacerbated by digital saturation and limited authentic social interaction. In response, this study proposes the design of a Gen-Z Collaboration Center in Makassar, Indonesia, using biophilic architectural principles. Employing a qualitative descriptive methodology, the study integrates site analysis, literature review, and comparative case studies to formulate a design that merges spatial functionality with natural elements. The resulting design consists of three core zones—mental wellness, creativity, and entrepreneurship—structured through a radial layout and symbolically inspired by the semicolon. Key features include natural lighting, vertical gardens, water features, organic materials, and flexible, adaptive spaces that promote emotional resilience, social connection, and sustainable urban living. By applying Terrapin Bright Green's biophilic design patterns, the center serves not only as a collaborative environment but also as a healing urban ecosystem. This research contributes to urban design practices by offering a youth-centered, sustainable, and psychologically responsive public architecture model for tropical cities.
Integrasi Alam dalam Desain Pesisir: Pendekatan Biomimikri pada Oceanarium Hamza Hamid; Citra Amalia Amal; Ashari Abdullah; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.203

Abstract

ABSTRAKStudi ini mengeksplorasi penerapan pendekatan biomimikri dalam desain arsitektur Oceanarium di Kota Makassar, sebuah kota pesisir dengan keanekaragaman hayati laut yang signifikan. Terletak pada pertemuan antara pariwisata, pendidikan, dan konservasi, Oceanarium ini bertujuan merespons degradasi ekologi dan minimnya fasilitas edukasi kelautan yang terintegrasi. Dengan mengambil inspirasi dari bentuk-bentuk alami seperti terumbu karang dan gelombang laut, desain ini menggabungkan geometris yang mengalir, material transparan, dan program spasial adaptif untuk mendorong integrasi lingkungan dan pengalaman imersif bagi pengguna. Secara metodologis, penelitian ini menggabungkan analisis tapak, kajian literatur, studi banding kasus internasional, dan sketsa konseptual untuk merumuskan strategi desain yang kontekstual. Bangunan dirancang dengan zona-zona fungsional seperti area publik, edukasi, rekreasi, dan konservasi, yang dihubungkan melalui sirkulasi pengunjung menyerupai arus laut. Prinsip biomimikri diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan termal, ventilasi alami, dan ketahanan lingkungan. Hasil menunjukkan bahwa biomimikri meningkatkan kinerja arsitektur baik secara estetika maupun fungsional. Pendekatan ini memfasilitasi praktik bangunan berkelanjutan, mendorong keterlibatan publik, dan selaras dengan konteks budaya serta ekologi lokal. Oceanarium ini tampil bukan hanya sebagai landmark arsitektur ikonik, tetapi juga sebagai laboratorium hidup untuk edukasi kelautan dan pelestarian lingkungan. ABSTRACTThis study explores the application of biomimicry in the architectural design of an Oceanarium in Makassar City, a coastal metropolis with significant marine biodiversity. Positioned at the intersection of tourism, education, and conservation, the Oceanarium aims to respond to ecological degradation and the lack of integrated marine educational facilities. Drawing inspiration from natural forms such as coral reefs and ocean waves, the design incorporates fluid geometries, transparent materials, and adaptive spatial programming to promote environmental integration and user immersion. Methodologically, the research integrates site analysis, literature review, comparative international case studies, and conceptual sketching to formulate a contextual design strategy. The building features multiple zones, including public, educational, recreational, and conservation areas, connected through a visitor circulation system that mimics ocean currents. Biomimetic principles are applied to enhance thermal comfort, natural ventilation, and environmental resilience. The results indicate that biomimicry enhances architectural performance both aesthetically and functionally. It facilitates sustainable building practices, fosters public engagement, and aligns with local cultural and ecological contexts. The Oceanarium emerges as not only an iconic architectural landmark but also a living laboratory for marine education and environmental stewardship.