Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : AGRIKA

MEDIA CAMPURAN BIOCHAR SEKAM PADI DAN PUPUK ORGANIK SEBAGAI MEDIA TANAM VERTIKULTUR PADA TANAMAN SELADA KERITING Hidayati Karamina; Ariani Trisna Murti; Tri Mujoko
Agrika Vol 16, No 1 (2022): MEI 2022
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v16i1.2172

Abstract

ABSTRAKSelada keriting merupakan salah satu komoditi hortikultura yang memiliki prospek yang cukup stabil. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, maraknya alih fungsi lahan menjadi pemukiman menyebabkan  ketersediaan lahan pertanian berkurang, sehingga hasil produktivitas sayuran juga mengalami penurunan. Merujuk pada permasalahan ini, vertikultur dapat menjadi alternatif bercocok tanam pada lahan yang sempit. Komposisi media tanam sistem vertikultur yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman akan berpengaruh pada kualitas produksi tanaman. Media tanam dari biochar sekam padi dapat dijadikan sebagai bahan pembenah tanah dalam upaya rehabilitasi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui takaran biochar sekam padi yang cocok sebagai campuran media vertikultur dan dosis pupuk petroganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selada keriting. Penelitian ini dilaksanakan Desember 2019 sampai Maret 2020 di Kelurahan Tlogomas, Kota Malang. Rancangan percobaan yang digunakan ialah RAK Faktorial yang terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor pertama biochar sekam padi (A) terdiri atas 3 taraf yaitu 0 g/paralon, 4000 g/paralon dan 8000 g/paralon dan faktor kedua petroganik (P) terdiri dari 3 taraf yaitu 0 g/tan, 1 g/tan dan 2 g/tan. Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman, luas daun, berat segar total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan selada keriting terbaik pada parameter luas daun diperoleh pada perlakuan A1P2 dengan total luas daun 5.97 cm2 pada umur 2 Minggu Setelah Tanaman (MST), tinggi tanaman terbaik pada perlakuan A1P1 yaitu 16.36 cm. Bobot segar total tanaman selada keriting terbaik diperoleh pada perlakuan biochar sekam padi 4 kg (A1) dengan rerata berat segar total tanaman 17.05 g/tan. ABSTRACTCurly lettuce is a horticultural commodity that has a fairly stable prospect. Along with the increasing number of Indonesia's population, the conversion of land functions into settlements causes the availability of agricultural land to decrease, so that the yield of vegetable productivity also decreases. Referring to this problem, verticulture can be another alternative to farming on a narrow land. The composition of the verticulture system planting media in accordance with the requirements for plant growth will affect the quality of plant production. Growing media from rice husk charcoal can be used as a soil amendment material to rehabilitate land. This study aims to determine the appropriate dose of husk charcoal suitable as a mixture of verticultural media and the dose of petroganic fertilizer on the growth and yield of curly lettuce. This research was conducted in December 2019 to March 2020 in the Tlogomas Village, Malang. The experimental design used was a Factorial Random Block Design which consisted of two factors and was repeated 3 times. The first factor is rice husk biochar (A) consisting of 3 levels, namely 0 g/paralon, 4000 g/paralon and 8000 g/paralon and the second petroganic factor (P) consists of 3 levels, namely 0 g/tan, 1 g/tan and 2 g/tan. The observed variables were plant height, leaf area, total fresh weight. The results showed that the best growth of curly lettuce on leaf area parameters was obtained in treatment A1P2 with a total leaf area of 5.97 cm2 at 2 weeks after planting (MST), the best plant height in treatment A1P1 was 16.36 cm. The best total fresh weight of curly lettuce was obtained in the treatment of rice husk biochar 4 kg (A1) with an average plant fresh weight of 17.05 g/tan 
UJI TINGKAT KERAPATAN SPORA DAN WAKTU APLIKASI Beauveria bassiana TERHADAP MORTALITAS ULAT GRAYAK (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) PADA TANAMAN JAGUNG Frimadani, Latifah; Widajati, Wiludjeng; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v18i2.6396

Abstract

ABSTRAKInsektisida kimia sintetis masih banyak digunakan kalangan petani untuk mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda J.E Smith) yang menyerang tanaman jagung. Penggunaan insektisida kimia secara berlebihan menimbulkan pengaruh negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Alternatif pengendalian S. frugiperda yang ramah lingkungan perlu dilakukan dengan memanfaatkan jamur entomopatogen, salah satunya berasal dari spesies Beauveria bassiana. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kerapatan spora B. bassiana dan waktu aplikasi yang efektif terhadap mortalitas S. frugiperda pada tanaman jagung. Penelitian disusun secara rancangan acak lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama berupa kerapatan spora (106, 107, 108, dan 109 spora/ml), akuades steril dan insektisida kimia sintetis deltametrin sebagai kontrol. Faktor kedua adalah waktu aplikasi jamur (pagi dan sore hari). Hasil penelitian menunjukkan aplikasi B. bassiana pada waktu sore hari dengan kerapatan 108 dan 109 spora/ml mengakibatkan mortalitas larva S. frugiperda sebesar 60% dan 73.3%. Waktu aplikasi B. bassiana pada sore hari mengakibatkan persentase mortalitas lebih tinggi dibanding pada pagi hari. ABSTRACTSynthetic chemical insecticides are still widely used by farmers to control armyworm pests (Spodoptera frugiperda J.E Smith) which attack corn plants. Excessive use of chemical insecticides has negative effects on the environment and health. Environmentally friendly alternative control of S. frugiperda needs to be done by utilizing entomopathogenic fungi, one of which comes from the Beauveria bassiana species. This research was conducted to determine the density level of B. bassiana spores and the effective application time for S. frugiperda mortality on corn plants. The research was structured in a factorial Completely Randomized Design (CRD). The first factor was spore density (106, 107, 108, and 109 spores/ml), sterile distilled water and the synthetic chemical insecticide deltamethrin as a control. The second factor was the time of fungal application (morning and evening). The results show that application of B. bassiana in the afternoon with a density of 108 and 109 spores/ml resulted in S. frugiperda larvae mortality of 60% and 73.3%. The application time of B. bassiana in the afternoon resulted in a higher mortality percentage than in the morning.
PENGARUH BEBERAPA KONSENTRASI Streptomyces sp. TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN Sclerotium rolfsii PENYEBAB PENYAKIT BUSUK BATANG TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) Ersyaf, Ihza Muhammad; Mujoko, Tri; Wiyatiningsih, Sri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6844

Abstract

ABSTRAK Sclerotium rolfsii adalah salah satu patogen yang tergolong penting pada tanaman kacang tanah. Upaya pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan kandungan senyawa antibiotik Streptomyces sp. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penghambatan Streptomyces sp. terhadap S. rolfsii. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) skala in-vitro dan in-vivo dengan perlakuan konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20%, dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. terhadap pertumbuhan S. rolfsii pada skala in-vitro tetapi pada skala in-vivo aplikasi perlakuan belum sepenuhnya optimal. Aplikasi 25% menunjukkan hasil terbaik pada seluruh parameter dibanding konsentrasi lainnya pada skala in-vitro dan in-vivo.
EFEKTIVITAS Streptomyces sp. SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI CEKAMAN PESTISIDA DI PERTANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) KECAMATAN BAGOR KABUPATEN NGANJUK Lius, Michelle; Mujoko, Tri; Nirwanto, Herry
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.6847

Abstract

ABSTRAK Pestisida merupakan bahan beracun yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Pengaplikasian pestisida secara langsung pada tanaman dapat meninggalkan residu yang berdampak pada kesehatan serta mengendap di dalam tanah dan menyebabkan kesuburan tanah terganggu. Bioremediasi merupakan pengembangan di bidang bioteknologi lingkungan yang memanfaatkan agen biologis untuk mengendalikan pencemaran.  Streptomyces sp. dapat menjadi agen bioremediasi yang membantu menurunkan nilai residu klorpirifos. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Streptomyces sp. sebagai agen bioremediasi serta untuk mengetahui konsentrasi Streptomyces sp. yang efektif. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan kontrol atau tanpa Streptomyces sp., penambahan konsentrasi Streptomyces sp. 10 ml/100 ml aquades dan 20 ml/100 ml aquades. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi Streptomyces sp. pada tanah tercemar residu klorpirfos dengan konsentrasi 20 ml mampu menurunkan nilai residu klorpirifos sebanyak 94% yaitu dari 1.08 ppm menjadi 0.06 ppm dalam waktu 21 hari.    
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR PATOGEN Colletotrichum sp. SECARA IN VITRO Firmansyah, Moch Ryan; Purnawati, Arika; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7270

Abstract

Peningkatan permintaan cabai di Indonesia diiringi dengan tantangan produksi, salah satunya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. Penyakit ini menurunkan hasil dan kualitas buah, dan umumnya dikendalikan dengan fungisida kimia. Penggunaan fungisida kimia menimbulkan risiko terhadap kesehatan dan lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak bawang putih sebagai agen hayati terhadap Colletotrichum sp. secara in vitro dan membandingkannya dengan fungisida propineb. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dengan dua faktor, yaitu jenis perlakuan (ekstrak bawang putih dan fungisida kimia) dan konsentrasi (5%, 10%, dan 15%). Parameter yang diamati meliputi diameter koloni, persentase hambatan, intensitas serangan pada buah, serta karakteristik makro dan mikroskopis jamur. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih 15% mampu menghambat pertumbuhan jamur sebesar 38.73% dan intensitas serangan sebesar 21.33%, sedangkan fungisida propineb 5% menunjukkan hambatan tertinggi sebesar 78.43% dan intensitas serangan terendah sebesar 2.67%. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih memiliki potensi antijamur. namun efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan propineb.
POTENSI BIOPESTISIDA FOBIO DALAM MENEKAN PENYAKIT BERCAK DAUN (Helminthosporium oryzae) PADA TANAMAN PADI GOGO ORGANIK DI MOJOKERTO Wiyatiningsih, Sri; Eben, Philipus Wahyu Baskoro; Mujoko, Tri
Agrika Vol. 19 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v19i2.7358

Abstract

Penyakit bercak daun yang disebabkan oleh Helminthosporium oryzae merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman padi. Terdapat strategi pengendalian dalam pertanian berkelanjutan yang dapat diterapkan, salah satunya menggunakan biopestisida ramah lingkungan yang dapat menekan perkembangan penyakit tanaman. Penggunaan biopestisida Fobio diharapkan mampu mengandung berbagai mikroorganisme, baik yang sengaja diisolasi dari perakaran tanaman maupun yang terkandung didalam medium pembawanya. Tujuan penelitan ini adalah mengetahui potensi berbagai konsentrasi biopestisida Fobio dalam menekan perkembangan patogen  H. oryzae penyebab penyakit bercak daun pada tanaman padi gogo organik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitan ini adalah KT sebagai kontrol (konsentrasi 0 ml/liter), FA (konsentrasi 5 ml/liter), FB (konsentrasi 10 ml/liter), FC (konsentrasi 15 ml/liter) dengan dosis 8 liter/plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula biopestisida Fobio pada konsentrasi 10 ml/liter paling efektif dalam menghambat infeksi patogen penyakit bercak coklat yang disebabkan oleh H. oryzae dibanding perlakuan lainnya. Pada perlakuan ini intensitas serangan penyakit akibat H. oryzae adalah yang paling rendah, yaitu 53.47% pada 10 MST, menghasilkan bobot basah gabah 979.0 gram dan bobot kering gabah 887.33 gram.