Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

TEMPORAL AND SPATIAL VARIATIONS OF HEAVY METALS IN SHELLFISH IN BANTEN BAY: VARIASI TEMPORAL DAN SPASIAL LOGAM BERAT PADA KERANG DAN KEPITING DI TELUK BANTEN Dinulislam, Annisa; Salsabilla, Tsalista; Melinda, Tresna; Sulistyowati, Dwi Indah; Noviani, Ertika; Fatryani, Dita; Febrianessa, Nadya; Nedya, Hanifah; Sulistiono, Sulistiono
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.428-439

Abstract

Banten Bay is a busy water area with diverse activities, including capture fisheries, aquaculture, marine and land transportation, and industry, which are estimated to generate significant amounts of heavy metals that enter the water and accumulate in fish and shellfish. Some fishery commodities commonly found in Banten Bay included shellfish, such as blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs. The study aims to monitor heavy metal contamination variations spatially and temporally of the shellfish in Banten Bay. Biota samples were taken for 6 months in Cengkok Coastal Waters (March–August 2019) and 3 months in Bojonegara Coastal Waters (August–October 2020). The heavy metal content was determined using an atomic absorption spectrophotometer (AAS). Pb and Cd concentrations in the flesh of the shellfish (blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs) from the Cengkok and Bojonegara Coastal Waters ranged from 0.001 to 0.070 ppm and from <0.001 to 0.030 ppm, respectively. All measured heavy metal concentrations met the BPOM (2018) quality standards. Bioconcentration factors were generally <100, indicating low accumulation levels.  Blood cockles, green mussels, and mud crabs from Cengkok Coastal Waters were still safe for consumption in normal amounts, while the consumption of swimming crabs was strictly limited to 0.42 kg/week for adults and 0.11 kg/week for children. The same four species from the Bojonegara Coastal Waters were also considered safe for consumption in normal portions.
SAMPAH PLASTIK DIRUBAH MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK (CAIR) MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS Sulistiono, Sulistiono; Fauzi, Ah. Sulhan; Nuryosuwito, Nuryosuwito
Prosiding SEMNAS INOTEK (Seminar Nasional Inovasi Teknologi) Vol. 2 No. 1 (2018): PROSIDING SEMNAS INOTEK Ke-II Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/inotek.v2i1.463

Abstract

Produksi plastik global meningkat selama bertahun-tahun karena banyaknya aplikasi plastik di banyak sektor. Permintaan terus menerus dari plastik menyebabkan akumulasi limbah plastik di TPA menghabiskan banyak ruang yang berkontribusi terhadap masalah lingkungan. Meningkatnya permintaan plastik menyebabkan pelepasan minyak bumi sebagai bagian dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan karena plastik adalah bahan berbasis minyak bumi. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan studi terhadap karakteristik pirolisis, material sampah plastik dengan katalis alam Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Dari hasil proses pirolisis diketahui bahwa volume cairan tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan pada reaktor selama 180 menit, sedangkan berat jenis tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan selama 60 menit, kemudian viskositas minyak terendah didapat dengan waktu pemanasan selama 360 menit menunjukkan bahwa waktu pemanasan pada reaktor dengan penambahan katalis mampu mempengaruhi tingkat kualitas minyak hasil dari proses pirolisis dalam aspek volume cairan, berat jenis serta viskositas dengan demikiaan bahwa jenis bahan baku sangat mempengaruhi hasil produk dan kualitas produk cair dan gas. Sampah plastik dapat menghasilkan fraksi cairan tertinggi. Paduan katalis mengurangi fraksi cairan dan meningkatkan fraksi gas. Sampah plastik di kotamadya dapat diolah dengan proses pirolisis menjadi bahan bakar alternatif dengan nilai lebih tinggi dari pada produk biomassa.
SAMPAH PLASTIK DIRUBAH MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK (CAIR) MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS Sulistiono, Sulistiono; Fauzi, Ah. Sulhan; Nuryosuwito, Nuryosuwito
Prosiding SEMNAS INOTEK (Seminar Nasional Inovasi Teknologi) Vol. 2 No. 1 (2018): PROSIDING SEMNAS INOTEK Ke-II Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/inotek.v2i1.488

Abstract

Produksi plastik global meningkat selama bertahun-tahun karena banyaknya aplikasi plastik di banyak sektor. Permintaan terus menerus dari plastik menyebabkan akumulasi limbah plastik di TPA menghabiskan banyak ruang yang berkontribusi terhadap masalah lingkungan. Meningkatnya permintaan plastik menyebabkan pelepasan minyak bumi sebagai bagian dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan karena plastik adalah bahan berbasis minyak bumi. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan studi terhadap karakteristik pirolisis, material sampah plastik dengan katalis alam Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Dari hasil proses pirolisis diketahui bahwa volume cairan tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan pada reaktor selama 180 menit, sedangkan berat jenis tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan selama 60 menit, kemudian viskositas minyak terendah didapat dengan waktu pemanasan selama 360 menit menunjukkan bahwa waktu pemanasan pada reaktor dengan penambahan katalis mampu mempengaruhi tingkat kualitas minyak hasil dari proses pirolisis dalam aspek volume cairan, berat jenis serta viskositas dengan demikiaan bahwa jenis bahan baku sangat mempengaruhi hasil produk dan kualitas produk cair dan gas. Sampah plastik dapat menghasilkan fraksi cairan tertinggi. Paduan katalis mengurangi fraksi cairan dan meningkatkan fraksi gas. Sampah plastik di kotamadya dapat diolah dengan proses pirolisis menjadi bahan bakar alternatif dengan nilai lebih tinggi dari pada produk biomassa.