Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

TEMPORAL AND SPATIAL VARIATIONS OF HEAVY METALS IN SHELLFISH IN BANTEN BAY: VARIASI TEMPORAL DAN SPASIAL LOGAM BERAT PADA KERANG DAN KEPITING DI TELUK BANTEN Dinulislam, Annisa; Salsabilla, Tsalista; Melinda, Tresna; Sulistyowati, Dwi Indah; Noviani, Ertika; Fatryani, Dita; Febrianessa, Nadya; Nedya, Hanifah; Sulistiono, Sulistiono
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 16 No 4 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24319/jtpk.16.428-439

Abstract

Banten Bay is a busy water area with diverse activities, including capture fisheries, aquaculture, marine and land transportation, and industry, which are estimated to generate significant amounts of heavy metals that enter the water and accumulate in fish and shellfish. Some fishery commodities commonly found in Banten Bay included shellfish, such as blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs. The study aims to monitor heavy metal contamination variations spatially and temporally of the shellfish in Banten Bay. Biota samples were taken for 6 months in Cengkok Coastal Waters (March–August 2019) and 3 months in Bojonegara Coastal Waters (August–October 2020). The heavy metal content was determined using an atomic absorption spectrophotometer (AAS). Pb and Cd concentrations in the flesh of the shellfish (blood cockles, green mussels, mud crabs, and blue swimming crabs) from the Cengkok and Bojonegara Coastal Waters ranged from 0.001 to 0.070 ppm and from <0.001 to 0.030 ppm, respectively. All measured heavy metal concentrations met the BPOM (2018) quality standards. Bioconcentration factors were generally <100, indicating low accumulation levels.  Blood cockles, green mussels, and mud crabs from Cengkok Coastal Waters were still safe for consumption in normal amounts, while the consumption of swimming crabs was strictly limited to 0.42 kg/week for adults and 0.11 kg/week for children. The same four species from the Bojonegara Coastal Waters were also considered safe for consumption in normal portions.
SAMPAH PLASTIK DIRUBAH MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK (CAIR) MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS Sulistiono, Sulistiono; Fauzi, Ah. Sulhan; Nuryosuwito, Nuryosuwito
Prosiding SEMNAS INOTEK (Seminar Nasional Inovasi Teknologi) Vol. 2 No. 1 (2018): PROSIDING SEMNAS INOTEK Ke-II Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/inotek.v2i1.463

Abstract

Produksi plastik global meningkat selama bertahun-tahun karena banyaknya aplikasi plastik di banyak sektor. Permintaan terus menerus dari plastik menyebabkan akumulasi limbah plastik di TPA menghabiskan banyak ruang yang berkontribusi terhadap masalah lingkungan. Meningkatnya permintaan plastik menyebabkan pelepasan minyak bumi sebagai bagian dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan karena plastik adalah bahan berbasis minyak bumi. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan studi terhadap karakteristik pirolisis, material sampah plastik dengan katalis alam Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Dari hasil proses pirolisis diketahui bahwa volume cairan tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan pada reaktor selama 180 menit, sedangkan berat jenis tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan selama 60 menit, kemudian viskositas minyak terendah didapat dengan waktu pemanasan selama 360 menit menunjukkan bahwa waktu pemanasan pada reaktor dengan penambahan katalis mampu mempengaruhi tingkat kualitas minyak hasil dari proses pirolisis dalam aspek volume cairan, berat jenis serta viskositas dengan demikiaan bahwa jenis bahan baku sangat mempengaruhi hasil produk dan kualitas produk cair dan gas. Sampah plastik dapat menghasilkan fraksi cairan tertinggi. Paduan katalis mengurangi fraksi cairan dan meningkatkan fraksi gas. Sampah plastik di kotamadya dapat diolah dengan proses pirolisis menjadi bahan bakar alternatif dengan nilai lebih tinggi dari pada produk biomassa.
SAMPAH PLASTIK DIRUBAH MENJADI BAHAN BAKAR MINYAK (CAIR) MENGGUNAKAN PROSES PIROLISIS Sulistiono, Sulistiono; Fauzi, Ah. Sulhan; Nuryosuwito, Nuryosuwito
Prosiding SEMNAS INOTEK (Seminar Nasional Inovasi Teknologi) Vol. 2 No. 1 (2018): PROSIDING SEMNAS INOTEK Ke-II Tahun 2018
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/inotek.v2i1.488

Abstract

Produksi plastik global meningkat selama bertahun-tahun karena banyaknya aplikasi plastik di banyak sektor. Permintaan terus menerus dari plastik menyebabkan akumulasi limbah plastik di TPA menghabiskan banyak ruang yang berkontribusi terhadap masalah lingkungan. Meningkatnya permintaan plastik menyebabkan pelepasan minyak bumi sebagai bagian dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan karena plastik adalah bahan berbasis minyak bumi. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dilakukan studi terhadap karakteristik pirolisis, material sampah plastik dengan katalis alam Klaten, Jawa Tengah, Indonesia. Dari hasil proses pirolisis diketahui bahwa volume cairan tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan pada reaktor selama 180 menit, sedangkan berat jenis tertinggi dicapai dengan waktu pemanasan selama 60 menit, kemudian viskositas minyak terendah didapat dengan waktu pemanasan selama 360 menit menunjukkan bahwa waktu pemanasan pada reaktor dengan penambahan katalis mampu mempengaruhi tingkat kualitas minyak hasil dari proses pirolisis dalam aspek volume cairan, berat jenis serta viskositas dengan demikiaan bahwa jenis bahan baku sangat mempengaruhi hasil produk dan kualitas produk cair dan gas. Sampah plastik dapat menghasilkan fraksi cairan tertinggi. Paduan katalis mengurangi fraksi cairan dan meningkatkan fraksi gas. Sampah plastik di kotamadya dapat diolah dengan proses pirolisis menjadi bahan bakar alternatif dengan nilai lebih tinggi dari pada produk biomassa.
Optimalisasi Potensi Lokal dalam Penyusunan Paket Ekowisata di Sumber Jembangan Kabupaten Kediri Sulistiyowati, Tutut Indah; Mubarok, Husni; Prastyaningtyas, Eva Wahyu; Firliana, Rina; Santoso, Agus Muji; Sulistiono, Sulistiono; Primandiri, Poppy Rahmatika; Utami, Budhi; Rahmawati, Ida; Herawati, Elysabet; Budiretnani, Dwi Ari; Zunaidah, Farida Nurlaila
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Cipta Media Harmoni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53624/kontribusi.v6i2.798

Abstract

Latar Belakang: Sumber Jembangan merupakan kawasan wisata berbasis hutan dan sumber air yang dikelola oleh Pokdarwis Desa Tempurejo Kecamatan Wates Kabupaten Kediri. Luas perairan kawasan ini sebesar 1.5 Ha, sedangkan luasan hutan adalah sebesar 7.5 Ha. Kawasan ini belum seluruhnya dibuka untuk kepentingan wisata, sehingga kegiatan wisata di Sumber Jembangan masih mengandalkan sector pemandangan alam dan wisata memberi makan ikan. Tujuan: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi lokal yang ada di Sumber Jembangan dalam penyusunan paket wisata agar dapat menambah jumlah kegiatan yang bisa dilakukan di kawasan wisata ini, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.  Metode: Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah berupa paket pelatihan kepada pengelola dan perangkat desa terkait. Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam paket pelatihan adalah seminar, eksplorasi alam, dan lokakarya penyusunan paket wisata. Pelaksanaan kegiatan ini diselenggarakan selama bulan Juli hingga pertengahan Agustus 2025. Hasil: Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah berupa tiga jenis paket wisata yang siap ditawarkan kepada calon pengunjung. Kesimpulan: Kegiatan ini menghasilkan tiga paket wisata berbasis potensi lokal Sumber Jembangan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
Peran Kampung Batik Cibuluh dalam Penguatan Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan UMKM Lokal Bogor Phelia, Anisya; Sulistiono, Sulistiono; Yunita, Devianti; Zarkasyi, Wahyudin; Winarningsih, Srihadi; Sukmadilaga, Citra
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 16, No 4 (2025): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v16i4.25041

Abstract

Kampung Batik Cibuluh di Kota Bogor, Jawa Barat, bukan hanya menjadi destinasi wisata budaya, tetapi juga pusat penggerak ekonomi kreatif berbasis UMKM. Keberadaannya berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui produksi batik khas, diversifikasi produk turunan, serta pembukaan lapangan kerja baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kampung Batik Cibuluh dalam memperkuat ekonomi kreatif lokal, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pengembangan UMKM batik, serta merumuskan strategi keberlanjutan usaha. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam dengan pengrajin batik, pengelola UMKM, dan perangkat desa, serta observasi lapangan. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik dan matriks SWOT untuk mengeksplorasi faktor internal dan eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi kreatif Kampung Batik Cibuluh terlihat dari meningkatnya pendapatan masyarakat, penguatan peran perempuan dalam usaha kreatif, serta diversifikasi produk batik ke berbagai bentuk fashion dan kerajinan. Namun, terdapat tantangan berupa keterbatasan akses modal, kurangnya promosi digital, serta persaingan ketat dengan batik printing. Rekomendasi penelitian menekankan pentingnya strategi branding kolektif, penguatan kapasitas digital UMKM, serta kemitraan lintas sektor untuk menjamin keberlanjutan usaha batik lokal.
Legal Issues in Entrepreneurship: Between Regulation, Innovation, And Business Sustainability Yusdira, Ade; Mulyana, Mumuh; Mashadi, Mashadi; Hassanee, Narrong; Sulistiono, Sulistiono
Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan Vol. 13 No. 4 (2025): JIMKES Edisi Juli 2025
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37641/jimkes.v13i4.2122

Abstract

Entrepreneurship plays a pivotal role in fostering economic growth, job creation, and social innovation. However, its development remains inseparable from complex legal challenges. Regulations often serve an ambivalent role: they provide legitimacy and protection, yet at the same time may hinder entrepreneurship through excessive bureaucracy and high compliance costs. This article seeks to examine the key legal issues in entrepreneurship, explore the nexus between regulation, innovation, and sustainability, and propose conceptual recommendations for developing an adaptive and inclusive entrepreneurial ecosystem. Employing a normative–conceptual approach, the study draws upon secondary sources including national regulations, recent international scholarly publications, and institutional reports from the OECD, UNCTAD, and the World Bank. Comparative and thematic analyses were undertaken to map legal issues, assess their implications for innovation, and evaluate their impact on business sustainability. The findings highlight six major legal domains: licensing and bureaucracy, intellectual property rights, business contracts, taxation, labor regulations, and digital and e-commerce law. Regulations are shown to act dually as both enablers and barriers to entrepreneurial innovation. Cross-country evidence further illustrates that developed economies tend to design more adaptive legal frameworks, while developing countries continue to face significant regulatory implementation challenges. In Indonesia, reforms such as the Online Single Submission system, the Omnibus Law on Job Creation, and the Personal Data Protection Law represent important steps forward, yet remain in a transitional stage. The article contributes theoretically by integrating Institutional Theory, Innovation Theory, and the Triple Bottom Line, and provides practical recommendations emphasizing regulatory simplification, stronger intellectual property protection, adaptive digital and green regulations, and greater international policy harmonization   Keywords: Entrepreneurship; Legal Framework; Innovation; Sustainability; Regulatory Reform.
An Integrative Model of Digital Entrepreneurship for Enhancing MSME Sustainability in Bogor Regency Wibisono, Sandy; Sulistiono, Sulistiono; Sujana, Sujana; Atmaja, Theresia Celine Nata
Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan Vol. 13 No. 2 (2025): JIMKES Edisi Maret 2025
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37641/jimkes.v13i2.2969

Abstract

This study develops and empirically tests an integrative model of how digital literacy, digital entrepreneurship, and digital innovation influence the sustainability of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in Bogor Regency, Indonesia. Using a quantitative approach and a cross-sectional survey of 180 MSME owners, the research applies Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to examine the causal relationships among the key constructs. The findings reveal that digital literacy has a strong and significant effect on digital entrepreneurship (β = 0.694), highlighting the importance of foundational digital skills for cultivating entrepreneurial behaviors in digital contexts. Digital entrepreneurship is also found to significantly influence digital innovation (β = 0.726), indicating that proactive and opportunity-oriented digital entrepreneurs are more likely to adopt and implement innovative digital practices. Furthermore, digital innovation plays a substantial role in enhancing MSME sustainability (β = 0.542), while digital entrepreneurship also contributes directly to sustainability (β = 0.384). The integrative model accounts for 64.5% of the variance in sustainability, demonstrating strong explanatory power. These results underscore that sustainable MSME development in the digital era requires not only technological access but also strengthened digital literacy, entrepreneurial capability, and innovative behavior. The study provides theoretical insights into digital capability frameworks and practical guidance for designing policies and programs that support MSME digital transformation in semi-urban regions such as Bogor Regency. KEYWORDS: Digital literacy; Digital entrepreneurship; Digital innovation; MSME sustainability; PLS-SEM; Bogor Regency; Digital transformation; Small business development.
Pelatihan dan Evaluasi Hasil Pembuatan Nata de Coco pada Siswa SMA Kota Kediri sebagai Bentuk Peningkatan Jiwa Biopreneur Rahmawati, Ida; Herawati, Elysabet; Utami, Bhudi; Primandiri, Poppy Rahmatika; Sulistiono, Sulistiono; Santoso, Agus Muji; Budiretnani, Dwi Ari; sulistiyowati, Tutut Indah; Fahriza, M. Raffi; Rahmatullah, M. Fauzan Putra; Insani, Gilang Taufan
JUPAMU: Jurnal Pengabdian Masyarakat Multidisiplin Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Ihsan Cahaya Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66031/jupamu.v1i2.155

Abstract

Biopreneurship adalah salah satu pendekatan pembelajaran kontekstual yang dapat melatih siswa mengembangkan ide serta menemukan cara baru dalam melihat masalah ataupun peluang yang dihadapi siswa dalam lingkungan sekitar. Salah satu produk bioteknologi konvensional yang mudah diaplikasikan adalah Nata de coco. Pengembangan semangat biopreneurship di kalangan siswa SMA masih minim, meskipun didukung oleh fasilitas laboratorium yang lengkap. Melalui program pelatihan teknologi tepat guna pembuatan nata de coco ini diharapkan mampu meningkatkan jiwa wirausaha berbasis ilmu Biologi pada siswa SMA Kota Kediri. Metode pengabdian meliputi tahap persiapan, pelatihan dan evaluasi. Hasil pelaksanaan kegiatan ini menegaskan bahwa produksi Nata de coco merupakan implementasi biopreneurship yang sangat relevan bagi siswa SMA di Kota Kediri. Melimpahnya ketersediaan bahan baku air kelapa di wilayah ini, didukung dengan prosedur teknis yang sesuai dengan kapasitas belajar siswa, membuka peluang strategis bagi mereka untuk menjadikan Nata de coco sebagai rintisan usaha mandiri yang prospektif. Hasil evaluasi produk dari kegiatan pengabdian ini Adalah Sebagian produk mengalami kegagalan yang kemungkinan disebabkan kurang terjaga sterilitas selama prosedur pembuatan nata.
The Potential of Ecotourism Development in Water Reservation Area of Mahseer (Tor spp.) in Bungo Regency of Jambi, Indonesia Aditya, Muhammad Atma; Yulianda, Fredinan; Sulistiono, Sulistiono
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies Vol. 9 No. 3 (2021)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jitode.2021.009.03.02

Abstract

River waters in Bungo Regency are the habitat of mahseer (Tor spp.), which has a potential for ecotourism development. This study aimed to examine the potential of mahseer resources as the main commodity in river ecotourism development. The study was conducted at the Lubuk Alay water reservation area in October 2019. Observations were made for water quality (temperature, depth, transparency, TSS, pH, DO, nitrate, and total phosphate) and general tourism conditions in the region. The analysis was carried out on the river tourism suitability index (TSI), carrying capacity, and management strategies. Based on the observations, the water quality was generally in good condition and suitable for ecotourism requirements. Types of suitable activities for river ecotourism consisted of relaxing sitting-in (TSI 2.08 - 2.45, suitable) with a carrying capacity of 149 persons/day and playing water (TSI 2.35 - 2.45, suitable) with a carrying capacity of 2194 person/day. The management strategies for developing river ecotourism covered the classification of zones in the Lubuk Beringin, ecotourism development in accordance with the existing potential, coordination between the government and public for ecotourism development, and development of ecotourism through improving facilities and infrastructure. Keywords: Carrying capacity, conservation, river ecotourism.