Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Sakarifikasi jerami padi menggunakan Mutan Trichoderma AA1 dan Mulyono, Ali Mursyid
WIDYATAMA Vol 19, No 2 (2010)
Publisher : WIDYATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sakarifikasi jerami padi menggunakan Mutan Trichoderma AA1 danpotensi nutritif limbah yang dihasilkan untuk pakan ternak Ali Mursyid Wahyu Mulyono Fakultas Pertanian, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Jl. Letjen Sujono HumardaniNo. 1, Sukoharjo 57521 Tel. +62-0271-593156, fax. +62-0271-591065,e-mail: alimursyid_wm@yahoo.com. Abstrak Penelitian bertujuan mempelajari sakarifikasi selulolitik jerami padi menggunakan Mutan Trichoderma AA1 dan potensi nutritif limbah yang dihasilkan. Sakarifikasi jerami padi dirancang menggunakan 2 macam metode yakni (1) fermentasi substrat padat (solid substrate fermentation, SSF) dan (2) fermentasi kultur terendam (sub merged fermentation, SmF). Jerami padi diberi perlakuan NaOH 0,2 N sebelum digunakan sebagai substrat dalam sakarifikasi. Medium Mandel dengan sumber C jerami padi diinokulasi dengan mutan Trichoderma AA1 dengan konsentrasi 107 spora/g. Kultur diinkubasikan dan setiap hari dilakukan panen untuk dianalisis kadar glukosa dan aktivitas selulase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sakarifikasi jerami padi dengan metode SSF menghasilkan glukosa maksimum pada hari 3 dengan rendemen produksi 6 mg glukosa/g jerami padi. Penggunaan metode SmF menunjukkan rendemen glukosayang tidak terdeteksi meskipun terjadi penurunan pH dari 6 pada hari ke-0 menuju 4 pada hari ke-6 sebagai tanda terjadinya sakarifikasi. Limbah sakarifikasi jerami padi mempunyai kandungan nutrien lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakunya. Penelitian disimpulkan bahwa jerami padi dapat dijadikan bahan bakusakarifikasi selulolitik menggunakan Trichoderma AA1 dengan metode SSF dan limbahnya berpotensi sebagai pakan ternak. Kata-kata kunci: Sakarifikasi, Jerami padi, Glukosa, Nutritif, Limbah
Penerapan Teknologi Force Molting pada Ayam Petelur Afkir: Kajian Parameter Produksi, Organ Pencernaan dan Reproduksi, Pertahanan Tubuh Mulyono, Ali Mursyid Wahyu; Sariri, Ahimsa Kandi; Husodo, Wisnu Tri
Sains Peternakan: Jurnal Penelitian Ilmu Peternakan Vol 6, No 2 (2008): Sains Peternakan
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sainspet.v6i2.4960

Abstract

The research was aimed to study the egg production, digestion and reproduction tract, and body protection parameters of the force molting (FM) technology application on rejected laying hen. Thirty-six rejected laying hens were randomly devided into two kinds of treatment (T0 and T1), with three replication each. Each replication consisted of six hens. T0 (control) was ad libitum feeding during the research. T1 was FM treatment of six-days feed fasting, continued by restricted feeding (corn 50 g/hen/day) for 29 days. After the treatment, T1 was fed as T0 for 3 x 28 days period. Water was given ad libitum for T0 and T1. Variables observed included production and egg quality, length and weight of the parts of digestion and reproduction tract, and blood profile. The result of the research showed that FM treatment on rejected laying hens significantly increased the percentage of  egg production and egg-mass, decreasing feed conversion ratio, but it insignificantly influenced on feed consumption and egg quality. The weight  and length of the parts of digestion and reproduction tract were insignificantly influenced by FM treatment, except of gizzard, magnum and uterus weight, and isthmus length. The FM treatment was insignificantly influenced the body protection parameters. It was concluded that the force molting technology on rejected laying hen could re-activation of egg production without effecting on the parts of digestion and reproduction organ, and body protection parameters. Key words: Force molting, rejected laying hen, egg production, digestion and reproduction                    tract, body protection
Penggunaan Cairan Ekstrak Isi Gizzard dan Duodenum Ayam pada Pengukuran Kecernaan In Vitro Daun Turi (Sesbania grandiflora) Mulyono, Ali Mursyid Wahyu; Yani, Sri Sukar; Awanis, Jizan Fahmia Al
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.262

Abstract

Abstract The aim of this study was to examine the use of Gizzard Contents Extracts (GCE) and Duodenum Contents Extracts (DCE) of Chicken on In Vitro digestibility measurements of Turi Leaves (Sesbania grandiflora). The study was designed using a One-way Classification of Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments. Each treatment was repeated three times. Types of treatment in the form of using GCE and DCE, including: (1) control treatments (without GCE or DCE), (2) GCE, (3) DCE, and (4) a mixture of GCE and DCE. The observed variables were Coefficient of Dry Matter Digestibility (CDMD), Coefficient of Organic Matter Digestibility (COMD), and Coefficient of Soluble Protein Digestibility (CSPD). The results showed that the addition of GCE, DCE, and a mixture of GCE and DCE could not increase the CDMD, COMD, and CSPD of Turi Leaves compared to the control treatment. Keywords: Duodenal contents extract; Gizzard content extract; In vitro digestibility; Turi leaves. Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengkaji penggunaan cairan ekstrak isi gizzard (CEIZ) dan duodenum (CEID) ayam pada pengukuran kecernaan in vitro daun turi. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 4 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Macam perlakuan berupa penggunaan penggunaan CEIZ dan CEID ayam, meliputi perlakuan kontrol (tanpa CEIZ maupun CEID), CEIZ, CEID, dan campuran CEIZ dan CEID. Variabel pengamatan berupa koefisien cerna bahan kering (KCBK), koefisien cerna bahan organic (KCBO), dan koefisien cerna protein terlarut (KCPT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan cairan ekstrak isi gizzard, duodenum dan campuran keduanya tidak dapat meningkatkan KCBK, KCBO, dan KCPT daun turi dibandingkan dengan perlakuan control. Kata kunci: Cairan ekstrak isi duodenum; Cairan ekstrak isi gizzard; Daun turi; Kecernaan in vitro.
PENDUGAAN UMUR SIMPAN SIRUP BUAH TIN “KHAROMAH” DENGAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TESTING (ASLT) Ali Mursyid Wahyu Mulyono; Afriyanti .; Joko Setyo Basuki; Sri Sukaryani
Pro Food Vol. 4 No. 1 (2018): Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Publisher : Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.074 KB) | DOI: 10.29303/profood.v4i1.75

Abstract

Pokoh Kidul is the center of figs plant in Wonogiri area. Figs was processed into syrup with “Kharomah” as brand by Posdaya Lancar Barokah. But, the shelf life of this syrup was not yet known. Therefore, the purpose of this study was to determine the shelf life of this syrup by the Accelerated Shelf Life Testing (ASLT) method. Product was saved at temperature of 50C, 300C and 500C for 28 days. Every 7 days, a sample was taken and then the color, pH and reducing sugar was analysed. The lowest activation energy was obtained from the analysis of reducing sugar changes, it is 287,55 mol/cal. The shelf life of figs syrup at room temperature was 19 days, and 22 days at low temperature.Keywords: ASLT, figs, shelf life, syrupABSTRAKDesa Pokoh Kidul merupakan sentra tanaman buah tin di daerah Wonogiri. Buah tin yang dihasilkan selama ini diolah menjadi sirup buah tin dengan merk “Kharomah” oleh Posdaya Lancar Barokah. Akan tetapi, belum diketahui umur simpan dari sirup ini. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui umur simpan sirup buah tin dengan metode Accelerated Shelf Life Testing (ASLT). Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan penyimpanan produk sirup pada tiga suhu yang berbeda yaitu 50, 300 dan 500C selama 28 hari. Setiap 7 hari sekali diambil sampel dan dilakukan analisis warna, pH dan kadar gula reduksi. Energi aktivasi terendah didapatkan dari hasil analisis perubahan kadar gula reduksi yaitu 287,55 mol/kal. Umur simpan sirup buah tin di suhu ruang selama 19 hari, sedangkan di suhu rendah selama 22 hari.
Pengaruh Lama Fermentasi Terhadap Aktivitas Enzim dan Lignin Pada Proses Fermentasi Kulit Buah Kakao Menggunakan Kapang Phanerochaete chrysosporium Engkus Ainul Yakin; Ali Mursyid Wahyu Mulyono
AGRISAINTIFIKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 1, No 2 (2017): Agrisaintifika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v1i2.51

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui aktivitas enzim lignilolitik dan lignin pada proses fermentasi kulit buah kakao. Substrat yang digunakan yaitu kulit buah kakao sedangkan penggunaan kapang yaitu Phanerochaete chrysosporium. Preparasi KBK yaitu KBK segar dicacah, digiling halus kemudian dikeringkan. Preparasi kapang dengan menumbuhkan kapang dalam medium cair. Metode penelitian yang dilakukan yaitu lama fermentasi yang dilakukan adalah melakukan fermentasi KBK dengan lama hari yang berbeda yaitu 5, 7, 9, 11 dan 13 hari pada suhu 370 C dan pH 7 menggunakan lima perlakuan dan lima ulangan. P0 = fermentasi KBK selama 5 hari, P1 = fermentasi KBK selama 7 hari, P2 = fermentasi KBK selama 9 hari, P3 = fermentasi KBK selama 11 hari, P4 = fermentasi KBK selama 13 hari. Fermentasi dengan menggunakan erlenmeyer 500 ml dan ditutup dengan kapas. Variabel yang diamati meliputi aktivitas enzim LiP dan MnP, NDF, ADF, lignin. Analisis data yang diperoleh akibat perlakuan diuji dengan Analisis Variansi (ANOVA) dengan rancangan penelitian pola searah, bila terdapat perbedaan variabel karena perlakuan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan’s multiple range test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan fermentasi selama 7 hari aktivitas enzim tertinggi LiP sebesar  0,527 ± 0,04 unit/ml dan MnP sebesar 0,063 ± 0,00  unit/ml, kandungan lignin terendah 26,30± 0,35%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu fermentasi dengan menggunakan kapang Phanerochete chrysosporium baik pada fermentasi selama 7 hari.
FERMENTASI JERAMI PADI MENGGUNAKAN Trichoderma AA1 DAN PENGARUHNYA TERHADAP SUHU, pH DAN NILAI KECERNAAN IN VITRO Ali Mursyid Wahyu Mulyono; Ahimsa Kandi Sariri; Desyanto Desyanto
AGRISAINTIFIKA: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 5, No 2 (2021): Agrisaintifika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v5i2.2025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi jerami padi menggunakan Trichoderma AA1 terhadap suhu, pH dan nilai kecernaan jerami padi fermentasi  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan macam perlakuan berupa lama fermentasi yang terdiri dari 0, 7, 14 dan 21 hari. Masing-masing macam perlakuan diulang 4 kali. Larutan Trichoderma AA1 disiapkan dengan menginkubasikan 2 g inokulum Trichoderma AA1 dalam 200 ml larutan yang mengandung 2 g molases pada rotary shaker selama 24 jam. Medium disiapkan dengan mencampurkan 1 kg jerami kering cacah dengan 30 g dedak halus, 20 g  (NH4)2SO4 dan aquades hingga kadar air menjadi 65%. Fermentasi dilakukan dengan cara mencampurkan larutan Trichoderma AA1 dan medium. Materi fermentasi dimasukkan ke dalam bioreaktor aerob dan selanjutnya diinkubasian selama waktu 21 hari. Pengukuran suhu dan pH sekaligus pengambilan sampel jerami padi fermentasi dilakukan pada hari ke-0, 7, 14 dan 21. Sampel dikeringkan dengan suhu 70oC selama 12 jam. Pengukuran kecernaan in vitro menggunakan metode gas-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi berpengaruh sangat nyata (P≤0,01) terhadap peningkatan suhu dan pH fermentasi. Suhu dan pH tertinggi terjadi pada fermentasi 7 hari. Dari variabel kecernaan in vitro bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) menunjukkan nilai yang tidak nyata (P>0,05) berbeda. Penelitian disimpulkan bahwa waktu terbaik fermentasi jerami padi menggunakan Trichoderma AA1 adalah 7 hari, namun belum berpengaruh signifikan terhadap nilai KcBK dan KcBO. 
APLIKASI TEKNOLOGI BUDIDAYA MINA AYAM DI DESA SELOREJO GIRIMARTO WONOGIRI Engkus Ainul Yakin; Ali Mursyid Wahyu Mulyono; Ahimsa Kandi Sariri; Sri Sukaryani
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2020): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v3i2.27642

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini dilakukakan untuk mengetahui pengaruh dari budidaya mina ayam yang diterapkan pada kelompok tani. Tujuan khusus yang ingin dicapai yaitu meningkatkan pengetahuan masyarakat kelompok tani mengenai budidaya mina ayam sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan. Metode pengabdian yang dilakukan dengan melakukan penyuluhan, pelatihan serta pendampingan mengenai teknik budidaya mina ayam. Komoditi yang dipakai pada teknologi mina ayam yaitu ikan lele dan ayam petelur. Selama kegiatan pengabdian didatangkan narasumber untuk menambah wawasan mengenai ayam petelur maupun ikan lele. Variabel yang diamati yaitu peningkatan pengetahuan masyarakat, produksi lele, dan produksi telur. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan peningkatan pengetahuan pengetahuan kelompok mengenai pemeliharaan ayam petelur sebesar 14,30% dan pemeliharaan budidaya ikan lele sebesar 20%. Pemeliharaan ikan lele menghasilkan berat badan akhir rata-rata yaitu 72,96 g/ekor; ADG (average daily gain) 1,17 g/ek/hari; dan FI sebesar 62 kg. Untuk produksi telur rata-rata selama pemeliharaan mina ayam yaitu 87,93%. Dari kegiatan yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa kegiatan mina ayam dapat lebih menekan biaya pakan untuk budidaya ikan lele.Community service was conducted to determine the effect of integrated chicken-fish farming application to the local farmer group. Specific objective to be achieved was to increase the farmer’s knowledge abaout the integrated chicken-fish farming as well as to improve the rural economy. The method of community service performed by counseling, training and mentoring of the integrated chicken-fish farming techniques. Commodity used in the integrated chicken-fish farming technology were catfish and laying hens. During the community service activities, speakers were broght to broaden farmer’s knowledge redarding the laying hens and catfish. Variables observed were catfish production, egg production, and the results of pre-test and post-test. The results demonstrated the catfish yield the final weight average of 72.96 g/fish; average daily gain of 1.17 g /head/day, and the feed intake was 62 kg. For the average egg production during maintenance mina chicken was 87.93 %. In the post-test and pre-test for laying hens and aquaculture catfish farming activities increased scores in a row were 14.30 % and 20.00 %. Based on the  activities that have been implemented, it can be concluded that the activity of the integrated chicken-fish was able to reduce the cost for the catfish feeding. 
Fermentasi Onggok Menggunakan Mutan Trichoderma untuk Produksi Selulase Ali Mursyid Wahyu Mulyono; Muhammad Nur Cahyanto; Zuprizal Zuprizal; Zaenal Bachruddin
agriTECH Vol 29, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.18 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9763

Abstract

The objective of the research was to study the influence of initial a of medium, inoculum concentration, initial pH of the medium and incubation time during fermentation of cassava bagasse by mutant Trichoderma AA1 on cellulase production. Fermentation of cassava bagasse was carried out by solid substrate fermentation method. The medium was inoculated by Trichoderma AA1 and incubated for four days. The initial a of medium (0.96, 0.97, 0.98, and 0.99), inoculum concentration (105, 106, 107, dan 108 spores/g), and initial pH of the medium (4.5, 5.0, 5.5, and 6.0) were stud- ied by measuring the cellulase activity during fermentation. The production of cellulase was the best when the medium had initial a of 0.99, inoculum concentration of 107 spores/g, and initial pH of 5. The peak of the cellulase production was achieved after 3-days fermentation. The cellulase activities obtained were 0.168 and 0.072 µmol/minute/ml forcarboxy methyl cellulase dan filter paper-ase respectively.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh a awal medium, konsentrasi inokulum, pH awal, dan waktu fermentasi onggok menggunakan mutan Trichoderma AA1 terhadap produksi selulase. Fermentasi onggok menggunakan metode fermentasi substrat padat. Medium diinokulasi dengan mutan Trichoderma AA1 dan diinkubasikan selama 4 hari. Variabel yang dipelajari meliputi a awal medium (0,96; 0,97; 0,98; dan 0,99), konsentrasi inokulum (105, 106, 107, dan 108  spora/g), dan pH awal medium (4,5, 5,0, 5,5, dan 6,0.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik fermentasi onggok menggunakan mutan Trichoderma AA1 untuk menghasilkan selulase adalah: a awal medium 0,99, konsentrasi inokulum 107 spora/g, pH awal medium 5, dan waktu fermentasi 3 hari. Aktivitas selulase yang dihasilkan adalah 0,168 dan 0,072 µmol/menit/ml masing-masing untuk carboxy methyl cellulase dan filter paper-ase.
Fermentation Technology using Phanerochaete chrysosporium to Improve the Quality of Nutrition of Pod Coffe as Ruminant Feed Engkus Ainul Yakin; Ali Mursyid Wahyu Mulyono; Ahimsa Kandi Sariri
Buletin Peternakan Vol 45, No 4 (2021): BULETIN PETERNAKAN VOL. 45 (4) NOVEMBER 2021
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v45i4.69668

Abstract

This study was carried out to assess the effect of solid state fermentation by using P. chrysosporium on nutrient composition of pod coffee and to evaluate its potency as ruminant feed in vitro. The in vitro experiment was conducted to determine fermentability of treated pod coffee. Fermented pod coffee by P. chrysosporium 0, 1, 2, 3, 4 % (R0 to R4). Pod coffee were air dried to moisture content of 10%-15% and then fermented with P. chrysosporium. The solid state fermentation trials were carried out on a laboratory scale. The result of this studi were fermentation of pod coffee by P. chrysosporium increased protein from 10.36% to 12.64%, and cellulose from 18.51% to 23.80%, and decreased lignin, from 64.42% to 44.04%, tannin from 1.02% to 0.18%, and caffeine from 1.39% to 0.20%. There were no differences in ruminal pH and N-ammonia production but volatile fatty acid production and dry matter digestibility decreased as the fermented of pod coffee level increased. The ruminal protozoa population in fermented of pod coffee diets was lower than the control diets (P<0.05). Conclusion in this study that fermented of pod coffee with P. chrysosporium can increase protein and cellulose concentration, but decrease lignin, tannin, and caffeine concentration.
Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Pengolahan Limbah Pertanian melalui Teknologi Fermentasi pada Kelompok Ternak di Kecamatan Tasikmadu Sri Sukaryani; Ali Mursyid Wahyu Mulyono
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2018): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v9i2.1709

Abstract

Tasikmadu adalah salah satu kota kecamatan dari 17 kecamatan yang berada di Kabupaten Karanganyar, dengan luas wilayah 2.759,73 ha yang terdiri dari tanah sawah seluas 1.581,11 ha dan tanah kering seluas 1.241,62 ha. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan terhadap anggota kelompok ternak dalam hal pengolahan limbah hasil pertanian dan limbah kotoran ternak. Kelompok sasaran dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah kelompok ternak Raja Kaya dengan jumlah anggota sebanyak 21 orag, dan kelompok ternak Gemah Ripah dengan anggota sebanyak 11 orang sehingga jumlah keseluruhan peserta adalah 32 orang. Metode yang dipakai pada kegiatan ini meliputi tiga tahapan, yaitu (1) tahap penyuluhan/pelatihan in class, (2) tahap pelatihan/praktek, (3) tahap evaluasi Metode penyuluhan digunakan untuk menyampaikan materi secara teori dan metode pelatihan out class/praktek digunakan untuk mempraktekkan teori yang sudah diberikan pada saat penyuluhan. Hasil pelaksanaan yang dicapai adalah para peserta berperan aktif dalam mengikuti dan melaksanaka kegiatan pengabdiarn baik dari penyuluhan sampai praktek. Hasil pretes rata-rata sebesar 38,53 dan hasil postes sebesar 75,73. Simpulan yang dapat diambil adalah terjadi peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam hal pengolahan limbah pertanian (jerami padi dan pucuk tebu) melalui teknologi fermentasi dan pupuk organic (cascing).