Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Ethanolic Extract of Curcuma zedoaria Enhances Burn Wound Healing in Male White Rats Yuliawati, Yuliawati; Kasmadi, Fathnur Sani; Elisma, Elisma; Dewi, Hasna; Afryandes, Amelya; Puteri, Vanya Gita
Sciences of Pharmacy Volume 5 Issue 1
Publisher : ETFLIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58920/sciphar0501488

Abstract

In addition to its widespread use as a culinary spice, white turmeric rhizome (Curcuma zedoaria (Christm.) Roscoe) exhibits important pharmacological activities, including anti-inflammatory, anticancer, and antioxidant effects. The rhizome contains secondary metabolites such as flavonoids, alkaloids, saponins, phenols, tannins, and terpenoids, which are believed to contribute to its potential efficacy in treating burns. This study used a fully randomized post-test-only control group design consisting of five treatment groups: P1 (5% ethanol extract of white turmeric rhizome), P2 (10%), P3 (15%), K⁺ (positive control: Bioplacenton), and K⁻ (negative control: Vaseline flavum). Parameters observed included reduction in burn wound diameter and collagen density, which were assessed through histological analysis. The results showed significant differences between treatment groups (p < 0.05). The 10% concentration showed the highest wound healing activity, reaching a healing rate of 54.72% and producing denser collagen compared to the other treatments. However, its effect did not exceed the positive control (Bioplacenton). The 5% concentration showed moderate healing activity (43.84%) with intermediate collagen density, while the 15% concentration produced the lowest effect. Overall, the findings indicate that the ethanol extract of white turmeric rhizome, particularly at a concentration of 10%, enhances burn wound healing and increases collagen formation, supporting its potential as a natural therapeutic agent for the treatment of burns.
Clinical characteristics of hypertension patients at Simpang IV Sipin Public Health Center, Jambi City Dinda Arum Carolina Dewi; Fitrianingsih Fitrianingsih; Yuliawati Yuliawati
Riset Informasi Kesehatan Vol 15 No 1 (2026): Riset Informasi Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Harapan Ibu Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30644/rik.v15i1.1067

Abstract

Background: Diabetic foot ulcer (DFU) is a chronic complication of diabetes mellitus (DM) and remains a significant challenge in morbidity, mortality, and disability among diabetic patients. This study aims to identify the sociodemographic and clinical characteristics of hospitalized DFU patients at Raden Mattaher General Hospital, Jambi. Method: This retrospective cross-sectional study was conducted at Raden Mattaher General Hospital, Jambi, Indonesia. A total of 31 patients data were collected from the medical records of DFU patients hospitalized at Raden Mattaher General Hospital in 2022. The variables observed were age, sex, residence, comorbidities, type of DM, random blood glucose levels (RBG), amputation rate, mortality, and length of stay (LOS). Results: The mean age of DFU patients was 55.6 ± 12.6 years, with females accounting for the majority (67.7%). Most patients lived outside Jambi City (74.2%), with more than one comorbidity (48.4%). All patients had type 2 diabetes mellitus (100.0%) with RBG level of 303.8 ± 205.8 mg/dL (mean±SD), amputation rate (19.4%), mortality rate (12.9%), and the mean LOS was 10.3 ± 6.9 days. Conclusion: This study indicates that most DFU patients have multiple comorbidities and poorly controlled blood glucose levels, which contribute to a higher risk of amputation, mortality, and prolonged hospitalization.
Promosi Kesehatan melalui Teh Herbal sebagai Minuman Kesehatan di Desa Talago Sariak, Pariaman, Sumatera Barat Rafita Yuniarti; Elmi Sariani Hasibuan; Yufri Aldi; Syofyan Syofyan; Yuliawati Yuliawati; Minda Sari Lubis; Zulmai Rani; Haris Munandar Nasution; Sulaiman Sulaiman; Arifna Luthfianida
INTEGRITAS : Jurnal Pengabdian Vol 10 No 1 (2026): JANUARI - JULI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat - Universitas Abdurachman Saleh Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/integritas.v10i1.7505

Abstract

Kota Pariaman merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Padang Pariaman, memiliki kawasan pesisir yang terbentang dengan potensi pariwisata yang bernilai tinggi. Potensi ini memungkinkan polusi udara, asap rokok, serta makanan siap saji yang berpengawet dan berpewarna sintetis ikut andil dalam memengaruhi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan adalah munculnya radikal bebas yang merupakan pemicu terjadinya berbagai penyakit. Oleh karena itu, kita dituntut untuk dapat melawan dampak buruk dari radikal bebas tersebut agar terhindar dari penyakit. Dampak buruk bisa dilawan dengan senyawa antioksidan. Senyawa ini dapat diperoleh dari tumbuhan yang ada di sekitar kita, melalui senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuhan tersebut. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan/edukasi berupa informasi tentang tumbuhan obat yang dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan alami dan cara mengolahnya hingga memberikan khasiat sesuai yang diharapkan. Kegiatan dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Hasilnya ditunjukkan dengan antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan dan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang tumbuhan yang dapat digunakan sebagai minuman kesehatan dan cara pengolahannya menjadi teh herbal.
Analisis Biaya Langsung Medis Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen H. A Thalib Kota Sungai Penuh Stepania Dwimulia Rahayu; Yuliawati; Maimum; Fathnur Sani Kasmadi
Jurnal Kesehatan Farmasi Nusantara Vol. 1 No. 2 (2025): SEPTEMBER
Publisher : PT Mara Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64465/jkfn.v1i2.54

Abstract

Kencing manis atau diabetes melitus, khususnya tipe II, merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat dan menimbulkan beban ekonomi besar bagi individu, keluarga, maupun negara. Biaya kesehatan global akibat penyakit ini diperkirakan mencapai USD 760 miliar per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya dilakukan analisis biaya medis langsung untuk memahami dampak finansial dari diabetes melitus tipe II. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen biaya utama yang dikeluarkan oleh penderita diabetes melitus tipe II. Penelitian dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Mayjen H. A. Thalib Kota Sungai Penuh pada tahun 2024 dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tertinggi terdapat pada layanan laboratorium sebesar Rp18.013.000, sedangkan biaya terendah terdapat pada obat-obatan sebesar Rp6.147.000. Biaya langsung rata-rata yang dikeluarkan setiap pasien mencapai Rp961.267. Hasil ini mengindikasikan bahwa pemeriksaan laboratorium menjadi komponen biaya paling dominan dalam struktur pembiayaan diabetes melitus tipe II. Temuan ini penting sebagai dasar pertimbangan bagi rumah sakit dan pembuat kebijakan dalam merencanakan strategi efisiensi biaya serta meningkatkan efektivitas pengelolaan pelayanan pasien diabetes melitus tipe II..