Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN KECEMASAN DAN HASIL UAS-1 MAHASISWA BARU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO TAHUN AJARAN 2012 / 2013 Lallo, Daniel Alberth; Kandou, L. F. Joyce; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.2.2013.3283

Abstract

Abstrak: Kecemasan dialami oleh hampir semua orang di dunia, termasuk mahasiswa baru kedokteran. Mahasiswa baru kedokteran memiliki banyak stressor termasuk ujian yang menimbulkan kecemasan dan dapat mempengaruhi hasil ujian mereka. Sampai saat ini, hanya sedikit penyelidikan yang ditemukan menyelidiki fenomena ini. Di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, tidak ada yang meneliti fenomena tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kecemasan dan hasil ujian semester 1 (UAS-1) mahasiswa baru program studi kedokteran umum tahun akademik 2012/2013 di Universitas Sam Ratulangi. Ini merupakan penelitian analitik potong lintang dengan metode survei dan sensus sebagai cara dalam pengambilan sampel. Sampel penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan berjumlah 298 orang dari 319 mahasiswa baru program studi kedokteran umum tahun akademik 2012/2013 di Universitas Sam Ratulangi. Populasi tersebut kemudian diberi informed consent, kuesioner data sosiodemografi, dan dinilai kecemasannya menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Tidak ada hubungan yang signifikan antara kecemasan dan hasil UAS-1 (p=0,602>0,05). Ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kecemasan (p=0,005<0,05) with odds ratio 2,91. 267 dari 298 mahasiswa (89,6%) mengalami kecemasan dengan kecemasan ringan sebagai tingkat kecemasan yang paling banyak ditemukan, berjumlah 177 orang (59,4%). Semua mahasiswa baru program studi kedokteran umum tahun akademik 2012/2013 di Universitas Sam Ratulangi mengalami kecemasan, terutama kecemasan ringan. Tidak terdapat hubungan antara kecemasan dengan hasil UAS-1 mereka, tetapi terdapat hubungan antara jenis kelamin dan kecemasan dengan kecenderuang hampir 3 kali bagi mahasiswa baru perempuan untuk mengalami kecemasan dibandingkan dengan mahasiswa baru laki-laki. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait coping strategies dan defense mechanism yang dilakukan mahasiswa untuk menganggulangi kecemasan mereka. Kata Kunci: Kecemasan, Ujian, Mahasiswa kedokteran.   Abstract: Anxiety is experienced by almost all people around the world including new medical students. New medical student experiences a lot of stressor include examination which cause anxiety to occur and may affect their exam results. Somehow, there are a few study found to date that has investigate this phenomenon. In Sam Ratulangi University, which is the nearest medical faculty, there is no research for such phenomenon. This study aims to investigate the relationship between anxiety and new medical student?s achievement on their last exam in Medical Faculty of Sam Ratulangi University. This is an analytic research using a survey method with census as the option of sampling. However, the research samples are who meet inclusion category and not in the exclusion category. The nearest samples are in Sam Ratulangi University who are given questioners to measure their anxiety by using Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) before their exam and to collect their sosiodemograpic data as well. There is no significant relationship between anxiety and their last exam results (p=0,602>0,05), but there is a significant relationship between gender and anxiety (p=0,005<0,05) with odds ratio 2,91. According to anxiety test results, 267 of 298 grade-1 medical students (89,6%) present an anxiety and the most prevalence anxiety level is mild anxiety with total 177 people (59,4%). In conclusion, almost all grade-1 new medical students in Medical Faculty of Sam Ratulangi University experienced anxiety with mild anxiety as the most prevalence anxiety level. There is no significant relationship between anxiety and their last exam results, but there is a significant relationship between gender and anxiety with almost 3 times for new female medical students experiencing anxiety than new male medical students. Further research is needed to investigate coping strategies and defense mechanisms which may be used to cope with their anxiety. Keywords: Anxiety, Exam, Medical Student
GAMBARAN TINGKAT KECEMASAN PADA WARGA YANG TINGGAL DI DAERAH RAWAN BANJIR KHUSUSNYA WARGA DI KELURAHAN TIKALA ARES KOTA MANADO Lamba, Chaflin T.; Munayang, Herdy; Kandou, Lisbeth F. J.
e-CliniC Vol 5, No 1 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.1.2017.15526

Abstract

Abstract: Anxiety disorders, classified as psychiatric disorders, are usually resulting from a complex interaction of biological, psychological, and psychosocial elements. Anxiety warns the threat of injury to the body, fear, despair, the possibility of punishment, or the frustration of the need for enhanced social body, separation from loved ones, interference with the success or status of a person, and ultimately a threat to the unity or wholeness of a person. People living in areas prone to floods are assumed to suffer from anxiety of the coming floods. This study was aimed to assess the anxiety among people living in flood-prone areas by using sociodemofraphic data and questionnaire of Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). This was a descriptive qualitative study with a cross sectional design. There were 30 respondents that met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that 2 (6.7%) respondents did not have any anxiety disorder; 10 (33.3%) people had mild anxiety disorders; 12 (40%) people had moderate anxiety disorders; and 6 (20.0%) people had severe anxiety disorders. Conclusion: The majority of people living in flood-prone areas suffered from anxiety and the most common type of anxiety was mild anxiety.Keywords: anxiety, flood prone areas, HARSAbstrak: Gangguan kecemasan digolongkan sebagai gangguan kejiwaan, umumnya diakibatkan oleh interaksi kompleks dari elemen biologis, psikologis, dan psikososial. Kecemasan memperingatkan ancaman cedera pada tubuh, rasa takut, keputusasaan, kemungkinan hukuman, atau frustrasi dari kebutuhan sosial tubuh, perpisahan dari orang yang dicintai, gangguan pada keberhasilan atau status seseorang, dan akhirnya ancaman pada kesatuan atau keutuhan seseorang. Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan akibat takut terkena dampak bencana banjir. Penelitian ini bertujuan untuk menilai gangguan kecemasan pada warga yang berada di daerah rawan banjir dengan menggunakan data sosiodemografik dan kuesioner Hamillton Anxiety Rating Scale (HARS). Jenis penelitian ialah deskriptif-kualitatif dengan desain potong lintang. Terdapat 30 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian memperlihatkan responden yang tidak mengalami gangguan kecemasan sebanyak 2 orang (6,7%); gangguan kecemasan ringan sebanyak 10 orang (33,3%); gangguan kecemasan sedang sebanyak 12 orang (40%); dan gangguan kecemasan berat sebanyak 6 orang (20,0%). Simpulan: Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir mengalami kecemasan dan terbanyak ialah kecemasan sedang.Kata kunci: kecemasan, daerah rawan banjir, HARS
PREVALENSI GANGGUAN FUNGSI KOGNITIF DAN DEPRESI PADA PASIEN STROKE DI IRINA F BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Hasra, Indha Wardhani P. L.; Munayang, Herdy; Kandou, Joice
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3616

Abstract

Abstrak: Stroke is a clinical syndrome caused by blood circulatory disorders from one part of the brain that creates a functional disorder of the brain like neurological deficits and nerve paralysis. Depression and cognitive impairment is a results of the occurence of stroke. This study aimed to reveal the prevalence of cognitive impairment and depression in stroke patients in the neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive study with a cross-sectional design. The sample is all stroke patient in neurology inpatient room F Prof. DR. R. D. Kandou Hospital Manado who fulfilled the inclusion criteria. The results showed that 32.4 % respondents are without cognitive impairment and 67.5 % with cognitive impairment. Of the cognitive impairment group there were 27% mild cognitive impairment, 40.5% moderate cognitive impairment and there was no patient with severe cognitive impairment. The results of depression status examination showed  24.3 %  without depression and 75.7 % with depression. Of the depression group there were 59.5% mild depression, 10.8% moderate depression, and  5.4 % severe depression. The study showed that 18 participants had cognitive impairment and depression. Conclusion: From 37 respondents, there were 7 respondents (19%) had only cognitive impaiment, 10 respondents (27%) had only depression and 18 respondents (49%)  with cognitive impaiment and depression.Keywords: cognitive impairment, depression, stroke   Abstrak: Stroke adalah suatu sindrom yang disebabkan oleh adanya gangguan aliran darah pada salah satu bagian otak yang menimbulkan gangguan fungsional otak berupa defisit neurologik atau kelumpuhan saraf. Depresi dan gangguan kognitif adalah salah satu akibat dari terjadinya stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan fungsi kognitif dan depresi pada pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado Penelitian ini menggunakan jenis penelitian “observasional” dengan desain “studi cross sectional”. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke di Irina F Neuro BLU RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil pemeriksaan fungsi kognitif didapatkan 32,4 % normal, sedangkan yang mengalami gangguan fungsi kognitif 67,5 % dimana gangguan kognitif ringan 27 %, gangguan kognitif sedang 40,5 % dan tidak ada gangguan kognitif berat. Hasil pemeriksaan status depresi didapatkan 24,3 % normal, sedangkan yang mengalami depresi 75,7 % dimana depresi ringan 59,5 %, depresi sedang 10,8 %, dan depresi berat 5,4 %. Dari hasil pemeriksaan didapatkan 18 orang dengan gangguan fungsi kognitif yang disertai dengan depresi. Kesimpulan: Dari 37 responden, didapatkan 7 orang (19%) yang hanya mengalami gangguan fungsi kognitif, 10 orang (27%) yang hanya mengalami depresi dan 18 orang (49%) dengan gangguan fungsi kognitif dan depresi.Kata kunci: gangguan fungsi kognitif, depresi, stroke
Profil supplementary scales Minnesota multiphasic personality inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia pada komunitas public united not kingdom (punk) di kawasan Megamas Kota Manado Ab'ror, Rijal; Kairupan, Bernabas H.R.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14684

Abstract

Abstract: Society in general still views punk community negatively. It is caused by their dress and hair styles which were assumed as weird, therefore, they are considered dangerous for other citizens. This study was aimed to examine mental health status of members of punk community for detection of the presence of any mental disorders. This was a survey study with a cross-sectional design to determine the members of punk community mental status at Megamas area in Manado based on Supplementary Scales of Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) Indonesian adaptation. According to socio-demographic data the majority of 30 respondents were males (86.67%), age range 18-27 years old (86.67%), respondents’ parents worked as private sectors employees (50%), respondents worked in private sectors (70%), had three siblings (43.33%), lived in Manado (76.67%), senior high school graduates (83.33%), reason of joining punk community was freedom (63,33%). Supplementary scales of MMPI-2 distribution obtained high t-score to low t-score as follows: PK (83.33%), AAS (56.67%), MAC-R (46.67%), A (46.67%), MDS (43.33%), Ho (36.67%), Mt (30%), OH (6.67%), R (3.33%), Es (0%), Do (0%), Re (0%), APS (0%), GM (0%), and GF (0%). Conclusion: The supplementary scales of MMPI-2 Indonesian adaptation in punk community at Megamas area in Manado city obtained high t-scores in Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alcoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress, and Hostility Scales.Keywords: profile, supplementary scales, MMPI-2 Indonesian adaptation, punk community Abstrak: Masyarakat umumnya masih memandang komunitas punk dengan pandangan negatif dikarenakan gaya berpakaian dan gaya rambut yang aneh serta dianggap sebagai komunitas yang berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan status kesehatan mental pada anggota komunitas punk untuk mendeteksi adanya gangguan mental. Jenis penelitian ialah survey dengan desain potong lintang untuk mengetahui status mental anggota komunitas punk di kawasan Megamas Kota Manado berdasarkan Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia. Berdasarkan sosio-demografi dari 30 responden, distribusi anggota komunitas punk terbanyak ialah laki-laki (86,67%), rentang usia 18-27 tahun (86,67%), pekerjaan orang tua responden di bidang swasta (50%), pekerjaan responden di bidang swasta (70%), memiliki jumlah saudara sebanyak tiga orang (43,33%), beralamat di Kota Manado (76,67%), pendidikan terakhir SMA (83,33%), dan alasan bergabung pada komunitas punk karena menginginkan kebebasan (63,33%). Hasil distribusi supplementary scales MMPI-2, mendapatkan skala dengan t-skor yang tinggi dengan persentase berturut-turut dari tinggi ke rendah yaitu: PK (83,33%), AAS (56,67%), MAC-R (46,67%), A (46,67%), MDS (43,33%), Ho (36,67%), Mt (30%), OH (6,67%), R (3,33%), Es (0%), Do (0%), Re(0%),APS (0%), GM (0%), dan GF (0%). Simpulan: Supplementary Scales Minnesota Multiphasic Personality Inventory-2 (MMPI-2) adaptasi Indonesia yang tinggi yaitu pada Post Traumatic Disorder, Addiction Acknowledge/Admission Scale, MacAndrew Alkhoholism-Revised, Anxiety Scale, Marital Distress dan Hostility Scales. Kata kunci: profil, supplementary scales, MMPI-2 adaptasi indonesia, komunitas punk
GAMBARAN TINGKAT DEPRESI PADA WANITA PEKERJA SEKS DI KALANGAN REMAJA DI KOTA MANADO Wardoyo, Serly; Kaunang, Theresia M. D.; Munayang, Herdy
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.2.2.2014.5041

Abstract

Abstract: Depression is a mental disorder that is predicted by the World Health Organization which will be ranked first in the burden of disease on a global scale in 2030. Emotional maturity of the teens which is still unstable, highly susceptible to depression. Especially for those who work as female sex workers and often receive negative pressure when they work. Method: This research is a descriptive study with cross-sectional design. Depression among 30 adolescent FSWs will be assessed using the Beck Depression Inventory II questionnaire. Results: Results showed that 10.0%  FSWs are normal, 30.0% FSWs have mild depression, 36.7% FSWs have moderate depression and 23.3% FSWs have severely depression. Keywords: Depression, Female Sex Worker, adolescent, Beck Depression Inventory.   Abstrak: Depresi merupakan gangguan mental yang diprediksikan oleh World Health Organization kelak menduduki peringkat pertama beban penyakit dalam skala global pada tahun 2030. Usia remaja yang kematangan emosionalnya masih labil, sangat rentan mengalami depresi. Apalagi bagi remaja yang berprofesi sebagai Wanita Pekerja Seks yang kerap mendapat berbagai tekanan negatifdalam pekerjaannya. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain penelitian cross-sectional. Tingkatan depresi pada 30 remaja WPS akan dinilai dengan menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory II. Hasil: Didapatkan sebanyak 10.0%  WPS normal, 30.0% WPS mengalami depresi ringan, 36.7% WPS mengalami depresi sedang dan 23.3% WPS mengalami depresi berat. Kata Kunci: Depresi, Wanita Pekerja Seks, remaja, Beck Depression Inventory.
HUBUNGAN KEKERASAN DENGAN DEPRESI PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Hutasoit, Christin Y.; Munayang, Herdy; Kairupan, Bernabas H.R.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14485

Abstract

Abstract: Child abuse is all forms of violence and neglect that occurred against children under the age of 18 years old. One of the psychological impact of violence is depression. Depression is a mood disorder that can happen to anyone, including a child. The purpose of this study is to determine whether there is a relationship of violence with depression in elementary school children in the district Malalayang city of Manado. Design of the study is quantitative analytical research with cross sectional approach. Samples were 4th, 5th, and 6th grade elementary schools students in the district of the city of Manado Malalayang aged 9 to 12 years old. The respondents who followed the study are 316 children consisting of 169 female and 147 male. Screening instrument used for children depression in this study was Children Depression Inventory (CDI). Statistic analysis chi-square test with alternative test fisher. The results showed that of 316 respondents, 315 experience abuse but only 31 respondents become depressed. The result (p value) of the analysis of relationship between violence and depression in children using Fisher test is 1.000 (p> 0.05). Conclusion: Violence is not associated with depression in children, but does not guarantee children who are abused in childhood will not experience depression as they grow up.Keywords: violence, depression, elementary school children, CDI Abstrak: Kekerasan pada anak adalah segala bentuk tindakan kekerasan dan penelantaran yang terjadi terhadap anak di bawah usia 18 tahun. Salah satu dampak psikologis dari kekerasan adalah depresi. Depresi adalah gangguan mood yang dapat terjadi pada siapapun, termasuk seorang anak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah ada hubungan kekerasan dengan depresi pada anak sekolah dasar di kecamatan Malalayang kota Manado. Desain Penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ini adalah siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 sekolah dasar di kecamatan Malalayang kota Manado yang berusia 9 sampai 12 tahun.Responden yang mengikuti penelitian adalah 316 anak yang terdiri dari 169 perempuan dan 147 laki-laki.Intrumen yang digunakan untuk skrining depresi pada anak dalam penelitian ini adalah kuesioner Children Depression Inventory (CDI).Uji analisis yang digunakan adalah chi-square dengan uji alternatif uji fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 316 responden, 315 yang mengalami kekerasan tetapi hanya 31 responden yang depresi. Hasil analisis hubungan kekerasan dengan depresi pada anak menggunakan uji fisher didapatkan nilai p sebesar 1,000 (p > 0,05). Simpulan: kekerasan tidak berhubungan dengan depresi pada anak, tetapi tidak menjamin anak yang mengalami kekerasan pada masa kecil tidak akan mengalami depresi saat dewasa. Kata kunci: kekerasan, depresi, anak sekolah dasar, CDI
Hubungan Stres dengan Stomatitis Aftosa Rekuren pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Wowor, Yosef P.; Munayang, Herdy; Supit, Aurelia
e-GiGi Vol 7, No 2 (2019): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.7.2.2019.23930

Abstract

Abstract: Recurrent aphtosa stomatitis (RAS) or aphthous ulcer on the oral mucosa can be triggered by several predisposing factors, inter alia stress. This study was aimed to determine the relationship between stress and RAS among students of Dentistry Study Program of Sam Ratulangi University. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples were obtained by using total sampling method. There were 64 students as respondents. This study was conducted by examination of the oral cavity of the respondents, and filling the SAR question list as well as the perceived stress scale (PSS) questionnaire. The results showed that 48% of respondents experienced RAS and 51.6% did not. Moreover, 25% of respondents experienced mild stress, 45.3% moderate stress, and 29.7% severe stress. The chi-square test showed a p-value of 0.000. In conlusion, there was a significant relationship between stress and recurrent aphthous stomatitis among students at Dentistry Study Program of Sam Ratulangi University.Keywords: recurrent aphthous stomatitis, stress level Abstrak: Stomatitis aftosa rekuren (sar) atau ulkus aftosa pada mukosa mulut yang bersifat rekuren dapat dipicu oleh beberapa faktor predisposisi salah satunya stres. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan stres dengan stomatitis aftosa rekuren pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling seluruh mahasiswa di Program Studi. Terdapat total 64 mahasiswa sebagai responden penelitian. Penelitian dilakukan melalui pemeriksaan rongga mulut, serta pengisian daftar pertanyaan SAR dan kuesioner perceived stress scale (PSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 48% responden mengalami SAR dan 51,6% yang tidak mengalami SAR. Selain itu, 25% responden mengalami tingkat stres ringan, 45,3% sedang, dan 29,7% berat. Hasil analisis uji chi-square menunjukkan nilai p=0,000. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara stres dengan stomatitis aftosa rekuren pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: stomatitis aftosa rekuren, tingkat stress
Hubungan Kecemasan terhadap Perawatan Gigi dengan Indeks DMF-T pada Anak Usia 10–12 Tahun di SD Negeri 27 Manado Khasanah, Uswatun; Gunawan, Paulina; Munayang, Herdy
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20854

Abstract

Abstract: One of the most chronic dental diseases suffered by children is caries. Child anxiety during dental care often becomes a hindrance for dentists in order to give the best or optimum care or treatment. Therefore, it is important for the dentists to have a good relationship with patients, especially children. Childern who have a positive interaction with their dentists could overcome their anxiety, so they will not be afraid to go to the dentist. This study was aimed to analyze the relationship between child anxiety during dental care and DMF-T index among children aged 10–12 years old at SDN 27 Manado (elementary school). Subjects were children aged 10–12 years old who had experienced tooth treatment. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Data were obtained by using Dental Anxiety Scale (DAS) questionnaire and DMF-T examination. The data were analyzed with the Pearson simple correlation test. The results showed that of 40 subjects, 7 children (17.5%) were not anxious for dental care, 24 children (60%) were slightly anxious, 7 children (17.5%) were anxious, and 2 children (5.0%) were very anxious. The DMF-T score 3-5 was the most common, each of 6 children (15%), meanwhile the most rare was the DMF-T scores of 10 and 15, each of 1 child (2.5%). The Pearson test of the correlation between anxiety during dental treatment and DMF-T index showed a P of 0.472. Conclusion: There was no significant correlation between child anxiety for dental care and DMF-T index.Keywords: feeling of anxiety, dental care, DMF-T index Abstrak: Salah satu penyakit kronis yang paling sering diderita anak ialah karies. Kecemasan anak saat menjalani perawatan gigi sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, penting bagi dokter gigi menjalin hubungan yang baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhadap dokter gigi dapat mengatasi rasa cemasnya, sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecemasan terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T pada anak usia 10–12 tahun di SDN 27 Manado. Subyek penelitian yaitu anak berusia 10-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner Dental Anxiety Scale (DAS) dan pemeriksaan DMF-T. Analisis data menggunakan uji korelasi sederhana Pearson. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 responden, 7 anak (17,5%) tidak cemas terhadap perawatan gigi, 24 anak (60%) cemas ringan terhadap perawatan gigi, 7 anak (17,5%) cemas sedang terhadap perawatan gigi, 2 anak (5,0%) cemas berat terhadap perawatan gigi. Skor DMF-T 3-5 merupakan jumlah terbanyak masing-masing 6 anak (15%), paling sedikit pada skor DMF-T 10 dan 15 masing-masing sebanyak 1 anak (2,5%). Uji Pearson terhadap hubungan antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T mendapatkan nilai P=0,472. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T.Kata kunci: perasaan cemas, perawatan gigi, indeks DMF-T
PERBANDINGAN KEJADIAN DAN TINGKAT DEPRESI GURU HONORER DI SEKOLAH DASAR NEGERI PADA EMPAT KECAMATAN DI KOTA KOTAMOBAGU PROVINSI SULAWESI UTARA Arfa, Ratih Kusuma Dewi; Kandou, L. F. J.; Munayang, Herdy
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4627

Abstract

Abstrak: Perbandingan kejadian dan tingkat depresi guru honorer di Sekolah Dasar Negeri pada empat Kecamatan di Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara. Pendahuluan: Depresi merupakan gangguan mood yang paling sering dikaitkan dengan stres pekerjaan yang dimiliki individu dalam lingkungan pendidikan seperti profesi guru. Gejala depresi yang dialami guru sering dihubungkan dengan jenis kelamin, umur, status pernikahan, rendahnya kepuasan terhadap profesi, gaji atau penghargaan, keinginan untuk merubah pekerjaan, serta dukungan sosial. Di Indonesia, guru honorer yang memiliki status kepegawaian yang tidak jelas rentan mengalami depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kejadian dan tingkat depresi guru honorer di Sekolah Dasar Negeri pada empat Kecamatan di Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara. Metode: Penelitian ini bersifat observasional-analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini melibatkan seluruh guru honorer yang mengajar di tiap Sekolah Dasar Negeri di empat Kecamatan dengan total 102 responden. Instrumen penelitian ialah kuesioner sosiodemografi dan Hamilton Depression Rating Scale (HDRS). Analisis univariat dan bivariat (Chi square test) dilakukan dengan menggunakan aplikasi komputer. Hasil:Proporsi depresi di Kecamatan Kotamobagu Timur (84,8%) lebih besar daripada proporsi depresi di Kecamatan Kotamobagu Utara (80%), Kecamatan Kotamobagu Barat (82,8%) dan Kecamatan Kotamobagu Selatan (83,3%). Uji beda kejadian dan tingkat depresi mendapatkan nilai p= 0,986 dan p= 0,989.Simpulan: Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kejadian dan tingkat depresi guru honorer di Sekolah Dasar Negeri pada empat Kecamatan di Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara. Kata Kunci: perbandingan, depresi, guru honorer, HDRS     Abstract: The comparison of prevalence and degree of depression among honorary teachers in Public Primary Schools of four Districts in Kotamobagu City, North Sulawesi. Introduction: Depression is a mood disorder that mostly related to the occupational stress among people involved in educational environment especially teacher profession. Depressive symptoms felt by teacher is usually correlated with gender, age, marital status, low job satisfaction, salary or reward, wish to change a job, and social support. In Indonesia, honorary teachers who have a non-confirmed status of teaching tend to be stress and furthermore being more depressive to face these job conditions. This research aimed to examine the comparison of prevalence and degree of depression among honorary teachers in Public Primary Schools of four Districts in Kotamobagu City, North Sulawesi. Method: This research was a cross-sectional study that used observational-analytic design. This study involved 102 honorary teachers, teaching in all Public Primary Schools of four Districts in Kotamobagu. The instruments used in this research were Socio-demographic and Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) questionnaires. Univariate and bivariate analysis (Chi Square test) were done with a computer application program. Result: The proportion of depression of East Kotamobagu district (84,8%) was greater than in North Kotamobagu District (80%), West Kotamobagu District (82,8%) and South Kotamobagu district (83,3%). Prevalence and degree comparation got p score 0,986 and 0,989. Conclusion:There are no significant prevalence and degree differences of depression among honorary teachers in Public Primary Schools of four districts in Kotamobagu City, North Sulawesi. Keywords: depression, comparison, honorary teachers, HDRS
PROFIL LANJUT USIA DENGAN DEPRESI YANG TINGGAL DI BALAI PENYANTUNAN LANJUT USIA SENJA CERAH MANADO Ballo, Ivone R; Kaunang, Theresia M D; Munayang, Herdy; Elim, Christoffel
Jurnal Biomedik : JBM Vol 4, No 1 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.1.2012.753

Abstract

Abstract: According to the World Health Organisation, depression is still a serious public health problem. Depression is a mood disorder due to a disturbance in human functions related to sad feelings that can occur in every individual, including the elderly. The purpose of this study was to find out the profile of the elderly living in BPLU Senja Cerah (Senior Citizens Home) Manado who suffered from depression. This was an observational study with a cross-sectional design. Samples were all elderly, living in the BPLU Senja Cerah that were willing and able to become respondents, and fulfiled the inclusive and exclusive criteria, including signing informed consents and not suffering from any chronic diseases, such as strokes or cardiac diseases. The study showed that depression was mostly found at the ages of 61-74 years (25%) and after 1-6 months of staying in BPLU Senja Cerah (21.3%); the occurence of depression was higher in females (29.8% of total respondents); and the most frequent type was mild depression (30.4%). Conclusion: in BPLU Senja Cerah Manado, the respondents who most suffered from depression were in the following categories: the ages of 61-74 years, females, mild types of depression, and having stayed 1-6 months at the center. Keywords: depression, elderly, prevalence of depression  Abstrak: World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa depresi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Depresi adalah gangguan mood dimana terganggunya fungsi manusia berkaitan dengan alam dan perasaan yang sedih. Gangguan depresi dapat terjadi pada semua individu, termasuk lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan depresi pada lanjut usia yang tinggal di Balai Penyatunan Lanjut Usia (BPLU) Senja Cerah Manado. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasi dengan deain potong lintang. Sampel penelitian ialah semua lanjut usia yang tinggal di BPLU Senja Cerah Manado yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, antara lain bersedia dan bisa menjadi responden serta menandatangani informed consent, dan tidak menderita penyakit kronik seperti stroke atau gangguan jantung. Depresi paling banyak dialami pada kelompok umur 61-74 tahun (25,5%), telah berdiam di BPLU Senja Cerah selama 1-6 bulan (21,3%), berjenis kelamin perempuan (29,8%), dengan tingkat depresi ringan yang terbanyak (30,4%). Simpulan: pada lanjut usia yang tinggal di Balai Penyatunan Lanjut Usia (BPLU) Senja Cerah Manado depresi ditemukan terbanyak pada usia 61-74 tahun, jenis kelamin perempuan, jenis depresi ringan, dengan masa tinggal 1-6 bulan. Kata kunci : Depresi, lanjut usia, prevalensi depresi