Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Teknik Marmet terhadap Kelancaran Asi pada Ibu Post Partum Wasis Pujiati; Lili Sartika; Liza Wati; R Alya Ramadinta
Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan Vol 11 No 2 (2021): Wiraraja Medika : Jurnal Kesehatan
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fik.v11i2.1596

Abstract

Breast milk is a liquid produced by mothers as the best food intake for the nutritional needs of babies. Several problems related to breastfeeding in post partum mothers are lactation management which is less effective on the first day of birth, caused by lack of knowledge and stress. One of the methods used to overcome breast milk insufficiency is the marmet technique. Marmet technique is a combination of massage that is effective, manual, safe and free of cost. The marmet technique is an optimal effort to stimulate the hormones oxytocin and prolactin in the smooth flow of breast milk. The purpose of this study was to determine the effect of the marmet technique on the smoothness of breastfeeding in post partum mothers in the Tanjungpinang City Health Center Work Area. This is a study with a quasi-experimental design (Quasi Experiment) with a Pre and Post Test without Control design. The research population was post partum mothers as many as 201 people and the number of samples was 30 respondents. Samples were taken using purposive sampling. Hypothesis test using non parametric by doing Wilcoxon test. The results showed that there was an effect of the marmet technique on the smoothness of breastfeeding in post partum mothers with a value of 0.000. Research recommendations for effective marmet techniques are carried out to launch breast milk in postpartum mothers and the marmet technique can stimulate an increase in the hormones prolaksin and oxytocin so that it has a relaxing effect on postpartum mothers
KEJADIAN PASIEN PULANG ATAS PERMINTAAN SENDIRI (PAPS) DI RSUD RAJA AHMAD THABIB PROVINSI KEPULAUAN RIAU Liza Wati; Umu Fadhilah; Endang Dwi Hastuti
Menara Medika Vol 4, No 1 (2021): VOL 4 NO 1 SEPTEMBER 2021
Publisher : Menara Medika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mm.v4i1.2795

Abstract

Pasien Pulang Atas Permintaan Sendiri (PAPS) merupakan salah satu indikator penilaian mutu pelayanan rawat inap.  Menurut Standar Pelayanan Minimal (SPM) tidak boleh lebih dari 5 %. Meningkatnya kasus pasien pulang paksa memiliki dampak terhadap rumah sakit antara lain adalah menurunkan kinerja dan citra Rumah Sakit, dalam jangka lama dapat penurunan pendapatan Rumah Sakit. Pulang paksa merupakan tanda adanya ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Selama tahun 2017 kejadian pasien pulang atas permintaan sendiri didapatkan sebanyak 2,4% naik menjadi 2,7 % ditahun 2018 di RSUD Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepualauan Riau. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kejadian pasien pulang atas permintaan sendiri di RSUD Raja Ahmad Tabib Provinsi Kepulauan Riau. Desain menggunakan metode deskriptif, Populasi dalam penelitian ini adalah pasien di ruang rawat inap dengan PAPS selama tahun 2018 sebanyak 43 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik Sampling Insidental. dengan jumlah  sampel sebanyak 27 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang telah di uji validitas dan reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan  sebagian besar responden (77,8%) memiliki tingkat pendidikan rendah, sebagian besar (40,7) usaha kecil, sebagian besar (62,9) berpenghasilan rendah, lebih dari separuh responden (55,6%) tidak menggunakan asuransi kesehatan, lebih dari separuh (63%) responden puas dengan sikap petugas dan lebih dari separuh (59,3%) memiliki persepsi yang positif terhadap penyakit yang dideritanya. Rekomendasi penelitian adalah memberikan informasi yang jelas kepada pasien untuk dapat memanfaatkan asuransi kesehatan, manfaat bagi perawat memahami setiap kebutuhan pasien baik biopsikososialspiritual dan ekonomi serta memberikan pengalaman pertama yang menyenangkan saat perawatan agar pasien tidak mengalami PAPS.
Deteksi Dini Peripheral Arterial Disease pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Linda Widiastuti; Liza Wati; Yusnaini Siagian; Soni Hendra Sitindaon
Media Karya Kesehatan Vol 5, No 1 (2022): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v5i1.35384

Abstract

Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Jumlah penderita DM di Tanjungpinang tahun 2019 mengalami peningkatan 31,8% dari tahun sebelumnya. Peripheral arterial disease (PAD) merupakan salah satu komplikasi pada penderita DM tipe 2 akan terjadinya ulkus diabetikum dan dapat menyebabkan gangren dan amputasi pada ektermitas bawah. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko PAD melalui anamnesis, pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah,  pemeriksaan kaki dengan menggunakan vascular dopler dan monofilament. Anamnesis  dan pemeriksaan  kesehatan  dilakukan  pada  34  orang  peserta  dalam  satu  waktu  menggunakan screening sensitivitas kaki. Hasil pemeriksaan kesehatan berusia 45-49 tahun, berjenis kelamin perempuan, tekanan darah hipertensi grade 1, dan memiliki kadar glukosa darah hiperglikemia. Mayoritas peserta memiliki faktor risiko tinggi mengalami PAD berdasarkan hasil deteksi dini menggunakan vascular dopler dan monofilament. PAD dapat dicegah melalui deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko secara tepat. Dibutuhkan intervensi  lanjut berupa edukasi tentang gaya hidup sehat dan pencegahan PAD seperti melakukan diabetic foot spa sebagai tindakan mandiri peserta akan menurunkan tingkat ketergantungan dalam perawatan diri guna mempertahankan kesehatannya. Kata kunci : Diabetes melitus, foot spa diabetic, Peripheral Arterial Disease.
PENGARUH TERAPI MUSIK KLASIK MOZART TERHADAP TEKANAN DARAH PENDERITA HIPERTENSI DI KELURAHAN SUNGAI ENAM KIJANG MARINA MARINA; HOTMARIA JULIA; YUSNAINI SIAGIAN; LIZA WATI
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 3 (2022)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v1i3.1487

Abstract

Hypertension is a disease that cannot be cured but can be controlled. Non-pharmacological therapy is used to lower blood pressure, one of the non-pharmacological therapies is using Mozart classical music therapy. Listening to music with a slow rhythm will reduce the release of catecholamines into the blood vessels, so that the concentration of catecholamines in plasma is low. This study aims to determine the effect of Mozart classical music therapy on blood pressure of hypertensive patients in Sungai Enam Kijang Village. The research design was pre-experimental design with one group pretest-posttest design. The number of samples is 20 respondents with purposive sampling technique. Data collection tools using observation sheets and blood pressure measuring devices. Data analysis used the Wilcoxon sign rank test with a significance of 0.05. The results showed that blood pressure before being given Mozart classical music therapy showed a mild category as many as 14 people (70%), while after giving Mozart classical music therapy was normal 3 respondents (21.4%), high normal 3 respondents (21.4%). , mild 7 respondents (50%), moderate 1 respondent (7.1%). Blood pressure before being given Mozart classical music therapy showed a moderate category of 4 respondents (20%), after being given Mozart classical music therapy it became mild 3 respondents (21.4%) and 1 respondent (7.1%). The results of the Wilcoxon sign rank test, p value = 0.008 (?0.05), that there is an effect of Mozart classical music therapy on the blood pressure of hypertension sufferers in Sungai Enam Kijang Village. It is hoped that health workers will be able to optimize classical music therapy as a complementary therapy to reduce blood pressure in patients with hypertension by playing classical songs in the patient's waiting room ABSTRAKHipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol. Terapi non farmakologi yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah, salah satu terapi non farmakologi yaitu menggunakan terapi musik klasik mozart. Mendengarkan musik dengan irama lambat akan mengurangi pelepasan katekolamin kedalam pembuluh darah, sehingga konsentrasi katekolamin dalam plasma menjadi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik klasik mozart terhadap tekanan darah penderita hipertensi di Kelurahan Sungai Enam Kijang. Desain penelitian pre eksperimental design dengan one grup pretest-posttest desain. Jumlah sampel 20 responden dengan teknik purposive sampling. Alat pengumpul data dengan menggunakan lembar observasi dan alat ukur tekanan darah. Analisa data menggunakan wilcoxon  sign rank test dengan signifikansi ?0,05. Hasil penelitian menunjukkan tekanan darah sebelum diberikan terapi musik klasik mozart menunjukkan kategori ringan sebanyak 14 orang (70%), sedangkan sesudah siberikan terapi musik klasik mozart adalah normal 3 responden (21,4%), normal tinggi 3 responden (21,4%), ringan 7 responden (50%), sedang 1 responden (7,1%). Tekanan darah sebelum diberikan terapi musik klasik mozart yang menunjukkan kategori sedang 4 responden (20%), sesudah diberikan terapi musik klasik mozart menjadi ringan 3 responden (75%) dan sedang 1 responden (25%).  Hasil uji wilcoxon  sign rank test nilai p value = 0,008 (?0,05), bahwa ada pengaruh terapi musik klasik mozart terhadap tekanan darah penderita hipertensi di Kelurahan Sungai Enam Kijang. Diharapkan petugas kesehatan mampu mengoptimalkan terapi musik klasik sebagai salah satu terapi komplementer untuk mengatasi penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi dengan cara memutar lagu-lagu klasik di ruang tunggu pasien
Pendidikan Kesehatan dan Pelatihan Dasar Keselamatan Penyelaman Masyarakat Pesisir sebagai Upaya Pencegahan Barotrauma Telinga Utari Yunie Atrie; Linda Widiastuti; Liza Wati; Yusnaini Siagian; Soni Hendra Sitindaon
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i1.1540

Abstract

Mayoritas para nelayan yang ada di wilayah pesisir Indonesia merupakan jenis penyelam tradisional, yaitu nelayan yang melakukan penyelaman secara turun-temurun tanpa berbekal ilmu pengetahuan kesehatan dan keselamatan penyelaman yang memadai (safety diving). Berbagai resiko penyakit penyelaman dapat dialami oleh nelayan penyelam tradisional, salah satunya barotrauma telinga. Barotrauma merupakan salah satu kegawatdaruratan penyelaman yang sering diabaikan oleh nelayan tradisional. Tujuan dari PKM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir khususnya nelayan tradisional di Desa Malang Rapat mengenai keselamatan penyelaman. Metode pendidikan kesehatan dilakukan secara ceramah, diskusi dan pelatihan prosedur penyelaman yang tepat. Kegiatan PKM dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2022 dengan target responden adalah nelayan penyelam tradisional yang berjumlah 74 orang di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan Kepulauan Riau. Hasil PKM menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test responden adalah 42,78 (SD 12.083), sedangkan rata-rata nilai post-test responden setelah mendapatkan pendidikan kesehatan dan pelatihan dasar keselamatan penyelaman adalah 83,22 (SD 13.407). Berdasarkan uji paired t test menunjukan bahwa p-value adalah 0,00. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan partisipan setelah mengikuti pendidikan kesehatan dan pelatihan dasar keselamatan penyelaman masyarakat pesisir di Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan. Pendidikan kesehatan dan pelatihan terkait keselamatan terbukti efektif dalam meningkatkan aspek kognitif dan keterampilan nelayan penyelam tradisional. Melalui upaya ini diharapkan dapat memberikan upaya preventif terhadap masalah-masalah kesehatan yang dapat dialami oleh penyelam, merubah perilaku dan meningkatkan keterampilan para penyelam dalam melakukan penyelaman yang aman dan sehat sehingga terhindar dari berbagai masalah kesehatan akibat penyelaman.
Edukasi Keamanan Penyelaman dan Deteksi Dini Kesehatan Nelayan Pesisir Kawal Pantai Linda Widiastuti; Wiwiek Liestyaningrum; Utari Yunie Atrie; Liza Wati; Yusnaini Siagian
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i1.1543

Abstract

Provinsi Kepri yang memiliki laut seluas 24.121.530,0 ha (95,79%). Sebagian besar mata pencaharian masyarakat kepulauan riau yang ada di pesisir adalah nelayan tradisional. Aktifitas yang dilakukan yaitu menyelam. Kegiatan menyelam yang dilakukan penyelam tradisional untuk mencari ikan maupun biota laut dengan memanah maupun menyelam dengan mengunakan alat kompresor seringkali tidak memperhatikan aspek keselamatan, sehingga risiko cedera penyelaman meningkat. Nelayan penyelam tradisional kebanyakan belum mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang teknik penyelaman secara formal. Cedera penyelaman dapat ringan sampai dengan kematian, sehingga edukasi tentang pencegahan dan pengenalan gangguan penyakit yang dapat terjadi akibat penyelaman perlu dilakukan. Kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam dua kegiatan yang bersamaan: edukasi mengenai keamanan penyelaman dan deteksi dini kesehatan dengan cara pengobatan gratis. Hasil didapatkan 40 orang nelayan 77,5% dengan latar belakang pendidikan SD, 87,5% masa kerja nelayan tradisional 5-10 tahun, 70% lama menyelam didalam laut ≥ 5 jam, sebanyak 5 penyelam tradisional dengan keluhan dekompresi gejala yang dirasakan kebas pada kaki bagian bawah dan penurunan pendengaran serta nyeri kepala. Hasil pemeriksaan kesehatan didapatkan nelayan tradisional mengalami hipertensi 27 orang (67,5%), diabetes melitus 6 orang (15%) memiliki kadar glukosa darah hiperglikemia, rematik 7 orang (17,5%) asam urat tinggi. Mayoritas peserta memiliki faktor risiko penyakit dekompresi akibat penyelaman tradisional dan penyakit tidak menular (PTM).
Faktor Kinerja Kader Posyandu di Kelurahan Kijang Kota Kecamatan Bintan Liza Wati; Syamilatul Khariroh; Raja Farah Indriastuti
Jurnal Keperawatan Vol 2 No 1 (2012): Jurnal Keperawatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Posyandu sebagai sebuah wadah UKBM (upaya kesehatan bersumber daya masyarakat) mempunyai peranan yang sangat besar dan strategis didalam masyarakat secara umum dan khususnya bidang kesehatan. Kader sebagai salah satu sub sistem dalam posyandu yang bertugas untuk mengatur jalannya program dalam posyandu, kader harus lebih tahu atau lebih menguasai tentang kegiatan yang harus dijalankan atau dilaksanakan. Keaktifan dan kinerja kader dari tahun 2008 sampai dengan 2009 mengalami penurunan, dimana pada tahun 2008 kader aktif adalah 72,4% sementara pada tahun 2009 menurun menjadi 68,32% (Puskesmas Kijang Kota, 2010). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pengetahuan, tanggungjawab, insentif, dan dukungan petugas kesehatan dan tokoh masyarakat dengan kinerja kader posyandu. Jenis Penelitian adalah obsevasional dengan pendekatan cross sectional study. Dilakukan pada bulan Desember 2010. Populasinya sebanyak 169 responden, sampel diambil dengan teknik Simple Random sampling berjumlah 63 sampel. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji Chi Square. Hasil Penelitian yang diperoleh diketahui kinerja baik (66,7%), pengetahuan tinggi (57,1%), tanggungawab baik (63,5%), insentif puas (68,3%), dan dukungan petugas kesehatan dan tokoh masyarakat (60,3%). Hasil uji statistik dengan chi square di peroleh bahwa ada hubungan pengetahuan, tanggungjawab, insentif, dan dukungan petugas kesehatan dan tokoh masyarakat dengan kinerja kader posyandu di Kelurahan Kijang Kota Kecamatan Bintan Timur Tahun 2010.
Pengaruh Posisi Menyusui Side Lying Hold terhadap Penurunan Nyeri pada Kasus Post Sectio Caesarea Liza Wati; Rianti Aritonang; Risnu Anisa
Jurnal Keperawatan Vol 3 No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Hang Tuah Tanjungpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sectio Caesarea merupakan prosedur bedah untuk pelahiran janin insisi melalui abdomen dan uterus. Nyeri adalah suatu pengalam sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kesalahan kerusakan jaringan baik secara aktual atau potensial. Posisi Menyusui SideLying Hold adalah posisi ini sangat tepat untuk menyusui pada waktu malam, karena pada posisi ini ibu berbaring di samping bayi, ibu langsung menghadap bayi dengan kepala bayi di dekat payudara dan mulut bayi berkerut dengan puting ibu. Persalinan dengan Sectio Caesarea adalah sekitar 10-15 dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang. Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan kelahiran bedah Sectio Caesarea sebesar 9,8% dengan proporsi tertinggi di DKI Jakarta (19,9%) dan proporsi kedua diikuti oleh Provinsi Kepulauan Riau). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi Side Lying Hold terhadap penurunan nyeri pada kasus post Sectio Caesarea di RSUD Kota Tanjungpinang. Penelitian ini menggunkan desain eksperimen semu (quasi experiment). Desain penelitian ini adalah Pre and Post Test Without Control. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik accidental sampling. sampel dalam penelitian di adalah 44 responden. Pada penelitian ini, analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji wilcoxon. hasil penelitian dengan Uji Wilcoxon dapat dilihat nilai ρ Value diperoleh adalah 0,000. Kesimpulannya adalah 0,000 < 0,05 maka Ho ditolak, artinya ada pengaruh posisi Side Lying Hold Terhadap Penurunan nyeri pada kasus post Sectio Caesarea Di RSUD Kota Tanjungpinang.
Hubungan Posisi Belajar dan Lama Duduk dengan Kejadian Nyeri Punggung Bawah Mahasiswa Stikes Hang Tuah Tanjungpinang Yusnaini Siagian; liza wati; Linda Widiastuti; Soni Hendra Sitindaon
Jurnal Riset Media Keperawatan Vol. 5 No. 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jrmk.v5i1.303

Abstract

Nyeri punggung bawah adalah keluhan nyeri seseorang yang dapat disebabkan oleh posisi dan lama duduk. Nyeri punggung bawah merupakan keluhan yang banyak dirasakan mahasiswa selama pembelajaran daring. Nyeri punggung bawah menyebabkan terbatasnya aktifitas sehingga dapat membuat seseorang tidak produktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan posisi belajar dan lama duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah pada mahasiswa Stikes Hang Tuah Tanjungpinang. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 246 mahasiswa dan sampel yang diambil berjumlah 152 mahasiswa Stikes Hang Tuah Tanjungpinang yang memenuhi kriteria inklusi. Tehnik sampling yang digunakan adalah cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan paling banyak mahasiswa berumur 20-29 tahun yaitu 102 orang (67,1%), mayoritas perempuan sebanyak 127 orang (83,6%), paling banyak mahasiswa program studi S1 keperawatan reguler yaitu sebanyak 64 orang (42,1%) dan sebagian besar mahasiswa memiliki IMT dengan kategori berat badan normal sebanyak 43 orang (28,3%). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kejadian nyeri punggung bawah dengan posisi belajar (p value 0,000), lama duduk (p value 0,000), usia (p value 0,000), dan IMT (p value 0,000). Namun tidak ada hubungan kejadian nyeri punggung bawah dengan jenis kelamin (p value 0,152). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan ada hubungan posisi belajar dan lama duduk dengan kejadian nyeri punggung bawah. Saran bagi mahasiswa agar memperhatikan lama, sikap duduk dan cara duduk saat perkuliahan sehingga kelelahan atau ketegangan pada punggung dapat dikurangi dengan cara berdiri atau berjalan beberapa menit. Bagi dosen memberikan waktu bagi mahasiswa untuk melemaskan ketegangan pinggang atau punggung saat perkuliahan berlangsung seperti berdiri dan senam ditempat. Kata kunci : Posisi Belajar, Lama Duduk, Kejadian Nyeri Punggung Bawah
HUBUNGAN PAPARAN MATAHARI, MEROKOK DAN ALKOHOL DENGAN KEJADIAN KATARAK PADA NELAYAN DAERAH PESISIR liza wati
Jurnal Riset Media Keperawatan Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sapta Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51851/jrmk.v5i2.348

Abstract

Katarak adalah proses degeneratif berupa kekeruhan di lensa bola mata menyebabkan menurunnya kemampuan penglihatan sampai kebutaan. Masalah katarak merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di masyarakat pesisir pantai. Kabupaten Bintan merupakan wilayah industri perikanan yang 95 % luas wilayah perairan. Sebagian besar masyarakat tersebut bekerja sebagai nelayan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok, konsumsi alcohol dan paparan sinar UV dengan kejadian katarak pada nelayan di Pesisir Kawal Pantai. Desain penelitian ini menggunakan studi observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif. waktu pelaksanaan penelitian adalah bulan Maret s.d Agustus 2022 di daerah Pesisir Kawal Pantai Kabupaten Bintan. Populasi penelitian adalah nelayan sebanyak 827 orang. Jumlah sampel 20 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 10 pertanyaan. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan analisis Chi-square dan Odds Ratio. Analisis univariat didapatkan usia responden terbanyak ≥ 40 tahun sebanyak 57,5%, responden merokok sebanyak 90,0%, responden yang terpapar sinar uv selama > 4 jam sebanyak 55,0%, responden yang tidak mengkonsumi alkohol sebanyak 62/5%, responden yang menderita katarak sebanyak 50,0%. Analisi bivariat menggunakan Chi square didapatkan variable kebiasaan merokok ( p value =0,10 ) dan konsumsi alkohol (p value =0,10 ) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian katarak. Variabel paparan sinar UV (p value = 0,057) terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian katarak. Analisis dengan odds ratio dengan hasil nilai OR 1,000 artinya responden yang memiliki kebiasaan merokok lebih berisiko 1 kali mengalami katarak , nilai OR 3,500 artinya responden yang terpapar sinar uv > 4 jam lebih berisiko 3 kali mengalami katarak, nilai OR 3,000 artinya responden yang mengkonsumsi alkohol 3 kali lebih berisiko mengalami katarak.