Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Al-Mizan (e-Journal)

Enterpreneurship Syariah (Menggali Nilai-Nilai Dasar Manajemen Bisnis Rasulullah) Mustofa Mustofa
Al-Mizan (e-Journal) Vol. 9 No. 1 (2013): Al-Mizan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.085 KB) | DOI: 10.30603/am.v9i1.136

Abstract

Selain sebagai seorang nabi, Rasul, dan ulil amri. Rasulullah adalah seorang pengusaha sukses yang telah meletakkan dasar-dasar konsep entrepreneur syariah. Beliau memiliki integritas pribadi yang tinggi utuh tanpa cela, karenanya beliau mendapat julukan fathanah, al-amin (karena dia siddiq dan amanah), dan tabligh. Shiddiq adalah Suatu sikap yang jujur dan selalu berbuat baik dan menghindari perbuatan seperti tidak menepati janji yang belum atau telah disepakati, menutupi cacat atau aib barang yang dijual dan membeli barang dari orang awam sebelum masuk ke pasar. Sedangkan sifat amanah adalah tidak mengurangi apa-apa yang tidak boleh dikurangi dan sebaliknya tidak boleh ditambah, dalam hal ini termasuk juga tidak menambah harga jual yang telah ditentukan kecuali atas pengetahuan pemilik barang. Amanah berarti tidak melakukan penipuan, memakan riba, tidak menzalimi, tidak melakukan suap, tidak memberikan hadiah yang diharamkan, dan tidak memberikan komisi yang diharamkan. Fathanah berarti cakap atau cerdas, di sini berkaitan dengan strategi pemasaran (kiat membangun citra). kiat membangun citra dari uswah Rasulullah SAW meliputi: penampilan, pelayanan, persuasi dan pemuasan. Sedangkan tablig adalah komunikatif, memiliki kemampan untuk berbicara, berdialog, dan kemampuan mempresentasikan dengan cara-cara yang santun, baik dan tidak menyakiti orang lain. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan semakin mendapat legitimasi secara akademisi dipenghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21 yang tampak prinsip bisnis modern, seperti tujuan pelanggan, pelayanan yang unggul, kompetensi, efisiensi, transparansi, semuanya telah menjadi gambaran pribadi dan etika bisnis Nabi Muhammad SAW.
Waralaba dalam Perspektif Hukum Islam Mustofa Mustofa
Al-Mizan (e-Journal) Vol. 13 No. 2 (2017): Al-Mizan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.33 KB) | DOI: 10.30603/am.v13i2.738

Abstract

Franchising is a trend of effective and efficient business development in the present, because it is very beneficial material can also be a smart solution to minimize the sense of prestige or low self-esteem to sell or entrepreneurship for new graduates or scholars who have just completed their studies. Likewise for beginner entrepreneurs who are still afraid of the loss that is always haunting, Francise is one solution. Apart from being able to bring big and fast profits, it can also bring prestige to the managers. The development of a franchise that is very fast on the ground is expected to raise questions whether the Francise system or franchise is in accordance with Islamic values? In the context of classical fiqh, the term franchise is not known. For this reason, it is necessary to discuss Islamic economic discourse with this franchise pattern, so that we can speak classically: "can take the bad and the bad" from the franchise system that was born from the west. Like clothing fashion that comes from abroad, it must be adapted to the provisions of the Shari'a, besides clothing is really fashionable and trendy, but the important thing must also be to close the genitals. For a Muslim, muamalah is worldly freedom, for which the perpetrator is given the freedom to develop and create according to the progress of the times. Even so, freedom in making rules in bermu'amalah can not get out of shari'ah values.
Pengaruh Tingkat Pemahaman Agama Terhadap Perilaku Bisnis Pedagang Pasar Minggu Telaga Kabupaten Gorontalo Roni Mohamad; Mustofa Mustofa
Al-Mizan Vol. 10 No. 1 (2014): Al-Mizan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/am.v10i1.1361

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh tingkat pemahaman agama terhadap prilaku dagang/bisnis pedangang. Penelitian in berlangsung selamatiga bulan (Agustus-November 2013), lokasi penelitian ini adalah Pasar Minggu Telaga Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisa data dilakukan dengan pendekatan statistik regresi berganda dengan bantuan program SPSS 17.0, sedangkan data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yanga diperoleh melalui observasi, dokumentasi dan kuesioner (angket). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemahaman agama yang terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan pedagang pasar minggu Telaga tergolong tinggi. Berdasarkan hasil analisis uji parsial tentang tingkat pemahaman agama tentang Iman dan Ihsan berpengaruh signifikan terhadap prilaku dagang/bisnis pedagang Pasar Minggu Telaga Kabupaten Gorontalo dan tingkat pemahaman agama tentang Islam tidak berpengaruh signifikan terhadap prilaku bisnis pedagang Pasar Minggu Telaga. Sedangkan tingkat pemahaman agama secara bersama-sama yang terdiri dari iman, Islam dan ihsan berpengaruh signifikan terhadap prilaku dagang/bisnis pedagang Pasar Minggu Telaga Kabupten Gorontalo.