Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Kurios

Kemajemukan Indonesia menurut ajaran Gereja Protestan Maluku dalam perpekstif teologi agama-agama Theophillia Vristya Leatemia; Jhony Christian Ruhulessin; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i1.605

Abstract

 Plurality, including religious plurality in Indonesia, is an indisputable reality. Many conflicts based on religious plurality still occur in Indonesia today, and all religions in Indonesia must be responsible for them. This article aims to review the religious plurality concept as the face of Indonesia in the form of the Maluku Protestant Church??"s dogma, as a responsibility of the Maluku Protestant Church in contributing to the development of Indonesia. This research uses a content analysis method of the Maluku Protestant Church??"s dogma, with the thoughts of the theology of religions as a basis. This research found 26 (twenty-six) articles about plurality, namely how the Maluku Protestant Church sees other faiths. Based on the objectives of this study, it can be concluded that the belief in Tuhan Yang Maha Kuasa, who works in all the realities of Indonesia, must become a common belief of all religions, including the Maluku Protestant Church, to become a common foothold in building interfaith relations towards beyond pluralism as a theological formulation of religions that is appropriate and relevant to the current context.  AbstrakKemajemukan termasuk kemajemukan agama di Indonesia merupakan kenyataan yang tak terbantahkan. Banyak konflik bertemakan kemajemukan agama yang masih terjadi di Indonesia hingga kini, dan semua agama di Indonesia harus bertanggungjawab atasnya. Artikel ini bertujuan untuk mengulas kemajemukan agama sebagai wajah Indonesia dalam Ajaran Gereja Protestan Maluku, sebagai wujud tanggungjawab Gereja Protestan Maluku dalam berkontribusi bagi perkembangan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi terhadap Ajaran Gereja Protestan Maluku, dengan teologi agama-agama sebagai pijakannya. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat 26 (dua puluh enam) artikel tentang kemajemukan yakni cara Gereja Protestan Maluku melihat agama-agama lain. Berdasarkan tujuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa yang adalah Tuhan yang bekerja dalam seluruh realitas Indonesia harus menjadi keyakinan bersama semua agama, termasuk Gereja Protestan Maluku. Hal ini agar menjadi pijakan bersama dalam membangun hubungan antar agama menuju beyond pluralism atau melampaui kemajemukan sebagai rumusan teologi agama-agama yang tepat dan relevan dengan konteks masa kini.  
Pengembangan Kepemimpinan Gereja Masehi Injili di Halmahera melalui Pemaknaan Filosofis Kepemimpinan Gembala Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.188

Abstract

This study aims to find the ideal concept of leadership in church circles and make it relevant to the church process at the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH). The method used is research or literature review by exploring leadership management concepts, both general in society and specifically in the church. This study found that the success or failure of a leader will indeed be seen from the results of his work. The process influences these results from the beginning of becoming a leader, the lead management process, and its evaluation, both process evaluation and work results. Leadership in the Church is the same way. One thing that needs to be instilled early in church leadership is that the leader-pastor is not God. They are only tools in God's hands because they are also not free from various weaknesses. The church does not adhere to a "cult of church leaders" and, therefore, never makes leaders saints who cannot be criticized or blasphemed. This research concludes that every pastor-leader will continue to learn to improve himself and the leadership system to improve in the future, even in the church, including GMIH. Good traditions in the church should be maintained, and if they are outdated and tend to be destructive, they should be let go willingly. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep ideal kepemim-pinan di kalangan gereja dan merelevansikannya dalam proses bergereja di Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Metode yang digunakan adalah penelitian atau kajian pustaka, dengan menelusuri konsep-konsep manajemen kepemimpinan, baik yang umum di masyarakat maupun secara khusus di gereja. Penelitian ini menemukan bahwa berhasil tidaknya seorang pemimpin memang akan dilihat dari hasil kerjanya. Hasil itu tentu saja dipengaruhi oleh proses sejak awal menjadi pemimpin, proses manajemen kepemimpinan, dan evaluasinya, baik evaluasi proses maupun hasil kerjanya. Kepemimpinana dalam Gereja juga demikian. Satu hal yang perlu ditanamkan sejak dini dalam kepemimpinan gereja, yaitu bahwa pemimpin-gembala bukanlah Tuhan. Mereka hanyalah alat di tangan Tuhan, karena itu tidak lepas dari berbagai kelemahan juga. Di dalam gereja tidak menganut paham “pengkultusan pemimpin gereja” karena itu, jangan sekali-kali menjadikan pemimpin sebagai orang kudus yang tidak boleh dikritik atau dihujat. Penelitian ini menyim-pulkan bahwa setiap pemimpin-gembala akan terus belajar memperbaiki diri dan memperbaiki sistem kepemimpinan agar lebih baik ke depan, begitu pun di gereja, termasuk GMIH. Tradisi-tradisi yang baik di gereja patut dijaga, dan jika sudah ketinggalan zaman dan cenderung merusak, sebaiknya dilepaskan dengan ikhlas.
Moderasi Beragama pada Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), Wilayah Pelayanan Tobelo Tiang, Desyane Silce; Nanuru, Ricardo Freedom; Petrus, Jerizal
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.768

Abstract

This research aims to determine the extent to which religious moderation programmed by the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia since 2019 has a place in the life of the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH) Tobelo Service Area. This research uses qualitative research methods, which emphasize phenomena and examine the substance of the meaning of these phenomena. This research found that ideally, religion should not be a source of conflict but rather a guide for society to live a pluralistic life; strengthening religious moderation is vital to building national culture and character; in the Indonesian context, moderate religion can be used as a cultural strategy to maintain an Indonesia that is peaceful, tolerant, and respects religion; the religious moderation program has not been well received and implemented by the church as a government partner, less popular among local churches like the Evangelical Christian Church in Halmahera (GMIH). In conclusion, local churches, such as GMIH, play an essential role in building religious moderation, cultivating it in a structured manner within its internal circles through work programs regulated from the synodal level to the congregations.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan sejauh mana moderasi beragama yang diprogramkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia sejak tahun 2019 mendapat tempat dalam kehidupan Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), Wilayah Pelayanan Tobelo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, yang menekankan pada fenomena dan lebih meneliti ke substansi makna dari fenomena tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa, idealnya agama tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi pedoman bagi masyarakat tentang bagaimana hidup di tengah keberagaman; penguatan moderasi beragama menjadi penting sebagai upaya membangun kebudayaan dan karakter bangsa; dalam konteks ke-Indonesia-an, moderasi beragama dapat dijadikan sebagai strategi kebudayaan untuk merawat Indonesia yang damai, toleran, dan menghargai keragamaan; dan, program moderasi beragama belum secara baik diterima dan dilakukan oleh gereja sebagai mitra pemerintah, kurang bergaung di kalangan Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH). Kesimpulannya, gereja lokal, seperti GMIH, memegang peranan penting dalam membangun moderasi beragama, membudayakannya secara terstruktur di kalangan internalnya, melalui program kerja yang diatur dari tingkat sinodal sampai ke jemaat-jemaat.
Gereja dan cyberbullying remaja: Pendampingan pastoral bagi remaja korban cyberbullying Ruimassa, Aleta Apriliana; Nanuru, Ricardo Freedom
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.843

Abstract

This article aims to find out teenagers' problems related to bullying on social media and to put a pastoral-based approach so that the church, with its pastoral services, can be relevant to the struggles of teenage church members. The method used is descriptive analysis with a systematic literature review approach. The findings of this research show that the internet or digital world opens up space for teenage bullying, which starts from encounters and interactions on social media. Apart from that, teenagers are less able to open up a space for discussion regarding cyberbullying issues with other people and their parents. The church must be present for these youth problems through pastoral care to prevent worse things from happening.AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menemukan persoalan remaja terkait perundungan di media sosial dan menempatkan pendekatan berbasis pastoral agar gereja dengan pelayanan pastoralnya dapat menjadi relevan bagi pergumulan anggota-anggota jemaat yang masih remaja. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan systematic literature review. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa dunia internet atau digital membuka ruang terjadinya perundungan remaja yang dimulai dari perjumpaan dan pergaulan di media sosial. Selain itu, remaja kurang mampu membuka ruang diskusi terkait persoalan cyberbullying kepada orang lain dan orang tua mereka. Gereja harus hadir bagi persoalan remaja tersebut melalui pendampingan pastoral demi mencegah hal buruk terjadi.Â