Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Navigating the Gen Z Paradox: A Qualitative Study of Career Aspirations, Digital Individualism, and Work–Life Integration among Generation Z Iqbal Bafadal; Muhammad Awwad
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26793

Abstract

This study explores the psychosocial paradox experienced by Generation Z in Eastern Indonesia by examining the dynamic interaction between their career aspirations, digital individualism, and work–life integration from a guidance and counseling perspective. Employing a qualitative descriptive design rooted in a constructivist epistemological position, the study utilized Braun and Clarke’s framework for reflexive thematic analysis (RTA). Data were generated through semi-structured individual interviews, structured naturalistic observations, and researchers' reflexive journals from participants across West Nusa Tenggara (NTB) and East Nusa Tenggara (NTT). The analysis revealed three prominent themes: (1) Aspiration–Behavior Discordance, characterized by high career ambitions but critically low active preparation or strategic planning; (2) Digital Individualism and Community Disengagement, marked by a strong preference for digitally mediated autonomous interactions and minimal participation in physical communal organizations; and (3) Reconceptualization of Work and Life Integration, where participants prioritize personal flexibility, autonomy, and psychological well-being over traditional, purely financial metrics of professional success. These findings demonstrate that Generation Z's vocational and psychosocial growth operates as an interconnected developmental system navigating digital affordances alongside local socio-economic realities and structural constraints. Consequently, contemporary counseling interventions must move beyond basic occupation-centered guidance to holistically integrate digital well-being, self-regulation, and community connectedness to help youth translate abstract aspirations into adaptive actions.Penelitian ini mengeksplorasi paradoks psikososial yang dialami oleh Generasi Z di Indonesia Timur dengan mengkaji interaksi dinamis antara aspirasi karier, individualisme digital, dan integrasi kehidupan–kerja dari perspektif bimbingan dan konseling. Menggunakan desain deskriptif kualitatif yang berakar pada posisi epistemologi konstruktivis, penelitian ini menerapkan analisis tematik refleksif (RTA) berdasarkan kerangka kerja Braun dan Clarke. Data dikumpulkan melalui wawancara individual semi-terstruktur, observasi naturalistik terstruktur, dan jurnal refleksif peneliti dari para partisipan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Analisis mengidentifikasi tiga tema utama: (1) Ketidakselarasan Aspirasi–Perilaku), yang ditandai dengan ambisi karier yang tinggi namun disertai dengan sangat rendahnya persiapan nyata atau perencanaan strategis; (2) Individualisme Digital dan Keterputusan Komunitas, yang dicirikan oleh preferensi kuat terhadap interaksi otonom termediasi digital dan minimnya partisipasi dalam organisasi komunal fisik; serta (3) Rekonseptualisasi Integrasi Kerja dan Kehidupan, di mana partisipan memprioritaskan fleksibilitas pribadi, otonomi, dan kesejahteraan psikologis di atas metrik kesuksesan profesional yang murni berbasis finansial tradisional. Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vokasional dan psikososial Generasi Z berjalan sebagai sebuah sistem perkembangan yang saling terhubung dalam menavigasi peluang digital di tengah realitas sosio-ekonomi dan keterbatasan struktural lokal. Oleh karena itu, intervensi konseling kontemporer harus melampaui model bimbingan tradisional yang berorientasi pada jabatan, dengan mengintegrasikan kesejahteraan digital, regulasi diri, dan keterhubungan komunitas secara holistik demi membantu generasi muda mentransformasikan aspirasi abstrak mereka menjadi tindakan nyata yang adaptif.
Hubungan Self Love dan Kecenderungan Self Injury (Analisis Tinjauan Faktor Gender dan Usia pada Remaja) Nuri Alpiani; Iqbal Bafadal
HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi Vol. 1 No. 2 (2024): HARAPAN: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Psikologi
Publisher : Alpatih Harapan Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70115/harapan.v1i2.219

Abstract

Masa remaja merupakan masa dimana seseorang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan perubahan biologis, emosional, pikiran serta lingkungan sosialnya. Masa remaja inilah yang menjadi masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Masa ini tentunya menjadi salah satu ememen penting yang bisa menentukan perilaku seseorang sampai ia dewasa nanti termasuk didalamnya adalah perilaku melukai diri sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara self love dengan kecenderungan self injury pada diri remaja. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional, dengan memakai analisis korelasi product moment. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen angket dengan responden berjumlah 50 orang berusia remaja. Adapun hasil pengolahan data pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai r-hitung > r-tabel yang menunjukkan terdapat hubungan antara self love dengan self injury dengan nilai r-hitung 0,550 > 0,284, yang dimana artinya adanya korelasi dengan kekuatan hubungan yang sedang atau cukup. Hal in ini menunjukkan bahwa adanya hubungan (korelasi) antara variabel self love dengan variabel self injury
RELIGIOUS MODERATION AS A PSYCHOPATHOLOGICAL SHIELD: CLINICAL STRATEGIES FOR COUNTERING PSYCHOLOGICAL EXTREMISM Iqbal Bafadal; Masnun; Humamurrizqi; Abdul Hadi Sukmana
Tahiro : Journal of Peace and Religious Mederation Vol. 3 No. 1 (2026): Religious Moderation Across Clinical, Cultural, and Digital Spheres
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tahiro.v3i1.15524

Abstract

This research presents an academic synthesis of religious moderation (Wasatiyyah) as a preventive intervention against psychopathology, grounded in Muhammad U. Faruque's multidimensional self model. The normative foundation of Wasatiyyah is rooted in the concept of maqashid al-shariah as formulated by classical scholars, including Ibn 'Asyur in Maqashid al-Syari'ah al-Islamiyyah and Yusuf Al-Qaradawi in Al-Shahwah al-Islamiyyah, both of whom regard balance (wasath) as both the objective of the shariah and a principle for the protection of the soul (hifzh al-nafs). From the perspective of Islamic psychology, moderation is understood not merely as a sociopolitical compromise, but as a clinical necessity that can be operationalized through measurable psychological indicators, such as moderate religiosity scales, dogmatism scales (Rokeach, 1960), and the Religious Moderation Assessment (RMA), in order to maintain balance among the bio-physiological, cognitive, and spiritual dimensions of the human being. This analysis highlights that extremism arises from a “spectrum error,” in which the individual reduces the transcendent subjectivity of the “I” into a rigid and closed ideological object. By integrating Abu Zayd al-Balkhi's classical medical tradition in his work Masalih al-Abdan wa al-Anfus with the practice of Tajarrud (self-detachment) from the Sunni Sufi tradition, this research proposes a new framework for holistic mental health. The method employed is an analytical-critical literature review of primary sources in Islamic psychology and the philosophy of the soul. The findings show that the Wasatiyyah approach is clinically proven to protect human moral agency and to facilitate the attainment of Qalb Salim as the highest condition of mental health in the Islamic tradition. The implications of this research include recommendations for mental health practitioners and educators in Muslim communities to adopt the principle of moderation as a methodology for psychological intervention grounded in Islamic spiritual values.