Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

RISIKO PRODUKSI DAN INEFISIENSI TEKNIS USAHATANI PADI GOGO PADA AGROEKOSISTEM LAHAN KERING Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.408 KB) | DOI: 10.35891/agx.v2i1.732

Abstract

Usaha dibidang pertanian berada dalam situasi ketidakpastian, akibatnya tidak pernah memiliki hasil pasti. Sumber ketidakpastian yang penting di sektor pertanian adalah fluktuasi hasil pertanian dan fluktuasi harga. Ketidakpastian prediksi hasil pertanian lebih banyak disebabkan oleh faktor alam. Sebagai contoh faktor alam yang bersifat tidak menentu dan sulit dikontrol petani adalah iklim yang kurang menguntungkan, serangan hama dan penyakit, kekeringan dan banjir. Kesemuanya itu merupakan faktor yang dapat menurunkan produksi, bahkan seringkali petani tidak memperoleh sesuatu apapun dari hasil usahanya. Ketidakpastian tentang prediksi harga disebabkan begitu kompleksnya faktor yang menyebabkan fluktuasi harga. Adanya spekulasi pedagang yang cenderung ingin memperoleh keuntungan besar dan rantai pemasaran yang panjang merupakan faktor berpengaruh terhadap naik turunnya harga yang sering merugikan petani. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko produksi pada usahatani padi gogo pada agroekosistem lahan kering dan menganalisis efisiensi teknis pada usahatani padi gogo. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive yaitu di Desa Sentol, Kecamatan Pademawu. Pengambilan sampel menggunakan metode yang mengacu pada pendapat Cochran (2005) yaitu proportional sampling. Hasil penelitian yang diperoleh adalah pada agroekosistem lahan kering, risiko produksi padi gogo yang terjadi cukup tinggi. Kesimpulan ini diputuskan dengan mengacu pada hasil nilai Coefficient Variation (CVx) usahatani padi gogo di lahan kering sebesar 0,48. Hasil analisis efisiensi teknis menyimpulkan bahwa kegiatan usahatani padi gogo di Desa Sentol, Kecamatan Pademawu ternyata petani atau produsen berperilaku tidak efisien secara teknis.  
KAJIAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA PETANI DALAM PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DI DESA BICORONG KECAMATAN PAKONG KABUPATEN PAMEKASAN Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.687 KB) | DOI: 10.35891/agx.v2i2.738

Abstract

:Pembangunan pertanian merupakan proses peningkatan produktivitas sistem pertanian yang dilakukan oleh berbagai pihak seperti pemerintah dan pemangku kepentingan dengan cara memanfaatkan beragam sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan teknologi, modal, sumber daya manusia dan kelembagaan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat pertanian. Dengan pembangunan pertanian diharapkan mampu mensukseskan Gerakan Go Organik yang telah dicanangkan oleh Pemerintah. Revolusi hijau menimbulkan dampak negatif yang nyata terhadap lingkungan. Hasil analisa tanah yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan diperoleh bahwa kandungan unsure hara alami di dalam tanah hanya berkisar 1-2%. Jauh dari kebutuhan minimal dimana tanah harus mempunyai kandungan unsur hara minimal 5 %. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan di Desa Bicorong Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pengembangan SDM petani dalam pembuatan pupuk organik di Desa Bicorong? Serta bagaimana alternatif strategi pengembangan SDM petani dalam pembuatan pupuk organik di Desa Bicorong? Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor intenal yaitu faktor kekuatan mempunyai nilai total sebesar 82,35 % terdiri dari faktor kelompok tani sebesar 95,33 %; tersedianya hewan ternak 83%; irigasi semi teknis 93,33 %; motivasi berkelompok 83,60 %; ketersediaan lahan yang masih luas 80 %; kebijakan pemerintah yang mendukung 76,67 %; tenaga kerja cukup tersedia 64,33 %. Faktor kelemahan mempunyai nilai total sebesar 76,81 % terdiri dari faktor penerapan teknologi yang masih rendah sebesar 93,67 %; modal usaha tani kurang 87,67 %; produksi dan kualitas masih rendah 83,67 %; umur petani relatif tua 75 %; penggunaan dosis pupuk berlebihan 73 %; pendidikan masih rendah 70,33 %; pemberdayaan kelompok tani masih kurang sebesar 50%; lahan usaha tani sempit 53,33 %. Faktor eksternal menunjukkan bahwa faktor peluang mempunyai nilai total sebesar 87,53 % terdiri dari faktor kebijakan pemerintah yang mendukung sebesar 100 %; diversifikasi pangan 93 %; teknologi masih bisa dikembangkan 89,67 %; pemanfaatan lahan kering 91,67 %; pertumbuhan penduduk 70,33 %. Faktor ancaman mempunyai nilai total sebesar 69,8 % terdiri dari faktor biaya produksi semakin meningkat 89,67 %; serangan hama dan penyakit 87,33 %; irigasi belum lancar 81 %; distribusi pupuk kurang lancar 81 %; perubahan cuaca dan bencana alam 73 %. Disimpulkan bahwa strategi pengembangan SDM petani di Desa Bicorong adalah strategi kekuatan – peluang (S–O) yaitu meningkatkan pembinaan petani melalui kelompok tani yang dilakukan secara intensif dan berkesinambungan, optimalisasi lahan pertanian dan sumber air melalui konsep agribisnis dan berkelanjutan serta optimalisasi pemanfaatan kotoran hewan ternak sebagai pupuk organik. 
ANALISIS SALURAN DAN MARJIN PEMASARAN PETANI JAMBU AIR CAMPLONG (syzygium aqueum) Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.375 KB) | DOI: 10.35891/agx.v3i1.746

Abstract

Di Kabupaten Sampang, tanaman holtikultura yang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat tani adalah tanaman buah-buahan, diantaranya tanaman "Jambu Air Camplong" yang harganya lebih tinggi dibandingkan dengan buah komersial lainnya, seperti : mangga, jeruk lokal. Jambu Air Camplong merupakan varietas lokal yang banyak dibudidayakan di kecamatan Camplong dan merupakan komoditas unggulan Kabupaten Sampang. Meningkatnya produksi akan membawa pengaruh yang luas bagi perkembangan ekonomi tersedianya pasar untuk hasil pertanian, sebab walaupun produksi dapat ditingkatkan, tetapi gagal dalam memasarkan hasil produksinya, maka sia-sialah usaha untuk meningkatkan produksi (Sunarto, 1973). Penelitian ini dilakukan di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang, dengan tujuan untuk mempelajari pola pemasaran jambu air dan menganalisis marjin pemasaran dan share harga petani. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan pada bulan Mei sampai Juli 2011. Responden diambil dari populasi secara Snow Ball Sampling terhadap petani jambu air. Jumlah responden petani sebanyak 27 orang. Namun untuk pedagang, karena populasinya sedikit maka dilakukan secara sensus terhadap lima pedagang pengumpul dan dua tengkulak. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dengan cara wawancara, langsung dengan responden serta data sekunder sebagai data pendukung yang berasal dari kantor kecamatan dan instansi lain yang terkait. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis marjin dan share harga. Pemasaran jambu air di kecamatan Camplong terdiri dari dua saluran distribusi yaitu : a. Saluran Pertama (I) : Petani Pedagang Pengumpul Konsumen. b. Saluran Kedua (II) : Petani Tengkulak Pedagang Pengumpul Konsumen Besarnya biaya pemasaran jambu air yang harus dikeluarkan oleh Pedagang Pengumpul adalah Rp 1.200/100 biji pada saluran I dan Rp 1.300,00 pada saluran II, sedangkan biaya yang harus dikeluarkan oleh Tengkulak adalah Rp 800,00 pada saluran II. Besarnya keuntungan yang diterima Pedagang Pengumpul adalah Rp 3.500,00/100 biji pada Saluran I dan Rp 1.700,00/100 biji pada saluran II, sedangkan besarnya keuntungan yang diterima Tengkulak adalah sebesar RP 1.450,00/100 biji pada saluran II. Nilai marjin pemasaran jambu air di tingkat Pengumpul adalah Rp 5.000,00/100 biji pada saluran I dan Rp 3.500 pada saluran II dan nilai marjin pemasaran di tingkat Tengkulak pada saluran II adalah Rp 2.500,00/biji. Pemasaran jambu air pada saluran I hanya melalui satu institusi pemasaran, yaitu Pedagang Pengumpul. Pada kondisi ini besarnya share harga yang diterima petani semakin besar, yaitu 95,45% petani mendapatkan harga yang lebih tinggi yaitu Rp 42.000,00. Sedangkan prosentase perbandingan harga yang diterima konsumen akhir pada saluran pemasaran II sebesar 86,95%¸ kecilnya prosentase harga pada saluran pemasaran II ini disebabkan oleh panjangnya saluran pemasaran yang terjadi dan jumlah tengkulak relatif banyak.
ANALISIS BIAYA SUMBERDAYA DOMESTIK USAHA PENGOLAHAN IKAN TERI NASI KERING Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.661 KB) | DOI: 10.35891/agx.v3i2.770

Abstract

Industri pengolahan ikan di Indonesia hingga saat ini belum memberikan kontribusi nilai tambah yang semestinya dalam pembangunan nasional. Tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan di Indonesia yang rata-rata telah mencapai 62 persen, ternyata tidak diimbangi oleh kegiatan peningkatan nilai tambah secara sistematik melalui industri pengolahan hasil perikanan (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2010). Oleh karena itu maka untuk memenuhi permintaan produk olahan hasil perikanan, khususnya ikan teri nasi kering (asin) baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri diperlukan transaksi yang tidak kecil dan melibatkan banyak tenaga kerja. perkembangan permintaan produk olahan perikanan, termasuk ikan teri nasi kering (asin) cukup prospektif. Namun demikian, usaha pengolahan ikan teri nasi kering (asin) ini memerlukan sumberdaya (modal, lahan, tenaga kerja dan lain-lain) yang tidak sedikit, sedangkan sumberdaya yang tersisa semakin terbatas sehingga harus diusahakan seefisien mungkin. Berdasarkan kondisi di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh dari pengusahaan pengolahan ikan teri nasi kering (asin) dan menganalisis tingkat keunggulan komparatif dan kompetitif pengusahaan pengolahan ikan teri nasi kering (asin) dengan menggunakan analisis Biaya Sumberdaya Domestik. Penelitian dilakukan di PT Kelola Mina Laut (PT KML). Metode analisis yang digunakan adalah analisis Biaya Sumberdaya Domestik (BSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara finansial dan ekonomi, usaha pengolahan ikan teri nasi kering pada orientasi perdagangan promosi ekspor, menghasilkan pendapatan yang menguntungkan. Sedangkan untuk orientasi perdagangan antar daerah menghasilkan pendapatan yang merugikan. Hal ini dicerminkan oleh nilai pendapatan yang negatif. Sementara itu, secara ekonomi usaha pengolahan ikan teri nasi kering di PT KML untuk orientasi PE dan PAD menghasilkan pendapatan yang menguntungkan (nilai pendapatannya positif). Namun demikian, pendapatan ekonomi yang diperoleh oleh usaha pengolahan ikan teri nasi kering, untuk orientasi perdagangan promosi ekspor lebih besar daripada pendapatan finansial. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pengolahan ikan teri nasi kering bila dipandang dari segi masyarakat secara keseluruhan (secara ekonomi), lebih menguntungkan daripada apabila dipandang dari segi individu yang terlibat langsung, dalam hal ini pengusaha ikan teri nasi kering, yaitu PT KML. Pendapatan ekonomi yang lebih besar disebabkan adanya perbedaan pada penerimaan dan total biaya yang dikeluarkan. Usaha pengolahan ikan teri nasi kering di PT KML memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Keunggulan komparatif dan kompetitif tertinggi diperoleh dari produksi ikan teri nasi kering untuk orientasi perdagangan promosi ekspor. Artinya jika dipandang dari segi masyarakat (secara ekonomi), maka usaha pengolahan ikan teri nasi kering lebih menguntungkan untuk diusahakan daripada dilihat dari segi individunya, yang dalam hal ini adalah pengusaha ikan teri nasi kering.
ANALISIS TITIK IMPAS CABE JAMU (Piper retrofractum Vahl) LOKAL MADURA Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.052 KB) | DOI: 10.35891/agx.v4i1.772

Abstract

Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengidentifikasi total biaya yang dikeluarkan, total penerimaan yang diperoleh, dan jumlah produksi cabe jamu pada saat BEP dicapai. Penelitian ini dilakukan pada usahatani cabe jamu di Desa Pekandangan Sangra, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep. Desa Pekandangan Sangra ini dipilih dengan pertimbangan bahwa Desa Pekandangan Sangra adalah salah satu sentra produksi cabe jamu yang produksinya memiliki segmen pasar yang luas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Nopember sampai Desember 2012. Hasil analisis menunjukkan bahwa BEP pada usahatani cabe jamu adalah sekitar 47,06 kg atau dengan pengeluaran sekitar Rp 3.515.697,5 per musim tanam
PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI TEMBAKAU MADURA : SEBUAH KAJIAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM Kustiawati Ningsih

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1034.268 KB) | DOI: 10.35891/agx.v8i2.789

Abstract

Kecamatan Pakong memiliki potensi di bidang pertanian tanaman perkebunan yaitu kelapa dan tembakau. Berdasarkan data BPS Kabupaten Pamekasan, pada tahun 2016, tanaman tembakau di Kecamatan Pakong menduduki peringkat ketiga luas panen dan produksi terbesar setelah Kecamatan Waru dan Kecamatan Pagentenan dengan luas panen 368 ha dan produksi sebesar 193,15 ton. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Pakong memiliki potensi dalam usahatani tembakau dan juga dapat meningkatkan pendapatan petani.Tembakau Madura merupakan pendapatan petani yang cukup besar di daerah Kabupaten Pamekasan khususnya di Kecamatan Pakong. Perkembangannya yang di pengaruhi oleh cuaca secara tidak langsung akan mempengaruhi produksi dan pendapatan petani tembakau Madura sehingga diperlukan penelitian bagaimana dampak perubahan cuaca atau iklim terhadap produksi dan pendapatan petani tembakau Madura. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak perubahan iklim terhadap produksi dan pendapatan petani tembakau Madura. Metode analisis data menggunakan analisis biaya usahatani tembakau Madura, analisis penerimaan usahatani tembakau Madura, analisis pendapatan usahatani tembakau Madura serta analisis uji beda rata-rata menggunakan uji wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim terhadap biaya usahatani tembakau menyebabkan biaya usahatani menurun dari tahun 2015 ke tahun 2016 yaitu dari Rp. 3.327.100,- menjadi Rp. 3.137.881,5,- . demikian juga dengan penerimaan usahatani tembakau Madura juga mengalami penurunan dari tahun 2015 ke tahun 2016 yaitu dari Rp 12.126.370,- menjadi Rp 9.296.700,-. Sehingga secara langsung pendapatan usahatani tembakau Madura juga mengalami penurunan dari tahun 2015 ke tahun 2016 yaitu dari Rp. 8.799.270,- menjadi Rp. 6.158.818,5,-. Hasil uji beda rata-rata menunjukkan bahwa dari 41 petani responden, 40 diantaranya mengalami penurunan pendapatan, dan 1 petani responden mengalami peningkatan dikarenakan petani tetap melakukan penanaman pada bulan Mei walaupun pada tahun 2016 intensitas curah hujan tinggi, sedangkan yang tetap tidak ada.
Kajian sosial ekonomi pada petani garam di wilayah Madura Kustiawati Ningsih; Nur Laila

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.576 KB) | DOI: 10.35891/agx.v12i2.2573

Abstract

As one of the islands in Indonesia , Madura is one of the salt-producing centers in Indonesia , thus earning the nickname as the Salt Island. Therefore, almost 80% of the population in Madura have a livelihood as salt farmers and including salt farmers in Bunder Village, Pademawu District, Pamekasan Regency. However, the weak adoption power of Madura salt farmers in Bunder Village, Pademawu District, Pamekasan Regency to the new technology, namely geomembrane, has a very significant socio-economic impact on salt farmers. So the purpose of this study was to examine the socio-economic conditions of Madura salt farmers in Bunder Village, Pademawu District, Pamekasan Regency. Data were collected through primary data (observations and interviews) and secondary data. The data obtained from the results of the study were processed using qualitative analysis (income analysis) and quantitative analysis (range score analysis of BPS welfare indicators in 2015) to ensure the socio-economic conditions of Madura salt farmers in Bunder Village, Pademawu District, Pamekasan Regency. The results showed that (1) The average monthly income of salt farmers was IDR 1,784,416 per hectare per month (2) The average range score of Madura salt farmers based on the BPS welfare indicators in 2020 was in the poor category.
Optimalisasi Peran Anggota Kelompok Tani Ngodirjo I Di Desa Nyalabu Daya Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan Azam Azam; kustiawati ningsih; Mohammad Saedy Romli
JURNAL AGROSAINS : Karya Kreatif dan Inovatif Vol 7 No 1 (2022): JURNAL AGROSAINS : Karya Kreatif dan Inovatif
Publisher : Universitas Islam Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31102/agrosains.2022.7.1.01-07

Abstract

This study aims to determine the performance of members of the Farmer's Group (Ngodirjo I) in Nyalabu Daya Village and to determine the strategy for improving the performance of members of the Farmer's Group (Ngodirjo I) in Nyalabu Daya Village. The research location was purposively conducted in Nyalabu Daya Village, Pamekasan District, Pamekasan Regency. The sample method used in this study is the census method in which all 30 people were interviewed in the population. The data technique was carried out in a qualitative descriptive way. The results showed that the Ngodirjo farmer group I liked to be active in activities, such as rarely holding meetings or meetings, so that it was a factor in the failure of Nyalabu Daya Village in the sector, so a strategy is needed to improve the performance of farmer groups by using a strategic approach that aims to improve the performance of farmer groups, so that the existence of farmer groups is beneficial for agricultural progress in the village, such as improving performance, using modern agricultural tools and solidifying all elements of the farming community in farming. Farmer's Group Ngodirjo I am not active in farmer group activities, in every farmer group there needs to be motivation from related parties such as
ANALISIS KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA PETANI PADA MASA PANDEMI COVID-19 MELALUI BERUSAHATANI DARI RUMAH (FARM FROM HOME) Kustiawati Ningsih; Sustiyana Sustiyana
SEPA: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 19, No 1 (2022): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/sepa.v19i1.55830

Abstract

To meet the family's food needs during the Covid-19 pandemic, the farmer households of Blumbungan Village do farming from home, one way is to use their yard by cultivating vegetables. Vegetable cultivation in the yard has a strategic role to increase the diversity of food consumption patterns and increase the nutrition of farmer households, and is expected to be able to meet the needs of vegetables at the household level while at the same time assessing the high aesthetic value. The purpose of this study was to examine in depth the analysis of the food security of farmer households during the Covid-19 pandemic through farming from home (farm from home). The research method uses descriptive analytical method, by determining the sample by quota, namely the number of 30 farmer households in Blumbungan Village, Larangan District, Pamekasan Regency. Data analysis was carried out descriptively and equation analysis of Food Expenditure Proportion (PPP), Energy Consumption Level (TKE), and quadrant analysis. The results showed that the household food expenditure of farmers was greater than the non-food expenditure. The degree of food security of farmhouses based on the proportion of expenditure and the level of energy consumption is in the category of food insecurity at 43.33%, food shortages at 50% and food insecurity at 6.67%. So it can be concluded that farming from home through corn farming, use of yard land and livestock has a role in the degree of food security of farmers' households.
DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TERHADAPSOSIAL EKONOMI RUMAH TANGGA PETANI PADI Kustiawati Ningsih; Rismawati Rismawati
JURNAL PERTANIAN CEMARA Vol 19 No 2 (2022): JURNAL PERTANIAN CEMARA (CENDEKIAWAN MADURA)
Publisher : Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24929/fp.v19i2.2236

Abstract

Peningkatan kebutuhan lahan untuk industri, jasa dan perumahan menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian sehingga mengurangi luas lahan produktif. Hal ini juga terjadi di Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang. Bentuk alih fungsi lahan pertanian yang terjadi di Desa Tanggumong adalah lahan sawah petani padi beralih fungsi menjadi perumahan dan terjadi sejak tahun 2017 hingga mencapai luasan 1,5 Ha. Oleh karena itu, terjadinya alih fungsi lahan sawah petani padi akan memberikan dampak sosial ekonomi terhadap petani padi. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak sosial ekonomi alih fungsi lahan pertanian terhadap petadi padi. Penentuan lokasi penelitian ditentukan secaara sengaja (purposive). Metode pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling dan diperoleh sebanyak 51 orang responden petani padi. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dananalisissecara komprehensif terhadap hasil penelitian yang diperoleh disertai dengan jurnal hasil penelitian pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak sosial alih fungsi lahan pertanian terhadap petani padi adalah mulai berukurangnya kegiatan sosialisasi dan kegiatan gotong royong diantara masyarakat. Dampak ekonomi alih fungsi lahan pertanian terhadap petani padi adalah pendapatan petani mulai meningkat, pembangunan rumah petani padi semakin meningkat dan petani padi mulai membuka usaha/bisnis baru.