Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

PROFIL VERUKA VULGARIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI - DESEMBER 2013 Tampi, Preisy G. I.; Mawu, Ferra O.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10974

Abstract

Abstract: Verruca vulgaris (common warts) is a benign proliferation of squamous epithelium caused by Human papillomavirus (HPV) infection, especially type 2 and 1. Verruca vulgaris can occur at any age, but more often among children and young adults. Warts are spread by direct or indirect contact. The lesions appear most commonly in areas affected by trauma such as the hands, fingers, elbows, and knees, albeit, they can occur in other places. This study aimed to determine the profile of verruca vulgaris in Dermatovenereology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado period January – December 2013. This was a retrospective study based on gender, age, occupation, location of the lesion, and therapy. The results showed that of 4099 new cases there were 43 cases of verruca vulgaris (1.05%), most were females (51.16%), and aged 5-14 years (30.22%). They were commonly students (32.56%), the location of lesion at the upper extremity (32.56%), and the treatment of the lesion with electrical surgery (93.02%). Keywords: verruca vulgaris Abstrak: Veruka vulgaris (common warts atau kutil) adalah proliferasi jinak epitel skuamous yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 2 dan 1. Veruka vulgaris dapat menyerang semua kelompok usia, tetapi lebih sering pada anak dan dewasa muda. Penyebaran virus ini dapat melalui kontak langsung maupun secara tidak langsung. Veruka sering timbul pada daerah yang terkena trauma seperti tangan, jari, siku dan lutut, namun dapat timbul di mana saja pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil veruka vulgaris di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan variabel jenis kelamin, umur, pekerjaan, lokasi lesi, dan penatalaksanaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 4099 kasus baru terdapat 43 kasus veruka vulgaris (1,05%), terbanyak ialah pasien perempuan (51,16%), dengan kelompok umur 5-14 tahun (30,22%), terbanyak pada siswa (32,56%), lokasi lesi ekstremitas atas (32,56%), dan penatalaksanaan lesi dengan bedah listrik (93,02%).Kata kunci: veruka vulgaris
Profil vaginosis bakterial di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2011-Desember 2015 Siahaan, Romauli E.; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Thigita A.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14502

Abstract

Abstract: Bacterial vaginosis (BV) is an abnormal situation in the vaginal ecosystem characterized by Lactobacillus as normal vaginal flora was replaced by a high concentration of anaerobic bacteria, especially Bacteroides sp., Mobilluncus sp., Gardnerella vaginalis, and Mycoplasma hominis. This study was aimed to obtain the profile of bacterial vaginosis in patients treated at the Polyclinic of Dermatovenereology Prof. Dr. R. D. Kandou Hospita; Manado from January 2011 to December 2015. This was a retrospective study using medical records of new BV patients including basic characteristics of patients, such as age, marital status, job, and treatment. The results showed that the number of patients with bacterial vaginosis during the period January 2011-Desember 2015 at the Polyclinic Hospital Dermatology Prof. Dr. R.D. Kandou Manado were as many as 117 patients. The group most affected by BV were at the age of 25-44 years in 61 patients (52%); job as housewife in 42 patients (35%); married in 93 patients (80%); social factor as the precipitating factors in 61 patients (52%). Bacterial vaginosis without concomitant diseases were found in 96 patients (82%), followed by comorbidities BV + vulvovagina candidiasis in 18 patients (15%). The most common therapy in those patients was metronidazole 2x500 mg for 7 days in 111 patients (95%). Conclusion: New cases of bacterial vaginosis were increase in 2011-2013 but they decreaased in 2014-2015.Keywords: bacterial vaginosis, vaginal discharge, bad odor, clue cell Abstrak: Vaginosis bakterial (VB) adalah suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang ditandai adanya konsentrasi Lactobacillus sebagai flora normal vagina digantikan oleh konsentrasi tinggi bakteri anaerob, terutama Bacteroides sp., Mobilluncus sp., Gardnerella vaginalis, dan Mycoplasma hominis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil vaginosis bakterial pada penderita yang berkunjung dan berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Kandou Manado periode Januari 2011- Desember 2015. Jenis penelitian ialah retrospektif menggunakan rekam medik kasus baru VB yang meliputi data dasar seperti umur,status perkawinan, pekerjaan dan terapinya. Hasail penelitian mendapatkan jumlah penderita vaginosis bakterial selama periode Januari 2011 - Desember 2015 sebanyak 117 pasien. Kelompok paling banyak terkena vaginosis bakterial ialah umur 25-44 tahun sebanyak 61 orang (52%); pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 42 pasien (35%); sudah menikah sebanyak 93 orang (80%); dengan faktor sosial sebagai pencetus sebanyak 61 pasien (52%). Penyakit vaginosis bakterial tanpa penyerta didapatkan 96 pasien (82%) dan diikuti oleh penyakit penyerta VB+KVV yaitu sebanyak 18 pasien (15%). Jenis obat/terapi yang paling sering digunakan pada pasien vaginosis bakterial ialah metronidazole 2x500 mg selama 7 hari sebanyak 111 pasien (95%). Simpulan: Gambaran umum kasus baru Vaginosis bakterial menunjukkan terjadi peningkatan jumlah pasien pada tahun 2011-2013 dan pada tahun 2014-2015 terjadi penurunan Kata kunci: vaginosis bakterial, keputihan, bau, clue cell
PROFIL PITIRIASIS VERSIKOLOR DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R.D KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Nathalia, Silvia; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6761

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a superficial fungal infection of the epidermal layer caused by Malassezia furfur or Pityrosporum orbiculare. This infection is chronic, mild, and usually without inflammation. Pityriasis versicolor infects the face, neck, torso, upper arms, underarms, thighs, andgroin. Skin disorders are very superficial and pityriasis versicolor is most commonly found in the body. The disorder is seen a spatches of colorful irregular shape to a regular, well defined to diffuse. The disorder is usually asymptomatic so that sometimes people do not know they have been infected. This study aims to determine profil of pityriasis versicolor at dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado periods January- December 2012. This retrospective descriptivestudy is based on the number of cases, gender, age, occupation, color of lesion, location of lesion, and the type of treatment. The results of this study showed that out of the 50 pityriasis versicolor cases (1.24%), male as the most infected gender (74%), along with the age group 25-44years (28%), the most job is civil servant (24%), and with hypopigmented lesions as the most types found (78%). The most frequent location of lesion is a combination of several places such as the face, body and extremities (60%), and the most used treatment is a combination therapy of oral and topical anti fungal (72%).Keywords: pityriasis versicolorAbstrak: Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial pada lapisan tanduk kulit yang disebabkan oleh Malassezia furfur atau Pityrosporum orbiculare. Infeksi ini bersifat menahun, ringan, dan biasanya tanpa peradangan. Pitiriasis versikolor mengenai muka, leher, badan, lengan atas, ketiak, paha, dan lipat paha. Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak berwarna-warni bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Kelainan biasanya asimptomatik sehingga adakalanya penderita tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, jenis kelamin, umur, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, dan jenis pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 50 kasus pitiriasis versikolor ( 1,24% ) terbanyak adalah jenis kelamin laki-laki (74%), kelompok umur 25-44 tahun (28%), pekerjaan yang terbanyak adalah PNS (24%), jenis lesi paling banyak lesi hipopigmentasi (78%), lokasi lesi paling sering yaitu kombinasi yang terdapat dibeberapa tempat seperti wajah, badan dan ekstremitas ( 60%), dan pengobatan yang paling banyak adalah terapi kombinasi antijamur oral dan antijamur topikal (72%).Kata kunci: pitiriasis versikolor
Hubungan Higiene Personal terhadap Kejadian Pitiriasis Versikolor pada Mahasiswa Laki-laki Fakultas Kedokteran Unsrat Tumilaar, Jibrando; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23537

Abstract

Abstract: Pityriasis versikolor is a skin fungal infection that is quite common in Indonesia as a tropical country with a hot and humid climate, especially if the personal hygiene is not good enough. This study was aimed to evaluate the relationship between personal hygiene and the incidence of pityriasis versicolor among male students of the Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University. This was a descriptive analytical stuudy with a cross-sectional design. Subjects were 42 medical students of batch 2015-2018. Personal hygiene was determined by using questionnaires and diagnosis of pityriasis versicolor was confirmed based on clinical and Wood lamp examinations. The results showed that pityriasis versicolor was diagnosed in two subjects (4.8%). The Fisher’s exact test obtained a significancy value of 0.003 which indicated that there was a significant relationship between personal hygiene and pityriasis versicolor. Conclusion: There was a significant relationship between personal hygiene and the occurence of pityriasis versicolor. Poor personal hygiene was a risk factor of pityriasis versicolor.Keywords: pityriasis versicolor, personal hygiene, students Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur kulit yang cukup banyak ditemukan di Indonesia yang merupakan negara tropis beriklim panas dan lembab, apalagi bila higiene kurang sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui higiene personal terhadap kejadian pitiriasis versikolor pada mahasiswa laki-laki Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah 42 mahasiswa Kedokteran Umum angkatan 2015-2018. Tingkat higiene personal diambil dari kuesioner dan diagnosis pitiriasis versikolor ditegakkam berdasarkan pemeriksaan klinis dan lampu Wood. Hasil penelitian memperlihatkan kejadian pitiriasis versikolor pada dua subyek penelitian (4,8%). Uji Fisher’s exact test mendapatkan nilai signifikansi 0,003 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara higiene personal dan pitiriasis versikolor. Higiene personal yang buruk merupakan faktor risiko terjadinya pitiriasis versikolor.Kata kunci: pitiriasis versikolor, higiene personal, mahasiswa
Profil uretritis gonokokus dan non-gonokokus di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari – Desember 2012 Sambonu, Alson .; Niode, Nurdjannah J.; Pandeleke, Herry E.J.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11879

Abstract

Abstract: Gonococcal urethritis (GU) is a sexually transmitted infection (STI) which is caused by Neisseria Gonorrhoeae bacteria. In GU, there is an urethral inflammation caused by negative Gram diplococcus ( its natural reservoir is human) and the symptoms are purulent discharge from external urethral orificium, burning sensation during urination, distal urethra itching, dysuria, vaginal or penile discharge, and erection pain. Non-Gonococcal Urethritis (NGU) is an urethral inflammation that is not caused by Gonococcal infection, but due to Chlamydia trachomatis and Ureaplasma urealyticum. The symptoms are penile discharge, burning sensation and pain during urination, and itching. This study aimed to obtain the profiles of gonococcal and non-gonococcal urethritis in Dermatovenereology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado from January to December 2012. This was a retrospective descriptive study based on GU and NGU types, symptoms, sexual partner, occupation, and farmacological therapy. The results showed that of 74 STI cases there were 11 GU cases (14.9%) and 4 UNG cases (5.4%). Most of GU and NGU patients were 25-44 years (n = 10, 66.7%), with dysuria (n = 11, 73.3%), prostitute as sexual partner (n = 10, 66.7%), working as entrepreneur (n = 12, 80%), and farmacological therapy for GU is cefixime (n = 9, 81.8%) and for NGU is doxycyclin (n = 3, 75%). Keywords: gonococcal urethritis, non-gonococcal urethritis Abstrak: Uretritis gonore (UG) merupakan suatu penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae. Pada UG terjadi peradangan uretra oleh diplokokus Gram negatif yang reservoir alaminya ialah manusia dan ditandai adanya pus yang keluar dari orifisium uretra eksternum, rasa panas, gatal di bagian distal uretra, disuria, polakisuria, keluar duh tubuh dari ujung uretra yang kadang-kadang disertai darah dalam urin, dan disertai rasa nyeri saat ereksi. Uretritis non Gonore (UNG) adalah suatu peradangan pada uretra yang bukan disebabkan oleh infeksi gonokokus seperti Chlamydia trachomatis dan Ureaplasma urealyticum dengan gejala seperti discharge dari penis, rasa terbakar atau sakit saat buang air kecil dan gatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil uretritis gonokokus dan non gonokokus di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2012. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif berdasarkan jenis penyakit UG dan UNG, umur, keluhan, pasangan seksual, pekerjaan, dan terapi farmakologis. Hasil penelitian menunjukkan dari 74 kasus IMS terdapat 11 kasus UG (14,9%) dan 4 kasus UNG (5,4%). Penderita UG dan UNG terbanyak pada kelompok umur 25-44 tahun (n = 10, 66,7%), dengan keluhan disuria (n = 11, 73,3%), pasangan seksual dengan WPS (n = 10, 66,7%), pekerjaan wiraswata (n = 12, 80%), serta terapi farmakalogis pada UG ialah cefixime (n = 9, 81,8%) dan pada UNG ialah doxycyclin (n = 3, 75%).Kata kunci: uretritis gonokokus, uretritis non gonokokus
PROFIL VERUKA VULGARIS DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI – DESEMBER 2012 Jonathan, Julian; Kapantow, Grace M.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.2.2015.8606

Abstract

Abstract: Verruca vulgaris is a benign proliferation of the skin caused by human papilloma virus (HPV). Verruca vulgaris is found in all ages, especially in children. The HPVs are spread by direct contact. The predilection sites are mainly in the extensor part of the limb and sites with frequent trauma such as hands, fingers, and knees. This study aimed to determine the profile of verruca vulgaris in patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado General Hospital in 2012. This was a retrospective and descriptive study about gender, age, occupation, location of the lesion, and management. The results showed that there were 27 patients with verruca vulgaris (0.68%) out of 4,023 patients treated in the Dermatology Clinic at Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital Manado. There were 15 males (55,6%) out of 27 patients; 10 patients (37.04%) in the age group of 15-24 years; the most frequent occupation were student (9 patients; 33.33%); the locations of lesions at the upper extremity were found in 13 patients (48.16%); and the electrical surgical treatment was performed in all 27 patients (100%).Keywords: verruca vulgarisAbstrak: Veruka vulgaris adalah proliferasi jinak pada kulit yang disebabkan oleh human papilloma virus (HPV). Veruka vulgaris ditemukan pada semua usia tetapi lebih sering pada anak. Cara penyebaran virus ini melalui kontak langsung. Tempat predileksi terutama di ekstremitas bagian ekstensor dan tempat yang sering terjadi trauma seperti tangan, jari, dan lutut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil veruka vulgaris pada pasien yang dirawat di RSUP. Prof. Dr. R. D Kandou Manado pada tahun 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif tentang jenis kelamin, umur, pekerjaan, lokasi lesi, dan penataksanaan. Hasil penelitian memperlihatkan 27 pasien dengan veruka vulgaris (0,68%) dari 4023 pasien yang dirawat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP. Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Jenis kelamin laki-laki 15 pasien (55,6%), kelompok umur 15-24 tahun 10 pasien (37,04%), pekerjaan terbanyak ialah mahasiswa 9 pasien (33,33%), lokasi lesi yang sering terserang ialah ekstremitas atas 13 pasien (48,16%), dan penatalaksanaan yang diberikan ialah terapi bedah listrik 27 pasien (100%).Kata kunci: veruka vulgaris
Gambaran Pengetahuan dan Sikap terhadap Infeksi Menular Seksual pada Remaja di SMA Frater Don Bosco Manado Pandjaitan, Marini C.; Niode, Nurdjannah J.; Suling, Pieter L.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.5.2.2017.18281

Abstract

Abstract: Sexually transmitted infections are diseases that are commonly transmitted through sexual contact. Sexually transmitted infections are a major problem in communities that represent a huge economic burden for health care systems. The incidence of sexually transmitted infections in adolescents is still relatively high. This is due to the knowledge and attitude towards sexually transmitted infections of adolescents which are still not good. This study was aimed to determine the level of knowledge and attitude towards sexually transmitted infections among adolescents at SMA Frater Don Bosco (senior high school) Manado. This was a descriptive study with a cross sectional design study conducted on 100 adolescents. The results showed that 50% of respondents had good knowledge and 71% of respondents had good attitude towards sexually transmitted infections. Conclusion: The majority of respondents had good category of knowledge and attitude towards sexually transmitted infections.Keywords: sexually transmitted infection, adolescent, attitude, knowledge Abstrak: Infeksi menular seksual (IMS) adalah penyakit yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Infeksi menular seksual merupakan masalah besar dalam masyarakat yang menimbulkan beban ekonomi besar terhadap sistem pelayanan kesehatan. Angka kejadian IMS pada remaja masih tergolong tinggi. Hal ini disebabkan oleh pengetahuan dan sikap remaja yang masih belum baik terhadap IMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap terhadap IMS pada remaja di SMA Frater Don Bosco Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang yang dilakukan pada 100 remaja SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden yaitu sebesar 50% memiliki pengetahuan dengan kategori baik dan sebesar 71% memiliki sikap dengan kategori baik terhadap IMS. Simpulan: Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan maupun sikap tergolong baik terhadap infeksi menular seksual.Kata kunci: infeksi menular seksual, remaja, sikap, pengetahuan
Pustulosis Eksantema Generalisata Akut Susanti, Ratna I.; Mamuaja, Enricco H.; Niode, Nurdjannah J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 3 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.3.2017.17339

Abstract

Abstract: Acute generalised exanthematous pustulosis (AGEP) is a variant of severe drug allergic eruption that usually occurs very acutely (one day after antibiotic consumption, with a mean of 11 days in other cases), associated with fever. Early lesions are edematous and erythemaous patches followed by nonfollicular pustules. Laboratory examination showed leukocytosis dominated by neutrophils, occasionally by eosinophils. We reported a female of 64 years old with AGEP in the arms, neck, chest, back, and thighs that occurred one day after consumption of a decongestant drug, that became worsened with the eruption of pustules associated with fever one day after consumption of tetracycline, paracetamol, and diphenhydramine. Dermatological status showed nonfollicular pustules on erythematous skin, either discrete or confluenced. Gram examination of the pustules revealed PMN leucocytes. Routine blood examination showed leukocytosis 20,200/mm3. Blood smear showed eosinophil 0%, basophil 0.1%, neutrophil 90.4%, lymphocyte 7.3%, and monocyte 2.2%. Moreover, IgE total was 2,930 IU/ml. The patient was treated with methylprednisolon 62.5 mg intravenous and then the dose was tappered gradually. The patient improved at days 10 followed by desquamation. Conclusion: In this case, diagnosis of AGEP was based on anamnesis, physical examination, and other supporting tests. Steroid therapy resulted in satisfying improvement.Keywords: AGEP, allergic drug eruptionAbstrak: Pustulosis eksantema generalisata akut (PEGA) adalah varian erupsi alergi obat tipe berat. Erupsi PEGA biasanya terjadi tiba-tiba (satu hari setelah mengonsumsi antibiotik, rerata 11 hari pada kasus lainnya), dan disertai demam. Lesi awal berupa bercak merah yang diikuti munculnya pustul nonfolikular pada kulit yang eritematosa dan edematosa. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukositosis dengan dominasi neutrofil, kadang eosinofil. Kami melaporkan kasus PEGA pada seorang perempuan, 64 tahun di daerah lengan, leher, dada, punggung, dan paha yang timbul sejak satu hari setelah mengonsumsi obat pilek. Keluhan semakin parah dengan munculnya bintil bernanah disertai demam sehari setelah mengonsumsi tetrasiklin, parasetamol, dan difenhidramin. Status dermatologik didapatkan pustul nonfolikular di atas kulit yang eritematosa, sebagian pustul diskret dan sebagian kecil berkonflues. Pemeriksaan Gram dari cairan pustul mendapatkan leukosit PMN. Pemeriksaan darah rutin memperlihatkan: leukosit 20.200/mm3. Apusan darah tepi didapatkan: eosinofil 0%, basofil 0,1%, neutrofil 90,4%, limfosit 7,3%, monosit 2,2%. Pemeriksaan IgE total 2.930 IU/ml. Pasien diterapi metilprednisolon 62,5 mg intravena, selanjutnya dosis diturunkan secara bertahap. Perbaikan pasien tampak pada hari perawatan ke-10 diikuti terjadinya deskuamasi. Simpulan: Telah dilaporkan kasus PEGA dengan diagnosis ditegakkan berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan penunjang. Terapi steroid menunjukkan hasil yang memuaskanKata kunci: pustulosis eksantema generalisata akut, erupsi alergi obat
Psoriasis Rupioid pada Pasien Pengidap Human Immunodeficiency Virus: Laporan Kasus Mellyanawati, .; Palimbong, Florencia; Kapantouw, Grace M.; Niode, Nurdjannah J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 11, No 3 (2019): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.11.3.2019.26333

Abstract

Abstract: Psoriasis can occur in patients with human immunodeficiency virus (HIV), but the clinical features are very unusual and difficult to establish as a diagnosis. One of the rare types of psoriasis is rupioid psoriasis that often occurs in immunocompromised patients marked with the presence of thick crusts in cone and limpet-like shapes. Definite diagnosis is usually made by performing a histo-pathological skin biopsy, and other supporting investigations to rule out differential diagnoses. The main therapy for psoriasis in HIV patients is phototherapy and antiretroviral drugs, besides that topical therapy and immunosuppressants should be considered according to the patients’ condition. We reported a male, aged 38 years, with complaints of thick crusts on the skin almost the entire body since 2 months ago, accompanied by a slight itchy feeling. On clinical examination, erythematous plaques were found accompanied by thick crusting with cone and limpet-like shapes. Anti-HIV was reactive, CD4 <200 cells/μL, and histopathology examination of skin biopsy led to the diagnosis of psoriasis. Based on these clinical findings and investigations, diagnosis of rupioid psoriasis was established. The patient showed significant improvement after being treated with symptomatic systemic drugs and topical steroids for 3 weeks.Keywords: rupioid psoriasis, human immunodeficiensy virus, topical steroid Abstrak: Psoriasis dapat terjadi pada pasien dengan human immunodeficiency virus (HIV), namun gambaran klinisnya sangat tidak khas dan sulit untuk didiagnosis. Salah satu tipe yang jarang dari psoriasis tersebut ialah psoriasis rupioid yang sering muncul pada pasien dengan imunokompromais, dengan gambaran klinis adanya krusta tebal berbentuk kerucut dan limpet. Diagnosis pasti biasanya ditegakkan dengan melakukan biopsi kulit histopatologik, dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menyingkirkan diagnosis banding. Terapi utama untuk psoriasis pada pengidap HIV yaitu fototerapi dan ARV. Pemberian terapi topikal dan imunosupresan perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi pasien. Kami melaporkan kasus seorang laki-laki, berusia 38 tahun, dengan keluhan timbul keropeng tebal pada kulit hampir seluruh tubuh, sejak 2 bulan lalu disertai rasa sedikit gatal. Pada pemeriksaan klinis didapatkan adanya plak eritematosa yang disertai krusta tebal dengan bentuk kerucut dan limpet. Pemeriksaan anti HIV reaktif, CD4 <200 sel/μL, dan pemeriksaan biopsi kulit histopatologik mengarah ke diagnosis psoriasis. Berdasarkan temuan klinis dan pemeriksaan penunjang tersebut, diagnosis psoriasis rupioid ditegakkan. Pasien menunjukkan perbaikan nyata setelah diterapi dengan obat sistemik simptomatik dan topikal steroid selama 3 minggu.Kata kunci: psoriasis rupioid, HIV, topikal steroid
Hubungan Kebersihan Kepala dengan Pedikulosis Kapitis pada Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado Maharani, Ayu; Pandaleke, Herry E. J.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.28311

Abstract

Abstract: Pediculosis capitis is an infection of the skin and hair caused by Pediculus humanus var capitis. This disease mainly attacks young children and spreads quickly in a crowded environment and poor hygiene condition. Transmission are mainly through direct contact head-to-head or indirectly such as combs, hair accessories, pillows, veils, etc. Transmission is increasing with several factors inter alia age, sex, frequency of washing hair, sharing towels, beds as well as goods. This study was aimed to assess the relationship between head hygiene and pediculosis capitis among children fostered in Komunitas Dinding at Pasar Bersehati Manado. This was an analytical and observational study with a cross sectional design. Subjects consisted of 30 children, aged 5-15 years, and met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed by using the chi-square test. The results showed that of 30 subjects, 18 children (60%) had pediculosis capitis. The chi-square test showed that washing hair with shampoo per week (p=0.100), sharing towels (p=0.618), and sharing beds (p=0.177) did not have significant relationships with pediculosis capitis meanwhile sharing goods (p=0.002) had a significant relationship with pediculosis capitis. In conclusion, there was a relationship between sharing goods and pediculosis capitis among children fostered in Komunitas Dinding at Pasar Bersehati Manado.Keywords: pediculosis capitis, children, scalp hygiene Abstrak: Pedikulosis kapitis merupakan infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus var capitis. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat dan kondisi higiene yang tidak baik. Penularan terutama secara kontak langsung melalui head-to-head maupun tidak langsung seperti sisir, aksesoris rambut, bantal, kerudung, dll. Penularan semakin meningkat dengan adanya faktor usia, jenis kelamin, frekuensi mencuci rambut, penggunaan handuk bersama, penggunaan tempat tidur bersama, dan penggunaan barang bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebersihan kepala dengan pedikulosis kapitis pada anak-anak binaan Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 anak, berusia 5-15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan 18 anak (60%) mengalami pedikulosis kapitis. Uji statistik menunjukkan bahwa mencuci rambut menggunakan sampo per minggu (p=0,100), penggunaan handuk bersama (p=0,618), penggunaan tempat tidur bersama (p=0,177) tidak memiliki hubungan bermakna dengan pedikulosis kapitis sedangkan penggunaan barang bersama (p=0,002) memiliki hubungan bermakna dengan pedikulosis kapitis. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara penggunaan barang bersama dengan pedikulosis kapitis pada anak-anak binaan Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado.Kata kunci: pedikulosis kapitis, anak, kebersihan kepala