Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Hubungan Kebersihan Kepala dengan Pedikulosis Kapitis pada Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado Maharani, Ayu; Pandaleke, Herry E. J.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.28311

Abstract

Abstract: Pediculosis capitis is an infection of the skin and hair caused by Pediculus humanus var capitis. This disease mainly attacks young children and spreads quickly in a crowded environment and poor hygiene condition. Transmission are mainly through direct contact head-to-head or indirectly such as combs, hair accessories, pillows, veils, etc. Transmission is increasing with several factors inter alia age, sex, frequency of washing hair, sharing towels, beds as well as goods. This study was aimed to assess the relationship between head hygiene and pediculosis capitis among children fostered in Komunitas Dinding at Pasar Bersehati Manado. This was an analytical and observational study with a cross sectional design. Subjects consisted of 30 children, aged 5-15 years, and met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed by using the chi-square test. The results showed that of 30 subjects, 18 children (60%) had pediculosis capitis. The chi-square test showed that washing hair with shampoo per week (p=0.100), sharing towels (p=0.618), and sharing beds (p=0.177) did not have significant relationships with pediculosis capitis meanwhile sharing goods (p=0.002) had a significant relationship with pediculosis capitis. In conclusion, there was a relationship between sharing goods and pediculosis capitis among children fostered in Komunitas Dinding at Pasar Bersehati Manado.Keywords: pediculosis capitis, children, scalp hygiene Abstrak: Pedikulosis kapitis merupakan infeksi kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh Pediculus humanus var capitis. Penyakit ini terutama menyerang anak-anak usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat dan kondisi higiene yang tidak baik. Penularan terutama secara kontak langsung melalui head-to-head maupun tidak langsung seperti sisir, aksesoris rambut, bantal, kerudung, dll. Penularan semakin meningkat dengan adanya faktor usia, jenis kelamin, frekuensi mencuci rambut, penggunaan handuk bersama, penggunaan tempat tidur bersama, dan penggunaan barang bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebersihan kepala dengan pedikulosis kapitis pada anak-anak binaan Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian berjumlah 30 anak, berusia 5-15 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data penelitian diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan 18 anak (60%) mengalami pedikulosis kapitis. Uji statistik menunjukkan bahwa mencuci rambut menggunakan sampo per minggu (p=0,100), penggunaan handuk bersama (p=0,618), penggunaan tempat tidur bersama (p=0,177) tidak memiliki hubungan bermakna dengan pedikulosis kapitis sedangkan penggunaan barang bersama (p=0,002) memiliki hubungan bermakna dengan pedikulosis kapitis. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara penggunaan barang bersama dengan pedikulosis kapitis pada anak-anak binaan Komunitas Dinding di Pasar Bersehati Manado.Kata kunci: pedikulosis kapitis, anak, kebersihan kepala
Satu kasus nekrolisis epidermal toksik yang diduga disebabkan oleh kotrimoksasol Gunawan, Ellen; Wibawa, Anthony S.; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 9, No 1 (2017): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.9.1.2017.15320

Abstract

Abstract: Toxic epidermal necrolysis (TEN) is an acute life-threatening muco-cutaneous reaction, characterized by extensive necrosis and detachment of the epidermis (>30% BSA). Drugs are often suspected as the main cause, one of which is trimethoprim- sulfamethoxazole (TMP-SMX). Management includes immediate termination of alleged drugs, supportive treatment such as maintenance of electrolyte balance, nutrition, analgesics, antibiotics and specific treatment of immunosuppressants with dexamethasone injection. We reported a female 36 yo who complained of dark red spots and flaky skin on the face, chest, abdomen, back, arms, and genitals associated with fever, dysphagia, and sore eyes. There was a history of cotrimoxazole consumption prior to the rashes. Skin examination revealed multiple, well defined, erythematous macula, numular to plaque-sized, multiple bullae, purpura, erosion, crusts, and epidermolysis on the face, chest, abdomen, back, and upper extremities. Patient also had vulval erosion and conjunctival hyperemia. Laboratory tests showed total protein 6.5 g/dL and albumin 3.2 g/dL. Patient was treated with intravenous RL:D 5%:NaCl 0.9% = 1:1:1 20 gtt/min, ranitidine injection 2x25 mg IV, ceftriaxone injection 1x2 gr IV, NaCl 0.9% moist dressing 3x30 minutes on erosions, polymyxin B sulphate, neomycin sulphate and dexamethasone eye drops 4x1gtt, artificial tears 6x1gtt, and tapered dexamethasone injection 4x10 mg IV. Diagnosis of TEN was established through anamnesis, physical examination, and laboratory examination. Patient showed clinical improvement within 2 weeks after the discontinuation of cotrimoxazole, and administration of supportive and specific treatment.Keywords: toxic epidermal necrolysis, cotrimoxazoleAbstrak: Nekrolisis epidermal toksik (NET) merupakan reaksi mukokutan akut yang mengancam jiwa, ditandai nekrosis dan pelepasan epidermis yang luas (>30% LPB). Obat diduga sebagai penyebab utama, salah satunya ialah golongan trimetoprim-sulfametoksazol (TMP-SMX). Penatalaksanaan meliputi penghentian segera obat yang diduga penyebab, penanganan suportif (keseimbangan elektrolit, nutrisi, analgetik, antibiotik) dan pengobatan spesifik (imunosupresan deksametason injeksi). Kami melaporkan kasus seorang perempuan 36 tahun dengan bercak merah kehitaman dan kulit terkelupas di wajah, dada, perut, punggung, kedua lengan, dan kelamin disertai demam, nyeri menelan, dan kemerahan pada mata. Riwayat konsumsi kotrimoksazol sebelum timbul ruam. Status dermatologikus: pada wajah, dada, perut, punggung, kedua lengan atas dan bawah terdapat makula eritematosa, batas tegas, multipel, ukuran numular-plakat; bula, purpura, erosi, krusta, dan epidermolisis. Terdapat erosi vulva erosi dan konjungtiva hiperemis bilateral. Pemeriksaan laboratorium: protein total 6,5 g/dL dan albumin 3,2 g/dL. Penanganan berupa IVFD RL:D 5%:NaCl 0.9% = 1:1:1 20 tetes/menit, injeksi ranitidin 2x25 mg IV, injeksi seftriakson 1x2 gr IV, kompres terbuka NaCl 0,9% 3x30 menit (luka), obat tetes mata (polimiksin B sulfat, neomisin sulfat dan deksametason) 4x1 tetes, airGunawan, Wibawa, Suling, Niode: Satu kasus nekrolisis epidermal toksis ... mata buatan 6x1 tetes dan injeksi deksametason 4x10 mg IV yang diturunkan secara bertahap sesuai perbaikan klinis. Diagnosis NET pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Keadaan umum pasien membaik dalam 2 minggu setelah dilakukan penghentian obat yang diduga penyebab, penanganan suportif, dan pengobatan spesifik.Kata kunci: nekrolisis epidermal toksik, kotrimoksazol
LUPUS VULGARIS DENGAN LESI DISEMINATA Jayadi, Nana N.; Ernaningtyas, Niken; Niode, Nurdjannah J.; Wongkar, Marthen C. P.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.3.2015.9490

Abstract

Abstract: Lupus vulgaris (LV) is a chronic progressive form of paucibacillary cutaneous tuberculosis. Lesion is usually solitary in the form of nodes or erythematous plaques with an apple-jelly sign on diascopy. Disseminated LV is a rare form of cutanoeus tuberculosis with multiple lesions in several body areas. We reported a male of 40 years old with a suppurative wound on the left neck and reddish nodules on the face, neck, trunk, and limbs along with fever, night sweats, weight loss, and history of previous TB infections. There were multiple erythematous nodules and painful suppurating ulcers with enlargement of several lymph nodes. Apple-jelly sign appeared on diascopy. The FNAB showed specific granulamatous inflammation for TB with lymphocytes, epitheloid macrophages, and multinucleated giant cells. The histopathological finding showed tubercles surrounded by macrophages and lymphocytes. Anti-tuberculosis drugs category I were given for 6 months, ofloxacin, and open wound care compressed with NaCl 0.9%. In the third month of observation, there was significant improvement. Conclusion: This case was diagnosed as lupus vulgaris based on the history of lymphadenitis TB and scrofuloderma, lesions in several body area with positive diascopy test, the FNAB as well as the histopathologic result supporting the diagnosis of tuberculosis, and there was significant improvement after treatment with antiTB drugs.Keywords: lupus vulgaris, diseminata, tuberculosis, ofloksasinAbstrak: Lupus vulgaris (LV) merupakan tuberkulosis (TB) kutis pausibasiler kronis dan progresif. Lesi biasanya soliter, berupa nodus atau plak eritematosa dengan gambaran apple-jelly pada diaskopi. Lupus vulgaris diseminata merupakan bentuk TB kutis yang jarang ditemukan dengan lesi multipel pada beberapa area tubuh secara bersamaan. Kami melaporkan seorang laki-laki, 40 tahun, dengan luka bernanah pada leher kiri dan benjolan-benjolan kemerahan pada wajah, leher, badan, dan tungkai disertai demam, keringat malam, penurunan berat badan dan riwayat infeksi tuberkulosis sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik tampak nodus eritematosa multipel disertai ulkus bernanah dan pembesaran beberapa kelenjar getah bening. Gambaran apple-jelly tampak pada diaskopi. Pemeriksaan FNAB menunjukkan gambaran radang granulomatik spesifik TB dengan adanya sel-sel radang limfosit, kelompok makrofag epiteloid, dan sel-sel datia Langhans. Pemeriksaan histopatologis memberikan gambaran tuberkel yang dikelilingi oleh makrofag dan limfosit. Terapi diberikan berupa OAT kategori I selama 6 bulan, ofloksasin, dan kompres terbuka dengan NaCL 0,9%. Pada bulan ketiga tampak perbaikan signifikan. Simpulan: Pada kasus ini, diagnosis lupus vulgaris ditegakkan berdasarkan adanya riwayat limfadenitis TB dan skrofuloderma, lesi di beberapa area tubuh sekaligus dengan pemeriksaan diaskopi positif, gambaran FNAB dan histopatologis menunjang diagnosis TB, dan pengobatan dengan OAT memberikan perbaikan bermakna.Kata kunci: lupus vulgaris, diseminata, OAT, ofloksasin
PROFIL KONDILOMA AKUMINATA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF.DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI 2012 - DESEMBER 2012 Nelwan, Stella R.; Niode, Nurdjannah J.; Kapantow, Marlyn G.
e-CliniC Vol 2, No 1 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i1.3617

Abstract

Abstract: Condyloma acuminata, also known as genital warts, is a vegetation of certain types of Human Papilloma Virus(HPV), stalky with bumpy surface. This disease is a sexually transmitted disease, most HPV infections in anogenital area are acquired during sex. This was a descriptive retrospective study, where the data were collected from medical records and registers book of sexually transmitted disease (STD) in Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. The result showed that in 2012, there were 27 new cases of condyloma acuminata, 2.46% of all new patients Most age group found was 25-44 years which was 13 patients (48.15%), with sex distribution mostly found in female patients which was 14 patients (51.85%). Most occupation found was private employees by 10 patients (37.04%). Most affected locations in female patients was vulva and vulva with vagina by 5 patients each of them (35.71%), where as in male patients was penis which was found in 4 patients. The result also showed that HIV was the most comorbid disease found in 3 patients (11.11%). Conclusion: In this study, most condyloma acuminata patients is in 25-44 age group, mostly found in female, most occupation was private employee, most location affected in female were vulva and vulva with vagina, while in male patients was penis, most therapy used was podophyllin. Most comorbid disease was HIV. Keywords: Condyloma acuminata, Human papilloma virus, female    Abstrak: Kondiloma akuminata (KA) adalah vegetasi oleh Human Papilloma Virus (HPV) tipe tertentu, bertangkai dengan permukaannya berjonjot. Penyakit ini tergolong infeksi menular seksual, kebanyakan infeksi HPV di daerah anogenital didapatkan melalui hubungan seksual. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif; data diambil dari rekam medik dan buku register infeksi menular seksual bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan pada tahun 2012 dari total kunjungan baru terdapat 27 kasus baru KA (2,46%). Kelompok umur terbanyak didapatkan adalah 25-44 tahun sebanyak 13 orang (48,15%) dengan jenis kelamin terbanyak perempuan sebanyak 14 orang (51,85%) Pada pekerjaan terbanyak pada pekerja swasta sebanyak 10 orang (37,04%) Lokasi lesi pada perempuan tersering di vulva dan vulva ditambah vagina masing-masing sebanyak 5 orang (35,71%), sedangkan pada laki-laki tersering di penis yaitu sebanyak 4 orang. Hasil penelitian juga didapatkan penyakit penyerta terbanyak adalah HIV sebanyak 3 orang (11,11%) . Simpulan: Dalam Penelitian ini, pasien KA terbanyak pada kelompok umur 25-44 tahun paling banyak pada perempuan, jenis pekerjaan pegawai, lokasi lesi pada perempuan tersering pada vulva dan vulva ditambah vagina sedangkan pada laki-laki tersering di penis, pengobatan tersering podofilin. Penyakit penyerta ada lah HIV. Kata kunci: Kondiloma Akuminta, Human papilloma virus, Perempuan.
Efektivitas Pemeriksaan Serologis Sifilis Baguna, Tirsa; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E. J.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32118

Abstract

Abstract: High prevalence of syphilis can be reduced by doing screening. Tests used for screening and diagnosis of syphilis are serological tests of syphilis consisting of nontreponemal tests and treponemal tests. Nontreponemal tests consist of Rapid Plasma Reagin (RPR) and Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) meanwhile Treponemal tests consist of Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) and Treponema Pallidum Rapid (TP Rapid). This study was aimed to determine the effectiveness of syphilis serological tests. This was a literature review study using the keywords namely serology OR serological OR serologic AND syphilis in PubMed and ClinicalKey. The literatures were written in English and/or Indonesian, published in the last 10 years (2011-2020), and can be accessed in full text. The results obtained 25 literatures. High sensitivity was found in RPR of 9.1%-100%, VDRL of 44.4% -100%, and TP Rapid of 50.0%-100%. High specificity was found in TPHA of 99.7% and TP Rapid of 85.3% -100%. In conclusion, effective syphilis screening is performed with RPR and VDRL, while effective syphilis diagnostic is performed with TP Rapid and TPHA.Keywords: syphilis, serology tests, effectiveness of tests  Abstrak: Prevalensi kasus sifilis yang tinggi dapat diturunkan dengan adanya skrining. Pemeriksaan yang digunakan untuk skrining dan diagnosis sifilis ialah pemeriksaan serologis sifilis, terdiri atas pemeriksaan serologis non spesifik treponema dan pemeriksaan serologis spesifik treponema. Pemeriksaan serologis non spesifik treponema antara lain Rapid Plasma Reagin (RPR) dan Venereal Disease Research Laboratory (VDRL). Pemeriksaan serologis spesifik treponema antara lain Treponema Pallidum Haemagglutination Assay (TPHA) dan Treponema Pallidum Rapid (TP Rapid). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemeriksaan serologis sifilis. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan kata kunci serology OR serological OR serologic AND syphilis di PubMed dan ClinicalKey. Literatur yang digunakan memiliki bahasa Inggris dan/atau bahasa Indonesia, terbitan 10 tahun terakhir (2011-2020), dan dapat diakses teks lengkap. Sensitivitas tinggi ditemukan pada RPR sebesar 9,1%-100%, VDRL sebesar 44,4%-100%, dan TP Rapid sebesar 50,0%-100%. Spesifisitas tinggi ditemukan pada TPHA sebesar 99,7% dan TP Rapid sebesar 85,3%-100%. Simpulan penelitian ini ialah skrining sifilis efektif dilakukan dengan RPR dan VDRL, sedangkan diagnostik sifilis efektif dilakukan dengan TP Rapid dan TPHA.Kata kunci: sifilis, pmeriksaan serologis, efektivitas pemeriksaan
Efektivitas Pengobatan Topikal pada Pitiriasis Versikolor Pusung, Andreas V.; Suling, Pieter L.; Niode, Nurdjannah J.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.9.1.2021.32119

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a chronic mild superficial fungal infection of the skin due to lipophilic fungi Malassezia. It commonly affects the face, neck, abdomen, proximal extremities, axilla, groin, and genitalia. The occurrence of this disease is not influenced by sex, albeit, age influences its incidence since it is more common in adolescents and young adults.Therefore, an effective, safe, and affordable treatment should be considered. The first-line therapy for pity-riasis versicolor is topical treatment, classified into specific and non-specific antifungal agents. This study was aimed to determine the efficacy of topical treatment in pityriasis versicolor. This was a literature review study using three databases, namely PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar and the keywords of "topical treatment AND pityriasis versicolor". The results obtained 10 literatures that fulfilled the inclusion and exclusion criteria. Theseliteratures discussed about the efficacy of topical treatment in patients with pityriasis versicolor based on clinical and mycological cure rate and the highest percentage was more than 80% in each study. In conclusion, topical treatment was effective for pityriasis versicolor.Keywords: topical treatment, pityriasis versicolor Abstrak: Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial ringan akibat infeksi kulit kronis oleh jamur lipofilik genus Malassezia. Infeksi ini biasanya ditemukan pada wajah, leher, perut, ektremitas proksimal, aksila, lipat paha, dan genitalia. Kejadian penyakit ini tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, tetapi dapat dipengaruhi oleh usia, yaitu lebih banyak terjadi pada remaja dan dewasa muda. Pengobatan topikal merupakan terapi lini pertama untuk pitiriasis versikolor dan dibagi menjadi agen antijamur nonspesifik dan agen antijamur spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu “topical treatment AND pityriasis versicolor”.Hasil seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi mendapatkan 10 literatur. Kasjian literatur penelitian menunjukkan efektivitas penggunaan pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor berdasarkan penyembuhan klinis maupun penyembuhan mikologis dengan persentase tertinggi mencapai angka >80% pada masing-masing literatur. Simpulan penelitian ini ialah pengobatan topikal pada pitiriasis versikolor terbukti efektif.Kata kunci: pengobatan topikal, pitiriasis versikolor
Profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari-Desember 2013 Isa, Dwi Y.F.; Niode, Nurdjannah J.; Pandaleke, Herry E.J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.13042

Abstract

Abstract: Pityriasis versicolor is a chronic superficial fungal disease caused by Malasezzia furfur. Pityriasis versicolor can infect the face, neck, trunk, upper arms, underarms, and groin. Pityriasis versicolor is characterized by scaly patches of fine white or dark, irregular to regular shapes, and clear to diffuse limits. However, pityriasis versicolor is generally asymptomatic, therefore, commonly people do not realize that they are infected by that fungi. This study aimed to determine the profile of pityriasis versicolor at Dermatovenereology clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January to December 2013. This was a retrospective descriptive study based on the number of cases, sex, age, occupation, color of lesion, location of lesion, and type of treatment. The results showed that there were 36 cases of pityriasis versicolor, mostly were males (58.3%), age groups 15-24 years and 25-44 years (30.6%), and private workers (27.8 %). Most lesions were hypopigmentation (80.6%), located on the body area and the combination of the face, trunk, and extremities (38.9%). The most commonly prescribed treatment was topical antifungal therapy (77.8%). Keywords: pityriasis versicolor Abstrak: Pitiriasis versikolor merupakan penyakit jamur superfisial kronik yang disebabkan oleh Malasezzia furfur. Pitiriasis versikolor dapat menginfeksi wajah, leher, badan, lengan atas, ketiak, dan lipat paha. Pitiriasis versikolor ditandai dengan adanya bercak-bercak bersisik halus berwarna putih atau gelap, bentuk tidak teratur sampai teratur, dan batas jelas sampai difus. Umumnya gejala pitiriasis versikolor asimtomatik sehingga terkadang penderita tidak menyadari telah terinfeksi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil pitiriasis versikolor di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode Januari-Desember 2013. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif berdasarkan jumlah kasus, jenis kelamin, umur, pekerjaan, warna lesi, lokasi lesi, dan jenis pengobatan. Hasil penelitian mendapatkan 36 kasus pitiriasis versikolor, terbanyak pada laki-laki (58,3%), kelompok usia 15-24 tahun dan 25-44 tahun (30,6%), dan pekerja swasta (27,8%). Lesi hipopigmentasi paling banyak ditemukan (80,6%) dengan lokasi lesi pada daerah badan dan kombinasi antara wajah, badan, ekstremitas (38,9%). Pengobatan yang paling sering diberikan ialah terapi antijamur topikal (77,8%).Kata kunci: pitiriasis versikolor
PROFIL HERPES ZOSTER DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO 2011-2013 Danardono, Dwi H.; Niode, Nurdjannah J.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 7, No 3 (2015): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.7.3.2015.9486

Abstract

Abstract: Herpes zoster is a reactivation of varicella zoster virus (VZV) that affects the skin and mucosa. The incidence of herpes zoster increases with age. There are three main goals of treatment: overcoming the acute viral infection, relief from acute pain, and prevention of post-herpetic neuralgia. This study aimed to determine the profile of herpes zoster in the Dermatology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital for three years based on the number of new cases, gender, ages, dermatome locations, and treatment. This was a retrospective study using the medical records of the Dermatology Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou General Hospital during period January 2011- Desember 2013. The results showed that there were 96 (0.84%) herpes zoster patients of 11,367 new patients, consisted of 51 (53.11%) males and 45 (46.87%) females. The most frequent age group was 45-64 years with a number of 59 cases (61.46%). The most frequent dermatome location was on the left thoracic region with a number of 18 cases (18.75%). The most widely prescribed treatment was a combination of antiviral agent, analgesic drugs, roborantia, and topical medicine (powder/antibiotic cream), with a number of 43 cases (44.79%).Keywords: herpes zoster, morbidityAbstrak: Herpes zoster merupakan reaktivasi virus varicella zoster (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa. Insiden herpes zoster meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Terdapat tiga tujuan utama pengobatan yaitu: mengatasi infeksi virus akut, mengatasi nyeri akut, dan mencegah timbulnya neuralgia pasca-herpetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil herpes zoster di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang meliputi jumlah kasus baru, jenis kelamin, usia, lokasi dermatom, dan terapi. Metode penelitian ialah retrospektif dengan menggunakan catatan medis pasien baru herpes zoster yang berobat di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode Januari 2011 hingga Desember 2013. Hasil penelitian memperlihatkan terdapat 96 (0,84%) kasus herpes zoster dari 11.367 pasien baru yang terdiri dari 51 (53,11%) laki-laki dan 45 (46,87%) perempuan. Kelompok usia terbanyak ialah 45-64 tahun sejumlah 59 kasus (61,46%). Lokasi dermatom tersering pada regio torakalis sinistra sejumlah 18 kasus (18,75%). Terapi yang paling sering diberikan ialah kombinasi antivirus, analgetik, roboransia, dan pengobatan topikal (bedak/cream antibiotika) sejumlah 43 kasus (44,79%).Kata kunci: herpes zoster, morbiditas
Skin Manifestations due to Arthropod Bites and Stings Feisy P. Matindas; Pieter L. Suling; Nurdjannah J. Niode
e-CliniC Vol. 10 No. 1 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i1.37601

Abstract

Abstract: In tropical and subtropical areas, invertebrates that threaten human health are often found inter alia arthropods. Arthropod bites and stings can cause pain and discomfort, severe tissue damage, and even death. This study aimed to determine the skin manifestations caused by arthropod bites and stings. This was a literature review study using two databases, science direct and pubmed.The keywords were arthropods AND bites and stings AND skin manifestation. The results obtained eight articles consisting of four case reports and four research articles. The most common arthropod genus invading human beings were insects and spiders.  Skin manifestations were reported as erythema, urticaria, prurigo, papula, and necrotic tissue. Atopic individual showed allergic reaction that could lead to death. Bee and wasp stings were potential to cause anaphylactic reaction that needed emergency care. Arthropod habitat could influence the invasion level and or location of bites and stings. In Europe and United States, the most frequently found were spider bites meanwhile in Asia, the mosquito bites and bee stings. In conclusion, skin manifestations due to arthropod bites and stings are erythema, urticaria, prurigo, papula, and necrotic tissue. In atopic individual, these bites and stings could lead to deathKeywords: arthropod; bites and stings; skin manifestation Abstrak: Di daerah tropis dan subtropis sering dijumpai hewan invertebrata yang mengancam kesehatan manusia, antara lain golongan artropoda. Gigitan dan sengatan artrropoda dapat menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan, kerusakan jaringan yang parah, dan menjadi penyebab beberapa kasus kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan manifestasi kulit akibat gigitan dan sengatan artropoda. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan database science direct dan pubmed. dan kata kunci arthropods AND bites and stings AND skin manifestation. Hasil penelitian mendapatkan delapan literatur, terdiri dari empat laporan kasus dan empat artikel penelitian. Genus artropoda yang paling banyak menginvasi manusia ialah serangga dan laba-laba. Manifestasi kulit yang sering dijumpai berupa eritema, urtikaria, prurigo, papula, dan nekrosis jaringan. Pada individu atopik sering dijumpai reaksi alergi bahkan mengarah kepada kematian. Manifestasi oleh sengatan lebah dan tawon juga berpotensi menyebabkan reaksi anafilaksis yang memerlukan penanganan segera. Habitat artropoda juga berpengaruh terhadap tingkat invasi dan atau lokasi dari gigitan dan sengatan. Di benua Eropa dan Amerika, kasus yang sering dijumpai berupa gigitan laba-laba sedangkan di wilayah benua Asia ialah gigitan nyamuk dan sengatan lebah. Simpulan penelitian ini ialah manifestasi kulit akibat gigitan dan sengatan artropoda berupa eritema, urtikaria, prurigo, papula, dan nekrosis jaringan. Pada individu yang atopik gigitan dan sengatan artropoda dapat berakibat fatal.Kata kunci: artropoda; gigitan dan sengatan; manifestasi kulit
FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN TINDAKAN PENCEGAHAN KEJADIAN RABIES PADA ANAK DI DESA LOMPAD BARU KECAMATAN RANOYAPO KABUPATEN MINAHASA SELATAN Windy Patricya Stevani Lapian; Suryadi N. N. Tatura; Nurdjannah J. Niode
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v7i1.13709

Abstract

Rabies adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh infeksi virus (kelas rhabdovirus) yang menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan kelumpuhan otak serta kematian. Sebesar 98% penderita rabies di Indonesia ditularkan oleh hewan anjing yang terinfeksi virus rabies. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan pencegahan kejadian rabies pada anak di Desa Lompad Baru Kecamatan Ranoyapo Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu 50 Keluarga yang memiliki anak dan memelihara anjing. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang   digunakan yaitu kuisioner. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square dan Analisis Multivariat menggunakan uji Regresi Logistik. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-Square pada nilai CI = 95% dan tingkat kemaknaan 5% (?= 0,05). Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-Square menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan tindakan pencegahan kejadian rabies pada anak (p= 0,002), terdapat hubungan antara sikap dengan tindakan pencegahan kejadian rabies pada anak (p= 0,024), tidak terdapat hubungan antara kepercayaan dengan tindakan pencegahan kejadian rabies pada anak (p= 0,090) dan tidak terdapat hubungan antara peranan petugas kesehatan dengan tindakan pencegahan kejadian rabies pada anak (p= 0,098). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel pengetahuan (p = 0,006) yang paling dominan diantara semua variabel dengan nilai Exp(B) sebesar 9.007, artinya masyarakat yang memiliki pengetahuan kurang baik memiliki resiko 9 kali lebih tinggi dibanding dengan masyarakat yang memiliki pengetahuan baik dalam tindakan penceghan kejadian rabies pada anak.
Co-Authors Adji, Aryani Alson . Sambonu, Alson . Andika, Agustinus B H. R. Kairupan Baguna, Tirsa Barasarathi , Jayanthi Celik, Ismail Christina Salaki Dwi H. Danardono, Dwi H. Dwi Y.F. Isa, Dwi Y.F. Earlia, Nanda Fatimawali . Feisy P. Matindas Ferra O. Mawu Ferra O. Mawu, Ferra O. Grace M. Kapantow Gunawan, Deni Gunawan, Ellen Herry E. J. Pandaleke Herry E.J. Pandaleke, Herry E.J. Herry E.J. Pandeleke, Herry E.J. Hizir Sofyan Husdayanti, Noviana Idroes, Ghazi M. Jaya, Hendra K. Jimmy Posangi Jootje M. L. Umboh Julian Jonathan, Julian Kairupan, Tara S. Kapantouw, Grace M. Kapantow, Nova Hellen Katuuk, Mario Esau Kawengian, Shirley ES. Kepel, Billy Johnson Korompis, Grace Esther Caroline Lorettha Wijaya Maharani, Ayu Mahono, Charles Kurnia Mamuaja, Enricco H. Manampiring, Aaltje Ellen Manginstar, Christian O. Marlyn G. Kapantow Marlyn. G. Kapantow Martha Marie Kaseke Marthen C. P. Wongkar, Marthen C. P. Maulana, Aga Maulydia, Nur B. Mawa, Melissa Abigael C Mellyanawati Mellyanawati Mikyal Bulqiah, Mikyal Momongan, Merry Vike Muhammad Subianto Nana N. Jayadi, Nana N. Niken Ernaningtyas, Niken Nova Hellen Kapantow Noviandy, Teuku R. Palimbong, Florencia Pandaleke, Thigita Pandjaitan, Marini C. Pieter L. Suling Pieter L. Suling Preisy G. I. Tampi, Preisy G. I. Pusung, Andreas V. Putri, Devita Raul C. Zachawerus Regina, Senduk Cindy Rinaldi Idroes Rotty, Linda WA. Rungkat, Timotius A. Runtuwene, Nadya Sabrinna R. N. Hanumningtyas Sasmita, Novi Reandy Siahaan, Romauli E. Silvia Nathalia Stella R. Nelwan Subadio, Nathanael Yngwie Christian Suhendra, Rivansyah Suryadi N. N. Tatura Suryadi Suryadi Susanti, Ratna I. Tendean, Lydia Estelina Naomi Tengke, Feniea Wulan Agaype Teuku Rizky Noviandy Thambas, Arthur Harris Thigita A. Pandaleke Trina E. Tallei, Trina E. TRINA EKAWATI TALLEI Tumilaar, Jibrando Turalaki, Grace Lendawati Amelia Umboh , Adrian Wibawa, Anthony S. Wijaya, Natalya Windy Patricya Stevani Lapian Wungouw, Herlina Ineke Surjane Wungouw, Herlina IS. Yulianty Sanggelorang