Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PENGARUH JUS JAMBU BIJI MERAH (PSIDIUM GUAJAVA) TERHADAP KENAIKAN KADAR HEMOGLOBIN (HB) IBU HAMIL DI KOTA BENGKULU ATHIYA DWI TSABITHA; NOVIANTI NOVIANTI; SURIYATI SURIYATI; YETTI PURNAMA; ASMARIYAH ASMARIYAH
Journal of Nursing and Public Health Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Angka kejadian anemia pada ibu hamil di Kota Benkulu masih cukup tinggi dengan prevalensi 16,8%. Kekurangan kadar hemoglobin dapat menyebabkan terjadinya anemia dalam kehamilan yang menyebabkan keadaan jumlah sel darah merah atau kadar Hb<10,5-11gr/dl pada ibu hamil trimester I dan III. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh jus jambu biji merah terhadap kenaikan kadar Hb ibu hamil dengan anemia ringan di Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan sampel sebanyak 17 responden. rancangan penelitian metode eksperimen one group pretest-postest dengan teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, analisa data menggunakan uji univariat distribusi frekuensi dan uji Wilcoxon untuk uji perbedaan. Rata-rata kadar Hb sebelum pemberian jus jambu biji merah 9,2gr/dl dan rata-rata kadar Hb setelah pemberian jus jambu biji merah sebanyak 250ml dikonsumsi sehari sekali di pagi hari selama 7 hari berturut turut sebesar 11,2gr/dl. Sedangkan berdasarkan analisa data diperoleh p = 0,003 Ha diterima, artinya terdapat perbedaan kadar Hb ibu hamil sebelum dan setelah pemberian perlakuan jus jambu biji merah. Hasil dari penelitian ini terdapat adanya pengaruh konsumsi jus jambu biji merah (Psidium Guajava) terhadap kenaikan kadar Hb ibu hamil di Kota Bengkulu.
Hubungan Pola Menstruasi dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di Wilayah Pesisir Kota Bengkulu: The Relationship of Menstrual Patterns with Anemia in Adolescent Women in Coastal Areas Bengkulu City Anggun Dineti; Deni Maryani; Yetti Purnama; Asmariyah Asmariyah; Kurnia Dewiani
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 8 No. 3 (2022): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v8i3.4503

Abstract

Anemia is a severe global public health problem, especially in the age range of 15-49 years. Indonesia ranks 5th (22.331%) with the most anemia globally. Anemia can occur in adolescent girls. Adolescent girls have a higher risk of anemia than teenage boys. Anemia happens because young women experience menstruation which causes blood loss every month, so they need twice as much iron during menstruation. An abnormal menstrual pattern is a risk factor for anemia. SMKN 6 Bengkulu City and SMAN 7 Bengkulu City are the 1st and 2nd highest coastal areas with risk factors for anemia in adolescent girls in Bengkulu City. Determine the relationship between menstrual patterns and the incidence of anemia in adolescent girls in the coastal area of Bengkulu City. This research design implemented a cross-sectional approach. The research sample amounted to 60 respondents. Further, the study used an accidental sampling technique. The data analysis employed chi-square. 31 young women (51,67%) experienced abnormal menstrual patterns, 29 people (48, 33%) experienced normal menstrual patterns, 34 people (56.66%) were not anemic, and 26 people (43, 34%) had anemia. The results of the bivariate analysis showed that the p-value = 0.000 < a = 0.05. This study concludes that Ha is accepted, so there is a relationship between menstrual patterns and the incidence of anemia in adolescent girls in the coastal area of Bengkulu City. Young women are expected to increase their knowledge and be willing to take Fe tablets every month.
PENDIDIKAN KESEHATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT TENTANG CUCI TANGAN DAN SIKAT GIGI YANG BENAR DI SD NEGERI 8 RINDU HATI KEC. TABA PENANJUNG KABUPATEN BENGKULU TENGAH Linda Yusanti; Yetti Purnama; Kurnia Dewiani
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/logista.6.2.71-75.2022

Abstract

Usia sekolah merupakan masa keemasan untuk menanamkan nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga berpotensi sebagai agen perubahaan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu: Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan, membuang sampah pada tempatnya. Menjaga kebersihan tangan guna mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh, dan menjaga kebersihan gigi supaya gigi tidak berlubang, hal itu dapat diwujudkan melalui tindakan mencuci tangan dan sikat gigi yang benar. Tujuan pengabdian ini adalah mampu memcuci tangan dan sikat gigi yang benar dan menjadi kebiasaan. Metode yang digunakan adalah diskusi, presentasi, demontrasi cuci tangan dan sikat gigi yang benar. Hasil evaluasi diketahui bahwa adanya peningkatan pengetahuan anak tentang perilaku hidup bersih dan sehat terutama tentang cara cuci tangan dan sikat gigi yang benar, sehingga dengan adanya pendidikan ini anak-anak dapat berperilaku hidup bersih dan sehat. Kata kunci: cuci tangan, sikat gigi, PHBS ABSTRACT School age is a golden age to instill the values ​​of clean and healthy living behavior so that it has the potential as an agent of change to promote clean and healthy living behavior, both in the school, family and community environment. The indicators used as a measure to assess clean and healthy living behavior in schools are: Washing hands with running water and using soap, consuming healthy snacks in the school canteen, using clean and healthy latrines, exercising regularly and measurably, eradicating mosquito larvae, not smoking in schools , weighing and measuring height every 6 months, throwing garbage in its place. Maintaining hand hygiene in order to prevent the entry of germs into the body, and maintaining dental hygiene so that teeth do not have cavities, can be realized through proper hand washing and brushing. The purpose of this service is to be able to wash hands and brush teeth properly and become a habit. The methods used are discussion, presentation, demonstration of hand washing and proper toothbrushing. The results of the evaluation showed that there was an increase in children's knowledge about clean and healthy living behavior, especially about how to wash their hands and brush their teeth properly, so that with this education, children can behave in a clean and healthy life. Keywords: hand wash, toothbrush
ANALISIS DATA SDKI 2017: FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PERNIKAHAN DINI DI PROVINSI BENGKULU LINDA YULYANI; FITRI RAMADHANIATI; SRI NENGSI DESTRIANI; YETTI PURNAMA
Journal Of Midwifery Vol 11 No 1 (2023)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jm.v11i1.4537

Abstract

Pendahuluan: Pada tahun 2020 Provinsi Bengkulu merupakan provinsi dengan dengan prevalensi pernikahan dini tertinggi di pulau sumatera yaitu sebsar 14,33%. Selain itu, data yang dikeluarkan BPS pada tahun 2021, menunjukkan bahwa diantara perempuan berumur 10 tahun keatas di Provinsi Bengkulu, 37,48 % diantaranya melakukan pernikahan pertama sebelum usia 19 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pernikahan dini. Metode: penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan teknik total sampling. Terdapat 155 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi penelitian yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Data dianalisis menggunakan analisis chi-square dan spearman rank sesuai dengan skala data setiap variable. Hasil dan Pembahasan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan (ρv=0.000), Wilayah tempat tinggal (ρv=0.002), dan indeks kekayaan (ρv=0,000) berhubungan dengan kejadian pernikahan dini. Sementara itu tidak ada hubungan antara pekerjaan dan jarak pernikahan dengan kelahiran anak pertama dengan kejadian pernikahan dini. Kesimpulan: pernikahan dini di pengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor tingkat pendidikan, tipe wilayah tempat tinggal, dan indeks kekayaan. Oleh karena itu, upaya untuk menangani permasalahan pernikahan dini memerlukan usaha yang komprehensif.
PEMANFAATAN CASCARA SEBAGAI BAHAN SABUN SCRUB DI DESA TAPAK GEDUNG KABUPATEN KEPAHIANG Suci Rahmawati; Ika Gusriani; Yetti Purnama
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i1.330-334

Abstract

Tapak Gedung merupakan salah satu desa di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu yang bergantung pada pertanian kopi. Di Desa ini terdapat air terjun Curug Embun yang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan eduwisata. Kegiatan pengabdian pembuatan sabun scrub cascara dirancang untuk meningkatkan pengetahuan kelompok mitra sasaran di Desa Tapak Gedung dalam meningkatkan nilai jual produk olahan pertanian kopi. Kegiatan dilakukan dengan metode ceramah dan demonstrasi. Kelompok sasaran kegiatan ini adalah kader desa Tapak Gedung. Tim memberikan materi tentang pengembangan produk kopi dan pembuatan sabun. Demonstrasi pengolahan cascara menjadi sabun scrub dilakukan secara berkelompok dengan panduan dari tim pengabdian. Pre-test dan post-test diberikan pada partisipan kegiatan untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Pemberian kuisioner kepuasan juga dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan. Kegitan pengabdian telah dilaksanakan pada tanggal 17 dan 18 Juni 2023 yang diikuiti oleh 20 orang kader desa. Kader desa berhasil mempraktekkan pembuatan sabun scrub cascara dan menghasilkan produk sabun dengan bentuk yang baik. Hasil pre-test dan post-test masing-masingnya adalah 38,95 dan 67,90. Evaluasi kepuasan mitra terlihat bahwa 73,7% mitra puas; 26,3% mitra cukup puas dan 0% mitra tidak puas terhada pelaksanaan kegiatan yang diberikan oleh tim pengabdian. Kesimpulan pelaksanaan kegiatan ini adalah mitra dapat mempraktekkan pembuatan sabun scrub cascara dan terdapat peningkatan pengetahuan mitra setelah pelaksanaan kegiatan.
CHARACTERISTICS OF ALLAMANDA FLOWER (Allamanda cathartica L.) ETHANOLIC EXTRACT Suci Rahmawati; Ayu Ovia Riski; Nova Yustisla; Yetti Purnama
Proceeding B-ICON Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of The 2nd Bengkulu International Conference on Health (B-ICON 2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/bicon.v1i1.30

Abstract

Allamanda flowers were known as ornamental plants, but also have benefits as traditional medicine. Phytochemical screening is an important first step in identifying potential secondary metabolites of a plant. This study were to determine of characteristics and phytochemical screening of allamanda flowers ethanolic extract. Allamanda flowers used were natural flowers that have been air-dried for 7 days. The extract from dry sample of allamanda flowers was obtained by maceration method using 96% ethanol as solvent. The extracts were evaluated their characteristics including, yield, ash content, water content and phytochemical screening by color reaction method with specific reagent. The results were obtained that extract characteristics, namely the yield of 51.77%; water content of 1.14%; and ash content of 4.71%. The results were obtained from the phytochemical test that 96% ethanol extract of allamanda flowers contains flavonoid and saponin. It can be concluded that ethanol extract of allamanda flowers with ash content of 4.71% and water content of 1.14% contains flavonoids and tannins.
SCREENING OF SECONDARY METABOLITE PHOTOCHEMICALS EXTRACT 96% LEAF’S MAHKOTA DEWA (PHALERIA MACROCARPA) IN THE COASTAL AREA OF BENGKULU CITY, INDONESIA Kurnia Dewiani; Riana Versita; Yetti Purnama
Proceeding B-ICON Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of The 2nd Bengkulu International Conference on Health (B-ICON 2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/bicon.v1i1.33

Abstract

Tropical diseases are infectious diseases that occur in tropical regions. The causes of tropical diseases are various types of infections, ranging from viral, bacterial, and fungal to parasitic infections. The pharmacological treatment implemented. Further, non-pharmacological treatment is widely used, but it has side effects, and the level of danger and risk is much lower than synthetic chemical drugs. Some potential plants in Indonesia have been used for treatment, such as Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa). This plant helps treat microbial infections and menstrual pain, lower blood sugar, prevent the side effects of chemotherapy drugs, and lower blood pressure. The study aims to screen for the phytochemical content of secondary metabolites from the leaves of Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa). The method was the maceration in the BPOM laboratory and the Diploma Program of Pharmacy of The University of Bengkulu. The Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) contains chemicals known as secondary metabolites. The results of the secondary metabolite screening of the leaves Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) showed the presence of alkaloid compounds, flavonoids, saponins, tannins, terpenoids, saponins, and tannins. Antibacterials ingredients include flavonoids and saponins, antifungal and antibacterial, with three mechanisms: inhibiting nucleic acid synthesis, inhibiting cytoplasmic membrane function, and inhibiting energy metabolism. The flavonoid compound of the flavone class has the potential as an antibacterial with potent inhibition against Escherichia coli (gram-negative bacteria) and Bacillus subtilis (gram-positive bacteria) because it has an OH group bound to CH. The study concluded that the leaves of Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa) located in the coastal area of Bengkulu city are phenol, alkaloid, flavonoids, saponins, terpenoids, and tannins
TRANSDERMAL PATCH FORMULATION OF NUTMEG EXTRACT WITH HPMC (HYDROXY PROPYL METHYL CELLULOSE) AND EC ETHYL CELLULOSE (EC) AS POLYMERS Suci Rahmawati; Yetti Purnama; Kurnia Dewiani; Oky Hermansyah; Nizella Syaenri; Sari Surya Guma Sri; Elda Jumiati
Proceeding B-ICON Vol. 2 No. 1 (2023): Proceeding of The 3rd Bengkulu International Conference on Health (B-ICON 2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/bicon.v2i1.160

Abstract

Nutmeg seed extract (Myristica fragrans Houtt) contains myristicin which have been an anti-inflammatory effect. Nutmeg seed extract is formulated into transdermal patch to avoid the first pass effect. This study was aimed to determine the best nutmeg extract patch transdermal formula using HPMC and EC as polymers. In this study, nutmeg extract was obtained by kinetic maceration method using 96% ethanol. The patch formula was designed into two formulas that have different types of polymer with a concentration of 4.5%, namely FP1 with HPMC polymer and FP2 with EC polymer. Patches that were evaluated for physical properties included organoleptics, weight uniformity, patch thickness, folding resistance test, drying shrinkage, absorbency test and pH. The results showed that FP1 had good organoleptic (elastic shape and even brown color); Uneven weight and thickness (SD < 0.05); Folding endurance test of 300 X; drying shrinkage 25%; absorption capacity of 8.1% and pH 6. Meanwhile, FP2 appears to have poor organoleptic properties (wrinkled shape and uneven brown color; uneven weight (SD < 0.05); uneven thickness (SD > 0.05); test folding resistance of 100 X, drying shrinkage 22.5%; absorption capacity of 20.2% and pH 6. In this study it can be concluded that FP1 with HPMC was the best formula for transdermal patch containing ethanol extract of nutmeg seeds.