Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

From the Lecture Hall to the Food Office: Best Practice in Stunting Management and Food Safety Supervision in Pontianak City Nawawi Nawawi; Silveter Donata Melania; Meri Andani; Milanda Milanda; Veronika Jenita
International Journal of Research in Education Vol. 6 No. 2 (2026): Issued in July 2026
Publisher : LPPM Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/ijre.v6i2.3980

Abstract

Higher education in the era of Industry 4.0 and Society 5.0 is expected to produce graduates who are competent, adaptive, and work-ready. The Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) certified internship offers one pathway toward this goal, yet how such internships integrate with partner institutions’ real needs and what students actually gain still deserve closer documentation. This article describes and analyses the participation of Biology Education students of Universitas PGRI Pontianak in food security and food safety programmes at the Food, Agriculture and Fisheries Office (DPPP) of Pontianak City, covering the Diverse, Nutritious, Balanced and Safe Food (B2SA) programme for stunting prevention and fresh-food safety supervision. Using a descriptive qualitative case-study approach, data were collected over four months through participatory observation and documentation, then analysed following the Miles, Huberman and Saldaña interactive model. The findings show that students were actively involved in preparing and distributing B2SA food packages, delivering nutrition education, taking anthropometric measurements, conducting qualitative formalin and pesticide-residue tests on fresh produce, and supporting administrative tasks. Through these activities they built a contextual understanding of food, nutrition and food-safety issues while developing both technical and non-technical skills, and translated their experience into a community-based follow-up plan. The internship proved effective in connecting classroom theory with field practice and produced mutual benefits for the students and the partner institution, supporting its continuation with structured monitoring and evaluation.
Optimalisasi Penyusunan LKPD Berbasis ReCLif MGMP IPA Kabupaten Mempawah Handi Darmawan; Eka Trisianawati; Mustika Sari; Nawawi; Herditiya Herditiya; Tesa Manisa; Novi Nurmayanti; Ninda Permasari
Jurnal Pengabdian Masyarakat (JUDIMAS) Vol. 4 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/judimas.v4i1.726

Abstract

Guru IPA di Kabupaten Mempawah menghadapi kendala dalam merancang LKPD yang menumbuhkan keterampilan abad ke-21 dan relevan dengan konteks lokal. Untuk mengatasi tantangan tersebut, Program Studi Pendidikan Biologi melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat yang berfokus pada optimalisasi penyusunan LKPD berbasis model pembelajaran ReCLif bagi 15 guru IPA melalui pelatihan lima hari. Metode pelaksanaan mencakup ceramah, demonstrasi, diskusi, praktik terarah, penugasan penyusunan LKPD, serta sesi klinik berbasis umpan balik sejawat. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan kompetensi guru, ditunjukkan oleh 60% peserta yang mampu menyusun kerangka LKPD secara mandiri pada tahap awal dan meningkat menjadi 73,3% guru yang menghasilkan draft LKPD layak setelah proses revisi. Uji coba awal LKPD di tiga sekolah mitra memperlihatkan respons positif siswa, peningkatan partisipasi bertanya, dan kemampuan mengaitkan konsep IPA dengan fenomena nyata. Selain itu, 86,7% guru menyatakan sangat puas terhadap praktik penyusunan LKPD dan 80% merasa terbantu oleh pendampingan fasilitator. Dengan demikian, kegiatan PKM ini terbukti meningkatkan kompetensi guru dalam mendesain LKPD berbasis ReCLif sekaligus memperkuat komunitas profesional MGMP. Namun, pendampingan lanjutan dan replikasi praktik masih diperlukan untuk memperluas dampak pembelajaran di daerah.
ANALISIS TINGKAT KETERGANTUNGAN SISWA PADA ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SMP BRUDER PONTIANAK Maria Jeni; Mustika Sari; Nawawi
Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Pendidikan, Volume 4 Nomor 1, Mei - Agustus 2026
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/jpcp.v4i1.555

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah cara siswa memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Meskipun AI memberikan berbagai kemudahan dalam proses belajar, penggunaannya yang berlebihan berpotensi menimbulkan ketergantungan yang dapat memengaruhi kemandirian belajar dan sikap kritis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil penggunaan AI serta dampak ketergantungan siswa terhadap AI dalam pembelajaran IPA di SMP Bruder Pontianak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei deskriptif yang disebarkan melalui google form. Populasi penelitian berjumlah 735 siswa kelas VII, VIII, dan IX, dengan sampel sebanyak 317 siswa yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui angket skala Likert yang terdiri atas 30 butir pernyataan yang mencakup lima indikator, yaitu frekuensi penggunaan AI, tujuan penggunaan AI, tingkat ketergantungan terhadap AI, kemandirian belajar, dan sikap kritis siswa. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa skor, persentase, nilai rata-rata, dan kategori interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI telah menjadi salah satu sumber belajar yang digunakan siswa dalam pembelajaran IPA, terutama untuk memperoleh penjelasan materi, menyelesaikan tugas, dan mencari informasi secara cepat. Tingkat ketergantungan siswa terhadap AI berada pada kategori sedang, yang menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari aktivitas belajar siswa, tetapi belum sepenuhnya menggantikan proses belajar mandiri. Penggunaan AI juga menunjukkan kecenderungan memengaruhi kemandirian belajar dan sikap kritis siswa, terutama apabila dimanfaatkan sebagai sumber jawaban utama tanpa melalui proses verifikasi dan pemahaman. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan guru serta penguatan literasi AI agar pemanfaatan AI dapat mendukung pembelajaran IPA secara efektif, bertanggung jawab, dan tidak mengurangi kemampuan berpikir ilmiah siswa.
Local Knowledge-based Citizenship Learning Model to Increase Ecological Awareness in the Indonesia-Malaysia Border Area Moad; Hadi Rianto; Muhamad Imaduddin; Nawawi; Syafrial Nur
Jurnal Kewarganegaraan Vol. 23 No. 1 (2026): March 2026
Publisher : Department of Pancasila and Civic Education, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jk.v23i1.70289

Abstract

High gap between ecological knowledge and pro-environmental action remains a critical challenge for sustainability, particularly in ecologically sensitive border regions. This study addresses this gap by developing and testing a Civic Ecological Transformation (CET) learning model based on local knowledge to enhance students’ ecological awareness in the Indonesia–Malaysia border region. Using a mixed-methods approach with a sequential exploratory design, the study began with a qualitative exploration (interviews, FGDs, observations) to identify local cultural values, followed by a quantitative phase (one-group pretest-posttest, PLS-SEM) to test the model’s effectiveness. The findings reveal that the integration of local knowledge such as belalek, saprahan, and tepung tawar significantly improves ecological awareness. Path analysis confirms the effect of the CET learning model is fully mediated by this integration of local knowledge. The CET model effectively fosters ecological citizenship and supports the achievement of SDG 4, 13, and 15, contributing a pedagogical innovation for Civic Education rooted in environmental sustainability.
Improving Digital Literacy and Student Learning Outcomes in Border School Nawawi Nawawi; Niken Eka Priyani
Sustainable Vol. 6 No. 1 (2023): Sustainable
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu, IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to improve digital literacy and learning outcomes using Augmented Reality applications developed by the Pusdatin Kemendikbudristek and Education Game Gernasila, a learning innovation created by researchers in the form of android applications. The method used is Class Action Research, as many as two cycles. The sample in this Class Action Research was 18 students in grade II at SDN 29 Idai, Sintang Regency, West Kalimantan, Indonesia. The stages of research include; planning, action, observation, and reflection. The results showed that the average student learning outcome in Cycle I were 60, while in Cycle II, it increased to 80. The average observation results of Augmented Reality in Cycle I were 70%, while the results of using the education game gernasila in Cycle II were 90%. The difference between Cycle 1 and Cycle 2 is 20%. It can be concluded that Augmented Reality developed by the Pusdatin of the Ministry of Education and Culture and Edugame Gernasila can improve student learning outcomes and digital literacy in schools located in underdeveloped areas and the borders of Indonesia.
Tenun Lunggi dan Resiliensi Perempuan Sambas: Strategi Life-Long Learning dalam Menjaga Warisan Budaya Arif Januardi; Moad Moad; Mohammad Reza; Uray Endang Kusumajaya; Syafrial Nur; Nawawi Nawawi; Ersa Dwiyana
JURNAL PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Volume 9 Nomor 1 Edisi Juni 2025
Publisher : UNIVERSITAS PGRI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/jpkn.v9i1.9027

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran perempuan Sambas dalam pelestarian kain tenun Lunggi (Bannang Ammas) sebagai warisan budaya sekaligus sumber pemberdayaan ekonomi. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, studi ini memanfaatkan data pustaka dari jurnal, laporan lembaga, dan media untuk mengeksplorasi keterlibatan perempuan dalam proses produksi, promosi, dan regenerasi keterampilan menenun. Hasil kajian menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya berperan sebagai pengrajin, tetapi juga sebagai pelestari tradisi dan agen pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Mereka terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan melalui adaptasi teknologi, inovasi desain, serta penggunaan pewarna alami yang ramah lingkungan. Meski menghadapi tantangan dari minimnya regenerasi dan persaingan industri tekstil modern, keberlanjutan tenun Lunggi tetap terjaga berkat komitmen komunitas, dukungan kelembagaan, serta semangat perempuan dalam menjaga identitas budaya. Temuan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya berbasis gender dan komunitas merupakan strategi efektif dalam menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup dan relevan di era global.
Sinergi Pedagogi dan Ekologi dalam Kerangka ESD: Tinjauan Literatur Sistematis Model Pembelajaran Civic Eco-Transformation Moad Moad; Hadi Rianto; Arif Januardi; Nawawi; Syafrial Nur
JURNAL PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Volume 9 Nomor 2 Edisi Desember 2025
Publisher : UNIVERSITAS PGRI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/jpkn.v9i2.10302

Abstract

Model Civic Eco-Transformation (CET) diajukan sebagai metapedagogi inovatif yang secara strategis mengintegrasikan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) dalam konteks Kurikulum Merdeka. Tinjauan literatur sistematis ini bertujuan menganalisis struktur konseptual CET dan sinerginya yang disengaja dengan ESD, khususnya dalam kerangka holistik Head, Heart, and Hands. Hasil analisis menunjukkan CET memadukan tiga pilar utama: Civic (warga negara aktif), Eco (kesadaran lingkungan), dan Transformasi (aksi nyata). Integrasi ini secara struktural mendukung ESD, memastikan bahwa domain Kognitif (Head) dipenuhi melalui Pilar Eco dan Analisis Kritis. Sementara itu, domain Afektif (Heart) dan Aksi (Hands) diwujudkan melalui Transformasi dan Aksi Nyata, didukung strategi Project-Based Learning (PjBL) dan Gamifikasi . Dengan penekanan pada kearifan lokal Kalimantan Barat, CET mengatasi krisis nilai dan lingkungan, menghasilkan solusi yang relevan secara budaya. CET berfungsi sebagai mekanisme pengiriman yang disengaja untuk tujuan filosofis ESD, membentuk generasi muda yang bertanggung jawab dan transformatif.