Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Estetika Busana Tari Melayu Jambi Fatonah -; Mahdi Bahar; Hartati M
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 37 No 4 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v37i4.2021

Abstract

This research aimed to know the concept of dress aesthetics and art of traditional and creative dance of Jambi Malay, and dress development of Jambi Malay dance could be seen from a dress of traditional dance, creative dance, and contemporary dance. The research result was expected to be one of Jambi Malay culture inventory in social science. The research method used is a descriptive qualitative research method with a symbolic interaction approach. The background of the people of Jambi city which is multicultural makes Jambi city rich in cultural diversity, one of which is dance. Dance dress is included as an important element in dance performance. Dance dress is a symbol of aesthetics and artistry in dance performances. The dress wisdom of Malay dance is not separated from aesthetic and artistic concepts based on concepts of custom and Islam. The concept is based on message of Jambi culture, “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah, syarak mengato adat memakai”. The research conclusion is that the ideal dress aesthetically according to Jambi Malay tradition after converting to Islam is a dress that covers the genitals. Artistically it is the dress that is lost when moving, with not too much design based on Islamic custom and law while color is usually natural color and adapted.
Advancement Strategy for Economic Value Malay Cultural Arts to Welcome the Industrial Revolution 4.0: Performing Arts, Literature, History, and Archeology Mahdi Bahar
Proceeding International Conference on Malay Identity Vol. 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.786 KB)

Abstract

Malay cultural art is an asset and potential that can be made of economic value. Basically, the existence of cultural arts is only attached or attached by the conventions of the supporting community, so that the entity is in a socio-cultural context. In order to have economic value, it definitely requires 'processing' as a strategy. Inherent here is the persistence of the existence of Malay art and culture not only attached by convention factors related to tradition or custom alone (socio-cultural), but also by artistic factors so that they are needed (economic value), especially as a tourism industry. Contained in this sense is the existence of processing (transformation) which is oriented towards taking the role as a subject in change. The consequence is that the activity or creativity of Malay art and culture should be addressed to meet needs, both needs that have been created, as well as creating needs that did not exist before, for example, products of advancement in technology. Keywords: Strategy; advancement; art; Malay culture; industrial revolution 4.0
Dari Krinok ke Bungo Krinok: Pemajuan Seni Musik Budaya Melayu Jambi Berkepribadian Menuju Persaingan Global Mahdi Bahar; Johannes Johannes; Uswan Hasan; Indra Gunawan; Hartati Hartati; Fatonah Fatonah; Zulkarnain Zulkarnain
Proceeding International Conference on Malay Identity Vol. 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Jurusan Sejarah, Seni, dan Arkeologi, FKIP, Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractKrinok is one of the traditional music genres of the people of Jambi, is a treasure of musical culture and has the potential to be advanced. Its musical potential consists of several characters, especially the tone system, melodic contours, grenades, interval patterns, and circular musical journeys, as well as the normative freedom of expression of spontaneous singing texts in the presentation that characterizes this musical entity. In development as an effort to promote, several aspects mandated by the constitution (UUD-1945) are considered, namely, advancing in the midst of world civilization, and through development; (UU-RI) aims as an investment to build the nation's future and civilization, as well as personality. Efforts to advance from Krinok music to Bungo Krinok are manifested in three forms of model music, namely: children, youth and adults. Keywords: Krinok, bungo Krinok, advancement, personality, global
Pembinaan Vokal Grup Pada Guru dan Siswa Di SMP N 7 Muaro Jambi Mahdi Bahar; Sri Ramadhanti; Ofa Yutri Kumala; Indra Gunawan; Hartati Hartati
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 4 No. 6 (2022): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v4i6.8452

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kecakapan pada guru dan siswa dalam bidang seni music khususnya vocal (vocal grup) untuk mengembangkan motorik siswa dan dapat meningkatkan imajinasi serta mampu menjadi wadah pengungkapan emosi dan ekspresi. Pembelajaran vocal grup dimasukkan kedalam kurikukulum pembelajaran seni music dg kompetensi dasar yaitu siswa mampu mengekspresikan diri lewat karya music sederhana. Selain itu, vocal grup dijadikan ekstrakurikuler di sekolah mengingat bernyanyi merupakan salah satu kegiatan berkesenian yang sangat menyenangkan. Pada pelaksanaan kegiatan PKM ini, pembinaan dan pelatihan dilakukan dengan cara memberikan wawasan secara teoritis dan praktik di bidang teknik dasar olah vocal atau bernyanyi. Dan mengembangkannya kedalam bentuk vocal grup. Pembinaan vocal grup untuk guru dan siswa di SMP N 7 Muaro Jambi diharapkan dapat membantu menambah wawasan bagi guru seni budaya sehingga bisa diterapkan di dalam proses belajar mengajar. Serta dapat meningkatkan minat dan bakat serta keterampilan siswa dalam bernyanyi.
NGIMBAU TUAN: KOMPOSISI MUSIK TERNARY Gen Dekti; Mahdi Bahar; Indra Gunawan
Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol. 1 No. 01 (2022): Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.877 KB) | DOI: 10.22437/cs.v1i01.18431

Abstract

Komposisi musik Ngimbau Tuan merupakan representasi musikal mantra ritual Asik Pumbaru Jikat di Desa Mukai Sebrang, Kecamatan Siulak Mukai, Kabupaten Kerinci. Ritual Asik Pumbaru Jikat bertujuan untuk mensucikan tempat pelahu, diyakini sebagai tempat tinggal roh-roh leluhur. Melalui interpretasi terhadap prosesi ritual menjadi komposisi musik, pengembangan elemen struktural seperti repetition, augmentation, diminution, sequence, alternation, interlocking, canon, dan fugue digunakan untuk mewujudkan ide musikal menjadi frasa-frasa komposisi. Secara keseluruhan, karya Ngimbau Tuan menggunakan struktur musik tiga bagian (ternary) yang terdiri dari sub-judul part I (Jikat), part II (Asik) dan part III (Sembah) yang diadopsi dari penamaan setiap prosesi ritual.
PENCIPTAAN TARI TAMBO BERANGKAT DARI GERAK SILAT KEMIYAN DI DUSUN BARU KABUPATEN SAROLANGUN Nur Fatimah; Mahdi Bahar; Hartati M
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 1 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Juni 2023)
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambo merupakan karya dengan ide garapan yang berasal dari sejarah dibalik benda pusaka Bedil Paklinggam pada masa perjuangan masyarakat pribumi melawan penjajah Belanda di Kampung Ujung Tanjung yang merupakan desa tertua di Kabupaten Sarolangun, dan di desa ini masyarakat setempat hidup tentram dalam menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai Petani. Karya ini berjudul Tambo yang berarti Sejarah, yang berpijak dari motif gerak silat Kemiyan Desa Dusun Baru, Kabupaten Sarolangun. Metode penciptaan karya menggunakan tahap kolaborasi, observasi, pengumpulan data, perwujudan pengembangan konsep dan perwujudan tari.
PENCIPTAAN TARI TIRAI TOPENG BERDASARKAN TRADISI MAIN TOPENG DESA MUARO JAMBI Wise Azizah; Hartati Hartati; Mahdi Bahar
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v2i02.27660

Abstract

Karya tari Tirai Topeng adalah karya yang digarap berdasarkan tradisi Main Topeng yang ada di Desa Muaro Jambi. Topeng diinterpretasikan ke dalam kehidupan sosial tentang sifat munafik. Landasan penciptaan gerak didasari pada motif gerak tari Ngebeng dari Desa Rambutan Masam. Metode penciptaan karya terbagi menjadi dua tahapan, yaitu pra-produksi (riset) dan produksi. Tahapan pra-produksi terdiri dari pengumpulan data dan pengembangan konsep, sedangkan tahapan produksi adalah perwujudan tari. Karya tari yang menggunakan desain dramatik Kerucut Tunggal ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pertama dengan suasana kedamaian, bagian kedua dengan suasana kegelisahan dan bagian tiga dengan suasana pemberontakan.
PEMERANAN TOKOH SISKA DALAM NASKAH PELANGI KARYA NANO RIANTIARNO Mirani Vivi Oktavia; Mahdi Bahar; Lusi Handayani
Prabung Seni: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 2 No. 02 (2023): Prabung Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan (Desember 2023)
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpps.v2i02.27866

Abstract

Penciptaan pemeranan tokoh Siska merupakan kerja keaktoran yang didasari oleh naskah Pelangi karya Nano Riantiarno. Tujuan dari penciptaan pemeranan ini adalah mewujudkan tokoh Siska dengan akting yang dapat dipertanggungjawabkan. Kerja pemeranan ini menggunakan metode akting Stanislavski yang terdapat di dalam buku Persiapan Seorang Aktor (1980) dan Membangun Tokoh (2008). Metode akting yang dipilih antara lain: motivasi, imajinasi, pemusatan pikiran, ingatan emosi, kekuatan motif, mendandani tokoh dan menubuhkan tokoh. Pendekatan akting yang dipilih dalam mewujudkan tokoh Siska adalah pendekatan akting representasi.
Pemeranan Tokoh Adang Dalam Naskah Titik-Titik Hitam Karya Nasjah Djamin Danang Kurnianto; Mahdi Bahar; Muhammad Komadri
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 2 (2022): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i2.40056

Abstract

Naskah Titik-titik Hitam karya Nasjah Djamin merupakan Naskah bergaya realisme. Tema besar yang diangkat merupakan tema keseharian. Pemeran menggunakan metode Boleslavsky untuk memerankan tokoh Adang dalam Naskah Titik-titik Hitam karya Nasjah Djamin. Metode Boleslavsky digunakan guna tercapinya pemeranan yang diinginkan. Tokoh Adang yang berada di dalam naskah bergaya realisme ini diwujudkan dengan konsep pemeranan yang natural. Hasil dari penerapan metode akting Boleslavsky adalah terwujudnya tokoh Adang yang tegas dan rapuh dengan konsep akting yang natural. Adapun kesimpulan dalam proses pemeranan ini adalah bahwa metode akting Boleslavsky mampu mendukung pemeran dalam mewujudkan tokoh Adang dalam Naskah Titik-titik Hitam karya Nasjah Djamin. Pemeran tentunnya mengalami kendala pada proses pencarian tokoh Adang, dikarenakan adanya perbedaan karakter dari pemeran terhadap tokoh Adang. Dalam menanggapi kendala pada proses pencarian tokoh, pemeran melatih tiga elemen penting seorang aktor yaitu: Olah vokal, olah tubuh dan olah rasa. Pemeranan tokoh Adang ditujukan untuk menerapkan metode akting Boleslasvky, dengan konsep akting yang natural.Kata Kunci: Titik-titik Hitam, Realisme, Boleslvsky, Pemeranan
Pemeranan Teater Boneka Dulmulukan Dalam Naskah Salah Sangko Janisha Dwi Putri; Mahdi Bahar; Muhammad Komadri
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 3 No 1 (2023): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v3i1.47363

Abstract

Penelitian ini terinspirasi dari beberapa pertunjukan wayang golek dalam menyajikan naskahnya. Berdasarkan naskah Salah Sangko yang digarap sutradara dengan format penokohan struktur tokoh dalam teater tradisional Dulmuluk, para aktor memainkan naskah tersebut menggunakan boneka tangan dengan lima tokoh dalam teater Dulmuluk. Beberapa tahapan proses penokohan yang dilalui adalah pemahaman, yaitu: Latar penokohan, Upaya bermain peran, Analisis penokohan, dan Konsep penokohan. Kelima tokoh Dulmuluk tersebut diperankan oleh pelakunya sendiri sehingga pelaku berperan sebagai dalang. Dalam karyanya, para pemeran mengeksplorasi dan mempelajari Dulmuluk di Muaro Jambi, kemudian mengubahnya ke dalam bentuk penokohan teater boneka. Dalam penyajiannya menggunakan teknik tangan sebagai penggerak wayang dan suara (vokal), dinamika, dan intonasi lima karakter sehingga menghasilkan lima warna suara yang mewakili karakter masing-masing karakter. Itulah tantangan yang dilakukan para cast dalam memainkan naskah Salah Sangko.