Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Implementasi Kebijakan Low Emission Zone (LEZ) melalui Forum C40 Cities di Provinsi DKI Jakarta (2021-2023) Syalom, Yusuf Edwin; Astuti, Wiwiek Rukmi Dwi
JURNAL HUBUNGAN LUAR NEGERI Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Hubungan Luar Negeri
Publisher : Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70836/jh.v9i2.54

Abstract

In response to the issue of air quality in DKI Jakarta, characterized by high levels of air pollution, the Jakarta Provincial Government, in collaboration with Cities 40, has introduced a new environmental policy called the Low Emission Zone (LEZ). This policy is implemented in the Kota Tua area and Tebet Eco Park. This research aims to explain the implementation process of the LEZ and the connection between the Jakarta Provincial Government's paradiplomacy efforts and C40 The study utilizes qualitative descriptive methods, including interviews and literature review, for data collection The findings reveal cooperation between the Jakarta Provincial Government and Cities 40, encompassing technical assistance, financial support, and technology aid. However, the implementation of the Low Emission Zone (LEZ) is actually an initial step that is still limited, thus requiring a more comprehensive strategy to achieve the targeted results.
Kerja Sama Multistakeholder National Plastic Action Partnership (NPAP) sebagai Upaya Penanganan Sampah Plastik di Perairan Bali Melalui Edukasi Pada Pelajar Pratama, Zenith Irba Setya; Astuti, Wiwiek Rukmi Dwi
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v7i1.57019

Abstract

Indonesia berada dalam posisi kelima sebagai negara di kawasan Asia yang menyumbang sampah plastik terbanyak ke perairan dan salah satu provinsi yang menjadi polutan terbanyak adalah Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerja sama multi stakeholder National Plastic Action Partnership (NPAP) dalam menangani sampah plastik di perairan Provinsi Bali melalui edukasi pada pelajar (2020-2023). Penelitian ini menggunakan teori Multistakeholder Partnership dengan menganalisis proses kerja sama multistakeholder melalui tiga tahap yaitu pemetaan dan pembangunan, mengelola dan memelihara, serta meninjau dan merevisi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya tiga tahap proses kerja sama, pertama, hasil pemetaan stakeholder oleh NPAP untuk mengurangi sampah plastik di perairan sebanyak 70% melalui edukasi kepada pelajar di Bali, yaitu PPLH Bali melalui program sekolah ekologis dan Bye Bye Plastic Bags melalui program youthtopia. Tahapan kedua yaitu pengelolaan program edukasi yang dikelola bersama dengan anggota NPAP lainnya, yang sekaligus didukung pendanaannya baik melalui pemberian instentif ataupun sponsor. Terakhir, tahap peninjauan diadakan oleh NPAP dan dilakukan pada program sekolah ekologis. Adapun kekurangan dalam kerja sama multistakeholder ini yaitu transparansi dan koordinasi yang masih perlu ditingkatkan. Indonesia is the fifth country in Asia that contributes the most plastic waste to waterways and one of the provinces with the most pollutants is Bali. This research aims to find out the National Plastic Action Partnership's (NPAP) multistakeholder collaboration in handling marine plastic waste in Bali Province through student education (2020–2023). This research uses the multistakeholder partnership theory by analyzing the multistakeholder cooperation process through three stages, namely scoping and building, managing and maintaining, and reviewing and revising. The research method used is descriptive-qualitative, which involves collecting data through interviews and literature studies. The results of this study show that there are three stages of the collaboration process: first, the results of stakeholder mapping by NPAP to reduce plastic waste in waters by 70% through education for students in Bali, namely PPLH Bali through the ecological school program and Bye Bye Plastic Bags through the Youthtopia program. The second stage is the management of educational programs that are managed together with other NPAP members, which are also supported by funding either through incentives or sponsorship. Finally, the review stage is held by NPAP and carried out in the ecological school program. Transparency and coordination are this multi-stakeholder cooperation's weaknesses, which still require improvement.
China’s Dedollarization Policy Through BRICS Cooperation in 2022-2023 Hananto, Diva Calista; Astuti, Wiwiek Rukmi Dwi
Global Strategis Vol. 19 No. 1 (2025): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.19.1.2025.91-120

Abstract

The momentum challenging the dominance of the US dollar in the international financial system resurfaced in 2022 when Russia faced sanctions from the West. China, responding to the instability caused by the dollar's dominance, has pursued strategic dedollarization through BRICS cooperation. This research analyzes China's dedollarization efforts using a qualitative approach rooted in monetary policy and dedollarization theory. Key initiatives include the development of the New Development Bank (NDB), Bilateral Swap Agreements (BSA), and the Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), all aimed at reducing dependence on the Western-controlled financial system. These efforts have garnered attention from the United States due to their potential long-term impact on dollar hegemony. China’s indirect leadership within BRICS highlights its role in shaping dedollarization policies, particularly in the aftermath of the 2022 sanctions against Russia. While these measures are still far from rivaling the US dollar's dominance, they signal a shift towards a multipolar global monetary system with the potential for significant changes in global financial dynamics in the future. Keywords: Dedollarization, China, BRICS Momentum tantangan terhadap dominasi dolar Amerika Serikat dalam sistem keuangan internasional kembali muncul pada tahun 2022 ketika Rusia menerima sanksi dari Barat. Sebagai respons terhadap ketidaksetaraan dan ketidakstabilan akibat dominasi dolar, Tiongkok melalui kerja sama dengan BRICS mengambil berbagai langkah strategis dedolarisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya Tiongkok dalam kebijakan dedolarisasi melalui aliansi BRICS, menggunakan metode kualitatif berdasarkan data sekunder, dengan pendekatan teori kebijakan moneter dan dedolarisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tiongkok telah menjadi penggerak utama dalam beberapa kebijakan dedolarisasinya melalui kerja sama BRICS, seperti pengembangan New Development Bank (NDB), pembentukan Bilateral Swap Agreement (BSA), dan pengembangan Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), yang semuanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan global yang dikendalikan Barat. Dalam konteks geopolitik global, upaya dedolarisasi Tiongkok menjadi perhatian khusus bagi Amerika Serikat, terutama karena potensi pengaruhnya terhadap dominasi dolar dalam jangka panjang. Kepemimpinan tidak langsung Tiongkok dalam BRICS menunjukkan bagaimana negara ini mengembangkan kebijakan dedolarisasinya, terutama setelah sanksi terhadap Rusia pada awal 2022. Meskipun masih jauh dari menyaingi dominasi dolar AS, langkah-langkah ini menunjukkan pergeseran menuju multipolaritas dalam sistem moneter global, dengan potensi dampak besar pada dinamika keuangan global di masa depan. Kata-kata Kunci: Dedolarisasi, Tiongkok, BRICS
Exploring the Nexus between G20 Agendas, Green Economy Policies, and Global Financial Governance Nugroho Putri, Adinda Ayu Melati; Rafli Alfaizi Hakim; Michelle Pinkhan Najoan; Jessica Elvira Sinurat; Wiwiek Rukmi Dwi Astuti
Jurnal Ilmu Hubungan Internasional LINO Vol 5 No 1 (2025): Dinamika Kontemporer dalam Hubungan Internasional Dalam Ekonomi Global, Keamanan
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/lino.v5i1.3932

Abstract

Abstract: Global warming conditions with global dynamics that revolve around politics and economics today have created new economic conditions, namely the Green Economy. The G20 as an association of countries with the largest GDP in the world can certainly be an actor engaged in the initiation of the Green Economy in Global Governance. This article takes the theory of neoliberal institutionalism with a qualitative methodology through document studies to analyze the influence of the G20 on Green Economy policies in Global Governance. Through this analysis, the author finds out that the G20's role in Green Economy policy is still constrained by authority and bureaucracy, seeing that G20 countries in 2021 only provide little assistance for environmental recovery. This can be caused by the absence of an international regime produced by the G20. Each G20 country only ratified the Paris Agreement produced by the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). The lack of a resulting regime is due to the fact that the G20 is a venue for discussion and collaboration, not a governing entity with the authority to impose norms or policies. Keywords: G20, Global Governance, Green Economy Abstrak: Kondisi pemanasan global dengan dinamika global yang berputar pada politik dan ekonomi pada masa ini telah menciptakan kondisi ekonomi baru, yaitu Ekonomi Hijau. G20 sebagai perkumpulan negara dengan GDP terbesar di dunia tentunya dapat menjadi aktor yang bergerak dalam inisiasi Ekonomi Hijau dalam Tata Kelola Global. Artikel ini mengambil teori Neoliberal-Institusionalisme dengan metodologi kualitatif melalui studi dokumen untuk menganalisis pengaruh G20 dalam kebijakan Ekonomi Hijau di Tata Kelola Global. Melalui analisis ini, penulis mengetahui bahwa peran G20 dalam kebijakan Ekonomi Hijau masih terkendala oleh otoritas dan birokrasi, melihat negara-negara G20 pada 2021 hanya memberi sedikit bantuan untuk pemulihan lingkungan. Hal ini dapat disebabkan oleh ketiadaan rezim internasional yang dihasilkan oleh G20. Masing-masing negara G20 hanya meratifikasi Paris Agreement yang dihasilkan oleh United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). Kurangnya rezim yang dihasilkan disebabkan oleh fakta bahwa G20 adalah tempat untuk berdiskusi dan berkolaborasi, bukan entitas pemerintahan yang memiliki wewenang untuk memaksakan norma atau kebijakan. Kata Kunci: Ekonomi Hijau, G20, Tata Kelola Global
KERJA SAMA UN WOMEN DENGAN GOJEK DALAM MENDUKUNG AGENDA SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS-5: GENDER EQUALITY DI INDONESIA Indah Jullanar; M. Chairil Akbar Setiawan; Wiwiek Rukmi Dwi Astuti
Indonesian Journal of International Relations Vol 8 No 1 (2024): INDONESIAN JOURNAL OF INTERNATIONAL RELATIONS
Publisher : Indonesian Association for International Relations

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32787/ijir.v8i1.471

Abstract

This article aims to describe the collaboration between UN Women and Gojek which was agreed in July 2020 in pushing for the achievement encouraging the SDGs-5: Gender Equality in Indonesia. The theory used is gender equality in the perspective of feminism, feminist institutionalism theory, and sustainable development in the type of qualitative research. Data collection was taken through internet-based research and data analysis techniques using interactive data analysis models. The results of the research show that the cooperation by UN Women and Gojek is divided into three framework areas of work namely increasing women's capacity, strengthening the capacity of MSMEs, and promoting women's safety in public spaces. The collaboration between UN Women and Gojek is shown as one of the parties involved in helping achieve the SDGs 5 agenda. This is also evidenced by data from the WEF report on the 2022 Global Gender Gap, where the gender equality index in Indonesia has increased from last year
Upaya Indonesia Youth Foundation (IYF) Dalam Diplomasi Publik Indonesia Melalui Indonesian Language Learning Program Tahun 2020-2023 Putri, Rissa Aliria; Astuti, Wiwiek Rukmi Dwi
Moestopo Journal of International Relations (MJIR) Vol 5, No 2 (2025): Moestopo Journal of International Relations (MJIR)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/mjir.v5i2.5996

Abstract

Bahasa merupakan alat diplomasi publik yang efektif memperkenalkan identitas suatu bangsa. Tingginya minat asing terhadap Bahasa dan budaya Indonesia memotivasi Indonesia Youth Foundation (IYF) sebagai organisasi non-pemerintah untuk berpartisipasi dalam diplomasi publik melalui Indonesian Language Learning Program. Program ini merupakan yang mengajarkan dan menyebarluaskan Bahasa Indonesia kepada masyarakat asing dengan memanfaatkan potensi Bahasa Indonesia dan kebudayaan Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan mengidentifikasikan upaya IYF dalam diplomasi publik Indonesia melalui Indonesian Language Learning Program dengan menggunakan teori dan konsep diplomasi publik dan language as power. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan penggunaan data primer dan sekunder yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, data, literatur serta dokumen terkait yang diperoleh dari narasumber, media cetak maupun online. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya IYF dalam diplomasi publik Indonesia efektif dalam membangun citra positif nasional melalui pendekatan edukasi Bahasa Indonesia. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan Cultural Sharing, para peserta asing memperoleh pandangan baru yang mendalam tentang Indonesia, serta ketertarikan lebih terhadap Indonesia, walaupun dalam berjalannya program ini ada beberapa hambatan yang harus dihadapi.
KERJA SAMA KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA (POLRI) DAN AUSTRALIAN FEDERAL POLICE (AFP) DALAM PENANGANAN ISU PENCARI SUAKA DAN PENYELUNDUPAN MANUSIA TAHUN 2008-2014 Zudane, Akbar; Situmeang, Nurmasari; Rukmi Dwi Astuti, Wiwiek
Moestopo Journal of International Relations (MJIR) Vol 5, No 2 (2025): Moestopo Journal of International Relations (MJIR)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/mjir.v5i2.3151

Abstract

ABSTRACTThis research examines the role of cooperation between the Indonesian National Police (POLRI) and the Australian Federal Police (AFP) in addressing the issues of asylum seekers and people smuggling prevalent in Indonesia from 2008 to 2014. The research employs three approaches, namely the non-traditional security concept, security cooperation concept, and bilateral cooperation concept, to analyze the collaborative efforts in tackling the issues of asylum seekers and people smuggling. The research methodology employed in this study involves the utilization of qualitative descriptive analysis. The findings of this research indicate that the issues of asylum seekers and people smuggling have become significant challenges faced by the governments of Indonesia and Australia. Recognizing the limitations of a single country's ability to resolve these issues, cooperation between the two nations has become crucial.Keywords: Cooperation, Indonesia – Australia, Asylum seekers, People smugglingABSTRAKPenelitian skripsi ini membahas mengenai peran kerja sama Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan Australian Federal Police (AFP) dalam menangani isu pencari suaka dan penyelundupan manusia yang marak terjadi di wilayah Indonesia pada tahun 2008-2014. Penelitian ini akan menggunakan tiga pendekatan, yaitu konsep keamanan non-tradisional, konsep kerja sama keamanan dan konsep kerja sama bilateral. Ketiga konsep ini akan membedah kerja sama penanganan isu pencari suaka dan penyelundupan manusia. Pendekatan metodologis yang akan digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif deskriptif analisis. Berdasarkan penelitian ini mendapatkan bahwa permasalahan pencari suaka dan penyelundupan manusia sudah menjadi permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia dan Australia. Permasalahan ini tidak dapat diselesaikan oleh suatu negara maka diperlukanlah sebuah kerja sama dalam menangani isu ini.Kata kunci: Kerja sama, Indonesia - Australia, Pencari Suaka, Penyelundupan Manusia