Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Kekerasan Verbal Dalam Mimbar Pewartaan: Salah Satu Faktor Determinan Partisipasi Umat Katolik Dalam Hidup Menggereja Gasperz, Mario; Wea, Donatus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 11 No 1 (2023): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v11i1.35

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menemukan bukti bahwa kekerasan verbal dalam mimbar pewartaan menjadi salah satu faktor determinan partisipasi umat katolik dalam hidup menggereja. Data primer diperoleh melalui wawancara yang dibagikan kepada 10 informan yang adalah anggota paroki yang tersebar di lima paroki di kota Merauke dan di luar kota Merauke. Hasil pengolahan data, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menunjukkan bahwa kekerasan verbal yang dilakukan oleh otoritas Gereja di mimbar pewartaan (ruang homili dan ruang pengumuman) menjadi salah satu faktor utama yang menentukan partisipasi umat katolik dalam berbagai aspek kehidupan menggereja. Kekerasan verbal di mimbar pewartaan berdampak secara psikologis, sosial. spiritual, kultural dan hidup berjemaat bagi umat yang menjadi korban. Dampak ini bermuara pada sikap dan keputusan yang diambil oleh para korban untuk hidup selanjutnya, yakni tidak terlibat dalam berbagai kegiatan Gereja, mengikuti perayaan liturgi hari minggu dan hari raya di paroki lain dan berpindah ke Gereja protestan atau denominasi Gereja lainnya serta menjadi penganutnya. Temuan ini menyadarkan setiap otoritas Gereja untuk menggunakan mimbar pewartaan sesuai dengan fungsinya dan menguasai kode etik (kesantunan) dalam berbahasa, khususnya di ruang publik.
Kekerasan Simbolik Di Mimbar Sabda: Pelecehan Terhadap Keluhuran Liturgi Ekaristi Subu, Yan Yusuf; Wea, Donatus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 2 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i2.61

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menemukan bukti bahwa kekerasan simbolik di mimbar sabda merupakan salah satu bentuk pelecehan terhadap keluhuran liturgi ekaristi. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dibagikan kepada 10 informan yang adalah anggota paroki yang tersebar di dua paroki di kawasan pinggiran kota Merauke (Wendu dan Kuper). Hasil pengolahan data, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menunjukkan bahwa kekerasan simbolik kerap dilakukan oleh otoritas Gereja di mimbar sabda, tanpa disadari, dan berdampak pada pelecehan terhadap keluhuran liturgi ekaristi yang merupakan satu kesatuan yang integral yang dimulai dengan ritus pembuka dan berakhir dengan ritus penutup. Apalagi liturgi sabda, yang berpusat di mimbar sabda, merupakan persiapan amat penting untuk masuk ke dalam perayaan misteri keselamatan yang dipuncaki oleh liturgi ekaristi, yang berpusat di atas altar suci. Selain melecehkan keluhuran liturgi ekaristi, kekerasan simbolik oleh otoritas Gereja di mimbar sabda juga membawa dampak terhadap ketidaknyamanan umat secara batiniah ketika mengikuti perayaan ekaristi dan juga terhadap imam itu sendiri sebagai pemimpin perayaan ekaristi. Temuan ini menyadarkan setiap otoritas Gereja untuk menggunakan mimbar sabda sesuai dengan fungsinya yang kudus. Selain itu, imam sebagai peimpin liturgi ekaristi perlu berhati-hati dan bijaksana dalam menggunakan kata-kata untuk menjelaskan sabda Allah kepada umat beriman melalui homili di mimbar sabda supaya dapat dimengerti dan dipraktekkan dalam kehidupan mereka setiap hari.
Simulatio Partialis Contra Bonum Coniugum Sebagai Salah Satu Pokok Sengketa Pembatalan Perkawinan Wea, Donatus; Homenara, Fransiskus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 6 No 2 (2018): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v6i2.63

Abstract

Qui facit matrimonium adalah sebuah pertanyaan sentral perihal apa sesungguhnya yang membuat perkawinan itu ada, yang telah digumuli oleh para teolog dalam Gereja katolik selama sekian abad. Dalam penggalian para teolog itu, sampailah pada sebuah kesimpulan yang merupakan sintensa dari berbagai aspek kajian, bahwa yang membuat perkawinan itu ada adalah konsensus yang saling diberikan, oleh para pihak yang akan menikah, secara bebas, sadar, dan penuh tanggung jawab. Apa sesungguhnya konsensus itu sehingga menjadi unsur dasar terbentuknya sebuah institusi perkawinan? Secara yuridis konsensus, sebagaimana ditegaskan dalam norma kanon 1057 ยง 2, adalah perbuatan kemauan dengan mana pria dan wanita saling menyerahkan diri dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali. Meskipun konsensus menjadi unsur utama terbentuknya lembaga perkawinan, namun karena sesuatu dan lain hal, konsensus bisa saja menjadi cacat, yang berakibat pada tidak validnya sebuah perkawinan, walaupun perkawinan itu diteguhkan dengan itikad luhur oleh para pasangan. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab cacatnya konsensus para pasangan nikah untuk membangun sebuah keluarga; salah satunya adalah simulasi. Secara umum, simulasi dapat dirumuskan sebagai penyimpangan kesadaran antara kehendak batiniah dan pernyataan lahiriah seseorang. Dalam kasus ini boleh jadi bahwa dalam kenyataannya, seseorang secara lahiriah mengungkapkan syarat-syarat yang dituntut untuk suatu pernikahan sebagai ungkapan kehendak, namun dalam hatinya yang terdalam ia tidak mau melangsungkan pernikahan itu sendiri. Jadi simulasi berarti ketidakcocokan antara pernyataan lahiriah dengan kehendak yang sebenarnya yang ada di dalam batin. Gereja selalu mengandaikan bahwa kehendak yang dinyatakan dalam kata dan perbuatan sungguh merupakan ekspresi nyata dari kehendak batiniah. Jika hal yang diandaikan itu tidak ada, maka sesungguhnya terjadi simulasi atau kepura-puraan (bersandiwara).
Model Pendidikan Iman Anak Dalam Keluarga Berbasis Anjuran Apostolik Familiaris Consortio Dalam Menumbuhkan Perilaku Altruistik Wea, Donatus; Wolomasi, Agustinus Kia
Jurnal Masalah Pastoral Vol 10 No 1 (2022): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v10i1.82

Abstract

The purpose of this research is to find out the actual model of children's faith education in the family in the Salib Suci Gudang Arang parish, to study and analyze it as a reference to produce a new model. The model that is suitable for children's faith education for the growth of altruistic behavior is the one based on the Familiaris Consortio of Pope John Paul II. Primary data were obtained through observation and interviews with 30 informants consisting of parents, children, the family commission of the Archdiocese of Merauke, the parish family section and senior families who are examples (role models). The findings are that parents do not play their main role in educating children's faith because they do not know the pattern and do not get the assistance that is their right as a provision to educate children's faith. For that we need a model that can help them in educating children's faith. The finding in this model is the involvement and responsibility of Church authorities in planning, implementing, monitoring and evaluating through the relevant commissions or sections. In this way, Catholic families will be able to carry out their roles well as first and foremost educators for children's faith so that their altruistic behavior grows which is resulted in sincere sharing, solidarity and self-sacrifice.
Peningkatan Kualitas Guru Pendidikan Agama Katolik (PAK) Melalui Penerapan Model Rekrutmen dan Seleksi Berbasis Kitab Hukum Kanonik 1983 Wea, Donatus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 7 No 1 (2019): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v7i1.86

Abstract

Salah satu strategi yang harus dilakukan oleh penyelenggara sekolah agar memperoleh calon-calon guru yang berkualitas adalah penerapan rekrutmen dan seleksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian halnya dengan guru-guru pendidikan agama katolik (PAK). Jika prosedur rekrutmen dan seleksi guru PAK diikuti dengan baik, maka kebutuhan akan guru-guru PAK yang bermutu, yang menjadi kerinduan setiap sekolah dapat dijawab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan model rekrutmen dan seleksi calon guru PAK yang diterapkan selama ini di kabupaten Merauke, dengan berbagai dampak. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yakni serangkaian prosedur penelitian yang menghasilkan data secara deskriptif baik secara lisan maupun tertulis dari sumber atau perilaku orang yang dapat diamati. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa selama ini rekrutmen dan seleksi calon guru PAK tidak mengikuti prosedur standar yang lazim berlaku, dengan salah satu konsekwensinya adalah masih adanya beberapa guru PAK di sekolah-sekolah dengan kompetensi yang kurang memadai. Agar persoalan ini dapat diatasi, maka dibutuhkan model rekrutmen dan seleksi yang khusus, yang menjadi kekhasan dalam Gereja katolik, yakni yang berbasis Kitab Hukum Kanonik 1983. Dengan menerapkan model ini, maka hanya calon-calon guru PAK yang bermutulah, yang akan ditempatkan di sekolah-sekolah, dan yang akan berpengaruh terhadap pendidikan iman dan moral peserta didik.
Studi Tentang Pemahaman Terhadap Hakikat Dan Tujuan Perkawinan Katolik Oleh Para Pasangan Dan Dampaknya Terhadap Perwujudan Panca Tugas Gereja Dalam Keluarga Wea, Donatus
Jurnal Masalah Pastoral Vol 8 No 1 (2020): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v8i1.102

Abstract

Artikel ini membahas tentang pemahaman para pasangan perihal hakikat dan tujuan perkawinan Katolik dan dampaknya terhadap panca tugas Gereja dalam kehidupan keluarga. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam kepada 51 orang (pasangan suami-isteri dan tokoh Gereja). Tiga rumusan masalah dianalisis secara deskriptif dan induktif. Hasilnya adalah pemahaman pasangan tentang hakikat dan tujuan perkawinan Katolik cukup baik, komprehensif dan sejalan dengan apa yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. Temuan ini membuktikan bahwa pemahaman pasangan bermanfaat dan menjadi acuan untuk mewujudkan panca tugas Gereja dalam hidup berkeluarga (koinonia, leiturgia, diakonia, martyria dan kerygma). Ada juga faktor lain yang mempengaruhi kesanggupan pasangan untuk menjalankan panca tugas Gereja, yakni kesadaran bahwa keluarga adalah sebuah institusi yang suci. Kesadaran ini justru bertumbuh di tengah arus modern di mana keluarga lebih dilihat sebagai sebuah isntitusi yang bersifat manusiawi semata. Selain itu, daya juang pasangan untuk terus mempertahankan jatidirinya sebagai keluarga Katolik juga menjadi salah satu faktor pendukung. Realitas ini menjadi contoh bagi para pasangan muda dan juga mereka yang hendak mempersiapkan diri untuk memasuki jenjang kehidupan berkeluarga.
Studi Pemahaman Umat Katolik Tentang Perkawinan Campur Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 1983 Dan Dampaknya Terhadap Dimensi Kehidupan Berkeluarga Wea, Donatus; Rio, Mensiana
Jurnal Masalah Pastoral Vol 8 No 2 (2020): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v8i2.109

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menguji pemahaman perkawinan campur berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 1983 dan dampaknya terhadap dimensi kehidupan berkeluarga. Pengumpulan data primer melalui kuesioner kepada 51 orang pelaku kawin campur, baik beda agama maupun beda Gereja. Tiga hipotesis diuji dengan analisis matrix korelasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tiga hipotesis terbukti signifikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pasangan kawin campur dapat memerankan dengan baik dimensi hidup berkeluarga sebagaimana diatur dan diharapkan Gereja Katolik. Temuan ini mengajarkan bahwa keberhasilan pasangan untuk mempraksiskan berbagai dimensi hidup berkeluarga, tidak semata-mata karena pasangan itu seiman (Katolik), namun juga karena dukungan komitmen, keterbukaan, saling setia, yang didasarkan pada cinta total dan tidak terbagikan sebagai suami-isteri (cinta eksklusif). Realitas ini membantu menjelaskan bahwa perkawinan campur, meskipun dilarang oleh hukum agama dan negara, dapat berkontribusi positif bagi anak-anak dan keluarga-keluarga lain, yaitu dapat menjadi contoh dalam hal kesetiaan, toleransi dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur perkawinan yang dijunjung tinggi oleh Gereja Katolik.
Implementasi E-Learning dan Komitmen Profesional Afektif Guru Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas Di Papua Selatan Wea, Donatus; Wula, Paulina
Jurnal Masalah Pastoral Vol 9 No 2 (2021): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v9i2.114

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh implementasi e-learning dan komitmen professional afektif guru terhadap peningkatan prestasi belajar siswa sekolah menengah atas di Papua Selatan. Data primer diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada 60 guru yang berkarya di sekolah-sekolah lanjutan atas yang tersebar di daerah pedalaman dan pinggiran kota di Papua Selatan. Tiga hipotesis diuji dengan analisis structural equation model (SEM) dan terbukati signifikan. Temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa prosentase yang tertinggi untuk variabel yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa adalah komitmen professional afektif guru. Pengaruh variable implementasi e-learning terhadap prestasi belajar siswa lebih rendah dibandingkan dengan komitmen professional afektif guru. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni kondisi geografis Papua Selatan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, keterbatasan media komunikasi, sikap dan tanggapan para guru serta siswa terhadap penggunaan e-learning, kondisi ekonomi keluarga, ruang lingkup penggunaan media komunikasi dan rumitnya pengelolaan e-learning. Meskipun pengaruh e-learning terhadap prestasi belajar siswa lebih rendah jika dibandingkan dengan komitmen professional afektif guru, tetapi tetap menunjukkan pengaruh yang positif.
FAKTOR DETERMINAN KEHILANGAN STATUS KLERIKAL SEORANG IMAM DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL Wea, Donatus; Tan, Paulus Setyo Istandar
Jurnal Masalah Pastoral Vol 11 No 2 (2023): JUMPA (Jurnal Masalah Pastoral)
Publisher : Sekolah Tinggi Katolik Santo Yakobus Merauke

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60011/jumpa.v11i2.139

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara mendalam dan menemukan bukti perihal faktor-faktor determinan yang menjadi penyebab kehilangan status klerikal seorang imam, selain yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik 1983, dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan sosialnya. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam yang dilakukan secara online terhadap 7 informan (para mantan imam), yang tersebar di beberapa keuskupan di Indonensia. Hasil pengolahan data, dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, menunjukkan bahwa ada lima faktor yang menjadi penyebab utama seseorang meninggalkan status luhurnya sebagai imam, yakni pelanggaran terhadap ketiga nasehat injil, persoalan kejujuran dan keterbukaan, kekeringan dan kelesuan rohani, masalah motivasi dan waktu yang amat kurang untuk berefleksi. Ada dampak yang menjadi pelengkap penyerta terhadap keputusan para mantan imam, yang ditemukan dalam penelitian ini, yakni dampak sosial, psikologis, rohani dan ekonomi. Siap atau tidak siap para mantan imam harus menerima dampak ini, karena merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan yang telah mereka ambil, entah secara bebas maupun karena keterpaksaan. Hasil penelitian ini menyadarkan kita bahwa status klerikal yang diperoleh seorang imam melalui tahbisan suci adalah suatu anugerah istimewa dan cuma-cuma dari Allah dan harus dirawat secara baik walaupun tidaklah mudah. Tuhan menjadi jawaban dan kekuatan akhir dalam perjuangan seorang imam untuk mempertahankan status luhurnya sebagai klerus seumur hidup.
Development of an AI-Based Platform to Customize Learning Experiences in Religious Education: Papuan Youth Emik Characterized by Local Wisdom Gaol, Erly Lumban; Noerjanto, Francisco; Wolomasi, Agustinus Kia; Wea, Donatus
Journal of Social Science Utilizing Technology Vol. 2 No. 4 (2024)
Publisher : Yayasan Pendidikan Islam Daarut Thufulah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70177/jssut.v2i4.1503

Abstract

Background. Religious education plays a crucial role in shaping moral and cultural values, especially in diverse regions like Papua, Indonesia. Traditional methods of religious education may not adequately address the unique needs of Papuan youth, who are deeply rooted in local wisdom and cultural values. The development of an AI-based platform offers an innovative solution to personalize and enhance learning experiences, ensuring that religious teachings are relevant and engaging for this demographic. Purpose. This study aims to design and develop an AI-based platform that customizes learning experiences for Papuan youth, integrating religious education with local wisdom and cultural values. The platform seeks to improve learning engagement, foster a deeper understanding of religious teachings, and preserve cultural identity. Method. The research employed a design-based research methodology, combining AI algorithms, educational content analysis, and participatory design involving local educators and community leaders. The platform was tested with a sample group of Papuan youth to evaluate its effectiveness in personalizing learning experiences. Results. The AI-based platform demonstrated a significant increase in student engagement, with personalized content tailored to local customs and religious values. Feedback from participants indicated a strong connection between the learning material and their cultural identity. Conclusion. The AI-based platform is an effective tool for customizing religious education for Papuan youth, blending modern technology with traditional wisdom. This approach promotes a more engaging, culturally relevant, and personalized learning experience.