Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Edukasi Diet Hipertensi Terhadap Kepatuhan Diet Pasien Hipertensi Di Desa Papringan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang M Fendik Nazaruddin; Nur Hamim; Ainul Yaqin Salam
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v3i11.1467

Abstract

Hipertensi memerlukan pengelolaan diet yang efektif untuk mencegah komplikasi kesehatan. Pendidikan yang tepat dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kepatuhan diet di antara pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menilai dampak pendidikan diet terhadap kepatuhan diet di antara pasien hipertensi di Desa Papringan, Klakah, Lumajang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pendidikan diet terhadap kepatuhan diet di antara pasien hipertensi di daerah ini. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok perlakuan dan kontrol. Sebanyak 27 responden di kelompok perlakuan menerima pendidikan diet, sementara 27 responden di kelompok kontrol tidak menerima. Kepatuhan diet diukur sebelum dan setelah intervensi menggunakan kuesioner dan observasi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk menilai signifikansi perubahan dalam kepatuhan diet. Sebelum pendidikan, mayoritas responden di kelompok perlakuan memiliki tingkat kepatuhan yang cukup (77,8%), dibandingkan dengan 66,7% di kelompok kontrol. Setelah pendidikan, 77,8% responden di kelompok perlakuan menunjukkan kepatuhan yang baik. Sebaliknya, 81,5% responden di kelompok kontrol tetap pada tingkat kepatuhan yang cukup. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan adanya pengaruh signifikan pendidikan terhadap kepatuhan diet di kelompok perlakuan (α<0,05, 0,004), sementara tidak ada pengaruh signifikan yang diamati di kelompok kontrol (α>0,05, 0,102). Temuan ini menyoroti bahwa pendidikan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kepatuhan diet di kelompok perlakuan, tetapi tidak di kelompok kontrol. Hasil penelitian ini menyarankan agar puskesmas dapat mengintegrasikan program pendidikan diet hipertensi dengan program puskesmas untuk promosi kesehatan.
Pengaruh Edukasi Hipertensi Menggunakan Audio Visual Terhadap Keaktifan Lansia Yang Mengalami Hipertensi Di Posyandu Srikandi Desa Gucialit Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang Hasyim Asy’ari; Rizka Yunita; Nur Hamim
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i4.1662

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan kronis yang umum pada lansia dan memerlukan pemantauan rutin untuk mencegah komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh edukasi hipertensi menggunakan media audio visual terhadap keaktifan lansia dalam mengunjungi Posyandu di Posyandu Srikandi, Desa Gucialit, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang. Penelitian ini mengadopsi desain pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Dari populasi 35 pasien lansia yang melkukan kunjungan keposyandu , sampel terdiri dari 32 responden lanisa yang mengalami hipertensi yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan observasi kehadiran lansia diposyandu. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi edukasi hipertensi, sebagian besar responden (84,4%) tergolong tidak aktif dalam kunjungan ke Posyandu. Setelah intervensi dengan edukasi menggunakan media audio visual, terjadi peningkatan signifikan, di mana 59,4% responden kini aktif dalam kunjungan ke Posyandu. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai p < 0,05 menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari edukasi audio visual terhadap ppeningkatan keaktifan lansia. Diskusi menekankan pentingnya metode edukasi yang interaktif dan menarik, seperti media audio visual, dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi lansia dalam pemantauan kesehatan mereka. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi tenaga kesehatan dalam merancang program edukasi yang lebih efektif untuk meningkatkan keaktifan lansia dalam mengelola penyakit kronis seperti hipertensi
Pengaruh Terapi Aktifitas Yoga Terhadap Kadar Glukosa Darah Dan Tingkat Stres Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Di PKM Labruk Kidul Lumajang Muhammad Taufiq Hidayat; Nur Hamim; Nofolion Nur Rahmat
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i4.1667

Abstract

Terapi yoga merupakan salah satu bentuk latihan fisik untuk mengontrol kadar glukoda darah dan tingkat stres pada pasien diabetes melitus. latihan ini dapat meningkatkan aktivitas otot sehingga dapat memperbaiki metabolisme otot dalam menyerap glukosa darah, karena gerakan-gerakan yoga adalah gerakan yang bertujuan untuk membantu pankreas dan hati berfungsi secara efektif dalam mengatur kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terapi Aktifitas Yoga Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Tingkat Stres Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di PKM Labruk Kidul Lumajang Tahun 2024. Penelitian ini mengunakan metode eksperimen. Pada penelitian ini metode eksperimen akan menggunakan desain One-Group Pretest-Posttest, mengunakan uji Wilxocon dengan Total Sampling pengambilan sampel di mana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi yang ada yaitu 20 responden, Hasil Penelitian Didapatkan nilai kadar glukosa darah dengan kategori tetap sebanyak 17 orang (85%) dan kategori naik sebanyalk 3 orang (15%). sedangkan nilai score stres didapatkan katerogori tidak ada stres sebanyak 5 orang (25%), kategori stres ringan 12 orang (80%) dan kategori stres sedang sebanyak 3 orang (15%). uji Wilcoxon di dapatkan hasil Test dengan nilai glukosa darah p= 0,007 dan nilai tingkat stres p=0,001 dengan tingkat signifikan
PENGARUH TERAPI BERMAIN BONEKA TANGAN DAN PERPADUAN NYANYIAN (Lagu cara menggosok gigi dengan benar) TERHADAP KEMAMPUAN ANAK DALAM MELAKUKAN MENGGOSOK GIGI PADA ANAK Homsatun Homsatun; Nur Hamim; Erna Handayani
JOURNAL SAINS STUDENT RESEARCH Vol. 3 No. 6 (2025): Jurnal Sains Student Research (JSSR) Desember
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jssr.v3i6.6974

Abstract

Oral and dental health is part of overall body health. Dental and oral health can reflect overall body health, including nutritional deficiencies and symptoms of other diseases. Therefore, in this case, hand puppet therapy combined with singing is necessary. This study aims to determine the effect of hand puppet therapy combined with singing on children's tooth brushing skills.This study used a single-group pretest/posttest on all 30 students who met the inclusion and exclusion criteria. The instrument used was an observation sheet for tooth brushing skills, which was edited, coded, scored, and tabulated. Data obtained in this study were analyzed using the Wilcoxon test.The results of this study revealed tooth brushing ability during the pre- post period. The results showed that the majority of tooth brushing ability before the intervention was in the poor category (14 respondents (56.7%). Meanwhile, the majority of tooth brushing ability after the intervention was in the good category (15 respondents (50%). The Wilcoxon test obtained a p-value of 0.000 (with α = <0.05, p). It can be concluded that there is an influence of hand puppet play therapy and a combination of songs (songs on how to brush teeth properly) on children's tooth brushing ability. The effect of hand puppet play therapy combined with songs can develop students' innovation and creativity. Therefore, providing hand puppet play therapy combined with songs on tooth brushing ability can be effective and enjoyable for respondents, and respondents are not burdened by the ongoing learning process.
Hubungan Parenting dan Peer Attachment Dengan Regulasi Emosi Remaja Pada Santri Usia 15-16 Tahun Di Pondok Putri Hafshawaty Kiki Maulina; Nur Hamim; Nafolion Nur Rahmat
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 11 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i11.2010

Abstract

Remaja menghadapi berbagai tantangan emosional yang kompleks, terutama pada masa transisi menuju kedewasaan. Regulasi emosi yang buruk dapat memicu perilaku menyimpang, menekan atau menghindari emosi, yang berdampak pada munculnya gangguan psikologis seperti kecemasan dan depres. Faktor pola asuh orang tua (parenting) dan kelekatan dengan teman sebaya (peer attachment) memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parenting dan peer attachment dengan regulasi emosi remaja santri usia 15–16 tahun di Pondok Putri Hafshawaty.Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini di lakukan di di pondok putri hafshawaty dengan jumlah populasi 150 remaja santri, Sampel yang digunakan yaitu sebagian remaja santri sejumlah 109 remaja sesuai dengan syarat inklusi dan diambil dengan cara tekhnik simple random sampling. Instrument penelitian menggunakan Kuesioner PAQ (Parental Authority Questionnaire), IPPA (Inventory of Parent and Peer Attachment), dan CERQ (Cognitive Emotion Regulation Questionnaire). Data dianalisis menggunakan uji Spearman Rank untuk analisis bivariat dan regresi logistik ordinal untuk mencari faktor dominan.Hasil penelitian menunjukan dari 109 responden sebanyak 78 responden (71.6%) Menyatakan bahwa Parenting orang tua mengarah ke kategori demokratis, sebanyak 47 responden (43.1%) menyatakan bahwa Peer Attachment mengarah ke kategori tinggi, sebanyak 71 responden (65.1%) bahwa regulasi emosi remaja mengarah ke kategori Baik. Hasil Uji statistik disimpulkan bahwa Terdapat hubungan Parenting orang tua dengan Regulasi emosi remaja pada remaja santri di pondok putri hafshawaty dengan nilai p value 0,000 <0,05, dan terdapat hubungan Peer Attachment dengan Regulasi emosi remaja dengan nilai p value 0,000 <0,05, Faktor yang paling dominan mempengaruhi Regulasi emosi remaja adalah Parenting orang tua.Pola pengasuhan yang demokratis dan hubungan yang sehat dengan teman sebaya berkontribusi positif terhadap kemampuan remaja dalam mengelola emosinya. Hasil ini menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sosial dalam mendukung perkembangan emosional remaja di lingkungan
Hubungan Antara Kualitas Tidur Dan Tingkat Stres, Dengan Kadar Glukosa Darah Pada Pasien DM Tipe 2 Di Rumah Sakit Islam Lumajang Nur Hartatik; Nur Hamim; Alwin Widhiyanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 12 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i12.2016

Abstract

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang memerlukan penatalaksanaan komprehensif, termasuk perhatian terhadap faktor psikologis dan kebiasaan tidur. Kualitas tidur yang buruk dan stres psikologis dapat memengaruhi regulasi glukosa darah, yang pada akhirnya berdampak pada kontrol penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dan tingkat stres dengan kadar glukosa darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Rumah Sakit Islam Lumajang. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Populasi terdiri dari seluruh pasien DM tipe 2 yang dirawat inap pada Maret 2025, dengan total 35 responden yang dipilih melalui total sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kualitas tidur yang buruk (51,4%), tingkat stres sedang (54,3%), dan kadar glukosa darah tinggi (57,1%). Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara kualitas tidur dengan kadar glukosa darah (r = 0,611; p = 0,000), serta antara tingkat stres dengan kadar glukosa darah (r = 0,703; p = 0,000). Koefisien korelasi positif menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas tidur dan semakin tinggi tingkat stres, maka kadar glukosa darah pasien cenderung semakin meningkat. Temuan ini sejalan dengan literatur sebelumnya yang menyatakan bahwa gangguan tidur dan stres berkontribusi pada peningkatan glukosa darah melalui mekanisme hormonal. Oleh karena itu, intervensi manajemen tidur dan stres perlu diintegrasikan dalam perawatan pasien diabetes melitus tipe 2.
Pengaruh Terapi Buteyko Terhadap Dyspnea Pada Pasien Asma Di Rumah Sakit Islam Lumajang Putri Aliya Antasya; Nur Hamim; Alwin widhiyanto
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 4 No. 12 (2025)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jikmc.v4i12.2018

Abstract

Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang ditandai dengan sesak napas akibat penyempitan saluran napas, hiperrespons bronkial, dan hiperventilasi kronis. Salah satu metode nonfarmakologis yang digunakan untuk mengurangi sesak napas pada pasien asma adalah terapi Buteyko, yang berfokus pada pengaturan pernapasan untuk menormalkan kadar karbon dioksida (CO₂) dalam darah. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental dengan One-Group Pretest-Posttest Design. Populasi terdiri dari 32 responden, dengan sampel sebanyak 30 pasien asma yang dirawat di Rumah Sakit Islam Lumajang, dipilih dengan teknik accidental sampling. Kriteria inklusi meliputi pasien berusia 15–44 tahun, bersedia menjadi responden, memiliki riwayat asma atau keluhan sesak napas, serta telah menerima terapi bronkodilator/nebulizer. Data dianalisis menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, 15 responden (50%) mengalami dispnea ringan dan 15 responden (50%) mengalami dispnea sedang. Setelah intervensi, terjadi perbaikan, dengan 13 responden (43,3%) mencapai kategori normal. Uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z sebesar -4,899 dengan signifikansi 0,000 (p < 0.05), yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah intervensi. Temuan ini memperkuat bukti bahwa terapi Buteyko dapat menjadi intervensi nonfarmakologis yang efektif untuk mengurangi dispnea pada pasien asma. Para peneliti meyakini bahwa terapi ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari perawatan komprehensif asma, terutama karena teknik ini sederhana, murah, dan dapat diajarkan kepada pasien untuk praktik mandiri jangka panjang.