p-Index From 2021 - 2026
7.818
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Ahkam: Jurnal Ilmu Syariah DE JURE Al-'Adalah Jurnal KALAM Analisis: Jurnal Studi Keislaman Al-Ulum IJTIHAD Jurnal Wacana Hukum Islam dan Kemanusiaan Research Collections EDUKASI: Jurnal Pendidikan Islam Episteme: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Musawa : Jurnal Studi Gender dan Islam El-Mashlahah Al-Mustashfa PALITA: Journal of Social - Religion Research Ahkam: Jurnal Hukum Islam AL-Hikmah: Jurnal Studi Agama-agama Zawiyah: Jurnal Pemikiran Islam At-Tawassuth: Jurnal Ekonomi Islam Adzkiya : Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah The Journal of Society and Media J-ADIMAS (Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat) Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars KONSEP DAN TUJUAN PADA TINJUAN BISNIS SYARIAH Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan, dan Hukum Islam Ulumuna COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat juremi: jurnal riset ekonomi JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Journal Of Sustainability Perspectives Mazahib: Jurnal Pemikiran Hukum Islam Akademika : Jurnal Pemikiran Islam Journal of Sustainability Perspectives International Journal of Law and Society International Journal of Emerging Research and Review Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Proceeding of International Conference on Humanity Education and Society World Journal of Islamic Learning and Teaching Journal of Islamic Mubādalah Madania: Jurnal Kajian Keislaman LAN TABUR: JURNAL EKONOMI SYARIAH International Journal of Economics and Development Jurnal Ilmiah Ar-Risalah: Media Ke-Islaman, Pendidikan dan Hukum Islam Jurnal Kajian Hukum dan Sosial Jurnal Ilmiah Mizani: Wacana Hukum, Ekonomi Dan Keagamaan Al-Mustashfa: Jurnal Penelitian Hukum Ekonomi Syariah KARSA: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman (Journal of Social and Islamic Culture)
Claim Missing Document
Check
Articles

KAFA’AH IN ISLAM: Towards a Pogressive Interpretation Iffatin Nur
Epistemé: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/epis.2014.9.1.85-116

Abstract

Etimologically, the word kafa’ah means egalitarian, equivalent, comparable, orsimilar. In the constellation of the Islamic thought, kafa’ah is meant that a prospective husband is expected to be comparable to the prospective bride in terms of religion, education, social status, profession, descent/ancestry, independence status, physical-spiritual conditions, wealth, position, degree and so on. It is intended to guarantee the relation between a husband and his wife as well as ensuring a harmony oftheir family life in the future. This article describe about kind of Moslem’s thinker perspective, especially about kafa’ah concept. Some of the recommend a strict implementation of kafa’ah from the point of religion to the factor of wealth that the prospective groom must meet all the detailed requirements; but some others do not give much regards to it. The latter grounds their views on a reason that any Moslem, as long as he is not an adulterer, has the right to marry any Moslem’s woman he want. Kafa’ah secara etimologi berarti egaliter; sepadan; sebanding; semisal. Dalam konstalasi pemikiran Islam, kafa’ah dimaksudkan bahwa seorang calon suami diharapkan sebanding dengan calon istri dalam agama, tingkat pendidikan, status sosial, profesi, keturunan, kemerdekaan, kondisi jasmani-rohani, kekayaan, jabatan, derajat dsb. Hal ini dimaksudkan agar terjaminnya keharmonisan pergaulan suami istri dalam berumah tangga di kemudian hari. Artikel ini coba menguraikan beragam pandangan para pemikir Muslim mengenai konsep kafa’ah. Ada yang mensyaratkan secara ketat pelaksanaan kafa’ah, sejak poin agama sampai poin kekayaan; di mana kriteria calon mempelai laki-laki harus memenuhi secara terinci persyaratan di atas. Namun ada juga yang sama sekali tidak melihat kepentingan kafa’ah ini, dengan alasan Muslim mana saja, asal tidak pezina, memiliki hak untuk menikahi Muslimah yang diinginkannya.
THE IMPACT OF ‘SELFIE’ PHENOMENON AMONG THE MILLENNIAL GENERATION Nur, Iffatin; Muttaqin, Muhammad Ngizzul
MIQOT: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman Vol 44, No 2 (2020)
Publisher : State Islamic University North Sumatra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/miqot.v44i2.710

Abstract

Abstract: The phenomenon of selfie among the millennial generation has become a very common thing to do. In the study of contemporary Islamic law, the approach of maqâshid syarî‘ah that seeks to gain mashlahât (benefits) and avoids mafsadât (harms) in human life may be used as a special consideration for dealing with the said phenomenon. This literature-based study was aimed to uncover the said phenomenon by reviewing it using mashlahât and mafsadât approaches. The results of the study indicate that the said approaches have urgency as a means of control against the selfie phenomenon practiced by the current millennial generation. Selfie should only be done if it brings benefits and goodness (mashlahât), otherwise, it must be avoided.Keywords: selfie, millennial generation, Islamic law, mashlahât, mafsadât
Navigating Early Marriages: A Methodological Breakthrough in Family Resilience Measurement Qomaro, Galuh Widitya; Nasrulloh, Nasrulloh; Hasyim, Muh. Fathoni; Nur, Iffatin
Mazahib Vol 23 No 2 (2024): VOLUME 23, ISSUE 2, 2024
Publisher : Fakultas Syariah UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/mj.v23i2.8027

Abstract

This article explores early marriage in Madura. Early marriage causes psychological problems and physical and material losses that are not in line with the purpose of family formation in Islam. Using a mixed method approach, this article utilizes questionnaires, interviews, observations, and documentation obtained using Structural Equation Modeling with the Partial Least Square approach equipped with qualitative analysis. The achievement of family formation goals is measured using Maqāsid Al-Usrah indicators by Jamal Al-Din 'Atiyah Muhammad. The measurement results indicate that early marriage families in the Madura Muslim community achieve family formation goals to ensure human life continuity, regulate male-female relationships, maintain lineage clarity, and preserve religiosity within the family. At a methodological level, this research contributes to various models for measuring family resilience in establishing and building a family. Based on reliability and validity tests, all indicators of maqāsid al-usrah’s Jamal Al-Din ‘Atiyah Muhammad are declared valid and reliable so that they can be used to measure the achievement of family formation goals in other subjects in further research studies.
Konstruksi Ekonomi Islam Berbasis Interdisipliner: Studi Islam dan Maqashid Syariah Ubaidillah, Ubaidillah; Nur, Iffatin; Anshor, Ahmad Muhatdi
Adzkiya : Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol 12 No 2 (2024): Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Meto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/adzkiya.v12i2.9431

Abstract

Abstrak Diskursus ekonomi pembangunan berbasis interdisipliner merupakan terobosan yang relatif baru untuk mencapai beberapa dimensi antara lain: keseimbangan material dan spiritual, serta keseimbangan moralitas seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan interdisipliner awal mulanya diprakarsai oleh Harun Nasution hingga sekarang semakin masyhur seiring laju era modern. Harus disadari corak kajian doktrinal tradisional tidal lagi memadai dalam kajian ekonomi Islam, sehingga perlu kolaborasi disiplin ilmu yang terpadu (interdisipliner) dalam meresponi dan menyahuti pembangunan ekonomi Islam. Peneliti akan mencoba menyumbangkan pemikiran tentang konstruksi ekonomi Islam berbasis interdisipliner yang dikaji dari sudut pandang maqashid al-syariah dan studi Islam. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif dan data yang diperoleh tentunya bersifat dharuriyat dengan cara pengumpulannya melalui analisis isi yang bersifat pembahasan mendalam. Hasil penelitian adalah pelaksanaan pembangunan ekonomi Islam harus didasarkan pada prinsip-prinsip seperti pandangan dunia, manusia sebagai pelaku pembangunan, Sifat Ruh, dunia dan akhirat sebagai skala waktu, ilmu sebagai pedoman, ibadah sebagai landasan pembangunan, sumber daya alam sebagai sarana, dan ridho Allah sebagai tujuan. akhir pembangunan.  
Konstruksi Ekonomi Islam Berbasis Interdisipliner: Studi Islam dan Maqashid Syariah Ubaidillah, Ubaidillah; Nur, Iffatin; Anshor, Ahmad Muhatdi
Adzkiya : Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah Vol 12 No 2 (2024): Adzkiya: Jurnal Hukum dan Ekonomi Syariah
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Meto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32332/adzkiya.v12i2.9431

Abstract

Abstrak Diskursus ekonomi pembangunan berbasis interdisipliner merupakan terobosan yang relatif baru untuk mencapai beberapa dimensi antara lain: keseimbangan material dan spiritual, serta keseimbangan moralitas seluruh pemangku kepentingan. Pendekatan interdisipliner awal mulanya diprakarsai oleh Harun Nasution hingga sekarang semakin masyhur seiring laju era modern. Harus disadari corak kajian doktrinal tradisional tidal lagi memadai dalam kajian ekonomi Islam, sehingga perlu kolaborasi disiplin ilmu yang terpadu (interdisipliner) dalam meresponi dan menyahuti pembangunan ekonomi Islam. Peneliti akan mencoba menyumbangkan pemikiran tentang konstruksi ekonomi Islam berbasis interdisipliner yang dikaji dari sudut pandang maqashid al-syariah dan studi Islam. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan deskriptif dan data yang diperoleh tentunya bersifat dharuriyat dengan cara pengumpulannya melalui analisis isi yang bersifat pembahasan mendalam. Hasil penelitian adalah pelaksanaan pembangunan ekonomi Islam harus didasarkan pada prinsip-prinsip seperti pandangan dunia, manusia sebagai pelaku pembangunan, Sifat Ruh, dunia dan akhirat sebagai skala waktu, ilmu sebagai pedoman, ibadah sebagai landasan pembangunan, sumber daya alam sebagai sarana, dan ridho Allah sebagai tujuan. akhir pembangunan.  
ﻫندسة أصول الفقه: نحو مقاربة إندونيسية للاجتهاد Nur, Iffatin; Ali, A. Muhdhor
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 26, No 1 (2022): JUNE
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v26i1.3801

Abstract

لقد دون علم أصول الفقه من قبل مذاهب شىت بما فيها من تعدد مناهج االجتهاد واالستنباط. كما شهدت القرون الوسطى تطورا هائال حيث ظهرت ونشأت فيها نظريات ومقاربات يف جمال استنباط األحاكم أصوال وفقها. غري أن هناك فجوتني إقليمية وزمانية بني إندونيسيا والقطر العريب الواقع فيه ذاك اتلطور، األمر اذلي يعرقل تطبيق األحاكم املستنبطة وعالجا للقضايا الفقهية بإندونيسيا من ًّ بشلك اكمل شامل. فانطالقا من هذا، احلاجة ماسة إىل صياغة مقاربة أرخبيلية حل خالل صياغة منهج جديد يسىم بدمج املصدرين أو يقال بادلمج بني املصدرين. ويتم تنفيذه عرب دمج مصدرين هما مصادر الترشيع اإلساليم والترشيع القانوين حفاظا ىلع االستقرار وصيانة للبالد عن االنهيار. بناء ىلع احلجة السابقة، استند هذا ابلحث ىلع دراسة استقصائية بتحليل املقارب الفقيه يف العرب واندونيسيا. من خالل ذلك املنهج، قصد ابلحث يلكشف موضوع الفقه العرب كمرجع يف صياغة الفقه بمنهج االجتمايع واثلقايف للمجتمع اإلندونييس. استنتج هذا ابلحث بأن ً بني مصادر الفقه اإلساليم ومصادر القانون الشعب اإلندونييس كجهد إلنشاء منتجات الفقهية اتلكيفية هناك تكامل يف إندونيسيا. The methods of ijtihâd and istinbâth have been adopted and practiced by all schools of thought of Islamic jurisprudence (madzhab fiqh). The Middle Ages witnessed a tremendous development in which theories and approaches emerged in the field of istinbâth al-ahkâm (deducing legal provisions) both in ushûl (principles) and fiqh (Islamic jurisprudence). However, there are two gaps, regional and temporal ones, between Indonesia and Arabian countries where that development took place. These have been impeding the application of those developed provisions fully and comprehensively. From this point of view, there is an urgent need to formulate an archipelagic (Nusantara, Ind.) approach to solve the issues of jurisprudence in Indonesia through the formulation of a new approach by integrating or merging 2 (two) legal sources. It is implemented through the integration of two sources, the Islamic and Indonesian legislation sources with the purposes of preserving the country’s stability and preventing it from its collapse. According to the above argumentation, this study is carried out through a literature review with an analytical study on the fiqh approach in Arab and Indonesia. This is then intended to conduct a study of fiqh in Arab countries as the reference to formulate fiqh with the sociocultural approach of the Indonesian society. The findings indicates that there is an integration between the source of Islamic law and the Indonesian law as an effort to build an adaptive product of fiqh in Indonesia.
Bermedia Sosial dalam Perspektif Maqashid Syari'ah (Membangun Komunikasi di Media Sosial Berdasarkan Etika) Nur, Iffatin; Muttaqin, Muhammad Ngizzul
Palita: Journal of Social Religion Research Vol. 5 No. 1 (2020): Palita: Journal of Social Religion Research
Publisher : LP2M IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/pal.v5i1.1090

Abstract

Abstrak[English]: Millennial era is always synonymous with the advancement of various lines of technology, including the development of modern telecommunications tools that lead to social media activities. Different groups almost enjoy today’s social media activities without exception. However, the impact of social media activities has led to various aspects of positive progress as well as an effect on harmful elements in the form of mutual ridicule, hoax news, and so forth. Maqashid syari’ah as the final value of the provisions of the Islamic law that carries the amount of protection of personal interests and the public interest is expected to be a response to social media activities today. As a literature-based study and literature review, this paper is expected to be able to contribute ideas and provide a solution to the various negative impacts of social media activities that occur at this time.Abstrak[Indonesia]: Era milenial selalu identik dengan kemajuan berbagai lini teknologi, tidak terkecuali berkembangnya alat telekomunikasi modern yang menimbulkan aktivitas media sosial. Aktivitas media sosial hari ini hampir dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa terkecuali. Namun demikian, dampak dari aktivitas media sosial telah menimbulkan berbagai aspek kemajuan yang positif maupun berdampak pada aspek negatif berupa saling mencemooh, berita hoax dan lain sebagainya. Maqashid syari’ah sebagai nilai akhir dari ketentuan hukum Islam yang mengusung nilai perlindungan terhadap kepentingan pribadi dan kepentingan umum diharapkan bisa menjadi sebuah respon atas aktivitas bermedia sosial hari ini. Sebagai kajian berbasis literatur dan kajian pustaka, tulisan ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pemikiran dan memberikan sebuah solusi atas berbagai dampak negatif dari aktivitas media sosial yang terjadi saat ini.
A Genealogical Analysis on the Concept and Development of Maqaṣid Syarī‘ah Nur, Iffatin; Abdul Wakhid, Ali; Handayani, Lestari
al-'adalah Vol 17 No 1 (2020): al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v17i1.6211

Abstract

Maqāṣid syarī‘ah has a tremendous urgency to the process of Islamic law’s adaptability and modernization, especially in response to the increasingly complicated and crucial human problems where the treasures of classical fiqh are no longer capable to answer them. This paper studies a genealogical analysis to answer the question about the origin of the concept of maqāṣid syarī‘ah by uncovering its embryo and genes of this completely new concept. It was library research employing discourse analysis. Primary and secondary sources of works from previous and contemporary Muslim scholars discussing maqāṣid were studied and analyzed using Gadamer’s hermeneutics. The study found that from the historical perspective, maqāṣid syarī‘ah did not just emerge at the time of al-Syaṭibi, but, based on empirical data, it had been present long before his time. The literature analysis on uṣūl fiqh concluded that the figures before al-Syaṭibi had developed some works that were actually in the area of the essential and substantial values of maqāṣid syarī‘ah, however, they presented them using other words and terms so that they were considered as not of maqāṣid syarī‘ah.
Childfree: Between the Sacredness of Religion, Law and the Reality of Society Nurjanah, Siti; Nur, Iffatin
al-'adalah Vol 19 No 1 (2022): AL-'ADALAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v19i1.11962

Abstract

One of the fundamental problems of a cultural shift in the contemporary era today is the existence of a phenomenon that is contrary to the norm. One of them is the childfree phenomenon with the main goal being the voluntary choice not to have children in a family. Seeing this phenomenon, it seems that it has brought about a shift that must be answered from the perspective of religion, Islamic law, and the reality of society. This is because so far the position of children in religion, law, and the reality of society is a group that must be protected. With the above problems, this study aimed to formulate an approach to the childfree phenomenon from the point of view of Islamic law, particularly the objectives of Islamic law (maqāshid sharī'ah) and the reality of society. Through literature review and literature study, this study finds that the main dimensions of the Islamic law approach model based on maqashid shari'ah and the reality of society are based on the benefit to be addressed and are in line and tandem with the reality of society. The phenomenon of being childfree is contrary to the mission and objectives of maqāshid sharī'ah and the reality of society. The conclusion of this study has strengthened the discourse of an Islamic Law study on the childfree phenomenon as one of the contemporary phenomena that should be responded to by using the perspective of benefits to people. Salah satu problem mendasar dari pergeseran budaya di era kontemporer saat ini adalah adanya fenomena yang berseberangan dengan kelaziman. Salah satunya adalah adanya fenomena childfree dengan tujuan utamanya adalah peniadaan anak dalam sebuah keluarga. Melihat fenomena tersebut, nampaknya membawa arus pergeseran yang harus dijawab oleh kaca mata agama, hukum Islam, dan realitas masyarakat. Hal ini dikarenakan selama ini posisi anak dalam agama, hukum, dan realitas masyarakat merupakan kelompok yang harus dilindungi. Dengan problem di atas, kajian ini bertujuan untuk merumuskan pendekatan terhadap fenomena childfree dengan kaca mata hukum Islam, terkhusus tujuan hukum Islam (maqashid syari’ah) dan realitas masyarakat. Melalui kajian pustaka dan studi literatur, kajian ini menemukan bahwa dimensi utama model pendekatan hukum Islam berbasis maqashid syari’ah dan realitas masyarakat didasarkan oleh kemaslahatan yang hendak dituju dan sejalan serta beriringan dengan realitas masyarakat. Terhadap fenomena childfree, childfree bertentangan dengan misi dan tujuan maqashid syari’ah dan realitas masyarakat. Kesimpulan dalam kajian ini telah menguatkan diskursus kajian hukum Islam bahwa fenomena childfree merupakan satu dari fenomena kontemporer yang harus direspon dengan kaca mata kemaslahatan dalam masyarakat.
PEMBAHARUAN KONSEP KESEPADANAN KUALITAS (KAFAA’AH) DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS| Nur, Iffatin
KALAM Vol 6 No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v6i2.413

Abstract

Dewasa ini muncul pemikiran yang berupaya mendekonstruksi konsep Kafa’ah karena dinilai bias dan sudah tidak memadai untuk kondisi masyarakat saat. Padahal, sebagian ulama tradisional menempatkan Kafa’ah pada wilayah sakral, sehingga tidak mungkin didekonstruksi. Artikel ini akan membahas konsep Kafa’ah dalam perspektif al-Qur’an dan Hadis serta implikasinya dalam pernikahan. Kafa’ah mengandung makna seorang calon suami diharapkan sebanding dengan calon istri dalam agama, tingkat pendidikan, status sosial, profesi, keturunan, kemerdekaan, kondisi jasmani-rohani, kekayaan, jabatan; derajat dan sebagainya. Untuk mengembangkan progresifitas egalitarianitas-muslimah di satu sisi dan terhindarnya liberalitas laki-laki di sisi lain, maka ukuran Kesepadanan Kualitas Mempelai (kafa’ah), perlu disederhanakan menjadi dua saja, yaitu; pertama penilaian soal agama, dan yang kedua Hasil Kesepakatan unsur mempelai. Al-Qur’an memberi tuntunan hanya agama yang tidak dapat ditawar-tawar, sedangkan yang lain bersifat relatif. Seharusnya wanita berperan utama dalam menetapkan usulan kriteria kafa’ah selain agama. Ini semua diperlukan sebagai upaya mencapai kemaslahatan, sekaligus untuk mengembangkan progresifitas muslimah..
Co-Authors A. Muhdhor Ali A. Zaky Fuad Abdul Aziz Abdul Hakam Sholahuddin Abdul Mun’im Saleh Agus Machfud Fauzi Ahmad Muhtadi Anshor Ahmad Ridwan Ahmad Ridwan Ahyak Ahyak Akhmad Rizqon Khamami Ali Abdul Wakhid Ali, A. Muhdhor Anak Agung Gede Sugianthara Anshor, Ahmad Muhatdi Anusantari, Inama Ma Asmawi Mahfudz Asmik Nasikah Budi Kolistiawan Dede Nurrahman Divia Nur Alan Nur Ilmas Eufrasia Kartika Hanindraputri Fatkul Hidayat Fuad, A. Zaky Galuh Widitya Qomaro Haniefa Nuruddienil Fithriy Hasnizam Hashim Hazim Hazim Hiba Fajarwati Hiba Fajarwati Hiba Fajarwati Hidayat, Fatkul Holik, Abd. Hosaini Ilmas, Divia Nur Alan Nur Indri Hadisiswati Intan Putri Fadillah Jidan Ahmad Fadillah Jusuf Satriani Khamami, Achmad Rizkon Lailita Fitriani Lestari Handayani Lilis Hidayati Yuli Astutik Luthfa Surya Anditya M. Ngizzul Muttaqien M. Ngizzul Muttaqin Mansur, ubaidillah Martha Eri Safira Mashuri Mashuri Mashuri Mashuri Minahus Saniyyah Moch. Nurcholis Moh. Huda Mohamad Badrus Mohammad Reevany Bustami Muflihatul Bariroh Muh Fathoni Hasyim Muhammad Diyaulhaq Rais Muhammad Ibtihajuddin Muhammad Ngizzul Muttaqin Muhammad Ngizzul Muttaqin Muhammad Thufaili Ubaidillah Munardji Munarji Munarji Muttaqin, M. Ngizzul Muzayyanah Muzayyanah Nahdhiyanto, Ahmadi Abdul Shomad Faiz Nasrulloh Nasrulloh Nicken Nawang Sari Novi Fitia Maliha Putri, Allysa Novita Raihanah binti Abdullah Reni Dwi Puspitasari Rifa'atul Mahmudah Rohmatulloh Rohmatulloh Sajida Sanata Islam Siti Marpuah Siti Nur Fitriana Siti Nurjanah Siti Nurjanah Sri Rahayu Syahrul Adam Syamsu Ni'am Teguh Teguh Teguh, Teguh Ubaidillah Ubaidillah Umi Nurul Laelatul’zah Uswatul Khasanah Zainur Rofik