I Made Suyasa
Universitas Muhammadiyah Mataram

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

UTILIZATION OF MADING SCHOOL AS AN EFFORT TO IMPROVE CREATIVE WRITING SKILLS OF HIGH SCHOOL STUDENTS Nurmiwati Nurmiwati; Baiq Desi Milandari; Roby Mandalika Waluyan; Arpan Islami Bilal; I Made Suyasa
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 4, No 3 (2021): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v4i3.5657

Abstract

Abstrak: Menulis merupakan salah satu kegiatan yang begitu kompleks. Dengan sifatnya yang kompleks tersebut, banyak siswa yang belum mampu melakukan kegiatan menulis secara baik. Ketidak mampuan tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu, kurangnya intensitas kegiatan menulis bagi siswa serta Kurangnya media dalam menyalurkan kreativitas siswa dalam kegiatan tulis menulis. Untuk itu, tim melakukan kegiatan pengabdian berupa pemanfaatan majalah dinding (mading) sekolah sebagai upaya meningkatkan keterampilan menulis kreatif siswa di SMA Negeri 1 Gunungsari. Adapun hasil dari kegiatan pengabdian ini  sebagai berikut: 1) Pada pertemuan I, tim menjelaskan tentang prosedur kegiatan dan apa saja yang akan dilakukan oleh mitra selama kegiatan pengabdian ini berlangsung; 2) pertemuan II, tim menyampaikan materi tentang majalah dinding serta bagaiamana proses memuat majalah dinding; 3) Pertemuan III berisi tentang kegiatan penyiapan serta pengumpulan bahan melaui kegiatan menulis kreatif yang dilakukan oleh siswa; dan 4) pertemuan IV dilakukannya produksi majalah dinding pada etalase-etalase yang ada di lingkungan sekolah.Abstract: Writing is one of the most complex activities. many students have not been able to do writing activities well. The cause is the lack of intensity of writing activities for students and the lack of media in channeling students' writing creativity. Therefore, the team carried out community service activities in the form of using school bulletin boards as an effort to improve students' creative writing skills at SMA Negeri 1 Gunungsari. The results of this service activity are as follows: 1) the first meeting, the team explained about the activity procedure and what the partners would do during this service activity; 2) the second meeting, the team delivered material about school bulletin boards and how the process of loading school bulletin boards was; 3) third meeting contains the preparation and collection of materials through creative writing activities carried out by students; and 4) the fourth meeting, the production of wall magazines was carried out in the windows in the school environment.
THE US OF GADGETS WISELY DURING THE COVID-19 PANDEMIC IN JUNIOR HIGHT SCHOOL STUDENTS Linda Ayu Darmurtika; Akhmad Akhmad; I Made Suyasa; Halus Mandala; Zedi Muttaqin
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 1 (2022): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i1.6185

Abstract

Abstrak: Gawai atau dalam bahasa Inggris gadget yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus, merupakan salah satu bagian dari teknologi yang dapat membantu berbagai kegiatan manusia. Penggunaan gawai dimasa pandemi Covid-19 banyak disalahgunakan oleh pelajar, seperti bermain game, karena pembelajaran dilakukan secara daring (dalam jaringan). Penggunaan gawai tidak sepenuhnya salah, melainkan diperlukan sikap bijak untuk menyikapi hal tersebut, sehingga tidak menimbulkan akibat yang fatal bagi kesehatan fisik maupun mental. Sebagai perangkat elektronik yang praktis, gawai memiliki sisi positif dan negatif dan hal terpenting yaitu memiliki sikap yang mampu membatasi diri, sehingga segala hal yang dilakukan tidak berlebihan dan mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Berdasarkan fenomena tersebut, maka tim tergerak untuk mensosialisasikan pentingnya penggunaan gawai dengan bijak, seperti yang diketahui, bahwa anak usia remaja senang menggunakan gawai hanya untuk bermain game dan sosial media.Abstract:  A gadget or in English gadget which means a small electronic device that has a special function, is one part of technology that can help various human activities. The use of gadgets during the Covid-19 pandemic is widely misused by students, such as playing games, because learning is done online (on a network). The use of gadgets is not entirely wrong, but a wise attitude is needed to respond to it, so that it does not cause fatal consequences for physical and mental health. As a practical electronic device, gadgets have positive and negative sides and the most important thing is to have an attitude that is able to limit oneself, so that everything that is done is not excessive and interferes with teaching and learning activities. Based on this phenomenon, the team was moved to socialize the importance of using gadgets wisely, as it is known that teenagers like to use gadgets only for playing games and social media.
Artikulasi Sastra Melayu dalam Tradisi Lisan Sasak di Lombok I Made Suyasa
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i1.8352

Abstract

Abstrak: Khazanah kebudayaan Melayu sebagai warisan yang begitu kaya dijumpai melimpah hampir di seluruh Nusantara. Warisan tersebut tidak hanya dari sisi bahasanya tetapi berbagai kesusastraan Melayu aneka ragam ditulis dalam rentang jaman yang begitu panjang di berbagai daerah Nusantara. Luasnya wilayah penggunaan bahasa Melayu hingga pengaruh budayanya terasa hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara. Perkembangan tersebut telah mempengaruhi pula budaya-budaya daerah yang sebelumnya  telah dibangun dengan fondasi budayanya  masing-masing. Pengaruh kebudayaan Melayu dalam bentuk kesusastraan dapat ditemukan hampir di seluruh Nusantara, termasuk di pulau Lombok yang mayoritas Islam telah mempraktekkan dalam bentuk tradisi lisan bakayat. Tradisi ini telah berkembang sejak abad XVI dan digunakan sebagai media da’wah dan si’ar Islam oleh para tokoh agama saat itu. Tingginya apresiasi masyarakat Sasak terhadap karya-karya sastra Melayu (Islam), dan praktek artikulasi yang dibangun antara penyatuan nilai-nilai religius yang terkandung di dalamnya dengan tradisi adat Sasak serta wacana sosial yang berkembang menjadikan bakayat sebagai identitas budaya Sasak. Artikulasi yang terjadi dalam tradisi bakayat Sasak tidak bersifat tetap dan selalu didasarkan pada kepentingan, dan tradisi tersebut akan terus diartikulasi dan direartikulasi sesuai situasi dan kondisi yang ada. Abstract: The treasures of Malay culture as a rich heritage are found in abundance in almost all over the archipelago. This legacy is not only in terms of language but various Malay literatures written in a very long span of time in various regions of the archipelago. The extent of the area of the use of the Malay language so that its cultural influence is felt in almost the entire Southeast Asian region. These developments have also influenced regional cultures that had previously been built with their respective cultural foundations. The influence of Malay culture in the form of literature can be found almost throughout the archipelago, including on the island of Lombok, where the majority of Muslims have practiced it in the form of the bakayat oral tradition. This tradition has developed since the sixteenth century and was used as a medium for preaching and spreading Islam by religious leaders at that time. The high appreciation of the Sasak people towards Malay (Islamic) literary works, and the practice of articulation built between the unification of the religious values contained therein with Sasak traditional traditions and the growing social discourse makes bakayat a Sasak cultural identity. Articulation that occurs in the Sasak bakayat tradition is not permanent and is always based on interests, and the tradition will continue to be articulated and re-articulated according to the existing situation and conditions. 
Alih Fungsi Masjid Kuno Gunung Pujut pada Masyarakat Desa Sengkol Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Linda Ayu Darmurtika; I Made Suyasa; Arpan Islami Bilal; Halus Mandala
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 6, No 2: Juli 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v6i2.5474

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan faktor penyebab terjadinya alih fungsi Masjid Kuno Gunung Pujut pada Masyarakat Desa Sengkol Kecamatan Pujut. Target penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah tulisan ini dapat terbit dalam jurnal nasional terakreditasi Sinta. Penelitian ini merupak penelitian kualitatif, adapun metode yang digunakan dalam mencapai tujuan tersebut, meliputi 1) metode penentuan subjek penelitian, 2) metode pengumpulan data, dan 3) metode analisis data. Metode penentuan subjek penelitian menggunakan purposive sample yaitu memilih informan sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam hal ini, informan yang dipilih adalah tokoh adat setempat yang betul-betul mengetahui tentang bentuk dan faktor penyebab terjadinya alih fungsi Masjid Kuno Gunung Pujut. Metode pengumpulan data yang digunakan, yakni metode observasi, metode wawancara, dan metode dokumentasi. Sementara itu, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang mendukung data primer. Analisis data dilakukan dengan menjelaskan, menguraikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data, yakni tentang bentuk dan faktor penyebab terjadinya alih fungsi Masjid Kuno Gunung Pujut pada masyarakat Desa Sengkol. The purpose of this study was to describe the form and factors causing the conversion of the function of the Gunung Pujut Ancient Mosque in the Sengkol Village Community, Pujut District. The research target to be achieved in this research is that this paper can be published in an accredited national journal Sinta. This research is a qualitative research, while the methods used in achieving these goals include 1) the method of determining the research subject, 2) the method of data collection, and 3) the method of data analysis. The method of determining the research subject uses a purposive sample, namely selecting informants according to the research objectives. In this case, the selected informants are local traditional leaders who really know about the form and factors that cause the conversion of the Gunung Pujut Ancient Mosque. Data collection methods used, namely the method of observation, interview method, and method of documentation. Meanwhile, the documentation method is used to obtain data that supports primary data. Data analysis was carried out by explaining, describing, analyzing, and interpreting the data, namely about the form and factors causing the conversion of the Gunung Pujut Ancient Mosque in the Sengkol Village community.
Meningkatkan Kemampuanan Menulis Puisi Melalui Metode outbound pada Siswa Kelas IX SMPN 5 Praya Timur Lombok Tengah Arpan Islami Bilal; Linda Ayu Darmurtika; I Made Suyasa
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 5, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.43 KB) | DOI: 10.31764/telaah.v5i1.1679

Abstract

Abstrak: Sebagai upaya meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas IX SMPN 5 Praya Timur Lombok Tengah, maka salah satu pilihan tepat adalah dengan melakukan kegiatan pembelajaran di luar kelas melalui pemanfaatan keunggulan alam sebagai sumber belajar (outbond). Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu, bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis puisi melalui metode outbound pada siswa Kelas IX SMPN 5 Praya Timur Lombok Tengah. tahun pelajaran 2014-2015?. Tujuan penelitian ini yaitu, untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi melalui metode outbound pada siswa Kelas IX SMPN 5 Praya Timur Lombok Tengah. Jenis penelitian yang digunakan adalah PenelitianTindakanKelas (PTK). Metode pengumpulan data dalam peneltian ini yaitu, metode observasi, metode tes, dan metode dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa, pada siklus satu diperoleh nilai rata-rata 62 dengan ketuntasan klasikal sebesar 63,33%, mengalami peningkatan pada siklus dua diperoleh nilai rata-rata 77 dengan ketuntasan klasikal sebesar 90%, sehingga terlihat bahwa presentasi ketuntasan belajar siswa pada siklus II sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan yakni ≥ 85%, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode outbound dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi pada siswa kelas IX SMPN 5 Praya Timur Lombok Tengah. Abstract: As an effort to improve poetry writing skills in class IX SMPN 5 Praya Timur Central Lombok, then one of the right choices is to conduct learning activities outside the classroom through the utilization of natural excellence as a Learning resource ( Outbound). The problem formulation in this research is how the improvement of poetry writing skills through outbound method in students of class IX SMPN 5 Praya Timur Central Lombok. Lesson year 2014-2015?. The purpose of this research is to improve poetry writing skills through the outbound method in students of class IX SMPN 5 Praya East Lombok. The type of research used is Class Action Research (PTK). The methods of collecting data in this study include observation methods, test methods, and documentation methods. Based on the results of the study, it can be concluded that, on one cycle was obtained an average value of 62 with a classical-proof of 63.33%, increased in cycles of two achieved an average value of 77 with a classical lead of 90%, So it is seen that the presentation of learning to learn students in cycle II already meet the stipulated criteria of ≥ 85%, thereby concluded that the application of the outbound methods can improve poetry writing skills in class IX students SMPN 5 Praya Timur Central Lombok. 
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM SESENGGAK SASAK PADA MASYARAKAT PUJUT KAB. LOMBOK TENGAH Roby Mandalika Waluyan; I Made Suyasa; Akhmad H Mus
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 6, No 1: Januari 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v6i1.3866

Abstract

Sebagai karya masa lampau, sesenggak sasak merupakan salah satu Aspek budaya yang muncul berdasarkan motivasi kreasi ide dan karya masyarakat pendukungnya. Secara harfiah sesenggak sasak belum banyak dikenal orang terutama kalangan generasi muda. Oleh karena itu sesenggak sasak sangat membutuhkan perhatian khusus dari berbagai pihak. Hasil penelitian ini di harapkan dapat membantu menyelamatkan sesanggak sasak ( ungkapan tradisional sasak ) dari kepunahan. Teori-teori yang digunakan untuk menganalisis data penelitian ini adalah teori analisis oleh Kerlinger dan sumber lainnya, nilai oleh Schwartz dan sumber lainnya, pendidikan menurut bahasa yunani, moral oleh Nurgiyantoro dan Hornby, Garanby, dan Wake field, ungkapan oleh Cervantes, kegiatan struktural oleh Ali, kajian fungsi oleh Merton, teori semiotik oleh Reffaterre.Lokasi penelitian ini adalah di desa Sengkol, Teruwai, dan desa Gapura di mana penelitian ini banyak dilakukan di desa sengkol mengingat desa sengkol merupakan ibu kota kecamatan Pujut. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode observasi, dokumentasi, dan wawancara, dan metode terjemahan yaitu metode penterjemahan semantik ( semantic trasn location ).Data dan sumeber data dalam penelitian ini menggunakan dua macam yaitu data primer dan data sekunder. Data yang sudah terkumpul di analisis menggunakan metode kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bagian structural dalam sesenggak ( ungkapan tradisional ) berupa diksi, tipologi, pola kalimat, dan gaya bahasa, diksi menjelaskan tentang kata-kata atau pilihan kata yang digunakan dalam ungkapan tradisional. Tipologi dalam sesenggak sasak kabupaten Lombok tengah terdiri atas 3 macam yaitu tradisi atas 2 kata, 3 kata dan 4 kata. Pola kalimat dalam pembentukan sesenggak sasak kabupaten Lombok tengah terdiri dari 9 pola pembentuk yaitu kata benda – kata benda, kata kerja, kata benda, kata kerja – kata sifat, kata sifat – kata benda – kata benda – kata kerja, kata kerja – kata kerja, kata sifat – kata kerja. Gaya bahasa dalam sesenggak ini terdiri dari 4 gaya bahasa yaitu simile, terdiri dari 2 sesenggak, antithesis 2 sesenggak, ironi 14 sesenggak dan repetisi 4 sesenggak. Sebelum menganalisis nilai-nilai ke pendidikan dalam sesenggak sasak terlebih dahulu yang di lakukan adalah menganlisis makna yang terkandung dalam sesenggak berupa nilai pendidikan moral dan social. Nilai pendidikan tradisional 10 sesenggak, moral terdiri atas 8 sesenggak dan sosial 5 sesenggak.
Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita Menggunakan Media Kartu Karakter (Kater) Syafruddin Muhdar; I Made Suyasa; Halus Mandala; Akhmad H Mus
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 1: Januari 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i1.7539

Abstract

Abstrak: Secara umum pembelajaran di Indonesia lebih menekankan kepada aspek kognitif. Pada aspek ini siswa diajarkan bagaimana menjawab serangkaian soal dengan benar sesuai bahan bacaan yang telah dipelajarinya. Sangat jarang siswa dilatih untuk menumbuhkan kemampuan untuk berkreatifitas sendiri. Hal inilah yang menyebabkan siswa menjadi ketergantungan terhadap buku ajar dan sulit mengungkapkan pikiran atau pun gagasan di luar buku yang telah diajarkan oleh guru mereka. Hal inilah yang menyebabkan siswa SD sebenarnya lebih berpotensi untuk mengembangkan kreatifitasnya tetapi terkendala oleh sistem pembelajaran yang kaku tadi.Padahal pembelajaran menulis cerita berkenaan dengan pengalaman  pribadi bisa menjadi pembelajaran yang sangat menyenangkan apabila guru dapat menciptakan suasana yang menyenangkan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classroom Based Action Research ) dengan peningkatan pada unsur kemampuan belajar siswa untuk memungkinkan diperolehnya gambaran  keefektifan  tindakan yang dilakukan. Subjek penelitian adalah siswa kelas V SDN 1 Jerowaru. Prosedur penelitian ini dilaksanakan  menggunakan 4 tahapan yang terdiri dari : Rencana, Tindakan, Observasi dan Refleksi. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti menarik kesimpulan yaitu pembelajaran dengan menggunakan media kartu karakter mampu meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa di SDN 1 Jerowaru. Peningkatan tersebut dapat dilihat dan dibuktikan dari adanya peningkatan persentase dari sebelum tindakan, setelah dilakukan tindakan pada Siklus I dan setelah dilakukan tindakan pada Siklus II. Siswa mengalami peningkatan kemampuan, ini dapat dilihat pada hasil pra tindakan sebesar 57,5%, pada Siklus I sebesar 87,5%, dan pada Siklus II sebesar 97,5%. Abstract: In general, learning in Indonesia places more emphasis on cognitive aspects. In this aspect, students are taught how to answer a series of questions correctly according to the reading material they have studied. It is very rare for students to be trained to cultivate the ability to be creative on their own. This is what causes students to become dependent on textbooks and find it difficult to express thoughts or ideas outside of the books that have been taught by their teachers. This is what causes elementary school students to actually have more potential to develop their creativity but are constrained by the rigid learning system. In fact, learning to write stories related to personal experiences can be very enjoyable learning if the teacher can create a pleasant atmosphere. This study uses a classroom action research design (Classroom Based Action Research) with an increase in the elements of student learning abilities to enable an overview of the effectiveness of the actions taken. The research subjects were fifth grade students at SDN 1 Jerowaru. This research procedure was carried out using 4 stages consisting of: Plan, Action, Observation and Reflection. Based on the results of the research and discussion, the researchers concluded that learning using character card media was able to improve students' story writing skills at SDN 1 Jerowaru. This increase can be seen and proven from the percentage increase from before the action, after the action in Cycle I and after the action in Cycle II. Students experience an increase in ability, this can be seen in the results of pre-action by 57.5%, in Cycle I by 87.5%, and in Cycle II by 97.5%.
Kelisanan dan Keberaksaraan dalam Bakayat Sasak di Lombok I Made Suyasa; Roby Mandalika Waluyan
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 5, No 2: Juli 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v5i2.2631

Abstract

Bakayat adalah tradisi lisan masyarakat Sasak di Lombok yang berupa pembacaan hikayat/syair dengan cara menembangkan kemudian diikuti terjemahan dan penafsiran secara bergantian oleh penembang dan pengarti (bujangge).Bakayatsebagai bentuk apresiasi masyarakat Sasak terhadap teks-teks sastra tulis yang diterjemahkan dan ditafsirkan dalam bentuk lisan oleh pelaku bakayat secara lebih dalam, filosofis, dan sufistik hingga teks menjadilebih bermakna bagi kehidupan masyarakatnya. Kehadiran bakayat bukan hanya sebagai media dakwah, namun  mampu menyatu dengan kehidupan ritual adat keagamaan masyarakat suku Sasak dan membangun silaturrahmi dalam bentuk berkesenian. Kelisanan dan keberaksaraan masih tetap berkembang dalam masyarakat Indonesia karena keduanya saling mendukung, hal ini menjadikan kebudayaan khirografik mendapat tempat yang baik sebagai panggung apresiasi  teks-teks tradisional. Bakayatsebagai panggung apresiasi berlangsung sepanjang pertunjukan, mereka berusaha mengangkat isu-isu aktual yang terkait dengan teks baik itu isu sosial, politik, ekonomi, budaya, dan juga praktik-praktik kehidupan yang menyimpang dari ajaran Islam. Pendekatan dalam praktik apresiasi seperti dalam bakayat  menekankantentang bagaimana teks digunakan dalam kehidupan keagamaan, sosial, dan budaya. Abstract: Bakayat is the oral tradition of the Sasak people in Lombok in the form of reading saga / poetry by means of development, followed by translation and interpretation alternately by the developer and interpreter. by the perpetrators of bakayat in a deeper, philosophical, and sufistic manner so that the text becomes more meaningful to the lives of its people. The presence of Bakayat is not only as a medium for da'wah, but is able to unite with the religious ritual life of the Sasak people and build silaturrahmi in the form of art. Oral and literacy are still developing in Indonesian society because they both support each other, this makes the Chirographic culture a good place to stage the appreciation of traditional texts. Bakayats As an appreciation stage that takes place throughout the show, they try to raise the actual issues related to the text whether it is social, political, economic, cultural, and also life practices that deviate from Islamic teachings. Approaches in the practice of appreciation as in bakayat emphasize how text is used in religious, social and cultural life. 
UPAYA PENERTIBAAN ADMINISTRASI ORGANISASI KEMAHASISWAAN TINGKAT FAKULTAS MELALUI PELATIHAN PENGADMINISTRASIAN SURAT-MENYURAT Akhmad Akhmad; I Made Suyasa; Sri Maryani; Fadlu Fadlu; Islahul Ummah
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 5, No 3 (2022): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v5i3.10050

Abstract

Abstrak: Penertiban pendokumentasiann surat masuk dan surat keluar dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Program Studi sangat perlu dilakukan, mengacu pada lemahnya administrasi yang dilakukan oleh pengurus HMPS yang ada di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Memberikan Pembinaan dalam kegiatan pelatihan sangat diperlukan oleh mahasiswa untuk meningkatkan kualitas administrasi organisasi kemahasiswaan, agar menjadi acuan.  Salah satu alat untuk mengukur keberhasilan organisasi kemahasiwaan adalah ketertiban dalam administrasi organisasi. Adapun metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah metode observasi, metode ceramah dan metode penugasan. Dari hasil kegiatan pelatihan yang dilakukan mahasiswa termotivasi dalam melakukan penertiban surat masuk dan surat keluar dalam organisasi HMPS sehingga rekam jejak kegiatan yang dilakukan dapat di data dengan sebaik mungkin. Kegiatan ini juga berdampak pada peningkatan kualitas pemahaman tentang cara mengadministrasikan surat masuk dan surat keluar terutama pada penomoran surat dan penertiban pendokumentasian surat masuk dan surat keluar.Abstract: The regulation of the documentation of incoming and outgoing letters in the organization of the Study Program Student Association is very necessary, referring to the weak administration carried out by the HMPS management within the Faculty of Teacher Training and Education. Providing coaching in training activities is needed by the students to improve the quality of student organization administration, so that it becomes a reference.  One of the tools for measuring the success of student organizations is order in the administration of the organization. The methods used in this training are observation methods, lecture methods and assignment methods. From the results of the training activities carried out by the students, they are motivated in ordering incoming and outgoing letters in the HMPS organization so that the track record of the activities carried out can be recorded as well as possible. This activity also has an impact on improving the quality of understanding of how to administer incoming and outgoing mail, especially in the numbering of letters and the regulation of documenting incoming and outgoing letters.
Jampi Maen Jaran dalam Tradisi Masyarakat Sumbawa: Kajian Semantik Yulia Sumbawati; I Made Suyasa; Irma Setiawan; Sapiin Sapiin
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 7, No 2: Juli 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v7i2.10486

Abstract

Abstrak: Tradisi maen jaran atau yang biasa disebut pacuan kuda, adalah sebuah tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Sumbawa. Penelitian ini berjudul Analisis Makna dan Fungsi Jampi Maen Jaran dalam Tradisi Masyarakat Sumbawa. Masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini: (1) Bagaimanakah makna jampi maen jaran dalam tradisi masyarakat Sumbawa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, dokumentasi, wawancara, metode terjemahan dan traskripsi, metode analisis data.Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa makna jampi maen jaran dalam tradisi masyarakat Sumbawa mengandung beberapa makna yakni sebagai makna kekuatan, makna keselamatan, makna religi, dan makna spritual. Dengan mengetahui ikon, indeks, simbol dan lambang tersebut maka kita akan dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya yang tidak lupa kita harus menerjemahkannya terlebih dahulu untuk memudahkan pemaknaan. jampi maen jaran menjadi tradisi yang diwariskan dari nenek moyang yang masih menjadi kebudayaanmasyarakat yang tidaklepasdarikehidupansehari-hari. Abstract: The tradition of playing Jaran or commonly called horse racing, is a tradition carried out from generation to generation by the Sumbawa people. This research is entitled Analysis of the Meaning and Functions of MaenJaran incantations in the Sumbawa Community Tradition. The problems that will be studied in this research: (1) What is the meaning of jampimaenjaran in the tradition of the Sumbawa people. The method used in this research is descriptive qualitative. While the data collection method used is the method of observation, interviews, documentation, interviews, translation and transcription methods, data analysis methods. Based on the results of data analysis, it can be concluded that the meaning of jampimaenjaran in the Sumbawa community tradition contains several meanings, namely the meaning of strength, the meaning of safety, the meaning of religion, and the meaning of spirituality. By knowing the icons, indexes, symbols and symbols, we will be able to understand the meaning contained in them, which we must not forget to translate first to facilitate the meaning. jampimaenjaran is a tradition passed down from ancestors which is still a community culture that cannot be separated from everyday life.