Claim Missing Document
Check
Articles

REDUPLIKASI BAHASA MELAYU RIAU DIALEK PEMATANG TIGA LORONG KABUPATEN INDRAGIRI HULU Sukma Anita; Elmustian Elmustian; Charlina Charlina
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.528

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk dan makna reduplikasi pada Bahasa Melayu Riau Subdialek Pematang Tiga Lorong. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan teknik pengumpulan data seperti pancing, simak, libat, cakap, rekam, dan catat. Analisis data dilakukan melalui mendengarkan ulang rekaman, menyajikan data, dan menyimpulkan hasil analisis. Hasil penelitian mengungkap 64 data reduplikasi yang terbagi ke dalam empat bentuk utama: reduplikasi penuh, reduplikasi sebagian, reduplikasi berafiks, dan reduplikasi dengan perubahan fonem. Selain itu, ditemukan berbagai makna reduplikasi, seperti menyatakan jumlah yang banyak, makna tanpa syarat, makna menyerupai, dan makna yang menunjukkan perbuatan berulang-ulang. Beberapa reduplikasi juga bermakna perbuatan yang dilakukan semau hati, perbuatan saling melibatkan dua belah pihak, dan hal-hal terkait pekerjaan. Makna lainnya termasuk menyatakan tingkat "agak," tingkat paling tinggi, dan intensitas perasaan atau emosi. Penelitian ini menunjukkan bahwa reduplikasi dalam Subdialek Pematang Tiga Lorong memiliki fungsi yang kompleks, tidak hanya untuk memperkaya kosakata, tetapi juga untuk menyampaikan nuansa makna yang beragam dalam interaksi sosial masyarakatnya. Hal ini memperlihatkan keunikan dan kekayaan bahasa dalam budaya lokal.
Filosofi Pantang Larang Desa Pulau Belimbing, Kuok, Kampar Dinil Arifah; Dedek Dwi Suci Ramadhani; Elmustian Elmustian
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.1578

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pantang larang yang terdapat di Desa Pulau Belimbing, Kuok, Kabupaten Kampar. Pantang larang merupakan norma sosial yang berfungsi untuk mengatur perilaku individu dalam masyarakat, serta menjaga keharmonisan sosial dan melindungi nilai-nilai budaya. Dua pantang larang utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah penanaman rasa malu dan larangan menikah sesuku. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui observasi dan wawancara dengan tokoh masyarakat, orang tua, dan generasi muda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun pantang larang masih dijunjung tinggi oleh sebagian masyarakat, terdapat tantangan dalam pelaksanaannya akibat perkembangan zaman dan perubahan nilai. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang peran pantang larang dalam kehidupan masyarakat dan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati diri mereka.
Orang Patut: Konstruksi Identitas dan Kekuasaan dalam Kepemimpinan Melayu Tradisional Elmustian Elmustian; El Firdausia Yahfis; Nazhifa Fadila
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2558

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep orang patut dalam masyarakat Melayu yang berfokus pada pembentukan hierarki sosial dan kepemimpinan. Data dalam penelitian ini berupa teks klasik Tunjuk Ajar Melayu tentang konsep kepemimpinan, moralitas, dan legitimasi kekuasaan. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Kajian memaparkan bahwa norma adat “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah” yang mengarah standar kepatuhan dan otoritas pemimpin sebagai teladan, penengah, dan penjaga marwah. Hasil menunjukkan bahwa Orang Patut berfungsi sebagai modal simbolik yang meneguhkan marwah, akal, dan budi sebagai syarat kepemimpinan, sekaligus menjadi mekanisme sosial untuk menilai teladan, penengah, dan penjaga tata nilai. Pada era modernisasi, makna kepatutan bergeser menuju integritas, kompetensi, dan tanggung jawab sosial tanpa menanggalkan landasan etis adat. Temuan ini menegaskan relevansi Orang Patut sebagai kerangka etika kepemimpinan Melayu kontemporer.
Transformation of Texts as Expressive Spaces in Classic Malay Literary Works: Learning to Write Poems in Philology Courses Adriansyah Adriansyah; Elmustian Elmustian; Mangatur Sinaga; M. Firdaus
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 16, No 4 (2024): AL-ISHLAH: JURNAL PENDIDIKAN
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v16i4.5755

Abstract

This study investigates the transformation of poems into expressive spaces in philology learning, aiming to foster active and creative student engagement with classical Malay literature. It seeks to develop innovative teaching approaches that enhance appreciation and critical engagement. A sample of 52 students was purposively selected using the Slovin formula with a 10% margin of error. Data were collected through classroom observations, questionnaires, in-depth interviews, and document analysis of poem learning. Thematic analysis was employed to identify key patterns and themes from the data. The findings reveal that integrating poems into philology learning enhances students’ understanding and appreciation of classical Malay literature. It also boosts creativity and critical thinking, with respondents reporting an improved ability to appreciate cultural heritage and refine expressive and analytical skills. These results highlight the potential of interactive and creative methods in philology education, demonstrating their effectiveness in making classical literature more relevant and engaging for students. The study underscores the value of incorporating expressive and interactive strategies into the philology curriculum to deepen student engagement and promote a lasting appreciation of classical literature and culture.
HUBUNGAN GAYA BELAJAR SISWA DENGAN KEMAMPUAN MENENTUKAN UNSUR INTRINRIK TEKS FABEL OLEH SISWA KELAS VII SMP NEGERI 36 PEKANBARU Asya Thalia Salsabila; Elmustian Elmustian; Hasnah Faizah
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.762

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan guna menganalisis hubungan di antara gaya belajar siswa dengan ketepatan siswa dalam menentukan unsur intrinsik teks fabel. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 36 Pekanbaru pada siswa kelas VII. Penellitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe riset hubungan. Teknik pengambilan data yang dilakukan melalui tes dan nontes. Instrumen penelitian yang digunakan ialah angket untuk mengetahui gaya belajar siswa dan lembar tes untuk mengetahui keahlian siswa dalam menentukan unsur intrinsik teks fabel. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan statistik berbantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil temuan penelitian ini yakni tak ada korelasi yang signifikan antara gaya belajar siswa dengan keahlian menentukan usnur intrinsik teks fabel oleh siswa kelas VII SMP Negeri 36 Pekanbaru. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan nilai Asymp. Sig. memperoleh nilai sebesar 0,684 yang artinya nilai Asymp. Sig. > 0,05. Maka dari itu bisa disimpulkan bahwasanya H0 diterima dan H1 ditolak.
Leksem Tebing dalam Tanjak Melayu: Kajian Semantik Inkuisitif M. Zafran Syaira; Hermandra Hermandra; Elmustian Elmustian
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8549

Abstract

This study aims to reveal the meaning and lexem domain of the cliffs in the naming of tanjak Melayu, especially on Tanjak Tebing Tinggi, Tebing Runtuh, and Tebing Laksamana, in the cultural context of the Malay community through an inquisitive semantic approach. This study uses qualitative descriptive method. Data in the form of phrases, sentences, and images related to the names of tanjak Melayu were collected through observation, interview, and documentation techniques, with data sources coming from the book headband Alam Melayu (origins, history and usage) by Johan Iskandar and interviews with speakers from The Serai Serumpun community. Data analysis is carried out through three stages, namely scripting semantics, cognitive semantics, and inquisitive semantics. The results showed that the lexemes of the cliff is interpreted as a symbol of defense that represents firmness, protection, and endurance in Malay culture. Specifically, Tanjak Tebing Tinggi is interpreted as a symbol of Defense and is in the domain of power, tanjak Tebing Runtuh is interpreted as a symbol of success in defending the territory, and tanjak Tebing Laksamana is interpreted as a symbol of successful leaders in defending the territory, both of which are in the service domain. The naming of tanjak berleksem tebing is eventful because it is based on the historical and symbolic experience of the Malay community in the context of defense and leadership. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan domain leksem tebing dalam penamaan tanjak Melayu, khususnya pada Tanjak Tebing Tinggi, Tebing Runtuh, dan Tebing Laksamana, dalam konteks budaya masyarakat Melayu melalui pendekatan semantik inkuisitif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data berupa frasa, kalimat, dan gambar yang berkaitan dengan nama-nama tanjak Melayu dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan sumber data berasal dari buku Destar Alam Melayu (Asal-Usul, Sejarah dan Penggunaan) karya Johan Iskandar serta wawancara dengan narasumber dari komunitas Serai Serumpun. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu semantik skrip, semantik kognitif, dan semantik inkuisitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa leksem tebing dimaknai sebagai simbol pertahanan yang merepresentasikan keteguhan, perlindungan, dan daya tahan dalam budaya Melayu. Secara spesifik, Tanjak Tebing Tinggi dimaknai sebagai simbol pertahanan dan berada pada domain kekuasaan, Tanjak Tebing Runtuh dimaknai sebagai simbol keberhasilan dalam mempertahankan wilayah, dan Tanjak Tebing Laksamana dimaknai sebagai simbol pemimpin yang berhasil dalam mempertahankan wilayah, yang keduanya berada pada domain jasa. Penamaan tanjak berleksem tebing bersifat peristiwa karena didasarkan pada pengalaman historis dan simbolik masyarakat Melayu dalam konteks pertahanan dan kepemimpinan.
Enhancing Short Story Reading Skills Using Multiple Strategies: Google Form-Based Teaching Materials Supported by Online Scientific Articles Welsi Damayanti; Elmustian Elmustian; Zamri Mahamod; Rozaiman Makmun; Gamal Abdul Naser Zakaria; Abdul Razak
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 15, No 1 (2026): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v15i1.8542

Abstract

This study aims to describe: 1) the results of the pre-test of prophetic short story reading skills; 2) the learning process of prophetic short story reading skills using innovative strategies based on Google Forms integrated with online journal scientific articles; 3) the results of the post-test of prophetic short story reading skills; 4) the role of innovative strategies in improving prophetic short story reading skills. This study uses a quantitative method through a single short case study through a quasi-experiment on new students of the Language and Arts Education Study Program, Universitas Pendidikan Indonesia in the 2024/2025 academic year. The study population was 33 students who took the pre-test, learning activities, and post-test. 31 students were designated as samples. Pre-test and post-test data on prophetic short story reading skills were collected using test instruments. Learning procedure data were collected using observation guidelines. Pre-test and post-test data were each analyzed using a one-sample t-test. Pre-test data analysis used a relatively low mean expectation while post-test data analysis used a relatively high mean expectation. The comparison of pre-test and post-test data was analyzed using a paired sample t-test procedure to determine the role of innovative strategies in improving prophetic short story reading skills. The results of the study: 1) the pre-test mean was only 39.87 (49.84%); 2) the learning procedure was carried out according to plan; 3) the post-test mean was 64.97 (81.21%: A); 4) innovative strategies were able to improve prophetic short story reading skills. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) hasil pre-test kemampuan membaca cerita pendek profetik; 2) proses pembelajaran keterampilan membaca cerita pendek profetik dengan strategi inovatif berbasis Google Forms yang terintegrasi dengan artikel ilmiah jurnal online; 3) hasil post-test kemampuan membaca cerita pendek profetik; 4) peran strategi inovatif dalam meningkatkan keterampilan membaca cerita pendek profetik. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui studi kasus tunggal singkat melalui eksperimen kuasi terhadap mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun akademik 2024/2025. Populasi penelitian adalah 33 mahasiswa yang mengikuti pre-test, kegiatan belajar, dan post-test. 31 mahasiswa ditetapkan sebagai sampel. Data pre-test dan post-test tentang keterampilan membaca cerita pendek profetik dikumpulkan dengan menggunakan instrumen tes. Data prosedur pembelajaran dikumpulkan dengan menggunakan pedoman observasi. Data pre-test dan post-test masing-masing dianalisis menggunakan uji-t satu sampel. Analisis data pre-test menggunakan ekspektasi rata-rata yang relatif rendah sedangkan analisis data post-test menggunakan ekspektasi rata-rata yang relatif tinggi. Perbandingan data pre-test dan post-test dianalisis menggunakan prosedur t-test sampel berpasangan untuk menentukan peran strategi inovatif dalam meningkatkan keterampilan membaca cerita pendek profetik. Hasil penelitian menunjukkan: 1) rata-rata pre-test hanya 39.87 (49.84%); 2) prosedur pembelajaran dilakukan sesuai rencana; 3) rata-rata post-test adalah 64.97 (81.21%:A); 4)strategi inovatif mampu meningkatkan kemampuan membaca cerita pendek profetik.
BOLU KEMOJO: SUMBER BELAJAR IPA BERBASIS KEARIFAN LOKAL RIAU Eliya Tanjung; Nurahmi Nurahmi; Ismail Arafat; Elmustian Elmustian
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.11683

Abstract

ABSTRACT Science learning that tends to be abstract and disconnected from local culture can contribute to low scientific literacy among students. An ethnoscience approach offers an alternative by connecting scientific concepts with local knowledge developed within the community. This study aims to examine the science concepts embedded in the process of making Bolu Kemojo and its relevance as a science learning resource based on Riau Malay local wisdom. The study employed a Narrative Literature Review (NLR) method with a qualitative descriptive approach through the stages of collecting, selecting, analyzing, and interpreting relevant literature. A total of 25 scientific sources related to ethnoscience, science education, local wisdom, and Bolu Kemojo were reviewed. The findings indicate that the process of making Bolu Kemojo contains concepts in Biology, Chemistry, and Physics. These concepts include changes in organic materials, ingredient interactions during baking, and heat transfer affecting product maturity. The concepts are relevant to the Science Learning Outcomes of the Merdeka Curriculum Phase D. Integrating Bolu Kemojo into ethnoscience-based science learning can help students connect scientific concepts with local culture and create more contextual learning experiences. The findings show that Bolu Kemojo serves not only as a cultural culinary heritage of Riau Malay society but also as an ethnoscience-based science learning resource that supports scientific literacy and cultural preservation. Its utilization has the potential to improve students’ understanding of scientific concepts, application of knowledge in daily life, and appreciation of local wisdom. ABSTRAK Pembelajaran IPA yang cenderung abstrak dan kurang terhubung dengan budaya lokal dapat berdampak pada rendahnya literasi sains peserta didik. Pendekatan etnosains menjadi alternatif untuk mengaitkan konsep sains dengan pengetahuan lokal yang berkembang di masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep-konsep IPA yang terkandung dalam proses pembuatan Bolu Kemojo serta relevansinya sebagai sumber belajar IPA berbasis kearifan lokal Melayu Riau. Penelitian menggunakan metode Narrative Literature Review (NLR) dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui tahapan pengumpulan, seleksi, analisis, dan interpretasi sumber pustaka. Kajian dilakukan terhadap 31 sumber ilmiah yang relevan dengan etnosains, pembelajaran IPA, kearifan lokal, dan Bolu Kemojo. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses pembuatan Bolu Kemojo memuat konsep IPA pada bidang Biologi, Kimia, dan Fisika. Konsep tersebut meliputi perubahan bahan organik, interaksi dan perubahan sifat bahan selama pemanggangan, serta perpindahan kalor yang memengaruhi kematangan produk. Konsep-konsep tersebut relevan dengan Capaian Pembelajaran IPA Kurikulum Merdeka Fase D. Integrasi Bolu Kemojo dalam pembelajaran IPA berbasis etnosains dapat membantu peserta didik menghubungkan konsep ilmiah dengan budaya lokal sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Temuan ini menunjukkan bahwa Bolu Kemojo tidak hanya berfungsi sebagai warisan kuliner Melayu Riau, tetapi juga sebagai sumber belajar IPA berbasis etnosains yang mendukung literasi sains dan pelestarian budaya lokal. Pemanfaatannya berpotensi meningkatkan pemahaman konsep sains, penerapan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, serta apresiasi terhadap kearifan lokal.
Examining differentiated instruction practices among secondary school Malay language teachers in Malaysia Elmustian Elmustian; Zamri Mahamod; Edmund Austrus; Norhidayah Azni Mohamed Zohomi
International Journal of Evaluation and Research in Education (IJERE) Vol 15, No 1: February 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijere.v15i1.35198

Abstract

This research focuses on the teaching practices of secondary school Malay language teachers in the Klang District, specifically on implementing differentiated instruction (DI) approaches introduced by the Malaysian Ministry of Education in 2019. This study employed a quantitative research design using a descriptive survey approach. Preliminary findings show that many students lack interest in classroom learning (PdP) due to traditional teaching methods, contributing to difficulties in mastering the syllabus and poor performance in public examinations such as the Sijil Pelajaran Malaysia (SPM). A questionnaire-based survey of 146 teachers was conducted, with descriptive analysis revealing that the overall implementation of DI is moderate (mean=3.15, SD=0.427). Among the 10 assessed items, ‘implementing DI according to environmental conditions’ achieved the highest mean (3.29), while ‘implementing (daily lesson plans RPH) based on DI’ scored the lowest (2.95). The analysis showed no significant gender-based differences in implementation practices, and teaching experience was weakly negatively correlated with implementation effectiveness. These findings suggest the need for targeted professional development programs to enhance teachers’ readiness and competency in applying DI. The study underscores the importance of equipping teachers with the necessary skills to create inclusive and effective learning environments, which can improve student engagement and academic outcomes.
Analisis Struktur Naratif dalam Antologi Puisi “Cica 96 Puisi” Karya Cyntha Hariadi: Analysis of Narrative Structure in the Poetry Anthology "Cica 96 Puisi" by Cyntha Hariadi Nabila Amalia Suhada; Zahra Naswa Fitri; Cindy Puja Aulia; Melisa Anggraini Nusainu; Elmustian Elmustian
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 9 No. 4 (2025): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v9i4.3166

Abstract

This study aims to analyze the narrative structure in Cyntha Hariadi's anthology, "Cica 96 Puisi," focusing on the poet's method of constructing narratives through elements of plot, characters, setting, theme, and message. The approach used was qualitative descriptive, using reading and note-taking techniques on 27 poems with dominant narrative elements. The analysis emphasized the relationship between story and discourse within the poetic texts. The results show that "Cica 96 Puisi" presents a complex and reflective narrative structure. The narratives in her poems form a historical mosaic that records the journey of identity, trauma, and social experiences of ethnic Chinese in Indonesia. The plot is structured chronologically and reflectively, moving between the past and the present. The setting and time depict social realities, while the message emphasizes the importance of accepting identity and historical memory as a form of resistance against discrimination. Overall, Cyntha Hariadi successfully constructs poetry as a narrative medium that represents identity, racism, and social criticism through simple yet meaningful poetic language.
Co-Authors Abdul Razak Abdul Razak Adriansyah Adriansyah Agidia Karina Amalia Anggita Arief Rachman Hadi Ariyanti Rahayu Asya Thalia Salsabila Aulia Annisa Aulia Hasanah Aulia Ramadhani Auzar Auzar Auzar Auzar Ceria Wulandari Charlina Cindy Puja Aulia Cipto Hadi Daryani Daryani Dedek Dwi Suci Ramadhani Dela Tika Diana Sari Dinil Arifah Dudung Burhanudin Edmund Austrus Eka Setia Pratiwi El Firdausia Yahfis Eliya Tanjung Elvrin Septyanti Fajri Winanda Fitrah Fitrah Gamal Abdul Naser Zakaria Hasminur Hasminur Hasnah Faiza Hasnah Faizah AR Hermandra, Hermandra Hermeria Monica Iga Herlina Inggri Selpi Arianti Ismail Arafat Jania Ningsih Kastri Elmi Kusuma, Yanti Yandri M Nur M. Firdaus M. Nur Mustafa M. Zafran Syaira Mangatur Sinaga Marsha Ramadhanty Meisy Ravika Samosir Melisa Anggraini Nusainu Mika Magdalena Br. Sinaga Muthia Rafli Nabila Amalia Suhada Nana Rahayu Nazhifa Fadila Niken Karmila Nina Rahayu Norhidayah Azni Mohamed Zohomi Novita Sahara Nuha Amatullah Yasa Nur Jibril Nur Kkholijah Nurahmi Nurahmi Nurmiyanti Nurmiyanti Nursal Hakim Oktavianingsih Oktavianingsih Putri Delia Putri Rama Dinda Redovan Jamil Ridia Juwita Dewi Risky Tri Larasati Rozaiman Makmun Safitri Safitri Salwa Salwa Selviani Selviani Septyanti, Elvrin Soffiatin Stefanie Putri Widya Sukma Anita Syafrial Syafrial Tabita Silaban Teja Sesfina Putri Tisya Bibah Anisa Billah Titik Lestari Vivin Diah Triasih Welsi Damayanti Widia Arahmah Yolanda Sari Yulna Pilpa Sari Zahra Naswa Fitri Zamri Mahamod Zamri Mahamod