Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Gambaran Kejadian Fraktur Femur di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2016-2018 Nur Sadia Binti Suhail Ahmad; Rizki Rahmadian; Dwi Yulia
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 1 No 3 (2020): November 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.748 KB) | DOI: 10.25077/jikesi.v1i3.82

Abstract

Fraktur adalah kondisi terjadinya dikontinuitas tulang dan atau tulang rawan dan merupakan kasus fraktur terbanyak terjadi pada ekstremitas bawah. Fraktur femur pada usia muda biasanya disebabkan cedera traumatik seperti kecelakaan lalulintas dan pada usia tua disebabkan oleh kondisi patologis. Objektif: Mengetahui gambaran kejadian fraktur femur di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2016-2018. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah total sampling dengan mengambil 256 data dari rekam medis pasien dengan diagnosis fraktur femur sebagai diagnosis primer atau sekunder. Penelitian ini dilakukan di bagian rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2016-2018. Hasil: Penelitian ini mendapatkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih sering mengalami fraktur femur (62.9%). Lokasi fraktur tersering terjadi adalah pada bagian medial shaft (34.0%). Kelompok usia terbanyak mengalami fraktur adalah ≥ 60 tahun (28.1%). Fraktur tertutup lebih sering terjadi (86.3%) dan cedera traumatik merupakan faktor tersering fraktur (72.7%). Penatalaksanaan fraktur yang paling sering dilakukan adalah operatif (72.3%). Simpulan: Fraktur tertutup banyak terjadi dengan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki, paling sering mengenai usia ≥ 60 tahun dengan lokasi fraktur tersering pada medial shaft. Cedera traumatik adalah faktor tersering dan penatalaksanaan operatif banyak dilakukan. Kata kunci: fraktur femur, cedera traumatik, kondisi patologis
Platelet Rich Plasma's Use on Recovering Achilles Tendon Ruptures of Wistar Strain White Mouse Seprianto Seprianto; Rizki Rahmadian; Benni Raymond; Tofrizal Tofrizal
Indonesian Journal of Multidisciplinary Science Vol. 2 No. 5 (2023): Indonesian Journal of Multidisciplinary Science
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (896.668 KB) | DOI: 10.55324/ijoms.v2i5.445

Abstract

Achilles tendon is the most common site of lower extremity tendon rupture. Current treatment has not been able to restore the biological and mechanical properties of the tendon to pre-injure condition. One of the treatments used to improve Achilles tendon healing is the application of PRP.  The research would like to determine the effect of using Platelet Rich Plasma (PRP) on the recovery of tendon rupture in animals model (wistar strain white rats). This is an experimental study with a post-test only control group design using animals model (white rats). This study was conducted at the INA Lab Laboratory, Padang in November 2022. The samples were divided into two groups, the control group and the treatment group where both of these groups were injured and sutured to the tendons. The control group was not given PRP, while the treatment group was given 0.1 cc of PRP. The PRP used was heterologous from healthy human blood. Observations were made after 1 week both groups were maintained and treated. There were 12 white rats which were divided into the PRP group and the control group. The PRP group had a lower histopathological score (5.83) than the control group (10.50). In this study, there was a significant difference between the recovery of tendon ruptures in animal model (white rats) that were given Human Platelet Rich Plasma (PRP) and experimental animals (rats) that were not given PRP (p value 0.007). PRP improves healing in Achilles tendon rupture.
Korelasi Antara Rasio Neutrofil Limfosit Dengan Derajat Klinis Anak Terkonfirmasi COVID-19 Raniathia Frieska; Amirah Zatil Izzah; Rizki Rahmadian
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i1.913

Abstract

Latar Belakang: COVID-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 dan menjadi pandemic sejak kemunculannya pertama pada awal tahun 2020. Di Indonesia, anak di bawah usia 18 tahun merupakan 13% dari kasus konfirmasi dengan 1% kematian. Derajat klinis yang paling banyak ditemukan pada anak tergolong lebih ringan dibandingkan dewasa. Rasio neutrofil limfosit (NLR) adalah biomarker yang digunakan untuk mendeteksi dini beratnya derajat klinis COVID-19. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara NLR dengan derajat klinis anak terkonfirmasi COVID-19 di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik retrospektif dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien dengan total sampel 41 anak dengan kasus terkonfirmasi COVID-19 periode Maret 2020 – Desember 2021. Korelasi gamma akan digunakan untuk menilai korelasi antara dua variable. Hasil: Penelitian ini menunjukkan kelompok usia terbanyak pada rentang usia 6-15 tahun (48,8%) dan jenis kelamin perempuan (56,1%). Lebih banyak sampel dengan derajat klinis ringan (51,4%) dengan nilai hitung neutrofil dan limfosit pada umumnya normal. Nilai NLR < 3,13 ditemukan pada 85,7% sampel. Ditemukan korelasi positif yang kuat (r=0,748, p=0,018) antara NLR dan derajat klinis. Nilai NLR <3,13 lebih banyak ditunjukkan pada derajat klinis ringan (61,1%) dibandingkan dengan derajat klinis berat (25%). Nilai NLR ≥3.13 lebih banyak ditunjukkan pada derajat klinis berat (60%) dan tidak sama sekali pada derajat klinis ringan. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar kasus COVID-19 pada anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang berumur 6-15 tahun, perempuan, berderajat klinis ringan, nilai hitung neutrofil dan limfosit normal. Lebih dari sebagian pasien ditemukan dengan nilai NLR <3,13 serta terdapat korelasi positif yang kuat antara NLR dengan derajat klinis COVID-19.
Pola Penatalaksanaan Fraktur Femur Di RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2020 Taufik Rachman; Rizki Rahmadian; Selfi Renita Rusjdi
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i2.624

Abstract

Latar Belakang: Fraktur adalah kerusakan kontinuitas susunan tulang yang terjadi karena trauma, stres berulang dan kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologis). Prinsip utama dalam penatalaksanaan fraktur adalah mengembalikan posisi secara anatomis, mengurangi nyeri dengan cara imobilisasi, mendukung proses penyembuhan tulang, dan mengembalikan fungsi. Fraktur femur dapat ditatalaksana secara konservatif dan operatif. Objektif: Mengetahui pola penatalaksanaan fraktur femur di RSUP M. Djamil Padang tahun 2020. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan teknik pengambilan total sampling menggunakan data rekam medis pasien dengan diagnosis fraktur femur pada tahun 2020 di bagian rekam medik RSUP M. Djamil Padang. Hasil: Hasil penelitian mendapatkan kejadian fraktur femur sebanyak 95 kasus. Prevalensi tertinggi fraktur femur pada jenis kelamin perempuan (56,8%). Kelompok usia terbanyak mengalami fraktur berusia di atas 60 tahun (45,3%). Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma energi rendah (66,3%). Jenis fraktur paling banyak adalah fraktur tertutup (91,6%) dan lokasi fraktur terbanyak adalah di batang femur (31,6%). Penatalaksanaan fraktur mayoritas dilakukan secara operatif yaitu fiksasi internal menggunakan implan plate and screw (38,9%). Kesimpulan: Pada penelitian disimpulkan bahwa fraktur femur banyak pada perempuan dengan rentang usia di atas 60 tahun. Fraktur terbanyak terjadi akibat trauma energi rendah, dengan jenis fraktur tertutup. Lokasi fraktur tersering di batang femur dan mayoritas ditatalaksana secara operatif dengan fiksasi internal menggunakan implan plate and screw.
Trends on primary TKA in Government Tertiary-Referral Hospitals 2019 Reza Rahman Ramadhani; Dicky Mulyadi; Armia Indra Nur Alam; Cokorda Gde Oka Dharmayuda; Sholahuddin Rhatomy; Rizki Rahmadian; Muhammad Andry Usman; Chairiandi Siregar; Asep Santoso; Krisna Yuarno Phatama
The Hip and Knee Journal Vol 1, No 1 (2020): August
Publisher : Indonesian Hip and Knee Society (IHKS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.303 KB) | DOI: 10.46355/hipknee.v1i1.22

Abstract

Background: Total knee arthroplasty (TKA) is the most common surgical option for end-stage knee OA with knee deformity and persistent pain. This procedure has already been increased in national insurance era. There are many conditions may affect the outcome of TKA include: the complexity or difficulty of the surgery or specific states of the affected limb. The difficult conditions in primary TKA are extra-articular deformity, severe coronal deformity, stiffness knee, neglected dislocation or patella subluxation, post-osteotomy (HTO or DFO), previous incision surgery. The paper aims to review the conditions which may adversely affect the usually excellent outcome of TKA.Methods: This is a descriptive study. The study describes the difficult or complex situation in primary TKA. The data for this study was obtained from the 9 Government Hospital in Indonesia. The patients receive surgery between January and December 2019.Results: Totally, there were 881 patients receive TKA in 9 government hospitals in Indonesia during 2019. From those, there were 221 difficult TKA cases 31,38%, and 600 were the simple case (68,11%). Severe coronal deformity are 183 cases. TKA with the stiff knee are 52 cases. Cases with wound problems or previous incision are 12 cases. Ekstra articular deformity are 15 cases. TKA post osteotomy are 9 cases. TKA with genu recurvatum are 6 case. TKA with patella dislocation or subluxation is 4 case.Conclusions: Almost one-third of primary TKA are difficult cases that need much more advanced technique and advance implant (more expensive) for more extended durability (avoid failure and costly-revision). National insurance coverage should recognize primary-difficult TKA.
Gambaran Fungsional Sendi Bahu Pasien Pasca Mastektomi Radikal Berdasarkan Skor QuickDASH Khalisha Azzahra Pramesti Abdillah; Rizki Rahmadian; Rudy Afriant
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 4 No 3 (2023): September 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jikesi.v4i3.1152

Abstract

Latar belakang: Gangguan pada fungsi sendi bahu sering ditemukan pada pasien setelah menjalani prosedur mastektomi radikal. Gejala yang sering ditemukan pasca pembedahan adalah keterbatasan fungsi bahu, kelemahan ekstremitas atas, limfedema, dan nyeri dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Objektif: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsional sendi bahu pasien pasca mastektomi radikal berdasarkan skor QuickDASH di RSUP Dr. M Djamil Padang. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan menggunakan teknik consecutive sampling. Sampel penelitian ini menggunakan data primer berupa wawancara pasien pasca mastektomi radikal di RSUP Dr. M Djamil Padang periode 2020 – 2021 menggunakan kuesioner QuickDASH. Jumlah sampel yang memenuhi kriteria didapatkan sebanyak 35 sampel. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan kelompok usia terbanyak pada rentang ≥ 45 tahun (77,1%), tingkat pendidikan SMA/Sederajat (51,4%), tidak bekerja (74,3%), dan tingkat pendapatan Rp1.000.000,- s.d. Rp5.000.000,- (68,6%). Sisi pengangkatan terbanyak pada sisi unilateral kiri (54,3%), dengan riwayat terapi radiasi (51,4%), dan dengan kategori stadium lanjut (54,3%). Pasien paling sering berada pada kategori disabilitas minimum (60%). Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah pasien pasca mastektomi radikal paling sering memiliki gangguan fungsional sendi bahu pada kategori disabilitas minimum. Gangguan tersebut ditemukan meningkat seiring meningkatnya stadium dan pada pasien yang mendapatkan radioterapi. Fungsi sendi bahu dipengaruhi oleh sisi pengangkatan, stadium, dan riwayat terapi radiasi. Sedangkan pendidikan, pendapatan, dan lama waktu sejak operasi tidak memengaruhi fungsi sendi bahu.
Comparison of the Effectiveness of Lyophilized Amniotic Membranes in the Partial Thickness Wound Healing Process in Mus musculus Srigunda Arisya Fadilla; Rizki Rahmadian; Benni Raymond
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 7 No. 11 (2023): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v7i11.887

Abstract

Background: Currently, tulle or gentamicin ointment is generally used to prevent wound infections in wound care. Human amniotic membrane has been used in medical fields such as wound care. So far, there is no comparative evidence of the effectiveness of each ingredient. This study aimed to compare the effectiveness of lyophilized amniotic membrane, tulle, and 0.1% gentamicin ointment in the wound healing process. partial thickness on Mus musculus clinically and histologically. Methods: This type of research is experimental with a post-test-only control group design. There were 24 rats divided into each group. This research was conducted at the anatomical pathology laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Andalas, and INA lab in July - September 2023 using rats (Mus musculus), which were divided into 3 treatment groups and one control group. Results: Clinically, lyophilized amniotic membrane, 0.1% gentamicin ointment, and tulle provided better results than controls regarding erythema variables. Histologically, the results showed that the lyophilized amniotic membrane group had the thinnest epidermis and dermis, as well as better histological scores for granulation, fibroblasts, and collagen than the 0.1% gentamicin ointment, tulle, and control groups. In this study, significant differences in effectiveness were found in terms of erythema, skin thickness, granulation, fibroblast, and collagen histological scores, with better results in the lyophilized amniotic membrane group. Conclusion: Clinically, lyophilized amniotic membrane, tulle, and 0.1% gentamicin ointment were more effective than controls for wound treatment due to faster reduction in erythema. However, histologically, the lyophilized amniotic membrane was proven to be more effective than tulle, 0.1% gentamicin ointment, and control in terms of epidermis and dermis thickness, granulation level, fibroblasts, and collagen.
Efek Pemberian Ekstrak Daun Sungkai (Peronema canescens Jack) Terhadap Proliferasi dan Migrasi Sel Kanker Serviks HeLa Meilisa Rahmawati; Dessy Arisanty; Rizki Rahmadian; Eti Yerizel; Dina Arfiani Rusjdi; Rahmatini Rahmatini
Majalah Kedokteran Andalas Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/mka.v46.i10.p1545-1561.2024

Abstract

Tujuan: mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun sungkai dalam menghambat proliferasi dan migrasi sel HeLa.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan 24 disk kultur sel HeLa yang konfluens. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok (K,P1,P2 dan P3). Kelompok perlakuan diberikan ekstrak daun sungkai dengan konsentrasi IC25, IC50, dan IC75 yang diinkubasi selama 72 jam. Analisis data menggunakan uji One Way ANOVA dan Post Hoc Bonferroni. Hasil: Rerata jumlah sel proliferatif yang didapatkan pada kelompok K, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 12,1 x 105, 8,94 x 105, 6,14 x 105 dan 5,04 x 105. Rerata migrasi jumlah sel yang berkumpul pada zona scratch pada kelompok K, P1, P2, dan P3 berturut-turut adalah 49,.0, 237,8, 210,5, dan 100,7. Didapatkan perbedaan yang bermakna tiap kelompok pada uji proliferasi dan migrasi dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05).Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian ekstrak daun sungkai terhadap proliferasi dan migrasi sel HeLa. Perbedaan bermakna ditemukan pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan konsentrasi ekstrak IC25, IC50, dan IC75.
Hubungan Derajat Cedera Kepala dengan Kadar Gfap pada Pasien Cedera Kepala di RSUP Dr. M. Djamil Padang Rika Susanti; Raisya Ivana; Rizki Rahmadian
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 6 (2026): Volume 6 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i6.25486

Abstract

ABSTRACT Traumatic Brain Injury (TBI) is a condition resulting from external mechanical forces that impair brain function and remains a leading cause of high morbidity and mortality rates. The Glasgow Coma Scale (GCS) is commonly employed to determine the severity of TBI. However, GCS does not always reflect the actual extent of brain tissue damage, as it can be influenced by various confounding factors. Consequently, biomarkers such as Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) are being investigated to assess the severity of brain injury. This study aims to determine the correlation between the severity of head injury and GFAP levels in patients at RSUP Dr. M. Djamil Padang. This research is an analytic observational study with a cross-sectional approach. A total of 95 patients who met the inclusion and exclusion criteria were selected using a consecutive sampling method. Data analysis using the Spearman correlation test revealed that the majority of patients sustained mild head injuries (65.3%), followed by moderate (21.1%) and severe injuries (13.7%). The median GFAP level was 2.251 ng/mL (range 0.050–16.412 ng/mL). The results indicated that there was no significant correlation between head injury severity based on GCS and GFAP levels (r = -0.088; p = 0.396). This outcome may be influenced by variations in injury characteristics, the timing of sample collection, and the distribution of injury severity across the sample. Keywords: Head Injury Severity, GCS Score, GFAP.  ABSTRAK Cedera kepala adalah kondisi yang terjadi akibat adanya gaya mekanik eksternal yang mengganggu fungsi otak serta menjadi salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penentuan tingkat keparahan derajat cedera kepala umumnya menggunakan skor Glasgow Coma Scale (GCS). Akan tetapi, GCS tidak selalu merepresentasikan derajat kerusakan jaringan otak yang sebenarnya karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, biomarker, seperti Glial Fibrillary Acidic Protein (GFAP) mulai diteliti untuk menilai keparahan derajat cedera kepala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat cedera kepala dengan kadar GFAP pada pasien cedera kepala di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 95 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan dipilih menggunakan metode consecutive sampling. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa mayoritas pasien mengalami cedera kepala ringan (65,3%), diikuti sedang (21,1%) dan berat (13,7%). Median kadar GFAP adalah 2,251 ng/mL (rentang 0,050–16,412 ng/mL). Hasil uji menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara derajat cedera kepala berdasarkan GCS dengan kadar GFAP (r = -0,088; p = 0,396). Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh variasi karakteristik cedera, waktu pengambilan sampel, serta distribusi derajat cedera kepala. Kata Kunci: Derajat Cedera Kepala, Skor GCS, GFAP.