Romla Noor Hakim
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 53 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Korelasi antara Ground Vibration dengan Fragmentasi Aktual Hasil Peledakan pada PT Borneo Alam Semesta Jobsite PT Binuang Mitra Bersama Sukma Afifah; Eko Santoso; Romla Noor Hakim
Jurnal Himasapta Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i2.5862

Abstract

ABSTRAKFragmentasi dan ground vibration merupakan indikator penting hasil peledakan. Fragmentasi yang distribusi ukuran fragmen dan ground vibration yang dinyatakan dengan nilai PPV (peak particel velocity), harus memenuhi kriteria dan ambang batas yang efektif dan aman. Usaha pencapaian target distribusi fragmentasi seringkali berbenturan dengan upaya untuk mencegah tingginya tingkat ground vibration. Oleh karena itu, pada penelitian ini korelasi antara ukuran fragmen dan PPV dikaji tingkat pengaruh dan korelasinya. Korelasi tersebut adalah antara besar energi yang dilepaskan saat peledakan dengan ukuran fragmentasi juga nilai getaran tanah yang dihasilkan. Sebagaimana hipotesa awal dari penelitian ini adalah “PPV yang semakin besar dihasil dari energi yang semakin besar dan energi yang semakin besar akan menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil, maka seharusnya semakin besar PPV menghasilkan fragmentasi yang semakin kecil”. Kegiatan penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data berupa nilai PPV ground Vibration terbesar di setiap peledakan, juga pengambilan foto beraian batuan hasil peledakan. Image anlaysis menggunakan aplikasi Split Dekstop dilakukan terhadap foto-foto beraian batuan hasil peledakan guna mendapatkan distribusi fragmentasi aktual, dengan output distribusi fragmentasi aktual berupa persentase fragmen berukuran kurang dari 50 cm dan persentase boulder. Setelah didapatkan nilai PPV Ground Vibration tertinggi, analisis korelasi linear dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar variabel PPV maksimum dan persentase fragmen berukuran < 50 cm. Nilai PPV ground vibration selama penelitian berkisar antara 0,49 mm/s sampai 1,56 mm/s. Data ukuran fragmen aktual rata-rata baik, boulder kurang dari 15%. Korelasi antara Ground Vibration terhadap fragmentasi batuan size  kurang dari 50 cm membentuk hubungan linear dengan persamaan y = 8,5967x + 79,237, dengan koefisien determinasi R2 = 0,5359. Artinya, keduanya memiliki hubungan yang positif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar, maka persentase fragmentasi size kurang dari 50 cm semakin banyak. Apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil, maka persentase fragmentasi batuan size kurang dari 50 cm semakin sedikit. Korelasi antara ground vibration terhadap persentase fragmentasi batuan boulder berupa hubungan linear dengan persamaan y = -8,5967x + 20,763. Artinya, memiliki hubungan yang negatif, dimana apabila nilai PPV ground vibration semakin besar maka persentase fragmentasi boulder semakin kecil, apabila nilai PPV ground vibration semakin kecil maka persentase fragmentasi boulder semakin besar. Kata-kata kunci: Peledakan, getaran, fragmentasi, korelasi linier ABSTRACTFragmentation and ground vibration are critical indicators of blasting performance. Fragmentation, represented by the fragment size distribution, and ground vibration, quantified by the Peak Particle Velocity (PPV), must both satisfy effective and safe operational thresholds. However, efforts to achieve optimal fragmentation distribution often conflict with the necessity to minimize excessive ground vibration levels. This study investigates the correlation between fragment size and PPV, examining both the influence and degree of their relationship. The correlation is assessed based on the energy released during blasting and its simultaneous effect on fragmentation size and ground vibration intensity. The initial hypothesis of this research posits that: “Larger PPV values result from higher explosive energy, and higher energy levels produce finer fragmentation; therefore, higher PPV should be associated with smaller fragment sizes.” The research began with data collection, including the highest PPV value recorded in each blast and photographs of blasted rock piles. Image analysis was conducted using Split-Desktop software to determine the actual fragmentation distribution. The outputs include the percentage of fragments smaller than 50 cm and the percentage of boulders. Subsequently, a linear correlation analysis was performed between maximum PPV and the percentage of fragments smaller than 50 cm. During the study, PPV values ranged from 0.49 mm/s to 1.56 mm/s. Overall, the actual fragment size distribution was satisfactory, with boulders accounting for less than 15%. The correlation between ground vibration (PPV) and the percentage of fragments smaller than 50 cm showed a positive linear relationship, described by the equation: y = 8.5967x + 79.237, with a coefficient of determination R² = 0.5359. This indicates that an increase in PPV is associated with a higher percentage of fragments smaller than 50 cm. Conversely, lower PPV values correspond to a reduced proportion of fine fragmentation. On the other hand, the correlation between PPV and the percentage of boulders exhibited a negative linear relationship, described by the equation: y = -8.5967x + 20.763. This implies that higher PPV values result in a lower proportion of boulders, while lower PPV values lead to a higher boulder content. Keywords: Blasting, Fragmentation, Ground Vibration, Linear Correlation 
Analisis Volume Pembongkaran Overburden Menggunakan Total Station Station dan GPS Geodetik pada PT Nabil Baratama Indonesia Lead Muhammad Baikuni; Yuniar Siska Novianti; Romla Noor Hakim
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18151

Abstract

PT Nabil Baratama Indonesia Lead yang berada pada bagian pit 14 PT Arutmin Indonesia Site Kintap lebih tepat nya pada sisi low wall pit 14 yang akan dilakukan pembongkaran untuk pembuatan akses jalan hauling dan pada prosesnya pembongkaran tersebut harus diukur agar mengetahui apakah pembongkaran tersebut telah mencapai target atau belum, untuk target yang diberikan jika dilihat pada desain front kerja yang diberikan sekitar 140.000 bcm. Pada pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan alat Total Station dengan merek CHCNAV i50 dan Total Station dengan merek Sokkia CX-105. Sebelum melakukan pengukuran kedua alat tersebut dilakukan pengujian titik yang sama berjumlah 10 titik dengan parameter mempunyai titik ikat yang sama dan untuk Total Station ada penambahan titik backsight. Dari pengukuran tersebut didapatkan data selisih tertinggi untuk koordinat titik x sekitar 290 mm, titik y sekitar 330 mm dan titik z sekitar 92 mm. Pengukuran overburden dilakukan pada tanggal 15, 17,18 dan 28 Juli 2024 yang mana mendapatkan hasil selisih volume antara Total Station dengan GPS Geodetik sekitar 445.18 M3 pada tanggal 15 juli 2024, untuk tanggal 17 Juli 2024 didapatkan nilai 6.66 M3 lalu pada 18 juli 2024 didapat 27.76 M3 dan pada tanggal 28 juli 2024 didapat nilai 27.76 M3. Kata-kata kunci: Pengukuran, Koordinat, Nilai Selisih, Volume ABSTRACTPT Nabil Baratama Indonesia Lead which is located in pit 14 of PT Arutmin Indonesia Site Kintap, more precisely on the side of the low wall of pit 14 which will be dismantled for the creation of hauling road access and in the process the demolition must be measured to find out whether the demolition has reached the target or not, For the target given when viewed at the design of the work front given is around 140,000 bcm. This measurement was carried out using the Total Station tool with the brand CHCNAV i50 and Total Station with the brand Sokkia CX-105. Before taking measurements, both instruments were tested at the same point, totaling 10 points with the same binding point parameters and for Total Station, there was an addition of a reverse viewpoint. From these measurements, the highest difference data was obtained for the coordinates of point x around 290 mm, point y about 330 mm and point z about 92 mm. Measurements of the overburden were carried out on July 15, 17, 18 and 28, 2024, which was obtained as a result of the volume difference between the Total Station and Geodetic GPS of around 445.18 M3 on July 15, 2024, for July 17, 2024 a value of 6.66 M was obtained, then on July 18, 2024 27.76 M3 was obtained, and on July 28, 2024, obtained a value of 27.76 M3.
Analisis Kestabilan Lereng Tumpukan Batubara ROM pada PT Adaro Indonesia Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan Akbar Arni; Romla Noor Hakim; Muhammad Zaini Arief
Jurnal Himasapta Vol 10, No 3 (2025): Jurnal Himasapta Volume 10 Nomor 3 Tahun 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jhs.v10i3.18169

Abstract

Dalam kegiatan pertambangan, batubara yang telah ditambang akan disimpan sementara di ROM (Run of Mine) sebelum diangkut ke pelabuhan dan dijual. Ketika tidak terjadi proses bargaining, batubara yang berasal dari pit akan terus menumpuk di ROM. Penumpukan ini menyebabkan bertambahnya luas dan tinggi tumpukan batubara seiring dengan berjalannya aktivitas penambangan. Peningkatan tinggi tumpukan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya potensi terjadinya longsor. Oleh sebab itu, diperlukan kajian geoteknik untuk menganalisis stabilitas lereng dan memperkirakan risiko longsor pada tumpukan batubara di ROM. Pengambilan dan pengumpulan data dilakukan secara berkala selama dua bulan agar data yang diperoleh bersifat representatif dan dapat digunakan sebagai dasar penelitian. Data yang dikumpulkan meliputi tinggi dan sudut kemiringan lereng tumpukan batubara, geometri tumpukan, jenis serta spesifikasi alat yang beroperasi di ROM, data uji laboratorium batubara, dan data hasil uji CBR. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi maksimum tumpukan batubara yang aman diterapkan di ROM 19 adalah 15 meter dengan faktor keamanan (FK) ≥ 1,2. Desain geometri tumpukan batubara di ROM 19 menggunakan kombinasi lereng dengan dua bench, yaitu bench pertama setinggi 8 meter dan bench kedua setinggi 7 meter, masing-masing dengan sudut kemiringan 30° dan jarak antar-bench sebesar 8 meter. Kata-kata kunci: faktor keamanan, geometri lereng, kestabilan lereng, run of mine ABSTRACTIn mining operations, coal extracted from the pit is temporarily stored at the Run of Mine (ROM) area prior to transportation to the port and final sale. When no bargaining process occurs, coal continues to accumulate at the ROM, leading to an increase in both the height and area of the stockpile as mining activities progress. The increase in stockpile height is directly associated with a higher risk of slope instability and potential failure. Therefore, a geotechnical assessment is required to evaluate slope stability and to estimate the risk of failure in coal stockpiles at the ROM. Data collection was conducted periodically over a two-month period to ensure representative results for this study. The collected data included the actual height and slope angle of the coal stockpile, stockpile geometry, types and specifications of equipment operating at the ROM, laboratory test results of coal samples, and California Bearing Ratio (CBR) test data.The analysis results indicate that the maximum safe coal stockpile height applicable at ROM 19 is 15 m, with a factor of safety (FS) ≥ 1.2. The proposed stockpile geometry at ROM 19 adopts a combined slope configuration with two benches. The first bench has a height of 8 m with a slope angle of 30°, while the second bench has a height of 7 m with a slope angle of 30°, and the horizontal distance between the two benches is 8 m. Keywords: safety factor, slope geometry, slope stability, run of mine