Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Village Spatial Planning Based on Its Potential as Guidelines for Guided and Sustainable Village Development Mustika Kusumaning Wardhani; Bambang Setioko; Edward Endrianto Pandelaki
TATALOKA Vol 23, No 2 (2021): Volume 23 No. 2, May 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.23.2.171-182

Abstract

Historical areas that support tourism activities will always adapt to match the complexity of tourism needs in the last few decades. The uniqueness of Kotagede is that there are traditional settlements of silver craftsmen's (Javanese: Abdi Dalem Kriya). The history of silver craftsmen's settlement has been formed since the Dutch colonial era and has survived until now as a characteristic of Kotagede. Silver craftsmen in Kotagede have a dilemma to survive for SMEs home-based or adapt to sell products to a larger scale industry. The research objectives are to determine whether or not there is a change in the settlement function caused by the silver home-based industry activities and to what extent the change has occurred. The method used is a quantitative method with a positivistic paradigm and uses descriptive analysis for data interpretation. Statistical data analysis used multivariate linear regression (SPSS V26). In this study, it was found that there was an effect of Silver home-based Industry Activities on change in residential space function with the low significance of 25.6 % while 74.4 % was thought to be influenced by other activities outside the research model. Partially, the highest variable effect on settlement changes is production activities that can be found in Purbayan and Prenggan Village. With the low significant impact results on settlement changes, It is hoped that the silver production activities (home-based industry) have the potential to be promoted as part of the survivability concept of tourism in Kotagede by advancing SMEs itself.
Identifikasi perubahan fisik rumah masyarakat Samin Blora berdasarkan teori Habraken Badrut Anggara Putra; Agung Budi Sarjono; Edward Endrianto Pandelaki
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 6 No 3 (2021): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | September 2021 ~ Desember 2021
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v6i3.714

Abstract

Cultural transformation is one of the Habraken Architectural theories, which involves three categories of change, namely physical, spatial, and cultural. The development of modern culture in the residential area of the Samin community in Blora Regency has an impact on the emergence of physical changes in the shelter. Hence, this study aimed to identify the physical changes and the aspects affecting them. There are six basic aspects in the theory of physical change proposed by Habraken, namely Body & Utensils, Furniture, Partitioning, building elements, roads, and Major Artery. A deductive rationalistic approach and qualitative descriptive methods were used in this study for collecting data through interviews with the Samin community in Blora Regency, for field observations, and analyzing the physical changes of the object. This analysis refers to the concept of changing the cultural structure of Habraken. Consequently, the conclusion showed that the people in Blora still adhere to the teachings of samin. Among the six objects, only two modern materials were used, namely glass and ceramic floors. Moreover, body utensils and building elements were the aspects that mostly influence the changes that occurred.
PERAN HUNIAN VERTIKAL SEBAGAI SOLUSI TERHADAP KAWASAN KUMUH DI KOTA BATAM KEPULAUAN RIAU Hendro Murtiono; Suzanna Sari; Edward Endrianto Pandelaki
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.827 KB) | DOI: 10.31848/arcade.v4i1.326

Abstract

Abstract: The Simpang Lima area is a city center with a variety of activities, the center of circulation, publik space, green space, religion, sports, economy, social and culture. In the regulation of vehicle and human circulation sistems it is very important and requires an impact analysis as well as very long projections. The intersection of five Semarang City known as the center of the economic area as well as the green open space that used as a publik space so that many activities and activities that occur in the area. In addition to being a business district and office intersection, there is also a weekly car free day event, becoming a very large center of activity on Sundays and a publik space in Semarang.The influence of the five intersections in this area will focus on humans who are in front of the five intersection (ciputra mall stop) with the intersection of five because the location is the number of people passing through more roads. So in this study two recommendations will emerge, the first of which relates to humans who crossed at one point, the second is recommendations for the entire region.Keyword: Circulation, Pedestrian, ConnectivityAbstrak: Kawasan Simpang Lima merupakan pusat kota yang terdapat berbagai macam kegiatan, pusat sirkulasi, ruang publik, ruang hijau, agama, olahraga, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam pengaturan sistem sirkulasi kendaraan maupun manusia sangatlah penting dan memerlukan suatu analisa dampak juga proyeksi yang sangat panjang. Simpang lima Kota Semarang diketahui sebagai pusat kawasan ekonomi maupun ruang terbuka hijau yang dijadikan ruang publik sehingga banyak kegiatan dan aktifitas yang terjadi dikawasan tersebut. Selain menjadi kawasan bisnis dan perkantoran simpang lima juga terdapat event mingguan car free day, menjadi pusat aktifitas yang sangat besar pada saat hari minggu dan menjadi ruang publik di kota semarang. Pengaruh simpang lima pada kawasan ini akan focus terhadap manusia yang berada di depan simpang lima (halte ciputra mall) dengan lapangan simpang lima tersebut karena pada lokasi tersbut jumlah manusia yang melewati jalanlebih banyak. Maka dalam penelitian ini akan muncul dua rekomendasi, yang pertama terkait manusia yang menyebrang pada datu titik tersebut, yang kedua rekomendasi seluruh kawasan.Kata Kunci: Sirkulasi, Pedestrian, Koneksitas
Tipologi Rumah Kampung Gandekan Kota Semarang Gregorius Gravido Praha Prayogo; Edward Endrianto Pandelaki; Bangun Indrakusumo Radityo Harsritanto
RUAS Vol 20, No 2 (2022)
Publisher : RUAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2022.020.02.5

Abstract

Gandekan has an interesting problem to be used as an object of research due to its own uniqueness as one of the urban villages which is related to the history of the city of Semarang, while on the other hand, it is currently facing various problems both socially, economically and culturally. As time progresses, the historic Gandekan old houses began to be marginalized due to the foreign culture that entered the city of Semarang. The typology or characteristics of these houses are beginning to disappear based on field studies of old houses in the village of Semarang. So that, the field studies and grouping characteristics of the buildings were carried out to answer the research, in hope that the characteristics of the old house of the Gandekan village community can be preserved in the midst of cultural development.
KAJIAN MORFOLOGI DAN PERKEMBANGAN PUSAT KOTA RIMBO BUJANG SEBAGAI WILAYAH EKS TRANSMIGRASI Ayu Komalasari Dewi; Edi Purwanto; Edward Endrianto Pandelaki
Jurnal Ilmiah Desain & Konstruksi Vol 21, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Gunadarma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35760/dk.2022.v21i2.6830

Abstract

Perkembangan suatu kota merupakan salah satu bentuk kemajuan dan regenarasi dari kota tersebut. Berbagai faktor dapat mempengaruhi perkembangan kota diantaranya adanya perubahan dalam lingkup ruang kota, latar belakang, ekonomi, sosial, budaya, politik. Akan tetapi, terdapat beberapa permasalahan yang terjadi dalam tahapan perkembangan suatu kota, yakni pemusatan perkembangan pada suatu kawasan saja. Hal ini terjadi pada objek penelitian yang dikaji berupa pemusatan perkembangan kota pada wilayah yang mengalami transmigrasi saja, sehingga terjadi kesenjangan antara wilayah lokal dan wilayah eks transmigrasi dalam hal perkembangan kota. Pada fakta empiris di lapangan dapat terlihat bahwa pusat kota Rimbo Bujang sudah setara dengan ibukota kabupaten. Tujuan dari penelitian ini yakni penulis mengkaji bagaimana morfologi dan perkembangan pusat kota Rimbo Bujang dengan melihat latar belakang wilayah tersebut sebagai wilayah eks transmigrasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik deskriptif sebagai bentuk upaya mengeksplorasi lebih dalam terkait perkembangan terhadap morfologi pusat Kota Rimbo Bujang. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi langsung pada pusat kota Rimbo Bujang, melakukan studi literatur mengenai sejarah transmigrasi dan perkembangan kota melalui data sejarah serta melaksankan wawancara terhadap tokoh transmigrasi. Analisis elemen-elemen morfologi yang terdiri atas analisis terhadap tata guna lahan, bentuk massa banguna serta jaringan jalan dilakukan untuk memetakan perubahan dan perkembangan yang terjadi pada ruang kota. Analisis faktor fisik dan non fisik dilakukan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi dalam fase-fase perkembangan objek penelitian. Kegunaan dari penelitian diharapkan dapat diadaptasi pada proses perkembangan wilayah lokal yang merupakan wilayah yang tidak mengalami transmigrasi dalam hal perkembangan aspek fisik dan non fisik didalamnya.
KARAKTER VISUAL ARSITEKTUR BANDARA DI JAWA TENGAH Hilmy, Muhammad Fariz; Sardjono, Agung Budi; Pandelaki, Edward Endrianto
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 6 No 2 (2019): December
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v6i2a4

Abstract

Abstrak_Bandara merupakan pintu gerbang masuk ke dalam sebuah provinsi atau daerah, sehingga sudah seharusnya bangunan bandara mengandung nilai-nilai kelokalan atau identitas daerahnya. Namun kini bandara di Jawa Tengah telah mengalami perubahan desain, dari yang lama yang masih kental dengan unsur kelokalan, menjadi yang baru yang penuh dengan unsur modern. Karakteristik visual dari kedua bandara ini tentunya berbeda. Meskipun bandaranya terletak di Jawa Tengah namun akan dilihat apakah masih terdapat karakter Jawa pada bangunannya atau muncul karakteristik visual yang lain. Metode deskriptif dan pendekatan rasionalistik kualitatif akan digunakan pada penelitian ini untuk mengidentifikasi kedua bandara untuk diketahui karakteristik visualnya melalui elemen-elemen yang ada pada kedua bandara tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah persamaan elemen kedua bandara, namun menghasilkan karakteristik visual yang berbeda-beda, tergantung dari aspek visual (bentuk, permukaan, dimensi, dan identitas) dari elemen masing-masing bandara.Kata kunci: Karakter Visual; Identitas; Arsitektur Bandara, Jawa Tengah. Abstract_ The airport is the gateway to enter into a province or region, so that airport buildings should contain locality or regional identity values. But now the airports in Central Java have undergone a design change, from the old ones that are still thick with the locality, to a new one full of modern elements. The visual character of the two types of airports is certainly different. Although the airport is located in Central Java, it will be seen whether there are still Javanese characters in the building or other visual characters. Descriptive methods and qualitative rationalistic approaches will be used in this study to identify the two airports to find out their visual characters through the elements at the two airports. The results of this study are differences in the visual character of the architecture of the two airports in Central Java at this time and the similarity of characters that show identity from the province of Central Java itself.Keywords: Visual Character; Identity; Airport Architecture; Central Java. 
SISTEM SPASIAL PENGELOLAAN SAMPAH PERMUKIMAN BERBASIS MASYARAKAT (BANK SAMPAH) DI KOTA YOGYAKARTA Sarasati, Carina; Pandelaki, Edward Endrianto; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. The city of Yogyakarta has a waste problem where there is an imbalance between the amount of waste generated and waste management space. Therefore, community-based waste management was appear in the form of ”Garbage Bank” which expected to manage the inorganic waste at RW level. The existence of the “Garbage Bank” is supported by the Mayor of Yogyakarta program and also some policies of the Central and Regional Governments. However, in reality there is no spatial system of waste management of settlements which clear and integrated through "Garbage Bank” in Yogyakarta City. Therefore, the purpose of this research is to look at micro, mezo and macro scale and look for spatial system form of community-based waste management system (Garbage Bank) which integrated in Yogyakarta City. The methods of this research used a qualitative approach with inductive thinking (bottom up), descriptive analysis technique by mapping existing data. “Garbage Bank” has different models according to the condition of the settlement area. A “Garbage Bank” minimum needs a weighing space, administration space, packing space and garbage storage that has been weighed. In the City Scale, it needs a settlement waste management system through integrated Waste Bank from start source (household) to Kota level.Keyword : spatial system, waste management, Garbage Bank Abstrak: Kota Yogyakarta memiliki masalah persampahan di mana  terjadi ketidakseimbangan antara jumlah timbulan sampah yang dihasilkan dengan ruang pengelolaan sampahnya. Oleh karena itu muncul pengelolaan sampah permukiman berbasis masyarakat dalam bentuk Bank Sampah yang diharapkan dapat mengelola sampah anorganik pada tingkat RW. Keberadaan Bank Sampah tersebut didukung oleh program Walikota Yogyakarta dan juga beberapa kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah. Namun pada kenyataannya belum terdapat sistem spasial pengelolaan sampah permukiman melalui Bank Sampah yang jelas dan terintegrasi di Kota Yogyakarta. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah melihat dalam skala mikro, mezo dan makro serta mencari bentuk sistem spasial pengelolaan sampah permukiman berbasis masyarakat (Bank Sampah) yang terintegrasi di Kota Yogyakarta. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pola pikir induktif (bottom up), teknik analisa secara deskriptif  dengan memetakan data yang ada. Bank Sampah memiliki model yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi wilayah permukimannya. Minimal sebuah Bank Sampah membutuhkan ruang penimbangan, ruang administrasi / pencatatan, ruang pengepakan dan ruang penyimpanan sampah yang telah ditimbang. Dalam Skala Kota, dibutuhkan sistem pengelolaan sampah permukiman melalui Bank Sampah yang terintegrasi dari mulai sumber (rumah tangga) hingga tingkat Kota.Kata kunci : sistem spasial, pengelolaan sampah, Bank Sampah
PERAN HUNIAN VERTIKAL SEBAGAI SOLUSI TERHADAP KAWASAN KUMUH DI KOTA BATAM KEPULAUAN RIAU Murtiono, Hendro; Sari, Suzanna; Pandelaki, Edward Endrianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Simpang Lima area is a city center with a variety of activities, the center of circulation, publik space, green space, religion, sports, economy, social and culture. In the regulation of vehicle and human circulation sistems it is very important and requires an impact analysis as well as very long projections. The intersection of five Semarang City known as the center of the economic area as well as the green open space that used as a publik space so that many activities and activities that occur in the area. In addition to being a business district and office intersection, there is also a weekly car free day event, becoming a very large center of activity on Sundays and a publik space in Semarang.The influence of the five intersections in this area will focus on humans who are in front of the five intersection (ciputra mall stop) with the intersection of five because the location is the number of people passing through more roads. So in this study two recommendations will emerge, the first of which relates to humans who crossed at one point, the second is recommendations for the entire region.Keyword: Circulation, Pedestrian, ConnectivityAbstrak: Kawasan Simpang Lima merupakan pusat kota yang terdapat berbagai macam kegiatan, pusat sirkulasi, ruang publik, ruang hijau, agama, olahraga, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam pengaturan sistem sirkulasi kendaraan maupun manusia sangatlah penting dan memerlukan suatu analisa dampak juga proyeksi yang sangat panjang. Simpang lima Kota Semarang diketahui sebagai pusat kawasan ekonomi maupun ruang terbuka hijau yang dijadikan ruang publik sehingga banyak kegiatan dan aktifitas yang terjadi dikawasan tersebut. Selain menjadi kawasan bisnis dan perkantoran simpang lima juga terdapat event mingguan car free day, menjadi pusat aktifitas yang sangat besar pada saat hari minggu dan menjadi ruang publik di kota semarang. Pengaruh simpang lima pada kawasan ini akan focus terhadap manusia yang berada di depan simpang lima (halte ciputra mall) dengan lapangan simpang lima tersebut karena pada lokasi tersbut jumlah manusia yang melewati jalanlebih banyak. Maka dalam penelitian ini akan muncul dua rekomendasi, yang pertama terkait manusia yang menyebrang pada datu titik tersebut, yang kedua rekomendasi seluruh kawasan.Kata Kunci: Sirkulasi, Pedestrian, Koneksitas
PENGARUH ELEMEN PEMBENTUK RUANG UNIT RUMAH SUSUN TERHADAP KENYAMAN FISIK STUDI KASUS: RUMAH SUSUN DI KABUPATEN SEMARANG Aribowo, Muhamad Wisnu; Rukayah, Siti; Pandelaki, Edward Endrianto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to analyze whether the architectural design of flat residential units in Semarang Regency is in accordance with the residents' expectations, namely flats that are livable, of high quality, and able to accommodate all the needs and activities of flat residents. The object of this research is flats in Semarang Regency, namely Ambarawa flats, Ungaran A and Ungaran B flats. (Karyono, 2013) states that 4 comforts are influenced by building design, namely spatial, thermal, audio and visual comfort which should be present to meet resident demands. The sample method in this research is random sampling, the sample results obtained were 131 people consisting of 52 residents of Ambarawa flats, 48 respondents of flats A and 31 respondents of flats B. The data analysis techniques used are factor analysis, hypothesis testing, chi-square test and regression.Keyword: architecture, space elements, flats house, perception, comfortAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah desain arsitektur unit hunian rumah susun di Kabupaten Semarang sudah sesuai dengan harapan penghuninya yaitu rumah susun yang layak ditinggali,     berkualitas     tinggi,     dan     mampu     mewadahi     segala kebutuhan dan kegiatan warga rusun. Objek   penelitian ini adalah rumah susun di Kabupaten Semarang yaitu rumah susun Ambarawa, rumah susun Ungaran A dan Ungaran B. (Karyono, 2013) menyatakan bahwa 4 kenyamanan yang dipengaruhi desain bangunan yaitu kenyamanan ruang, termal, audio, dan visual yang sebaiknya ada agar memenuhi tuntuan penghuni. Metode sampel dalam penelitian ini yaitu sample random sampling, hasil sampel yang didapatkan  sebesar 131 orang  terdiri dari penghuni rumah susun Ambarawa sebanyak 52 responden, rumah susun  A sebanyak 48 responden dan  B sebanyak 31 responden. Teknik analisis data yang digunakan berupa analisis faktor, uji hipotesis, uji chi-square dan regresi.Kata Kunci: arsitektur, elemen ruang, rumah susun, persepsi, kenyamanan
TIPOLOGI WAJAH BANGUNAN KOLONIAL GEREJA KATOLIK ROMA DI SEMARANG Praha Prayogo, Gregorius Gravido; Pandelaki, Edward Endrianto; Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Roman Catholic Church in Semarang has interesting things as an object of research because it has own uniqueness as one of the Cultural Heritage buildings that has a connection with the history of the city of Semarang, on the other hand various problems about socially, economically and culturally. As time progresses, the Gedangan Church and the Cathedral Church began to experience improvements due to the climate and the situation in the city of Semarang. The typology or characteristics of the two churches has several changes based on field studies of the two churches. Field studies and grouping of the characteristics of the buildings were carried out to answer the research, with the hope that the characteristics of the two churches can be preserved amidst cultural developments.Keyword: Architectural Typology, Roman Catholic Church, Cultural Heritage Abstrak: Gereja Katolik Roma di Semarang memiliki hal yang menarik untuk dijadikan obyek penelitian karena memiliki keunikan tersendiri sebagai salah satu bangunan Cagar Budaya yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kota Semarang, disisi lain muncul berbagai permasalahan baik secara sosial, ekonomi dan budaya. Seiringnya berkembangnya waktu, Gereja Gedangan dan Gereja Katedral mulai megalami perbaikan akibat iklim serta situasi di kota Semarang. Tipologi atau karateristik dari kedua Gereja tersebut mengalamai beberapa perubahan berdasarkan studi lapangan pada kedua Gereja tersebut. Studi lapangan dan pengelompokkan karakteristik dari bangunan dilakukan untuk menjawab penelitian, dengan harapan karakteristik dari kedua Gereja tersebut dapat dilestarikan di tengah perkembangan budaya.Kata Kunci: Tipologi Arsitektur, Gereja Katolik Roma, Cagar Budaya