Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Gambaran komponen sindrom metabolik pada pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014 – 2015 Wowor, Kartika; Haroen, Harlinda; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14561

Abstract

Abstract: Metabolic syndrome (MetS) is estimated to become an important factor for the development of certain types of cancer and their mortality inter alia breast cancer. This was a descriptive retrospective study based on secondary data of medical records of breast cancer patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital in 2014-2015. The results showed that the most common components of MetS in breast cancer cases were low level of HDL in 67 cases (68%). One component of MetS was found in 46 cases (64%); 3components of MetS in 6 cases (8%); and 4 components of MetS in 8 cases (11%). Family history of cancer was found in 3 cases with breast cancer (1%). Family history of MetS was found in 3 cases; 1 case of hypertension (0.25%) and 2 cases of hypertension and diabetes (0.50%). The most common clinical stage that had MetS components was stage IV in 27 cases (46%). Conclusion: Most breast cancer patients with MetS components had low level of HDL, only had 1 MetS component, family history of breast cancer and some components of MetS, and in clinical stage IV.Keywords: breast cancer, metabolic syndrome Abstrak: Sindrom metabolik diperkirakan menjadi faktor penting perkembangan jenis kanker tertentu dan mortalitasnya, termasuk peningkatan risiko kanker payudara. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif berdasarkan data sekunder dari catatan rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado tahun 2014-2015. Hasil penelitian memperlihatkan komponen SM yang sering ditemukan ialah kadar HDL rendah berjumlah 67 kasus (68%). Kasus yang memiliki 1 komponen yang memenuhi kriteria SM berjumlah 46 data (64%), 3 komponen berjumlah 6 data (8%) dan 4 komponen berjumlah 8 data (11%). Riwayat penyakit keluarga yang menderita kanker didapatkan tiga kasus dengan kanker payudara (1%). Riwayat penyakit keluarga yang mengalami komponen sindrom metabolik pada tiga kasus; satu kasus dengan hipertensi (0,25%) dan dua kasus dengan hipertensi dan diabetes (0,50%). Stadium klinis yang paling sering memiliki komponen sindrom metabolik ialah stadium IV sebanyak 27 kasus (46%). Simpulan: pada sebagian besar pasien kanker payudara yang memiliki komponen SM ditemukan kadar HDL rendah, hanya memiliki 1 komponen SM, riwayat penyakit keluarga berupa kanker payudara dan beberapa komponen sindrom metabolik, serta stadium klinis IV. Kata kunci: kanker payudara, sindrom metabolik
HUBUNGAN LINGKAR PINGGANG DENGAN PROFIL LIPID PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Simbar, Mentari; Pandelaki, Karel; Wongkar, M. C.P
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.6428

Abstract

Abstract: Waist circumference is often used to evaluate abdominal fat mass. Waist circumference is correlated with abdominal mass and is a predictor of type 2 diabetes mellitus compared to BMI. Diabetes Mellitus Type 2 (T2DM) is more common in individuals with overweight and obesity. T2DM is not only occured due to carbohydrate metabolism disorder of lipid metabolism but also due to dyslipidemia. Dyslipidemia caused by substances called lipoprotein VLDL (Very Low Density Lipoprotein) or triglycerides, decreased HDL cholesterol (High Density Lipoprotein) and the formation of small dense LDL (Low Density Lipoprotein) which are atherogenic. This study aimed to determine the relationship of waist circumference with the lipid profile in T2DM patients Prof. R.D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive cross sectional analytic study. There were 53 respondents that met the inclusion criteria. This study was conducted for three months starting from September ? November 2013 in the Endocrine Clinic. Conclusions: There was no significant correlation between waist circumference and total cholesterol, LDL, and triglycerides levels. However, there is a significant correlation between waist circumference and HDL levels.Keywords: Waist circumference, total cholesterol, HDL, LDL, Triglycerides, T2DMAbstrak: Lingkar pinggang sering digunakan sebagai penilai massa lemak abdominal, karena lingkar pinggang berkorelasi dengan massa lemak abdominal dan merupakan prediktor Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) yang paling kuat dibandingkan dengan IMT. DMT2 lebih sering terjadi pada individu dengan berat badan lebih dan obesitas. Pada DMT2 bukan saja terjadi gangguan metabolisme karbohidrat melainkan juga terdapat metabolisme lipid, keadaan ini disebut dislipidemia. Dislipidemia terjadi akibat gangguan metabolisme lipoprotein yaitu Very Low Density Lipoprotein (VLDL), trigliserida, penurunan kolesterol High Density Lipoprotein (HDL), dan terbentuknya small dense Low Density Lipoprotein (LDL) yang bersifat aterogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkar pinggang dengan profil lipid pada pasien DMT2 di RSUP Prof. R.D. Kandou Manado. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian sebanyak 53 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan yaitu dari bulan September ? November 2013 di Poliklinik Endokrin Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP. Prof. R.D. Kandou Manado. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar pinggang dengan kadar kolesterol total, kadar LDL, dan trigliserida. Terdapat hubungan bermakna antara lingkar pinggang dan kadar HDL.Kata kunci: Lingkar Pinggang, Kolesterol Total, HDL, LDL, Trigliserida, DMT2
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN GAYA HIDUP PADA PASIEN RAWAT JALAN DI BLU RSU Prof. Dr. R.D. KANDOU MANADO Destyana, Tuegeh; Langi, Yuanita; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 1, No 2 (2013): Jurnal e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i2.3307

Abstract

Abstract: 65% of the world’s population live in countries where overweight. At least 2.8 million adults die each year due to obesity. The prevalence of obesity is associated with urbanization and changes in economic status in developing countries, including in Indonesia. The purpose of this research to determine the relationship between obesity and lifestyle at the Polyclinic of Internal Medicine section/SMF FK-UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado. This research used a cross-sectional study. All outpatients who came in period of November 2012 at the Polyclinic of Internal Medicine section/SMF FK-UNSRAT BLU RSU Prof. Dr. R.D Kandou Manado. There are 58 people who met the inclusion criteria.The result there was no relation of physical activity with obesity. There is a relation of severe meal frequency > 3 times daily with obesity at 87% with a p value of 0.004 (p <0.005). There is a relation with the frequency of eating snacks often with obesity at 70.2% with p value 0.002 (p <0.005) found a significant relationship with OR 10.607 times the risk of obesity. There is a relation of not exercising with obesity at 73.2% with p value 0.003 (p <0.005) found a significant relationship with OR 6.545 times the risk of obesity. There was no relation of smoking with obesity. As the conclusion the frequency of  severe meal  > 3 times a day, eating snacks often and not exercising can increase the risk of obesity. Keywords: obesity, lifestyle.   Abstrak: Populasi dunia sebesar 65% di negara dimana kelebihan berat badan. Setidaknya 2.8 juta orang dewasa meninggal setiap tahun akibat obesitas. Prevalensi obesitas ini berhubungan dengan urbanisasi dan perubahan status ekonomi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara obesitas dengan gaya hidup pada pasien rawat jalan di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado. Metode penelitian menggunakan rancangan potong lintang. Semua pasien rawat jalan yang datang di Poliklinik Penyakit Dalam BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode bulan November 2012. Jumlah sampel 58 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasilnya tidak terdapat hubungan aktifitas fisik dengan obesitas. Terdapat hubungan frekuensi makan berat > 3 kali sehari dengan obesitas yakni 87% dengan nilai p 0.004 (p < 0.005). Terdapat hubungan hubungan frekuensi makan cemilan sering dengan obesitas yakni 70.2% dengan nilai p 0.002 (p < 0.005) didapatkan hubungan bermakna dengan OR 10,607 kali berisiko obesitas. Terdapat hubungan tidak berolahraga dengan obesitas yakni 73.2% dengan nilai p 0.003 (p < 0.005) didapatkan hubungan bermakna dengan OR 6,545 kali berisiko obesitas. Tidak ditemukan hubungan riwayat merokok dengan obesitas. Kesimpulan bahwa frekuensi makan berat > 3 kali sehari, frekuensi makan cemilan yang sering dan tidak berolahraga dapat meningkatkan resiko obesitas. Kata Kunci : obesitas, gaya hidup.
Gambaran hematologi rutin dan hubungannya dengan rerata gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kekenusa, Gita C.; Pandelaki, Karel; Haroen, Harlinda
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14769

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by hyperglycemia due to a defect in insulin action, insulin secretion by pancreatic beta cells or both. In patients with type 2 diabetes (T2DM), trombopoiesis acceleration and increased turnover and increased hematocrit occur resulting in impaired blood flow velocity. This increased blood viscosity causes vasoconstriction due to thickening of blood vessel walls.This study was aimed to obtain the profile of hematology and its correlation with average blood glucose in type 2 DM patients. This was a descriptive analytical study using patients’ medical record in the Endocrine Clinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from August to October 2016. The results of Spearman’s correlation test were as follows: correlation between average blood glucose and hemoglobin concentration with r = 0.083 and p = 0.272; correlation between average blood glucose and levels of hematocrit with r = 0.123 and p = 0.184; correlation between the average glucose blood and levels of erythrocyte with r = 0.121 and p = 0.187; correlation between average blood glucose and platelet with r = 0.052 and p = 0.353; and correlation between average blood glucose and levels of leukocytes with r = 0.247 and p = 0.033. Conclusion: Among type 2 DM patients, there were no significant correlations between average blood glucose level and hemoglobin, hematocrit, and erythrocyte levels, as well as platelet levels. However, there was a significant correlation between average blood glucose and leukocyte level.Keywords: T2 DM, average blood glucose, hemoglobin, hematocrit, platelets Abstrak: Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin, sekresi insulin oleh sel beta pancreas, atau keduanya. Pada pasien DM tipe 2 (DMT2) terjadi percepatan trombopoiesis serta peningkatan pergantian trombosit dan hematokrit yang dapat berakibat terhadap kecepatan aliran darah. Viskositas darah yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi akibat penebalan dinding pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hematologi dan hubungannya dengan rerata gula darah pada pasien DM tipe 2. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan menggunakan data rekam medik pasien di Poliklinik Endokrin Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Agustus-Oktober 2016. Hasil uji korelasi Spearman memperlihatkan nilai hubungan antara rerata gula darah dan kadar hemoglobin r = 0,083 dan p = 0,272; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar hematocrit r = 0,123 dan p = 0,184; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar eritrosit r = 0,121 dan p = 0,187; nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan trombosit r = 0,052 dan p = 0,353, serta nilai hubungan antara rata-rata gula darah dan kadar leukosit r = 0,247 dan p = 0,033. Simpulan: Pada pasien DMT 2 tidak dijumpai hubungan bermakna antara rerata gula darah dengan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, kadar eritrosit, dan kadar trombosit namun terdapat hubungan bermakna antara rerata gula darah dan leukosit.Kata kunci: DMT2, rerata gula darah, hemoglobin, hematokrit, trombosit
Hubungan Lama Berobat dan Keteraturan Berobat dengan Kadar HbA1c Pasien DM Tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Sumakul, Ridhel G.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E. N.
e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v7i1.23540

Abstract

Abstract: Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is caused due to insulin target cells fail or are unable to respond to insulin normally (insulin resistance). Acute or chronic complications can occur in DM patients. Complications of DM can be prevented by optimal control of glycemia, in this case, the concentration of blood glucose and HbA1c. Regularity in medication consumption is important to prevent the occurence of diabetic complications. This study was aimed to determine the relationship of the duration and the regularity of diabetes treatment with HbA1c levels in T2DM patients at Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design, using paients’ medical record data. There were 60 samples obtained by using purposive sampling technique. The results of Chi-Square test showed that there was no corelation between duration of treatment and HbA1c level (P=0.111) and there was no corelation between the regularity of treatment and HbA1c level (P=0.224). Conclusion: There was no relationship between the duration and regularity of treatment with HbA1c levels of T2DM patients in the Endocrinology Polyclinic at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: T2DM, duration of treatment, regularity of treatment, HbA1c Abstrak: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) disebabkan karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tak mampu merespon insulin secara normal (resistensi insulin). Komplikasi yang terjadi pada pasien DM dapat bersifat akut maupun kronis. Komplikasi DMT2 dapat dicegah dengan kontrol glikemia yang optimal yaitu terkendalinya konsentrasi glukosa dalam darah dan HbA1c. Keteraturan minum obat pada pasien DM merupakan hal penting dalam mencegah terjadinya komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama berobat diabetes dan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c pasien DMT2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang, menggunakan data rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 60 pasien. Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan lama berobat DMT2 dengan kadar HbA1c (P=0,111). Juga tidak terdapat hubungan keteraturan berobat dengan kadar HbA1c (P=0,224). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama berobat dan keteraturan kunjungan berobat dengan kadar HbA1c pasien DM tipe 2 di Poli Endokrin RSUP Prof . Dr. R. D. Kandou Manado.Kata kunci: DMT2, lama berobat, keteraturan berobat, HbA1c
Perbedaan Kadar HDL dan Trigliserida antara Penderita Ulkus Diabetik dan Tanpa Ulkus Diabetik pada Pasien DM Tipe 2 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Kirojan, Debora; Pandelaki, Karel; Wongkar, Maarthen C.P.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18581

Abstract

Abstract: The number of people with diabetes mellitus (DM) is increasing every year, as well as the risk of its chronic complications inter alia diabetic ulcer. Peripheral artery disease caused by atherosclerosis is one of the major risk factors for developing diabetic ulcer, and low HDL is associated with atherosclerosis. High triglyceride increases the risk for neuropathy, a diabetic ulcer risk factor. This study was aimed to analyze the difference in HDL and triglyceride levels among type 2 DM (T2DM) patients with and without diabetic ulcers. This was a descriptive comparative study with a case control design. Data were secondarily obtained from patients in the period of January 1st to September 30th 2017. Purposive technique sampling was applied to attain 30 T2DM patients with ulcers and 30 T2DM patients without ulcers. Data were analyzed by using independent t-test and P <0.05 was determined as statistically significant level. The results showed that the mean HDL level in T2DM patients with diabetic ulcers was 20.47 mg/dl, lower than of T2DM patients without diabetic ulcers with a mean HDL level of 32.33 mg/dl (P=0.000). The mean triglyceride level in T2DM patients with diabetic ulcers was 150.43 mg/dl, higher than of T2DM patients without diabetic ulcers with a mean triglyceride level of 121.16 mg/dl (P= 0.141). Conclusion: There was a statistically significant difference in the mean level of HDL between T2DM patients with and without ulcers. There was no statistically significant difference in the mean level of triglyceride between T2DM patients with and without diabetic ulcers.Keywords: diabetic ulcer, HDL, triglyceride, type 2 DM. Abstrak: Jumlah penderita penyakit diabetes melitus (DM) setiap tahun meningkat, diikuti peningkatan risiko terjadinya komplikasi kronik, salah satunya ialah ulkus diabetik. Penyakit arteri perifer yang disebabkan oleh proses aterosklerosis merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ulkus diabetik, dan kadar HDL dianggap berhubungan dengan proses aterosklerosis. Kadar trigliserida yang tinggi meningkatkan risiko kejadian neuropati yang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya ulkus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kadar HDL dan trigliserida pada pasien DM tipe 2 (DMT2) dengan dan tanpa ulkus. Jenis penelitian ialah deskriptif komparatif dengan desain kasus kontrol (case control) menggunakan data pasien yang berobat mulai 1 Januari sampai 30 September 2017. Digunakan teknik purposive sampling untuk mendapatkan sampel sebanyak 30 pasien DMT2 dengan ulkus diabetik dan 30 pasien DMT2 tanpa ulkus diabetik sebagai pembanding. Analisis penelitian ini menggunakn uji t-tidak berpasangan, dan dinyatakan bermakna jika P < 0,005. Hasil penelitian mendapatkan rerata kadar HDL pada pasien DMT2 dengan ulkus diabetik ialah 20,47 mg/dl, lebih rendah dibandingkan pasien tanpa ulkus dengan rerata 32,33 mg/dl (P=0,000). Rerata kadar trigliserida pada pasien DMT2 dengan ulkus diabetik ialah 150,43 mg/dl, lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa ulkus dengan rerata 121,16 mg/dl (P=0,141). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna rerata kadar HDL antara penderita DMT2 dengan dan tanpa ulkus diabetik. Tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar trigliserida antara penderita DMT2 dengan dan tanpa ulkus diabetik.Kata kunci: ulkus diabetik, DM Tipe 2, HDL, trigliserida
Gambaran Indeks Eritrosit Rerata pada Laki-laki Dewasa dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Saraswati, Talitha D.; Rotty, Linda W. A.; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 7, No 2 (2019): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.7.2.2019.26832

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease indicated by high level of blood sugar resulting from a defect in insulin secretion, insulin activity, or both. The prevalence of DM in Indonesia is 1.9%, making it the 7th leading cause of deaths worldwide. In diabetic patients it is common to find any disorder in several systems, inter alia disorder of erythrocytes. An important indicator in portraying the erythrocytes state is the average erythrocyte indices (MCV, MCH, and MCHC). This study was aimed to provide an overview of the average erythrocyte indices in young adult males with type 2 DM (T2DM) at the Endocrine Polyclinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital. This was a descriptive and retrospective study using medical records of diabetic patients at the Endocrine Policlinic from September 2018 to September 2019. The results obtained a total of 1.432 medical records consisting of 550 males and 882 females. However, only 22 samples met the inclusion criteria, with a majority of samples were 40 to 45 years old (50%). Generally, the erythrocyte indices were still in normal range. Albeit, a few samples showed a decrease in hemoglobin level, MCV, and MCH. In conclusion, there was no significant change in the erythrocyte indices among adult males with type 2 diabetes mellitus at the Endocrine Polyclinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital.Keywords: average erythrocyte indices, type 2 diabetes mellitus Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat defek sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Prevalensi DM di Indonesia sebesar 1,9% menjadikan DM sebagai penyebab kematian urutan ke tujuh di dunia. Pada pasien DM seringkali ditemukan gangguan pada berbagai sistem, salah satunya pada eritrosit. Indikator penting yang dapat mencerminkan keadaan eritrosit ialah indeks eritrosit rerata (MCV, MCH, dan MCHC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran indeks eritrosit rerata pada pasien laki-laki dewasa penyandang DM tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medik pasien di Poli Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou periode September 2018 hingga September 2019. Hasil penelitian mendapatkan 1.432 rekam medis, terdiri dari 550 laki-laki dan 882 perempuan, namun hanya 22 data yang memenuhi kriteria penelitian, dengan mayoritas berusia 40-45 tahun (50%). Secara umum nilai indeks eritrosit rerata masih dalam rentang normal, namun terdapat beberapa sampel dengan penurunan kadar hemoglobin, MCV, dan MCH. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat gambaran bermakna pada indeks eritosit pasien laki-laki dewasa dengan DM tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP Prof. Dr. R. D. KandouKata kunci: indeks eritrosit rerata, diabetes melitus tipe 2
Gambaran kadar trombosit dan hematokrit pada pasien diabetes tipe 2 dengan kaki diabetik di BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Ruscianto, Daniel; Rotty, Linda W. A.; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10937

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by hyperglycemia due to impaired insulin activity, or both. Uncontrolled DM will lead to chronic complication, such as microangiopathy, macroangiopathy. and neuropathy. Diabetic foot is one of the chronic complications. This complication is associated with abnormality of thrombocyte and hematocrit levels that influence the blood flow. This study aimed to find out the profile of thrombocyte and hematocrit levels in patients with type 2 DM with diabetic foot at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 25 patients type 2 DM with diabetic foot as samples consisted of:10 males (40%) and 15 females (60%). The mean of hematocrit level in males was 35.20% and in females was 28.40%. The mean of thrombocyte level was 391.4 x 103/mm3.Keywords: diabetic foot, thrombocyte, hematocritAbstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduannya. Hiperglikemi pada DM yang tidak terkontrol menyebabkan komplikasi kronis, seperti mikroangiopati,makroangiopati dan neuropati. Kaki diabetes merupakan salah satu komplikasi kronis. komplikasi ini berkaitan dengan kelainan kadar trombosit dan hematokrit yang mempengaruhi peredaran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar trombosit dan hematokrit pada pasien diabetes tipe 2 dengan kaki diabetik di BLU RSUP Prof. R. D. Kandou Manado. Terdapat 25 pasien dengan DM tipe 2 yang memiliki komplikasi kaki diabetes yang menjadi sampel penelitian ini. Berdasarkan distribusi jenis kelamin perempuan sebanyak 15 pasien (60%) dan pada pasien laki-laki sebanyak 10 pasien (40%). Rata-rata kadar hematokrit pasien laki-laki adalah 35.20% dan perempuan adalah 28.40%. Rata rata kadar trombosit pasien adalah 391,4 x 103/mm3.Kata kunci: kaki diabetes, trombosit, hematokrit
HUBUNGAN LAMA TERJADINYA DMT2 DENGAN HEMATOKRIT PADA PASIEN DMT2 DI POLIKLINIK ENDOKRIN BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Lumingkewas, Christianto A. Y; Rotty, Linda W. A; Pandelaki, Karel
e-CliniC Vol 2, No 2 (2014): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v2i2.5193

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyper glycemia due to impaired insulin secretion, impaired insulin activity, or both. Chronic hyperglycemia in diabetes is associated with chronic damage and dysfunction of various organs, especially the eyes, kidneys, nerves, heart, and blood vessels. Increased hematocrit can result in impaired blood flow velocity. It is associated with increased blood viscosity causes vasoconstriction of blood vessels due to thickening of the membrane. Research purpose: To determine the correlation between hematocrit and duration of Diabetes Mellitus Type 2 in the polyclinic of endocrinology BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Msnado. Method: The type of this research is descriptive research with cross-analytic sectional study design. In this research intended to analyzing the correlation between hematocrit with long occurs DM type 2. Research results: By using purposive sampling method found 32 people as sample who had been diagnosed with Diabetes Mellitus Type 2. The test result statistic using Speatman Correlation duration of diabetes to hematocrit is obtained numerical coefficients -0.191 and p value of 0.294. Conclusion: From the results of this research indicate that there is no correlation or significant correlation (p>0.294) between hematocrit with long occurs Diabetes Mellitus Type 2. Keywords: Diabetes Mellitus Type 2, hematocrit.     Abstrak: Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemi akibat gangguan sekresi insulin, gangguan aktivitas insulin, atau keduanya. Hiperglikemi kronis pada diabetes berhubungan dengan kerusakan kronis dan disfungsi berbagai organ terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah.Peningkatan hematokrit dapat mengakibatkan kecepatan aliran darah terganggu. Hal ini berkaitan dengan viskositas darah yang meningkat menyebabkan terjadinya vasokonstriksi akibat penebalan membran pembuluh darah. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui hubungan antara hematokrit dan lama terjadinya diabetes melitus tipe-2 di poliklinik endokrin BLU RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado. Metode: Jenis Penelitian ini adalah penelitian Deskriptif Analitik dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Dalam penelitian dimaksudkan untuk menganalisis hubungan antara Hematokrit dengan lama terjadinya DM Tipe-2. Hasil penelitian: Dengan menggunakan metode purrpossive sampling didapatkan 32 orang sebagai sampel yang telah didiagnosis Diabetes Melitus tipe 2. Hasil Uji Statistik Spearman Correlation lamanya diabetes terhadap hematokrit didapatkan angka koefisien sebesar -0,191 dan p value 0,294. Simpulan: Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat  korelasi atau hubungan yang bermakna (p>0,294) antara Hematokrit dengan Lama Terjadinya DM tipe 2. Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe-2, hematokrit.
Perbedaan kadar hemoglobin pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi berdasarkan kualitas tidur Sarjono, Lillian; Pandelaki, Karel; Ongkowijaya, Jeffry
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14480

Abstract

Abstract: Sleep is defined as a subconscious condition when the individual may be arose from sleep by giving him or her with stimulation which is a crucial process for human beings in the formation of new body cells, the improvement of damaged cells, and to maintain the balance of body metabolism and biochemistry. The quality of sleep described by less time of sleep have impact on the body, as biological process taking place at the moment of sleep would be disturbed. One of them is disturbance in the formation of hemoglobin in which a change shall be occurring where the content of hemoglobin is lower than its normal value. This study is analytical descriptive using a cross-sectional approach. Of 78 samples under study, the good quality sleep is 7 persons (9.0%) and the bad is 71 persons (91.0%). Normal content of hemoglobin is 40 person (51.3%) and abnormal is 38 persons (48,7%). The good quality sleep and normal content of hemoglobin is 4 persons (57.1%) and abnormal is 3 persons (42.9%). The bad quality sleep and normal content of hemoglobin is 36 persons (50.77%) and abnormal is 35 persons (49.3%). Conclusion: Most of students at Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University, have bad quality sleep and normal content of hemoglobin. There are no differences between the content of hemoglobin from the 5th semester student in Medical Faculty student with who has good and bad sleep quality.Keywords: quality of sleep, hemoglobin Abstrak: Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian ransangan yang juga merupakan proses yang sangat dibutuhkan manusia untuk pembentukan sel-sel tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh. Kualitas tidur yang digambarkan dengan waktu tidur yang kurang akan membawa dampak bagi tubuh karena proses biologis yang terjadi saat tidur akan ikut terganggu. Salah satunya adalah pembentukan kadar hemoglobin yang terganggu dimana akan terjadi perubahan dimana kadar hemoglobin menjadi lebih rendah dari nilai normalnya. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik dengan pendekatan potong lintang. Dari 78 sampel pemelitian, kualitas tidur yang baik sebanyak 7 orang (9,0 %) dan yang buruk sebanyak 71 orang (91,0 %). Kadar hemoglobin normal sebanyak 40 orang (51,3 %) dan tidak normal sebanyak 38 orang (48,7 %). Kualitas tidur baik dengan kadar hemoglobin normal adalah 4 orang (57,1 %) dan kadar hemoglobin tidak normal adalah 3 orang (42,9 %). Kualitas tidur buruk dengan kadar hemoglobin normal adalah 36 orang (50,7 %) dan kadar hemoglobin tidak normal adalah 35 orang (49,3 %). Simpulan: Sebaigan besar mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat mempunyai kualitas tidur yang buruk dan mempunyai kadar hemoglobin yang normal. Tidak terdapat perbedaan kadar hemoglobin pada mahasiswa semester 5 Fakultas Kedokteran Unsrat dengan kualitas tidur yang baik dan yang buruk. Kata kunci: kualitas tidur, hemoglobin