Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Ketaatan kapal pukat cincin (purse seiner) di pelabuhan perikanan pantai Tumumpa Kristina Dorkas Yuninie; Revols D.Ch Pamikiran; Fransisco P.T Pangalila; Mariana E Kayadoe; Janny F Polii
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 4 No. 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.4.2.2019.24235

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan kapal pukat cincin berdasarkan Juknis Ditjen Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan No 143 tahun 2012. Data yang diambil adalah semua data dari kapal yang beroperasi pada setiap bulan pengamatan yaitu pada bulan September- Desember 2018 dan Januari- Februari 2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kepatuhan terhadap factor kesesuaian pelabuhan pangkalan, kelengkapan dokumen kapal, hari operasi penangkapan ikan, dan keseuaian jumlah ikan dengan kapasitas penyimpanan ikan tergolong baik dengan nilai persentasi kepatuhan 76-100% . Bagi kapal-kapal yang patuh diberikan apresiasi sedangkan yang tidak diberikan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Teknologi Attractor Cumi Rangka Besi : Upaya Meningkatkan Produktifitas Sumberdaya Perikanan di Perairan Desa Kalasey Dua, Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara Wilhelmina Patty; Fransisco P. T. Pangalila; Mariana E. Kayadoe; Eldy Majore; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 6 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.6.1.2021.24843

Abstract

Kondisi terumbu karang diperairan Sulawesi Utara, khusus di perairan Desa Kalasey Dua sudah dirusakan oleh kegiatan reklamasi yang dimulai sejak Tahun 2011. Dampak ekologi yang sudah dirasakan oleh masyarakat nelayan akibat proyek reklamasi pantai di Kalasey antara lain: rusaknya lahan mangrove dan terumbu karang akibat penimbunan material tanah dan batu secara langsung ke dalam perairan. Akibat rusaknya ekosistim pesisir di wilayah pesisir seperti terumbu karang, algae dll, membuat berkurangnya telur dan individu dewasa cumi-cumi di wilayah pesisir. Salah satu  proses yang dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan generasi atau memcegah kepunahan suatu sumberdaya adalah reproduksi atau perkembangbiakan. Dalam konteks penyediaan sumber hidup alternatif, maka Teknologi squid attractor (atraktor cumi). merupakan salah satu sarana buatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya dukung dan kelestarian sumberdaya cumi-cumi. Squid attractor mempunyai fungsi utama sebagai tempat melekatkan telur cumi-cumi sampai menetas; dan dalam kondisi tertentu sarana ini dapat berfungsi sebagai  fishing ground. Melihat Manfaat dari teknologi atraktor cumi ini, maka beberapa atraktor cumi-cumi rangka besi telah diletakan di perairan Desa Kalasey Dua, dengan tujuan utama memperkaya sumberdaya cumi-cumi di kawasan pesisir, dengan desain  atraktor yang dimodifikasi sehingga dalam pembuatanya mudah dan ramah lingkungan. Penerapan teknologi Attractor cumi ini memilik tingkat efektifitasnya antara 50 – 100 %, atau sebahagian besar sampai seluruh tali ditempeli dengan telur. Hal ini berarti ada penambahan stock sumberdaya cumi di perairan Desa Kalesey dua serta Konservasi lingkungan perairan Desa Kalasey dua.
Pengaruh bentuk atraktor terhadap jumlah penempelan telur Cumi-Cumi di perairan Desa Kalasey Satu Kecamatan Mandolang Kabupaten Minahasa Bill Bright Cavin Manoppo; Ivor L. Labaro; Revols D. Ch. Pamikiran; Wilhelmina Patty; Fransisco P. T. Pangalila; Alfret Luasunaung
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.v7i1.37285

Abstract

Cumi-cumi merupakan salah satu inovasi pemanfaatan tanpa merusak lingkungan. Secara umum atraktor terdiri dari dua bentuk yaitu bentuk silinder dan bentuk kotak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cumi-cumi yang menempel pada atraktor silinder dan atraktor persegi serta untuk Mengetahui apakah bentuk atraktor berpengaruh terhadap jumlah penempelan telur cumi-cumi. Adapun analisis data menggunakan metode Uji Beda Dua Mean Independent dengan rumus The separate model t-test.Berdasarkan hasil identifikasi morfologis diperoleh informasi bahwa jenis telur cumi-cumi yang menempel adalah famili Loliginidae, yaitu genus Sepioteuthis lessoniana. Adapun hasil analisis menggunakan rumus The seprate model t-test menunjukan bahwa = 2,77 > = 2,13 hasil ini menjelaskan bahwa perlakuan bentuk atraktor menyebabkan perbedaan jumlah penempelan telur cumi-cumi, dimana atraktor bentuk silinder lebih baik dibandingkan dengan bentuk kotak
Pengaruh jenis umpan terhadap hasil tangkapan rawai dasar di Desa Wamesa Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat Odis Jefri Sawi; Lefrand Manoppo; Fransisco P.T. Pangalila; Arman Thamin
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.v7i1.37713

Abstract

Prospek perikanan di Indonesia sangat baik, hal ini ditinjau dari segi potensi yang cukup besar di perairan Indonesia sangat baik, sedangkan tingkat pemanfaatannya sangat rendah. Oleh karena itu usaha penangkapan sangat perlu ditingkatkan. Indonesia memiliki potensi laut seluas 12.123.383 hektar, namun dalam pemanfaatannya pada tahun 2014, baru sebesar 2,7% atau 325.825 hektar, artinya masih ada 97,3% yang masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia (Wibowo H. dkk. 2019).Desa Wamesa merupakan salah satu desa di Provinsi Papua Barat, yang memanfaatkan sumberdaya perikanan masyarakat menggunakan alat tangkap pancing rawai dasar menggunakan umpan alami seperti ikan slyer (Anodontostoma chacunda) dan ikan bulanak (Mugil sp), namun nelayan belum mengetahui penggunaan umpan alami apa yang paling cocok dan memberikan hasil tangkapan terbanyak. Hasil tangkapan rawai dasar berupa ikan-ikan demersal dan karang serta ikan pelagis kecil lainnya.Berdasarkan pemikiran di atas, maka dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan jenis umpan terhadap jumlah tangkapan pancing rawai dasar di wilayah Papua Barat. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Desa Wamesa Kecamatan/distrik Kambrauw Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat yang berlangsung dari bulan Agustus sampai Desember 2021. Penelitian ini bertujuan untuk Membandingkan jenis umpan apa yang memberikan hasil tangkapan yang terbanyak pada rawai dasar. Mengetahui komposisi hasil tangkapan dengan pancing rawai dasar berdasarkan jenis umpan, yaitu umpan ikan slayer (Anodontosoma chacunda) dan umpan ikan bulanak (Mugil sp).Dari hasil penelitian, jumlah hasil tangkapan pancing rawai dasar selama 5 hari pengoperasian sebanyak 45 ekor ikan dimana umpan ikan slayer (Anodontosoma chacunda) berjumlah 29 ekor lebih banyak dibandingakan dengan pancing rawai dasar yang menggunakan umpan ikan bulanak (Mugil sp) dengan jumlah 16 ekor, hal ini menunjukan umpan ikan slayer (Anodontosoma chacunda) lebih banyak dibandingkan dengan ikan bulanak (Mugil sp), tetapi secara statistik nilai uji T memberikan hasil Thitung = 0,2234 lebih kecil dibandingkan dengan Ttable = 2,3060 menerangkan bahwa Ho diterima memberikan arti bahwa tidak ada perbedaan yang nyata dari perlakuan jenis umpan ikan slayer (Anodontosoma chacunda) dan ikan bulanak (Mugil sp) yang digunakan pada pancing rawai dasar.
Pengaruh penambahan serat sutera pada pancing dasar terhadap hasil tangkapan Christian Yosua Worang; Ivor Lembondorong Labaro; Alfret Luasunaung; Emil Reppie; Heffry Veibert Dien; Fransisco P.T. Pangalila; Mariana E. Kayadoe
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.39656

Abstract

Pancing dasar merupakan alat tangkap yang umum digunakan oleh nelayan untuk ikan-ikan karang, karena konstruksinya sederhana, relatif murah dan mudah dioperasikan dengan kapal atau perahu ukuran kecil. Pancing dasar merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak digunakan oleh nelayan di perairan Sulawesi Utara dengan berbagai cara dan jenis umpan yang digunakan. Keberhasilan alat tangkap pancing dasar berumpan sangat ditentukan oleh aktivitas hidup ikan dalam hal mencari dan menangkap makanan.Umpan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan efektifitas penangkapan ikan demersal dengan menggunakan alat pancing pada penelitian ini dilakukan penambahan umpan buatan (serat sutera) pada mata pancing dasar, diduga dapat meningkatkan fishing power dari alat tangkap tersebut terhadap hasil tangkapan ikan demersal.Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengembangkan teknologi pemanfaatan sumberdaya ikan-ikan demersal secara efektif dan efisien; sedangkan secara khusus bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan umpan buatan pada pancing dasar terhadap hasil tangkapan ikan demersal di perairan Teluk Manado dan mengidentifikasi hasil tangkapan dan mengamati faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pengoperasian pancing dasar. Metode yang digunakan adalah eksperimental, yaitu suatu rancangan percobaan yang diujicobakan untuk memperoleh informasi tentang persoalan yang sedang diteliti. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengoperasikan 6 unit pancing dasar secara bersamaan pada dua unit perahu, tipe pelang dan tipe londe, di perairan pantai Teluk Manado dengan menghanyut atau menjangkar.Dalam penelitian ini diperoleh total hasil tangkapan sebanyak 9 famili, 11 genus dan 19 spesies.  Dari pengujian uji T diperoleh hipotesis diterima H1 dan menolak H0 dimana H1 adalah perlakuan dengan menggunakan umpan buatan dengan penambahan serat sutra sedangkan H0 adalah perlakuan tanpa umpan buatan serat sutra.
Aktivitas pendaratan hasil tangkapan terhadap mutu ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung Shanice Rotama Sitorus; Ixchel Feibie Mandagi; Lusia Manu; Frangky Ernes Kaparang; Lefrand Manoppo; Fransisco Philep Theodorus Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.40237

Abstract

Seperti kita ketahui, ikan merupakan suatu komoditas yang mudah busuk dan cepat rusak sehingga sangat rentan terhadap penurunan kualitas ikannya, hal ini dapat disebabkan oleh beberapa aktivitas mulai dari pendaratan ikan sampai pendistribusian menuju konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas pendaratan hasil tangkapan terhadap mutu ikan Malalugis (Decapterus spp.) dan mengetahui proses pemasaran hasil tangkapan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung. Kami menggunakan metode deskriptif untuk mengumpulkan semua data pada empat kapal Pukat Cincin berukuran 20-30 GT (KM 01, KM 03, KM 08 dan KM 1) sebagai target dalam pengumpulan data.  Pengamatan dan wawancara telah dilakukan  untuk mengetahui kondisi pelabuhanan perikanan, aktivitas pendaratan hasil tangkapan, dan waktu proses dari palka sampai ke TPI karena aspek-aspek diatas berpengaruh terhadap mutu ikan. Kami menemukan bahwa, proses penurunan dan pengangkutan hasil tangkapan di PPS Bitung belum memperhatikan aspek kebersihan dan kehigienisan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan air untuk mencuci ikan, keadaan dermaga yang dipenuhi genangan air bekas mencuci ikan dan juga penggunaan es yang diletakkan sembarangan di lantai dermaga tanpa alas. Disamping itu, hasil analisa uji organoleptik berkisar 7-8, hal ini sesuai dengan standar SNI. Berdasarkan data hasil penelitian kami berkesimpulan bahwa peranan aktivitas pendaratan kelihatannya tidak terlalu mempengaruhi mutu ikan yang didaratkan meskipun penanganan terhadap ikan belum terlalu baik dimana cara penanganan ikan belum menerapkan prinsip penanganan ikan yang baik atau 3C1Q yaitu Cold (dingin), Clean (bersih), Carefull (baik) dan Quick (cepat).
Studi tentang tahanan perahu pelang di desa Rap-Rap Kabupaten Minahasa Selatan Rachim Sjah Agung Renato Waworoentoe; Heffry V Dien; Patrice N.I. Kalangi; Franky E Kaparang; Vivanda O.J. Modaso; Fransisco P.T Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 7 No. 2 (2022): Juli-Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.7.2.2022.41745

Abstract

Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki luas perairan yang lebih besar dibandingkan daratan. Dengan semua hal itu, banyak yang bekerja sebagai petani dan nelayan tradisional. Setiap wilayah pasti memiliki kebudayaan karakter yang beda begitu juga dengan nelayan tradisonal memiliki alat tangkap yang berbeda, alat tangkap juga membutuhkan alat bantu yaitu kapal tradisional.Perahu tradisional di Sulawesi Utara seperti londe, pelang, dan lain lain berbahan  dasar kayu dengan seiringnya zaman dan meningkatnya harga kayu dikarenakan sulitnya untuk mendapat kayu sebagai bahan dasar pembuatan kapal tradisional beralih bahan dasar lain yaitu FRP, sudah banyak ditemui kapal perikanan yang berbahan dasar FRP (Fiber Reinforced Plastic) sebagai pengganti bahan kayu penggantian ini dikarenakan bahan baku kayu sudah semakin sulit dicari dan semakin mahal.Dalam pengoperasiannya, kapal bergerak melalui media air karena adanya gaya dorong dari sistem penggerak kapal. Air memiliki pengaruh terhadap kapal karena memberikan gaya menahan  dari pergerakan kapal yang disebut boat resistanceTahanan mempelajari reaksi fluida terhadap gerakan kapal pada saat melalui fluida tersebut. Tahanan juga disebut resistance drag  adalah besarnya gaya fluida yang melawan gerakan kapal sedemikian rupa yang sejajar dengan sumbu gerak kecepatan kapal (Rosmani  2013).Ada beberapa perbedaan dalam penggunaan metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship metode ini menghasilkan diagram data yang membahas tahanan kapal berdasarkan kecepatan dalam satuan kN dan kecepatan N, sedangkan pada data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir yang dicantumkan dalam table data meliputi data kecepatan kapal, meter per detik, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.Perahu pelang yang diukur bentuk lambungnya telah digambar pada aplikasi Freeship dan menghasilkan linesplan yang menyerupai dengan kapal pelang yang diukur. Hasil penggambaran ini kemudian digunakan dalam penghitungan tahanan pada Freeship menggunakan metode Kaper dan Delft yacht. Hasil output perhitungan diberikan dalam bentuk grafik dan tabel laju kapal, speed lenght ratio, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total. Pada metode Delft ada output tambahan yaitu power.Ada beberapa perbedaan dalam output metode Kaper pada aplikasi Delftship dan Freeship. Metode Kaper pada aplikasi Delftship menghasilkan grafik data yang membahas tahanan kapal berdasarkan laju dalam satuan kn dan kecepatan knot. Data hasil perhitungan tahanan yang muncul pada perhitungan terakhir atau final calculation yang dicantumkan dalam grafik meliputi data laju kapal, speed length ratio, Froude Number, tahanan gesek, tahanan sisa, dan tahanan total.
Studi perbandingan penggunaan bahan bakar gas dan bahan bakar minyak pada mesin katinting Levandri Alski Lumi; Fransisco P.T. Pangalila; Revols D. CH. Pamikiran; Kawilarang W.A. Masengi; Lefrand Manoppo; Heffry V. Dien
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 1 (2023): Januari-Juni
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.1.2023.44262

Abstract

Fuel is an important energy in fishing operations. Fuel is very influential on operational costs. One of the ways that fishermen can make a profit is by reducing the operational costs of fishing. Fuel consumption was calculated at least the amount of fuel used by the katinting engine at three different RPMs, using a ratio of pertalite type fuel oil and 3 kg LPG gas fuel with an engine operating time of 15 minutes. The average pertalite consumption at low RPM is Rp.1,784.25, while the use of LPG is Rp.761. Based on this value, a comparison of 234.461235% found that gas fuel is more efficient than oil fuel. The average pertalite consumption cost at moderate RPM is Rp.2,926.125, while for LPG use it is Rp.1,115. Based on the value found a comparison of 262.432735% gas fuel is more efficient than fuel oil. The average pertalite consumption at high RPM is Rp.4,271.25, while the use of LPG is Rp.1,574. Based on the average value of fuel consumption at high RPM, a comparison of 271.36277 was found. Gas fuel is more economical than the use of fuel oil in the katinting engine, seen from the comparison of the percentage of the consumption of fuel oil and gas fuel at each RPM.
Studi teknis dan kelayakan usaha kapal Pole and Line: Technical Studies and Business Feasibility of Pole and Line Vessels David Yusak Gandaria; Frangky Ernes Kaparang; Mariana Elizabeth Kayadoe; Kawilarang Warouw Alex Masengi; Lucia Manu; Fransisco Philep Theodorus Pangalila
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PERIKANAN TANGKAP Vol. 8 No. 2 (2023): Juli - Desember
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jitpt.8.2.2023.48955

Abstract

The purpose of this study is to understand the technical aspects of fishing using the pole and line method, as well as to analyze the feasibility of the pole and line fishery. The research method used in this study is descriptive with a quantitative approach, conducted at PT Sari Usaha Mandiri, specifically on KM Sari Usaha 09, with a vessel specification of 25.73 m in length, 5.16 m in width, and 2.60 m in height. The components of the pole and line gear are a rod, a fishing line, and a hook. The fishing operation also involves the use of fish aggregating devices, which requires compliance with sea safety, fishing regulations, and storage requirements. The fishing technique employed is known as "banting," with the main catches being skipjack tuna and yellowfin tuna. The fishing area is located in the WPPN-RI 715. Based on the feasibility analysis, it can be concluded that the pole and line fishery is viable for business because the net benefit cost ratio is > 1 (1.097), the production output (351,600 kg) and revenue (IDR 6,328,800,000) exceed the break-even point of production (77,650 kg) amounting to IDR 1,397,704,483. The margin of safety is IDR 4,931,095,517 or 78%, the net present value is > 0 (IDR 3,485,024,022), the internal rate of return is > 5% (86%), and the payback period is 2.3 years.
Length Weight Relationship of Bigeye Scad (Selar crumenophthalmus) Catch by Purse Seine in Manado Bay Makarondong, Geral Manuel; Sitanggang, Effendi P.; Labaro, Ivor L.; Luasunaung, Alfret; Manoppo, Lefrand; Pangalila, Fransisco P. T.; Thamin, Arman
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.39718

Abstract

The intensity of the catch of bigeye scad (Selar crumenophthalmus), is expected to cause problems in the availability of these fish resources. The purpose of this research is to analyze the Length-weight relationship of Bigeye scad caught by purse seine in Manado Bay. as well as to evaluate the results of the analysis of the Length-weight relationship and the catchment feasibility of the catch to support the sustainability of the potential of bigeye scad resources. The method used in this study is a quantitative method. conducted at Tumumpa Manado Coastal Fisheries Port, using fork length measurement data (FL) and weight of bigeye scad taken by the author under the guidance of lecturers in May 2021 and November 2021. Length-weight relationship of bigeye scad caught in May 2021 follows the equation W = 0,0249 L2.8057 with K = 1.01 and in November 2021 W = 0,0207 L2.9151. The type of bigeye scad in both seasons is categorized as negative allometric. This fish is categorized as unfit to catch (Lc < Lm). The structure of the catch in May 2021 obtained an average length of 10.26 ± 0.26 cm and an average weight of 18.03 ± 1.51 g where 51% were caught at a size of 9.8-10.8 cm and 46% had a weight of 11.0-16.0 g. while in November 2021 the average length was 10.90 ± 0.28 cm and the average weight was 22.53 ± 1.76 g where 50% were caught at a size of 10.0-11.0 cm and 31% g weight 21.0-26.0 g.Keywords: Bigeye Scad; Length Weight Relationship; Decent Catch; Purse Sein; Manado BayAbstrakIkan Selar bentong memiliki cita rasa enak, disukai masyarakat, dan harganya pun murah. Intensitas ketertangkapan jenis ikan ini, diduga kelak akan menimbulkan masalah ketersediaan sumberdaya ikan ini. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan panjang berat ikan selar bentong hasil tangkapan kapal pukat cincin (purse seiners) di Teluk Manado, serta Mengevaluasi hasil analisis hubungan panjang berat ikan selar bentong dengan kelayakan tangkap hasil tangkapan untuk menopang keberlanjutan potensi sumberdaya ikan selar bentong ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif, dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Manado, dengan menggunakan data ukuran panjang cagak (fork length, FL) dan berat ikan selar bentong yang diambil oleh penulis di bawah bimbingan dosen pada Mei 2021 (musim Pancaroba I) dan November 2021 (musim Pancaroba II) yang tertangkap purse seiners di Teluk Manado. Hubungan panjang berat ikan selar bentong yang tertangkap pada Mei 2021 mengikuti persamaan W = 0,0249 L2.8057 dengan K = 1.01 dan pada November 2021 W = 0,0207 L2.9151. Tipe pertumbuhan ikan selar bentong pada kedua musim tersebut terkategori alometrik negatif (b < 3), ikan ini terkategori tidak layak tangkap (Lc < Lm). Struktur hasil tangkapan pada Mei 2021 diperoleh panjang rerata 10.26 ± 0.26 cm dan berat rerata 18.03 ± 1.51 g, di mana 51% tertangkap pada ukuran 9.8 - 10.8 cm dan 46% memiliki berat 11.0-16.0 g, sementara pada November 2021 panjang rerata 10.90 ± 0.28 cm dan berat rerata 22.53 ± 1.76 g, di mana 50% tertangkap pada ukuran 10.0-11.0 cm dan 31% memiliki berat 21.0-26.0 g.  Kata Kunci: Selar Bentong; Hubungan Berat Panjang; Kelayakan Tangkap; Pukat Cincin; Teluk Manado
Co-Authors 2 Jhonny Budiman, 2 3 Aglius T.R. Telleng, 3 4 Emil Reppie, 4 Aglius T.R. Telleng Aglius T.R. Telleng Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Alsen Siadadi Angge, Irawan Anselun Mandagi Benyamin Rumbrawer Bill Bright Cavin Manoppo Christian Yosua Worang Dalegi, Jefry Damula, Reynold David Yusak Gandaria Dien, Heffry Veibert Effendi P. Sitanggang Eldy Majore Emil Reppie Emil Reppie Emil Reppie Fanny Silooy Frangky E. Kaparang Frangky E. Kaparang Frangky Ernes Kaparang Franky E Kaparang Greis S. Daruit Ivor L. Labaro Ivor L. Labaro Ivor Lembondorong Labaro Ixchel F Mandagi Janny F Polii Janny F. Polii Johnny Budiman Johny Budiman K. W.A. Masengi Kaparang, Frangky F. Kawilarang W.A. Masengi Kawilarang Warouw Alex Masengi Kirwelakubun, Nikodemus Kristina Dorkas Yuninie Labaro, Ivor Lembondorong Larungkondo, Jerialdy Lefrand Manoppo Lefrand Manoppo Lefrand Manoppo Lembo, Liliyana Levandri Alski Lumi Lucia Manu Lusia Manu Makarondong, Geral Manuel Mariana E Kayadoe Mariana E. Kayadoe Mariana E. Kayadoe Mariana E. Kayadoe Mariana Elizabeth Kayadoe Masamitsu Iwata Modaso, Vivanda O. J. Musthaqim Massora Nelwan, Evander Ch. Odis Jefri Sawi Otniel T. Usior Pamikiran, Revols D. Ch. Pamikiran, Revols D.Ch Patrice N.I. Kalangi Patty, Wilhemina Polii, Janny F Rachim Sjah Agung Renato Waworoentoe Revols D.Ch Pamikiran Septin Palembang Shanice Rotama Sitorus Siti Nafisah Matafi Stefanny S. Tumigolung Supit, Aprililian E. Thamin, Arman Tumigolung, Stefanny S. Turang, Veni S. Vivanda O.J. Modaso Wilhelmina Patty Wilhelmina Patty Yuninie, Kristina Dorkas