Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : SPASIAL

KAJIAN ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA BITUNG Wahab, Sitti Rahma Sy.; Rondonuwu, Dwight M.; Poluan, Roosje J.
SPASIAL Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara kini dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Perikanan (Kota Cakalang) dan Kota Industri, akan tetapi gambaran Kota Bitung belum memberikan identitas yang jelas sehingga masyarakat masih kesulitan untuk mengingat keadaan suatu tempat. Kota Bitung kini berkembang pesat diberbagai sektor tentu perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah maupun perencana untuk memperkenalkan diri sebagai suatu wilayah yang beridentitas dan tertata dengan baik berpegang pada lima elemen pembentuk kota. Tujuan Penelitian ini adalah menemukenali elemen – elemen pembentuk citra Kota Bitung berdasarkan RTRW Kota Bitung Tahun 2013-2033 dan menganalisis citra Kota Bitung menurut persepsi masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengeksplor fenomena elemen pembentuk citra kota menurut pandangan masyarakat dengan menggunakan kuesioner dan peta mental. Berdasarkan hasil penelitian,(1) Ditinjau dari RTRW elemen-elemen pembentuk citra Kota Bitung yaitu elemen path (Jl. Sam Ratulangi, Jl. Piere Tendean, Jl. Ir. Soekarno, Jl. Yos Sudarso, Jl. M. R Ticoalu, Jl. Marthadinata dan Jl. H.V Worang), elemen edges ( Batas Pantai), elemen nodes (Menara Eifel, Tugu Jam Pusat Kota, Pasar Cita, Pasar Tua, dan Pelabuhan Samudera Bitung), elemen district (Kawasan Perkantoran, Kawasan Pusat Kota, Kawasan Pelabuhan Samudera Bitung) dan elemen landmark yang teridentifikasi bersifat alamiah yaitu Gunung Dua Sudara, Gunung Tangkoko, Gunung Batu Angus, Gunung Lembeh dan Gunung Woka. (2) berdasarkan analisis, elemen yang sangat dikenali masyarakat adalah  elemen landmark  yaitu Tugu Cakalang,  elemen nodes dan elemen district yaitu Pelabuhan Samudera Bitung, elemen path yaitu Jl. Sam Ratulangi sedangkan elemen yang kurang dikenali masyarakat adalah elemen edges yaitu batas pantai atau batas selat lembeh.Kata Kunci : Elemen Pembentuk Citra Kota, Kota Bitung,Persepsi Masyarakat
PENGARUH PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TERHADAP PERMUKIMAN KECAMATAN MADIDIR KOTA BITUNG Dirgapraja, Vikri Abdya; Poluan, Roosje J.; Lakat, Ricky S. M.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Industri,dan Kota Perikanan (Kota Cakalang) di Provinsi Sulawesi Utara,seperti yang ada di Kecamatan Madidir merupakan salah satu dari delapan kecamatan yang memiliki sumber industri penghasil pengolahan ikan.Dengan semakin meningkatnya pengembangan kawasan industri maka semakin meningkat pula pencemaran yang disebabkan oleh hasil buangan pabrik-pabrik industri seperti sampah, CO2 serta kebisingan yang berpengaruh terhadap permukiman warga yang ada di Kecamatan Madidir.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kawasan industri terhadap permukiman di Kecamatan Madidir.Penelitian ini menggunakan metode path analysis untuk menentukan nilai koefisen pada dua variabel yaitu variabel independen kawasan industri dan variabel dependen permukiman. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa factor yang mempengaruhi oleh pengembangan kawasan industri pada kawasan permukiman yaitu pada bangunan dan pada infrastruktur. Bangunan permukiman mengalami pengaruh kesemrawutan lalu lintas 0,174 dan pencemaran 0,129.Akibatnya,masyarakat masyarakat melakukan upaya perbaikan.Selanjutnya,infrastruktur dipengaruhi oleh pencemaran 0,078,Kebisingan 0,028 dan kesemrawutan lalu lintas 0,031.Akibatnya,infrastuktur akan membutuhkan perbaikan-perbaikan secara signifikan. Kata kunci: Pengaruh,Pengembangan Kawasan Industri,Permukiman, Kecamatan Madidir.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN (STUDI KASUS: KECAMATAN AMURANG TIMUR, KECAMATAN AMURANG, DAN KECAMATAN AMURANG BARAT) Minggu, Jeanette S.; Poluan, Roosje J.; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang secara tegas mengamanatkan bahwa setiap penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah harus memperhatikan daya dukung lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Oleh sebab itu, pemanfaatan lahan di Amurang Raya sebagai ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan harus diatur dengan baik sehingga sesuai dengan rencana tata ruang, sesuai dengan daya tampung lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan klasifikasi kemampuan dan menganalisis kesesuaian lahan di Kecamatan Amurang Timur, Kecamatan Amurang, dan Kecamatan Amurang Barat atau Amurang Raya. Penentuan kemampuan dan kesesuaian lahan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang. Data-data yang dibutuhkan adalah data sekunder yang diperoleh melalui survei instansional serta data primer dari survei lapangan sebagai penguat data sekunder. Metode penelitian menggunakan dua teknik analisis yang diawali analisis skoring untuk memberikan skor pada tiap parameter sesuai dengan kondisi parameter dan selanjutnya analisis overlay untuk mengetahui total skor yang nantinya digunakan dalam penentuan zona klasifikasi kemampuan lahan dan untuk mengetahui kesesuaian lahan. Dari rangkaian analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat 5 kelas kemampuan lahan di Amurang Raya didominasi kemampuan pengembangan rendah (kelas b) 72%. Untuk kesesuaian lahan permukiman, terdapat 4 kategori yaitu lahan sesuai A seluas 617,44 ha, lahan sesuai B seluas 3.719,63 ha, lahan tidak sesuai A seluas 25.054,53 ha, dan lahan tidak sesuai B seluas 54,90 ha. Untuk kesesuaian lahan pertanian, terdapat 4 kategori yaitu kawasan lindung seluas 762,78 ha, kawasan penyangga seluas 10,86 ha, tanaman setahun seluas 379,04 ha dan tanaman tahunan seluas 1.250,13 ha.Kata Kunci: Kemampuan lahan, kesesuaian lahan, Amurang.
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KOTA SORONG Baru, Desi Natalia; Poluan, Roosje J.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah adalah usaha untuk mengatur atau mengelola sampah dan proses pengumpulan, pemisahan, pemindahan, pengangkutan sampai pengelolaan dan pembuangan akhir. Implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Sorong melalui regulasi atau Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Sampah. Tetapi permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Sorong belum optimal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Daerah Kota Sorong. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Sorong dengan mengunakan penelitian kualitatif. Metode pendekatan kualitatif dilakukan dengan mengunakan analisis skala likert. Hasil hitungan skala likert untuk mengetahui tingkat kamuan dan kemampuan masyarakat melakukan penanganan sampah dengan cara pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan, pemrosesan akhir.Kata Kunci: Pengelolaan, Sampah, Kota Sorong
KETANGGUHAN WILAYAH DISTRIK SORONG DAN SORONG MANOI DI KOTA SORONG TERHADAP BENCANA BANJIR Ferdinand Sagisolo; Roosje J. Poluan; Esli D. Takumansang
SPASIAL Vol. 10 No. 1 (2023): Volume 10, No.1, Mei 2023
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Sorong merupakan salah satu kota di Papua Barat yang sering menghadapi masalah banjir. Namun, belum ada data mengenai luasan wilayah yang rentan terhadap kondisi ini. Oleh karena itu, perlu dilakukan survei untuk mengetahui sebaran tingkat ketahanan banjir di Sorong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan kuantitatif dengan analisis dan persebaran pola tingkat kerawanan banjir menggunakan teknik analisis data primer dan sekunder berbasis software Arc View 10.4. Akibatnya, tingkat ketahanan banjir di Kabupaten Solon dan Solon Manoi diklasifikasikan menjadi empat rangking ketahanan banjir: kerawanan tinggi, kerawanan rendah, kerawanan rendah, dan tidak kerawanan. 4,53% wilayah metropolitan Solon tergolong sangat rawan banjir, 33,65% tergolong tidak rawan banjir, 33,65%, dan tidak rawan banjir 19,71%. Akan selesai. Perlu diketahui bahwa 38,18% wilayah Sorong Sorong Manoi rawan dan rawan banjir. Daerah ini merupakan pusat pemerintahan dan termasuk daerah padat penduduk. Kata kunci: banjir, ketahanan banjir kabupaten Sorong, Sorong Manoi