Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Mengukur Kualitas Lingkungan Kawasan Fringe Settlement: Studi Kasus pada Desa Ubung Kaja Denpasar dan Desa Buring Malang Karina Kartika Putri; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Damayanti Asikin
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 14 No. 3 (2025): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v14i3.495

Abstract

Fringe settlement di kawasan rural-urban Kota Denpasar dan Kota Malang menjadi fenomena signifikan yang mencerminkan dinamika perkembangan wilayah di kedua kota tersebut. Pertumbuhan pemukiman di pinggiran kota dan pedesaan dipengaruhi oleh berbagai variabel, termasuk aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, serta ketersediaan infrastruktur dan fasilitas. Di Kota Denpasar, pengembangan pemukiman pinggiran lebih terencana dengan pengaruh yang kuat dari sektor pariwisata yang mendorong urbanisasi dan pembangunan infrastruktur secara bertahap. Sementara itu, di Kota Malang, sektor pendidikan dan migrasi domestik menjadi pendorong utama perkembangan fringe settlement, dengan dampak yang lebih terlihat pada alih fungsi lahan dan transformasi sosial budaya. Regulasi pemerintah dan kebijakan pembangunan daerah juga memainkan peran kunci dalam mengarahkan pola pertumbuhan ini, dengan fokus pada pengelolaan lahan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih merata. Metode pengumpulan data mencakup survei lapangan, penyebaran kuesioner, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang fenomena ini. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengelola pertumbuhan pemukiman pinggiran serta menawarkan rekomendasi strategis yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat di kawasan fringe settlement. Rekomendasi ini diharapkan dapat membantu mengarahkan pembangunan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.
Sanggah Kemulan Nganten dan Pelangkiran: obyek penentu keberlangsungan rumah tinggal tradisional Desa Pedawa, Bali Prajnawrdhi, Tri Anggraini; Pebriyanti, Ni Luh Putu
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.6

Abstract

Balinese traditional architecture’s form and character are associated to its culture, custom and religious system of the Balinese. Traditional Balinese house as part of the Nusantara Architecture are inherited from our ancestors and have become the evident of our history. Tri Hita Kharana is the concept which reflect a close relationship between the Balinese with the nature and the God, which become the foundation of traditional setllement in Bali Aga vilages, thus it also become the main concept in preserving Balinese traditional architecture. The unique character of traditional house in desa Pedawa formed by people’s belief of their ancestor; their tradition as palm sugar maker; their nature and surrounding areas; and their way of life. This research aimed to discover the important factor from this traditional house which preserve this house to this moment. Case study method includes field observation, interview and historical study with the use of descriptive analysis has presented that Sanggah Kemulan Nganten and Pelangkiran are the two most important factors in preserving the traditional house in Desa Pedawa.Keywords: traditional house, Pelangkiran, Sanggah Kemulan Nganten
Karakter Arsitektural Bangunan Kolonial sebagai Warisan Budaya Kota Singaraja Agusintadewi, Ni Ketut; Prajnawrdhi, Tri Anggraini; Satria, Made Wina
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.16

Abstract

Menelusuri sejarah Kota Singaraja sebagai ibukota Kabupaten Buleleng di Bali Utara selalu bertalian erat dengan peninggalan arsitektur kolonial Belanda. Peninggalan arsitektur kolonial masih dapat ditemui dibeberapa sisi kota, tetapi tidak sedikit yang sudah mengalami perubahan bentuk, bahkan tampak berbeda dengan keadaan semula. Adanya akulturasi dalam arsitektur antara penjajah dan kultur Bali dan juga penyesuaian pada iklim tropis menyebabkan arsitektur kolonial di kota ini memiliki tampilan yang unik. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri pembentuk elemen fasade bangunan dan pembentuk elemen ruang dalam sebagai karakter arsitektural bangunan kolonial di Kota Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengambilan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Bangunan kolonial yang dipilih sebagai kasus studi dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui beberapa kriteria. Analisis data dilakukan secara induktif dengan lebih menekankan kepada makna dan nilai sejarah. Hasil pengamatan peneliti menjadi salah satu cara untuk memaparkan dan menyimpulkan kedua elemen pembentuk karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan kolonial di Kota Singaraja memiliki karakter arsitektural yang dapat ditentukan dari jendela, pintu masuk, atap, dan dinding. Sementara karakter yang lain dapat ditentukan dari denah dasar dan bentuk bangunan. Indikator dari variabel-variabel tersebut semakin memperkuat karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut secara fisik dan visual sebagai warisan budaya kota dalam memperkuat identitas Kota Singaraja sebagai kota pusaka.