Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Ergonomi dan Anthopometri terhadap Skincare I Putu Agung Purnadi; Tri Anggraini Prajnawrdhi; I Nyoman Susanta
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 12: November 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i12.2456

Abstract

Arsitektur perilaku adalah salah satu dari banyak konsep yang dipelajari oleh seorang arsitek untuk meningkatkan kemampuan merancang ruang secara optimal berdasarkan atas civitasnya. Salah satu mate-ri yang ada di konsep ini adalah mengenai Ergonomi dan Anthopometri. Metode yang diterapkan yaitu ob-servasi ke lapangan. Objek observasi yaitu Anda Jegeg Bali Skincare. Objek tersebut berlokasi di Jl. Pe-rum Dalung Permai No.19 Kuta, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung. Anda Jegeg Bali Skincare menangani masalah di bidang kesehatan kulit dan perawatan kulit Artikel bertujuan untuk membahas konteks dari hasil studi yang dilakukan pada objek observasi secara singkat, namun dengan sudut pandang penulis.
The Role of Local Communities in Overcoming River Pollution in Peliatan Village Pradnyani, Ida Ayu Eka; Sueca, Ngakan Putu; Prajnawrdhi, Tri Anggraini
ASTONJADRO Vol. 13 No. 1 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v13i1.14765

Abstract

Environmental pollution is a common problem that often affects an area. One of them is river pollution. River pollution also occurred in Peliatan Village. The condition of one of the rivers, namely the Mas River, was once used as a landfill or TPA. The role of the community in helping to overcome pollution problems is an initial step that can become a foundation in overcoming river pollution problems in Peliatan Village. In Bali, the existence of community groups is still closely felt, especially in overcoming and finding a problem. Local community groups have a major role in providing aspirations for the progress of their own region. The theory of community empowerment and community based development is the theoretical basis for implementing this research activity. The quality of the riverside space is measured from the indicators of the quality of the waterfront space according to Sutrisno (1997) and is presented descriptively. Research using qualitative methods with case studies and using observation and interview techniques. This method is used to be able to understand and discover phenomena in the field in depth. The results of the study showed that the condition of the river before handling river pollution was that its banks were filled with garbage and made into a landfill. The condition of the river afterwards is that the river becomes clean, orderly and made more attractive with the addition of wall carvings and sculptures. The reappearance of the bad debt tradition and visits from outside the area to Peliatan Village. The role of the community as the dominant role and in collaboration with the Service Village and Traditional Village. Contributions from local communities both in terms of ideas, ideas and material as an important capital in overcoming problems in their own area. This capital will be very useful for development in villages or cities.
CHARACTERISTICS CONDITION AND ENVIRONMENTAL QUALITY OF USING TRIBE SETTLEMENTS IN KEMIREN VILLAGE Sufyan, Abu; Prajnawrdhi, Tri Anggraini; Agusintadewi, Ni Ketut
Journal of Architecture&ENVIRONMENT Vol 19, No 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j2355262x.v19i2.a6939

Abstract

As built environment, development in Kemiren Village as traditional tourism village, community feels benefits. Those developments dynamically encourage changes, especially in characteristics and environmental quality, this cause of community space growth and some areas function. There is control to maintain characteristics of threat to change It is necessary to conduct study to identify settlement characteristics from cultural significance and environmental quality influence, which results can be utilize to make more appropriate directtion for traditional settlements preservation in Kemiren Village, which makes potential characteristics and environment feasibility as purpose to preserving community areas.Research conducted with rationalistic-qualitative, descriptive and exploratory methods, data collection techniques by field observations, interviews and documentation. Furthermore, data obtained will be map into tables, including mapping environmental conditions, characteristics, cultural meanings, and environmental quality.Based on evaluation analysis, settlements cultural significance reaches an average of 60%, with aesthetic, scarcity, and exceptional variables being elements that have high value of unique characteristics, caused by presence factor of Kemiren House, which has historical value and has potential to become cultural heritage building. Then the value of environmental quality, which is below an average of 50%, poses threat to physical formations, which can visually reduce aesthetic value and unusual environment of settlement.
Mengukur Kualitas Lingkungan Kawasan Fringe Settlement: Studi Kasus pada Desa Ubung Kaja Denpasar dan Desa Buring Malang Karina Kartika Putri; Tri Anggraini Prajnawrdhi; Damayanti Asikin
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 14 No. 3 (2025): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v14i3.495

Abstract

Fringe settlement di kawasan rural-urban Kota Denpasar dan Kota Malang menjadi fenomena signifikan yang mencerminkan dinamika perkembangan wilayah di kedua kota tersebut. Pertumbuhan pemukiman di pinggiran kota dan pedesaan dipengaruhi oleh berbagai variabel, termasuk aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, serta ketersediaan infrastruktur dan fasilitas. Di Kota Denpasar, pengembangan pemukiman pinggiran lebih terencana dengan pengaruh yang kuat dari sektor pariwisata yang mendorong urbanisasi dan pembangunan infrastruktur secara bertahap. Sementara itu, di Kota Malang, sektor pendidikan dan migrasi domestik menjadi pendorong utama perkembangan fringe settlement, dengan dampak yang lebih terlihat pada alih fungsi lahan dan transformasi sosial budaya. Regulasi pemerintah dan kebijakan pembangunan daerah juga memainkan peran kunci dalam mengarahkan pola pertumbuhan ini, dengan fokus pada pengelolaan lahan dan penyediaan fasilitas publik yang lebih merata. Metode pengumpulan data mencakup survei lapangan, penyebaran kuesioner, dan wawancara dengan pemangku kepentingan untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang fenomena ini. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang mendalam mengenai tantangan yang dihadapi dalam mengelola pertumbuhan pemukiman pinggiran serta menawarkan rekomendasi strategis yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan masyarakat di kawasan fringe settlement. Rekomendasi ini diharapkan dapat membantu mengarahkan pembangunan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.
Sanggah Kemulan Nganten dan Pelangkiran: obyek penentu keberlangsungan rumah tinggal tradisional Desa Pedawa, Bali Prajnawrdhi, Tri Anggraini; Pebriyanti, Ni Luh Putu
RUAS Vol. 14 No. 2 (2016)
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ruas.2016.014.02.6

Abstract

Balinese traditional architecture’s form and character are associated to its culture, custom and religious system of the Balinese. Traditional Balinese house as part of the Nusantara Architecture are inherited from our ancestors and have become the evident of our history. Tri Hita Kharana is the concept which reflect a close relationship between the Balinese with the nature and the God, which become the foundation of traditional setllement in Bali Aga vilages, thus it also become the main concept in preserving Balinese traditional architecture. The unique character of traditional house in desa Pedawa formed by people’s belief of their ancestor; their tradition as palm sugar maker; their nature and surrounding areas; and their way of life. This research aimed to discover the important factor from this traditional house which preserve this house to this moment. Case study method includes field observation, interview and historical study with the use of descriptive analysis has presented that Sanggah Kemulan Nganten and Pelangkiran are the two most important factors in preserving the traditional house in Desa Pedawa.Keywords: traditional house, Pelangkiran, Sanggah Kemulan Nganten
Karakter Arsitektural Bangunan Kolonial sebagai Warisan Budaya Kota Singaraja Agusintadewi, Ni Ketut; Prajnawrdhi, Tri Anggraini; Satria, Made Wina
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 8 No. 2 (2019): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.8.1.16

Abstract

Menelusuri sejarah Kota Singaraja sebagai ibukota Kabupaten Buleleng di Bali Utara selalu bertalian erat dengan peninggalan arsitektur kolonial Belanda. Peninggalan arsitektur kolonial masih dapat ditemui dibeberapa sisi kota, tetapi tidak sedikit yang sudah mengalami perubahan bentuk, bahkan tampak berbeda dengan keadaan semula. Adanya akulturasi dalam arsitektur antara penjajah dan kultur Bali dan juga penyesuaian pada iklim tropis menyebabkan arsitektur kolonial di kota ini memiliki tampilan yang unik. Tujuan penelitian ini adalah menelusuri pembentuk elemen fasade bangunan dan pembentuk elemen ruang dalam sebagai karakter arsitektural bangunan kolonial di Kota Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengambilan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Bangunan kolonial yang dipilih sebagai kasus studi dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui beberapa kriteria. Analisis data dilakukan secara induktif dengan lebih menekankan kepada makna dan nilai sejarah. Hasil pengamatan peneliti menjadi salah satu cara untuk memaparkan dan menyimpulkan kedua elemen pembentuk karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan kolonial di Kota Singaraja memiliki karakter arsitektural yang dapat ditentukan dari jendela, pintu masuk, atap, dan dinding. Sementara karakter yang lain dapat ditentukan dari denah dasar dan bentuk bangunan. Indikator dari variabel-variabel tersebut semakin memperkuat karakter arsitektural pada bangunan-bangunan kolonial tersebut secara fisik dan visual sebagai warisan budaya kota dalam memperkuat identitas Kota Singaraja sebagai kota pusaka.