Rini Pramesti
Department Of Marine Sciences, Faculty Of Fisheries And Marine Sciences, Diponegoro University

Published : 59 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Skrining Dan Seleksi Bakteri Simbion Spons Penghasil Enzim Ekstraseluler Sebagai Agen Bioremediasi Bahan Organik Dan Biokontrol Vibriosis Pada Budidaya Udang Wilis Arii Setyati; Ahmad Saddam Habibi; Subagiyo Subagiyo; Ali Ridlo; Nirwani Soenardjo; Rini Pramesti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.776 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.595

Abstract

The rapid cultivation of aquaculture with the application of intensive systems in recent years, has raised problems in the form of a decrease in the carrying capacity of ponds for the life of aquaculture organisms. The further impact caused is the occurrence of a series of diseases and damage to environmental conditions. Anticipatory measures through the application of bioremediation are solutions to prevent more serious damage. In the bioremediation process, enzymes play the role of catalysts that accelerate biochemical reactions in ponds of soil and water. Bacteria associated with sponges have various bioactive compounds that can inhibit the growth of pathogenic bacteria. The purpose of this study is isolation and screening of bacteria associated with sponges that have extracellular enzyme activity (proteolytic, amylolytic, cellulolytic, and lipolytic) and antibacterial activity, as well as knowing the interaction of antagonism properties among the best isolates, and phenotypic identification of bacterial species. This research was conducted in 4 stages: sample collection, isolation, selection, and identification. The results showed that the total sponge symbiotic bacteria obtained were 15 isolates with the potential of 15 proteolytic isolates, 12 amylolytic isolates, 12 lipolytic isolates, and 4 cellulolytic isolates. There were 10 isolates having antibacterial activity against Vibrio harveyi and 2 isolates had antibacterial activity against Vibrio alginolyticus. The best bacterial isolates SP.1.3, SP.5.1, and SP.5.3 have no antagonistic activity between the three. Phenotypic identification of 3 isolates alleged that isolates SP.1.3, SP.5.1, and SP.5.2 were identified as Bacillus sp., Acinetobacter sp., And Pseudomonas sp.Pesatnya kegiatan budidaya perikanan dengan penerapan sistem intensif dalam beberapa tahun terakhir, telah memunculkan permasalahan berupa penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan organisme budidaya. Dampak lanjut yang ditimbulkan adalah terjadinya serangkaian penyakit dan kerusakan kondisi lingkungan. Langkah antisipatif melalui penerapan bioremediasi merupakan solusi untuk mencegah kerusakan yang lebih serius. Dalam proses bioremediasi, enzim memainkan peran katalis yang mempercepat reaksi biokimia di kolam tanah dan air. Bakteri yang berasosiasi dengan spons memiliki beragam senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Tujuan dari penelitian ini adalah isolasi dan skrining bakteri yang berasosiasi dengan spons yang memiliki aktivitas enzim ekstraseluler (proteolitik, amilolitik, selulolitik, dan lipolitik) dan aktivitas antibakteri, serta mengetahui interaksi sifat antagonisme antar isolat terbaik, dan identifikasi spesies bakteri secara fenotipik. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap: koleksi sampel, isolasi, seleksi, dan identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total bakteri simbion spons yang diperoleh 15 isolat dengan potensi 15 isolat proteolitik, 12 isolat amilolitik, 12 isolat lipolitik, dan 4 isolat selulolitik. Terdapat 10 isolat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Vibrio harveyi dan 2 isolat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Vibrio alginolyticus. Isolat bakteri terbaik SP.1.3, SP.5.1, dan SP.5.3 tidak memiliki aktivitas saling antagonis antar ketiganya. Identifikasi fenotipik dari 3 isolat diduga bahwa isolat SP.1.3, SP.5.1, dan SP.5.2 diidentifikasi sebagai Bacillus sp., Acinetobacter sp., dan Pseudomonas sp.  
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RUMPUT LAUT Halimeda macroloba DARI PANTAI TELUK AWUR, JEPARA, JAWA TENGAH Ahmad Fadhil Muzaki; Wilis Ari Setyati; Subagiyo Subagiyo; Rini Pramesti
JURNAL ENGGANO Vol 3, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.308 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.3.2.144-155

Abstract

Antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh berfungsi sebagai mekanisme perlindungan terhadap serangan radikal bebas memiliki jumlah yang terbatas. Antioksidan eksogen yang aman dan mudah diperoleh adalah antioksidan dari bahan alam seperti Halimeda macroloba yang mengandung senyawa bioaktif meliputi fenol, klorofil a dan b, serta karotenoid. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif eksploratif. H. macroloba diperoleh dari Pantai Teluk Awur - Jepara dicuci bersih dengan air tawar dan diblender. Sampel dimaserasi pada pelarut metanol, etil asetat, dan n-heksan, serta diuapkan dengan rotary evaporator. Aktivitas antioksidan ditentukan dari nilai IC50. Nilai ini diperoleh dari persamaan kurva regresi linier pada nilai inhibisi yang terdeteksi dari nilai absorbansi DPPH murni terhadap pengaruh ekstrak H. macroloba yang diukur pada panjang gelombang 517 nm. Kadar total fenol diuji menggunakan larutan Folin-Ciocalteu dengan asam galat sebagai larutan standar yang diukur pada panjang gelombang 725 nm. Kadar klorofil a, b, dan  karotenoid diukur pada panjang gelombang 663 nm, 646 nm, dan 470 nm. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50ekstrak metanol sebesar 38,57 ppm, etil asetat 1567,27 ppm dan n-heksan 259,34 ppm. Kadar total fenol pada masing-masing  ekstrak adalah 87,10; 140,78 dan 102,24 (mg GAE/g berat basah sampel), kadar klorofil a sebesar 25,56; 28,44 dan 0,41 (mg/g berat basah sampel), kadar klorofil b sebesar 42,10; 41,94 dan 0,61 (mg/g berat basah sampel), dan kadar karotenoid sebesar 97,92; 85,68 dan 2,34 (µ mol/g berat basah sampel). Nilai IC50 dari ekstrak metanol termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat kuat sedangkan ekstrak etil asetat dan n-heksan termasuk kategori aktivitas antioksidan sangat lemah.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN SENYAWA NON-POLAR DAN POLAR DARI EKSTRAK MAKROALGA Acanthophora muscoides DARI PANTAI KRAKAL YOGYAKARTA Wilis Ari Setyati; Muhammad Zainuddin; Rini Pramesti
JURNAL ENGGANO Vol 2, No 1
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.676 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.2.1.68-77

Abstract

Pantai Krakal Yogyakarta memiliki keanekaragaman rumput laut tinggi. Memiliki tipe ekologi berbatu karang yang cocok untuk habitat rumput laut jenis Acanthophora muscoides. Pemanfaatan rumput laut Pantai Krakal dalam bidang kesehatan belum optimal. Rumput laut mengandung senyawa bioaktif (polifenol) dan biopigmen (klorofil dan karotenoid) yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini melakukan uji aktivitas antioksidan ekstrak rumput laut Acanthophora muscoides. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen laboratoris di Laboratorium Prodi Budidaya Perairan UNISNU - Jepara. Hasil esktraksi pelarut n-hexsana memiliki berat 0,471a gram dan rendemen 0,373a %, sedangkan berat ekstrak metanol 0,667b gram dan rendemen 0,529b % (p < 0,05). Nilai IC50 perlakuan ekstrak n-heksan, metanol dan vitamin c berbeda signifikan (p < 0,05) yaitu sebesar 312 ppm, 415 ppm dan 13 ppm, ketiganya tergolong antioksidan sangat kuat. Ekstrak n-heksan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik dari pada ekstrak metanol, hal ini dikarenakan ekstrak n-heksan memiliki nilai total fenol = 45,284 mg GAE/g, klorofil a = 23,299 mg/g, karotenoid = 64,065 µg/g, yang lebih tinggi dari pada ekstrak metanol yaitu total fenol = 22,235 mg GAE/g, klorofil a = 7,215 mg/g, karotenoid = 26,654 µg/g.
TINGKAT HERBIVORI DAUN Avicennia marina (FORSSK.) VIERH DAN Rhizophora mucronata DI VEGETASI MANGROVE – TIMBULSLOKO, DEMAK Eldita Amalia; Rini Pramesti; Rudhi Pribadi; Wilis Ari Setyati
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.659 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.2.128-135

Abstract

Mangrove merupakan varietas komunitas pantai tropik dan subtropik  yang mampu beradaptasi dengan salinitas tertentu. Jenis Avicennia marina dan Rhizophora mucronata merupakan tegakan alami dan hasil rehabilitasi. Kegiatan konservasi di lokasi ini belum dikelola baik sehingga struktur dan komposisi bervariasi. Hal ini dapat diatasi yang salah satunya dengan herbivori sebagai parameter tingkat kerusakan ekosistem mangrove. Daun merupakan salah satu bagian tumbuhan yang mengalami perubahan bentuk karena pemangsaan.  Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat herbivori daun A.marina dan R. mucronata berdasarkan perbedaan spesies, umur daun dan ketinggian pohon. Metode deskriptif digunakan dalam penelitin ini dan penentuan lokasi pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Sampel daun diambil dari tiga kategori ketinggian yang berbeda yaitu <1 m, >1-3 m, >3-5 m, masing-masing sebanyak 10 ulangan (pohon) untuk setiap kategori. Daun dipisahkan berdasarkan umur daun (tua atau muda) dan kondisi daun (utuh atau rusak) dan total daun diambil sebanyak 10%. Hasil penelitian menunjukan nilai rerata pada setiap jenis, umur daun dan ketinggian pohon diperoleh tingkat herbivori A. marina yaitu 4,66%  (0,16% - 8,93%) sampai 11,59% (2,14% - 21,97%) sedangkan R. mucronata yaitu 5,23% (0,31% - 9,94%) sampai 12,44% (3,50% - 23,81%).HERBIVORY LEVEL OF MANGROVE LEAVES Avicennia marina (FORSSK.) VIERH AND Rhizophora mucronata IN MANGROVE VEGETATION - TIMBULSLOKO, DEMAK. Mangroves are variety of tropical and subtropical coastal communities that adapt to certain salinity. Avicennia marina and Rhizophora mucronata were found in location. Conservation activities were not managed so the structure and composition varies. This can be overcome one of them with herbivory as a parameter of the level damage to mangrove ecosystems. The leaves are one part of the plant that changes shape due to predation. The purpose of this study was to determine herbivory level of A.marina and R. mucronata leaves based on differences in species, leaf of age and tree of height. Descriptive method is used in this study and the determination of the location sampling with the purposive sampling method. Leaf samples were taken from three different height categories namely <1 m,> 1-3 m,> 3-5 m, each with 10 replications (trees) for each category. The leaves are separated based on the age of the leaves (old or young) and the condition of the leaves (whole or damaged) total leaves taken as much as 10%. The results showed the average value of each species, leaf age and height of the tree obtained A. marina herbivory level of 4.66% range (0.16% - 8.93%) to 11.59% range (2.14% - 21.97%) while R. mucronata is 5.23% range (0.31% - 9.94%) to 12.44% range (3.50% - 23.81%).
Kelimpahan Mikroalga Epifit Pada Daun Lamun Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata Di Pulau Sintok Taman Nasional Karimunjawa Desni Elfrida Samosir; Rini Pramesti; Nirwani Soenardjo
Journal of Marine Research Vol 11, No 2 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i2.33855

Abstract

Lamun dan epifit merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme di laut. Organisme mikroalga epifit yang menempel pada daun lamun dapat menghalangi nutrien untuk terserap dan menurunkan produktivitas lamun. Tujuan penelitian ini mengkaji jenis - jenis mikroalga,  nilai kelimpahan, keanekaragaman, dan indeks mikroalga yang menempel di daun lamun Thalassia. hemprichii dan Cymodocea rotundata di kawasan perairan Pulau Sintok,Karimunjawa. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan November 2019. Lokasi penelitian dengan 3 stasiun dan masing – masing stasiun terbagi menjadi 3 sub stasiun. Metode penelitian menggunakan metode purposive sampling. Perhitungan mikroalga epifit menggunakan Sedgewick Rafter Cell. Hasil penelitian ini ditemukan 17 genus yang terdiri dari kelas Bacillariophyceae 3 genus,  Dinophyceae dan 1 genus kelas Cyanophyceae. Kelimpahan mikroalga pada daun lamun T.hemprichii yang tertinggi terdapat pada Stasiun II sebanyak 34.057,81 sel/cm2 diikuti stasiun III sebanyak 18.922,81sel/cm2 dan terendah pada Stasiun I yaitu sebanyak 17.192,98 sel/cm2. Pada daun lamun C. rotundata tertinggi pada Stasiun II sebanyak 11.988,20 sel/cm2 diikuti stasiun III yaitu 9.372,28 sel/cm2dan terendah pada Stasiun I yaitu sebanyak 8.147,39 sel/cm2. Nilai indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori sedang, keseragaman termasuk dalam kategori tinggi dan dominansi dalam kategori rendah yang menunjukkan bahwa tidak ada spesies mikroalga dari masing – masing kelas yang mendominasi di perairan tersebut.   Seagrasses and epiphytes are important food sources for many organisms. Epiphytic microalgae organisms attached to seagrass leaves can prevent nutrients from being absorbed and reduce the productivity of the seagrass itself. If the main epiphytic predator is not present, there will be an accumulation of epiphytes on the seagrass leaves, also inhibiting its growth. The purpose of this study was to examine the types of microalgae and the abundance, diversity, and dominance values of microalgae that live on the leaf surface of Thalassia seagrass, hemprichii and Cymodocea rotundata in the waters of Sintok Island, Karimunjawa. This research was conducted in November 2019 in the waters of the island of Sintok, each of which has three stations and it’s divided into three sub-stations by purposive sampling method. Epiphytic microalgae were calculated by diluting the samples obtained to be observed under a microscope using the Sedgewick Rafter Cell. The results of this study were found as many as 17 genera of class Bacillariophyceae, three genera of Dinophyceae class and one genus of class Cyanophyceae. The highest abundance of microalgae in the leaves of seagrass T. hemprichii was found at Station II, as many as 34,057.81 cells/cm2, followed by Station III at 18,922.81 cells/cm2 and the lowest at Station I with 17,192.98 cells/cm2. Then the highest seagrass C. rotundata leaf was at Station II, as many as 11,988.20 cells/cm2, followed by Station III, which was 9,372.28 cells/cm2, and the lowest was at Station I as many as 8,147.39 cells/cm2. The diversity index value is in the medium category, uniformity is in the high category, and dominance is in a low category, indicating that no microalgae species from each class dominate in the waters. 
Pertumbuhan Rumput Laut Gracilaria sp. terhadap Variasi Dosis Media Walne Anisah Harahap; Rini Pramesti; Ali Ridlo
Journal of Marine Research Vol 11, No 3 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i3.34265

Abstract

Gacilaria sp. merupakan sumber agar yang sangat laku di pasaran baik dalam negeri maupun luar negeri. Untuk memenuhi permintaan pasar maka stok bibit harus terpenuhi salah satunya dengan menggunakan metode vegetatif. Nutrien merupakan salah satu faktor penting dalam proses metode ini. Jika media tumbuh tidak mencukupi kebutuhan perlu dilakukan pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis media Walne pada pertumbuhan Gracilaria sp. dan mengetahui dosis optimal sebagai sumber nutrien. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan 5 perlakuan 1 kontrol dan 3 ulangan, antara lain perlakuan A (kontrol), B (0,5 ml/L), C (1 ml/L), D (2 ml/L), E (4 ml/L) dan F (8 ml/L). Parameter yang diamati adalah berat eksplan, jumlah tunas, panjang tunas, pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik dan kualitas air media. Data dianalisis menggunakan analisis One-Way ANOVA dilanjutkan uji Tukey dan Games-Howell. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata berat, jumlah tunas dan panjang tunas terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05). Rata-rata pertumbuhan berat mutlak tertinggi pada perlakuan E (4 ml/L) yaitu 0,07 ± 0,01 g/hari dan laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada perlakuan E (4 ml/L) 2,24 %/hari. Hal ini diduga nutrien bekerja secara optimal. Hasil pengamatan pH (4 – 7,92), salinitas (23 – 32 ppt) dan suhu (27 – 31 oC). Dosis 4 ml/L merupakan konsentrasi optimal karena pada dosis ini Gracilaria sp. berpengaruh secara signifikan.    Gacilaria sp. is a source of agar which is very salable in the market both domestically and abroad. To meet market demand, the stock of seeds must be met, one of them by using the vegetative method. Nutrients are one of the important factors in the process of this method. If the growing media is not sufficient, fertilization needs to be done. This study aims to determine the effect of variations in the dose of Walne media on the growth of Gracilaria sp. and knowing the optimal dose as a source of nutrients. The method used is a laboratory experimental method with Completely Randomized Design (CRD) using 5 treatments 1 control and 3 replications, including treatment A (control), B (0,5 ml/L), C (1 ml/L), D (2 ml/L), E (4 ml/L) and F (8 ml/L). Parameters observed were explant weight, number of shoots, shoot length, absolute weight growth, specific growth rate and water quality of the media. Data were analyzed using One-Way ANOVA analysis followed by Tukey and Games-Howell tests. The results showed that there were significant differences in the average weight, number of shoots and shoot length (p < 0,05). The highest average absolute weight growth was in treatment E (4 ml/L) which was 0,07 ± 0,01 g/day and the highest specific growth rate was in treatment E (4 ml/L) 2,24%/day. It is suspected that nutrients work optimally. The results were observed for pH (4 – 7,92), salinity (23 – 32 ppt) and temperature (27 – 31 oC). The dose of 4 ml/L is the optimal concentration because at this dose Gracilaria sp. significant effect.
Struktur Komunitas dan Estimasi Tutupan Lamun Di Perairan Mrican, Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa, Jepara Gandang Herdananto Nugroho; Raden Ario; Rini Pramesti
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 3 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i3.42348

Abstract

Ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif sebagai habitat, tempat pemijahan dan feeding ground. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi struktur komunitas lamun yang tersebar di perairan Mrican Pulau Kemujan, Karimunjawa. Parameter yang dikaji berupa komposisi jenis, indeks ekologi dan parameter perairan. Luas tutupan lamun didapatkan melalui hasil foto udara yang diolah dengan analisa indeks vegetasi. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif eksploratif dengan penentuan titik lokasi meggunakan metode purposive sampling. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 titik berdasarkan daerah ekosistem lamun dan area wisata. Metode pengambilan sampel lamun dengan  metode line transeck dengan alat bantu transeck kuadrat. Pengambilan foto udara menggunakan wahana drone dengan aplikasi pix4d. Komposisi jenis spesies lamun yang ditemukan sebanyak 4 spesies, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Halodule uninervis. Pola sebaran lamun tiap jenis mengelompok sedangkan lamun jenis E. Acoroides merata pada stasiun 3. Nilai tutupan lamun tertinggi terdapat pada stasiun 2 (21,3%); dengan rata – rata penutupan 17,02%. Kerapatan tertinggi terdapat di stasiun 1 spesies E. Acoroides. Keanekaragaman lamun menghasilkan nilai rendah dan kategori sedang. Indeks keseragaman kategori sedang terdapat pada stasiun 1 sedangkan kategori tinggai pada stasiun 2 dan 3. Indeks dominansi dari ke-3 stasiun menunjukkan tidak adanya dominasi yang terjadi di setiap stasiun. Estimasi tutupan lamun dengan foto udara dengan areal studi 4,68 ha adalah seluas 16.210 m², sehingga estimasi tutupan lamun di perairan Pantai Mrican, Taman Nasional Karimunjawa sebesar 35%. Seagrass ecosystem is one of the productive marine ecosystems as a habitat, spawning ground and feeding ground. This study aims to obtain the structural conditions of seagrass communities scattered in the waters of Mrican Kemujan Island, Karimunjawa. The parameters studied were species composition, ecological index and water parameters. The area of seagrass cover was obtained through the results of aerial photographs which were processed by analysis of the vegetation index. The research was conducted using an exploratory descriptive method with the determination of the location points using the purposive sampling method. The research location is divided into 3 points based on the seagrass ecosystem area and tourist area. Seagrass sampling method refers to the LIPI method with a quadrant line transect tool. Taking aerial photos using drone rides with the pix4d application. There were 4 species of seagrass species composition, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, and Halodule uninervis. The distribution pattern of each type of seagrass is clustered, while the seagrass species of E. acoroides are evenly distributed at station 3. The highest seagrass cover value is found at station 2 (21.3%); with an average closing of 17.02%. The highest density was found at station 1 species of E. acoroides. Seagrass diversity resulted in low scores and medium categories. The medium category uniformity index was found at station 1 while the high category was at stations 2 and 3. The dominance index from the 3 stations showed that there was no dominance that occurred at each station. The estimated seagrass cover using aerial photography with a study area of 4.68 ha is 16,210 m², so that the estimated seagrass cover in the waters of Mrican Beach, Karimunjawa National Park is 35%.
Estimasi Stok Karbon Mangrove Pasca Rehabilitasi di Desa Kaliwlingi, Brebes Menggunakan Citra Sentinel-2 Lovensia Zukruff Albasit; Rudhi Pribadi; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 11, No 4 (2022): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v11i4.31734

Abstract

Mangrove sebagai ekosistem karbon biru berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim namun di sisi lain keberadaannya terancam oleh konversi lahan. Rehabilitasi mangrove telah banyak dilakukan dan untuk mengelolanya secara berkelanjutan stok karbon mangrove perlu diketahui untuk kebutuhan pasar karbon. Pesisir Kota Brebes menjadi salah satu daerah yang berhasil merehabilitasi kawasan hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi stok karbon mangrove pasca rehabilitasi di Desa Kaliwlingi, Brebes berdasarkan perbedaan tahun tanam, yakni 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017. Penelitian lapangan dilakukan pada 21–23 November 2020. Metode terdiri dari survei lapangan, perhitungan allometrik dan pengolahan citra Sentinel-2. Survei lapangan dilakukan guna mengetahui komposisi spesies dan diameter setinggi dada (DBH) tiap tegakan mangrove. Rumus allometrik spesies-spesifik digunakan untuk menghitung biomassa mangrove yang kemudian dikonversi menjadi nilai stok karbon di tiap lahan rehabilitasi. Citra Sentinel-2 ditransformasi dengan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), selanjutnya dilakukan analisis regresi antara nilai NDVI dan stok karbon untuk mendapatkan model pendugaan stok karbon menggunakan citra satelit. Terdapat tiga spesies mangrove yang ditemukan, yaitu Rhizophora mucronata, Avicennia alba dan Avicennia marina. Hasil menunjukkan bahwa stok karbon mangrove tahun tanam 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017 secara berturut-turut adalah 80,69 tonC/ha, 95,08 tonC/ha, 104,19 tonC/ha, 175,13 tonC/ha dan 137,35 tonC/ha. Hasil analisis regresi antara nilai NDVI dan stok karbon mangrove menunjukkan koefisien determinasi yang sangat rendah (R2 = 0,06), sehingga model tidak dapat digunakan untuk menduga stok karbon mangrove. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan stok karbon seiring dengan semakin tua lahan mangrove. Spesies A. marina berkontribusi besar untuk perolehan stok karbon mangrove yang lebih tinggi dibandingkan R. mucronata.   Mangrove as blue carbon ecosystem has a significant role in mitigating climate change which existence is threatened by land conversion. Mangrove rehabilitation has been widely done and requires sustainable management by knowing the carbon stock as a call for carbon market. The coastal area of Brebes is one of the regions that has successfully rehabilitated mangrove forest area. This research aims to estimate post-rehabilitation mangrove carbon stock in Kaliwlingi, Brebes based on different planting years, i.e. 2005, 2008, 2011, 2014 dan 2017. A field research was conducted on November 21st – 23rd 2020. The method involved field survey, allometric calculation and Sentinel-2 processing. A field survey was conducted to collect the diameter at breast height (DBH) of each stand and species composition. Species-specific allometric equations were used to calculate mangrove biomass, subsequently converted into carbon stock in each rehabilitated area. Sentinel-2 imagery was transformed using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Regression analysis was performed between NDVI value and carbon stock to obtain the estimation model for mangrove carbon stock using satellite imagery. There are three species found, namely Rhizophora mucronata, Avicennia alba and Avicennia marina. The result shows carbon stock in plantation of 2005, 2008, 2011, 2014 and 2017 are 80.69 tonC/ha, 95.08 tonC/ha, 104.19 tonC/ha, 175.13 tonC/ha and 137.35 tonC /ha respectively. Regression analysis of NDVI and carbon stock shows a very poor coefficient of determination (R2 = 0.06), therefore the model is incompatible for estimating carbon stock. In this research, mangrove carbon stock is not increasing with plantation age. A. marina has huge contribution for a higher carbon stock compared to R. mucronata.
Bioplastik dari Karagenan Kappaphycus alvarezii dengan Penambahan Carboxymethyl Chitosan dan Gliserol Yulandaris Marsa; A.B. Susanto; Rini Pramesti
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.42859

Abstract

Plastik sintetis yang digunakan sebagai pembungkus makanan dapat menimbulkan masalah lingkungan, karena sulit terurai sehingga menjadi sampah. Bioplastik dapat menjadi alternatif plastik komersial karena terbuat dari bahan alami sehingga mudah terurai. Berbagai bahan dasar pembuatan bioplastik telah ditemukan, salah satunya berbahan dasar karagenan. Bioplastik memiliki kekurangan seperti teksturnya yang kaku dan rapuh, sehingga perlu ditambahkan gliserol sebagai pemlastis. Bioplastik dapat terdegradasi lebih cepat sehingga perlu ditambahkan pengawet alami. Karboksimetil kitosan adalah polimer alami yang digunakan sebagai pengawet karena memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui penambahan karboksimetil kitosan terhadap waktu degradasi bioplastik. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat eksperimental labolatoris. Pembuatan bioplastik menggunakan karboksimetil kitosan dengan konsentrasi 2 g, 3 g, 4 g dan 5 g, karagenan 3 g dan gliserol 1,7 ml. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai ketebalan sebesar 0,25 mm – 0,82 mm, nilai kuat tarik sebesar 1,04 MPa – 1,61 MPa, uji biodegradabilitas tercepat selama 116 menit dan terlama selama 373 menit. Pemberian karboksimetil kitosan dapat mempengaruhi waktu degradasi bioplastik dan pada konsentrasi karboksimetil kitosan 5 gram dapat terdegradasi lebih lama.The use of food wrapping plastic (synthetic) becomes waste that pollutes the environment, because its difficult to decompose. Bioplastics can be an alternative to commercial plastics because is making from natural materials so they are easily biodegradable. Various basic materials for making bioplastics have been found, one of which is carrageenan. Bioplastics have drawbacks such as their rigid and brittle texture, so additional ingredients such as glycerol are needed to be added as plasticizers. Bioplastics can be degraded more quickly, so natural preservatives need to be added. Carboxymethyl chitosan is a natural polimer that is used as a preservative because it has antibacterial activity. This study aims to determine the bioplastic characteristics of carrageenan with the addition of glycerol and carboxymethyl chitosan and to determine the appropriate concentration of carboxymethyl chitosan so that bioplastics from carrageenan and glycerol can last a long time. The method used was experimental laboratory, making bioplastics using carboxymethyl chitosan with concentrations of 2 g, 3 g, 4 g and 5 g, carrageenan 3 g and glycerol 1.7 ml. Results of the research that has been carried out, the results of the bioplastic characteristics in the form of a thickness value of 0.25 mm - 0.82 mm, a tensile strength value of 1.04 MPa - 1.61 MPa, the fastest biodegradability test for 116 minutes and the longest for 373 minutes. Carboxymethyl chitosan affects the bioplastic degradation time of carrageenan. 
Estimasi Simpanan Karbon Sedimen Mangrove di Hutan Mangrove Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Meli Ayu Pangestika; Nirwani Soenardjo; Rini Pramesti
Journal of Marine Research Vol 12, No 1 (2023): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v12i1.31965

Abstract

Ekosistem mangrove berfungsi penting bagi lingkungan salah satunya penyimpn karbon (C). Estimasi karbon vegetasi mangrove merupakan potensi magrove menyimpan karbon (stok karbon) dalam bentuk biomassa. penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi simpanan karbon pada sedimen di hutan mangrove Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Penelitian dilakukan bulan Desember 2020. Stasiun penelitian dibagi menjadi 4 dan ditentukan berdasarkan kerapatan. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan metode pertimbangan atau purposive sampling. Sampel sedimen diambil berdasarkan plot sampling berukuran 10x10 meter dengan pipa modifikasi berdiameter 5 cm. Analisis data dilakukan menggunakan metode LOI (Los on Ignition). Nilai estimasi karbon sedimen penelitian ini adalah stasiun MA1 sebesar 7,70 ton/ha, stasiun MA2 sebesar 8,86 ton/ha, stasiun  MA3 sebesar 6,42 ton/ha dan stasiun MA4 sebesar 7,50 ton/ha. Hasil tertinggi pada stasiun MA2 kategori sedang dan hasil terrendah pada stasiun MA3 kategori rapat. Nilai karbon sedimen dipengaruhi kondisi lingkungan dan tekstur sedimen.   The mangrove ecosystem has an important function for the environment, one of which is carbon storage (C). Carbon estimation of mangrove vegetation is the potential for mangroves to store carbon (carbon stock) in the form of biomass. This study aims to estimate carbon storage in sediments in the mangrove forest of Ayah District, Kebumen Regency. The research was conducted in December 2020. The research stations were divided into 4 and determined based on density. The method used is descriptive method. Determination of the location of the research is done by the method of consideration or purposive sampling. Sediment samples were taken based on a sampling plot measuring 10x10 meters with a modified pipe with a diameter of 5 cm. Data analysis was performed using the LOI (Los on Ignition) method. The estimated value of sediment carbon in this study is MA1 station of 7.70 tons/ha, MA2 station of 8.86 tons/ha, MA3 station of 6.42 tons/ha and MA4 station of 7.50 tons/ha. The highest results were at the medium category MA2 station and the lowest results were at the dense category MA3 station. Sediment carbon value is influenced by environmental conditions and sediment texture.
Co-Authors A. B. Susanto A.B. Susanto A.B. Susanto A.B. Susanto AB Susanto AB. Susanto Adam Sojuangon Pasaribu Adi Santoso Agus Sabdono Ahmad Fadhil Muzaki Ahmad Saddam Habibi Akbar, Muhamad Rahadian Akmal Nasrulloh Alfi Satriadi Ali Djunaedi Ali Ridlo Ananta, Raditya Rizki Andiska, Prismabella Wilis Anisah Harahap Anjani, Devi Oktavia Antonius Budi Susanto Ardiawan Pandu Romenda Ardiawan Pandu Romenda Bambang Yulianto C. Wiencke Chrisna Adhi Suryono Dafit Ariyanto Dara Ramadhania Istiqomahani Delianis Pringgenies Desni Elfrida Samosir Dini, Puti Sukma Rahma Edi Wibowo Kushartono Ega Hagita Testi Eldita Amalia Elfonso Robby Sitorus Endang Supriyantini Errizal Machmud Putra Faishal Islami, Faishal Feri Setiawan G. O. Kirst Galih S. Adiguna Gandang Herdananto Nugroho Ghofari, Miftahul Akhyar Gunawan Widi Santosa Ihsan Mahfudh Ika Asri Desanti Intan Budi Setiasih Irwani Irwani Istiqomahani, Dara Ramadhania Jelita Rahma Hidayati Karla Lutfia Rahmadanti Koesoemadji Koesoemadji Lovensia Zukruff Albasit Mahfudh, Ihsan Marhaeny, Annisa Maya Puspita Meli Ayu Pangestika Miftahul Akhyar Ghofari Mohamad Mirza Mohamad Mirza Muhamad Ihsan Muhamad Rahadian Akbar Muhammad Abdul Zaky Muhammad Zainuddin Muhammad Zainuddin Nasrulloh, Akmal Nirwani Nirwani Nirwani Soenardjo Nursiana Suci Wulandari Panjaitan, Kristina Venza Pasaribu, Adam Sojuangon Pramastuti, Fransisca Ria Prayudha, Muhammad Rifky Prismabella Wilis Andiska Puti Sukma Rahma Dini Putra, Errizal Machmud Raden Ario Radhian Wikanarto Widodo Raditya Rizki Ananta Rozi Hamdani Rudhi Pribadi Satria Sakti Budi Leksono, Satria Sakti Budi Sebastian Margino Setia Devi Kurniasih, Setia Devi Setiasih, Intan Budi Siti Rudiyanti Sitorus, Elfonso Robby Sri Sedjati Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Subagiyo Sunaryo Sunaryo Suryono Suryono Susanto, AB. Tarida Tarida Tarida, Tarida Testi, Ega Hagita Titis Buana Tiurma S Triyanto Triyanto Wahid Agung Saputra Wahyu Bagio Leksono Wakhid Indra Kusuma Widodo, Radhian Wikanarto Wilis A Setyati Wilis Ari Setyati Wulandari, Nursiana Suci Yohanes Oktaviaris Yulandaris Marsa Zaky, Muhammad Abdul